Anda di halaman 1dari 12

Presbikubis

Elike Oktorindah Pamilangan


102013412
D4
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta
elikeoktorindah@gmail.com

Pendahuluan
Presbikusis adalah penurunan pendengaran yang mengiringi proses menua, pada
audiogram terlihat gambaran penurunan pendengaran bilateral simetris yang mulai terjadi pada
nada tinggi dan bersifat sensorineural dengan tidak ada kelainan yang mendasari selain proses
menua secara umum. Di seluruh dunia diperkirakan sekitar 30-45% masyarakat di atas umur 65
tahun didiagnosis menderita presbiakusis terutama pria.
Presbikusis dapat terjadi akibat perubahan degenerasi pada telinga dalam yang
mengakibatkan penurunan sel ganglion pada nucleus koklea ventral, genikulum medial, dan
olivari kompleks superior yang mengakibatkan penurunan fungsi sel. Selain itu juga dapat terjadi
akumulasi produk metabolisme penurunan aktifitas enzim yang berperan dalam penurunan
fungsi sel.
Presbikusis diklasifikasikan menjadi tipe sensoris, neural, strial/metabolic, dan tipe
konduksi kohlear. Penatalaksanaannya dengan menggunakan alat bantu dengar. Pada keadaan
dimana tidak dapat diatasi dengan alat bantu dengar dapat dicoba dengan lip reading, physiologic
counseling.
Rehabilitasi perlu sesegera mungkin untuk memperbaiki komunikasi. Hal ini akan
memberikan kekuatan mental karena sering orang tua dengan ganggan dengar dianggap
menderita senilitas.
1

Anamnesis
Pada anamnesis dapat ditanyakan jenis onset hilangnya pendengaran atau berkurangnya
pendengaran, apakah tiba-tiba atau pelan-pelan (bertahap). Sudah berapa lama dirasakan, Apakah
hilangnya pendengaran tetap (tidak ada perubahan) atau malah semakin memburuk. Apa disertai
dengan nyeri, otore, tinnitus (berdenging di telinga), telinga terasa tersumbat, vertigo, atau
gangguan keseimbangan. Apakah kehilangan pendengarannya unilateral atau bilateral. Apakah
mengalami kesulitan berbicara dan mendengar di lingkungan yang bising. Pada orang yang
menderita tuli saraf koklea sangat terganggu oleh bising latar belakang, sehingga bila orang
tersebut berkomunikasi di tempat yang ramai akan mendapat kesulitan mendengar dan mengerti
pembicaraan. Ditanyakan juga apakah pemah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan bising
dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya 5 tahun atau lebih. Pernahkah terpapar atau
mendapat trauma pada kepala maupun telinga baik itu berupa suara bising, suara ledakan, suara
yang keras dalam jangka waktu cukup lama. Apakah mempunyai kebiasaan mendengarkan
headphone, mendengarkan musik dengan volume yang keras. Apakah mengkonsumsi obatobatan ototoksis dalam jangka waktu lama.1
Pemeriksaan
Pada umumnya, penderita presbikusis datang dengan keluhan seperti kesulitan mengerti
perkataan yang diucapkan dengan cepat, mengerti kosa-kata yang rumit atau jarang digunakan,
mendengar lawan bicara pada lingkungan yang berisik, atau melokalisasi bunyi. Pada
pemeriksaan fisik, presbikusis tidak menyebabkan abnormalitas. Namun keadaan seperti adanya
serumen pada saluran telinga luar, cholesteatoma, atau otosclerosis yang menyebabkan gangguan
konduksi pendengaran harus disingkirkan.2
Pemeriksaan laboratorium yang bisa dilakukan adalah pemeriksaan darah untuk mencari
autoimun yang menginduksi penurunan fungsi pendengaran. Pencitraan mencakup CT atau MRI
scanning untuk mengeksklusikan kemungkinan abnormalitas anatomis atau adanya massa atau
lesi yang menyebabkan penurunan fungsi pendengaran. Selain itu, dapat dilakukan pemeriksaan
audiometri untuk menentukan ambang pendengaran (hearing threshold) dan diskriminasi suara
(speech discrimination).2

