Anda di halaman 1dari 18

CASE REPORT

GRANULOMA LIANG TELINGA AURIKULA DEKSTRA


Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan
Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Ilmu THT
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pembimbing:
KRH. Dr. H. Djoko Sindhusakti Widyoningrat, Sp.THT-KL (K), MBA., MARS.,
M.Si, Audiologist
Dr. dr. H Iwan Setiawan Adji, Sp.THT-KL

Diajukan Oleh:
Rezita Oktiana Rahmawati, S.Ked
J510155079
KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
CASE REPORT

GRANULOMA LIANG TELINGA AURIKULA DEKSTRA

Diajukan Oleh :
Rezita Oktiana Rahmawati, S.Ked

J510155079

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari..................., ....................................... 2015

Pembimbing
KRH. Dr. H. Djoko Sindhusakti Widyoningrat,

(.................................)

Sp.THT-KL (K), MBA., MARS., M.Si, Audiologist

Dr. dr. H. Iwan Setiawan Adji, Sp.THT-KL

(.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :


dr. D. Dewi Nirlawati

(.................................)
BAB 1

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Granuloma merupakan lesi inflamasi nodular. Mereka biasanya
kecil dan terdiri dari fagosit makrofag yang kompak. Penyakit
granulomatosa di telinga dapat melokalisir jaringan sekitarnya dan
bermanifestasi dalam tubuh Granuloma timbul karena jaringan granulasi
yang tumbuh besar.
Granuloma liang telinga bias disebut sebagai granuloma kanal ini
dapat timbul manifestasi dari OMSK (Otitis Media Supuratif Kronis).
Granuloma juga dapat terjadi karena adanya benda asing di dalam telinga
yang dapat menimbulkan reaksi inflamasi. Granuloma dari OMSK ini
timbul oleh karena kolesteatoma. Kolesteatoma merupakan kista epiteloid
yang rusak dan berisi deskuamasi epitel atau keratin.
Granuloma pada OMSK ini terdapat pada perforasi dan tidak
perforasi pada membran timpaninya. Terdapat tanda-tanda pada perforasi
OMSK seperti terdapat kolesteatoma yaitu pada yang perforasi sebanyak
36% dan 4% yang tanpa perforasi. Prevalensi pasien granuloma pada
OMSK di Britain Inggris terdapat 0,9% anak-anak dan 0,5% dewasa.
Tingkat insidensi sebesar 4,76%. Pada 31 juta kasus, 50% pasien bisa
mengalami gangguan pendengaran. Tanda dan gejala ini bisa berupa Kanal
OAE udem, secret telinganya dapat berupa cairan yang purulen dan keju
yang serous. Jaringan granulasi paling sering ditemukan pada kanal ampun
telinga tengah. Telinga tengah dapat dilihatkan pada perforasi dengan
udem, nyeri dan kemerahan, polipoid. Bisa menimbulkan otthorea tanpa
otalgia dan demam. Kadang diwasapadai bila pendengaran berkurang.
BAB 2
LAPORAN KASUS
GRANULOMA LIANG TELINGA AURIKULA DEKSTRA
A. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. A

Usia
Jenis kelamin
Alamat
Pekerjaan
Status perkawinan
No. RM
Tgl masuk RS
Tgl pemeriksaan

: 27 Tahun
: Perempuan
: Tegal 2/1 Jaten Karanganyar
: Karyawan Pabrik
: Menikah
: 193xxx
: 1 Oktober 2015
: 1 Oktober 2015

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Keluar cairan dari telinga kanan
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengeluh sering keluar cairan dari telinga kanan sejak 3
bulan yang lalu. Cairan yang keluar banyak dan seperti upil. Cairannya
sering keluar setelah mandi. Makin lama makin banyak keluarnya cairan.
Memberat pasien rasakan saat posisi tidur miring. Meringan pasien
rasakan setelah dibersihkan telinganya dan bila tidak terkena air. Pasien
tidak mengeluhkan sakit telinganya, telinga berdengung, pendengaran
berkurang dan vertigo. Tidak ada keluhan hidung tersumbat, bersin, meler,
nyeri di muka dan kepala, perdarahan dan gangguan penghidu. Tidak ada
keluhan suara serak, batuk, sulit menelan, sakit di tenggorokan dan rasa
mengganjal di leher.

