Anda di halaman 1dari 21

CASE REPORT

SEPTUM DEVIASI DENGAN SINUSITIS


Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Pendidikan Program Profesi Dokter Umum
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing :
KRH. dr. H. Djoko Sindhusakti Widyodiningrat, Sp.THT-KL (K), MBA., MARS.,
M.Si, Audiologist
DR. dr. H. Iwan Setiawan Adjie, Sp. THT-KL

Diajukan oleh :
Rahayu Prabaningtyas
(J510155059)
KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

LEMBAR PENGESAHAN
CASE REPORT
SEPTUM DEVIASI DENGAN SINUSITIS
Yang diajukan Oleh :
Rahayu Prabaningtyas
J510155046
Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Pada hari.....................tanggal ...........................
Pembimbing
KRH. dr. H. Djoko Sindhusakti Widyodiningrat, Sp.THT-KL (K), MBA., MARS.,
M.Si, Audiologist
(..)
Dipresentasikan di hadapan
KRH. dr. H. Djoko Sindhusakti Widyodiningrat, Sp.THT-KL (K), MBA., MARS.,
M.Si, Audiologist
(..)
Disahkan Ka Profesi FK UMS
Nama
: dr. D. Dewi Nirlawati

(..)

BAB I
STATUS PENDERITA
I.

IDENTITAS PASIEN
Pasien Nama
Umur
Jenis kelamin

: Nn. BS
: 24 tahun
: Perempuan

Alamat
Status perkawinan
Agama
Suku
Tanggal pemeriksaan
No. RM
II.

:
:
:
:
:
:

Bejen, Karanganyar
Belum Menikah
Islam
Jawa
22 Juli 2015
341xxx

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis di Bangsal Kantil 1

pada tanggal 22 Juli 2015


Keluhan Utama : hidung mampet
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluh hidung mampet sejak 1 tahun yang lalu, terutama
hidung sebelah kanan. Mampet dirasakan setiap saat, disertai pilek
yang dirasakan setiap hari. Pasien mengaku sering bersin di pagi hari
dan hidung mengeluarkan cairan jernih dan tidak berbau, cairan
dirasakan lebih banyak keluar terutama pada malam hari. Saat pilek
dirasa memberat (disertai demam, pusing, bersin-bersin) cairan yang
keluar disertai bercak darah. Keluhan lain, pasien sering merasakan
pusing terutama di bagian kepala dan sekitar mata.
Keluhan telinga tidak ada. Pasien merasa tenggorokan kering.

Riwayat penyakit dahulu


Riwayat keluhan serupa sebelumnya

: disangkal

Riwayat batuk pilek sebelumnya

: diakui

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Allergi

: disangkal

Riwayat Asma

: diakui

Riwayat penyakit keluarga


Riwayat Asma
Riwayat Alergi
Riwayat keluhan serupa

: diakui
: disangkal
: disangkal

Riwayat Pengobatan
Sudah berobat ke dokter dan diberi obat semprot hidung (pasien lupa nama
obatnya) dan keluhan berkurang.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Pasien :
1. Vital Sign : Tekanan Darah
: 110/70 mmHg
Nadi
: 80 x/mnt
Respirasi
: 16 x/mnt
Suhu (per axillar)
: 360 C
2. Keadaan Umum
: Baik
3. Kesadaran
: Compos Mentis
B. Status Generalis :
1. Kepala
: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)
2. Leher
:Retraksi supra sterna (-) deviasi trachea (-)
peningkatan JVP (-), pembesaran kelenjar limfe (-), inspeksi bengkak di leher
sebelah kiri. Palpasi nyeri Tekan (-)
3. Abdomen
: Simetris, distended (-), bekas operasi(-)
4. Ekstremitas
: Clubbing finger (-), Edema tungkai (-)
C. Status Lokalis :
1. Pemeriksaan Rongga Mulut dan Faring
a. Inspeksi : Mukosa faring hiperemis (-), granulasi (-), palatum mole
nampak edema hiperemis (-) tonsil T1-T1 , kripte melebar (-), detritus
(-), perlengketan (-) uvula di tengah, gigi caries (-).
b. Palpasi : limfadenopati (-), nyeri tekan (-)

2. Pemeriksaan Hipofaring dan laring


Laringoskopi Indirect:
Epiglotis
Aritenoid
Plika vokalis
Gerak plika vokalis
Subglotis
Tumor

