Anda di halaman 1dari 15

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Jiwa

Panti Bina Sosial Bangun Insan Daya

Referat
Gangguan Cemas Menyeluruh

Oleh:
Novitalia
11-2014-239
Pembimbing :
dr. Elly Ingkiriwang Sp.KJ

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp. 021-56942061

PENDAHULUAN
Cemas didefinisikan sebagai suatu sinyal yang menyadarkan; ia memperingatkan adanya
bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi
ancaman. Sedangkan gangguan cemas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder, GAD)
merupakan bagian dari gangguan cemas yang merupakan kekhawatiran yang berlebih dan
meresap disertai oleh berbagai gejala somatik yang menyebabkan gangguan bermakna dalam
fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien.
Tiap manusia pasti mempunyai rasa cemas, rasa cemas ini terjadi pada saat adanya
kejadian atau peristiwa tertentu, maupun dalam menghadapi suatu hal. Misalkan, orang merasa
cemas, ketika tampil dihadapan banyak orang atau ketika sebelum ujian berlangsung.
Kecemasan yang dimiliki seseorng yang seperti di atas adalah normal, dan bahkan kecemasan
ini perlu dimiliki manusia. Akan tetapi kecemasan berubah menjadi abnormal ketika kecemasan
yang ada di dalam diri individu menjadi berlebihan atau melebihi dari kapasitas umumnya.
Individu yang mengalami gangguan seperti ini bisa dikatakan mengalami anxiety
disorder (gangguan kecemasan) yaitu ketakutan yang berlebihan dan sifatnya tidak rasional.
Seseorang dikatakan menderita gangguan kecemasan apabila kecemasan ini mengganggu
aktivitas dalam kehidupan dari diri individu tersebut, salah satunya yakni gangguan fungsi
sosial. Misalnya kecemasan yang berlebihan ini menghambat diri seseorang untuk menjalin
hubungan akrab antar individu atau kelompoknya.
ISI
DEFINISI GANGGUAN CEMAS
Cemas didefinisikan sebagai suatu sinyal yang menyadarkan; ia memperingatkan adanya
bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi
ancaman. Rasa tersebut ditandai dengan gejala otonom seperti nyeri kepala, berkeringat,
palpitasi, rasa sesak di dada, tidak nyaman pada perut, dan gelisah.1
Rasa cemas dapat datang dari eksternal atau internal. Masalah eksternal umumnya terkait
dengan hubungan antara seseorang dengan komunitas, teman, atau keluarga. Masalah internal
umumnya terkait dengan pikiran seseorang sendiri1

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN CEMAS1


Gejala-gejala cemas pada dasarnya terdiri dari dua komponen yakni, kesadaran terhadap
sensasi fisiologis ( palpitasi atau berkeringat ) dan kesadaran terhadap rasa gugup atau takut.
Selain dari gejala motorik dan viseral, rasa cemas juga mempengaruhi kemampuan berpikir,
persepsi, dan belajar. Umumnya hal tersebut menyebabkan rasa bingung dan distorsi persepsi.
Distorsi ini dapat menganggu belajar dengan menurunkan kemampuan memusatkan perhatian,
menurunkan daya ingat dan menganggu kemampuan untuk menghubungkan satu hal dengan
lainnya.
Aspek yang penting pada rasa cemas, umumnya orang dengan rasa cemas akan
melakukan seleksi terhadap hal-hal disekitar mereka yang dapat membenarkan persepsi mereka
mengenai suatu hal yang menimbulkan rasa cemas.
PATOFISIOLOGI GANGGUAN CEMAS1
Teori Psikoanalitik
Sigmeun Freud menyatakan dalam bukunya 1926 Inhibitons, Symptoms, Anxiety
bahwa kecemasan adalah suatu sinyal kepada ego bahwa suatu dorongan yang tidak dapat
diterima menekan untuk mendapatkan perwakilan dan pelepasan sadar. Sebagai suatu sinyal,
kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam.
Jika kecemasan naik di atas tingkatan rendah intensitas karakter fungsinya sebagai suatu sinyal,
ia akan timbul sebagai serangan panik.
Teori Perilaku
Rasa cemas dianggap timbul sebagai respon dari stimulus lingkungan yang spesifik.
Contohnya, seorang anak laki-laki yang dibesarkan oleh ibunya yang memperlakukannya
semena-mena, akan segera merasa cemas bila ia bertemu ibunya. Melalui proses generalisasi, ia
akan menjadi tidak percaya dengan wanita. Bahkan seorang anak dapat meniru sifat orang tuanya
yang cemas.