Riwayat Penyakit Dahulu:

Riwayat keluhan serupa diakui


Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat diabetes melitus disangkal
Riwayat alergi disangkal
Riwayat trauma disangkal
Riwayat pengobatan diakui

Riwayat Penyakit Keluarga:


Riwayat keluhan serupa diakui
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat diabetes melitus disangkal
Riwayat alergi disangkal

Riwayat trauma disangkal


Riwayat pengobatan diakui
ANAMNESIS SISTEM
Sistem Cerebrospinal

Gelisah (-), Lemah (-), Demam (-), Nyeri

Sistem Cardiovascular
Sistem Respiratorius
Sistem Genitourinarius
Sistem Gastrointestinal

kepala (-), Kejang (-)


Akral hangat (+), Sianosis (-), Anemis (-)
Batuk (-), Sesak Napas (+), mengi (-)
BAK (+) dbn
Perut sebah (-), nyeri ulu hati (-), mual (-),

muntah (-), BAB (+) dbn


Sistem Musculosceletal Badan terasa lemes (-), ekstremitas bawah
Sistem Integumentum

udem (-/-),
Perubahan warna kulit (-), sikatriks (-), tanda
penyakit kulit (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
Keadaan Umum : tampak cukup
Kesadaran
: compos mentis
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi
: 80 x/ menit
Pernapasan
: 20 x/ menit
Suhu
: 36C
2. Pemeriksaan THT
A. Telinga
Pemeriksaan
Inspeksi

Dekstra
Bentuk telinga

Sinistra
normal, Bentuk telinga normal,

Deformitas (-), bekas luka Deformitas


(-), edema (-), hiperemis luka
Palpasi
Otoskop

(-),

(-),
edema

bekas
(-),

(-), discharge (+)


hiperemis (-), secret (-)
Tragus pain (-)
Tragus pain (-)
CAE udem (-), hiperemis CAE udem (-), hiperemis
(-), serumen (+), discharge (-),

serumen

(-),

(+), membrane timpani discharge (-), membran


utuh, granulasi (+), cone timpani utuh, granulasi

of light (+) arah jam 5 (-), cone of light (+) arah


Garpu tala

putih
Rinne: Positif
Weber:
tidak

jam 7 putih
Rinne: Positif
ada Weber:
tidak

ada

lateralisasi
lateralisasi
Swabach: sama dengan Swabach: sama dengan
pemeriksa

pemeriksa

B. Hidung
Pemeriksaan
Inspeksi

Dekstra
Sinistra
Deformitas (-), secret (-), Deformitas
bekas luka (-), edema (-)

(-),

secret

(-),bekas luka(-), edema

Palpasi

(-)
Krepitasi (-), nyeri tekan Krepitasi (-), nyeri tekan

Rhinoskopi

(-)
Mukosa

hiperemis

(-)
(-), Mukosa

hiperemis

(-),

Anterior

concha

hiperemis

(-), concha

hiperemis

(-),

concha media dan inferior concha media dan inferior


hipertrofi (-), secret (-), hipertrofi (-), secret (-),
udem (-), septum nasi udem (-), septum nasi
deviasi
Rhinoskopi
Posterior

