Anda di halaman 1dari 26

TUGAS SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

ETIKA, FRAUD, DAN PENGENDALIAN INTERN


KELOMPOK 3
AZIZ SUSANTO

(125140411)

CYNTHIA ESTHERNITA

(125140425)

DIANE CAHYONO

(125140423)

ERIC RAYNALD K.

(125140433)

ERICK LEONARDY

(125140409)

MONICA LAMAYNIE

(125140415)

STEPHANIE ARYANI P.

(125140413)

SUHENDRA

(125140419)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA
MARET 2016

PENGERTIAN MANIPULASI (FRAUD)


Meskipun istilah manipulasi (fraud) sudah banyak dikenal,
namun bila disuruh mendefinisikan apa yang dimaksud dengan
manipulasi tersebut, sering mengalami kesulitan.
Untuk memperjelas konsep manipulasi ini, dikutip dari buku
Introduction to Accounting Information System karya James A.
Hall (2008), ia mendefinisikan bahwa, Fraud denotes a false
representation of a material fact made by one party to another
party with the intent to deceive and induce the other party to
justifiably

rely on the fact to his or her detriment, yang jika

diartikan ke dalam Bahasa Indonesia akan memiliki arti bahwa


fraud merupakan representasi/penyajian fakta material yang
salah/palsu yang dihasilkan oleh satu pihak yang bertujuan untuk
menipu dan menyebabkan pihak lain untuk membenarkan dan
mempercayai bahwa fakta yang dibangun tersebut merupakan
kerugian miliknya. Selanjutnya dikatakan bahwa suatu tindakan
dikatakan bersifat manipulative jika memenuhi lima kondisi
sebagai berikut:
a) Penyajian palsu (false representation), artinya harus ada
penyajian, pernyataan, atau pengungkapan palsu, atau ada
sesuatu yang tidak diungkapkan.
b) Fakta material (material fact), suatu fakta harus cukup
substansial

sehingga

mendorong

seseorang

untuk

bertindak
c) Niat (intent), ada maksud yang disengaja untuk menipu
atau ada kesengajaan bahwa informasi yang disampaikan
adalah palsu.
d) Keterandalan

yang

dijustifikasi

(justifiable

reliance),

pernyataan palsu hendaknya menjadi suatu faktor yang


substansial yang dipercaya oleh pihak yang dirugikan.
e) Kerugian (injury or loss), penipuan menyebabkan kerugian
bagi pihak lain yang menjadi korban.

Manipulasi dalam lingkungan bisnis memiliki arti yang lebih


dalam.

Manipulasi

merupakan

penipuan

yang

disengaja,

penyalahgunaan aset perusahaan, atau memanipulasi data


keuangan demi kepentingan atau keuntungan si pelaku. Auditor
mendeskripsikan fraud ke dalam dua level: employee fraud dan
management fraud.
Employee fraud, atau manipulasi yang dilakukan oleh karyawan
non-manajerial, yang pada umumnya dilakukan untuk mengubah
kas atau asset perusahaan secara langsung nutuk keuntungan
karyawan

tersebut.

Biasanya,

karyawan

tersebut

telah

melemahkan sistem pengendalian internal perusahaan untuk


memenipulasikan asset perusahaan. Namun, jika perusahaan
memiliki sistem pengendalian internal yang efektif maka hal ini
dapat mudah dideteksi dan digagalkan.
Management fraud ini lebih terselubung dibandingkan dengan
employee fraud dikarenakan sering lolos dari pendeteksian
sistem sampai akhirnya perusahaan mengalami kerugian yang
parah. Management fraud biasanya tidak melibatkan pencurian
asset perusahaan secara langsung.

Klasifikasi Manipulasi (Fraud)


Salah satu klasifikasi manipulasi yang sering digunakan
adalah yang diungkapkan oleh Association of Certified Fraud
Examiner (ACFE) sebagai pohon manipulasi atau fraud tree.

Gambar 1. Fraud tree menurut ACFE

Bila dilihat dari fraud tree di atas, tampak jelas bahwa


jenis-jenis manipulasi semakin lama semakin rumit dan kompleks
dan tidak semuanya dapat dicegah oleh penciptaan sistem
informasi

akuntansi

sebagus

apapun.

Gambar

di

atas

menglasifikasikan tiga jenis utama fraud yang sering terjadi


diperusahaan yaitu corruption, assets misappropriation, dan
fraudulent statement.
a) Corruption, melibatkan seorang eksekutif, manager, atau
karyawan perusahaan yang bersekongkol dengan pihak
luar. Studi ACFE mengidentifikasi empat tipe dari korupsi,
yaitu bribery (peyuapan), illegal gratuities (gratifikasi
illegal), conflicts of interest (konflik kepentingan), dan
economic extortion (pemerasan ekonomi).
Bribery, praktek-praktek penyuapan sesungguhnya
banyak terjadi dalam dunia bisnis di sekitar kita.
Penyuapan

biasanya

dilakukan

agar

dapat

menghindari prosedur atau birokrasi yang terkesan


berbelit-belit.