Teori Eksistensi
Pada gangguan cemas menyeluruh, tidak didapatkan stimulus rasa cemas yang bersifat
kronis. Inti dari teori eksistensi adalah seseorang merasa hidup di dalam dunia yang tidak
bertujuan. Rasa cemas adalah respon mereka terhadap rasa kekosongan eksistensi dan arti.
Berdasarkan aspek biologis, didapatkan beberapa teori yang mendasari timbulnya cemas
yang patologis antara lain:

Sistem saraf otonom

Neurotransmiter

Neurotransmiter
1. Norepinephrine
Gejala kronis yang ditunjukan oleh pasien dengan gangguan cemas berupa serangan
panik, insomnia, terkejut, dan autonomic hyperarousal, merupakan karakteristik dari
peningkatan fungsi noradrenergik. Teori umum dari keterlibatan norepinephrine pada gangguan
cemas, adalah pasien tersebut memiliki kemampuan regulasi sistem noradrenergik yang buruk
terkait dengan peningkatan aktivitas yang mendadak. Sel-sel dari sistem noradrenergik
terlokalisasi secara primer pada locus ceruleus pada rostral pons, dan memiliki akson yang
menjurus pada korteks serebri, sistem limbik, medula oblongata, dan medula spinalis. Percobaan
pada primata menunjukan bila diberi stimulus pada daerah tersebut menimbulkan rasa takut dan
bila dilakukan inhibisi, primata tersebut tidak menunjukan adanya rasa takut. Studi pada
manusia, didapatkan pasien dengan gangguan serangan panik, bila diberikan agonis reseptor adrenergik ( Isoproterenol ) dan antagonis reseptor -2 adrenergik dapat mencetuskan serangan
panik secara lebih sering dan lebih berat. Kebalikannya, clonidine, agonis reseptor -2
menunjukan pengurangan gejala cemas.
2. Serotonin
Ditemukannya banyak reseptor serotonin telah mencetuskan pencarian peran serotonin
dalam gangguan cemas. Berbagai stress dapat menimbulkan peningkatan 5-hydroxytryptamine
pada prefrontal korteks, nukleus accumbens, amygdala, dan hipotalamus lateral. Penelitian

tersebut juga dilakukan berdasarkan penggunaan obat-obatan serotonergik seperti clomipramine


pada gangguan obsesif kompulsif. Efektivitas pada penggunaan obat buspirone juga
menunjukkan kemungkinan relasi antara serotonin dan rasa cemas. Sel-sel tubuh yang memiliki
reseptor serotonergik ditemukan dominan pada raphe nuclei pada rostral brainstem dan menuju
pada korteks serebri, sistem limbik, dan hipotalamus.
3. GABA
Peran GABA pada gangguan cemas sangat terlihat dari efektivitas obat-obatan
benzodiazepine, yang meningkatkan aktivitas GABA pada reseptor GABA tipe A. Walaupun
benzodiazepine potensi rendah paling efektif terhadap gejala gangguan cemas menyeluruh,
benzodiazepine potensi tinggi seperti alprazolam dan clonazepam ditemukan efektif pada terapi
gangguan serangan panik
Pada suatu studi struktur dengan CT scan dan MRI menunjukan peningkatan ukuran
ventrikel otak terkait dengan lamanya pasien mengkonsumsi obat benzodiazepine. Pada satu
studi MRI, sebuah defek spesifik pada lobus temporal kanan ditemukan pada pasien dengan
gangguan serangan panik. Beberapa studi pencitraan otak lainnya juga menunjukan adanya
penemuan abnormal pada hemisfer kanan otak, tapi tidak ada pada hemisfer kiri. fMRI, SPECT,
dan EEG menunjukan penemuan abnormal pada korteks frontal pasien dengan gangguan cemas,
yang ditemukan juga pada area oksipital, temporal, dan girus hippocampal. Pada gangguan
obsesif kompulsif diduga terdapat kelainan pada nukleus kaudatus. Pada PTSD, fMRI
menunjukan pengingkatan aktivitas pada amygdala.
Sistem Saraf Otonom
Gejala-gejala yang ditimbulkan akibat stimulus terhadap sistem saraf otonom adalah:

sistem kardiovaskuler (palpitasi)


muskuloskeletal (nyeri kepala)
gastrointestinal (diare)
respirasi (takipneu)

