Anda di halaman 1dari 16

PELAKSANAAN UPSUS PAJALE DI KABUPATEN SLEMAN

1. UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman


Pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi pangan supaya mencapai angka
aktual yang dirancang dalam program UPSUS PAJALE dalam rangka memenuhi kebutuhan
pangan dalam negeri. Selain itu ada peluang bagi petani sebagai produsen utama bahan pangan
untuk meningkatkan taraf hidup dan kualitas hidupnya. Mewujudkan swasembada beras
menjadi keharusan, swasembada adalah yang menjadi pilar kedaulatan pangan. Berdaulat
pangan tidak hanya berarti bahwa setiap saat pangan tersedia dalam jumlah yang cukup, mutu
yang layak, aman dikonsumsi, dan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat akan tetapi
berdaulat pangan juga berarti memiliki kemandirian dalam memproduksi pangan.
UPSUS PAJALE merupakan gerakan yang berhasil memobilisasi potensi sumberdaya
yang ada untuk ikut menyukseskan tujuan dari program tersebut. Penyuluh pertanian, Dinas
Pertanian, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Babinsa, mahasiswa, dan
Perguruan Tinggi, semuanya bergerak untuk mendorong produksi padi, jagung dan kedelai
nasional khususnya di Kabupaten Sleman. Semuanya itu telah memberikan makna baru bagi
pembangunan pertanian pangan Indonesia tahun 2015. Sejarah pembangunan pertanian juga
telah mencatat bahwa pemerintah mampu dan memberikan perhatian secara khusus di sektor
pertanian pangan, sebagaimana pada era pemerintahan Orde Baru.
UPSUS PAJALE Kabupaten Sleman dilaksanakan mulai bulan Januari hingga
Desember 2015. Pada kegiatan ini Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan fokus terhadap
komoditas Padi dan Jagung. UPSUS PAJALE dilaksanakan di 15 kecamatan di Kabupaten
Sleman yakni Kecamatan Moyudan, Minggir, Seyegan, Godean, Gamping, Mlati, Berbah,
Prambanan, Kalasan, Ngemplak, Ngaglik, Sleman, Tempel, Pakem, Cangkringan.

2. Mekanisme dan Tata Hubungan Kerja Antar Lembaga dalam Pelaksanaan UPSUS
PAJALE di Kabupaten Sleman
Berdasarkan pada Permentan Nomor 131/Permentan/OT.140/12/2014 tentang
Mekanisme dan Hubungan Kerja antar Lembaga yang membidangi pertanian dalam
mendukung peningkatan produksi pangan strategis nasional. Program Swasembada Padi,
Jagung dan Kedelai melalui UPSUS PAJALE didukung oleh semua elemen bangsa, baik
pemerintah pusat, pemerintah daerah, pendidikan tinggi, kelembagaan penyuluh, kelembagaan
petani maupun petani sendiri sebagai pengelola sekaligus pelaku usaha pertanian. Pola

mekanisme dan hubungan tata kerja UPSUS PAJALE 2015 dari tingkat pusat hingga tingkat
kecamatan dapat dilihat pada Gambar 1

Gambar 1 Mekanisme dan Tata Hubungan Kerja Antar Lembaga dalam Pelaksanaan UPSUS
PAJALE 2015
(Sumber: Modul Pendampingan UPSUS PAJALE 2015)
Berdasarkan Gambar 1 dapat diketahui pengawalan dan pendampingan UPSUS
PAJALE dilaksanakan dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten, dan kecamatan. Pelaksanaan
UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman menjadi kewenangan Dinas Pertanian, Perikanan, dan
Kehutanan. Secara khusus UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman digerakkan oleh Bidang
Tanaman Pangan Hortikultura dan Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan. Bidang
Tanaman Pangan Hortikultura dan Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan secara langsung
berkoordinasi dengan UPT BP3K Wilayah I, II, III, IV, V, VI, VII, dan VIII. UPT BP3K
menjadi induk PPL dan THL-TBPP dalam melaksanakan tugas penyuluhan.
Pelaksanaan UPSUS PAJALE secara nasional melibatkan Babinsa, hal ini terjadi
dikarenakan TNI Angkatan Darat telah menjalin kerjasama dengan Menteri Pertanian. Alur

koordinasi TNI AD yang terlibat dalam pelaksanaan UPSUS PAJALE dilaksanakan dari
Kodam, Korem, Kodim, dan Koramil. Koramil merupakan induk dari Babinsa, Babinsa yang
berada di Koramil memiliki tugas untuk melakukan pendampingan dan pengawalan sesuai
dengan wilayah kerja masing-masing yang sudah ditetapkan.

