Anda di halaman 1dari 13

Pendahuluan

Infertilitas merupakan masalah yang dihadapai oleh pasangan suami istri yang telah
menikah selama minimal satu tahun, melakukan hubungan senggama teratur, tanpa
menggunakan kontrasepsi, tetapi belum berhasil memperoleh kehamilan.1 Pada prinsipnya
masalah yang terkait dengan infertilitas ini dapat dibagi berdasarkan masalah yang sering
dijumpai pada perempuan dan masalah yang sering dijumpai pada laki-laki. Pendekatan yang
digunakan untuk menilai faktor-faktor yang terkait dengan infertilitas tersebut digunakan
pendekatan organik, yang tentunya akan sangat berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Faktor tersebut dapat saja merupakan kelainan langsung organnya, tetapi dapat pula
disebabkan oleh faktor lain yang mempengaruhi seperti faktor infeksi, faktor hormonal,
faktor genetik, dan faktor proses penuaan.
Infertilitas dikatakan sebagai infertilitas primer jika sebelumnya pasangan suami istri
belum pernah mengalami kehamilan. Sementara itu, dikatakan sebagai infertilitas sekunder
jika pasangan suami istri gagal untuk memperoleh kehamilan setelah satu tahun
pascapersalinan atau pasca abortus, tanpa menggunakan kontrasepsi apapun.
Anamnesis
Pada awal pertemuan, penting sekali untuk memperoleh data apakah pasangan suami
istri atau salah satunya memiliki kebiasaan merokok atau minum, minuman beralkohol. Perlu
juga diketahui apakah pasutri atau salah satunya menjalani terapi khusus seperti
antihipertensi, kortikosteroid, dan sitostatika.
Jika pada wanita, siklus haid merupakan variabel yang sangat penting. Dapat dikatakan
siklus haid normal jika berada dalam kisaran 21-35 hari. Sebagian besar perempuan dengan
siklus haid yang normal akan menunjukan siklus haid yang berovulasi. Untuk mendapatkan
rerata siklus haid perlu diperoleh informasi haid dalam kurun 3-4 bulan terakhir. Perlu juga
diperoleh informasi apakah keluhan nyeri haid setiap bulannya dan perlu dikaitkan dengan
adanya penurunan aktivitas fisik saat haid akibat nyeri atau terdapat penggunaan obat
penghilang nyeri saat haid terjadi.2
Perlu dilakukan anamnesis terkait dengan frekuensi senggama yang dilakukan selama
ini. Akibat sulitnya menentukan saat ovulasi secara tepat, maka dianjurkan bagi pasutri untuk
melakukan senggama secara teratur dengan frekuensi 2-3 kali per minggu.
Pemeriksaan Fisik
1

Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan pada pasutri dengan masalah infertilitas adalah
pengukuran tinggi badan, penilaian berat badan, dan pengukuran lingkar pinggang.
Penentuan indeks massa tubuh perlu dilakukan dengan menggunakan formula berat badan
(kg) dibagi dengan tinggi badan (m2). Perempuan dengan indeks massa tubuh (IMT) lebih
dari 25kg/m2termasuk dalam kelompok kriteria berat badan lebih. Hal ini memiliki kaitan erat
dengan sindrom metabolik. IMT yang kurang dari 19kg/m2seringkali dikaitkan dengan
penampilan pasien yang terlalu kurus dan perlu dipikirkan adanya penyakit kronis seperti
infeksi tuberkulosis (TBC), kanker, atau masalah kesehatan jiwa seperti anoreksia nervosa
atau bulimia nervosa.2
Adanya pertumbuhan rambut abnormal seperti kumis, jenggot, jambang, bulu dada
yang lebat, bulu kaki yang lebat dan sebagainya (hirsutisme) atau pertumbuhan jerawat yang
banyak

