Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

VERTIGO

Oleh
Prakassiwi Yovi Antari
1301100035 / III A / 9A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
D III KEPERAWATAN MALANG
Mei 2016

KONSEP DASAR
A. PENGERTIAN
Vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar.
Vertigo adalah perasaan mau jatuh dengan sensasi subyektif dimana pasien
atau lingkungan sekitarnya seperti sedang berputar (Ruberstein, Wyne, &
Bradley, 2007).
Vertigo adalah ilusi gerak, ada yang mengatakan halusinasi gerak.
Penderita merasa dan melihat sekelilingnya berputar meskipun sebenarnya
tetap diam atau merasa dirinya berputar meskipun juga sebenarnya tidak
(Yatim, 2004).
B. ETIOLOGI
1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
a. Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
b. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media
purulenta akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma,
rudapaksa dengan perdarahan.
c. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan
vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan,
vertigo postural.
d. Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
e. Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli
posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
2. Penyakit SSP :
a. Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia,
hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium parok-sismal, stenosis dan
insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik,
blok jantung.
b. Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
c. Trauma kepala/ labirin.
d. Tumor.
e. Migren.
f. Epilepsi.
3. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula
adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.
4. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.
5. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.

6. Intoksikasi.
C. KLASIFIKASI
Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok:
1. Vertigo paroksismal
Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa
menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika
serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama
sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi :
a. Yang disertai keluhan telinga :
Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis
pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa
cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.
b. Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah :
Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren
ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance), Labirin picu
(trigger labyrinth).
c. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini
adalah : Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional
paroksismal benigna.
2. Vertigo kronis
Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin Dunia
Kedokteran No. 144, 2004: 47) serangan akut, dibedakan menjadi:
a. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb,
labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik,
tumor serebelopontin.
b. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom
pasca komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis
multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan
kardiovaskuler, kelainan endokrin.
c. Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo
servikalis.
3. Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur
mengurang, dibedakan menjadi :
a. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus,
labirintitis akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada
auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.

b. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria


vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika,
sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior
posterior.
D. TANDA GEJALA
Tanda dan gejala utama pada vertigo adalah sensasi pada tubuh
atau ruangan yang terasa bergerak atau berputar. Tanda dan gejala lainnya
dari vertigo antara lain kesulitan untuk menelan, penglihatan ganda,
masalah pada gerakan mata, kelumpuhan di daerah wajah, bicara tak jelas
dan tungkai terasa lemah. Pada beberapa orang, sensasi berputar dapat
memicu mual dan muntah (Gandhi, 2012), serta klien mengeluhkan nyeri
kepala pada pagi hari, muntah dan kadang gangguan penglihatan khasnya
adalah pandangan visual kabur (Ginsberg, 2007). Adapun tanda dan gejala
lainnya adalah gangguan keseimbangan, rasa tidak stabil, disorientasi
ruangan, rasa mual dan muntah, biasanya gejala ini lebih dominan pada
vertigo perifer (Syahrir, 2008).

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada vertigo ada beberapa cara pemeriksaan fisik antara lain yaitu,
mencari adanya stabismus, bila ada keluhan diploma perlu diperiksa
dengan kaca Maddox, mencari adanya nistagmus, pemeriksaan dengan
rangsangan perubahan posisi kepala dan tubuh, manuver hallpike ialah
pemeriksaan untuk mencari adanya vertigo atau nistagmus posisional
paroksismal oleh karena itu untuk menjangkitkannya diperlukan
rangsangan perubahan posisi secara cepat, tes gerak halus mata, tes
nistagmus optokinetik, pemeriksaan dengan E.N.G (elektronistagmografi)
(Joesoef, 2007).
Pemeriksaan keseimbangan vertigo antara lain seperti berdiri
(tegak, berjalan, berjalan di atas jari kaki, berjalan di atas tumit dan
berjalan secara tandem), duduk (di kursi dan angkat kedua lengan serta