3. Peran Penyuluh, Babinsa, dan Mahasiswa Pendamping dalam Pelaksanaan UPSUS


PAJALE
Dalam rangka mencapai swasembada berkelanjutan padi dan jagung serta swasembada
kedelai, Kementerian Pertanian melakukan upaya khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi
Padi, Jagung dan Kedelai. Guna menyukseskan UPSUS PAJALE tersebut, penyuluh dan
Babinsa merupakan salah satu unsur penting dalam menggerakkan petani sebagai pelaku utama
untuk dapat menerapkan teknologi.
UPSUS PAJALE tersebut perlu didukung dengan implementasi secara nyata di
lapangan dengan memberikan perhatian yang serius dari semua pihak, termasuk perguruan
tinggi sebagai komunitas masyarakat akademis, dalam hal ini adalah civitas akademika yang
terdiri atas dosen dan mahasiswa. Mahasiswa sebagai tenaga pendamping yang energik untuk
berpartisipasi aktif dalam membantu peningkatan kinerja penyuluh pertanian, sedangkan
penyuluh dan Babinsa dapat berperan aktif sebagai komunikator, fasilitator, advisor, motivator,
edukator, organisator dan dinamisator dalam rangka terlaksananya kegiatan UPSUS
peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai untuk mencapai swasembada berkelanjutan.
Kerjasama antara penyuluh pertanian lapangan, Babinsa, dan mahasiswa pendamping
pada kegiatan UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman dapat dikoordinasikan dengan baik. PPL
menyuluhkan hal-hal teknis yang berkaitan dengan kegiatan persiapan, tanam, dan pasca
panen. Mahasiswa pendamping secara aktif mengikuti setiap kegiatan dan memberi dukungan
dari bagian teknologi dan administrasi sedangkan Babinsa mendorong petani melalui gerakan.
Babinsa menggerakkan dan memotivasi petani untuk melaksanakan: (a) tanam serentak; (b)
perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi; serta (c) gerakan pengendalian OPT dan panen,
melaksanakan pengamanan: (a) penyaluran benih, pupuk, dan alsintan; (b) infrastruktur
jaringan irigasi, dan melakukan pengawasan terhadap pemberkasan administrasi dan
penyaluran bantuan kepada penerima manfaat. Secara totalitas kegiatan UPSUS PAJALE di
Kabupaten Sleman berjalan sesuai dengan perencanaan dan prosedur serta terjadi kenaikan
produktivitas.

Gambar 2 Pelaksanaan UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman

4. Kegiatan UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman


Kabupaten Sleman berupaya keras menyukseskan kedaulatan pangan dalam tiga tahun,
yaitu pada tahun 2017. Kabupaten Sleman secara serius, sistematis, dan terfokus melakukan
identifikasi kunci permasalahan. Terdapat enam masalah mendasar yang meliputi benih,
pupuk, penyuluh pertanian, infrastruktur irigasi, harga, dan koordinasi dengan instansi terkait.
Mengingat permasalah tersebut, sesuai dengan petunjuk kegiatan UPSUS PAJALE dari
Kementrian Pertanian maka Kabupaten Sleman Sleman melalui Dinas Pertanian, Perikanan,
dan Kehutanan Kabupaten melaksanakan kegiatan berikut:
4.1 Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT)
Jaringan irigasi merupakan kebutuhan primer yang menjadi permasalahan klasik bagi
petani. Permasalahan irigasi yang terjadi mulai dari permasalahan terkait ketersediaan pasokan
air hingga sarana prasarana irigasi yang kurang memadai. Upaya yang dilakukan pemerintah
untuk mengatasi permasalah ketersediaan pasokan dan distribusi air pada lahan pertanian
adalah dengan membangun jaringan irigasi tersier. Pada umumnya irigasi tersier di Kabupaten
Sleman sudah mengalami kerusakan bahkan ada yang masih berbentuk saluran seadanya.