dan

tidak

normal

pada

perempuan,

seringkali

terikat

dengan

kondisi

hiperandrogenisme, baik klinis maupun biokimiawi.2


Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan dasar untuk mendeteksi atau mengonfirmasi adanya ovulasi dalam sebuah
siklus haid adalah penilaian kadar progesteron pada fase luteal media, yaitu kurang dari 7 hari
sebelum perkiraan datangnya haid. Adanya ovulasi dapat ditentukan jika kadar progesteron
fase luteal media dijumpai lebih besar dari 9,4 mg/ml (30 nmol/l).2
Penilaian kadar progesteron pada fase luteal media menjadi tidak memiliki nilai
diagnostik yang baik jika terdapat siklus haid yang tidak normal seperti siklus haid yang
jarang (lebih dari 35 hari), atau siklus haid yang terlalu sering (kurang dari 21 hari).2
Pemeriksaan kadar thyroid stimulating hormone (TSH) dan prolaktin hanya dilakukan
jika terdapat indikasi berupa siklus yang tidak berovulasi, terdapat keluhan galatore atau
terdapat kelainan fisik atau gejala klinik yang sesuaidengan kelainan pada kelenjar tiroid
Pemeriksaan kadar luteinizing hormon (LH) dan follicles stimulazing hormone (FSH)
dilakukan pada fase proliferasi awal (hari 3-5) terutama jika dipertimbangkan terdapat
peningkatan nisbah LH/FSH pada kasus sindron ovarium polikistik (SOPK). Jika dijumpai
adanya tanya klinis hiperandrogenisme, seperti hirsutisme atau anke yang banyak, maka perlu
dilakukan pemeriksaan kadar testosteron atau pemeriksaan free androgen indeks (FAI), yaitu
dengan melakukan kajian terhadap kadar testosteron yang terkain dengan sex hormone
binding (SHBG) dengan formula FAI=100 x testosteron total/SHBG. Pada perempuan kadar
FAI normal jika dijumpai lebih rendah dari 7.2
2

Pemeriksaan Analisis Sperma


Pemeriksaan analisis sperma sangat penting dilakukan pada awal pasutri dengan
masalah infertilitas, karena dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor lelaki turut
memberikan kontribusi sebesar 40% terhadap kejadian infertilita.
Beberapa syarat yang harus diperhatikan agar menjamin hasil analisis sperma yang baik
adalah sebagai berikut: 2

Lakukan abstinesia (pantangan senggama) selama 2-3 hari.


Keluarkan sperma dengan cara masturbasi dan hindari dengan cara senggama

terputus
Hindari penggunaan pelumas pada saat masturbasi
Hindari penggunaan kondom untuk menampung sperma
Gunakan tabung dengan mulut yang lebar sebagai tempat penampung sperma
Tabung sperma haarus dilengkapi dengan nama jelas, tanggal, dan waktu
pengumpulan sperma, metode pengeluaran sperma yang dilakukan (masturbasi atau

senggama terputus).
Kirimkan sampel secepat mungkin ke laboratorium sperma.
Hindari paparan temperatur yang terlampau tinggi (> 38 o) atau terlalu rendah (<15o)
atau menempelkannya ke tubuh sehingga sesuai dengan suhu tubuh.
Kriteria yang digunakan untuk menilai normalitas analisis sperma adalah kriteria

normal berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). Hasil dari analisis sperma
tersebut menggunakan terminologi khusus yang diharapkan dapat menjelaskan kualitas
sperma berdasarkan kensentrasi, mortalitas dan morfologi sperma.2

Tabel 1. Nilai normalitas analisis sperma berdasarkan kriteria WHO2


Kriteria

Nilai rujukan normal

Volume
Waktu likuefaksi
pH
Konsentrasi sperma
Jumlah sperma total
Lurus cepat (gerakan yang progresif dalam

2 ml atau lebih
Dalam 60 menit
7,2 atau lebih
20 juta per mililiter atau lebih
40 juta per mililiter atau lebih
25 % atau lebih

60 menit setelah ejakulasi (1)


Jumlah antara lurus lambat (2) dan lurus

50 % atau lebih

cepat (1)
Morfologi normal
Vitalitas

30% atau lebih


75% atau lebih yang hidup
3

Lekosit
Keterangan :

Kurang dari 1 juta per mililiter

Derajat 1: gerak sperma cepat dengan arah yang lurus


Derajat 2: gerak sperma lambat atau berputar-putar
Tabel 2. Terminologi dan Definisi Analisis Sperna Berdasarkan Kualitas Sperma2
Terminologi

Definisi

Normozoospermia
Oligozoospermia
Astenispermia

Ejakulasi normal sesuai dengan nilai rujukan WHO


Konsentrasi sperma lebih rendah daripada nilai rujuka WHO
Konsentrasi sel sperma dengan motilitas lebih rendah daripada

