Anda di halaman 1dari 17

KELIMPAHAN POPULASI SERANGGA TANAH (PITFALL TRAP)

DISUSUN OLEH :
ANGKATAN 2012

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR 2014

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keanekaragaman hayati adalah variabilitas di antara makhluk hidup dari semua sumber
daya, termasuk interaksi ekosistem terestrial, pesisir dan lautan dan ekosistem akuatik lain,
serta kompleks ekologis yang meliputi keanekaragaman jenis, antar jenis dan ekosistem
(Convention on Biological Diversity, 1993 dalam Pelawi, 2009). Indonesia merupakan salah
satu Negara yang disebut Mega Biodiversity setelah Brazil dan Madagaskar. Diperkirakan
25% keanekaragaman spesies dunia berada di Indonesia, secara total keanekaragaman hayati
di Indonesia adalah sebesar 325.350 jenis flora dan fauna (Arief, 2001 dalam Pelawi, 2009).
Daly et al., (1978) menyatakan bahwa serangga adalah salah satu anggota keajaan binatang
yang mempunyai jumlah anggota terbesar. Hampir lebih dari 72% anggota binatang termasuk
kedalam golongan serangga (Daly et al., 1978 dalam Pelawi, 2009). Serangga ditemukan
hampir di semua ekosistem, baik ekositem darat, laut, maupun udara. Mereka dapat berperan
sebagai pemakan tumbuhan (serangga jenis ini yang terbanyak anggotanya), sebagai parasitoid
(hidup secara parasit pada serangga lain), sebagai predator (pemangsa), sebagai pemakan
bangkai, sebagai penyerbuk (misalnya tawon dan lebah) dan sebagai vector (penular) bibit
penyakit tertentu (Putra, 1994 dalam Pelawi, 2009).
Sebagian besar arthropoda tinggal di dalam tanah, dengan uran yang kecil dan memiliki
jumlah yang banyak, dan biasanya tidak mudah untuk dideteksi oleh mata telanjang, sehingga
penaksiran jumlah populasi organisme ini sulit dan padat karya. Metode khusus yang efektif
dalam penggalian proporsi yang tinggi dari taksa ini sangat diperlukan. Tiga metode yang
digunakan secara luas untuk mengetahui populasi arthropoda yang tinggal di dalam tanah
adalah pitfall trapping (lubang perangkap) (Holland dan Reynolds, 2005 dalam Sabu dan
Shiju, 2010), Berlese extraction (Ekstraksi Berlese) (Anu et al 2009 dalam Sabu dan Shiju,
2010), dan Winkler extraction (ekstraksi Winkler) (Anto dan Thomas 2007 dalam Sabu dan
Shiju, 2010).
Pada praktikum ini, dilakukan perhitungan populasi serangga tanah pada arboretum
Universitas Padjadjaran yang dilakukan pada 3 tempat pengambilan yang berbeda, yaitu
kawasan tanaman langka, kawasan tanaman pertanian dan kawasan tanaman industri. Survei
populasi dilakukan dengan metode pitfall trapping (lubang perangkap).

Menurut Hasen dan New (2005) dalam Sabu dan Shiju (2010), pitfall trapping merupakan
metode yang lebih simple dan mudah dalam manipulasi dari segi waktu dan biaya
dibandingkan dua metode lainnya (Berlese extraction dan Winkler extraction). Selain itu
metode ini sangat efisien dalam menangkap arthropoda yang aktif pada malam hari pada
permukaan tanah, tetapi tidak efisien untuk serangga yang berada didalam tanah dan serangga
yang terbang. Selain itu, menurut Melbourne (1999) dalam Sabu dan Shiju (2010) Pitfall
trapping paling efektif pada habitat yang terbuka, seperti padang rumput dan semak-semak
karena nilai yang ditangkap dapat dipengaruhi oleh vegetasi kompleksitas. Metode pitfall trap
memperlihatkan estimasi lebih dekat dari jumlah total spesies dalam suatu komunitas, dan
lebih berguna dalam studi keanekaragaman spesies.