Penyuapan

ada

berbagai

macam

bentuknya. Kickback meruapkan salah satu bentuk


penyuapan dimana penjual menyerahkan sebagian
dari hasil penjualannya. Prosentase yang diserahkan
itu bisa diatur dimuka atau diserahkan sepenuhnya
kepada penjual. Dalam hal terakhir, apabila penerima
kickback mengganggap kickback yang diterimanya
terlalu kecil maka dia akan mengalihkan bisnisnya ke
rekanann yang mampu memberi kickback yang lebih

tinggi.
Illegal Gratuities,

adalah pemberian arau hadiah

yang merupakan dalam bentuk terselubung atau


sering disebut juga sebagai gratifikasi.

Conflict of Interests, hal ini sering kita jumpai dalam


berbagai bentuk, di antaranya bisnis pelat merah
atau bisnis pejabat dan keluarga beserta kroni
mereka yang menjadi pemasok atau rekanan di
lembaga-lembaga pemerintah dan di dunia bisnis

sekalipun.
b) Asset Misappropriation, yaitu pengambilan asset secara
illegal atau biasanya disebut dengan penggelapan. Jenis
manipulasi yang sering terjadi adalah seperti skimming,
cash larceny, billing schemes, check tampering, payroll
fraud,

expense

reimbursement,

thefts

of

cash,

dan

computer fraud.
Skimming, dalam skimming uang dijarah sebelum
uang tersebut secara fisik masuk ke perusahaan.
Cara ini terlihat dalam fraud yang sangat dikenal oleh

auditor, yaitu lapping.


Cash Larceny, berbeda dengan skimming, maka
larceny yaitu menjarah uang ketika sudah masuk
dalam perusahaan

Fraudulent Statements, yaitu memanipulasi penyajian laporan


keuangan seperti menyajikan pendapatan dan asset yang lebih
tinggi dari yang sebenarnya ataupun menyajikan pendapatan
dan asset yang lebih rendah dari yang sebenarnya.
Fraud Triangle
Cressey

(dalam

Tuankotta,

2007)

pernah

melakukan

penelitian tentang para karyawan yang pernah mencuri uang


perusahaan

(emblezzlers).

Ia

mewawancarai

sekitar

200

karyawan pelanggar kepercayaan (trust violators). Pelanggar


kepercayaan

adalah

karyawan

yang

pernah

mendapat

kepercayaan perusahaan, namun ternyata melakukan pencurian.

Dari

hasil

penelitiannya

dikembangkan suatu hipotesa


yang

dikanal

dimensi

sebagai

manipulasi

tiga
(fraud

tiangle) cressey ini terdiri dari:


(1)

adanya

adanya

pressure,

peluang

(2)

(perceived

opportunity), dan (3) adanya


rasionalisasi (rationalization). Ketiga dimensi ini merupakan satu
kesatuan yang harus ada untuk terjadinya suatu pencurian.
Penggelapan uang perusahaan terjadi nila seorang karyawan
mempunyai tekanan finansial (pressure) atau kebutuhan dana
yang bersifat mendesak namun yang bersangkutan tidak mau
menceritakannya

kepada

orang

lain.

Kemudian

karyawan

tersebut, dengan kedudukan/jabatan yang di pegangnya di


perusahaan,

merasakan

adanya

peluang

untuk

melakukan

pencurian dengan mempresepsikan dirinya bahwa pencurian itu


tidak akan di ketahui oleh pihak lain, selanjutnya ia mencoba
mencari

pembenaran

atas

perbuatan

tersebut

sebelum

melakukan pencurian, bukan setelah melakukan pencurian.


THE SARBANES-OXLEY ACT
Menjelang abad ke-21, perekonomian amerika serikat
mengalami kegoncangan hebat akibat serangkaian skandal
(manipulasi) akuntansi yang dilakukan oleh para pemimpin
puncak perusahaan-perusahaan public besar Amerika Serikat
(Enron, Tyco International, Peregrine Systems, WorldCom, dll)
dengan melibatkan akuntan public ternama seperti Arthur
Anderson. Akibat dari skandal ini, maka dalam sekejap saja
banyak

pemodal

(pemegang

saham,

perbankan,

kreditor)

kehilangan miliar dolar dan dana investasi mereka, banyak


karyawan tiba-tiba saja menganggur karena perusahaan tempat
mereka bekerja mengalami kebangkrutan.
Sebagai

respon

atas

berbagai

skandal

ini,

maka

pemerintah federal dan lembaga legislative Amerika Serikat


segera menerbitkan sebuah undang-undang yang terkenal,
dengan nama The Sarbanes-Oxley