Audiologi
Audiologi ialah ilmu yang mempelajari tentang seluk-beluk fungsi pendengaran yang erat
hubungannya dengan habilitasi dan rehabilitasinya.2
A. Audiologi dasar
Audiologi dasar ialah pengetahuan mengenai nada murni, bising, gangguan
pendengaran serta cara pemeriksaannya. Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan tes
penala, tes berbisik, audiometri nada murni.2
B. Audiologi Khusus
Audiologi khusus diperlukan untuk membedakan tuli sensorineural koklea dengan
retrokoklea, audiometric obyektif, tes untuk tuli anorganik, audiologi anak, audiologi
industri.2
Pemeriksaan Tes Berbisik
Pemeriksaan ini bersifat semi kuantitatif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Hal
yang perlu diperhatikan adalah ruangan cukup tenang, dengan panjang minimal 6 meter. Pada
nilai nilai normal tes berbisik adalah 5/6 6/6.2
Pemeriksaan Penala
Pemeriksaan ini menggunakan garpu tala dengan frekuensi 512, 1024, dan 2048 Hz.
Penggunaan garpu tala penting untuk pemeriksaan secara kualitatif. Biasanya yang sering
digunakan adalah pemeriksaan garpu tala dengan frekuensi 512 Hz karena penggunaan garpu
tala pada frekuensi ini tidak dipengaruhi oleh suara bising di sekitarnya. Terdapat berbagai
macam tes garputala, seperti tes Rinne, tes Weber, tes Schwabach.2
Tes Rinne adalah tes untuk membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran melalui tulang.
Caranya penala digetarkan, tangkainya diletakkan di prosesus mastoid, setelah tidak terdengar,
penala dipegang di depan telinga kirakira 2,5 cm. Bila masih terdengar disebut Rinne positif
(+), bila tidak terdengar disebut Rinne negatif (-).2
Tes Weber adalah tes untuk mengetahui adanya lateralisasi atau tidak. Caranya adalah penala
digetarkan, kemudian tangkainya diletakkan di garis tengah kepala (di vertex, dahi, pangkal
3

hidung, di tengah-tengah gigi seri atau di dagu). Apabila bunyi terdengar lebih keras ke salah
satu telinga disebut Weber lateralisasi ke telinga tersebut. Apabila tidak dapat dibedakan ke arah
telinga mana bunyi terdengar lebih keras disebut Weber tidak ada lateralisasi.2
Tes Schwabach adalah tes untuk membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan
pemeriksa yang pendengarannya normal. Caranya dengan menggetarkan penala, kemudian
tangkai penala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian
tangkai penala segera dipindahkan ke prosesus mastoideus pemeriksa. Bila pemeriksa masih
dapat mendengar disebut Schwabach memendek, bila pemeriksa tidak dapat mendengar,
pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya, yaitu penala diletakkan pada prosesus mastoideus
pemeriksa terlebih dulu. Bila pasien masih dapat mendengar bunyi disebut Schawabach
memanjang. Bila pasien dan pemeriksa sama sama mendengarnya disebut Schwabach sama
dengan pemeriksa.2
Audiometri Nada Murni
Pada pemeriksaan audiometri nada murni perlu dipahamihal-hal seperti ini, nada murni,
bising NB (narrow band) dan WN (white noise), frekuensi, intensitas bunyi, ambang dengar,
nilai nol audiometrik standar ISO dan ASA, notasi pada audiogram, jenis dan derajat ketulian
serta gap dan masking.2
Untuk membuat audiogram, kita memerlukan alat elektronik yaitu audiometer. Bagian
dari audiometer tombol pengatur intensitas bunyi, tombol pengatur frekuensi, headphone untuk
memeriksa AC (hantaran udara), bone conductor untuk memeriksa BC (hantaran tulang).2
Nada murni merupakan bunyi yang hanya mempunyai satu frekuensi, dinyatakan dalam
jumlah getaran per detik.2
Bising merupakan bunyi yang memiliki banyak frekuensi, terdiri dari narrow band :
spektrum terbatas dan white noise : spektrum luas.2
Frekuensi merupakan nada murni yang dihasilkan oleh getaran suatu benda. Jumlah
getaran per detik dinyatakan dalam Hertz.2
Intensitas bunyi dinyatakan dalam dB (desibel).2
4