kedua kaki dengan mata tertutup). Pada pemeriksaan pendengaran vertigo


minimal diperiksa dengan garputala untuk membedakan tuli konduksi
ataukah persepsi, test fistula (Joesoef, 2007).
F. PENATALAKSANAAN
Pengobatan farmakologis yaitu pengobatan dengan obat seperti
antihipertensi, tranquilizer, antidepresan, sedative dapat menimbulkan efek
samping berupa vertigo serta gangguan keseimbangan (Joesoef, 2006).
Beberapa pengobatan hanya diberikan untuk jangka pendek untuk gejalagejala vertigo Pengobatan untuk vertigo yang disebut juga pengobatan
suppresant vestibular yang digunakan adalah golongan benzodiazepine
(diazepam, clonazepam) dan antihistamine (meclizine,dipenhidramin).
Benzodiazepines dapat mengurangi sensasi berputar namun dapat
mengganggu kompensasi sentral pada kondisi vestibular perifer.
Antihistamine mempunyai efek supresif pada pusat muntah sehingga dapat
mengurangi mual dan muntah karena motion sickness. Harus diperhatikan
bahwa benzodiazepine dan antihistamine dapat mengganggu kompensasi
sentral pada kerusakan vestibular sehingga penggunaannya diminimalkan
(Purnamasari, 2007). Adapun pengobatan selain farmakologi yaitu
pengobatan tanpa obat (non farmakologi).
Pengobatan non farmakologi untuk gangguan keseimbangan (pada
telinga), yaitu rehabilitasi/fisioterapi dalam hal ini latihan gerakan kepala
dan badan. Ada beberapa latihan yaitu : Canalit Reposition Treatment
(CRT)/Epley manouver, Rolling/Barbeque maneuver, Semont Liberatory
maneuver dan Brand-Darroff exercise. Beberapa latihan ini terkadang
memerlukan seseorang untuk membantunya tetapi ada juga yang dapat
dikerjakan sendiri (Jurnal/pengobatan gangguan keseimbangan (vertigo)
penyakit telinga hidung tenggorok) (Darminto, 2008). Pengobatan non
farmakologi ini atau senam keseimbangan Canalit Reposition Treatment
(CRT) merupakan latihan gerak tubuh dengan kepala leher mata dalam
posisi tetap. Mata dan kepala bergerak mengikuti obyek penglihatan yang

bergerak. Latihan dengan alat sejenis pembangkit nistagmus (Joesoef,


2007).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN VERTIGO


A. PENGKAJIAN
a. Identitas Pasien
- Nama
- Umur
- Jenis Kelamin
- Alamat
- No Rekam Medis
- Diagnosa medis
b. Riwayat keperawatan
- Riwayat kesehatan masa lalu
- Riwayat kesehatan saat ini
c. Pemeriksaan fisik abdomen
- Inspeksi
- Palpasi
- Perkusi
- Auskultasi
d. Pemeriksaan laboratorium
e. Aktivitas / Istirahat
- Letih, lemah, malaise
- Keterbatasan gerak
- Ketegangan mata, kesulitan membaca
- Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala
- Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas
(kerja) atau karena perubahan cuaca.
f. Sirkulasi
- Riwayat hypertensi
- Denyutan vaskuler, misal daerah temporal
- Pucat, wajah tampak kemerahan.
g. Integritas Ego
- Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
- Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan
depresi
- Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
- Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
h. Makanan dan cairan
- Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat,
bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak,
jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).
- Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
- Penurunan berat badan
i. Neurosensoris
- Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
- Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
- Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.

Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras,

epitaksis.
- Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
- Perubahan pada pola bicara/pola pikir
- Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
- Penurunan refleks tendon dalam
- Papiledema.
j. Nyeri/ kenyamanan
- Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal
migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma,
sinusitis.
- Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah
- Fokus menyempit
- Fokus pada diri sndiri
- Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
- Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
k. Keamanan
- Riwayat alergi atau reaksi alergi
- Demam (sakit kepala)
- Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
- Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus)
l. Interaksi sosial
- Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang
berhubungan dengan penyakit.
m. Penyuluhan / pembelajaran
- Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
- Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi
oral/hormone, menopause.
B. ANALISA DATA
Subjektif

Objektif

1. Pasien mengatakan sakit kepala,


2. Pasien
mengatakan
telinga
berdengung,
3. Pasien mengatakan

1. Pasien

kabur),
4. Pasien mengatakan pusing
5. Pasien mengatakan jantungnya

mengeluarkan

keringat berlebihan dan dingin


2. Pasien
tampak
memegangi

gangguan

penglihatan (seperti pandangan

terlihat

3.
4.
5.
6.
7.

kepalanya
Pasien tampak lemas
Pasien tampak pucat
Pasien terlihat meringis
Denyut nadi pasien cepat
Pasien terlihat mual mual

berdebar debar
6. Pasien mengatakan dapat mual
muntah

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/
tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan
menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi,
perubahan pola tidur, gelisah.
2. Mual berhubungan dengan mabuk gerak, penyakit meniere, labirintitis.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan factor biologis
4. Risiko cedera berhubungan dengan gangguan keseimbangan berupa
ataksia dan pusing.
5. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan
relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
6. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal
informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi,
ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.