1.2 Tujuan
1. Menghitung populasi jenis serangga tanah di suatu area
2. Menginventarisasi jenis-jenis serangga tanah

1.3 Identifikasi Masalah


1. Berapakah populasi serangga tanah di lokasi pengamatan
2. Berapakah kelimpahan dan frekuensi relatif setiap jenis serangga tanah tersebut
3. Berapakah indeks diversitas jenis serangga tanah di lokasi pengamatan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Serangga tanah


Serangga tanah merupakan kelompok dari kelas insekta, yang mana menurut
Tarumingkeng (2005), serangga tanah merupakan makhluk hidup yang mendominasi bumi.
Kurang lebih sudah 1 juta spesies yang telah dideskripsikan dan masih ada sekitar 10 juta spesies
yang belum dideskripsikan. Menurut Suin (1997), serangga tanah adalah serangga yang hidup di

dalam tanah. secara umum serangga tanah dapat dikelompokkan berdasarkan tempat hidupnya dan
menurut jenis makanannya
Serangga permukaan tanah yang merupakan anggota Arthropoda telah dibagi menjadi tiga
kategori menurut Wallwork (1976), yaitu :
a. Mikrofauna : serangga permukaan tanah yang berukuran antara 20 mikron hingga 200 mikron.
b.Mesofauna : serangga permukaan tanah yang memiliki ukuran tubuh antara 200 mikron sampai
dengan 1 cm.
c. Makrofauna : serangga dengan ukuran tubuh lebih dari 1 cm.
Pengelompokkan fauna tanah berdasarkan aktivitasnya juga dilakukan oleh Kevan (1995)
dalam Ilhamdi (1999) menjadi tiga kelompok, yaitu :
a. Transien : hewan yang sebagian perkembangan hidupnya meninggalkan tanah untuk
menyesuaikan diri. Sewaktu-waktu imago akan berada dalam tanah walaupun siklus hidupnya
tidak berada dalam tanah.
b. Temporer : kelompok hewan yang pada fase telur dan larva berada di dalam tanah sedangkan
imagonya berada di luar tanah. Contohnya pada serangga seperti Bangsa Coleoptera.
c. Periodik : kelompok hewan yang siklus hidupnya berada di dalam tanah tapi sewaktu-waktu
akan muncul dan keluar ke permukaan tanah.
d. Permanen : hewan yang siklus hidupnya berada di tanah.
2.2 Lingkungan sebagai habitat serangga tanah
Tanah dapat didefinisikan sebagai medium alami yang tersusun atas mineral, bahan
organik dan organisme hidup. Lingkungan tanah merupakan lingkungan yang terdiri dari
lingkungan biotik dan abiotik. Gabungan dari kedua lingkungan ini menghasilkan suatu wilayah
yang dapat dijadikan tempat tinggal bagi beberapa jenis makhluk hidup, salah satunya adalah
serangga tanah (Rao, 1994). Serangga tanah banyak terdapat di lapisan tanah atas atau lapisan top
soil (Sutedjo et al, 1996). Karena pada lapisan ini terdapat lapisan seresah daun yang terdiri dari
daun baru jatuh dan telah mengurai, yang mana lapisan seresah tersebut merupakan sumber
makanan bagi serangga tanah (Ewuise, 1990).
Kehidupan serangga tanah sangat tergantung habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan
populasi suatu jenis serangga tanah di suatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan daerah tersebut.
Dengan kata lain keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis serangga tanah di suatu daerah
sangat tergantung dari faktor lingkungan yaitu lingkungan biotik dan abiotik. Serangga tanah

merupakan bagian dari ekosistem tanah, oleh karena itu dalam mempelajari ekolohi serangga tanah
faktor fisika-kimia tanah selalu diukur (Suin, 1997).
2.3 Peranan serangga tanah
Serangga tanah memegang peranan penting sebagai soil engineer, litter transformer, soil
decomposer, dan predator. Serangga tanah sebagai litter transformer dan soil decomposer masingmasing melakukan fragmentasi dan degradasi bahan organik seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan
juga feses yang membusuk (Borror et al, 1997)
Fauna tanah memainkan peranan yang sangat penting dalam pembusukan (dekomposisi) zat atau
bahan-bahan organik dengan cara (Barnes, 1997) :
1. Menghancurkan jaringan secara fisik dan meningkatkan ketersediaan daerah bagi aktifitas
bakteri dan jamur,
2. Melakukan pembusukan pada bahan pilihan seperti gula, sellulosa dan sejenis lignin,
3. Merubah sisa-sisa tumbuhan menjadi humus,
4. Menggabungkan bahan yang membusuk pada lapisan tanah bagian atas,
5. Membentuk kemantapan agregat antara bahan organik dan bahan mineral tanah.

