Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENYULUHAN

ASI EKSKLUSIF

Oleh :
dr. Rona Kartika

Pendamping:
dr. Soediro

UPT PUSKESMAS PUNUNG


KABUPATEN PACITAN
2016

BAB I
LATAR BELAKANG
ASI (air susu ibu) merupakan sumber gizi terbaik bagi bayi dan batita (bayi dibawah usia
tiga tahun). Badan kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan bayi mendapat ASI eksklusif
minimal selama 6 bulan. ASI eksklusif adalah pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin
setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air
putih,sampai bayi berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan dengan makanan lain
dan tetap diberi ASI sampai bayi berumur dua tahun.
Menurut Survei Demografi Kesehatan tingkat pemberian ASI eksklusif telah menurun
selama dekade terakhir. Pada tahun 2014, cakupan pemberian ASI eksklusif dalam enam bulan
pertama kehidupan hanya 42 % (infodatin, 2014). Hal ini jauh dari target Kemenkes yang
mengupayakan cakupan ASI eksklusif sebesar 80%. Ada banyak hambatan untuk menyusui di
Indonesia, antara lain kurang nya edukasi pada masyarakat mengenai entingnya ASI eksklusif
minimnya dukungan terutama keluarga dan tenaga kesehatan, serta kurangnya perlindungan
hukum. Beberapa ibu juga takut menyusui akan menyakitkan dan tidak praktis, tapi salah satu
kendala terbesar adalah kesalahpahaman dari istilah 'eksklusif'.
Promosi kesehatan merupakan salah satu proses penyampaian informasi agar masyarakat
tahu, mau dan mampu merubah perilaku untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi, dengan
cara advokasi, bina suasana, gerakan masyarakat dan Kemitraan. Untuk mendukung dan
menanggulangi masalah kesehatan diperlukan kemitraan dengan melibatkan berbagai sektor
yaitu lembaga pemerintah, dunia usaha, media massa dan organisasi masyarakat lainnya dalam
upaya meningkatkan cakupan ASI eksklusif.

BAB II
PERMASALAHAN
Riset terbaru WHO pada tahun 2005 menyebutkan bahwa 42 persen penyebab kematian
balita di dunia adalah akibat penyakit, yang terbesar adalah pneumonia (20 persen), selebihnya
(58 persen) terkait dengan malnutrisi yang seringkali terkait dengan asupan ASI (Siswono,
2006). Dan berdasarkan hasil penelitian Ridwan Amirudin 2007, anak yang tidak diberi ASI
ekslusif lebih cepat terserang penyakit kronis seperti kanker, jantung, hipertensi, dan diabetes
setelah dewasa,.kemungkinan anak menderita kekurangan gizi dan obesitas (Amiruddin, 2007).
Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan berfluktuatif. Hasil Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) 2007 menunjukkan cakupan ASI eksklusif bayi 0- 6
bulan sebesar 32% yang menunjukkan kenaikan yang bermakna menjadi 42% pada tahun 2012
(Infodatin, 2015).
Persentase pola menyusui bayi umur 0 bulan adalah 39,% menyusui ASI eksklusif, 5,1%
menyusui predominan, dan 55,1% menyusui parsial. Persentasi menyusui eksklusif semakin
menurun seiring meningkatkan kelompok umur. Pada kelompok umur 1 bulan menyusui eksklusi
sebesar 32,5%, usia 2 bulan sebesar 30,7%, usia 3 bulan sebesar 25,2%, usia 4 bulan 26,3%, dan
bayi yang berumur 5 bulan dan masih disusui ASI eksklusif tinggal 15,3%, sedangkan bayi yang
mendapatkan susu parsial semakin banyak yaitu 83,2%
Meskipun ASI sangat besar manfaatnya bagi bayi, namun survei yang dilaksanakan pada
tahun 2002 oleh Nutrition dan Health Surveillance System (NSS) kerja sama dengan
Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan dan 8 pedesaan menunjukan bahwa
cakupan ASI ekslusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4% - 12 %, sedangkan di pedesaan 4% - 25
% pencapaian ASI ekslusif, pencapaian ASI ekslusif 5-6 bulan diperkotaan berkisar antara
1% - 13%, sedangkan dipedesaan 2% - 13 %.
Berdasarkan data tersebut di atas, permasalahan yang mengakibatkan masih rendahnya
penggunaan ASI di Indonesia adalah faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI,
pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung PP-ASI,
gencarnya promosi susu formula dan ibu bekerja (Judarwanto, 2006).
Menurut penelitan Arifin Siregar 2004 dijelaskan alasan ibu tidak menyusui bayinya, di
aspek kehidupan kota kurangnya pengertian dan pengetahuan ibu tentang manfaat ASI dan

meyusui yang menyebabkan ibu terpengaruh kepada susu formula. Kesehatan / status gizi bayi
serta

kelangsungan

akan

lebih

baik

pada

ibu

yang

berpendidikan

rendah.