(-),

massa

di deviasi

massa

di

rongga hidung (-)


rongga hidung (-)
Dinding belakang: tidak Dinding belakang: tidak
ada kelainan
Muara tuba

ada kelainan
eustachii: Muara tuba

tidak ada kelainan


Adenoid:
tidak
kelainan

eustachii:

tidak ada kelainan


ada Adenoid:
tidak
kelainan

C. Mulut & Tenggorok


Mulut

(-),

Dapat membuka mulut dengan baik


Warna mukosa bukal: merah muda

ada

Mukosa oral
pemeriksaan
orofarink

Laringoskopi
Indirect

edema: (-)
Pecah-pecah: (-)
Mukosa hiperemis (-)
Uvula di tengah
Permukaan rata, kripte tidak melebar
T1-T1
Tonsil hiperemis (-)
Peritonsil abses (-)
Warna merah muda
Epiglottis tidak ada kelainan
Plika vokalis tidak ada kelainan
Subglotis tidak ada kelainan
Tumor (-)

D. Kepala-Leher
Kepala: normocephal
Leher: nyeri tekan submandibular (-), edema (-)
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Eosinofil
Basofil
Limfosit
Monosit
Gran
CT
BT
HbsAg (rapid)

Angka
10,3
30,4
5,81
188
4,28
71,1
24,1
33,8
3,3
0,4
27,1
3,9
65,3
04.00
02.00
Non reaktif

Satuan
gr/dl
%
103ul
103ul
106ul
Pf
Pg
%
%
%
%
%
%
Menit
Menit

E. Diagnosis Klinis
Granuloma Liang Telinga Aurikula Desktra
F. Diagnosis Banding
Otitis Media Eksterna
Otitis Media Supurativ kronis

Nilai Normal
12-16
37,00-47,00
5,0 10,0
150 300
4,00-5,00
82 92
27 -31
32 37
0,5 5,0
01
25 40
39
50-70
2-8
1-3
Non reaktif

G. Terapi
Granulomektomi 2/10/2015.
H. RESUME
Pasien dating ke Poli THT RSUD Karanganyar dengan keluhan
masih sering keluar serumen pada telinga bagian kanan. Pasien mengeluh
sering keluar cairan dari telinga kanan sejak 3 bulan yang lalu. Cairan
yang keluar banyak dan seperti upil. Cairannya sering keluar setelah
mandi. Makin lama makin banyak keluarnya cairan. Memberat pasien
rasakan saat posisi tidur miring. Meringan pasien rasakan setelah
dibersihkan telinganya dan bila tidak terkena air. Pasien tidak
mengeluhkan

sakit

telinganya,

telinga

berdengung,

pendengaran

berkurang dan vertigo. Tidak ada keluhan hidung tersumbat, bersin, meler,
nyeri di muka dan kepala, perdarahan dan gangguan penghidu. Tidak ada
keluhan suara serak, batuk, sulit menelan, sakit di tenggorokan dan rasa
mengganjal di leher.
Pada saat dilakukan pemeriksan THT pada telinga didapatkan liang
telinga lapang, terlihat jaringan granulasi dan serumen pada bagian telinga
kanan serta tes pendengaran dari swabach, rinne dan weber baik atau tidak
ada gangguan pendengaran. Dari hasil laboratorium tidak terdapat
kenaikan angka hasil darah rutiun di laboratorium.

I. Follow Up
1/10/2015

S/ Pasien mengeluhkan sering keluar P/


cairan dari telinga kanan. Cairan sering Infus RL
keluar setelah mandi dan posisi tidur
miring. Keluhan dirasakan sejak 3 bulan
yang lalu. Memberat bila dalam posisi
tidur miring. Meringan bila tidak terkena
air.

Sudah

memeriksakan

kali

sebelumnya dengan keluhan yang sama.