Ambang dengar merupakan bunyi nada murni yang terlemah pada frekuensi tertentu
yangmasih dapat didengar oleh telinga seseorang. Terdapat ambang dengar menurut konduksi
udara (AC) dan menurut konduksi tulang (BC). Bila ambang dengar ini dihubung-hubungkan
dengan garis, baik AC maupun BC, maka akan didapatkan audiogram.2
Nilai nol audiometrik merupakan intensitas nada murni yang terkecil pada suatu
frekuensi tertentu yang masih dapat didengar oleh telinga rata-rata orang dewasa muda yang
normal (18-30 tahun).2
Notasi pada audiogram. Untuk pemeriksaan audiogram, kita perlu membuat grafik AC
dan grafik BC.2
Pendengaran normal = AC dan BC sama atau kurang dari 25 dB, AC dan BC berhimpit,
tidak ada gap
Tuli Konduktif = BC normal atau kurang dari 25 dB, AC lebih dari 25 dB, Antara AC
dan BC terdapat gap
Tuli Sensorineural = AC dan BC lebih dari 25 dB, AC dan BC berhimpit, tidak ada gap
Tuli Campur = BC lebih dari 25 dB, AC lebih besar dari BC, terdapat gap
Jenis dan derajat ketulian serta gap. Derajat ketulian dihitung dengan menggunakan
indeks Fletcher yaitu:
AD= AD 500hz+ AD 1000Hz + AD 4000
4
Derajat ketulian (ISO) :

0-25 dB

Normal

25-40 dB

Tuli ringan

40-55 db

Tuli sedang

55-70 dB

Tuli sedang berat

70-90 dB

Tuli berat

>90 dB

Tuli sangat berat


5

Peralatan skrining yang paling sensitif adalah audiometri. Skrining dengan audiometer
adalah peralatan yang sederhana dan relatif murah serta mudah dipergunakan dan
diinterpretasikan. Pemeriksaan garpu tala kurang bermakna bagi identifikasi gangguan fungsi
pendengaran pada usia lanjut karena pemeriksaan ini menggunakan suara berfrekuensi rendah
sedangkan pada orang tua umumnya mengalami gangguan mendengar frekuensi tinggi.2

Diagnosis Banding
a. Penyakit Meniere Suatu penyakit pada telinga bagian dalam yang bisa mempengaruhi
pendengaran dan keseimbangan, yang ditandai dengan keluhan berulang berupa vertigo,
tinnitus, dan berkurangnya pendengaran secara progresif, biasanya pada satu telinga.
Gejala klinik : Low frequency hearing loss, vertigo, tinnitus, gejala otonom (muntah,
mual, dingin, pucat).3
b. Otosklerosis Merupakan penyakit pada kapsul tulang labirin yang mengalami
spongiosis di daerah kaki stapes, sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat
menghantarkan getaran suara ke labirin dengan baik.
Gejala klinik : Tuli konduksi, tinnitus, vertigo, nyaman pendengarannya dalam ruangan
bising.3
c. Noise induce hearing loss Gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan
oleh bising yang cukup keras dalam waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan
oleh bising lingkungan kerja.3
Gejala klinik : Kurang pendengaran disertai tinitus (berdenging di telinga) atau tidak.
Bila sudah cukup berat disertai keluhan sukar menangkap percakapan dengan kekerasan
biasa dan bila sudah berat percakapan yang keraspun sukar dimengerti. Secara klinik
pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi adaptasi, peningkatan
ambang dengar sementara dan peningkatan ambang dengar menetap.3

Working Diagnosis

Presbikusis
Presbikusis merupakan degenerasi fungsi pendengaran sensori-neural yang progresif,
bilateral, dan simetris yang disebabkan degenerasi sel rambut pada koklea dan jaras sistem
pendengaran akibat efek kumulatif penuaan. Penderia presbiakusis pada umumnya sulit
mendengar bunyi nada tinggi (high pitch) namun pada keadaan lebih lanjut menyebabkan
kesulitan mendengar semua nada. Selain itu, penderita presbiakusis juga seringkali mengalami
kesulitan mendiskriminasi perkataan (speech discrimination) dan kesulitan memproses informasi
dari suara atau bunyi, terutama pada keadaan lingkungan yang berisik.3
Karena proses penurunan pendengaran terjadi secara gradual, penderita presbiakusis
sering tidak menyadari penurunan fungsi pendengaran yang dialaminya.3

Etiologi
Etiologi pasti dari presbikusis belum diketahui secara pasti, namun dipercaya
multifaktorial. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan presbiakusis antara lain:

Abnormalias struktural seperti abnormalitas telinga luar seperti penebalan atau


berkurangnya elastisitas membran timpani atau abnormalitas telinga tengah seperti
gangguan tulang pendengaran dapat mengganggu fungsi pendengaran