Sistem saraf otonom pada pasien dengan gangguan cemas, terutama pada pasien dengan
gangguan serangan panik, mempertunjukan peningkatan tonus simpatetik, yang beradaptasi
lambat pada stimuli repetitif dan berlebih pada stimuli yang sedang.
Berdasarkan pertimbangan neuroanatomis, daerah sistem limbik dan korteks serebri
dianggap memegang peran penting dalam proses terjadinya cemas.
Korteks Serebri
Korteks serebri bagian frontal berhubungan dengan regio parahippocampal, cingulate
gyrus, dan hipotalamus, sehingga diduga berkaitan dengan gangguan cemas. Korteks temporal
juga dikaitkan dengan gangguan cemas. Hal ini diduga karena adanya kemiripan antara
presentasi klinis dan EEG pada pasien dengan epilepsy lobus temporal dan gangguan obsesif
kompulsif.
Sistem Limbik
Selain menerima inervasi dari noradrenergik dan serotonergik, sistem limbik juga
memiliki reseptor GABA dalam jumlah yang banyak. Ablasi dan stimulasi pada primata juga
menunjukan jikalau sistem limbik berpengaruh pada respon cemas dan takut. Dua area pada
sistem limbik menarik perhatian peneliti, yakni peningkatan aktivitas pada septohippocampal,
yang diduga berkaitan dengan rasa cemas, dan cingulate gyrus, yang diduga berkaitan dengan
gangguan obsesif kompulsif.
KLASIFIKASI GANGGUAN CEMAS2
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ( DSM-IV),
gangguan cemas terdiri dari :
(1) Serangan panik dengan atau tanpa agoraphobia;
(2) Agoraphobia dengan atau tanpa Serangan panik;
(3) Fobia spesifik;
(4) Fobia sosial;
(5) Gangguan Obsesif-Kompulsif;
(6) Post Traumatic Stress Disorder ( PTSD );
(7) Gangguan Stress Akut;

(8) Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder).


Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III,
gangguan cemas dikaitkan dalam gangguan neurotik, gangguan somatoform dan gangguan yang
berkaitan dengan stress (F40-48).

GANGGUAN CEMAS MENYELURUH


Definisi Gangguan Cemas Menyeluruh3
Gangguan cemas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder, GAD) merupakan
kekhawatiran yang berlebih dan meresap disertai oleh berbagai gejala somatik yang
menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang
jelas bagi pasien. Beberapa gejala somatik yang dialami adalah ketegangan otot, iritabilitas,
kesulitan tidur, keluhan epigastrik dan kegelisahan sehingga menyebabkan penderitaan yang
jelas dan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan.
Kecemasan sebagai perasaan takut yang tidak menyenangkan dan apprehension, dapat
menimbulkan beberapa keadaan psikopatologis sehingga mengalami apa yang disebut gangguan
kecemasan. Walaupun sebagai orang normal, diakui atau tidak, kita dapat saja mengalami
kecemasan, namun kecemasan pada orang normal berlangsung dalam intensitas atau durasi yang
tidak berkeanjangan sehingga individu dapat tetap memberikan respon yang adaptif.1
Untuk memahami kecemasan yang mempengaruhi beberapa area dari fungsi-fungsi
individu, kecemasan seharusnya melibatkan atau memiliki 3 komponen dasar, yaitu1, 4:
1. Adanya ungkapan yang subjektif (subjective reports) mengenai ketegangan, ketakutan
2.

dan tidak adanya harapan untuk mengatasinya.


Respon-respon perilaku (behavioral rensponses), seperti menghindari situasi yang
ditakuti, kerusakan pada fungsi bicara dan motorik dan kerusakan tampilan untuk

tugas-tugas kognitif yang kompleks.