Tidak ada keluhan telinga berdengung,


pendengaran tidak berkurang, tidak nyeri
telinga dan tidak vertigo. Tidak ada
keluhan hidung bumpet, tidak meler,
tidak sakit di hidung, tidak mimisan.
Tidak ada keluhan nyeri di tenggorokan,
tidak susah menelan, tidak batuk.
O/
T= 120/80
N= 80x/menit
S =36
Rr= 20x/menit
KU = Baik
KS = CM (E4V5M6)
K/L = PKGB (-/-), CS (-/-). SI (-/-)
Tho = P = SDV (+/+), wh (-/-), rh (-/-)
C= BJ1/II reg murni
Abd = NT (+), peristaltik (+)
Eks = Akral hangat, edem (-)
Status pemeriksaan THT :
Pemeriksaan telinga: auricular dekstra
sinistra: liang telinga lapang,
serumen
granulasi

(+/-),
(+/-),

jaringan
granuloma

(+/-), tragus pain (-/-)


Pemeriksaan hidung: Concha Nasalis
Dekstra Sinistra: lapang, secret
(-/-), septum deviasi (-/-).

Pemeriksaan

mulut

dan

Tenggorok:

hygiene baik, uvula di tengah,


tonsil T1-T1, hiperemis (-/-).
A/ Granuloma di liang telinga auricular
2/10/2015

dekstra (Pre Operasi)


S/ Pasien masih mengeluhkan kurang P/
nyaman di telinga bagian kanan. Pasien Inf RL 20 tpm
saat ini mengaku keluar flek darah dari Inj Amoksisilin 1g/8 jam
jalan menstruasi dan sedang menyusui

Inj Deksametason 1 amp/8


jam

O/

Inj Norages 1 amp/8 jam

T= 120/80

Pro Granulomektomi

N= 80x/menit
S =36
Rr= 20x/menit
KU = Baik
KS = CM (E4V5M6)
K/L = PKGB (-/-), CS (-/-). SI (-/-)
Tho = P = SDV (+/+), wh (-/-), rh (-/-)
C= BJ1/II reg murni
Abd = NT (+), peristaltik (+)
Eks = Akral hangat, edem (-)
Status pemeriksaan THT :
Pemeriksaan telinga: auricular dekstra
sinistra: liang telinga lapang,
serumen
granulasi

(+/-),
(+/-),

jaringan
granuloma

(+/-), tragus pain (-/-)

Pemeriksaan hidung: Concha Nasalis


Dekstra Sinistra: lapang, secret
(-/-), septum deviasi (-/-).
Pemeriksaan

mulut

dan

Tenggorok:

hygiene baik, uvula di tengah,


tonsil T1-T1, hiperemis (-/-).
A/ Granuloma liang telinga auricular
3/10/2015

dekstra
S/ Pasien tidak mengeluhkan rasa kurang P/
nyaman di telinga. Tidak keluar serumen Amoksisilin tab 3x1
dari telinga kanan dan kiri. Mau makan Dexametason tab 3x1
minum, tidak pusing, tidak mual dan Paracetamol tab 3x1
tidak muntah
O/
T= 120/80
N= 80x/menit
S =36
Rr= 20x/menit
KU = Baik
KS = CM (E4V5M6)
K/L = PKGB (-/-), CS (-/-). SI (-/-)
Tho = P = SDV (+/+), wh (-/-), rh (-/-)
C= BJ1/II reg murni
Abd = NT (+), peristaltik (+)
Eks = Akral hangat, edem (-)
Status pemeriksaan THT :
Pemeriksaan telinga: auricular dekstra

BLPL

sinistra: liang telinga lapang,


serumen
granulasi

(+/-),
(+/-),

jaringan
granuloma

(+/-), tragus pain (-/-)


Pemeriksaan hidung: Concha Nasalis
Dekstra Sinistra: lapang, secret
(-/-), septum deviasi (-/-).
Pemeriksaan

mulut

dan

Tenggorok:

hygiene baik, uvula di tengah,


tonsil T1-T1, hiperemis (-/-).
A/ Granuloma liang telinga auricular
dekstra dalam perbaikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. DEFINISI
Granuloma merupakan lesi inflamasi nodular. Mereka biasanya kecil
dan terdiri dari fagosit makrofag yang kompak. Penyakit granulomatosa di
telinga dapat melokalisir jaringan sekitarnya dan bermanifestasi dalam tubuh
Granuloma timbul karena jaringan granulasi yang tumbuh besar.
(Viswanatha, 2015).
Jaringan granulasi adalah jaringan fibrosa yang terbentuk dari
bekuan darah bagian dari proses penyembuhan luka, sampai matang menjadi

