Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

Hubungan Epitaksis dan Hipertensi


Pembimbing:
Dr. dr. H. Iwan Setiawan Adji, Sp.THT-KL

Oleh :
Rezita Oktiana Rahmawati, S. Ked / J510155079
Rahma Lionita Lamandawati, S.Ked / J510155092

BAB I
PENDAHULUAN

Ginjal terbentuk oleh unit


(nefron). Unit nefron di mulai
dari pembuluh darah halus
(kapiler), bersifat sebagai
saringan disebut glomerulus.
Darah melewati glomerulus
tersebut dan disaring
sehingga terbentuk filtrat
(urine yang masih encer)
yang berjumlah kira-kira 170
liter per hari. Cairan filtrat ini
diproses dalam tubulus
sehingga akhirnya keluar dari
kedua ginjal menjadi urine
sebanyak 1-2 liter/hari.

Jika terjadi
kerusakan pada
nefron, maka
lambat laun akan
menurunkan
bahkan merusak
fungsi ginjal.
Salah satunya
penyakit gagal
ginjal kronik.

Prevalensi Epistaksis
United State Renal Data system (USRDDS) tahun 2009
sekitar 10-13%.

Berdasarkan survey dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia


( PERNEFRI) Indonesia merupakan negara dengan prevalensi
penyakit gagal ginjal kronis yang cukup tinggi yaitu sekitar 30,7 juta
penduduk.

Jumlah ini akan meningkat hingga melebihi 200 juta pada


tahun 2025
(Nguyen, 2015).

Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, referat ini
akan membahas lebih lanjut
mengenai gagal ginjal kronis.

Tujuan Penulisan
Memahami lebih jauh mengenai
definisi, epidemiologi, etiologi,
manifestasi klinis, patofisiologi,
diagnosis, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaan dari gagal ginjal
kronis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

ETIOLOGI
Gangguan
imunologis
Gangguan
pembuluh darah
ginjal

Gangguan
metabolik

Gangguan
tubulus primer

Infeksi

Obstruksi
traktus
urinarius

Kelainan
kongenital

ETIOLOGI

Epidemiologi

Epistaksi

PATOFISIOLOGI

Penegakan Diagnosis

1.
Anamnesis
Lokasi

2. Pemeriksaan
Fisik

Penatalaksanaan

1. Tampon
anterior

2. Tampon
Posterior

Hipertensi

Sebelum diberi obat anti


hipertensi

Setelah diberi obat anti hipertensi

Pengaruh Hipertensi pada


Sistem Vaskularisasi

Hubungan Hipertensi dengan


Epistaksis

(Herkner dkk, 2000).

Penatalaksanaan Epistaksis
Daftar
Pustaka
dengan hipertensi (Budiman dan Hafiz, 2012)

Kesimpulan

Daftar Pustaka

Adams, G.L., Boies, L.R., Higler, P.A. 1997. Epistaksis. Boies: Buku Ajar Penyakit THT (Boies fundamentals of
otolaryngology). Edisi ke- 6. Jakarta: EGC, hal; 224-239.

Budiman, B.J., Hafiz, A. 2012. Epistaksis dan Hipertensi: Adakah hubungannya. Jurnal Kesehatan Andalas.
2012;1(2).

Knopfholz, J., Lima, J.E., Neto, D.P., Faria, N.J.R. 2009. Association between Epistaxis and Hypertension: A one year
Follow-up After an Index Episode of Nasal Bleeding in Hypertension Patiens. International Journal of Cardiology;
134: 107-9.

Limen, M.P., Palandeng, O., Tumbel, R. 2013. Epistaksis di poliklinik THT-KL Blu RSUP Prof. DR. R.D. Kandou mando
periode januari 2010-desember 2012. Jurnal e-Biomedik (eBM), Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, hlm 478-483.

Mangunkusumo, E., Wardani, R.S. 2007. Perdarahan hidung dan gangguan penghidung. Dalam: Soepardi, E.A.,
Iskandar, N., Bashiruddin, J., Restuti, R.D (editors). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI.

Nguyen, Q.A. 2015. Epistaxis. California: Departement of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, University of
California. http://emedicine.medscape.com/article/863220-overview (diakses tanggal 18 Oktober 2015).

Sarhan, N.A., Algamal, A.M. 2015. Relationship between epistaxis anda hypertension: A cause and effect or
coincidence. J Saudi Heart Assoc. 2015;27-84.

Temmel, A.F.P. 2001. Debate about blood pressure and epistaxis will continue. Department of otorhinolaryngology,
University of Vienna, Austria. BMJ: 12;322(7295):1181.

Varshney, S., Saxena, R.K. 2005. Epistaxis: a retrospective clinical study. Indian Journal Otolaryngol Head Neck
Surg. 2005; 57(2): 125-129.

TERIMA
KASIH