Hal

ini karena ibu yang berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas serta kemampuan
untuk menerima informasi lebih tinggi.
Faktor lain yang berpengaruh terhadap pemberian ASI adalah sikap ibu terhadap
lingkungan sosialnya dan kebudayaan dan dilihat faktor intern dari ibu seperti terjadinya
bendungan ASI, luka-luka pada puting susu, kelainan pada puting susu dan adanya penyakit
tertentu seperti tuberkolose, malaria. (Arifin, 2004).
Penulis menyimpulkan perlu adanya penyuluhan tentang pentingnya pemberian ASI
eksklusif pada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan cakupan ASI eksklusif, selain itu
juga dapat meningkatkan derajat kesehatan bayi dan balita serta mengurangi angka kematian
bayi di Indonesia.

BAB III
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

3.1.Perencanaan
Sasaran :
Kegiatan penyuluhan ASI Eksklusif ini ditujukan untuk kelompok Posyandu Balita Desa
Mantren
Waktu Kegiatan :
Kegiatan ini dilakukan pada saat acara posyandu Balita di dusun Krajan Desa Mantren tanggal
23 April 2016 pukul 08.00 10.00
Lokasi Kegiatan
Kegiatan penyuluhan ini dilakukan di Balai dusun Krajan.
3.2. Pemilihan Intervensi
Pemilihan intervensi berupa pemberian materi tentang definisi ASI eksklusif, kandungan gizi
yang ada pada ASI, keuntungan ASI eksklusif pada ibu dan bayi, permasalahan yang sering
timbul saat pemberian ASI. Materi disampaikan talkshow dengan alat bantu leaflet. Kemudian,
dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi dengan peserta.

BAB IV
PELAKSANAAN
Pada tanggal 23 April 2016 dilakukan penyuluhan tentang ASI Eksklusif di Posyandu Balita,
Dusun Krajan, Desa Mantren yang dihadiri 25 ibu balita, 3 kader posyandu, dan 1 staff
Puskesmas Punung.
Materi yang diberikan berupa :
1. Pengertian ASI Eksklusif
Pemberian ASI pada bayi umur 0 6 bulan tanpa jadwal dan tanpa makanan atau
minuman tambahan lain termasuk air putih
2. Jenis ASI
-

Kolostrum

ASI transisi

ASI matur

3. Keuntungan ASI bagi Bayi


-

ASI kaya akan zat penting yang diutuhkan bayi

Sebagai sarana untuk mendekatkan bayi dan ibu nya

Memberikan kekebalan yang optimal

ASI tidak basi dan selalu segar

ASI lebih higenis dibandingkan dengan susu lain

ASI menyesuaikan kebutuhan bayi

ASI adalah pelindung dari berbagai alergi makanan

4. Keuntungan ASI bagi Ibu


a. Mencegah perdarahan pasca melahirkan
b. Mengurangi berat badan
c. Mengurangi risiko terkena kanker payudara dan kanker rahim
d. Ungkapan kasih saying
e. Praktis dan ekonomis
f. Sebagai alat kontrasepsi

5. Masalah yang sering terjadi saat Menyusui


a. Rasa nyeri dan ketidaknyaman pada putting
b. Perasaan stress karena tidak yakin ASI nya cukup
c. Bayi tidak tampak antusias saat menyusu ASI
d. Kelancaran ASI saat menyusu
6. Perawatan Payudara saat menyusui
Setelah dilakukan pemberian materi, diadakan sesi diskusi/ tanya jawab dengan
narasumber. Para ibu balita dan kader desa diharapkan dapat lebih terbuka wawasannya dan lebih
mengenal ASI eksklusif sehingga dapat meningkatan cakupan ASI eksklusif terutama di desa
Mantren.

BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
Evaluasi dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan kepada peserta penyuluhan yaitu
para ibu balita untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta penyuluhan terhadap materi yang
diberikan. Selain itu, para ibu balita juga diberi kesempatan bertanya kepada nara sumber.

Laporan Penyuluhan

Nama Peserta
Nama Pendamping
Nama Wahana
Tema Penyuluhan
Tujuan Penyuluhan

: dr. Rona Kartika


Tanda tangan :
: dr. Soediro
Tanda tangan :
: UPT Puskesmas Punung
: ASI Eksklusif
: Meningkatkan pengetahuan para ibu balita

Hari/Tanggal
Waktu
Tempat
Jumlah Peserta

memberikan ASI eksklusif saat bayi berusia 0-6 bulan.


: Sabtu/23 April 2016
: 08.00 10.00 WIB
: Posyandu Balita, Dusun Krajan, Desa Mantren
: 25 orang ibu balita, 3 kader Posyandu, 1 staff Puskesmas Punung

pentingnya

Anda mungkin juga menyukai