: dalam batas normal


: dalam batas normal
: dalam batas normal
: dalam batas normal
: dalam batas normal
: tidak ada

3. Pemeriksaan Telinga
INSPEKSI
- Telinga kanan : Bentuk telinga normal, deformitas (-), bekas luka
-

(-), bengkak (-), hiperemis (-), sekret(-)


Telinga kiri
: Bentuk telinga normal, deformitas (-), bekas luka

(-), bengkak (-), hiperemis (-), sekret(-)


PALPASI
- AD : Tragus pain (-), manipulasi auricula tidak sakit
- AS : Tragus pain (-), manipulasi auricula tidak sakit
OTOSKOPI :
- Telinga kanan : CAE udem (-), hiperemis (-), serumen minimal,
-

membran timpani utuh, discharge (-)


Telinga kiri : CAE udem (-), hiperemis (-), serumen (-), membran
timpani utuh, discharge (-)

4. Pemeriksaan Hidung
a. Inspeksi : Deformitas (-), bekas luka (-), sekret (+), edema (-)
b. Palpasi : Krepitasi (-), nyeri tekan (+) pada hidung sebelah kanan
c. Rinoskopi anterior
:
- ND: Mukosa hiperemis (+), concha media hipertrofi (-) concha inferior
hipertrofi (+), concha livide (+), secret (+) berwarna jernih, septum nasi
deviasi (+) ke arah kanan, udem (-), massa dirongga hidung (-)
- NS: Mukosa hiperemis (+),concha media hipertrofi (-) concha inferior
hipertrofi (+), concha livide (+), secret (+) berwarna jernih, septum nasi
deviasi (+) ke arah kanan, udem (-), massa dirongga hidung (-).

d. Rinoskopi posterior
- Dinding belakang
-Muara tuba eustachii
-Adenoid
-Tumor

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan

D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM ( 22 Juli 2015)


Pemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan Normal

Hemoglobin

13,5

14-18 gr%

Hematokrit

38,1

42-52 vol %

Lekosit

6,63

5-10 10^3/Ul

Trombosit

282

150-300^3/Ul

Eritrosit

4,50

4,00-5,50^6/Ul

MPV

7,1

6,5-12 fl

PDW

15,6

9,0-17

MCV

84,7

82-92 fl

MCHC

35,4

32,0-37,0 g/dl

Gran%

45,8 (L)

50-70%

Limfosit%

41,3 (H)

25-40%

Monosit%

1,9 (L)

3-9%

Eosinofil %

10,5 (H)

0,5-5%

Basofil %

0,5

0,0-1,0%

CT

04.00

2.8 Menit

BT

02.00

1-3 menit

E. DIAGNOSIS BANDING
1. Septum deviasi dengan sinusitis
2. Rinitis alergi
3. Sinusitis kronik
4. Hematoma septum
F. DIAGNOSIS
Septum deviasi dengan sinusitis

G. PENATALAKSANAAN
1. Operatif : septum koreksi dan CWL
2. Medikamentosa :
Inf RL 20 tpm
Inj amoxicillin 1 gr/ 12 jam
Inj asam tranexamat 500 mg/ 8 jam
Inj ketorolac 30 mg/ 8 jam
Inj methil prednisolon 62,5 mg/ 12 jam
OS: amoxicillin 3x500mg, methil prednisolon 2x4mg, antalgin
3x500mg
3. Non Medikamentosa :
Terapi cuci hidug 2 x 20 cc dengan larutan NaCl

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Septum Deviasi
1. Definisi
Septum deviasi adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan
ketidaksejajaran dari septum (dinding tipis yang memisahkan kedua cuping
hidung). Septum deviasi merupakan salah satu bentuk dari deformitas
septum yang sering ditemui.
2. Epidemiologi
Studi klinis menunjukkan bahwa prevalensi septum deviasi meningkat
seiring usia. Van der Veken mennjukkan bahwa prevalensi septum deviasi
pada anak-anak meningkat dari 16% sampai 72% secara linier dari usia 314 tahun. Sedangkan Gray melaporkan
kejadian

septum

deviasi

adalah

diantara 2112 orang dewasa,

79%.