Irigasi tersier merupakan hal penting untuk direhabilitasi dikarenakan berhubungan langsung
dengan lahan pertanian.
Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier bertujuan untuk menjamin ketersediaan pasokan
air yang diperlukan untuk tanaman padi, jagung, dan kedelai. Pemerintah memberi bantuan
dana pembangunan irigasi tersier untuk meningkatkan pasokan irigasi sampai ke sawah
diharapkan bisa meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi dan luasan areal padi yang terairi.
Pemerintah memberikan paket bantuan RJIT kepada 120 kelompok tani yang ada
tersebar di 14 kecamatan. Paket bantuan tersebut diberikan kepada masing-masing kelompok
tani sebesar Rp. 25.000.000 dalam bentuk tunai untuk dibelanjakan material bangunan,
kelompok tani dapat mencairkan dana bantuan RJIT dalam tiga tahapan yaitu 50%, 30%, dan
20%. Total anggaran RJIT yang dikeluarkan pemerintah mencapai Rp.3.000.000.000. Setiap
paket bantuan tersebut digunakan untuk membangun atau merehabilitasi jaringan irigasi
sepanjang 200 meter. Pembangunan maupun rehabilitasi tersebut dikerjakan oleh petani yang
tergabung dalam kelompok tani tersebut. Masyarakat dilibatkan dalam proses perencanaan
(bottom up planning) sehingga menimbulkan rasa memiliki (sense of belonging).Adanya
bantuan tersebut diharapkan dapat memperlancar distribusi dan memenuhi pasokan air untuk
lahan pertanian seluas 3000 ha. Lokasi kegiatan rehabilitasi RJIT di Kabupaten Sleman dapat
dilihat pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Lokasi Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier APBN-P 2015
Persentase
Persentase
Kecamatan Jumlah Kelompok Penerima
Luasan (Ha)
(%)
(%)
Moyudan
17
14,17
425
14,17
Minggir
11
9,17
275
9,17
Seyegan
8
6,67
200
6,67
Godean
12
10,00
300
10,00
Gamping
11
9,17
275
9,17
Mlati
4
3,33
100
3,33
Berbah
9
7,50
225
7,50
Kalasan
2
1,67
50
1,67
Ngemplak
15
12,50
375
12,50
Ngaglik
8
6,67
200
6,67
Sleman
5
4,17
125
4,17
Tempel
7
5,83
175
5,83
Pakem
3
2,50
75
2,50
Cangkringan
8
6,67
200
6,67
100,00
100,00
Total
120
3000
Sumber: Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, 2015 (diolah)

4.2 Penyediaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan)


Penyediaan Alsintan bertujuan untuk menjamin pengolahan lahan, penanaman, irigasi,
pemanenan, serta pengolahan pasca panen. Pemerintah memberi bantuan alsintan kepada
gabungan kelompok tani maupun kelompok tani berupa Rice Mill Unit (mesin penggiling
beras), Combine Harvester (mesin panen kombinasi), Corn Sealer (mesin pengupas jagung),
Power Threaser (mesin penebah padi), pompa air, dan traktor.
Pemerintah memberikan bantuan 1 Rice Mill, 6 Combine Harvester, 6 Corn Sealer, 4
Power Threaser, 19 pompa air, dan 20 traktor. Bantuan Alsintan tersebut didistribusikan di 14
kecamatan dan diterima secara langsung oleh 56 Gapoktan maupun kelompok tani di
Kabupaten Sleman. Momentum ini bisa menjadi pendorong terjadinya modernisasi pertanian
di pedesaan. Modernisasi pertanian melalui mekanisasi menjadi suatu solusi yang efisien untuk
menggantikan pola usaha tani manual dan mengatasi keterbatasan jumlah tenaga kerja. Minat
generasi muda pada pertanian meningkat seiring pemanfaatan alat dan mesin pertanian.
Alokasi Bantuan peralatan sarana prasarana pertanian dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2 Bantuan Peralatan Sarana Prasarana Pertanian
Jenis Bantuan (Unit)
Kecamatan Rice
Combine
Corn
Power
Pompa Traktor
Mill
Harvester
Sealer
Threaser
Air
Minggir
1
2
Seyegan
2
Godean
2
Gamping
1
Mlati
1
1
3
3
Berbah
1
1
Prambanan
1
1
2
1
Kalasan
1
1
2
Ngemplak
1
1
1
4
1
Ngaglik
1
2
2
1
Sleman
2
3
Tempel
1
2
2
Pakem
1
2
1
Cangkringan
1
Total
1
6
6
4
19
20
Sumber: Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, 2015 (diolah)