jaringan parut. Jaringan granulasi terjadi saat proses inflamasi menuju


pemulihan yang dibagi dalam regenerasi dan pergantian jaringan
penyokong. Jaringan granulasi akan menutup luka dan mempercepat proses
penyembuhan luka. Secara mikroskopis jaringan granulasi terdiri dari
proliferasi fibrobalas dan endotel kapiler, sel radang, neurovaskularisasi dan
proliferasi endotel (Muir, 1988).
Jaringan granulasi merupakan salah satu dari macam-macam reaksi
dan lokalisasi jaringan yang terjadi pada radang kronik atau proliferatif
yang ditandai dengan oleh proliferasi fibroblast membentuk jaringan ikat
muda dengan banyak pembuluh darah baru, yang khas mencerminkan
pengaruh penyebab jejas tertentu, prosesnya disebut radang granulomatik
dengan leukosit sel radang khsusnya sel-sel monomorfologinuklear
(limfosit, sel plasma dan histiosit (Muir, 1988).
II1. ETIOLOGI
Terdapat kondisi yang mendasari terbentuknya jaringan granulasi yaitu :
1. Reaksi peradangan eksudat
Terjadi reaksi peradangan akut pada luka mengeluarkan sel-sel
radang seperti makrofag, dapat memasuki bekuan darah dan mulai
menghancurkannya,

lalu

terbentuk

peradangan

eksudat.

Terbentuklah pertumbuhan jaringan granulasi pada bekuan darah


2.

tersebut.
Migrasi dan proliferasi fibroblast dan tunas vaskuler (Muir, 1988)
Akibat dari kolesteatoma pada penyembuhan luka yang telah

mengenai submukosa hingga periosteum, jaringan granulasi rapuh dan


semakin

tumbuh

besar,

menimbulkan

terbentuknya

granuloma.

Kolesteatoma merupakan kista epiterial yang rusak dan berisi deskuamasi


epitel atau keratin. Epitel kulit bila berada pada tempat yang tidak sesuai
ditambah terdapat serumen padat dari liang telinga dalam waktu lama akan
terperangkap dan membentuk kolesteatoma (Soepardi, 2008).
IV.

PATOFISIOLOGI

Mediator dari radang akut, terutama platelet activing factor dan


metabolism asam arakidonat. Enzim protease dan hidrolitik membersikan
material dari jaringan rusak. Sitokin (IL-1, TNF alfa) akan mengaktifkan
limfosit dan beberapa sel lain. Growth factor (PDGF, EGF, FGF)
menstimulasi pertumbuhan pembuluh darah, pembelahan dan migrasi dari
fibrosis. Jaringan yang rusak dengan peradangan akan membentuk
jaringan granulasi (Muir, 1988)
Jaringan granulasi sebagian besar terdiri dari kapiler dan fibroblast
dan berbentuk granul kemerahan. Setelah luka, terjadi reaksi peradangan
akut dan kemudian bekas lukadilenyapkan oleh makrofag. Migrasi dan
proliferasi fibroblast serta tunas vaskuler dari sekeliling jaringan
penghubung membentuk jaringan granulasi. Tunas kapiler tumbuh diluar
pembuluh darah di tepi luka dengan susunan baru, migrasi dan proliferasi
dari sel endotel yang ada. Tunas kapiler pada umumnya berbentuk padat,
lalu mencair. Tunas yang vaskuler membentuk jerat yang mnyatu satu
sama lainatau dengan kapiler yang telah membawa darah. Kapiler yang
baru dibentuk lebih permeabel dibandingkan dengan yang normal dan
dapat mengalirkan banyak protein ke dalam jaringan. Jaringan granulasi
ini akan digantikan menjadi jaringan fibrosa (Muir, 1988).
Secara

simultan

mengembangkan

kapiler

baru.