2.4 Faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi serangga tanah


Faktor lingkungan sangat berperan penting dalam menentukan berbagai pola penyebaran
serangga tanah. Faktor biotik dan abiotik bekerja secara bersama-sama dalam suatu ekosistem,
menentukan kehadiran, kelimpahan dan penampilan organisme.
1. Faktor biotik
Krebs (1978) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberadaan
serangga tanah dalam ekosistem yaitu pertumbuhan populasi dan interaksi antar spesies. Pada
dasarnya pertumbuhan populasi dipengaruhi oleh dua hal utama yaitu pertambahan dan
pengurangan jumlah anggota populasi. Pertumbuhan populasi yang cepat mengakibatkan populasi
tersebut mendominasi komunitas. Kemudian terjadi kekurangan keanekaragaman komunitas
tersebut (Odum, 1998). Sedangkan interaksi antar spesies meliputi kompetisi (persaingan ruangan,
pakan, unsur hara, dsb)dan pemangsaan (pengendalian jumlah dan jenis serangga tanah yang ada).
2. Faktor abiotik
Terdapat beberapa faktor abiotik yang merupakan pendukung bagi kehidupan hewan,
antara lain:

a. Kelembapan tanah
Banyak jenis serangga mempunyai batas toleransi sempit terhadap kelembapan. Jika kondisi
kelembapan tinggi hewan dapat mati atau bermigran ke tempat lain. Kondisi kering juga
mengurangi jenis tertentu dan berkurang populasi (Susanto, 2000).
b. Suhu
Suhu merupakan faktor pembatas bagi makhluk hidup, karena berpengaruh terhadap reaksi-reaksi
enzimatis tubuhnya. Suhu menentukan kehadiran dan kepadatan organisme tanah (Syamsuri,
2007).
c. pH tanah
Heddy (1994) menyatakan bahwa pH tanah dapat menjadikan organisme mengalami kehidupan
tidak sempurna atau bahkan mati pada pH terlalu asam atau terlalu basa.
d. Kadar organik tanah
Kandungan bahan organik tanah umumnya hanya menunjukan kadar persentase sedikit saja,
namun demikian peranannya tetap besar pada sifat fisika dan kimiawi tanah (Sutedjo, 2005).

e. Struktur tanah
Perbedaan struktur tanah pada setiap tempat dapat mengakibatkan perbedaan aktivitas gerakan dan
penetrasi pada tanah sebagai habitat serangga (Suin, 1997).
f. Cahaya
Berperan dalam pertumbuhan, perkembangan dan daya tahan hidup serangga serta aktivitas
serangga (Suin, 1997).

Klasifikasi serangga
Menurut Bijlmakers (2008) serangga termasuk kedalam Filum Arthropoda (arthros=sendi,
podos=tungkai), yaitu pada Kelas Insekta atau Hexapoda (hexa=enam, podos=tungkai). Kelas
insekta terdiri dari dua Subkelas, yaitu: Apterygota (a = tidak ; pteron = sayap) dan Pterygota
(sayap). Subkelas Apterygota terdiri dari Bangsa Thysanura, Diplura, Protura dan Collembola.
Subkelas Pterygota terbagi menjadi dua Divisi, yaitu : Exopterygota dan Endopterygota
Berikut adalah bangsa serangga tanah yang sering ditemukan pada tanah maupun
permukaan tanah (Borror dkk., 1996) :