Teratozospermia

nilai rujukan WHO


Konsentrasi sel sperma dengan morfologi lebih rendah daripada

Azospermia
Aspermia
Kristospermia

nilai rujukan WHO


Tidak didapatkan sel sperma di dalam ejakulat
Tidak teradpat ejakulat
Jumlah sperma sangat sedikit yang dijumpai setelah

Dua atau tiga nilai analisis sperma diperlukan untuk menegakkan diagnosis adanya
analisis sperma yang normal. Namun, cukup banyak melakukan analisis sperma tunggal jika
pada pemeriksaan telah dijumpai hasil analisis sperma normal, karena pemeriksaan analisis
sperma yang ada merupakan metode pemeriksaan yang sangat sensitif. Untuk mengurangi
nilai positif palsu, maka pemeriksaan analisis sperma yang berulang hanya dilakukan jika
pemeriksaan analisis sperma yang pertama menunjukkan hasil yang abnormal. Pemeriksaan
amalisis sperma kedua dilakukan dalam kurun waktu 2-4 minggu.2
Differential Diagnosis
Kelainan Anatomi Organ Genitalia Wanita
Vagina
Kemampuan menyampaikan sperma ke dalam vagina sekitar serviks perlu untuk fertilitas.
Masalah vagina yang dapat menghambat penyampaian ini ialah adanya sumbatan atau
peradangan. Sumbatan psikogen disebut vaginismus atau disparenia, sedangkan sumbatan
anatomik dapat karena bawaan atau perolehan. Vaginitis karena Kandida albikans atau
Trikomonas vaginalis hebat dapat merupakan masalah, bukan karena antispermisidalnya,
melainkan antisenggamanya.3
Masalah serviks
4

Serviks biasanya mengarah ke bawah-belakang, sehingga berhadapan langsung


dengan dinding belakang vagina. Kedudukannya yang demikian itu memungkinkan
tergenangnya sperma yang disampaikan pada forniks posterior. Kanalis servikalis yang
dilapisi lekukan-lekukan seperti kelenjar yang mengeluarkan lendir, sebagian dari sel-sel
epitelnya mempunyai silia yang mengalirkan lendir serviks ke vagina. Bentuk servikalis
seperti itu memungkinkan ditimbun dan dipeliharanya spermatozoa motil dari kemungkinan
fagositosis, dan juga terjaminnya penyampaian spermatozoa ke dalam kanalis servikalis
secara terus menerus dalam jangka waktu lama.3
Infertilitas yang berhubungan dengan faktor serviks dapat disebabkan oleh sumbatan
kanalis servikalis, lendir serviks yang abnormal, malposisi dari serviks atau kombinasinya.
Terdapat berbagai kelainan anatomi serviks yang dapat berperan dalam infertilitas, yaitu cacat
bawaan (atresia), polip serviks, stenosis akibat trauma, peradangan (servisitis menahun),
sinekia (biasanya bersamaan dengan sinekia intrauterin) setelah konisasi, dan inseminasi
yang tidak adekuat. Pernah dipikirkan bahwa vaginitis yang disebabkan oleh trikomonas
vaginalis dan kandida albikans dapat menghambat motilitas spermatozoa. Akan tetapi
perubahan ph akibat vaginitis ternyata tidak menghambat motilitasnya. Gnarpe dan Friberg
memperoleh lebih banyak T-Mikroplasma pada biakan lendir serviks istri infertil dari pada
yang fertil, walaupun laporan lainnya ternyata tidak demikian.3
Uterus
Spermatozoa dapat ditemukan dalam tuba fallopii manusia secepat 5 menit setelah
inseminasi. Kontraksi vagina dan uterus memegang peranan penting dalam transportasi
spermatozoa. Pada manusia, oksitosin tidak berpengaruh terhadap uterus yang tidak hamil
akan tetapi prostaglandin dalam sperma dapat membuat uterus berkontraksi secara ritmik.
Ternyata, prostaglandinlah yang memegang peranan penting dalam transportasi spermatozoa
ke dalam uterus dan melewati penyempitan pada batas uterus dengan tuba itu. Uterus sangat
sensitif terhadap prostaglandin pada akhir fase proliferasi dan permulaan fase sekresi. Dengan
demikian, kurangnya prostaglandin dalam air sperma dapat merupakan masalah infertilitas.
Masalah lain yang dapat mengganggu transportasi spermatozoa melalui uterus ialah
distorsi kavum uteri karena sinekia, mioma, atau polip; peradangan endometrium, dan
gangguan kontraksi uterus. Kelainan-kelainan tersebut dapat mengganggu dalam hal
implantasi, pertumbuhan intrauterine, dan nutrisi serta oksigenisasi janin.3
Infertilitas et causa Gangguan Hormonal
5