D. RENCANA KEPERAWATAN
No
1.

Diagnosa
Ketidakseimbangan

Tujuan dan Kriteria Hasil


Setelah dilakukan asuhan

Intervensi
NIC label

nutrisi kurang dari

keperawatan selama x

Nutrion Management :

kebutuhan tubuh

24 jam, diharapkan nyeri

Monitor catatan masukan

Agar mengetahui intake dan output

kandungan nutrisi dan kalori.


Berikan informasi yang tepat

nutrisi dan kalori


Agar mengetahui bagaimana

tentang kebutuhan nutrisi


Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi

memenuhi kebutuhan nutrisi


Mengetahui alergi makanan
Agar mengetahui pentingnya makan

untuk menentukan jumlah

makanan yang berserat


Untuk mengetahui keadaan turgor

kulit pasien
Untuk mengetahui masih tidaknya

mual muntah
Untuk mengetahui pemasukan

berhubungan dengan pasien berkurang.


factor biologis

NOC label
Nutritional Status :

Intake nutrisi baik


Intake makanan baik
Asupan cairan cukup
Peristaltic usus normal
Berat badan meningkat

Rasional

kalori dan nutrisi yang

dibutuhkan pasien
Yakinkan diet yang dimakan
mengandungtinggi serat untuk

mencegah konstipasi
Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan

harian
Monitor adanya penurunan

BB dan guladarah
Monitor lingkungan selama

nutrisi pasien

makan
Jadwalkan pengobatan dan

tindakan selama jam makan


Monitor turgor kulit
Monitor mual dan muntah
Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor intake nuntrisi

2.

Resiko cedera
berhubungan dengan
gangguan
keseimbangan
berupa ataksia dan
pusing

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama
.x24 jam, diharapkan
nyeri pada pasien
berkurang.
NOC label :

NIC label
Management : Safety
Observasi faktor-faktor yang
dapat berkonstribusi terhadap
cedera.

Risk Detection

Untuk meningkatkan kesadaran klien,


anggota keluarga dan pemberi asuhan.

Pasien mengidentifikasi
faktor-faktor yang
meningkatkan cedera.

Tingkatkan keamanan
lingkungan sesuai kebutuhan.

Tindakan tersebut akan mampu


mengaktifkan koping terhadap
lingkungan yang tidak familiar.

Pasien membantu
mengidentifikasi dan
menerapkan tindakan

Ajarkan kepada klien dan


keluarga tentang perlunya

Tindakan tersebutakan membantu


diskriminasi visual.

keamanan untuk mencegah penerangan yang aman.


cedera.
Berikan pendidikan tambahan
kepada klien bila diperlukan.
Topik yang memungkinkan
dapat menimbulkan keamanan
saat sakit berlangsung.

Pendidikan kesehatan dapat membantu


pasien untuk mencegah cedera.

DAFTAR PUSTAKA
Gandhi, Widya. 2012. Berteman Dengan Migrain. Katalog Dalam Terbitan:
Jogyakarta.
Ginsberg, Lionel. 2007. Lecture Notes Neurologi. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Ikatan Apoteker Indonesia. 2011. Informasi Spesialite Obat: Iso Indonesia.
Volume 46, 2011-2012. ISFI: Jakarta.
Joesoef & Kusumastuti. 2006. Neuoro-Otologi Klinis Vertigo. Airlangga
University Press: Surabaya.
Joesoef. 2007. Kapita Selekta Neurologi. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta
Potter, Patricia A., Perry, Anne G. 2006. Fundamental Keperawatan, Edisi 4 .
Jakarta: Penerbit Buku Kedoteran EGC
Ruberstein, D., Wyne, D., & Bradley, J. 2007. Lecture Notes Kedokteran Klinis.
Airlangga: Jakarta.
Yatim, Faisal. 2004. Sakit Kepala, Migrain, dan Vertigo. Pustaka Populer Obor:
Jakarta.