1. Bangsa Thysanura
Serangga yang berukuran sedang sampai kecil biasanya bentuknya memanjang dan agak
pipih. Tubuh hampir seluruhnya tertutupi oleh sisik-sisik. Mata majemuk kecil dan sangat
terpisah satu sama lain, sedangkan mata tunggal tidak ditemukan. Abdomen terdiri dari sebelas
ruas, tetapi ruas yang terakhir seringkali sangat menyusut. Anggota dari bangsa Tysanura
terbagi atas tiga suku yaitu : Lepidotrichidae, Lepimatidae dan Necoletiidae.
2. Bangsa Diplura
Mempunyai dua filamen ekor. Tubuh tidak tertutup dengan sisik-sisik, tidak terdapat mata
majemuk dan mata tunggal. Terdapat stili pada ruas-ruas abdomen 1-7 atau 2-7, panjang kurang
dari 7mm dan warna pucat. Hidup di tempat lembab di dalam tanah, di bawah kulit kayu, pada
kayu yang sedang membusuk, di gua-gua dan di tempat lembab yang serupa. Seranggaserangga anggota Bangsa Diplura terbagi atas beberapa suku yaitu : Japygidae, Campodeidae,
Procampodeidae, dan Anajapigydae.
3. Bangsa Protura
Tubuh kecil berwarna keputih-putihan, panjang 0,6-1,5 mm. Bagian-bagian mulut tidak
menggigit, tetapi digunakan untuk mengeruk partikel-partikel makanan yang kemudian
dicampuur dengan air liur dan dihisap masuk ke dalam mulut. Pasangan tungkai pertama
berfungsi sebagai sendor dan terletak pada posisi yang mengangkat seperti sungut. Seranggaserangga bangsa protura terbagi atas beberapa suku yaitu : Eosentomidae, Protentomidae,
Aceretomidae, dan lainnya.
4. Bangsa Collembola
Abdomen mempunyai 6 segmen, bertubuh kecil dengan panjang 2-5 mm, tidak bersayap,
antena beruas 4, dan kaki dengan tarus beruas tunggal. Pada bagian tengah abdomen terdapat
organ tambahan untuk meloncat yang disebut furcula. Pembagian suku berdasarkan pada
jumlah ruas abdomen, mata dan furcula. Serangga-serangga bangsa Colembola terbagi atas
beberapa suku yaitu : Onychiuridae, Podiridae, Hypogastruifae, entomobrydae, Isotomidae,
Sminthuridae, dan Neelidae.
5. Bangsa Isoptera
Berasal dari kata iso yang berarti sama dan ptera yang berarti sayap. Isoptera hidup sebagai
serangga sosial dengan beberapa golongan seperti serangga reproduktif, pekerja dan serdadu.
Golongan serdadu mempunyai ciri kepala yang sangat berskleretisasi, memanjang, hitam, dan

besar yang berfungsi untuk pertahanan. Mandibula berukuran sangat panjang, kuat, berkait, dan
dimodifikasi untuk memotong. Pada beberapa marga mempunyai kepala pendek dan persefi,
bentuk seperti itu sesuai dengan fungsinya untuk menutup pintu masuk ke dalam sarang. Dalam
sebuah koloni, biasanya jumlah golongan pekerja paling banyak. Golongan ini berwarna pucat
dengan tubuh lunak, mulut bertipe pengunyah yang berfungsi untuk memebuat dan
memperbaiki sarang. Golongan pekerja ini juga memberi makanan dan merawat anggota
koloni. Umumnya ordo ini digolongkan pada serangga-serangga saprofagus yaitu serangga
yang memakan tumbuh-tumbuhan yang mati atau membusuk dan atau bahan-bahan hewani
seperti bangkai dan tinja. Selain itu juga daun-daun yang jatuh, batang kayu yang mati, dan
sebagainya.
6. Bangsa Orthoptera
Ortopthera ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap, dan bentuk yang bersayap
biasanya mempunyai 4 buah sayap. Sayap-sayap memanjang dengan banyak rangka-rangka
sayap dan agak menebal. Sayap-sayap belakang berselaput tipis, lebar, banyak rangka-rangka
sayap, dan pada waktu istirahat mereka biasanya terlipat seperti kipas di bawah sayap depan.
Menurut Tom (1992) dalam Darmawan (2007) ordo ini merupakan serangga pelahap yang
sangat rakus, dalam jumlah yang besar maka ordo ini akan menjadi hama, selain itu ordo ini
juga mempunyai fungsi penting dalam ekosistem.
Sebagaian besar ordo ini pemakan tanaman (Phytophagus) baik yang masih hidup, lapuk
ataupun sudah mati. Sehingga ordo ini membantu dalam proses dekomposisi, terutama bahanbahan organik. Dimana ordo Orthoptera ini memakan tanaman dan mengeluarkannya kembali
dalam bentuk feses maupun urine, sehingga memudahkan bakteri untuk merombak feses dan
urine menjadi senyawa organik yang lebih sederhana dan langsung bisa digunakan oleh
tumbuhan. Serangga-serangga bangsa Orthoptera terbagi atas beberapa suku yaitu:
Grillotalpidae, Tridactylidae, Tetrigidae, Eusmatracidae, Acrididae, dan lainnya.
7. Bangsa Dermaptera
Tubuh memanjang, ramping, dan agak pipih menyerupai kumbang-kumbang pengembara.
Bersayap depan pendek seperti kulit, tidak mempunyai rangka sayap dan sayap belakang
berselaput tipis dan membulat. Mempunyai prilaku menangkap mangsa dengan forcep yang
diarahkan ke mulut dengan melengkungkan abdomen melalui atas kepala. Binatang ini aktif