3.
Respon-respon fisiologis (physiological responses), termasuk ketegangan otot,
peningkatan detak jantung dan tekanan darah, nafas yang cepat, mulut yang kering
nausea, diare, dan dizziness.

Epidemiologi Gangguan Cemas Menyeluruh


Prevalensi gangguan cemas menyeluruh antara 3-8% dan rasio antara perempuan dan
laki-laki sekitar 2:1. Usia onset sukar untuk ditentukan karena mereka melaporkan mengalami
kecemasan selama yang dapat mereka ingat.3
Etiologi Gangguan Cemas Menyeluruh
Faktor Biologi3
Area otak yang diduga terlibat pada timbulnya gangguan ini adalah lobus oksipitalis yang
mempunyai reseptor benzodiazepin tertinggi di otak. Basal ganglia, sistem limbik dan korteks
frontal juga dihipotesiskan terlibat pada timbulnya gangguan ini. Pada pasien juga ditemukan
sistem serotonergik yang abnormal. Neurotransmitter yang berkaitan adalah GABA, serotonin,
norepinefrin, glutamat, dan kolesitokinin. Pemeriksaan PET (Positron Emission Tomography)
ditemukan penurunan metabolisme di ganglia basal dan massa putih otak.
Teori Genetik3
Pada sebuah studi didapatkan bahwa terdapat hubungan genetik pasien gangguan anxietas
menyeluruh dan gangguan depresi mayor pada pasien wanita. Sekitar 25% dari keluarga tingkat
pertama penderita juga mengalami gangguan yang sama. Sedangkan penelitian pada pasangan
kembar didapatkan angka 50% pada kembar monozigotik dan 15% pada kembar dizigotik.
Teori Psikoanalitik3
Teori psikoanalitik menghipotesiskan bahwa anxietas adalah gejala dari konflik bawah
sadar yang tidak terselesaikan. Pada tingkat yang paling primitif anxietas dihubungkan dengan
perpisahan dengan objek cinta. Pada tingkat yang lebih matang lagi dihubungkan dengan
kehilangan cinta dari objek yang penting. Anxietas kastrasi berhubungan dengan fase oedipal
sedangkan anxietas superego merupakan ketakutan seseorang untuk mengecewakan nilai dan
pandangannya sendiri (merupakan anxietas yang paling matang).
Sigmund Freud sebagai bapak dari pendekatan psikodinamika mengatakan bahwa jiwa
individu diibaratkan sebagai gunung es. Bagian yang muncul dipermukaan dari gunung es itu,
bagian terkecil dari kejiwaan yang disebut sebagai bagian kesadaran. Agak di bawah permukaan
air adalah bagian yang disebut pra-kesadaran, dan bagian yang terbesar dari gunung es tersebut

ada di bawah sekali dari permukaan air, dan ini merupakan alam ketidaksadaran
(uncounsciousness). Ketidaksadaran ini berisi ide, yaitu dorongan-dorongan primitif, belum
dipengaruhi oleh kebudayaan atau peraturan-peraturan yang ada dilingkungan. Dorongandorongan ini ingin muncul ke permukaan/ ke kesadaran, sedangkan tempat di atas sangat
terbatas. Ego, yang menjadi pusat dari kesadaran, harus mengatur dorongan-dorongan mana
yang boleh muncul dan mana yang tetap tinggal di ketidaksadaran karena ketidaksesuaiannya
dengan superego, yaitu salah satu unit pribadi yang berisi norma-norma sosial atau peraturanperaturan yang berlaku di lingkungan sekitar. Jika ternyata ego menjadi tidak cukup kuat
menahan desakan atau dorongan ini maka terjadilah kelainan-kelainan atau gangguan-gangguan
kejiwaan. Neurosis adalah salah satu gangguan kejiwaan yang muncul sebagai akibat dari
ketidakmampuan ego menahan dorongan ide.1
Jadi, individu yang mengalami Gangguan Kecemasan Menyeluruh, menurut pendekatan
psikodinamika berakar dari ketidakmampuan egonya untuk mengatasi dorongan-dorongan yang
muncul dari dalam dirinya secara terus menerus sehingga ia akan mengembangkan mekanisme
pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri ini sebenarnya upaya ego untuk menyalurkan
dorongan dalam dirinya dan bisa tetap berhadapan dengan lingkungan. Tetapi jika mekanisme
pertahanan diri ini dipergunakan secara kaku, terus-menerus dan berkepanjangan maka hal ini
dapat menimbulkan perilaku yang tidak adaptif dan tidak realistis.1
Ada beberapa mekanisme pertahanan diri yang bisa dipergunakan oleh individu, antara lain1:
1. Represi, yaitu upaya ego untuk menekan pengalaman yang tidak menyenangkan dan
dirasakan mengancam ego masuk ke ketidaksadaran dan disimpan di sana agar tidak
menganggu ego lagi. Tetspi sebenarnya pengalaman yang sudah disimpan itu masih
punya pengaruh tidak langsung terhadap tingkahlaku si individu.
2. Rasionalisasi, yaitu upaya ego untuk melakukan penalaran sedemikian rupa terhadap
dorongan-dorongan dalam diri yang dilarang tampil oleh superego, sehingga seolah-olah
perilakunya dapat dibenarkan.
3. Kompensasi, upaya ego untuk menutupi kelemahan yang ada di