4.3 Penyediaan dan Penggunaan Benih Unggul


Pemerintah memberi bantuan benih unggul untuk petani guna menjamin peningkatan
produktivitas lahan dan produksi. Benih yang berkualitas tinggi ditunjukkan dengan
kemurnian benih, yaitu tidak tercampur atau terkontaminasi oleh benih dari varietas lain,
terbebas dari gulma, kotoran dan jamur atau penyakit yang menempel di benih, serta berdaya
kecambah tinggi. Untuk itu diperlukan pengujian daya kecambah sebelum benih disemai
pada persemaian.
Bantuan benih diberikan melalui kelompok tani. Varietas benih padi yang diterima
antara lain Situ bagendit, Mekongga, IR 64, dan Inpari. Setiap anggota kelompok tani
menerima bantuan benih sesuai dengan jatah yang disesuaikan dengan luasan lahan. Total
benih yang diberikan oleh kelompok tani sebanyak 625 Kg dengan luasan target tanam 25
ha atau setiap hektar luasaan tanam menerima benih sebanyak 25 kg. Pendistribusian benih
kepada kelompok tani berjalan lancar dan benih yang diterima petani dalam kondisi yang
baik. Kendala terjadi pada saat penyaluaran benih kepada petani secara langsung. Hal ini
terjadi dikarenakan jumlah luasan sawah berbeda-beda ditambah luas sawah yang tidak
terlalu luas sehingga bantuan benih yang didapat masing-masing petani berbeda.

4.4 Penyediaan dan Penggunaan Pupuk Berimbang


Mayoritas petani memberikan pupuk kimia pada setiap musim tanam sehingga dapat
dipastikan hal tersebut dapat mempengaruhi kesuburan tanah terlebih pemupukan yang
dilakukan secara berlebihan dan hanya mengandalkan satu jenis pupuk. Melihat kondisi
tersebut maka pemerintah memberi bantuan pupuk untuk petani guna menjamin
pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal. Pemupukan berimbang dilakukan dengan
pemberian berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam bentuk pupuk untuk
memenuhi kebutuhan hara yang dibutuhkan tanaman. Berikut rincian kelompok tani
penerima bantuan sarana produksi padi dapat dilihat pada Tabel 3

Tabel 3. Kelompok Penerima Manfaat Bantuan Sarana Produksi Padi


Kelompok
Persentase
Kecamatan
Luasan (Ha)
Persentase (%)
Penerima
(%)
22
Moyudan
11,00
550
11,00
17
Minggir
8,50
425
8,50
14
Seyegan
7,00
350
7,00
17
Godean
8,50
425
8,50
11
Gamping
5,50
275
5,50
5
Mlati
2,50
125
2,50
12
Berbah
6,00
300
6,00
5
Prambanan
2,50
125
2,50
10
Kalasan
5,00
250
5,00
33
Ngemplak
16,50
825
16,50
14
Ngaglik
7,00
350
7,00
9
Sleman
4,50
225
4,50
7
Tempel
3,50
175
3,50
12
Pakem
6,00
300
6,00
12
Cangkringan
6,00
300
6,00
200
Total
100,00
5000
100,00
Sumber: Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, 2015 (diolah)
Kelompok tani mendapatkan bantuan pupuk urea dan NPK dengan total 1.250 kg total
luasan areal yang dijangkau mencapai 25 ha. Pupuk yang diterima oleh kelompok tani
selanjutnya didistribusikan secara merata kepada anggota kelompok tani. Distribusi pupuk
dilakukan secara tepat waktu akan tetapi terjadi perubahan jadwal tanam sehingga
sementara pupuk tersebut disimpan di gudang penyimpanan kelompok kemudian dibagikan
ketika musim tanam tiba.

4.5 Pengaturan musim tanam dengan menggunakan menggunakan Kalender Musim


Tanam (KATAM)
Pemerintah melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menerbitkan
KATAM guna menjamin pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal. Penerbitan
KATAM dilakukan sebagai bentuk antisipasi dampak perubahan iklim terhadap sektor
pertanian antara lain perubahan awal musim tanam dan panen, pola tanam, serta luas tanam.
KATAM memberikan informasi spasial dan tabular terkait prediksi musim, awal tanam,
pola tanam, luas lahan potensial, wilayah rawan banjir maupun kekeringan, potensi serangan
OPT, rekomendasi pemupukan, serta rekomendasi varietas. Adanya KATAM untuk setiap

kecamatan, petani diharapkan dapat menentukan waktu tanam terbaik dan sekaligus
menetapkan varietas yang sesuai, dan pemupukan yang rasional.
Realisasi penggunaan KATAM di lapangan berjalan tidak sesuai harapan. Petani
mayoritas berusia diatas 50 tahun sehingga sulit untuk menerima informasi mengenai
KATAM meskipun sudah dilakukan sosialisasi. Petani di lapangan mengandalkan pranata
mangsa sebagai pedoman musim tanam maupun musim panen.