Berdasarkan

Journal

of

Pharmaceutical Sciences and Research di Pakistan pada tahun 2011,


didapati dari 25 pasien dengan deviasi septum nasi 88% terjadi pada lakilaki dan 12% pada perempuan. Hal ini disebabkan oleh trauma kecelakaan
yang sering terjadi pada laki-laki. Dari studi lain juga didapatkan 76%

kasus disebabkan oleh trauma dan 24% kasus disebabkan oleh trauma pada
saat lahir.
3. Etiologi
Penyebab yang paling sering adalah trauma. Trauma dapat terjadi sesudah
lahir, pada saat partus atau saat janin intrauterin. Penyebab lainnya adalh
ketidakseimbangan pertumbuhan. Tulang rawan septum nasi terus tumbuh,
meskipun batas superior dan inferior telah menetap. Dengan demikian,
maka akan terjadi deviasi septum nasi tersebut.

4. Klasifikasi
Beberapa sistem klasifikasi telah diajukan, cottle membagi septum nasi
menjadi 5 bagian area yaitu; vestibular, valvar, turbinal, attic, dan area
koana posterior. Dia juga membagi deviasi septum menjadi 3 tipe
berdasarkan keparahan yaitu; deviasi sederhana, obstruksi dan impaksi.
Mladina memperkenalkan metode objektif untuk mengklasifikasikan
deviasi septum nasi. Mladina menyatakan terdapat 7 klasifikasi deviasi
septum yaitu:
a. Tipe 1 deviasi anterior ringan yang tidak mengganggu fungsi
Terdapat celah unilateral di region katup nasal yang tidak menyebar ke
seluruh septum dan tidak kontak langsung dengan dinding lateral.
b. Tipe 2 deviasi vertical anterior yang menggangu fungsi
Terdapat celah vertical unilateral yang kontak langsung dengan area
katup nasal.
c. Tipe 3 deviasi vertical posterior
Terdapat celah unilateral disebelah puncak turbinate bagian tengah.
d. Tipe 4 septum bentuk S
Terdapat celah vertical bilateral, ini merupakan kombinasi dari tipe 2
dan 3
e. Tipe 5 spur horizontal
Spur ini hampir selalu menyentuh dinding nasal lateral dengan atau
tanpa deviasi tinggi ke sisi lain.
f. Tipe 6, tipe 5 dengan potongan horizontal yang dalam di sisi lain
g. Tipe 7 Septum rusak (mengkerut) : kombinasi lebih dari satu tipe.

5. Gejala Klinis
Keluhan yang paling sering pada septum deviasi adalah sumbatan hidung.
Sumbatan bisa unilateral, dapat pula bilateral, sebab pada sisi diviasi
terdapat konka hipotrofi dan sisi lainnya konka hipertrofi sebagai akibat
mekanisme kompensasi.
Keluhan lainnya adalah rasa nyeri di kepala dan sekitar mata. Selain itu,
penghidu dapat terganggu, apabila terdapat deviasi pada bagian atas
septum.
Deviasi septum dapat menyumbat ostium sinus sehingga merupakan faktor
predisposisi terjadinya sinusitis.
6. Diagnosis
Septum deviasi biasanya sudah dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaan fisik langsung. Namun, diperlukan juga pemeriksaan
radiologis untuk menegakkan diagnosis pasti.
Dari anamnesis didapati sumbatan hidung yang biasanya unilateral,
terkadang bilateral, selain itu didapati nyeri kepala, ganguan penciuman
dan epistaksis. Dari pemeriksaan fisik didapati bentuk hidung yang
asimetris. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior dapat dilihat penonjolan
septum ke arah deviasi, hal ini dapat dilihat pada deviasi yang berat.
Pada deviasi ringan biasanya lebih terlihat normal. Temuan yang kita dapat
dari pemeriksaan fisik bersifat subjektif dan rentan mengalami bias.
Pengukuran yang objektif