salah satu

sisi

kehidupan dengan membuat prestasi atau memberikan kesan sebaliknya pada sisi lain.
Dengan demikian, ego terhindar dari ejekan dan rasa rendah diri.
4. Penempatan yang keliru, yaitu upaya ego untuk melampiaskan suatu perasaan tertentu ke
pihak lain atau sumber lain karena tidak dapat melampiaskan perasaannya ke sumber
masalah.

5. Regresi, yaitu upaya ego untuk menghindari kegagalan-kegagalan atau ancaman


terhadap ego dengan menampilkan pikiran atau perilaku yang mundur kembali ke taraf
perkembangan yang lebih rendah.

Teori Kognitif Perilaku3


Penderita berespon secara salah dan tidak tepat terhadap ancaman, disebabkan oleh
perhatian yang selektif terhadap hal-hal negatif pada lingkungannya, adanya distorsi pada
pemrosesan informasi dan pandangan yang sangat negatif terhadap kemampuan diri untuk
menghadapi ancaman.
Tanda dan Gejala Klinis Gangguan Cemas Menyeluruh
Gejala utama adalah anxietas, ketegangan motorik, hiperaktivitas otonom, dan
kewaspadaan secara kognitif. Kecemasan bersifat berlebihan dan mempengaruhi aspek
kehidupan pasien. Ketegangan motorik bermanifestasi sebagai bergetar, kelelahan dan sakit
kepala. Hiperaktivitas otonom timbul dalam bentuk pernafasan yang pendek, berkeringat,
palpitasi, dan disertai gejala saluran pencernaan. Terdapat juga kewaspadaan kognitif dalam
bentuk iritabilitas.3
Ketegangan Motorik

1. Kedutan otot/ rasa gemetar


2. Otot tegang/kaku/pegal
3. Tidak bisa diam
4. Mudah menjadi lelah
Hiperaktivitas Otonomik
5. Nafas pendek/terasa berat
6. Jantung berdebar-debar
7. Telapak tangan basah/dingin
8. Mulut kering
9. Kepala pusing/rasa melayang
10. Mual, mencret, perut tak enak
11. Muka panas/ badan menggigil
12. Buang air kecil lebih sering
Kewaspadaan berlebihan dan
13. Perasaan jadi peka/mudah ngilu
14. Mudah terkejut/kaget
Penangkapan berkurang
15. Sulit konsentrasi pikiran
16. Sukar tidur
17. Mudah tersinggung
Tabel 1. Gejala-gejala Gangguan Cemas Menyeluruh3