Gangguan

hormonal

biasanya

merupakan

faktor

utama

penyebab

infertilitas/ketidaksuburan. Kelangsungan spermatogenesis dan fungsi organ lainnya


dipengaruhi oleh hormon gonadotropin, kadar FSH & LH yang meningkat, gagal testis
primer, sindrom klinifelter, dan sertoli cell failure. Produksi sperma laki-laki diatur oleh
hormone seksual pria. Apabila terjadi gangguan atau masalah hormonal maka hormon
gonadotrofin akan turun dan produksi sperma pun juga akan menurun. Sperma yang sedikit
jumlahnya biasanya juga disebabkan karena kekurangan hormone testosterone.Prolaktin
meningkat juga menghambat pengeluaran hormon seks, yang berakibat terganggunya proses
pembentukan sperma.4
Working Diagnosis
Infertilitas Primer et causa Azoospermia
Infertilitas dapat terjadi dari sisi pria, wanita, maupun kedua-duanya(pasangan).
Disebut infertilitas pasangan bila terjadi penolakan sperma suami oleh istri sehingga sperma
tidak dapat bertemu dengan sel telur. Hal ini biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan
antigen atau antibodi pasangan tersebut.4
Penyebab pada pria yaitu bisa dikarenakan azoospermia(tidak terdapat spermatozoa),
mungkin akibat spermatogenesis yang abnormal(perkembangan testis yang abnormal;
kriptokismus/terlambatnya turun;orchitis akibat parotitis;dan kerusakan duktus spermatikus
oleh infeksi misalnya gonorrhea).4
Etiologi
Faktor suami sebesar 25-40%, istri 40-55%, keduannya 10% dan idiopatik 10%.
Kelainan pada semen, gangguan ovulasi, cidera tuba,endometriosis, gangguan ineterasi
sperma-sekret serviks, gangguan imunologi, infeksi dan idiopatik.
Tabel 3. Etiologi Infertilitas Pria6

Pre
Testikuler

Kelainan pada hipotalamus


o Defisiensi hormon gonadotropin yaitu LH, dan FSH
Kelainan pada hipofisis
o Insufisiensi hipofisis oleh karena tumor, radiasi, atau operasi
o Hiperprolaktinemia
o Hemokromatosis
o Substitusi / terapi hormon yang berlebihan

Testikuler

o Anomali kromosom
6

o
o
o
o
o
o
o
Pasca
Testikuler

Anorkhismus bilateral
Gonadotoksin: obat-obatan, radiasi
Orchitis
Trauma testis
Penyakit sistemik: gagal ginjal, gagal hepar, anemi bulan sabit
Kriptorkismus
Varikokel

Gangguan transportasi sperma


o Kelainan bawaan: vesikula seminalis atua vas deferens tidak terbentuk
yaitu pada keadaan congenital bilateral absent of the vas deferens
(CBAVD)
o Obstruksi vas deferens / epididimis akibat infeksi atau vasektomi
o Disfungsi ereksi, gangguan emisi, dan gangguan ejakulasi (ejakulasi
retrograd)
Kelainan fungsi dan motilitas sperma
o Kelainan bawaan ekor sperma
o Gangguan maturasi sperma
o Kelainan imunologik
o Infeksi

Patofisiologi
Fisiologi Reproduksi Pria
Kemampuan seorang pria untuk memberikan keturunan tergantung pada kualitas
sperma yang dihasilkan oleh testis dan kemampuan organ reproduksinya untuk
menghantarkan sperma bertemu dengan ovum. Kualitas sperma yang baik dapat dihasilkan
oleh testis yang sehat setelah mendapatkan rangsangan dari organ-organ pretestikuler melalui
sumbu hipotalamo-hipofisis-gonad. Kemampuan sperma untuk melakukan fertilisasi
ditentukan oleh patensi organ-organ pasca testikuler dalam menyalurkan sperma untuk
bertemu dengan ovum.6
Spermatogenesis
Sperma diproduksi di dalam testis melalui proses spermatogenesis. Proses ini diatur
oleh sumbu hipotalamo-hipofisis-gonad. Hipotalamus mengeluarkan hormon gonadotropin
releasing hormone (GnRH) yang merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk memproduksi
hormon gonadotropin yaitu follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone
(LH).