Arteriosklerosis dapat menyebabkan berkurangnya perfusi dan oksigenasi koklea,


menyebabkan terbentuknya radikal bebas yang merusak struktur telinga dalam
secara langsung, atau merusak DNA mitokondria sel penyusun telinga dalam,
berkontribusi menyebabkan presbiakusis

Diet dan gaya hidup seperti asupan tinggi asam lemak yang meningkatkan resiko
arteriosklerosis

Akumulasi paparan terhadap bising dapat menyebabkan noice-induced hearing loss


(NIHL), suatu gangguan pendengaran yang sering menyertai dan bersinergi dengan
presbiakusis

Obat ototoksik seperti salisilat, kuinin dan analognya, aminoglikosida, loop


diuretik (furosemide, asam etacrinic), kemoterapi kanker (cisplatin)

Genetik dapat memprogram seseorang menjadi lebih cepat tua, salah satunya
bermanifestasi sebagai presbiakusis. Atau memprogram seseorang menjadi lebih
sensitif terhadap faktor resiko presbiakusis. Gen yang mempengaruhi pendengaran
termasuk gen untuk protein struktural, faktor transkripsi, protein kanal ion, dan
protein taut kedap

Stress4

Epidemiologi
Berdasarkan definisinya, prevalensi presbiakusis meningkat seiring bertambahnya usia.
Presbiakusis dialami sekitar 30-35% pada populasi berusia 65-75 tahun dan 40-50% pada
populasi diatas 75 tahun. Prevalensi pada laki-laki sedikit lebih tinggi daripada wanita.
Perbedaan prevalensi presbiakusis antar ras belum diketahui secara pasti.4

Patofisiologi
Perubahan histologis yang berhubungan dengan penuaan pada sistem auditori terjadi dari
sel rambut koklea sampai korteks auditori pada lobus temporal otak. Lokasi perubahan tersebut
berhubungan dengan variasi manifestasi klinis yang ditemukan. Gacek dan Schucknecht
mengidentifikasi 4 situs perubahan histologis pada koklea akibat penuaan dan membagi
presbikusis sebagai berikut:

Presbikusis sensoris disebabkan degenerasi sel rambut dan sel penunjang pada
organ corti. Proses ini bermula pada basal koklea dan secara perlahan bergerak ke
arah apeks, menyebabkan gangguan pendengaran terutama nada tinggi. Keadaan
presbiakusis

sensoris

tidak

mengganggu

diskriminasi

suara

(speech

discrimination).

Presbikusis neural disebabkan atrofi sel saraf pada koklea dan jaras sensoris pusat
(central neural pahway). Menurut Schucknecht, seseorang kehilangan sejumlah
neuron setiap tahunnya sejak dilahirkan, namun penurunan pendengaran baru
dirasakan setelah lebih dari 90% neuron rusak, pada umumnya pada usia lanjut.
Neuron yang tersisa mengutamakan mendengar daripada mendiskriminasi suara,
menyebabkan penderita mengalami gangguan diskriminasi suara (speech
discrimination).

Presbikusis metabolik disebabkan arofi stria vascularis yang pada keadaan normal
berfungsi mempertahankan keseimbangan kimia, bioelektrik, dan metabolik dari
koklea. Karena gangguan mempengaruhi seluruh koklea, gangguan pendengaran
terjadi secara proporsional. Keadaan ini tidak mempengaruhi diskriminasi suara.

Presbikusis mekanis disebabkan penebalan dan kekakuan membrane basilaris


koklea. Keadaan ini terjadi lebih parah pada bagian basal dimana membrane basilar
lebih sempit. Keadaan ini menyebabkan penurunan fungsi pendengaran terutama
nada tinggi tanpa mempengaruhi diskriminasi suara pada keadaan lingkungan
normal.
Perubahan-perubahan yang berhubungan dengan presbiakusis tersebut sangat jarang

ditemukan eksklusif pada 1 situs. Perkembangan presbiakusis biasanya simultan pada