Fibroblast

mengeluarkan molekul kolagen yang dapat larut agar dikumpulkan dalam


fibril. Fibroblast juga dipercaya untuk menghasilkan mucoply sakarida
unsur dari jaringan. Setelah 2 minggu produksi kolagen menurun, tetapi
proses perubahan bentuk kembali berlangsung. Secara acak mengarahkan
fibril kolagen kecil untuk diatur kembali ke dalam ikatan tebal yang
memberikan kekuatan yang lebih besar kepada jaringan.

Namun

pada

penderita granuloma, jaringan fibrosa ini tidak dapat diganti dengan


jaringan kolagen. Karena terlalu lama tidak dapat diganti, epitel kulit
telinga semakin rapuh, banyak serumen yang padat dan menumpuk
sehingga terperangkap dan membentuk kolesteatom (DeSouza, 1989).

V.

MANIFESTASI KLINIS
Granuloma awalnya berasal karena kolesteatoma. Gejala khas dari
kolesteatoma adalah otthorea tanpa rasa nyeri, yang terus menerus atau
sering berulang. Ketika kolesteatoma terinfeksi, kemungkinan besar
infeksi tersebut susah untuk dihilangkan. Karena kolestatoma tidak
memiliki supai darah, maka antibiotic sistemik tidak dapat sampai pusat
infeksi kolesteatoma. Antibiotik topical biasanya dapat diletakkan
mengelilingi kolesteatoma sehingga menekan infeksi menuju pusatnya
tetapi biasanya sudah resisten terhadap semua jenis terapi antimikroba.
Akibatnya, otthorea akan timbul ataupun berulang meskipun dengan
pengobatan yang agresif.
Gangguan pendengaran juga bisa menjadi gejala yang umum.
Kolesteatoma yang besar akan mengisi ruang telinga tengah dengan epitel
deskuamasi

dengan

atau

tanpa

sekret

mukopurulen

sehingga

menyebabkan kerusakan osikular yang akhirnya menyebabkan terjadinya


tuli konduktif.
Pusing adalah gejala relatifnya, tetapi tidak akan terjadi bila tidak
ada fistula labirin akibat erosi tulang atau jika kolesteatoma mendesak
langsung. Pusing juga sebagai gejala yang mengarahkan langsung kepada
komplikasi (Waizel S, 2007).
VI.

DIAGNOSIS
Studi radiologis, CT scan, atau film polos menggambarkan lesi
tulang litik khas dan harus dipertimbangkan ketika ada ottorhea.
Sebuah studi retrospektif oleh Abdel-Azziz dkk menunjukkan
bahwa granuloma eosinofilik dari tulang temporal dapat meniru otitis
media supuratif kronis tetapi dapat didiagnosis dengan pemeriksaan
histopatologi dan CT scan. Penelitian ini melibatkan 12 anak-anak dengan
granuloma eosinofilik dari tulang temporal, dengan menghadirkan gejala
yang termasuk massa eksternal saluran telinga (83,3% dari pasien),
pembengkakan postaurikular (66,7% dari pasien), dan otorrhea persisten
(33,3% dari pasien). Pemeriksaan histopatologi menunjukkan eosinofil
dan sel Langerhans, dengan CD1-antigen dan immunoreactivity S-100-

protein ini, sementara CT scan mengungkapkan lesi osteolitik dengan


margin nonsclerotic, yang diisi dengan mastoid massa jaringan lunak
tulang-terkait (Soepardi, 2008).
VII.

PENATALAKSANAAN
Pengobatan dari granuloma liang telinga prinsipnya adalah
membersihkan kolesteatoma. Terapi medis bukan pengobatan yang sesuai
untuk kolesteatoma. Pasien yang menolak dilakukan pembedahan harus
membersihkan telinga mereka secara teratur. Pembersihan secara teratur
dapat mengontrol infeksi dan mengurangi pertumbuhan kolesteatoma,
tetapi tidak dapat menghilangkan komplikasi. Terapi antimikrobal dan
terapi sistemik dapat memberikan terapi tambahan (Waizel S. 2007).
Antibiotik dapat diberikan dengan menyesuaikan penampilan
secret yang keluar dari telinga pasien. Sekret hijau kebiruan menandakan
Pesudomonas.