sering tidak berkorelasi dengan gejala-

gejalanya. Selain tanda-tanda yang dijumpai pada pemeriksaan fisik,


mukosa yang robek dapat juga disebut sebagai fraktur septal dimana
ditemukan kebanyakan pasien memiliki deviasi septum yang sudah lama
tanpa adanya robekan mukosa atau perdarahan permukaan septum dan
gangguan mobilitas septum. Untuk pemeriksaan fisik yang lebih dalam
dapat digunakan endoskopi, yang dapat menilai perubahan morfologi dari
septum nasi. Untuk menentukan derajat sumbatan hidug yang terjadi
akibat deviasi septum dapat menggunakan rinomonometri.
CT-scan dapat digunakan untuk evaluasi struktur paraseptum dan penyakit
sinus yang kronis yang berhubungan dengan deviasi septum dimana
terdapat peningkatan keparahan penyakit sinus bersamaan dengan

peningkatan sudut dari deviasi septum. CT scan juga dapat menunjukkan


adanya suatu asosiasi deviasi septum nasi dengan penebalan mukosa sinus
maksilaris yang akan menyebabkan penyempitan region kompleks
osteomeatal.
7. Diagnosis Banding
Hematoma septum
Hematoma septum diakibatkan oleh adanya trauma, pembuluh darah
subukosa akn pecah dan darah akan berkumpul diantara perikondrium
dan tulang rawan septum membentuk hematoma pada septum. Gejala

klinik yang khas adalah sumbatan hidung dan rasa nyeri.


Abses septum
Abses septum paling banyak disebabkan oleh trauma yang kadang
tidak disadari oleh pasien. seringkali didahului oleh heatoma septum
yang kemudian terinfeksi kuman dan menjadi abses. Gejala abses
septum adalah hidung tersumbat progresif disertai rasa nyeri yang
berat, terutama terasa di bagian puncak hidung, disertai keluhan
demam dan sakit kepala.

8. Tatalaksana
Bila gejala tidak ada atau keluhan sangat ringan tidak perlu dilakukan
tindakan koreksi septum. Namun, apabila keluhan sangat mengganggu
maka dapat dilakukan koreksi septum.
Ada 2 jenis tindakan operatif yang dapat dilakukan , yaitu:
a. Septoplasti
b. Reseksi sub mukosa
Penatalaksanaan pilihan untuk deviasi septum adalah pembedahan
(septoplasti). Prosedur ini dilakukan dengan cara menggeser tulang rawan
yang berdeviasi dan porsi tulang septum bersamaan dengan spur dan celah
dan memasang kembali sesuai posisi yang tepat pada garis tengah wajah.
Septoplasti diindikasikan pada deviasi septum yang menyebabkan
gangguan fungsi pernafasan. Indikasi septoplasti harus diperhatikan pada
anak anak dan remaja yang berusia di bawah15-17 tahun, harus dilakukan
pendekatan konserfatif dalam memilih pasien. Perlakuan yang salah pada
pasien yang lebih muda dapat merusak pertumbuhan tulang septum yang

menyebabkan masalah yang berkepanjangan. Penatalaksanaan operatif


yang tepat untuk kondisi ini memerlukan analisa pre operatif dan intra
operatif yang lengkap terhadap komponen anatomis dari tulang-tulang
nasal. Manuver pembedahan juga harus dilakukan secara tepat.
Pembedahan dilakukan melalui pendekatan endonasal atau eksternal.
Pendekatan endonasal dilakukan pada kasus-kasus deviasi tipe 1 dan 2
dimana deformitasnya tidak begitu parah. Jika dibutuhkan dapat juga
dilakukan osteotomi medial dan lateral melalui rute endonasal. Akan
tetapi, pada sebagian besar pasien pendekatan eksternal atau terbuka lebih
dipilih karena pendekatan tersebut menyediakan gambaran yang jelas
terhadap dorsum nasal dan memberikan manuver yang luas pada saat
pemasangan graft.
Selain teknik septoplasti terdapat teknik klasik yang disebut dengan
reseksi submukosa (SMR), akan tetapi teknik ini jarang digunakan
dikarenakan dapat terjadi komplikasi setelah dilakukan SMR seperti
perforasi, epistaksis dan adesi. SMR dilakukan jika tidak terdapat operator
dan instrument untuk melakukan septoplasti.
Sinusitis (Rinosinusitis)
1. Definisi
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal.
Umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sering disebut
rinosinusitis. Rinosinusitis, istilah bagi suatu proses inflamasi yang
melibatkan mukosa hidung dan sinus paranasal. Bila mengenai beberapa
sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus
paranasal disebut pansinusitis.
2. Klasifikasi
Secara klinis sinusitis dapat dikategorikan sebagai sinusitis akut bila
gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu. Sinusitis
subakut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan dan sinusitis
kronik bila berlangsung lebih dari 3 bulan.
3. Epidemiologi