beberapa situs.5
Manifestasi Klinik
Keluhan utama presbikusis berupa berkurangnya pendengaran secara perlahanlahan dan progresif, simetris pada kedua telinga. Kapan berkurangnya pendengaran tidak
diketahui pasti. Keluhan lainnya adalah telinga berdenging (tinitus nada tinggi). Pasien
dapat mendengar suara percakapan, tetapi sulit untuk memahaminya, terutama bila
diucapkan dengan cepat di tempat dengan latar belakang yang bising (cocktail party
deafness). Bila intensitas suara ditinggikan akan timbul rasa nyeri di telinga, hal ini
disebabkan oleh faktor kelelahan saraf (recruitment).3
Penatalaksanaan
Telah dilaporkan bahwa orangorang dengan gangguan fungsi pendengaran hanya 5%
yang dapat ditolong secara medis dan akan lebih rendah lagi apabila yang terkena adalah para
pasien dengan usia lanjut. Sedang populasi terbesar gangguan fungsi pendengaran perseptif
ditemukan pada golongan usia lanjut.3
10

Sebagai konsekuensi dari hal di atas maka rehabilitasi sebagai upaya mengembalikan
fungsi pendengaran dilakukan dengan memakai alat bantu (hearing aid). Pemakaian alat bantu
dengar akan lebih berhasil dan memuaskan apabila dikombinasikan dengan latihan membaca
ujaran (speech reading) dan latihan mendengar (auditory training) yang prosedurnya dilakukan
bersama dengan ahli terapi wicara (speech terapist).3
Alat bantu dengar diciptakan untuk meningkatkan dan menghantarkan suara ke telinga
yang mengalami gangguan. Semua alat bantu dengar mempunyai komponen dan fungsi sebagai
berikut:
1. Input microphone : untuk merubah suara menjadi energi listrik
2. Amplifier

: untuk meningkatkan kekuatan dari sinyal listrik

3. Output receiver

: untuk merubah signal listrik ke energi suara

4. Battery

: untuk menyediakan tenaga hearing aid

5. Volume control

: untuk mengatur volume suara

Pemakaian alat bantu dengar harus nyaman untuk pasien dalam menjalani kehidupan
sehariharinya dan sesuai dengan kapasitas fisik. Dalam memilih dan menentukan alat bentu
pendengaran yang akan digunakan perlu diperhatikan jenis, alat yang sesuai, berapa harganya.
Agar pasien dan masyarakat dapat tertolong, maka hearing aids harus dapat memenuhi halhal
berikut, sederhana, efektif, murah, baterai tersedia dan murah.3
Sekarang ini di pasaran tersedia banyak jenis hearing aids yang dapat digunakan sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan. Terdapat hearing aids yang digital maupun analog, dari
yang murah sampai mahal. Juga dikenal hearing aids yang dipasang di dalam telinga, yang
dipasang di kanal serta dipasang seluruhnya di dalam kanal.3
Prognosis
Prognosis dari prebiakusis adalah degenerasi lebih lanjut fungsi pendengaran karena
penyakit ini tidak dapat disembuhkan, namun perjalanan penyakit dapat diperlambat dengan
menghindari penyebab atau faktor resiko yang memperburuk penyakit yang diderita.3
Penderita presbiakusis tidak memerlukan perawatan khusus, namun sebaiknya
penderita melakukan pemeriksaan berkala pada otolaryngist atau audiologist untuk

11

memonitor ambang pendengaran (hearing threshold), untuk mendapatkan atau


menyesuaikan amplifikasi alat bantu pendengaran.3
Kesimpulan
Presbikusis adalah penurunan pendengaran alamiah yang terjadi sejalan dengan
proses penuaan dan umumnya dimulai pada umur 65 tahun. Berdasarkan perubahan
histopatologi yang terjadi, presbikusis terbagi menjadi 4 jenis, yaitu presbikusis tipe
sensorik, presbikusis tipe neural, presbikusis tipe metabolic, dan presbikusis tipe mekanik.
Presbikusis dapat ditangani dengan alat bantu dengar.

Daftar Pustaka
1. Welsby. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinik. Jakarta: Penerbit buku kedokteran
EGC; 2008.h.50-2.
2. Kowalak JP, Welsh W, editor. Buku pegangan uji diagnostik. Ed. 3. Jakarta: EGC;
2009.h.83-5.
3. Soepardi, E.A., Nurbaiti, dkk. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala & leher. 6th ed. Jakarta: Balai penerbit FK UI; 2007.h.43-45.
4. Adams, Boies, Higler. Buku ajar penyakit THT BOIES. Jakarta: EGC; 2007.h.132-133.
5. Price S.A, Wilson L.M. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006; Ed. 6, Vol. 2: 1237-53.

12