Act of 2002 (undang-

undang Sarbanes-oxley tahun 2002), atau juga dikenal dengan


nama The Public Company Accounting Reform And Investor
Protection Act Of 2002, (undang-undang perlindungan pemodal
dan reformasi akuntansi perusahaan public tahun 2002). karena
namanya yang sangat panjang, maka UU ini lebih banyak dikanal
dari singkatannya, yaitu: Sarbox, atau SOX. UU ini membawa
dampak yang sangat luas dan menjadi standar baru, atau acuan
baru bagi: (a) pimpinan puncak dalam mengelola perusahaan
public, (b) auditor eksternal dalam melaksanakan proses audit,
dan

(c)

the

stock

exchange

commission

(SEC)

dalam

melaksanakan fungsi pengawasan, pengaturan, dan penegakan


hukum dan peraturan terhadap para pelaku terkait dipasar
modal.
Tuankotta (2007) telah meringkas pokok-pokok yang diatur
dalam SOX, sebagai berikut :
1. Tujuan dari SOX :
a. Membuat manajemen

perusahaan

bertanggung

jawab
b. Memperkuat pengungkapan (disclosure)
c. Melakukan review yang teratur (oleh SEC)
d. Membuat akuntan bertanggung jawab
2. SOX berlaku untuk siapa :
a. Perusahaan
yang
memperdagangkan
berharganya di bursa Amerika Serikat

surat

b. Perusahaan dangan pemodal lebih dari 500 orang


dengan nilai asset minimal 10 juta US dollar
c. Perusahaan degan pemodal lebih dari 300 orang dan
memenuhi syarat lain seperti pernerbitan surat utang
berjangka panjang
d. Para pendaftar sukarela
e. Perusahaan yang registrasinya masih pending
3. Pembentukan badan baru : Public Company Oversight
Board (PCAOB) yang tugas utamanya
a. Mendaftarkan kantor akuntan public (KAP)
b. Membuat aturan mengenai audit, kontol

atas

kualitas, etika dan standar lainnya


c. Melakukan inspeksi terhadap KAP
d. Melakukan investigasi, menjalankan proses disiplin,
dan

menjatuhkan

sanksi

terhadap

KAP

yang

melanggar ketentuan yang ada


e. Menegakkan ketentuan SOX
f. Melaksanakan tugas dan kewajiban lainnya kalau
diperlukan
4. Dampak sosial SOX terhadap profesi akuntan :
a. Melarang pemberian jasa-jasa non-audit bersamaan
dengan pemberian jasa audit, jasa-jasa non audit
tersebut adalah : pembukuan, perancangan, dan
implementasi

system

informasi

keuangan,

jasa

penilaian, jasa actuarial, jasa audit internal, fungsi


manajemen dan SDM, broker, dealer, penasehat
investasi, atau jada perbankan investasi, jasa hokum
dan jasa lain yang di tetapkan dengan peraturan lain.
b. Rotasi dan pembatasan auditor ( misalnya rotasi dari
lead partner dan concurring audit partner setiap (5)
tahun
5. Dampak SOX terhadap Manjemen Perusahaan :
a. Penegasan tanggung jawab atas fraud ada pada
manajemen

b. Keharusan perusahaan public membentuk komite


audit, yang antara lain bertanggung jawab atas
urusan perusahaan dengan auditor independen
c. CEO dan CFO harus mendatangani penyertaan
tentang kewajaran laporan keuangan perusahaan
d. CEO dan CFO harus mengembalikan bonus yang
telah di terima kalau terjadi penyajian ulanglaporan
keuangan akibat

pelanggaran material

terhadap

ketentuan-ketentuan pelaporan keuangan


e. Manajemen bertanggung jawab atas pemeliharaan
pengendalian internal
6. Penyampaian informasi penting kepada pemodal
a. Penegasan
bahwa
setiap
pemodal

berhak

mengetahui segala fakta dan keadaan yang secara


wajar akan mempengaruhi proses keputusanpemodal

7. Kapan dokumen boleh di hancurkan :


a. Menghancurkan
dokumen
atau
dokumen

baru

mempengaruhi

untuk

investigasi

menciptakan

menghalangi
merupakan

atau
tindakan

kejahatan
b. Auditor wajib menyimpan semua kertas kerja selama
(7) tahun sejak laporan di terbitkan
Ketentuan dalam SARBOX, atau SOX ini menjadi pangkal
munculnya paradigm baru dalam pengelolaan suatu perusahaan
yang disebut Tata Kelola perusahaan yang baik (Good Corporate
Governance) yang sering disingkat GCG.
TATA KELOLA PERUSAHAAN (CORPORATE GOVERNANCE)
Pengertian CG

Konsep corporate governance pertama kali diperkenalkan


oleh Cadbury Committee di Inggris pada tahun 1922, namun
baru mulai populer pada akhir abab ke-20 setelah muncul
berbagai kasus manipulasi yang dilakukan oleh pimpinan puncak
perusahaan-perusahaan multi nasional, khususnya yang terjadi
di Amerika Serikat (Agoes & Ardana, 2007). Definisi yang
diberikan oleh Cadbury Committee tentang tata kelola
perusahaan (corporate governance/CG) adalah:
A set of rules that define the relationship between
shareholders, managers, creditors, the government, employees,
and other internal and external stakeholders in respect to their
right and responsibilities, or the system by which componies are
directed and

controlles.