4.6 Pelaksanaan Program Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT)


GP-PTT merupakan program nasional untuk meningkatkan produksi tanaman pangan.
GP-PTTdilakukan melalui pendekatan inovatif secara massal kepada petani yang termasuk
dalam kelompok tani untuk melaksanakan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
dalam mengelola usaha tani. Adanya GP-PTT ini diharapkan mampu meningkatkan
produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan. GP-PTT.
Pelaksanaan GP-PTT di Kabupaten Sleman fokus pada dua komoditas yaitu padi dan
jagung. GP-PTT Padi dilaksanakan di Kecamatan Berbah, Kalasan, dan Prambanan dengan
target tanam seluas 2.500 ha sedangkan GP-PTT Jagung dilaksanakan di Kecamatan Tempel,
Ngaglik, dan Sleman dengan target tanam seluas 500 ha. Rangkaian GP-PTT dilaksanakan
pada bulan Januari- Desember 2015 dimulai dari penetapan kelompok tani pelaksana hingga
evaluasi. Rincian pelaksanaan GP-PTT dapat dilihat pada Tabel 4

Tabel 4. Matrik Pelaksanaan GP-PTT Tahun 2015


No

Kegiatan

1
Penetapan kelompok tani pelaksana GP-PTT
2
Koordinasi dengan instansi terkait
3
Koordinasi dengan penyedia saprodi
4
Sosialisasi ke kelompok tani
5
Penyusunan RUK
6
Pembukaan rekening dan Pencairan dana
7
Belanja saprodi
8
Tanam
9
Pemeliharan
10 Panen
11 Monitoring
12 Pelaporan
13 Evaluasi
Sumber: Analisis Data Primer, 2016

2 3

4 5

Bulan
6 7 8 9

10 11 12

Pemerintah memberikan paket bantuan dalam bentuk uang kepada kelompok tani
pelaksana. Bantuan yang diberikan kepada kelompok tani berupa uang tunai sebesar Rp.
2.900.000 yang kemudian dapat dicairkan untuk pembelian saprodi dan operasional kegiatan
GP-PTT. Pencairan dapat dilakukan setelah dilakukan penandatangan slip penarikan dengan
mengetahui Kepala Bidang Kabupaten Sleman dan ketua kelompok tani. Rincian paket bantuan
GP-PTT setiap hektar sawah dapat dilihat pada Tabel 5
Tabel 5 Paket Bantuan Program GP-PTT Padi Per Kelompok Tani Per Hektar
No
Jenis Bantuan
Jumlah
Harga satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1
Benih
25 kg
9.000
225.000
2
Pupuk urea
200 kg
1.800
360.000
3
Pupuk NPK
300 kg
2.300
690.000
Pupuk Organik
1400 kg
5.00
700.000
3
Pestisida
2 liter
150.000
300.000
4
Sosialisasi
4 kali
56.250
225.000
5
Bantuan tanam
1 kali
400.000
400.000
Jumlah
2.900.000
Sumber: Analisis Data Primer, 2016
Pelaksanaan GP-PTT Padi memberikan penekanan dengan aplikasi sistem legowo
adalah suatu rekayasa teknologi untuk mendapatkan populasi tanaman lebih dari 160.000 per
hektar. Penerapan tanam jajar legowo bertujuan untuk meningkatkan populasi pertanaman dan
menjaga kelancaran sirkulasi sinar matahari serta tanaman dapat berfotosintesa lebih baik.
Penerapan sistem tanam legowo menggunakan jarak tanam 25 cm x 25 cm antar rumpun
dalam baris; 12.5 cm jarak dalam baris; dan 50 cm sebagai jarak antar barisan atau 25 cm x
12.5 cm x 50 cm. Penggunaan jarak tanam rapat dihindari dikarenakan akan menyebabkan
jarak dalam baris sangat sempit. Penjelasan terkait sistem tanam legowo 2:1 dan 4:1 sebagai
berikut:
1. Sistem Tanam Legowo 2:1
Sistem tanam legowo 2:1 akan menghasilkan jumlah populasi tanaman per ha
sebanyak 213.300 rumpun, serta akan meningkatkan populasi 33,31% dibanding pola
tanam tegel 25 cm x 25 cm yang hanya 160.000 rumpun/ha. Dengan pola tanam ini,
seluruh barisan tanaman akan mendapat tanaman sisipan.