Produksi hormon testosteron oleh sel-sel Leydig di dalam testis diatur oleh LH dan
pada

kadar

tertentu,

testosteron

memberikan

umpan

balik

negatif

kepada

hipotalamus/hipofisis sebagai kontrol terhadap produksi LH. FSH merangsang tubuli


seminiferi (terutama sel-sel Sertoli) dalam proses spermatogenesis, disamping itu sel-sel ini
memproduksi inhibin yaitu suatu substansi yang mengontrol produksi FSH melalui
mekanisme umpan balik negatif.
Proses produksi sperma (spermatogenesis) berlangsung di dalam testis dimulai dari
diferensiasi sel stem primitif spermatogonium yang terdapat pada membrana basalis tubulus
seminiferus testis. Spermatogonium kemudian mengalami mitosis, meiosis, dan mengalami
tarnsformasi menjadi spermatozoa sesuai dengan urutan mulai dari : spermatogonium
spermatosid I spermatosid II spermatid spermatozoa.
Sel-sel spermatogonum mengalami mitosis menjadi sel-sel diploid spermatosid I
(mempunyai 46 kromosom) dan mengalami meiosis menjadi sel-sel haploid spermatosid II
(mempunyai 23 kromosom), dan selanjutnya mengalami mitosis menjadi sel-sel spermatid.
Sel-sel spermatid ini mengalami transformasi menjadi spermatozoa sehingga terbentuk
akrosom dan flagella serta hilangnya sebagian sitoplasma. Proses transformasi pembentukan
spermatozoa yang siap disalurkan ke epididimis disebut spermiogenesis. Seluruh proses
spermatogenesis ini berlangsung kurang lebih 74 hari.6
Transportasi Sperma
Sperma yang dibentuk di tubuli seminiferi terkumpul di dalam rete testis (yaitu tempat
bermuaranya tubuli seminiferi di dalam testis), yang kemudian disalurkan ke epididimis
melalui duktuli eferentes. Di dalam epididimis sperma mengalami maturasi sehingga mampu
bergerak (motile), disimpan beberapa saat di kauda epididimis, dan selanjutnya dialirkan
melalui vas deferens untuk disimpan di ampula duktus deferens.
Sperma dikeluarkann dari organ reproduksi pria melalui proses ejakulasi. Proses ini
diawali dari fase emisi yaitu terjadinya kontraksi otot vas deferens dan penutupan leher bulibuli di bawah kontrol saraf simpatik. Proses ini menyebabkan sperma beserta cairan vesikula
seminalis dan cairan prostat terkumpul di dalam uretra posterior dan siap disemprotkan keluar
dari uretra. Proses ejakulasi terjadi karena adanya dorongan ritmik dari kontraksi otot bulbo
kavernosus.

Komposisi cairan yang diejakulaiskan atau disebut mani/ cairan semen terdiri atas
spermatozoa (1%), cairan vesikula seminalis (50-55%), cairan prostat (15-20%), dan cairancairan dari epididimis dan vas deferens.
Setelah di deposit di dalam vagina, sperma masih dapat hidup hingga 36-72 jam.
Dalam waktu 5 menit sperma dapat bergerak mencapai ampula tuba falopii dan setelah
mengalami perubahan fisiologis bertemu dengan ovum dan terjadilah fertilisasi.6
Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan
hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Gaya hidup memberikan
peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok, penggunaan obatobatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido.
Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya
pancaran

sperma.

Suhu

disekitar

areal

testis

juga

mempengaruhi

abnormalitas

spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi retrograd misalnya akibat pembedahan sehingga


menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma
terganggu.6
Epidemiologi
Prevalensi

wanita

yang

didiagnosis

dengan

infertilitas,

kira-kira

3%,dengan jangkauan 728%, tergantung pada usia seorang wanita. Namun, insidensi dari infe
rtilitas primer telah meningkat, bersamaan dengan penurunan insidensi infertilitas sekunder,
yang kemungkinan besar akibat perubahan sosial seperti penundaan kehamilan. Data yang
berasal dari National Survey of Family Growth tahun 1995 mengungkapkan bahwa 7% dari
pasangan yang sudah menikah, di mana pasangan wanita adalah usia reproduksi, tidak
mendapatkan kehamilan setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi.
Selain itu, 15% dari wanita usia reproduksi dilaporkantelah menerima pelayanan infertilitas
dalam hidup mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pelayanan infertilitas
telah meningkat, terutama di negara-negara Barat. Alasanutama hal ini adalah kecenderungan
wanita untuk kehadiran seorang anak karena karir pekerjaan.6
Faktor-faktor lainnya, antara lain adanya peningkatan dan efektivitas berbagaimetodeassisted
reproductive technology (ART), kesadaran masyarakat yang semakintinggi berkaitan dengan
penanganan infertilitas, peningkatan jumlah infertilitas akibatfaktor tuba sebagai konsekuensi
dari penyakit menular seksual, dan tersedianya alatkontrasepsi yang efektif, dan peningkatan
ketersediaan pelayanan aborsi.6
9

Penatalaksanaan
Pengobatan infertilitas pada pria terlebih dahulu ditujukan langsung pada etiologi
yang menyebabkannya. Pengobatan ini dapat meliputi terapi medis atau pembedahan, seperti
koreksi verikokel atau koreksi pada penyumbatan vas deferens. Teknik bantuan reproduksi
lebih sering dilakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah sperma. Sperma dapat dicuci,
dikonsentrat dan diletakkan langsung pada rongga uterus dengan inseminasi buatan.7
Ketersediaan teknologi reproduksi secara luas telah merevolusi pengobatan
infertilitas, membuat kehamilan mungkin terjadi pada keadaan yang sebelumnya tidak dapat
diterapi. Terapi yang paling sering adalah IVF(In vitro fertilization), dimana oosit multiple
yang dipisahkan difertilisasi oleh spermatozoa didalam laboratorium. Embrio-embrio yang
dihasilkan ditumbuhkan di dalam laboratorium selama 2-5 hari, kemudian sekelompok
embrio dipilih dan dipindahkan kembali ke rongga uterus. IVF standar dapat dimodifikasi
melalui beberapa cara. Pada kasus infertilitas pria yang berat, sperma dapat disuntikkan
langsung ke dalam sitoplasma oosit untuk menimbulkan fertilisasi (injeksi sperma
intrasitplasma/intracytoplasmic sperm injection, ICSI). Sperma-sperma ini mungkin imotil.
Sperma tersebut dapat diambil langsung dari vas deferens, epididimis atau bahkan testis pada
pria dengan azoospermia obstruktif. Akhirnya, teknologi yang berkembang baru-baru ini
memeungkinkan pemeriksaan genetic pada embrio yang dihasilkan melalui IVF. Dengan
menggunakan diagnosis genetik praimplantasi (pre-implantation genetic diagnosis, PGD),
blastomer tunggal diangkat dari blastokista yang sedang berkembang. Blastomer ini dapat
diskrining untuk berbagai defek gen yang diturunkan atau jumlah kandungan kromosom.
Hasil skrining dapat digunakan untuk menyeleksi embrio-embrio yang akan dipindahkan
kembali ke uterus.7
Pencegahan
Infertilitas pada pria berperan dalam 40 % kasus yang dihadapi dokter. Penyebabnya
adalah pelebaran pembuluh darah balik/vena di sekitar buah zakar yang disebut varikokel.
Selanjutnya karena adanya sumbatan/obstruksi pada saluran sperma terjadi pada 15 % pria.
Sedankangkan 20 % sisanya, infertilitas diakibatkan oleh berbagai faktor, misalnya gangguan
hormon, kelainan bawaan, pengaruh obat, gangguan ereksi atau ejakulasi namun ternyata ada
pula sekitar 20-25 % penderita tidak diketahui penyebabnya.Beberapa hal yang dapat
dilakukan adalah:

10

1. Mengobati infeksi di organ reproduksi. Ada berbagai jenis infeksi diketahui


menyebabkan infertilitas seperti infeksi prostat, testis / buah zakar, maupun saluran
sperma.
2. Menghindari rokok. Rokok mengandung zat-zat yang dapat meracuni pertumbuhan,
jumlah dan kualitas sperma.
3. Menghindari Alkohol dan zat adiktif. Alkohol dalam jumlah banyak dihubungkan
dengan rendahnya kadar hormon testosteron yang tentu akan mengganggu
pertumbuhan sperma. Ganja /mariyuana juga dikenal sebagai salah satu penyebab
gangguan pertumbuhan sperma.
4. Hindari obat yang mempengaruhi jumlah sperma, sepreti obat darah tinggi, dan lainlain.6
Prognosis
Menurut Behrman dan Kistner, prognosis terjadinya kehamilan tergantung pada umur
suami, umur istri, dan lamanya dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan (frekuensi
senggama dan lamanya perkawinan). Fertilitas maksimal wanita dicapai pada umur 24 tahun,
kemudian menurun perlahan-lahan sampai umur 30 tahun, dan setelah itu menurun dengan
cepat. Menurut MacLeod, fertilitas maksimal pria dicapai pada umur 24-25 tahun. Hampir
pada setiap golongan umur pria proporsi terjadinya kehamilan dalam waktu kurang dari 6
bulan meningkat dengan meningkatnya frekuensi senggama. Ternyata, senggama 4 kali
seminggu paling meluangkan terjadinya kehamilan karena ternyata kualitas dan jenis
motilitas spermatozoa menjadi lebih baik dengan seringnya ejakulasi.4
Penyelidikan jumlah bulan yang diperlukan untuk terjadinya kehamilan tanpa pemakaian
kontrasepsi telah dilakukan di Taiwan dan di Amerika Serikat dengan kesimpulan bahwa 25%
akan hamil dalam 1 bulan pertama, 63% dalam 6 bulan pertama, 75% dalam 9 bulan pertama,
80% dalam 12 bulan pertama, dan 90% dalam 18 bulan pertama. Dengan demikian, makin
lama pasangan kawin tanpa hasil, makin menurun prognosis kehamilannya.4
Pengelolaan mutakhir terhadap pasangan infertil dapat membawa kehamilan kepada lebih
dari 50% pasangan, walaupun masih selalu ada 10-20% pasangan yang belum diketahui
etiologinya. Separuhnya lagi terpaksa harus hidup tanpa anak, atau memperoleh anak dengan
jalan lain, umpamanya dengan inseminasi buatan donor, atau mengangkat anak (adopsi).Hasil
penyelidikan Dor et al, menunjukkan apabila umur istri akan dibandingkan dengan angka
11

kehamilannya, maka pada infertilitas primer terdapat penurunan yang tetap setelah umur 30
tahun. Pada infertilitas sekunder terdapat juga penurunan, akan tetapi tidak securam seperti
pada infertilitas primer. Penyelidikan tersebut selanjutnya mengemukakan bahwa istri yang
baru dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 3 tahun kurang, prognosis
kehamilannya masih baik. Akan tetapi, kalau sudah dihadapkan selama 5 tahun lebih,
prognosisnya buruk. Oleh karena itu dianjurkan untuk tidak menunda pemeriksaan dan
pengobatan infertilitas selama 3 tahun lebih.4
Kesimpulan
Ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan, dimana wanita belum
mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2 3 kaliseminggu, tanpa memakai
metode pencegahan selama 1tahun. Infertilitas dikatakan sebagai infertilitas primer jika
sebelumnya pasangan suami istri belum pernah mengalami kehamilan. Sementara itu,
dikatakan sebagai infertilitas sekunder jika pasangan suami istri gagal untuk memperoleh
kehamilan setelah satu tahun pascapersalinan atau pasca abortus, tanpa menggunakan
kontrasepsi apapun.

Daftar Pustaka
1. Setiati S, Laksmi PW. Kesehatan perempuan. Buku ajar ilmu penyakit dalam Jilid I.
Edisi ke-5. Interna Publishing. Jakarta: 2009.h.108-9.
2. Manuaba IBG. Kepaniteraan klinik obstetri dan ginekologi. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta: 2004. h. 29-31.
3. Willms JL, Schneiderman H, Algranati PS. Diagnosis fisik evaluasi diagnosis &
fungsi dibangsal. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 2005. h. 451-72.
4. Benson RC, Pernoll ML. Buku saku obstetri & ginekologi. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta: 2009. h. 687.
5. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Infertilitas. Kapita
selekta kedokteran. Edisi ke-3. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta: 2001. h.389.

12

6. Wiknjosastro H. Infertilitas. Ilmu kandungan. Edisi ke-3. PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. Jakarta: 2011. h. 424-35.
7. Heffner JL, Schust DJ. At a glance sistem reproduksi. Erlangga. Jakarta: 2006. h. 62.

13