Berdasarkan data dari National Health Interview Survey 1995, sekitar 17,4
% penduduk dewasa Amerika Serikat (AS) pernah mengidap sinusitis
dalam jangka waktu 12 bulan. Dari survei yang dilakukan, diperkirakan
angka prevalensi rinosinusitis kronik pada penduduk dewasa AS berkisar
antara 13-16 %, dengan kata lain, sekitar 30 juta penduduk dewasa AS
mengidap rinosinusitis kronik. Dengan demikian rinosinusitis kronik
menjadi salah satu penyakit kronik yang paling populer di AS melebihi
penyakit asma, penyakit jantung, diabetes dan sefalgia. Kennedy
melaporkan pada tahun 1994 adanya peningkatan jumlah kunjungan
pasien sinusitis kronik sebanyak 8 juta menjadi total 24 juta pertahun
antara tahun 1989 dan 1992. Dari Kanada tahun 2003 diperoleh angka
prevalensi rinosinusitis kronik sekitar 5 % dengan rasio wanita berbanding
pria yaitu 6 berbanding 4 (lebih tinggi pada kelompok wanita).
Berdasarkan penelitian divisi Rinologi Departemen THT-KL FKUI tahun
1996, dari 496 pasien rawat jalan ditemukan 50 % penderita sinusitis
kronik.
Dewanti (2008) pada penelitiannya terhadap 118 penderita rinosinusitis
kronis di bagian THT-KL FK. UGM/RS Dr. Sardjito Yogyakarta tahun
2006 2007 didapatkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 68 penderita
(57,6%) dan perempuan 50 penderita (42,4%). Sinus yang paling sering
terlibat adalah maksilaris 68 kasus (57,6%), maksilaris-etmoidalis 20
kasus (16,9%) dan 13 kasus (11%) etmoidalis, rinosinusitis unilateral 77
kasus (65,3%) dominasi
dektra; dan bilateral 41 kasus (34,7%). Gejala klinis yang terbanyak
ditemukan adalah obstruksi nasi paling dominan sebanyak 65 kasus
(55,1%), dan rinorea sebanyak 34 kasus (28,8%)
Pada penelitian lainnya seperti El fahmi (2001) pada penelitiannya
terhadap 40 penderita rinosinusitis kronis, didapatkan kelompok umur
terbanyak adalah (35-44 tahun) sebanyak 30%. Jenis kelamin perempuan

sebanyak 19 penderita (47,5%) dan laki-laki sebanyak 21 penderita


(52,5%).
4. Etiologi
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus,
berbagai rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil,
polip hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi
konka, sumbatan kompleks osteo-meatal, infeksi tonsil, infeksi gigi, dll.
5. Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan
kelancaran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM).
Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zatzat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk
bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami udem, sehingga
mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia
tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini
menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan
terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang
ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai
sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak
sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media
yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan
berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang
membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini
bisa berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin
berkembang. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa
yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.
6. Pemeriksaan penunjang
1.

Laboratorium
o Tes sedimentasi, leukosit, dan C-reaktif protein dapat membantu
diagnosis sinusitis akut

o Kultur merupakan pemeriksaan yang tidak rutin pada sinusitis akut,


tapi harus dilakukan pada pasien immunocompromise dengan
perawatan intensif dan pada anak-anak yang tidak respon dengan
pengobatan yang tidak adekuat, dan pasien dengan komplikasi yang
disebabkan sinusitis.
2.

Imaging
o Rontgen sinus, dapat menunjukan suatu penebalan mukosa, airfluid level, dan perselubungan.Pada sinusitis maksilaris, dilakukan
pemeriksaan rontgen gigi untuk mengetahui adanya abses gigi.
o CT-Scan, memiliki spesifisitas yang jelek untuk diagnosis sinusitis
akut, menunjukan suatu air-fluid level pada 87% pasien yang
mengalami infeksi pernafasan atas dan 40% pada pasien yang
asimtomatik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk luas dan beratnya
sinusitis.
o MRI sangat bagus untuk mengevaluasi kelainan pada jaringan
lunak yang menyertai sinusitis, tapi memiliki nilai yang kecil untuk

mendiagnosis sinusitis akut


7. Diagnosis
Penegakan diagnosis sinusitis secara umum:
1.

Kriteria Mayor :
-

Sekret nasal yang purulen

Drenase faring yang purulen

Purulent post nasal drip

Batuk

Foto rontgen (Watersradiograph atau air fluid level) :

Penebalan lebih 50% dari antrum


-

Coronal CT Scan : Penebalan atau opaksifikasi dari mukosa

sinus
2.