Sekret

kuning

pekat

disebabkan

oleh

kuman

Staphylococcus dan sekret yang berbau busuk menunjukkan kuman


anaerob. Kotrimoksazol, Siprofloksasin dan Ampisilin merupakan pilihan
untuk antibiotik kuman Pesudomonas. Metronidazol, klindamisin atau
kloramfenikol merupakan pilihan untuk antibiotic kuman anaerob. Bila
sukar menemukan kuman penyebabnya, dapat diberikan campuran
trimotropin-sulfametoksazol atau amoksisilin-kluvanat (Adams, 1997)
Pembersihan liang telinga dapat menggunakan larutan antiseptic
seperti asam asetat 1-2%, hydrogen peroksida 3%, povidon iodine 5% atau
larutan garam fisiologis. Larutan harus dihangatkan dulu sesuai dengan
suhu tubuh agar tidak mengiritasi labirin setelah itu dikeringkan dengan
lidi kapas (Adams, 1997).
Terapi Pembedahan
Terapi

pembedahan

dengan

prinsip

membersihkan

dari

kolesteatoma. Teknik pembedahan dapat berupa canal wall down sebagai


pilihan karena dapat menghindari adanya kekambuhan. Khusus pada
pasien granuloma liang telinga dilakukan granulomektomi dengan diambil

specimen jaringan yang adekuat lalu diperiksa bagian histologinya untuk


menentukan terapi selanjutnya (Nizar, 2006).
VIII. KOMPLIKASI
A. Komplikasi Dini
-Infeksi
-Perdarahan
B. Komplikasi Lanjut
-Keloid
-Parut hipertrofik

IX.

PROGNOSIS
Mengeliminasi kolesteatoma hampir selalu berhasil, namun
memerlukan beberapa kali pembedahan. Karena pada umumnya
pembedahan berhasil, komplikasi dari pertumbuhan tidak terkendali dari
kolesteatoma yang jarang sekali.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang, pada pasien ini dapat ditegakkan diagnosis granuloma
liang telinga aurikula dekstra. Setelah diketahui diagnosisnya kemudian pasien
mendapatkan terapi yang sudah sesuai dengan tanda dan gejala yang dialami
pasien. Untuk selanjunya pasien diharapkan menjaga pola makan, rutin
mengkonsumsi obat, tidak terkena air di liang telinganya, menjaga kebersihan,
dilarang mengorek telinga dan kontrol 1 minggu kemudian ke THT untuk
mengevaluasi jaringan granulasi di liang telinga aurikula dekstra.

DAFTAR PUSTAKA

1. Adams GL, Boies LR, Higher PA. 1997. BOIES Buku Ajar Ilmu Penyakit
THT. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2. DeSouza, Menesez CO, Desouza RA, Ogale SB, Morris MM, Desai AP.
1989. Profile of Congenital Cholesteatomas of Petrous Apex. J POstgard Med
(serial online)

3. Muir, Bernice L. 1988. Pathophysiology: an introduction of mechanism of


disease second edition. Newy York (USA). A Willey-Medical Publication.
4. Nuty W, Endang Mangunkusumo. 2006. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Hidung
dan Telinga. Editor: Eliaty AS, Nurbaiti, edisi ke 5.
5. Soepardi MA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. 2008. Buku Ajar THT
KL, Edisi Ke 6. Jakarta: Valai Penerbit FK UI
6. Viswanatha, DO, MBBS.PhD. 2015. Granulomatous Disease of Middle Ear.
India: Journal of Medscape.
7. Waizel S. 2007. Temporal Bone, Aquied Cholesteatoma. Emedicine.