pada malam hari. Pembagian suku berdasarkan pada perbedaan antena yaitu: Forficulidae,
Chelisochidae, Labiidae, Labiduridae dan lainnya.
8. Bangsa Tysanoptera
Serangga bersayap duri dengan tubuh berbentuk langsing, panjang 0,5-5 mm. Sayap-sayap
bila berkembang sempurna jumlahnya 4, sangat panjang, sempit dengan beberapa rambutrambut panjang. Serangga-serangga bangsa Tysanoptera terbagi atas beberapa suku yaitu:
Phalaeothripidae, Aelothripidae, Thripidae, Merothripidae, dan Heterothripidae.
9. Bangsa Homoptera
Homoptera adalah pemakan tumbuh-tumbuhan dan banyak jenis-jenisnya sebagai hama
yang merusak tanaman budidaya. Sayap-sayap depan mempunyai selaput tipis atau agak tebal
dan sayap belakang berselaput tipis. Sungut sangat pendek seperti rambut duri pada beberapa
Homoptera dan biasanya berbentuk benang pada lainnya. Mata majemuk biasanya berkembang
sempurna. Serangga-serangga bangsa homoptera terbagi atas beberapa suku yaitu:
Delphacidae, Fulgoridae, Issidae, Derbidae, Achilidae, dan lainnya.
10. Bangsa Coleoptera
Coleoptera berasal dari kata coleo yang berarti selubung dan ptera yang berarti sayap.
Mempunyai 4 sayap dengan pasangan sayap depan menebal seperti kulit, keras dan rapuh,
biasanya bertemu dalam satu garis lurus di tengah punggung yang menutupi sayap-sayap
belakang. Pembagian suku berdasarkan perbedaan elytra, antena, tungkai dan ukuran tubuh.
Serangga-serangga bangsa Coleoptera terbagi atas beberapa suku yaitu: Carabidae,
Staphylinidae, Silphidae, Scarabaeidae, dan lainnya.
Kumbang yang bersifat dekomposer biasanya merupakan anggota dari ordo Coleoptera,
dan famili Scarabaeidae, yang lebih dikenal sebagai kumbang tinja. Kumbang ini memiliki
perilaku makan dan reproduksi yang dilakukan di sekitar tinja, dengan demikian kumbang tinja
sangat membantu dalam menyebarkan dan menguraikan tinja sehingga tidak menumpuk di
suatu tempat. Aktifitas ini secara umum berpengaruh terhadap struktur tanah dan siklus hara
sehingga juga berpengaruh terhadap tumbuhan disekitarnya. Dengan membenamkan tinja,
kumbang dapat memperbaiki kesuburan dan aerasi tanah, serta meningkatkan laju siklus nutrisi.
Dekomposisi tinja pada permukaan tanah, oleh kumbang tinja menyebabkan penurunan pH
tanah setelah 9 minggu dan meningkatkan kadar nitrogen, yodium, fosfor, magnesium, dan
kalsium sampai 42-56 hari setelah peletakan tinja (Gallante, E. dan Garcia, A.M,.2001).

11. Bangsa Mecoptera


Berasal dari kata meco yang berarti panjang dan ptera yang berarti sayap. Tubuh ramping
denga ukuran bervariasi. Kepala panjang, mulut penggigit dan memanjang ke arah bawah
berbentuk paruh. Sayap panjang, sempit seperti selaput dengan bentuk, ukuran dan susunan
yang sama. Organ reproduksi jantan berbentuk seperti capit pada kalajengking dan terletak di
ujung abdomen. Pembeda antar suku yaitu tungkai dan sayap. Serangga-sera ngga bangsa
Mecoptera terbagi atas beberapa suku yaitu: Bittacidae, Boreidae, Meropeidae, Panorpidae,
dan Panorpodidae.
12. Bangsa Diptera
Berasal dari kata di yang berarti dua dan ptera yang berarti sayap. Ukuran tubuh bervariasi
dan mempunyai sepasang sayap di depan karena sayap belakang mereduksi yang berfungsi
sebahai alat keseimbangan ketika terbang. Larva tanpa kaki, kepala kecil, tubuh halus, dan
tipis. Mulut bertipe penghisap dengan variasi struktur mulut seperti penusuk dan penyerap.
Pembagian suku berdasarkan pada perbedaan sayap dan antena. Serangga-serangga bangsa
Diptera terbagi atas bebera suku yaitu: Nymphomylidae, Tricoceridae, Tanyderidae,
Xylophagidae, Tipulidae, dan lainnya.
13. Bangsa Hymenoptera
Berasal dari kata Hymeno yang berarti selaput dan ptera yang berarti sayap. Ukuran tubuh
bervariasi. Mempunyai dua pasang sayap yang berselaput dengan vena. Sayap depan lebih lebar
dari pada sayap belakang. Antena 10 ruas atau lebih. Mulut bertipe penggigit dan penghisap.
Serangga-serangga ini sangat berguna sebagai parasit atau predator dari serangga-serangga hama.
Ordo ini juga melakukan penyerbukan yang sangat penting bagi tumbuh-tumbuhan. Seranggaserangga bangsa Hymenoptera terbagi atas beberapa suku yaitu : Orussidae, Siricidae, Xphydridae,
Cephidae, Agridae, Cimbicidae, dan lainnya.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Alat
Alat yang digunakan dalam pengambilan sampel serangga tanah dengan teknik pitfall trap

serta pengukuran faktor biotik dan abiotik dalam pengamatan ini adalah sebagai berikut.
Tabel 3.1 Alat yang Digunakan pada Pengamatan
No. Nama Alat

Fungsi

1.

Alat tulis

Mencatat kondisi lapangan

2.

Buku catatan lapangan

Mencatat kondisi lingkungan

3.

Buku identifikasi serangga

4.

Hygrotermometer

Mengidentifikasi

spesimen

serangga

tanah
Mengukur kelembaban dan temperatur
udara

Mengatur

posisi

serangga

untuk

5.

Jarum

6.

Kaca pembesar

7.

Kamera

Dokumentasi

8.

Meteran

Mengukur jarak antar plot

9.

Penggaris

Mengukur ketebalan seresah

10.

Pinset

Mengambil spesimen serangga yang kecil

11.

Sekop

Menggali lubang plot

12.

Soil tester

Mengukur kelembaban dan pH tanah

13.

Spidol

dokumentasi
Membantu pengamatan dan identifikasi
serangga tanah

Memberi nama dan keterangan perangkap


jebak dan hasil spesimen serangga tanah

3.2

Bahan
Bahan yang digunakan dalam pengambilan sampel serangga tanah dengan teknik pitfall

trap serta pengukuran faktor biotik dan abiotik dalam pengamatan ini adalah sebagai berikut.
Tabel 3.2 Bahan yang Digunakan pada Pengamatan
No. Nama Bahan
1.

Fungsi
Mengawetkan serangga yang telah masuk

Alkohol 70%

di perangkap jebak
Mengurangi tegangan permukaan air,

2.