Kriteria Minor :
-

Sakit kepala

Edem periorbital

Nyeri di wajah

Sakit gigi

Nyeri telinga Sakit tenggorok

Nafas berbau

Bersin-bersin bertambah sering

Demam

Tes sitologi nasal (smear) : neutrofil dan bakteri

Ultrasound

Kemungkinan terjadinya sinusitis jika :


Gejala dan tanda : 2 mayor, 1 mayor dan 2 kriteria minor
8. Tatalaksana
Didapatkan beberapa obat yang dapat melegakan gejala yang menyertai
sinusitis, seperti sakit kepala, nyeri maupun kelelahan. Biasanya dapat
dikombinasikan antara jenis obat antihistamin bersamaan dengan
decongestan atau pelega nyeri. Bila sinusitis tidak membaik pada 48 jam,
atau menyebabkan nyeri berarti, dapat diberikan antibiotik (Amoxicillin
yang paling umum).Flouroquinolone untuk pasien dengan alergi penicillin.
Antibiotik dosis penuh untuk 10 - 14 hari,obat dekongestan lokal berupa
tetes hidung 5 10 hari.
Tindakan medis
Penderita dengan sinusitis kronis, diindikasikan untuk mendapatkan
pembedahan hidung, atau biasa disebut FESS (Functional Endoscopic
Sinus xxiii Surgery) dimana mengembalikan fungsi normal sinus dengan
menghilangkan bagian-bagian baik yang normal maupun patologis yang
menyebabkan sumbatan pada sinus. Pencucian hidung : Apabila dengan
pengobatan tidak banyak menolong, maka mungkin pencucian hidung
diperlukan. Dilakukan dengan anestesi lokal, di mana trokar dan kanula
dimasukkan melalui meatus inferior dan ditusukkan menembus dinding
naso antral dan kemudian di drainase.
Setiap pus yang didapatkan dibuat pemeriksaan biakannya. Apabila setelah
2-3kali pencucian, infeksi belum hilang, maka mungkin diperlukan
tindakan antrostomi intranasal. Namun perlu diketahui, jarang dibutuhkan
terapi pembedahan pada sinusitis akut. Antrostomi yaitu membuat
hubungan / lubang di bawah pangkal konka inferior, sehingga ada

hubungan langsung antara sinus maxilaris dengan cavum nasi supaya


pengaliran lendir/sekret lebih baik.
Bila pengobatan konservatif tidak berhasil maka dilakukan tindakan
radikal berupa: Operasi Cadwell-Luc. Selain itu tindakan operasi dengan
menggunakan endosop disebut Bedah Sinus Endoskopik Fungsional
(BSEF).

BAB III
PEMBAHASAN
Pada anamnesis pasien Nn. BS usia 24 tahun datanng ke RSUD
Karanganyar dengan keluhan hidung mampet sejak 1 tahun yang lalu, terutama
hidung sebelah kanan. Mampet dirasakan setiap saat, disertai pilek yang dirasakan
setiap hari. Pasien mengaku sering bersin di pagi hari dan hidung mengeluarkan