Pedoman Diagnostik Gangguan Cemas Menyeluruh2


Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III)
Penderita harus menunjukkan gejala primer anxietas yang berlangsung hampir setiap hari
selama beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya
mencakup hal-hal berikut :
a) Kecemasan tentang masa depan (khawatir akan nasib buruk, perasaan gelisah seperti di
ujung tanduk, sulit berkonsentrasi, dan sebagainya) ;
b) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai) ;
c) Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, takikardi, takipneu, keluhan
epigastrik, pusing kepala, mulut kering, dan sebagainya).
Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan serta
keluhan somatik berulang-ulang. Adanya gejala-gejala lain yang bersifat sementara, terutama
depresi, tidak menyingkirkan gangguan anxietas menyeluruh sebagai diagnosis utama, selama
pasien tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode depresif (F32), gangguan anxietas fobik
(F40), gangguan panik (F41.0) atau gangguan obsesif kompulsif (F42).
Termasuk :

Neurosis anxietas

Reaksi anxietas

Keadaan anxietas

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV ( DSM-IV-TR)3


Kriteria Diagnosis berdasarkan DSM-IV TR :
A Kecemasan dan kekhawatiran berlebihan (harapan yang mengkhawatirkan), terjadi lebih
banyak dibandingkan tidak selama paling kurang 6 bulan, tentang sejumlah peristiwa atau
aktivitas (seperti pekerjaab atau prestasi sekolah).
B Orang kesulitan untuk mengendalikan kekhawatiran.
C Kecemasan dan kekhawatiran adalah dihubungkan dengan tiga (atau lebih) dari enam
gejala berikut (dengan paling kurang beberapa gejala terjadi lebih banyak dibandingkan

tidak selama 6 bulan terakhir). Catatan : Hanya satu gejala yang diperlukan pada anakanak.
Catatan : Hanya satu gejala yang diperlukan pada anak-anak :
1
2
3
4
5
6

Gelisah atau perasaan tegang atau cemas


Merasa mudah lelah
Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong
Iritabilitas
Ketegangan otot
Gangguan tidur (kesulitan untuk memulai atau tetap tertidur, atau tidur yang
gelisah dan tidak memuaskan)

D Fokus kecemasan dan kekhawatiran adalah tidak dibatasi pada gambaran utama
gangguan Aksis I, misalnya, kecemasan atau ketakutan adalah bukan suatu Serangan
Panik (seperti pada Gangguan Panik), merasa malu di depan umum(seperti pada Fobia
Sosial), terkontaminasi (seperti pada Gangguan Obsesif Kompulsif), merasa jauh dari
rumah atau kerabat dekat (seperti pada Gangguan Cemas Perpisan), pertambahan berat
badan (seperti pada Anoreksia Nervosa), menderita berbagai keluhan fisik (seperti pada
Gangguan Somatisasi), atau menderita penyakit serius (seperti pada Hipokondriasis),
serta kecemasan dan kekhawatiran tidak terjadi secara eksklusif selama Gangguan Stres
Pascatrauma.
E Kecemasan, kekhawatiran, atau gejala fisik menyebabkan penderitaan yang bermakna
secara klinis atau gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
F Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari zat (misalnya,
penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum (misalnya
hipertiroidisme) dan tidak terjadi secara eksklusif selama suatu Gangguan Mood,
Ganguan Psikotik, atau Gangguan Perkembangan Pervasif.
Diagnosis Banding Gangguan cemas Menyeluruh3
Gangguan anxietas menyeluruh perlu dibedakan dari kecemasan akibat kondisi medis
umum maupun gangguan yang berhubungan dengan penggunaan zat. Diperlukan pemeriksaan
medis termasuk tes kimia darah, EKG dan fungsi tiroid. Gangguan psikiatrik lain yang

merupakan diagnosis banding adalah gangguan panik, fobia, gangguan obsesfi kompulsif,
hipokondriasis, gangguan somatisasi, gangguan penyesuaian dengan kecemasan, dan gangguan
kepribadian.
Penatalaksanaan Gangguan Cemas Menyeluruh
a) Farmakoterapi3
Benzodiazepin
Merupakan pilihan obat pertama. Pemberian benzodiazepin dimulai dengan dosis
terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respon terapi, Penggunaan sediaan dengan waktu
paruh menengah dan dosis terbagi dapat mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan. Lama
pengobatan rata-rata adalah 2-6 minggu.
Buspiron
Buspiron lebih efektif dalam memperbaiki gejala kognitif dibanding dengan gejala
somatik. Tidak menyebabkan withdrawl. Kekurangannya adalah efek klinisnya baru terasa
setelah 2-3 minggu. Terdapat bukti bahwa penderita yang sudah menggunakan benzodiazepin
tidak akan memberikan respon yang baik dengan buspiron. Dapat dilakukan penggunaan
bersama antara benzodiazepin dengan buspiron kemudian dilakukan tapering benzodiazepin
setelah 2-3 minggu, disaat efek terapi buspiron sudah mencapai maksimal.

SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)


Sertraline dan paroxetine merupakan pilihan yang lebih baik daripada fluoksetin.
Pemberian fluoksetin dapat meningkatkan anxietas sesaat. SSRI efektif terutama pada pasien
gangguan anxietas menyeluruh dengan riwayat depresi.
b) Psikoterapi3
Terapi Kognitif Perilaku

Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali distorsi kognitif dan
pendekatan perilaku, mengenali gejala somatik, secara langsung. Teknik utama yang digunakan
adalah pada pendekatan behavioral adalah relaksasi dan biofeedback.
Terapi Suportif
Pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, digali potensi-potensi yang ada dan
belum tampak, didukung egonya, agar lebih bisa beradaptasi optimal dalam fungsi sosial dan
pekerjaannya.
Psikoterapi Berorientasi Tilikan
Terapi ini mengajak pasien untuk mencapai penyingkapan konflik bawah sadar, menilik
egostrength, relasi obyek, serta keutuhan diri pasien. Dari pemahaman akan komponenkomponen tersebut, kita sebagai terapis dapat memperkirakan sejauh mana pasien dapat diubah
menjadi lebih matur; bila tidak tercapai, minimal kita memfasilitasi agar pasien dapat beradaptasi
dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.
Prognosis Gangguan Cemas Menyeluruh
Gangguan anxietas menyeluruh merupakan suatu keadaan kronis yang mungkin
berlangsung seumur hidup. Sebanyak 25% penderita akhirnya mengalami gangguan panik, juga
dapat mengalami gangguan depresi mayor.3
KESIMPULAN
Kecemasan sebagai perasaan takut yang tidak menyenangkan dan dapat menimbulkan
beberapa keadaan psikopatologis sehingga mengalami apa yang disebut Gangguan Kecemasan.
Gambaran klinis bervariasi dapat dijumpai keluhan cemas, khawatir, was-was, ragu
untuk bertindak, perasaan takut yang berlebihan, gelisah pada hal-hal yang sepele dan tidak
utama yang mana perasaan tersebut mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya, sehingga
pertimbangan akal sehat, perasaan dan perilaku terpengaruh. Selain itu spesifik untuk Gangguan
Kecemasan Menyeluruh adalah kecemasanya terjadi kronis secara terus-menerus mencakup
situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial), cemas akan terjadinya bahaya,
cemas kehilangan kontrol, cemas akan`mendapatkan serangan jantung. Sering penderita tidak
sabar, mudah marah, sulit tidur.

Diagnosis gangguan cemas menyeluruh menurut PPDGJ-III ditegakkan jika penderita


menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiap hari untuk
beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan
situasi khusus tertentu saja (mengambang). Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsurunsur berikut: Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk, sulit
berkonsentrasi), ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai); dan
overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak napas,
keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb).
Terapi pada Gangguan Kecemasan Menyeluruh pada umumnya dapat dilakukan dengan
2 cara yakni terapi psikologis (psikoterapi) atau terapi dengan obat-obatan (farmakoterapi). Obat
pilihan yang digunakan adalah antianxietas (golongan benzodiazepine khuusnya diazepam dan
alprazolam. Anti depresan juga dapat dikombinasikan misalnya golongan SSRI yakni fluoxetine.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan dan sadock buku ajar pskiatri klinis. Edisi ke-2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010. H.230-2, 259-262.
2. Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya. Hal. 72-75
3. Kusumawardhani AAAA, Husin A, Adikusumo A, Damping CA, Brilliantina DM dkk. Buku
ajar psikiatri. Edisi 2. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ;
2014 .h. 253-7
4. Tomb, D. A. 2000. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta : EGC. Hal. 96-110