Atau bila diterjemahkan secara bebas, CG adalah:


Seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara
pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak
kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang
kepentingan internal dan eksternal lainnya yang
mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.
Definisi yang diberikan oleh Cadbury Commitee mewakili
definisi dalam arti luas, karena melihat kembali mekanisme kerja
dan aturan main seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).
Definisi dalam arti sempit yang hanya mengatur
mekanisme kerja, wewenang dan tanggung jawab beberapa
kelompok pemangku kepentingan saja (pemegang saham, direksi
dan manajer) diberikan oleh Organization for Economic and
Development (OECD) sbb:

The sructure through which shareholders, directors,


managers, set of the board objectives of the company, the
means of attaining those objectives and monitoring
perfomance
Atau bila diterjemahkan secara bebas, CG adalah:
Suatu struktur yang terdiri dari para pemegang saham, direktur,
manajer, seperangkat tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan,
dan alat-alat yang akan digunakan dalam mencapai tujuan dan
memantau kinerja.
Prinsip-prinsip CG
Pada dasarnya, ada dua hal pokok yang ditegaskan kembali
dalam Tata kelola perusahaan, yaitu:
1. Perumusan dan penegasan tentang prinsip-prinsip dasar
pengelolaan perusahaan yang dianggap sehat
2. Perumusan dan penegasan tentang aturan main, atau
mekanisme kerja antar manajemen (board of directors)
dengan para pemangku kepentingan perusahaan
(stakeholders)
Prinsip-prinsip dasar pengelolaan perusahaan yang sehat
menurut National Commitee on Governance (NCG) terdiri dari :
1. Perlakuan yang setara (fairness)
Prinsip kesetaraan menyiratkan pentingnya para pengelola
memperlakukan semua pihak yang berkepentingan
terhadap perusahaan secara adil dalam setiap keputusan
dan tindakan yang dilakukan.
2. Transparansi (transparency)
Prinsip transparansi mewajibkan para pengelola
perusahaan untuk menerapkan prinsip keterbukaan dan

kejujuran dalam memberikan informasi kepada semua


pemangku kepentingan yang berhubungan dengan
rencana, kebijakan, strategi, kinerja dan informasi lain
yang relevan.
3. Akuntabilitas (accountability)
Prinsip akuntanbilitas menekankan kewajiban manajemen
untuk membina Sistem akuntansi yang efektif agar dapat
menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya.
Untuk itu manajemen wajib menetapkan kejelasan fungsi,
wewenang, dan tanggung jawab seriap orang dalam
organisasi agar pengelolaan berjalan efektif.
4. Responsibilitas (responsibility)
Prinsip responsibilitas menekankan pentingnya pengelola
bertanggung jawab atas setiap tindakan yang
dilakukannya. Tanggung jawab ini tidak hanya diwujudkan
dalam bentuk pencapaian target keuntungan (laba), tetapi
juga mencakup dimensi lainnya seperti: ketaatan terhadap
hukum dan peraturan yang berlaku, kelestarian alam, nilainilai dan etika, serta kepedulian terhadap masyarakat
sekitar.
5. Kemandirian (independency)
Prinsip kemandirian adalah suatu karakter yang harus
dimiliki oleh para pengelola yang ditandai oleh sikap
profesionalisme, percaya diri, bebas dari konflik
kepentingan, dan tidak mudah ditekan oleh berbagai pihak.
Tujuan dan Manfaat CG
Tujuan dan manfaat dari penerapan CG, antara lain:
a. Meminimaliskan terjadinya manipulasi oleh manajemen
akibat konflik kepentingan dan meningkatkan
profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan.
b. Meningkatkan kepercayaan para investor dan calon
investor; sehingga diharapkan lebih mudah memperoleh

akses modal dengan persyaratan yang lebih mudah dan


lebih murah.
Meningkatkan kinerja perusahaan, khususnya dalam jangka
panjang.
TEORI-TEORI ETIKA
Etika sering dikaitkan dengan pernyataan-pernyataan yang pada
umumnya dinyatakan, seperti:
a. Jangan melukai orang
b. Jangan melakukan sesuatu yang membahayakan
c. Lakukanlah pada orang lain, sebagaimana Anda ingin
orang lain perlakukan pada diri Anda
d. Jangan berkata bohong
Ada 4 teori etika yang berpengaruh:
a. Teori

konsekuentalis

mengemukakan

bahwa

dalam

menentukan apa yang baik dan tidak baik hendaknya


berpedoman pada hasil atau konsekuensi dari tindakan
tersebut. Teori ini dibagi 2 yaitu:
1. Teori Egoisme berpedoman pada konsekuensi dari suatu
tindakan bagi diri sendiri, jika akibat dari suatu tindakan
menguntungkan diri sendiri maka tindakan tersebut
dianggap etis begitupula sebaliknya jika suatu indakan
merugikan

diri

sendiri

maka

dianggap

tidak

etis.

Biasanya teori egoism ini sering merugikan pihak lain.


2. Teori Utilitarianisme menggunakan prinsip yang sama
dengan teori egoisme, namun yang berbeda adalah
akibat dari suatu tindakan dilihat dari banyak orang
sedangkan pada eori egoisme dilihat dari satu orang.
Jika suatu tindakan menguntungkan bagi banyak orang
maka tindakan tersebut dianggap etis meskipun harus

merugikan sebagian kecil orang atau pihak, begitupula


suatu tindakan dianggap tidak etis apabila akibat dari
suatu tindakan merugikan banyak orang.
b. Teori Deontologi / Teori Kewajiban yang dipelop[ori oleh
Immanuel Kant berpandangan bahwa dalam menentukan
etisnya suatu tindakan adalah dari proses suatu keputusan
atau tindakan. Suatu tindakan dianggap etis apabila
dilandasi

oleh

kemauan

baik

dan

kesadaran

untuk

memenuhi suatu kewajiban.


c. Teori Keutamaan (Aris Toteles) tidak lagi mempersoalkan
keetisan suatu tindakan namun lebih menekankan pada
sifat-sifat mulia. Semakin mulia suatu sifat maka semakin
etis tindakan tersebut. Oleh karena itu yang diperhatikan
adalah pembangunan karakter yang mulia.
Teori Otonom mencoba menggali isu tentang dan teori etika dari
ajaran-ajaran agama, yang berarti kadar keetisan seseorang
ditentukan oleh seberapa orang tersebut telah mengamalkan
ajaran agamanya.
ETIKA BISNIS
Terdapat 2 pandangan yang berlawanan tenteng perlu tidaknya
menegakan komitmen moral/etika dalam menjalankan aktivitas
bisnis
1. Pandangan Tradisional pelaku bisnis terhadap aktivitas
bisnis, memahami sifat bisnis itu bersifat amoral artinya
bahwa aktivitas bisnis tidak ada hubungannya dengan
etika bisnis. Bisnis tidak perlu dicampur adukkan dengan
etika karena dunia bisnis penuh dengan resiko, persaingan,
dan perjudian.
2. Pandangan Modern pelaku bisnis terhadap aktivitas bisnis,
memahami sifat bisnis tidak bisa lepas dari etika bisnis.

Tujuan bisnis tidak lagi hanya sekedar mencari keuntungan


semata, namun juga untuk memelihara lingkungan alam
semesta.
Etika

bisnis

atau

etika

memasukan

konsep,

mengambil

suatu

terapan

prinsip,

dalam

bisnis

adalah

etika

bisnis

dalam

Aktivitas

bisnis

dan

keputusan

bisnis.

menentukan perekonomian suatu Negara

(investasi dan

produksi) , namun juga bisa terjadi sebaliknya apabila pelaku


bisnis berlaku tidak etis dan professional.
Konsep-konsep etika terapan dalam bisnis antara lain:

Konsep tripple buttom line (3p)


Tata kelola perusahaan yang baik
CSR
Produk ramah lingkungan
Analisa dampak lingkungan
Win-win solution

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERNAL


Pengertian Pengendalian Internal
Istilah pengendalian internal sebenarnya telah lama dikenal
oleh para akuntan dan auditor, dan definisi atas istilah hal ini
telah beberapa kali mengalami perubahan. Terakhir, definisi yang
banyak dijadikan rujukan adalah definisi yang diumumkan oleh
Committee of Sponsoring Organizations (COSO) of the Treadway
Commission, (1994), sebagai berikut :
..... as a process, effected by an entitys board of directors,
management

and

other

personel,

designed

to

provide

reasonable assurance regarding the achievement of objectives in


the following catagories: (a) effectiveness and efficiency of
operations,

(b)

reliabililty

of

financial

reporting,

and

(c)

compliance with applicable laws and regulations. (... suatu


proses yang diberlakukan oleh dewan direksi, manajemen, dan
aparat lainnya, yang dirancang untuk memberikan keyakinan
yang memadai sehubungan dengan pencapaian tujuan dalam
katagori sebagai berikut: (a) efektivitas dan efisiensi operasi, (b)
keandalan laporan keuangan, dan (c) ketaatan terhadap hukum
dan peraturan yang berlaku).
Tujuan katagori (a), meliputi pengukuran kinerja, profitabilitas
dan

pengamanan

aset

perusahaan,

tujuan

katagori

(b),

mencerminkan kualitas sistem informasi akuntansi agar mampu


menghasilkan

laporan

keuangan

yang

andal

dan

dapat

dipercaya, dan tujuan katagori (c), menyiratkan pentingnya


ketaatan terhadap berbagai peraturan hukum dan perundangan
yang berlaku, serta berbagai kebijakan baik yang dikeluarkan
oleh pemerintah maupun yang ditetapkan oleh perusahaan.
Komponen-komponen Pengendalian Internal

3 dimensi yang terdapat di kotak tersebut adalah (1) tujuanptujuan kontrol, (2) komponen-komponen kontrol, dan (3) entitas
kontrol.
Dimensi kesatu, tujuan dari pengendalian internal, yaitu:
a. Pelaporan Keuangan (Financial Reporting),
b. Operasi (Operations),
c. Ketaatan (Compliance).
Dimensi kedua, komponen-komponen kontrol terdiri dari 5
komponen sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Lingkungan Pengendalian (Control Environment),


Penaksiran Risiko (Risk Asseement),
Aktivitas Pengendalian (Control Activities),
Informasi
dan
Komunikasi
(Information

and

Communication),
e. Pemantauan (Monitoring).
Dimensi ketiga dari pengendalian internal dilihat dari komponen
entitas (entity) yang terdiri dari:
a. Entitas berdasarkan funsi, atau aktivitas,
b. Entitas berdasarkan unit-unit dalam suatu organisasi.
Penjelasan singkat dari masing-masing dimensi pengendalian
internal:
Dimensi satu: dilihat dari tujuan pengendalian internal, terdiri
dari
1. Tujuan pelaporan keuangan (financial reporting),
2. Tujuan operasi (operations),
3. Tujuan ketaatan (compliance).
Tujuan pelaporan keuangan, berarti pentingnya manajemen
mengembangkan

sistem

informasi

akuntansi

yang

mampu

menghasilkan laporan keuangan (financial statement) yang

berkualitas. Kualitas laporan keuangan ditentukan oleh tingkat


keandalan (reliability) dan relevansi (relevance) dari informasi
keuangan tersebut. Suatu laporan keuangan disebut andal jika
laporan keuangan tersebut disusun secara cermat (akurat),
bebas dari salah saji yang material, dan menggambarkan apa
adanya. Laporan keuangan disebut relevan jika laporan tersebut
bermanfaat bagi pihak pengguna untuk proses pengambilan
suatu keputusan. Suatu laporan dapat dikatakan bermanfaat, jika
memenuhi

tiga

atribut,

yaitu:

(1)

laporan

diberikan

saat

diperlukan (timeless) oleh pemangku kepentingan, (2) laporan


tersebut dapat digunakan untuk mengkonfirmasi realisasi kinerja
suatu entitas yang dibebankan oleh pemangku kepentingan
kepada pengelola, (3) laporan tersebut dapat digunakan untuk
prediksi perkembangan kinerja operasional berikutnya.
Tujuan

operasi

mencerminkan
tersebut

dari

kemampuan

untuk

organisasi,

pengendalian
struktur

mengamankan

serta

kemampuan

internal

antara

pengendalian

aset-aset

suatu

pengendalian

lain

internal

entitas/unit

internal

untuk

mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi operasi. Efektivitas


operasi diukur dari tingkat pencapaian suatu kinerja, atau hasil
(output, target) yang telah ditentukan. Contoh pengukuran
efektivitas, yaitu presentase realisasi laba terhadap target laba,
realisasi penjualan terhadap target penjualan, realisasi produksi
terhadap

target

mencerminkan

produksi,

pengukuran

dan

sumber

sebagainya.
daya

Efisiensi

(resources)

yang

digunakan, atau dikorbankan untuk mencapai suatu output


(hasil) tertentu. Ukuran efisiensi biasanya dinyatakan dalam rasio
input terhadap output, atau jumlah input per satuan output, atau
rasio jumlah input sesungguhnya dibandingkan dengan jumlah
input standar. Contoh pengukuran efisiensi: rasio harga pokok

penjualan terhadap penjualan, rasio biaya operasi terhadap


penjualan, jumlah pemakaian bahan baku per satuan/unit
produksi, jumlah jam kerja per satuan/unit produksi, rasio
pemakaian bahan baku terhadap standar bahan baku per
satuan/unit produksi, dan sebagainya.
Tujuan ketaatan dari pengendalian internal menekankan pada
kemampuan internal untuk memastikan bahwa setiap peraturan,
kebijakan, dan prosedur yang telah ditetapkan baik oleh pihak
eksternal (misalnya: pemegang saham, pemerintah) maupun
oleh

pihak

internal

(misalnya:

manajemen),

ditaati

dan

diimplementasikan oleh setiap orang/unit dalam suatu entitas


organisasi. Contoh kebijakan/prosedur dari pihak eksternal antara
lain yang berkaitan dengan ketentuan tata kelola perusahaan,
persyaratan komisaris dan direktur independen, persyaratan dan
ketentuan komite audit, prosedur penunjukkan Akuntan publik,
ketentuan tanggung jawab sosial perusahaan, dan sebagainya.
Contoh

kebijakan/prosedur

dari

pihak

internal

antara

lain

prosedur penjualan, prosedur pembelian, prosedur konversi,


prosedur penerimaan dan pembayaran kas, dan sebagainya.
Struktur pengendalian internal dilihat dari Dimensi Kedua
Komponen-komponen pengendalian internal, terdiri dari :
1. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan pengendalian internal menjadi faktor utama
yang menentukan tingkat keefektivan Sistem pengendalian
internal, terutama karena menyangkut kualitas kesadaran
etis dan kompetensi oknum-oknum pimpinan dan orangorang di dalam suatu entitas, atau organisasi.
Lingkungan pengendalian berkaitan dengan :
1. Aspek integritas, nilai-nilai moral,
2. Komitmen terhadap kompetensi sumber daya manusia
3. Filosofi manajemen dan cara operasi
4. Partisipasi komite audit

5. Struktur organisasi
6. Praktik dan kebijakan sumber daya manusia
7. Perhatian serta pengarahan manajemen

terhadap

entitas dan karyawannya.


2. Penaksiran Risiko (Risk Assessment)
Asesmen risiko merupakan proses mengindentifikasi dan
menganalisis

risiko-risiko

relevan

kaitannya

dengan

pencapaian tujuan yang ditetapkan, dan menjadi dasar


untuk memutuskan bagaimana risiko harus dikelola.
3. Aktivitas Pengendalian (Control Activities)
Aktivitas pengendalian meliputi berbagai kebijakan dan
prosedur untuk memastikan agar pengarahan manajemen
dapat terlaksana pada berbagai tingkat kegiatan. Aktivitas
pengendalian mencakup serangkaian aktivitas yang sangat
beragam

diantaranya

pengesyahan,

adalah

verifikasi,

proses

reviu

persetujuan,

kinerja

organisasi,

pemisahan tugas, dan sebagainya.


Beberapa aktivitas kontrol yang perlu diperhatian dalam
perancangan SIA :
- Input ( data dan perangkat perekaman data)
- Proses (pengolahan, program aplikasi, dan perangkat
pengolahan data, Output ( laporan, media, perangkat
pelaporan, dan komunikasi perangkat laporan)
Aktivitas kontrol dapat dikelompokkan ke dalam lima tipe
kontrol, yaitu :
1. Adanya pemisahan fungsi yang memadai
2. Berjalannya sistem otorisasi yang benar atas transaksi
dan aktivitas
3. Terbinanya sistem

dokumentasi

dan

catatan

yang

mencukupi
4. Terbinanya kontrol secara fisik atas asset dan catatancatatan
5. Adanya sistem pengawasan independen atas suatu
kinerja

4. Informasi

dan

Komunikasi

(Information

and

Communication)
Informasi yang relevan dan andal harus diidentifikasi,
direkam, diolah, dan dikomunikasikan dalam bentuk dan
kerangka waktu yang tepat untuk membantu orang-orang
dalam

suatu

entitas

dalam

menjalankan

tugas

dan

tanggung jawabnya. Dalam konteks ini peranan SIA dan


SIM menjadi sangat penting untuk menghasilkan jenis
laporan yang bersifat operasional, manajerial, financial,
dan informasi yang berhubungan dengan ketaatan, atau
kepatuhan.
Komunikasi mengandung arti adanya proses penyebaran
informasi ke berbagai arah, seperti: dari atas ke bawah
(top down), dari bawah ke atas (bottom up), menyamping
(horizontal), dan sebagainya.
5. Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan mengandung arti suatu proses melaksanakan
pengawasan,

perolehan

umpan

balik,

penilaian,

perbaikan/penyempurnaan dan pelaksanaan tindak lanjut


atas rencana perbaikan/penyempurnaan yang dilaksanakan
secara

berkelanjutan

terhadap

Sistem

pengendalian

internal yang ada.


Struktur pengendalian internal dilihat dari Dimensi Ketiga,
yaitu komponen entitas (entity) yang terdiri dari :
1 Entitas berdasarkan fungsi, atau aktivitas
Entitas
menurut
fungsi
berarti
melihat

struktur

pengendalian berdasarkan fungsi-fungsi yang ada dalam


suatu

entitas

organisasi,

misalnya

untuk

perusahaan

dagang pada umumnya terdiri dari fungsi pembelian,


fungsi penjualan, fungsi keuangan, fungsi akuntansi, dan
fungsi sumber daya manusia. Pada perusahaan manufaktur
ditambah lagi satu fungsi, yaitu fungsi produksi.

2 Entitas berdasarkan unit-unit organisasi


Bagi kepentingan manajemen misalnya, yaitu untuk mengukur
dan menilai kinerja setiap unit-unit yang ada di dalam suatu
organisasi perusahaan secara berjenjang, sering dirancang untuk
pengukuran

dan

berdasarkan

pelaporan

konsep

kinerja

akuntansi

unit-unit

organisasi

pertanggung

jawaban

(responsibility accounting).

Prinsip-prinsip Pengendalian Internal


Tujuan pengendalian internal dilihat dari perspektif Sistem
Informasi

Akuntansi,

lebih

ditunjukan

untuk

membantu

manajemen melakukan pengamanan aset perusahaan, dan


membina Sistem Informasi Akuntansi yang andal dan dapat
dipercaya
Untuk mencapai kedua tujuan ini, Weygrant, Kieso, Kimmel
(2007) mengemukakan beberapa prinsip pengendalian internal
sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menetapkan tanggung jawab


Pemisahan tugas
Prosedur dokumentasi
Kendali secara fisik, elektronik, dan mekanik
Verifikasi internal yang bersifat independen
Alat kontrol lainnya

Penetapan Tanggung Jawab


Salah

satu

prinsip

pengendalian

internal

adalah

adanya

penunjukan pejabat khusus yang bertanggung jawab atas setiap


tugas yang ada. Kontrol akan lebih efektif, jika setiap tugas

tertentu ditetapkan satu pejabat khusus yang bertanggung


jawab. Bila ada suatu tugas, atau pekerjaan yang dapat
dikerjakan oleh lebih dari satu orang tanpa kejelasan siapa yang
harus bertanggung jawab, maka akan sering timbul suasana dan
sikap saling lempar tanggung jawab dalam hal terjadinya
kesalahan, kelalaian, atau penyimpangan dalam menjalankan
tugas.
Pemisahan Tugas
Prinsip pemisahan tugas merupakan salah satu prinsip
penting dalam proses pengendalian internal. Prinsip ini setidaktidaknya diterapkan dua hal :
1. Beberapa orang ditugaskan secara terpisah untuk
melaksanakan satu rangkaian kegiatan
2. Pemisahan fungsi pencatatan (akuntansi) dengan
fungsi

penyimpanan

transaksi
Prinsip 1 menjelaskan

aset
bahwa

dan
perlu

fungsi

otorisasi

ditugaskannya

beberapa orang yang berbeda untuk menangani satu rangkaian


kegiatan atau proses bisnis. Fungsi ini dimaksudkan agar ada
unsur internal check dan cross check antar petugas untuk
memastikan kebenarannya. Penugasan hanya pada satu orang
menumbuhkan peluang yang sangat besar bagi timbulnya
tindakan

manipulasi

atau

kesalahan

akibat

kelalaian

atau

kecerobohan dalam menjalankan tugasnya tanpa dapat dikontrol


oleh petugas lainnya.
Prinsip ke 2 menjelaskan bahwa pentingnya diperhatikan adanya
pemisahan 3 fungsi dalam setiap organisasi (perusahaan), yaitu
fungsi akuntansi, fungsi penyimpanan dan fungsi otorisasi.
Resiko terjadinya kesalahan juga dapat terjadi apabila hanya ada
satu bagian saja yang melakukan semua kegiatan tersebut.

Media Dokumentasi
Ada dua konsep yang hampir sama, namun mempunyai
arti yang berbeda, yaitu konsep "dokumentasi" dan konsep
"dokumen". Dokumentasi berarti membuat berbagai kebijakan,
prosedur, sistem, intruksi kerja, panduan, dan sejenisnya dalam
bentuk deskripsi tertulis dalam bentuk teks, gambar, atau bagan
alir (flowchart)
Dokumen merupakan media yang dipergunakan untuk
merekam data transaksi dan peristiwa. Dokumen yang telah diisi
data disebut catatan. Dokumen berfungsi sebagai alat bukti
akuntansi yang sangat penting. Semua pencatatan akuntansi
harus didasarkan atas dokumen pendukung yang sah, akurat,
dan lengkap
Dokumentasi prosedur menjelaskan suatu mekanisme,
proses, atau tahapan-tahapan yang melewati beberapa orang,
atau bagian tentang bagaimana dokumen transaksi disiapkan,
dibuat, dan diperiksa oleh serta didstribusikan ke berbagai pihak
termasuk

ke

bagian

akuntansi

untuk

proses

pencatatan

akuntansi. Dari persepektif akuntansi, suatu prosedur yang baik


adalah

bila

memenuhi

syarat-syarat

pengendalian

sebagai

berikut:
1. Setiap dokumen harus telah diberi nomor urut
tercetak sebelumnya
2. Adanya mekanisme verifikasi oleh pejabat yang
ditunjuk, dan adanya mekanisme uji silang (cross
check) antar pejabat, atau antar bagian untuk
memastikan setiap dokumen transaksi telah diuji
oleh lebih dari satu orang

Adanya bagan alir dokumen (Document Flow Chart) yang baik


yang mencerminkan kejelasan aliran dokumen dan ketetapan
waktu setiap dokumen sampai ke bagian akuntansi.