cairan jernih dan tidak berbau, cairan dirasakan lebih banyak keluar terutama pada
malam hari. Saat pilek dirasa memberat (disertai demam, pusing, bersin-bersin)
cairan yang keluar disertai bercak darah. Keluhan lain, pasien sering merasakan
pusing terutama di bagian kepala dan sekitar mata. Keluhan telinga tidak ada.
Pasien merasa tenggorokan kering.
Hidung mampet merupakan keluhan yang paling sering dirasakan pada
septum deviasi. Hal tersebut dikarenakan pada septum deviasi terdapat konka
yang hipotrofi pada sisi deviasi dan konka yang hipertrofi pada sisi lainnya
sebagai mekanisme kompensasi.
Pasien mengatakan bahwa keluhan hidung mampet seringkali disertai
pilek. Selain manifestasi dari adanya septum deviasi, keluhan hidung mampet
pada pasien dapat dicurigai karena adanya rinitis. Rinitis merupakan proses
inflamasi mukosa hidung akibat infeksi, alergi, atau iritasi. Rinitis alergi adalah
inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita atopi yang
sebelumnya sudah pernah tersensitasi. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior pasien
ini terlihat adanya konka yang livid disertai sekret encer yang merupakan tanda
khas pada rinitis alergi.
Pasien mengeluh adanya pusing di kepala dan daerah sekitar mata. Dari
keluhan tersebut dapat dicurigai adanya sinusitis (diperkuat dengan gambaran
rontgen yang menunjukkan adanya penebalan mukosa sinus maxillaris dexter).
Septum deviasi juga memberikan manifestasi pusing di kepala dan daerah sekitar
mata.
Gambaran rontgen sinus maxillaris dexter menunjukkan adanya penebalan
mukosa sinus, sehingga dicurigai adanya sinusitis. Deviasi septum dapat
menyumbat ostium sinus sehingga menjadi faktor predisposisi terjadinya sinusitis.
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran
klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu
mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi
sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami udem, sehingga
mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak
dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan
tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi

atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya
cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh
tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini
akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret
akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang
membutuhkan terapi antibiotik.
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior: Tampak adaya konka yang udem
berwarna pucat (livid). Hal ini menunjukkan adanya proses inflamasi di mukosa
hidung atau rinitis. Adanya konka yang livid mengarah kepada gejala khas pada
rinitis alergi, karena pasien memiliki riwayat atopi. Adanya konka yang hipertrofi
dapat menyebabkan penyumbatan pada muara sinus paranasal (KOM) terutama
sinus maxillaris, sehingga dapat menyebabkan terjadinya sinusitis karena
clearance sinus terganggu. Selain proses pembersihan sinus terganggu dapat pula
memberikan keluhan tenggorokan kering. Hal tersebut dikarenakan salah satu
fungsi sinus paranasal adalah untuk melembabkan udara pernafasan yang masuh
ke paru-paru, sehingga apabila sinus tersumbat maka proses pelembaban udara
terganggu.
Berdasarkan permasalahan yang ada pada pasien serta pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang, dapat ditegakkan diagnosis septum deviasi dengan
sinusitis.
Terapi post-Op yang digunakan pada pasien ini adalah : Inj amoxicillin 1
gr/ 12 jam, Inj asam tranexamat 500 mg/ 8 jam, Inj ketorolac 30 mg/ 8 jam, Inj
methil prednisolon 62,5 mg/ 12 jam, OS: amoxicillin 3x500mg, methil
prednisolon 2x4mg, antalgin 3x500mg.
Injeksi ketorolac 30 mg/8 jam digunakan sebagai analgetik. Ketorolac
merupakan obat antiinflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal
dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs) adalah suatu
golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri). Mekanisme kerja
NSAID didasarkan atas penghambatan isoenzim COX-1 (cyclooxygenase-1) dan
COX-2 (cyclooxygenase-2). Enzim cyclooxygenase ini berperan dalam memacu
pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari arachidonic acid. Prostaglandin