Deterjen cair

agar serangga yang terjebak langsung


tenggelam ke dasar gelas plastik

3.

Gelas plastic

4.

Gula pasir

5.

Kardus

yang

Menampung larutan dan hasil serangga


tanah yang didapatkan
Memancing serangga
dibungkus Melindungi perangkap jebak dari hujan,

plastik (waterproof)

jatuhan ranting, atau dedaunan

6.

Kotak plastik

Menyimpan spesimen serangga

7.

Label

Memberi pelabelan nama

8.

Plastik sampel

9.

Tusuk sate

3.3

Menyimpan spesimen serangga


Menyangga kardus pelindung perangkap
jebak

Metode Pengamatan
3.3.1 Pitfall Trap
Pitfall Trap merupakan salah satu teknik atau metode pengumpulan data untuk

menghitung populasi serangga. Keuntungan metode ini dibandingkan dengan metode-metode


lainnya seperti sistem banjir, capture recapture, ataupun light trap yaitu diantaranya jika
menggunakan metode ini kemungkinan serangga yang terperangkap dapat dari berbagai ordo.
Sedangkan jika menggunakan metode light trap yang dipasang pada malam hari dan biasanya
dipasang di atas, sehingga serangga-serangga yang terperangkap merupakan jenis-jenis
serangga yang dapat terbang. Selain itu, kenapa metode pitfall trap ini dipilih karena dirasa
cocok/ideal untuk dilakukan di area pengamatan serta alat bahan yang digunakan murah dan
mudah didapatkan. Cara kerja metode pitfall trap ini serangga-serangga yang sedang
berjalan/hinggap di atas tanah/seresah masuk ke dalam perangkap jebak berupa gelas plastik
yang berisi larutan dari campuran gula, deterjen, dan alkohol. Di atas perangkap jebak ini
harus dipasangkan penutup agar jika hujan, air tidak masuk dan dedaunan/ranting pohon tidak
masuk ke dalam perangkap.

3.3.2 PROSEDUR
Pengamatan menggunakan metode pitfall trap dengan garis transek sepanjang 30
meter untuk 3 plot lokasi. Pembuatan larutan dengan mencampurkan gula, deterjen cair, dan
alkohol 70% dengan perbandingan 2:1:1. Kemudian, memasang perangkap jebak dengan
sebelumnya menggali atau membuat lubang pada tanah tempat plot pengamatan dengan
kedalaman 9 cm dan diameter lubang 7,5 cm, jarak antara lubang yang satu dengan lubang
yang lain yaitu 10 m. Setelah itu, masukkan gelas plastik ke dalam lubang dan menuangkan
larutan jebakan yang telah disiapkan sebanyak 3/4 dari tinggi gelas plastik tersebut. Pastikan
posisi gelas plastik perangkap jebak yang telah tertanam tersebut sama rata dengan permukaan
tanah sekitarnya. Lalu, pasang kardus beserta tusuk sate pada tiap sudut kardus sebagai

penyangga di atas gelas plastik perangkap jebak, posisi tutup ini harus tepat di atas lubang
perangkap jebak yang dipasang.

Gambar 1. Perangkap yang dipasang sejajar permukaan tanah (Google Image)

Biarkan perangkap jebak selama 24 jam. Keesokan harinya, periksa perangkap


jebak dan ambil serangga yang terjebak, masukkan serangga-serangga tersebut ke dalam
plastik sampel. Pasang gelas plastik berisi larutan jebakan yang sama untuk pengulangan
pengamatan. Melakukan pengulangan pitfall trap satu kali. Identifikasi sampel serangga
dengan bantuan kaca pembesar dan buku identifikasi serangga. Selain itu, saat memasangkan
pitfall trap ini, periksa pula kondisi lingkungan seperti temperatur udara, kelembaban udara,
kelembaban tanah, pH tanah, dan ketebalan seresah, serta mencatat kondisi lingkungan lokasi
pengamatan berupa komposisi vegetasi, cuaca, dan kekerasan tanah. Kemudian selanjutnya
menghitung analisis data serangga tanah berupa Kelimpahan Mutlak (KM), Kelimpahan
Relatif (KR), Frekuensi Mutlak (KM), Frekuensi Relatif (FR), Indeks Nilai Penting (INP),
Indeks Simpsons (D), dan Indeks Shannon-Wienner (H).

3.3.3

Analisis Data

3.3.3.1 Kelimpahan Mutlak (KM) dan Kelimpahan Relatif (KR)


Nilai Kelimpahan Relatif (KR) digunakan untuk mengetahui besarnya persentase
jumlah kerataan jenis pada suatu habitat. Nilai KR didapatkan dengan membagi jumlah
individu suatu jenis dengan jumlah total plot lokasi (Rusdiana dan Lubis, 2012).

KM=

KR=

Keterangan :
KM

= Kelimpahan Mutlak jenis i

ni

= jumlah individu jenis i yang didapat

plot

= jumlah total plot pengamatan

KR

= Kelimpahan Relatif jenis ke-i

3.3.3.2 Frekuensi Mutlak (KM) dan Frekuensi Relatif (FR)


NilaiFrekuensi Relatif (FR) merupakan penentuan besarnya jumlah persentase
ditemukannyasuatu jenis pada stasiun lokasi (Soerianegara dan Indrawan, 1998).
FrekuensiRelatif (FR) digunakan untuk mengetahui besarnya kehadiran atau pola persebaran
jenis pada suatu habitat. Nilai FR didapatkan dengan membagi jumlah kehadiran suatu jenis
pada tiap plot dengan jumlah seluruh plot lokasi yang diamati.

FM=
FR=

Keterangan :
FM

= Frekuensi Mutlak jenis i

pli

= jumlah plot lokasi yang ditempati jenis i

plot

= jumlah total plot lokasi pengamatan

FR

= Frekuensi Relatif jenis ke-i

3.3.3.3 Indeks Nilai Penting (INP)

INP merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu jenis yang
memiliki karakter terbesar dalam komunitas (Rusdiana dan Lubis, 2012). Nilai penting adalah
nilai relatif fungsi/peran/tingkat kemampuan adaptasi suatu populasi dibandingkan dengan
populasi yang lainnya pada suatu komunitas (Suin, 1997).

INP

= KR + FR
= 200%

Keterangan :
KR

= jumlahKelimpahan Relatif (100%)

FR

= jumlah Frekuensi Relatif (100%)

3.3.3.4 Indeks Simpsons (D)


Indeks Simpsons digunakan untuk memperoleh informasi mengenai jenis serangga
yang mendominasi pada suatu komunitas pada tiap habitat (Ludwig dan Reynolds,
1988).Diversitas dari suatu komunitas tergantung pada jumlah jenis dan tingkatkerataan
jumlah individu dalam tiap jenis yang ada (Pieloe, 1975).

D = ( ) 2
Keterangan :
D = Indeks Diversitas DominansiSimpsons
ni = jumlah individu jenis i yang didapat
N = jumlah total individu yang didapat di lokasi pengamatan

Odum (1971), menyatakan bahwa Indeks Simpsons dibagi atas dua kriteria sebagai
berikut.

1) Jika nilai Indeks Simpsons (D) mendekati satu (0,6 - 1) maka komunitas didominasi oleh
jenis tertentu; dan
2) Jika nilai Indeks Simpsons (D)mendekati nol (0 - 0,6) maka tidak ada jenis yang
mendominasi.
3.3.3.5 Nilai Indeks Keanekaragaman (H) Shannon-Wienner
Untuk mengetahui indeks keanekaragaman digunakan rumus Shannon-Wienner
(Magurran, 1988).

H = - (

Pi =

Keterangan :
H = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner
ni = jumlah jenis yang didapat
N = jumlah total individu yang didapat

Besarnya indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wienner menurut Fachrul (2007);


Michael (1995); dan Untung (2006), didefinisikan ada 3 kriteria keanekaragaman jenis
serangga, yaitu:
1) Nilai H > 3 menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga tergolong melimpah tinggi.
2) Nilai H1 H 3 menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga tergolong melimpah
sedang.
3) Nilai H < 1 menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga tergolong sedikit atau rendah.