Gambar 3 Sistem Tanam Legowo 2 : 1

2. Sistem Tanam Legowo 4:1


Sistem tanam legowo 4:1 merupakan pola tanam legowo dengan keseluruhan
baris mendapat tanaman sisipan. Pola ini cocok diterapkan pada kondisi lahan yang
kurang subur. Penerapan pola Sistem tanam legowo 4:1

mampu meningkatkan

populasi tanaman dengan peningkatan populasi sebesar 60% dibanding pola tegel 25
cm x 25 cm.

Gambar 4. Sistem Tanam Legowo 4 : 1

Kegiatan lain dalam UPSUS PAJALE antara lain Perluasan Areal Tanam (PAT) Jagung
dan Kedelai, Peningkatan Optimasi Lahan (POL), serta Pembuatan Demplot/Demfarm.
Perluasan Areal Tanam Jagung dapat dilaksanakan dengan pemberian paket bantuan saprodi
kepada petani supaya mau menanam jagung. Peningkatan optimasi lahan dilakukan dengan
pemberian pupuk organik dan pupuk berimbang. Selain itu terdapat pembuatan demplot
dibeberapa lokasi strategis dengan tujuan untuk menggugah petani untuk mengadopsi inovasi
dan teknologi baru yang dikembangkan oleh BPTP maupun perguruan tinggi.

5. Realisasi UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman


Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman menetapkan target
produksi padi pada tahun 2015 hingga 270.540 ton/GKG yang realisasinya mencapai 317.935
ton/GKG. Target produksi jagung sebesar 31.806 ton/pipilan kering dan realisasinya mencapai
37.221 ton/pipilan kering, sedangkan kedelai ditarget produksinya mencapai 829 ton akan
tetapi realisasinya hanya mencapai 25% dari target. Target produksi padi dan jagung pada
tahun 2015 dapat terpenuhi bahkan realisasinya melampui target yang telah ditetapkan. Rincian
target, realisasi, dan angka ramalan II produksi padi, jagung, dan kedelai dapat dilihat pada
Tabel 6 dan Tabel 7

Tabel 6 Target dan Realisasi Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai Tahun 2015
Komoditas
Padi*
Jagung
Kedelai
Target (ton)
270.540
31.806
829
Realisasi (ton)
317.935
37.221
209
Capaian (%)
117,52
117,02
25,21
Sumber: Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, 2016
Ket
: * (Produksi padi sawah dan padi ladang)
Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui produksi padi 317.935 ton/GKG dengan
produktivitas padi berada pada angka 64,05 ku/ha. Luas panen jagung mencapai 5.023 ha yang
berhasil memproduksi jagung 37,221 ton/pipilan kering. Kedelai memiliki luasan panen 138
ha dan produksinya mencapai 209 ton. Perkembangan produksi maupun produktivitas tanaman
kedelai di Kabupaten Sleman secara umum masih dibawah target yang telah ditentukan. Hal
ini dapat terjadi dikarenakan kurangnya kemauan petani dalam bercocok tanam kedelai dan
masih rendahnya harga kedelai di pasar.

Tabel 7 Angka Ramalan II Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai Tahun 2015
Komoditas
No
Uraian
Padi
Padi Ladang
Jagung
1
Produktivitas (ku/Ha)
64,25
38,37
73,66
2
Produksi (ton)
317.935
1.865
37.221
Sumber: Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, 2016

Kedelai
15,14
209

Menilik data produksi tanaman padi, jagung, dan kedelai di Kabupaten Sleman Tahun
2014 dan 2015, Terjadi peningkatan produktivitas padi dan kedelai, produktivitas padi tahun
2014 sebesar 60,43 ku/ha menjadi 64,25 ku/ha. Produktivitas kedelai pada tahun 2014 hanya
14,6 ku/ha mengalami sedikit kenaikan yakni 0,54 ku/ha pada tahun 2015. Produksi padi dan

jagung pada tahun 2015 mengalami kenaikan, terjadi kenaikan produksi padi sebesar 3.179 ton
sedangkan komoditas jagung meningkat 4.581 ton. Rincian produktivitas, dan produksi padi,
jagung, dan kedelai pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat pada Tabel 8

Tabel 8. Produktivitas, dan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai Kabupaten Sleman Tahun
2014-2015
Komoditas
No
Uraian
Padi
Jagung
Kedelai
2014
2015
2014
2015
2014 2015
1
Produktivitas (Ku/Ha)
60,43
64,25
77,66
73,66
14,6 15,14
2
Produksi (Ton)
312.891 317.935 32.640 37.221
384
209
Sumber: Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman 2016 dan BPS DIY
2014 (diolah)
5.1 Padi
Pada tahun 2015 Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman
memiliki target produksi padi sebesar 270.540 ton. Realisasi produksi mencapai 317.935 ton
(angka sementara) atau mencapai 117,52 %. Kenaikan produksi tersebut dipengaruhi oleh
beberpa faktor yaitu:
a. Adanya Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP PTT) Padi yang
diterapkan pada 2.500 ha dengan menggunakan dana APBN.
b. Penerapan teknologi budidaya dengan sistem tajarwo 2:1 dan 4:1
c. Ketersediaan air tercukupi sepanjang musim
d. Ketersediaan benih bermutu atau berlabel yang diproduksi oleh penangkar benih lokal
e. Ketersediaan pupuk bersubsidi untuk musim tanam 2015
f. Adanya bantuan benih padi 125 ton, pupuk urea 250 ton, dan pupuk NPK 250 ton untuk
luasan 5.000 ha
g. Peran PPL yang senantiasa memberikan pendampingan dan motivasi kepada petani
Organisme Pengganggu Tanaman merupakan faktor penghambat dalam program
peningkatan produksi Padi di Kabupaten Sleman. Permasalahan OPT timbul pada saat
pelaksanaan program tersebut. OPT mampu dikendalikan di Wilayah kegiatan GP-PTT Padi
sehingga tidak sampai menimbulkan penurunan produktivitas padi secara signifikan. Dalam
rangka menjaga produktivitas dan produksi Padi di Kabupaten Sleman maka akan dilaksanakan
beberapa strategi, strategi yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Penyuluh melakukan pemantauan, pendampingan, motivasi, dan bimbingan kepada
kelompok tani secara berkelanjutan.
b. Antisipasi serangan OPT

c. Antisipasi kekeringan dengan menggunakan pompa air


d. Pengawasan pupuk bersubsidi
e. Melakukan pembinaan terhadap penangkar benih padi.

5.2 Jagung
Realisasi produksi jagung mencapai 37.221 ton (angka sementara), realisasi ini melebihi
target sebelumnya yakni 31.806 ton atau mencapai 117,02%. Faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pencapaian target antara lain:
a. Adanya Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Jagung yang
diterapkan pada 500 ha dengan menggunakan dana APBN.
b. Penerapan teknologi budidaya
c. Ketersediaan air tercukupi sepanjang musim
d. Ketersediaan benih bermutu atau berlabel yang diproduksi oleh penangkar benih lokal
e. Ketersediaan pupuk bersubsidi untuk musim tanam 2015
f. Peran PPL yang senantiasa memberikan pendampingan dan motivasi kepada petani
Pelaksanaan program peningkatan produksi jagung masih terdapat permasalahan.
Permasalah yang timbul ialah beberapa petani melakukan panen jagung untuk hijauan makanan
ternak. Kebiasaan tersebut tentu saja berdampak terhadap produksi jagung di Kabupaten
Sleman. Melihat kejadian tersebut maka kedepannya penyuluh harus meningkatkan
pemantauan, pendampingan, motivasi, dan bimbingan kepada kelompok tani secara
berkelanjutan.

5.3 Kedelai
Produksi kedelai Kabupaten Sleman mencapai 209 ton. Realisasi produksi jagung hanya
mencapai 25,21% dari target awak yakni 829 ton. Hasil yang tidak menggembirakan ini
dikarenakan beberapa hal:
a. Terlambatnya tanam kedelai yang dikarenakan wilayah sentra kedelai di Prambanan
mendapatkan bantuan GP-PTT Padi dan musim panen padi terjadi pada Bulan Juni
akhir hingga Bulan Juli. Petani tidak berani menanam kedelai setelah Bulan Juli
dikarenakan tingkat kegagalan diperkirakan sangat tinggi.
b. Benih kedelai harus di datangkan dari Kabupaten Grobogan dan masa dormansi benih
yang pendek sehingga tidak dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.
c. Harga jual kedelai yang rendah sehingga sedikit petani yang berminat menanam kedelai

Melihat kondisi tersebut maka Seksi Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Sleman
menerapkan dua strategi yaitu melakukan pemantauan, pendampingan, motivasi, dan
bimbingan kepada kelompok tani secara berkelanjutan serta memberikan memotivasi
kelompok tani di luar Kecamatan Prambanan untuk menanam kedelai.

6. Permasalahan Pelaksanaan UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman


Kondisi lingkungan pada pelaksanaan program UPSUS PAJALE di Kabupaten Sleman
beragam, menyebabkan beragamnya permasalahan, penanganan dan tingkat hasil, serta
teknologi yang dibutuhkan. Permasalahan tersebut tentu saja mengakibatkan kurang
optimalnya pelaksanaan UPSUS PAJALE. Beberapa permasalahan yang ada selama
pelaksanaan UPSUS PAJALE adalah sebagai berikut:
1. Petani di Kabupaten Sleman mayoritas sudah berusia lebih dari 50 tahun hal ini
tentunya membutuhkan upaya yang lebih keras dari penyuluh untuk mengubah sikap
petani. Petani yang sudah memiliki kebiasaan dan pengalaman pribadi menjadikan
kurang respons terhadap perubahan teknologi maupun inovasi pertanian, sehingga
sedikit petani yang melaksanakan atau menerapkan teknologi sesuai dengan anjuran
penyuluh.
2. Penerapan sistem tanam Tajarwo dan penanaman serentak masih mengalami kendala
yakni kurangnya sumber daya manusia. Juru tanam dan operator traktor yang
jumlahnya terbatas dan cenderung semakin berkurang tentunya menjadi sulit
didapatkan ketika musim tanam, sehingga tanam serentak terpaksa tidak dapat
dilaksanakan sesuai target.
3. Kegiatan UPSUS PAJALE belum merata di seluruh kecamatan. Pelaksanaan UPSUS
PAJALE sudah dilakukan di 15 kecamatan di Kabupaten Sleman akan tetapi belum
mengenai seluruh petani atau kelompok tani di Kabupaten Sleman.
4. Pelaporan administrasi terkait perkembangan pelaksanaan UPSUS PAJALE disetiap
wilayah kerja menjadi tambahan pekerjaan bagi penyuluh pertanian, kondisi demikian
sedikit mengurangi waktu untuk pendampingan kepada petani ataupun kelompok tani.
5. Program UPSUS PAJALE memberi tambahan beban tanggung jawab yang harus
dipikul oleh penyuluh pertanian. Penambahan beban tanggung jawab tersebut tidak
dibarengi dengan kenaikan biaya operasional penyuluh, padahal pengeluaran
operasional penyuluh bertambah seiring dengan intensifnya pendampingan kelompok.
6. Minimnya ketersediaan air di daerah hilir. Permasalahan ketersediaan air menjadi
keluhan petani di beberapa wilayah seperti di Kecamatan Moyudan, Minggir, dan

Gamping. Contoh permasalahan air terjadi di Kecamatan Moyudan dan Minggir.


Wilayah Moyudan dan Minggir sudah mimiliki jaringan irigasi teknis dan semi teknis
yang memadai akan tetapi yang menjadi persoalan adalah kecilnya debit Selokan Van
der Wick. Persoalan air menjadi semakin pelik ketika terjadi perbaikan jaringan selokan
Van der Wick yang setiap tahun selalu diadakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai
Serayu Opak. Perbaikan selama 3-7 hari mengakibatkan sawah menjadi kering
sehingga meembutuhkan waktu satu bulan untuk memulihkan kondisi tanah seperti
semula.
7. Terdapat serangan hama tikus dan OPT lainnya. Serangan hama tikus dan OPT terjadi
di wilayah berbagai wilayah akan tetapi skala serangan masih dalam kategori ringan
sehingga dapat ditanggulangi dengan gerakan pengendalian hama secara terpadu.
Berbagai permasalahan yang terjadi pada pelaksanaan UPSUS PAJALE 2015 beberapa
dapat diselesaikan sehingga tidak mengganggu pelaksanaan UPSUS PAJALE. Mengenai
permasalahan kurangnya adopsi teknologi dan inovasi pertanian perlu mendapat perhatian
khusus dan kerja keras dari penyuluh pertanian sehingga petani mau mengadopsi teknologi dan
inovasi pertanian.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman. 2014. Kabupaten Sleman Dalam Angka 2014. BPS
Sleman, Sleman.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman. 2015. Statistik Daerah Sleman 2015. BPS Sleman,
Sleman.
Badan Pusat Statistik Provinsi DIY. 2014. Produksi Tanaman Pangan Tahun 2014. BPS DIY,
Yogyakarta.
BPPSDMP. 2015. Kebijakan Penyuluhan dalam Mendukung UPSUS PAJALE. Badan
PPSDMP Kementerian Pertanian, Jakarta.
Kementerian Pertanian RI. 2015. Modul Pemberdayaan Pengawalan Mahasiswa dalam Upaya
Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai Tahun 2015. Kementerian
Pertanian RI, Jakarta.