merupakan molekul pembawa pesan pada proses inflamasi (radang). Pemilihan


ketorolac karena ketorolac merupakan salah satu NSAID yang dapat menghambat
pembentukan prostaglandin sehingga nyeri bisa hilang.
Amoxicillin dipilih sebagai obat antibiotik untuk pasien ini. Amoxicillin
merupakan antibiotok yang termasuk dalam golongan -laktam dan merupakan
derivat penicilin. Digunakan sebagai drug of choice karena memiliki spektrum
yang luas terhadap bakteri. Amoxicillin berbeda dengan penicilin-G dalam hal
aktivitas yang lebih besar terhadap aktivitas yang lebih besar terhadap bakteri
gram negatif tetapi dinonaktifkan oleh enzim -laktamase. Amoxicillin lebih
mudah diserap dibandingkan dengan ampicilin dan diberikan untuk infreksi
bakteri campuran sekunder pada saluran napas (sinusitis, otitis, atau bronkitis).
Amoxicillin bekerja dengan cara merusak dinding sel bakteri. Antibiotik -laktam
strukturnya analog dengan substrat alami D-alanyl-D-alanine, berikatan kovalen
dengan sisi aktif PBPs sehingga akan menghambat reaksi transpeptidase,
penghentian sistesis peptidoglikan, dan menyebabkan kematian sel.
Metil prednisolon merupakan kortikosteroid dengan kerja intermediate
yang termasuk kategori adenokortikoid, antiinflamasi dan imunosupresan.
Sebagai adenokortikoid, metil prednisolon berdifusi melewati membrandan
membentuk komplek dengan dasar reseptor sitoplasmik. Komplek tersebut
kemudian memasuki inti sel, berikatan dengan DNA, dan menstimulasi nRNA
selanjutnya sintesis protein dari berbagai enzim akan bertanggungjawab pada efek
sistemik adenokortikoid. Efek glukokortikoid menurunkan atau mencegah respon
jaringan terhadap proses inflamasi. Glukokortikoid menghambat akumulasi sel
inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada lokasi inflamasi. Metil
prednisolon menghambat fagositosis, pelepasan enzim isosomal, sintesis atau
pelepasan beberapa mediator inflamasi. Kerja imunosupresan juga mempengaruhi
efek antiinflamasi.
Asam traneksamat bekerja dengan menghambat fibriolisis. Mekanisme
kerja asam traneksamat ini adalah dengan cara memblok tempat ikatan pada lisin
yang biasanya berikatan dengan plasmin, menghambat secara ompetitif terhadap
aktivator plasminogen.

Antalgin adalah derivat metanosulfat dari amidopirina yang bekerja


terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor rasa nyeri dan
mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh. Tiga efek utama adalah sebagai
analgesik, antipiretik, dan anti-inflamasi. Antalgin mudah larut dalam air dan
mudah diabsorbsi ke dalam jaringan tubuh.
Perkembangan pasien setelah dirawat selama 3 hari di RS dengan terapi
medikamentosa yang adekuat prognosisnya baik.

DAFTAR PUSTAKA

Binfaralkes.

2014.

Antalgin

500mg.

Kementrian

Kesehatan

RI.

http://binfar.kemkes.go.id/2014/03/antalgin-500-mg/ diakses pada tanggal


28 Juli 2015
Budiman B.J., Pulungan M.R., 2012. Penatalaksanaan Septum Deviasi dengan
Septoplasti Endoskopi Metode Open Book. Bagian Ilmu Kesehatan Telinga

Hidung Tenggorok Fakultas Kedokteran Universitas Andalas RSUP Dr. M.


Djamil Padang
Chalabi Y.E., Khadim H., 2010. Clinical Manifestations in Different Tyes of Nasal
Septal Deviation. The N Iraqi J Med. 6 (3): 24-29Soepardi, E. A., Iskandar,
N., Bashiruddin, J., Restutu, R.D., 2011. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, edisi 6. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Gaya Baru Press. Jakarta
Katzung B.G., 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi IV. Jakarta: EGC. 172
Mangunkusumo E, Soetjipto D., 2011. Sinusitis. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, edisi 6. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Gaya Baru Press. Jakarta. 127-130
Multazar A., 2011. Karakteristik Penderita Rinosinusitis Kronis di RSUP H.
Adam Malik Medan Tahun 2008. Tesis. Program Pendidikan Magister
Kedokteran Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala
Leher Fakultas Kedokteran UniversitasSumatera Utara Medan
Nizar W., Mangunkusumo E., 2011. Kelainan Septum. Dalam: Soepardi, E. A.,
Iskandar, N., Bashiruddin, J., Restutu, R.D., editor. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, edisi 6. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Gaya Baru Press. Jakarta. 104-105
Soetjipto, D., dan Mangunkusumo, E., 2011. Sinus Paranasal. Dalam : Soepardi,
E. A., Iskandar, N., Bashiruddin, J., Restutu, R.D., editor. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, edisi 6. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Gaya Baru Press. Jakarta. 122-126.
Toluhula T.T., Punagi A.Q., Perkasa M.F., 2013. Hubungan antara Tipe Deviasi
Septum Nasi Menurut Klasifikasi Mladina dengan Kejadian Rinosinusitis
dan Fungsi Tuba Eustachius. Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin