Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

MATA KULIAH BIOMEDIK DASAR 2


SEMESTER II FKM UNDIP TAHUN 2016
Cara Pemulasan Sediaan Darah dengan GIEMSA

Oleh :
RIENDY AANISAH PUTRI

25010115140195

KELAS C 2015/SEMESTER II/TAHUN 2016


Praktikum dilakukan untuk memenuhi salah satu Tugas
MK Biomedik Dasar 2 Semester II (3 SKS)
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
MEI TAHUN 2016

PROPOSAL PRAKTIKUM
MATA KULIAH BIOMEDIK DASAR 2 (3 SKS)
SEMESTER II FKM UNDIP TAHUN 2016

Cara Pemulasan Sediaan Darah dengan GIEMSA

Oleh :
RIENDY AANISAH PUTRI

25010115140195

KELAS C 2015/SEMESTER II/TAHUN 2016


Tugas Praktikum dilakukan untuk memenuhi salah satu Tugas
MK Biomedik Dasar 2 Semester II (3 SKS)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
MEI TAHUN 2016

PRAKATA DARI PENULIS


Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum wr. wb.
Puji Syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT sehingga atas Rahmat dan
Hidayah-Nya, maka Proposal/Laporan Akhir Praktikum Mata Kuliah Dasar Biomedik II
(3 sks) Semester II FKM Undip dapat diselesaikan dengan baik.
Laporan Akhir Praktikum MK Dasar Biomedik II (3 sks) dengan Judul Cara
Pemulasan Sediaan Darah dengan GIEMSA ini disusun oleh Penulis : Riendy Aanisah
Putri Tahun 2016 guna melengkapi tugas mata kuliah Dasar Biomedik II Semseter II di
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro yang dibimbing oleh Dr. Ir.
Martini, M.Kes.
Dalam menyelesaikan laporan ini, penulis telah mendapat bantuan dari berbagai
pihak. Oleh sebab itu sudah selayaknya Penulis mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberikan bantuan.
Akhirnya Penulis berharap agar Laporan Akhir Praktikum MK Dasar Biomedik II
FKM Undip ini dapat bermanfaat bagi pengembangan kompetensi dan keilmuan Ilmu
Biomedik di Indonesia dan di dunia.
Wassalamualaikum wr. wb.
Semarang, 7 Mei 2016
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..........................................................................................................
ii
PRAKATA DARI PENULIS ..............................................................................................
iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................
iv
DAFTAR TABEL ...............................................................................................................
vi
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................................
vii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ................................................................
viii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................................
ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................................
1
B. Tujuan....................................................................................................................
2
C. Manfaat..................................................................................................................
3
BAB II TINJAUAN PUSAKA
A. Sediaan Apus Darah Tepi......................................................................................
4

B. Giemsa...................................................................................................................
5
C. Pewarnaan Sediaan Darah.....................................................................................
7
D. Sumber Kesalahan.................................................................................................
12
BAB III METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan............................................................................
14
B. Metode Praktikum.................................................................................................
14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Praktikum.....................................................................................................
16
B. Pembahasan...........................................................................................................
16
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan...........................................................................................................
27
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................
22
LAMPIRAN.......................................................................................................................
23

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1. Hasil pengamatan....................................................................................... 16

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Plasmodium vivax........................................................................................9
Gambar 2.2 Plasmodium malariae...................................................................................9
Gambar 2.3 Plasmodium falciparum.............................................................................10
Gambar 2.4 Plasmodium ovale.......................................................................................11

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH


Penulis menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan Laporan Praktikum
Mata Kuliah Biomedik II (3 sks) semester II FKM dengan judul Cara Pemulasan
Sediaan Darah dengan GIEMSA ini berdasarkan hasil pemikiran dan karya asli dari
saya. Jika terdapat karya orang lain, saya akan mencantumkan sumber referensi yang
jelas.Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian
hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya dan
kelompok bersedia menerima sanksi berupa peringatan lisan dan sanksi lain sesuai
dengan peraturan yang berlaku di Universitas Diponegoro. Dan ternyata ada kekeliruan
dalam penetapan sanksi, maka saya dan kelompok berhak mendapatkan pemulihan
nama baik dari Universitas Diponegoro. Demikian pernyataan ini saya buat dalam
keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun.

Semarang, 14 Mei 2016


Penulis

10

HALAMAN PENGESAHAN
Proposal/Laporan Akhir Praktikum MK Biomedik Dasar II FKM Undip
1. Judul

: Cara Pemulasan Sediaan Darah dengan GIEMSA

2. Penyusun

Nama dan NIM

: Riendy Aanisah Putri/25010115140195

3. Kelompok/Semester/Tahun

:10/ 2/2016

4. Nama Mata Kuliah/sks

: Dasar Biomedik II / 3sks

5. Laboratorium

: Terpadu FKM Undip

6. Lokasi Kegiatan

: Kota Semarang

7. Waktu Kegiatan

: 9 Mei 2016

Sudah diperiksa isi materi keilmuan Dasar Biomedik II dan disetujui.


Semarang, 14 April 2016
Kepala Laboratorium

Penanggung Jawab Mata Kuliah

Entomologi FKM Undip

Dasar Biomedik II

Lintang Dian Saraswati, S.KM, M. Epid

Dr. Ir. Martini, M.Kes

NIP.198111042003122001

NIP. 196503171993032001
Mengetahui,

Kepala LaboratoriumTerpadu FKM Undip

Ir. Laksmi Widajanti, M.Si


NIP. 19660813199203200

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma yang dapat
dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri
atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma. Fungsi
utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel
diseluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi,
mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun
sistem imun yang bertujuanmempertahankan tubuh dari berbagai penyakit.
Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen
sampai merah tuaapabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah
disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein), yang
terdapat dalam eritrosit dan mengandung besi dalam bentuk heme, yang
merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Darah jugamengangkut
bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk
diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.
Pada manusia umumnya memiliki volume darah sebanyak kurang lebih 5 liter
dengan unsur-unsur pembentuknya yaitu sel-sel darah, platelet, dan plasma. Sel
darah terdiri dari eritrosit danleukosit, platelet yang merupakan trombosit atau
keping darah, sedangkan plasma darah padadasarnya adalah larutan air yang
mengandung : Air (90%) dan zat terlarut (10%) yang terdiri dari : Protein plasma
(albumin, globulin, fibrinogen) 7%, Senyawa Organik (As. Amino, glukosa,
vitamin, lemak) 2.1%, Garam organik (sodium, pottasium, calcium) 0.9%.
Preparat adalah tindakan atau proses pembuatan maupun penyiapan sesuatu
menjadi tersedia, spesimen patologi maupun anatomi yang siap dan diawetkan
untuk penelitian dan pemeriksaan (W.A. New Dorland, 2002). Sediaan apus darah
ini tidak saja untuk mempelajari bentuk masing-masing sel darah, tetapi juga

dapat digunakan untuk menghitung perbandingan antar masing-masing jenis sel


darah.
Selain itu dengan pembuatan apusan darah maka darah yang kita gunakan
akan dapat bertahan lebih lama dibandingkan apabila kita menggunakan preparat
darah basah. Karena darah mempunyai kemampuan cepat membeku apabila
terkena udara sehingga komponen-komponen darah menjadi rusak. Dengan
pembuatan sediaan apus, komponen darah akan dapat dipertahankan mendekati
keadaan awal saat masih segar. Hal ini disebabkan pada pembuatan sediaan apus
mengalami beberapa perlakuan. Hal tersebut dapat diketahui dengan melakukan
praktikum mengenai pemulasan darah.
Pewarnaan Giemsa (Giemsa Stain) adalah teknik pewarnaan untuk
pemeriksaan mikroskopis yang namanya diambil dari seorang peneliti malaria
yaitu Gustav Giemsa. Pewarnaan ini digunakan untuk pemeriksaan sitogenetik
dan untuk diagnosis histopatologis parasit malaria dan parasit lainnya (1).
Prinsip dari pewarnaan giemsa adalah presipitasi hitam yang terbentuk dari
penambahan larutan metilen biru dan eosin yang dilarutkan di dalam metanol.
Pewarnaan giemsa digunakan untuk membedakan inti sel dan morfologi
sitoplasma dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit dan parasit yang ada di
dalam darah. Pewarnaan giemsa adalah teknik pewarnaan yang paling bagus
digunakan untuk identifikasi parasit yang ada di dalam darah (blood-borne
parasite).
Dengan adanya pemulasan darah menggunakan metode giemsa, kita dapat
pula mengidentifikasi protozoa yang ada di dalam darah seperti Plasmodium
vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui cara pemulasan sediaan darah dengan Giemsa.

2. Tujuan Khusus
Untuk memenuhi tugas laporan praktikum mata kuliah Biomedik Dasar II
FKM UNDIP 2016, membuat sediaan apus dan mengamati morfologi atau
struktur darah.
C. Manfaat
1. Mengetahui cara pemulasaan sediaan darah dengan Giemsa
2. Mengetahui struktur darah
3. Mengamati pulasan sediaan darah berdasarkan struktur darah dan umur

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sediaan Apus Darah Tepi
Sediaan apus darah tepi adalah suatu cara yang sampai saat ini masih
digunakan pada pemeriksaan di laboratorium. Prinsip pemeriksaan sediaan apus
ini adalah dengan meneteskan darah lalu dipaparkan di atas objek glass, kemudian
dilakukan pengecatan dan diperiksa dibawah mikroskop.
Guna pemeriksaan apusan darah:
1. Evaluasi morfologi dari sel darah tepi (eritrosit, trombosit, dan leukosit)
2. Memperkirakan jumlah leukosit dan trombosit
3. Identifikasi parasit (misal : malaria. Microfilaria, dan Trypanosoma).
Sediaan apus darah tepi dapat diwarnai dengan berbagai macam metode termasuk
larutan-larutan yang sederhana antara lain: pewarnaan Giemsa, pewarnaan acid
fast, pewarnaan garam, pewarnaan wright, dan lainlain.
Pewarnaan Giemsa disebut juga pewarnaan Romanowski. Metode pewarnaan
ini banyak digunakan untuk mempelajari morfologi sel-sel darah, sel-sel lien, selsel sumsum dan juga untuk mengidentifikasi parasit-parasit darah misal
Tripanosoma, Plasmodia dan lain-lain dari golongan protozoa.
(Maskoeri, 2008)
Pewarnaan Giemsa (Giemsa Stain) adalah teknik pewarnaan untuk
pemeriksaan mikroskopis yang namanya diambil dari seorang peneliti malaria
yaitu Gustav Giemsa. Pewarnaan ini digunakan untuk pemeriksaan sitogenetik
dan untuk diagnosis histopatologis parasit malaria dan juga parasit jenis lainnya.
(Jason and Frances, 2010 )
Dasar dari pewarnaan Giemsa adalah presipitasi hitam yang terbentuk dari
penambahan larutan metilen biru dan eosin yang dilarutkan di dalam metanol.
Yaitu dua zat warna yang berbeda yaitu Azur B ( Trimetiltionin ) yang bersifat
basa dan eosin y ( tetrabromoflurescin ) yang bersifat asam seperti kromatin, DNA
dan RNA. Sedangkan eosin y akan mewarnai komponen sel yang bersifat basa
seperti granula, eosinofili dan hemoglobin. Ikatan eosin yang ada pada azur B
yang beragregasi dapat menimbulkan warna ungu, dan keadaan ini dikenal

sebagai efek Romanowsky giemsa. Efek ini terjadi sangat nyata pada DNA tetapi
tidak terjadi pada RNA sehingga akan menimbulkan kontras antara inti yang
berwarna dengan sitoplasma yang berwarna biru. ( Arjatmo Tjokronegoro, 1996)
Pewarnaan giemsa adalah teknik pewarnaan yang paling bagus dan sering
digunakan untuk mengidentifikasi parasit yang ada di dalam darah (blood-borne
parasite). ( Ronald dan Richard , 2004 )
Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari kapiler
atau vena, yang dihapuskan pada kaca obyek. Pada keadaan tertentu dapat pula
digunakan EDTA (Arjatmo Tjokronegoro, 1996)
Jenis apusan darah :
1. Sediaan darah tipis
Ciri- ciri apusan sediaan darah tipis yaitu lebih sedikit membutuhkan darah untuk
pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tebal, morfologinya lebih
jelas. bentuk parasit plasmodium berada dalam eritrosit sehingga didapatkan
bentuk parasit yang utuh dan morfologinya sempurna. Serta lebih mudah untuk
menentukan spesies dan stadium parasit dan perubahan pada eritrosit yang
dihinggapi parasit dapat dilihat jelas.
2. Sediaan darah tebal
Ciri- ciri apusan sediaan darah tebal yaitu membutuhkan darah lebih banyak untuk
pemeriksaan dibanding dengan apusan darah tipis, sehingga jumlah parasit yang
ditemukan lebih banyak dalam satu lapang pandang, sehingga pada infeksi ringan
lebih mudah ditemukan. Sediaan ini mempunyai bentuk parasit yang kurang utuh
dan kurang begitu lengkap morfologinya. (Sandjaja, 2007)
B. Giemsa
Pewarna Giemsa 10% sebagai pewarna yang umum digunakan agar sediaan
terlihat lebih jelas. Pewarnaan ini sering disebut juga pewarnaan Romanowski.
Metode pewarnaan ini banyak dipakai untuk mempelajari morfologi darah, sel-sel
sumsum dan juga untuk identifikasi parasit-parasit darah misalnya dari jenis
protozoa. Zat ini tersedia dalam bentuk serbuk atau larutan yang disimpan di
dalam botol yang gelap. (Kurniawan, 2010).
Zat warna yang digunakan dalam metode Romanovsky adalah Giemsa yang
sebelumnya telah diencerkan dengan aquades. Semakin lama pewarnaan

yang dilakukan maka intensitasnya menjadi semakin tua. Preparat apus yang
yang telah selesai dibuat kemudian diamati dibawah mikroskop dengan
perbesaran 100x. Gambar yang didapat dalam hasil menunjukan sel-sel butir
darah baik eritrosit, leukosit, trombosit, atau jenis parasit yang lain
(Maskoeri, 2008).
Sediaan apus darah secara rutin diwarnai dengan campuran zat warna
khusus. Pewarnaan ini disebabkan karena oksidasi methylen blue dan
pembentukan senyawa baru dalam campuran yang dinamakan azure. Setelah
pemberiaan campuran jenis Romanosky, diferensiasi sel-sel dapat dilakukan
Berdasarkan 4 sifat pewarnaan yang menyatakan afinitas struktur sel oleh
masing-masing zat warna dari campuran, yaitu:
1. Afinitas untuk methylen blue
2. Afinitas untuk azure dikenal sebagai azurefilik ( ungu).
3. Afinitas untuk eosin (suatu zat warna asam ) dikenal sebagai asidofilik
atau eosinofilia.(merah muda kekuningan ).
4. Afinitas untuk komplek zat warna yang terdapat dalam campuran, secara
tidak tepat dianggap netral, dikenal sebagai neutrofilia (salmon-pink
smplilac ). ( Safar, 2009 ).
Giemsa adalah zat warna yang terdiri dari eosin dan metilen azur
memberi warna merah muda pada sitoplasma dan metilen biru memberi warna
pada inti leukosit . Ketiga jenis pewarna ini dilarutkan dengan metil alkohol
dan gliserin. Larutan ini dikemas dalam botol coklat ( 100 500 1000 cc )
dan dikenal sebagai giemsa stock dengan pH 7 . ( Depkes RI, 1993 ).
Pedoman pemakaian Giemsa
1. Giemsa stock baru boleh diencerkan dengan aquadest, air buffer atau air
sesaat akan digunakan agar diperoleh efek pewarnaan yang optimal.
2. Encerkan gimesa sebanyak yang dibutuhkan, sebab bila berlebihan terpaksa
harus dibuwang.
3. Untuk mengambil stock giemsa dari botolnya, gunakan pipet khusus agar
stock giemsa tidak tercemari.

4. Methanol dapat menarik air dari udara, sebab itu stock giemsa harus ditutup
rapat dan tidak boleh sering dibuka .
5. Tolak ukur sebagai dasar perhitungan :
a. 1cc = 20 tetes
b. Seluruh permukaan kaca sediaan dapat ditutupi cairan sebanyak 1 cc
c. Berdasarkan tolak ukur ini dapat dihitung banyaknya giemsa encer yang harus
digunakan sesuai dengan kebutuhan terutama bila melakukan pewarnaan.
6. Takaran pewarnaan, Untuk melakukan pewarnaan individu pada stock giemsa 1
tetes dapat ditambah dengan pengencer sepuluh tetes lama pewarnaan 15 20
menit ( giemsa 10 % ) atau stock giemsa 1 tetes ditambah pengencer 1 cc ( 20
tetes ) dengan lama pewarnaan 45 60 menit ( giemsa 20 % ) .
7. Gunakan air pengencer yang mempunyai pH 6.8 7.2 ( paling ideal dengan pH
7.2). ( Depkes RI, 1993 ).
-Menguji mutu giemsa
Ada 2 cara menguji mutu Giemsa :
1. Dilakukan pewarnaan sel darah 1- 2 sel darah lalu diperiksa mikroskop.
Jika hasilnya dengan kriteria yang ada, berarti giemsa dan air pengencernya masih
baik. Pengujian seperti ini perlu dilakukan setiap kali akan melakukan pewarnaan.
2. Dilakukan tes menggunakan kertas saring dan metil alkohol
a. Meletakkan kertas saring di atas gelas supaya bagian tengah kertas saring tidak
tersentuh apapun.
b. Meneteskan 1 2 stock giemsa pada kertas saring, menunggu sampai meresap
dan melebar, kemudian meneteskan 3 5 tetes metil alkohol absolute
dipertengahan bulatan giemsa satu persatu dengan jarak waktu beberapa detik,
sampai garis tengah giemsa menjadi 5 7 cm maka akan berbentuk bulatan biru
( metilen blue ) di tengah, lingkaran cincin ungu ( metilen azure ) berada di
luarnya, serta lingkaran tipis warna merah ( eosin ) dipinggir sekali. Jika warna
ungu atau merah tidak terbentuk berarti giemsa sudah rusak dan tidak boleh
dipakai lagi.
( Depkes RI, 1993 ).
C. Pewarnaan Sediaan Darah

Sediaan darah tebal biasanya di hemolisis terlebih dulu sebelum pewarnaan,


sehingga parasit tidak lagi tampak dalam eritrosit. Kelebihan dari sediaan ini yaitu
dapat menemukan parasit lebih cepat karena volume darah yang digunakan lebih
banyak. Jumlah parasit lebih banyak dalam satu lapang pandang, sehingga pada
infeksi ringan lebih mudah ditemukan. Sedangkan kelemahan dari sediaan darah
tebal bentuk parasit yang kurang lengkap morfologinya. (Safar, 2009)
a. Ciri-ciri sediaan yang baik :
Sediaan yang dibuat harus bersih yaitu sediaan tanpa endapan zat pewarnaan.
Sediaan juga tidak terlalu tebal, ukuran ketebalan dapat dinilai dengan meletakkan
sediaan darah tebal di atas arloji. Bila jarum arloji masih dapat dilihat samarsamar menunjukkan ketebalan yang tepat. Selain menggunakan arloji dapat juga
dengan cara meletakkan sediaan darah tebal di atas koran, kalau tulisan di bawah
koran sediaan masih terbaca, berarti tetesan tadi cukup baik. (Sandjaja, 2007)
b. Hasil sediaan darah tebal yang baik :
Inti sel darah putih biru lembayung tua, granula biasanya tidak tampak, hanya
granula eosinofil. Trombosit berwarna lembayung muda dan sering berkelompok.
Parasit tampak kecil, batas sitoplasma sering tidak nyata. Titik Maurer dan titik
Ziemen (P. malariae) biasanya hilang. Titik Scuffner sering masih terlihat sebagai
zona merah. Bentuk cincin sering tampak sebagai koma, tanda seru, atau
burung terbang, terutama pada P. falciparum. Tropozoit yang sudah agak besar
tampak pigmen. Sitoplasma P. Vivax dapat terlihat jelas seperti amuboid.
Sitoplasma pada P. malariae mulai mengumpul disekitar inti, dan bentuk schizon
tampak jelas. (Irianto, 2009)
c. Parasit yang ada dalam sediaan darah tebal
1. Plasmodium vivax
Ciri khas dari Plasmodium vivax yaitu eritrosit yang dihinggapi membesar, bila
tropozoid tumbuh maka bentuknya tidak teratur, berpigmen halus. Tropozoid yang
sedang berkembang biak dari Plasmodium vivax berbeda-beda dan tidak beratur
bentuknya. Eritrosit yang terinfeksi oleh parasit ini mengalami pembesaran dan
pucat karena kekurangan hemoglobin. Tropozoit muda tampak sebagai cincin
dengan inti pada satu sisi.Tropozoit tua tampak sebagai cincin amuboid akibat
penebalan sitoplasma yang tidak merata. Dalam waktu 36 jam parasit akan

mengisi lebih dari setengah sel eritrosit yang membesar. Proses selanjutnya inti sel
parasit akan mengalami pembelahan dan menjadi bentuk schizont yang berisi
merozoit berjumlah antara 16 18 buah. Gametosit mengisi hampir seluruh
eritrosit. Mikrogametosit berinti besar dalam pewarnaan Giemsa akan berwarna
merah muda sedangkan sitoplasma berwarna biru. Makrogametosit berinti padat
berwarna merah letaknya biasanya di pinggir.Terdapat bintik-bintik merah yang
disebut

titik

eritrosit

yang

parasit

Schuffner pada
terinfeksi

ini.

Sungkar

S,

1994 )

Gambar 1. Plasmodium vivax


2. Plasmodium malariae
Plasmodium malariae ukurannya lebih kecil, berbentuk cincin apabila dicat
dengan giemsa mirip cincin Plasmodium vivax hanya sitoplasma lebih biru dan
parasit lebih kecil, teratur serta padat. Parasit ini juga dapat berbentuk pita yang
melintang pada sel darah merah bentuk kromatin seperti benang. ( Sungkar S,
1994 )

10

Gambar 2. Plasmodium malariae


3. Plasmodium falciparum
Plasmodium falciparum, dapat menyebabkan penyakit tertian maligna
(malaria tropica), infeksi oleh spesies ini menyebabkan parasitemia yang
meningkat jauh lebih cepat dibandingkan spesies lain dan merozoitnya menginfesi
sel darah merah dari segala umur (baik muda maupun tua). Hanya ditemukan
bentuk tropozoit dan gametosit pada darah tepi, kecuali pada kasus infeksi yang
berat. Schizogoni terjadi di dalam kapiler organ dalam termasuk jantung. Sedikit
schizont di darah tepi, terkait berat ringannya infeksi. Schizont berisi merozoit
berjumlah 16 20 buah. Eritrosit yang terinfeksi tidak mengalami pembesaran.
Bisa terjadi multiple infeksi dalam eritrosit (ada lebih dari satu parasit dalam
eritrosit), bentuk acolle (inti menempel dinding eritrosit) dan spliting (inti parasit
terpecah dua). Gametosit berbentuk pisang, makrogametosit inti kompak
(mengumpul) biasanya di tengah sedangkan makrogametosit intinya menyebar.
Sitoplasma eritrosit terdapat terdapat bercak-bercak merah yang tidak teratur
disebut titik Maurer.

11

Gambar 3. Plasmodium falciparum


4. Plasmodium ovale
Plasmodium ovale merupakan parasit yang jarang terdapat pada manusia
bentuknya mirip dengan plasmodium vivax sel darah merah yang dihinggapi akan
sedikit membesar, bentuknya lonjong dan bergerigi pada satu ujungnya adalah
khas Plasmodium ovale. Plasmodium ovale menyerupai plasmodium malariae
pada bentuk skizon dan tropozoid yang sedang tumbuh. ( Sungkar S, 1994 )

Gambar 4. Plasmodium ovale


d. Faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai pewarnaan yang baik
1. Kualitas dari stock giemsa yang digunakan standar mutu
a) Stock giemsa yang belum tercemar air
b) Zat warna giemsa masih aktif
2. Kualitas dari air pengencer giemsa
a) Air pengencer harus jernih dan tidak berbau
b) Derajat keasaman pengencer hendaknya berada 6,8 - 7,2 perubahan pH pada
larutan giemsa berpengaruh pada sel-sel darah
3. Kualitas pembuatan sediaan darah
Dalam pembuatan sediaan darah tebal yang perlu diperhatikan adalah tebalnya
sediaan. Ketebalan dikatakan memenuhi syarat apabila disetiap lapang pandang
terdapat 10 20 sel darah putih.
4. Kebersihan sediaan darah

12

Zat warna yang mengendap dipermukaan pada akhir pewarnaan tertinggal pada
sel darah dan akan mengotorinya. Oleh karna itu pada akhir pewarnaan larutan
giemsa harus dibilas dengan air yang mengalir .
5. Syarat sediaan Kaca
Kaca sediaan dipakai untuk menempelkan darah yang sering kali diambil dari
tempat yang jauh, sediaan darah ini kemudian diproses, diperiksa dan kemudiaan
disimpan atau dicuci kembali, maka penting sekali penggunaan kaca sediaan yang
baik dan bermutu. Syarat untuk kaca sediaan yang baik adalah :
a. Bening atau jernih
b. Permukaan licin, tidak tergores-gores
c. Bersih ( bebas dari lemak, debu, asam, atau alkalis )
d. Tebal antara 1,1 dan 1,3 mm
e. Ukurannya sama ( Depkes RI, 1993)
e. Prosedur pewarnaan darah tebal :
1) Teteskan darah pada sebuah slide bersih.
2) Tetesan darah dilebarkan sambil dengan kaca secara berputar, sampai menjadi
sediaan darah dengan diameter 1 - 2 cm.
3) Biarkan mengering di udara .
4) Pengecatan sediaan darah tebal :
- Rendam apusan darah dalam air untuk melisiskan sel darah merah.
- Setelah darah lisis rendam atau genangi dengan giemsa selama 15-20 menit.
- Biarkan sampai kering, periksa sediaan darah dibawah mikroskop.
5 ) Pemeriksaan darah tebal dilakukan dengan cara :
- Siapkan mikroskup yang sudah dibersihkan dengan xylol.
- Pasang sediaan dengan perbesaran 100x dengan diberi anisol.
- Catat hasil pengamatan.
f. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pewarnaan giemsa :
- Perhatikan agar metanol tidak mengenai sediaan tetes tebal karena akan
membuat bagian tersebut terfiksasi dan hasil pewarnaan tidak sesuai dengan hasil
yang diinginkan.
- Hati-hati pada saat membilas sediaan tetes tebal karena bagian tersebut tidak
difiksasi dan tidak menempel dengan kuat ke slide kaca.

13

D. Sumber Kesalahan
Dalam pemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan hasil yang akurat harus
mengacu kepada GLP (Good Laboratory Procedure) yaitu melalui 3 tahap
prosedure antara lain:
1. Pre Analitik
Dapat dikatakan sebagai tahap persiapan awal, dimana tahap ini sangat
menentukan kualitas sampel yang nantinya akan dihasilkan dan mempengaruhi
proses kerja berikutnya. Faktor yang dapat mempengaruhi pemeriksaan seperti
penyakit, puasa/tidak, diet, variasi diurnal, aktifitas fisik, obat-obatan serta
labeling.
Sampel yang diambil haruslah sampel yang sesuai/tepat dengan jenis
pemeriksaannya, cara pengambilan sampel pun harus benar. Penggunaan bahan
pembantu yang tidak tepat tentunya akan merusak sampel. Kondisi lingkungan
seperti suhu, kebersihan tentunya mempengaruhi stabilitas dan kualitas sampel
sehingga dapat berakibat terhadap hasil pemeriksaan. Kualitas bahan pembantu
juga mempengaruhi hasil karena jika kualitasnya tidak baik tentunya dapat
merusak sampel dan atau menurunkan kualitas yang ada.
2. Analitik
Merupakan tahap pengerjaan pengujian sampel sehingga diperoleh hasil
pemeriksaan. Spesimen yang tepat mengenai jenis dan volume sampel, alat sesuai
standar, reagen yang berkualitas, standar dan tidak kadaluarsa, giemsa yang
digunakan pada proses pewarnaan adalah giemsa yang sesuai standar, penggunaan
air sesuai dengan standar, pemeriksaan sesuai
suhu, kalkulasi dan pelaporan yang tepat.
3. Pasca Analitik
Merupakan

tahap akhir pemeriksaan yang dikeluarkan untuk meyakinkan

bahwa hasil pemeriksaan yang dikeluarkan benar-benar valid atau benar, meliputi:
1. Pencatatan hasil
2. Pelaporan hasil
3. Pengiriman hasil dari keluarnya hasil pemeriksaan, proses penyalinan hasil
sampai diberikan kepada pasien. ( Buletin PRODIA, 2007)

14

15

BAB III
METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari, Tanggal : Senin, 9 Mei 2016
Waktu

: 10.20-12.30

Tempat

: Laboratorium Terpadu FKM Universitas Diponegoro

B. Metode Praktikum
a) Alat
1.
2.
3.
4.
5.

Kaca Objek 25x75 mm


Batang gelas (tabung reaksi)
Rak kaca objek
Pipet Pasteur
Mikroskop

b) Bahan
1. Metanol absolut dengan kadar air kurang dari 4%, disimpan dalam botol
yang tertutup rapat untuk mencegah masuknya uap air dari udara .
2. Zat warna Giemsa
Zat warna giemsa
1g
Methanol absolut
10 ml
Hangatkan campuran ini sampai 50C dan biarkan selama 15 menit,
kemudian disaring. Sebelum dipakai, campuran ini diencerkan sebanyak
20 x dengan larutan dapar

pH 6,6. Untuk mencari parasit malaria,

dianjurkan menggunakan larutan dapar pH 7,2


c)

Cara Kerja
a. Cara membuat sediaan apus
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Dipilih kaca objek yang bertepi rata untuk digunakan sebagai kaca
peng-apus sudut kaca objek yang dipatahkan, menurut garis diagonal

16

untuk dapat menghasilkan sedian apus darah yang tidak mencapai tepi
kaca objek.
3. Satu tetes kecil darah diletakkan pada 2 3 mm dari ujung kaca
objek.Kaca penghapus diletakkan dengan sudut 30 45 derajat terhadap
kaca objek didepan tetes darah.
4. Kaca pengapus ditarik kebelakang sehingga tetes darah , ditunggu sampai
darah menyebar pada sudut tersebut.
5. Dengan gerak yang mantap, kaca penghapus didorong sehingga terbentuk
apusan darah sepanjang 3 4 cm pada kaca objek. Darah harus habis
sebelum kaca penghapus mencapai ujung lain dari kaca objek. Apusan
darah tidak bolah terlalu tipis atau terlalu tebal, ketebalan ini dapat diatur
dengan mengubah sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan
menggeser. Makin besar sudut atau makin cepat menggeser, maka makin
tipis apusan darah yang dihasilkan.
6. Apusan darah dibiarkan mengering di udara. Identitas pasien ditulis pada
bagian tebal apusan dengan pensil kaca.
b. Cara memulas sediaan apus
1. Letakkan sediaan apus pada dua batang gelas di atas bak tempat
pewarnaan.
2. Fiksasi sediaan apus dengan metanol absolut 2 3 menit.
3. Genangi sediaan apus dengan zat warna Giemsa yang baru diencerkan.
Larutan Giemsa yang dipakai adalah 5%, diencerkan dulu dengan
larutan dapar. Biarkan selama 20 30 menit.
4. Bilas dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian
lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna.
Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan
mengering.
5. Lihat darah di bawah mikroskop
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan

Pulasan
Pulasan giemsa

Trombosit
Jumlah

Eritrosit
Normal

Leukosit
Normal

17

Normal dewasa:

Laki-laki

150.000-

5.000.000-

400.000/mm

6.000.000/ml

: 5.000-10.000

Normal anak-anak Wanita :


:

4.000.000-

150.000-

5.000.000/ml

450.000/mm
Bentuk :

Bentuk :

Tidak

Tidak berinti dan Tidak

beraturan,tidak

bikonkaf

berinti

Bentuk :
berwarna

dan memiliki inti

dan

diameter kecil
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan
B. Pembahasan
Sediaan apus darah adalah suatu sarana yang digunakan untuk menilai
berbagai unsure sel darah tepi, seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit. Selain itu
dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi adanya parasit seperti malaria,
mikrofilaria, dan lain-lain. Sediaan apus yang dibuat dan dipulas dengan baik
merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang terbaik
merupaka syarat mutlak untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik.
Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari kapiler
atau vena dengan atau tanpa EDTA. Sediaan yang disimpan tanpa difiksasi
terlebih dulu tidak dapat dipulas sebaik sediaan segar. Kebanyakan cara memulas
sediaan darah menggunakan prinsip Romanowski, seperti Wright, Giemsa, MayGrunwald-Biemsa atau Wright-Giemsa (Murtiati dkk, 2010).
Praktikum mengenai sediaan apus darah kali ini bertujuan untuk mengamati
dan menilai berbagai unsure sel darah pada manusia seperti sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Berdasarkan
Murtiati, dkk (2010), sediaan apus darah juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi adanya parasit seperti malaria, microfilaria, dan lain-lain.
Namun pada praktikum kali ini hanya dilakukan pengamatan untuk mengetahui
deskripsi bentuk dari berbagai sel darah dan menilai persentase sel darah yang
teramati.

18

Sediaan apus darah dilakukan dengan menggunakan bahan darah segar yang
berasal dari kapiler atau vena OP. OP pada praktikum ini adalah nurhayati.
Pertama praktikan mengambil darah dari ujung jari telunjuk tangan kiri
menggunakan blood lancet atau slat suntik kemudian mencampurkannya dengan
EDTA supaya tidak cepat membeku. Setelah itu praktikan menaruhnya ke kaca
objek. Kemudian menyentuhkan kaca penutup ke tetesan darah hingga darah
melebar. Selanjutnya membentuk sudut 30-400 dengan kaca penutup, lalu
digerakkan ke kiri membentuk apusan darah yang tidak terlalu tipis ataupun
terlalu tebal karena jika terlalu tebal maka saat pengamatan di bawah mikroskop
akan terlihat tidak jelas karena sel darah bertumpuk.
Setelah mendapat sediaan yang bagus (tidak tebal dan tipis), maka
membiarkannya hingga kering, setelah itu meneteskan metanol ke atas sediaan
hingga bagian yang terlapisi darah tertutup semuanya dan membiarkannya selama
5 menit. Fungsi metanol adalah untuk memfiksasi darah sehingga darah tidak
hilang saat diamati. Selanjutnya sediaan diteteskan dengan giemsa yang telah
diencerkan dengan air dan membiarkannya selama 20 menit dan membilasnya
dengan air dan mengeringkannya. Fungsi giemsa adalah untuk mewarnai darah
sehingga mudah dibedakan dan dapat terlihat jelas saat diamati. Waktu
perendaman ini sebaiknya jangan terlalu lama karena darah bisa tidak terlihat
akibat pewarnaan yang terlalu pekat.
Selanjutnya setelah sediaan apus darah telah selesai, maka dilakukan
pengamatan dengan menggunakan mikroskop untuk memeriksa sediaan apus
darah. Sebelum pengamatan sediaan apus darah diteteskan minyak emersi terlebih
dahulu, tujuan pemberian minyak emersi ini yaitu untuk mencegah kerusakan
pada mikroskop. Dengan perbesaran lemah (100x), praktikan hanya melihat bulatbulat kecil yang sangat banyak dan belum terlihat jelas perbedaan antara leukosit,
eritrosit dan trombosit.
Setelah menggunakan pembesaran 400x, praktikan menemukan ukuran
eritrosit yang kecil, berbentuk bulat bikonkaf tidak berinti, dan berwarna ungu
bening. Warna ungu ini akibat pewarnaan dengan giemsa, sehingga warna darah
yang semula merah, setelah diamati di mikroskop berubah menjadi ungu. Hal ini
sesuai dengan literatur yaitu eritrosit berbentuk cakram bikonkaf atau cakram
pipih, sel tidak berinti dan tidak punya organel seperti sel-sel lain. Eritrosit

19

berukuran sekitar 7,5m dan bagian pusat lebih tipis dan lebih terang dari bagian
tepinya. Selain itu, eritrosit mengandung hemoglobin yang berfungsi untuk
mentransport O2 (Dikaamelia, 2008).
Pembentukan eritrosit atau eritropoiesis terjadi di sumsum merah yang
terletak pada tulang belakang, sternum (tulang dada), tulang rusuk, tengkorak,
tulang belikat, tulang panggul serta tulang-tulang anggota badan (kaki dan
tangan). Eritrosit berumur pendek. Tidak adanya inti pada eritrosit menyebabkan
eritrosit tidak mampu mensintesis protein untuk tumbuh, atau untuk
memperbanyak diri (Dikaamelia, 2008). Namun dengan tidak adanya inti pada
eritrosit dan dengan bentuk yang berupa bikonkaf maka eritrosit memiliki
kemampuan yang optimal dalam mengikat oksigen sehingga kebutuhan akan
oksigen menjadi terpenuhi. Itu sebabnya apabila seseorang menderita penyakit sel
sabit, yaitu penyakit yang disebabkan karena struktur eritrositnya berbentuk
seperti bulan sabit, memiliki kemampuan mengikat oksigen yang lebih sedikit
sehingga membuat penderita menjadi anemia dan lemah.
Pada pengamatan di praktikum ini tidak ditemukan eritrosit yang berbentuk
selain bikonkaf, itu artinya OP tidak menderita kelainan struktur eritrosit.
Kelainan pada struktur eritrosit dapat disebabkan karena faktor genetika ataupun
lingkungan.
Kemudian didapatkan beberapa jenis leukosit, namun praktikan tidak mampu
mengidentifikasinya apakah termasuk basofil, eosinofil, batang, neutrofil, limfosit
ataupun monosit. Hal tersebut karena keterbatasan pembesaran pada mikroskop
yang digunakan sehingga tidak dapat terlihat dengan jelas bentuk dari inti sel
leukosit tersebut. Penggolongan leukisit menjadi 5 macam merupakan
penggolongan berdasarkan ukuran sel, bentuk nukleus, da ada tidaknya granula
sitoplasma sehingga perlu pengamatan yang lebih teliti dan perbesaran mikroskop
yang baik serta dapat pula dibantu dengan menggunakan minyak emersi.
Berdasarkan referensi, sel neutrofil memiliki granula kecil berwarna merah
muda dalam sitoplasmanya. Nukleusnya memiliki tiga sampai lima lobus yang
terhubungkan dengan benang kromatin tipis. Diameternya mencapai 9 m
samapai 12 m. Sel eosinofil memiliki granula sitoplasma yang kasar dan besar,
dengan pewarnaan oranye kemerahan. Sel ini memiliki nukleus berlobus dua, dan
berdiameter 12 m sampai 15 m. Berfungsi sebagai fagositik lemah. Sedangkan
basofil memiliki sejumlah granula sitoplasma besar yang bentuknya tidak

20

beraturan dan akan berwarna keunguan sampai hitam serta memperlihatkan


nukleus berbentuk S. diameternya sekitar 12 m sampai 15 m (Sloane, 2003).
Untuk kelompok leukosit yang merupakan agranulosit yaitu lomfosit dan
monosit, diperoleh data berdasarkan refernsi bahwa limfosit bergaris tengah 6-8
m, 20-30% dari leukosit darah, memiliki inti yang relatif besar, bulat sedikit
cekung pada satu sisi. Sitoplasmanya sedikit dan kandungan basofilik dan
azurofiliknya sedikit (Efendi, 2003). Sedangkan monosit merupakan sel leukosit
yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan
darah kering diameter mencapai 20 m atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya
lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda (Efendi, 2003).
Menurut referensi yang diperoleh, jenis sel darah putih yang paling banyak
adalah netrofil dengan presentase sebesar 50-70 %, sedangkan yang paling sedikit
adalah basofil, yaitu 0,1-0,4 %.
Monosit berfungsi untuk membunuh bakteri, fungsi monosit ini sama dengan
neutrofil, hanya jumlahnya saja yang berbeda. Jumlah monosit yang tinggi
menunujukkan disel sedang terjadi infeksi. Berdasarkan pengamatan, jumlah
monsit sedikit, sehingga neutrofilpun kurang aktif dalam merespon perusakan
jaringan. Dengan kata lain, jumlah neutrofil dalam darah yang seharusnya
mempunyai kadar/jumlah yang tinggi dalam darah menjadi menurun jumlahnya.
Limfosit berfungsi sebagai elemen kunci dalam respon kekebalan tubuh. Kadar
limfosit yang banyak diduga karena sedikitnya jumlah neutofil dalam darah.
Sehingga untuk mempertahankan kekebalan tubuh, maka limfositlah yang bekerja
secara aktif.
Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri
serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan
tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam
jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah. Eosinofil terutama berhubungan
dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan
banyaknya parasit. Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi reaksi
alergi antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan
peradangan.
Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis
limfosit yaitu Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen lalu
menghancurkannya. (Sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat

21

patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan


kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem 'memori').
Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi ) serta
penting untuk menahan bakteri intraseluler. Sel natural killer merupakan sel
pembunuh alami (natural killer, NK) yang dapat membunuh sel tubuh yang tidak
menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi atau
telah menjadi kanker.
Sedangkan trombosit yang teramati yaitu trombosit berukuran sangat kecil
terlihat seperti titik atau bercak yang berada di luar sel dan berwarna ungu. Hal ini
sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa trombosit adalah sel darah tak
berinti, berbentuk cakram dengan diameter 1 - 4 mikrometer dan volume 7 8 fl..
Nilai normal trombosit bervariasi sesuai metode yang dipakai. Jumlah trombosit
normal menurut Deacie adalah 150 400 x 109 / L. Bila dipakai metode Rees
Ecker nilai normal trombosit 140 340 x 109/ L, dengan menggunakan Coulter
Counter harga normal 150 350 x 109/L.
Dari ketiga macam sel darah yang teramati diperoleh persentasenya yaitu
eritrosit sebanyak 70% dari lapang pandang yang diamati, leukosit sebanyak 10%
dan trombosit sebanyak 20%. Berdasarkan referensi juga disebutkan bahwa
persentase sel darah merah (eritrosit) pada tubuh merupakan yang paling besar.
Sedangkan leukosit memiliki jumlah yang lebih sedikit daripada sel eritrosit.
Dalam Sloane (2003), disebutkan bahwa jumlah eritrosit pada laki-laki sehat
mencapai 4,2 hingga 5,5 juta sel per mm3 dan sekitar 3,2 hingga 5,2 juta per mm3
pada wanita sehat, sedangkan jumlah normal leukosit adalah 7000 sampai 9000
per mm3 dan trombosit berjumlah 250.000 sampai 400.000 per mm3. Hal tersebut
sesuai dengan hasil pengamatan yaitu jumlah eritrosit > trombosit > leukosit.
Meskipun berjumlah paling sedikit dari ketiga sel darah yang ada, fungsi leukosit
pada tubuh sangat penting, dimana dalam keadaan sakit atau terserang benda
asing maka jumlah leukosit dapat meningkat.
Praktikum anatomi fisiologi manusia kali ini adalah pembuatan apus darah
manusia menggunakan metode apus/ smear/ oles. Darah yang digunakan adalah
darah manusia . Berdasarkan foto dari hasil pengamatan preparat apus darah
manusia dengan pewarnaan Giemsa diketahui bahwa preparat secara fisik cukup

22

baik, bersih, dan terwarna. Dapat terlihat adanya eritrosit dalam jumlah banyak
dan leukosit.
Eritrosit yang diamati berwarna agak bening transparan. Eritrosit berbentuk
bulat, dengan bentuk seperti cekungan (cakram) pada sisi dalam (tengah) dan tak
berinti. Leukosit ditunjukkan dengan sel yang memiliki inti berwarna ungu. Warna
ungu disebabkan oleh inti leukosit yang basa sehingga mudah menyerap zat warna
giemsa. Leukosit yang paling banyak dijumpai ialah neutrofil dan monosit
berkisar antara 10-15%, serta sedikit eosinofil dengan presentase kurang dari 5%.
Presentase neutrofil memang paling banyak dalam darah, yaitu mencapai 50-70%
dari jumlah leukosit yang ada. Ditemukanya leukosit dalam preparat apus darah
menunjukkan bahwa pendonor sdang mengalami sakit berkaitan dengan fungsi
leukosit sebagai bentuk pertahanan tubuh manusia.
Preparat tampak rapat namun sel-selnya dapat teramati dengan baik karena
tidak bertumpuk, sehingga dapat dikatakan ketipisan apusan sudah cukup baik.

23

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
Apusan darah merupakan salah satu cara mengamati materi-materi yang ada
dalam darah baik materi padat materi cairnya. Materi padat terdiri dari sel darah
merah sel darah putih, keeping-keping darah. Setelah diamati menggunakan
mikroskop tampak butiran-butiran dari eritrosit seperti gambar dibawah ini:
Saat pewarnaan preparat menggunakan larutan Giemsa harus ditunggu sampai
kering terlebih dahulu baru dicuci dengan air mengalir sebab apabila belum kering
tetapi sudah dicuci maka ketika diamati menggunakan mikroskop maka darah akan
terlihat menggumpal. Eritrosit yang diamati berbentuk butiran-butiran kecil berwarna
merah dalam jumlah yang banyak dan pada bagian tengahnya seperti terdapat
lekukan.
Neutrofil adalah adalah bagian sel darah putih dari kelompok granulosit. Bersama
dengan dua sel granulosit lain: eosinofil dan basofil yang mempunyai granula pada
sitoplasma, disebut juga polymorphonuclear karena bentuk inti sel mereka yang
aneh. Granula neutrofil berwarna merah kebiruan dengan 3 inti sel.
Eosinofil merupakan sel darah putih bergranulasit yang berfungsi untuk
kekebalan tubuh. Limfosit adalah sejenis sel darah putih pada sistem kekebalan
makhluk vertebrata. Ada dua kategori besar limfosit, limfosit berbutiran besar (large
granular lymphocytes) dan limfosit kecil. Limfosit memiliki peranan penting dan
terpadu dalam sistem pertahanan tubuh.
Pada praktikum apusan darah yang tampak bagian eritrosit (sel darah merah) dan
leukosit . Sel darah merah merupakan salah satu komponen darah yang berbentuk
padat, ukuran partikelnya sangat kecil. Mengandung hemoglobin yang berfungsi
untuk mengikat oksigen. Eritrosit tampak berdiri sendiri dan berada dalam sebuh
cairan yang disebut dengan plasma darah yaitu cairan tempat seluruh sel-sel darah.
Untuk sel darah putih diantaranya limfosit, neutrofil dan juga eosinophil. Dengan
praktikum apusan darah dapat mengetahui bentuk-bentuk darah. Diantara materimateri padat darah terdapat cairan yang disebut dengan plama darah.

24

DAFTAR PUSTAKA
Frandson, 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Kadaryanto, S.Pd. dkk, 2007. Biologi 3 Megungkap rahasia alam kehidupan.
Jakarta : Yudhistira.
Kadaryanto, S.Pd. dkk, 2004. Biologi 2 Megungkap rahasia alam kehidupan.
Jakarta : Yudhistira.
Kelley, R., 1995. Histologi dasar . Jakarta : EGC.
Pearce, E.,2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama

LAMPIRAN

GAMBAR ALAT DAN BAHAN

Gambar 1. Tabung reaksi

Gambar 2. Objek glass

Gambar 3. Rak

Gambar 4. Pipet

Gambar 5. Mikroskop