Anda di halaman 1dari 56

Referat Ilmu Kedokteran Forensik

ASPEK MEDIKOLEGAL
KEBIRI PADA PELAKU
PERKOSAAN
PENGUJI :

PEMBIMBING :

DR. INTARNIASIH NR SP.KF, MSI.MED

DR. AGUNG HADI PRAMONO, MH

Disusun Oleh :

Budiono

Cindy Purnama

Jhony Susanto

Suci Ventasamia

Fransiska Sinurat

Rumusan Masalah

Apakah ruang lingkup kejahatan seksual dan perkosaan?

Bagaimana aspek hukum dan medikolegal kejahatan seksual?

Bagaimanakah hukuman kebiri terhadap kejahatan seksual?

Bagaimanakah yurisprudensi secara nasional dan global serta


tanggapan tokoh/instansi terkait hukuman kebiri terhadap kejahatan?

Tujuan

Mengetahui ruang lingkup kejahatan seksual dan perkosaan.

Mengetahui dan menjelaskan aspek hukum dan medikolegal kejahatan


seksual.

Mengetahui hukuman kebiri terhadap pelaku kejahatan seksual.

Mengetahui yurisprudensi secara nasional dan global serta tanggapan


tokoh/instansi terkait hukuman kebiri terhadap kejahatan seksual

Manfaat
Bagi Mahasiswa

Meningkatkan kemampuan dalam penyusunan suatu masalah dari berbagai sumber dan teknik
penulisan.

Melatih kerjasama tim dalam penyusunan suatu masalah.

Menambah pengetahuan dalam bidang ilmu kedokteran forensik.

Bagi Instansi Terkait

Menambah bahan referensi bagi dokter dalam proses hukum kejahatan seksual dalam bidang ilmu
kedokteran forensik.

Bagi Masyarakat

Memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat bagaimana hukuman pada pelaku
tindak pidana kejahatan seksual yang terjadi di masyarakat para korban maupun pelaku pada
kasus tindak pidana yang terjadi di masyarakat.

Tinjauan Pustaka
1. Kejahatan

Seksual

Definisi : Menurut IASC (Inter Agency standing comitte) 2005,


kejahatan seksual merupakan semua tindakan seksual, percobaan
tindakan seksual, komentar yang tidak diinginkan, perdagangan
seks dengan menggunakan paksaan, ancaman, paksaan fisik oleh
siapa saja tanpa memandang hubungan dengan korban, dalam
situasi apa saja, termasuk tapi tidak terbatas pada rumah dan
pekerjaan

PERKOSAAN
Perkosaan
adalah
persetubuhan
yang
dilakukan
seorang
lelaki
kepada seorang perempuan yang
bukan istrinya dengan kekerasan
atau ancaman kekerasan. (pasal 285
KUHP)

Selingkuh
Perkosaan
Senggama

VS wanita tidak berdaya


VS Wanita dibawah
umur

Incest

K
S
Non
Senggama

Perbuatan Cabul

SENGGAMA/PERSETUB
UHAN
Definisi : Penetrasi penis kedalam Vagina
baik sebagian maupun total ke dalam
vagina, yang disertai maupun tidak disertai
dengan ejakulasi

LEGAL

ILEGAL

SENGGAMA
LEGAL

Ada izin / consent dari wanita yg disetubuhi ,

Wanita tersebut ;

Cukup umur ,

Sehat akal ,

Tidak terikat perkawinan dg lelaki lain ,

Bukan anggota keluarga terdekat dari pelaku

Izin / consent sah secara


hukum

1.
2.
3.
4.

Sadar (conscius) ,
Wajar (naturally) ,
Tidak ada keraguan (unequivocal) ,
Atas kemauan sendiri (voluntary)

Izin tidak sah ;


1.Paksaan (force) ,
2.Tipu daya (fraud) ,
3.Ketakutan (fear)

PERKOSAAN
Tindak pidana perkosaan di Indonesia harus memenuhi unsurunsur sebagai berikut (Sofwan Dahlan,2000):
unsur pelaku, yaitu :

harus orang laki-laki

mampu melakukan persetubuhan


unsur korban, yaitu :

harus orang perempuan

bukan istri dari pelaku


unsur perbuatan, yaitu :

persetubuhan dengan paksa ( against her will )

pemaksaan tersebut harus dilakukan dengan


menggunakan kekerasan fisik atau ancaman kekerasan

EMERIKSAAN YANG DAPAT DILAKUKAN DOKTER

Korban Perkosaan,
-

yaitu:

Memastikan korban seorang perempuan,


Mencari tanda-tanda persetubuhan,
Mengungkap identitas laki-laki yg menyetubuhinya
tanda-tanda akibat kekerasan fisik.

Tersangka / Terdawa Pelaku Perkosaan, yaitu:


- Memastikan pelaku seorang laki-laki
- Mengetahui pelaku mampu melakukan senggama

Barang Bukti Yang Ditemukan,


- untuk mengungkap identitas pelaku (misalnya
dengan memriksa sperma, darah, rambut, gigi dll)

yaitu:

Menentukan ada tidaknya persetubuhan

Tanda tidak langsung

Tanda langsung

Adanya robekan selaput dara

Luka lecet atau memar di liang senggama

Adanya sperma

Kehamilan

Penyakit hubungan seksual

Pasal-pasal pada tindak pidana


seksual
1.

Perselingkuhan & berzina (Ps.284 KUHP)

2.

Perkosaan (Ps.285 KUHP)

3.

Persetubuhan dengan wanita yg tidak berdaya (Ps.286 KUHP)

4.

Persetubuhan dg wanita dibawah umur (Ps.287 & 288 KUHP)

5.

Berbuat cabul sesama jenis (Ps.292 KUHP)

6.

Persetubuhan dengan anak sendiri, anak tiri, anak angkat


(Ps.294 KUHP)

Pembuktian tanda-tanda kekerasan


Kekerasan adalah tindakan pelaku yang bersifat fisik yang
dilakukan dalam rangka memaksa korban agar dapat
disetubuhi

Kekerasan fisik yang berada diluar


alat kelamin. (SEXUAL
ORIENTED
INJURIES)

Penggunaan
obat-obat
yang
mengakibatkan korban tidak sadar
(Abdul Munim 97)

PEMERIKSAAN

ANAMNESIS
Pertanyaan yang Mengacu
Pada Kesehatan Umum

1.

Identitas

2.

Riwayat kesehatan/ pembedahan

3.

Riwayat pengobatan

4.

Riwayat PMS

5.

Riwayat hubungan seksual terakhir

6.
7.

Pertanyaan Yang Mengacu Pada


Forensik

1.

Diskripsi kejadian

Riwayat menstruasi

2.

Jumlah dan identitas pelaku,

Riwayat kehamilan

3.

Tanggal dan waktu kejadian

4.

Lokasi dimana kejadiannya

5.

Jenis tidakan seksual yang dilakukan

6.

Tempat disalurkan ejakulasi

7. Penggunaan benda
dalam melakukan
penetrasi

8. Apakah korban sudah mengganti pakaian


9. Pengunaan senjata tajam
10. Apakah korban sudah mandi

PEMERIKSAAN FISIK
TUJUAN : Untuk menemukan adanya rambut,
serat, dan cairan tubuh pelaku yang merupakan
sumber yang paling penting dalam kasus
pembuktian kasus perkosaan
Trauma Fisik Non
Genital

Trauma Fisik
Genital

TRAUMA FISIK NON GENITAL

Bite marks

Tendangan

Memar

Cekikan

Kuku Jari
Benda asing pada kuku memungkinkan sel kulit dari pelaku sehingga
perlunya di lakukan pengambilan sampel di bawah kuku.

Cavum oral
Pengambilan swab pada cavum oral
serta gigi-geligi diperlukan apabila
terjadi ejakulasi di mulut.

Rambut Pubis
Dilakukan pengambilan swab pada rambut pubis yang dicurigai
adanya bercak semen atau rambut yang terlepas pada pelaku.

PEMERIKSAAN FISIK GENITAL

PEMERIKSAAN VAGINA :
Untuk melihat ada tidaknya
perdarahan vagina, laserasi selaput
dara, jumlah robekan, bentuk
robekan, sifat robekan.

PEMERIKSAAN ANUS
Inspkesi ada tidaknya
robekan, perdarahan dan
abrasi pada anus bila di
curigai terjadi penetrasi
anal yang di lakukan oleh
pelaku

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Menentukan
adanya sperma
pada cairan vagina

Menentukan
adanya sperma
pada pakaian

Menentukan
adanya air mani
(asam fosfatase)

Menentukan
adanya kuman N.
gonorrhea

Menentukan
adanya toksikologi

Menentukan
golongan darah

Menentukan adanya
toksikologi

Menentukan golongan
darah

Bahan pemeriksaan:
Bahan pemeriksaan:
Darah dan urine

cairan vaginal yang berisi air mani


dan darah.

Metode:

TLC

Mikrodiffusi

Metode:
Serologi (ABO grouping test)

Hasil yang diharapkan :


Adanya obat untuk menurunkan atau menghilangkan
kesadaran

Hasil yang diharapkan :


golongan darah dari air mani berbeda
dengan golongan darah dari korban.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM TERHADAP PELAKU


Menentukan adanya sel epitel vagina pada penis
Bahan pemeriksaan:

cairan yang masih melekat disekitar corona glandis.

Metode:

Dengan gelas objek ditempelkan mengelilingi corona glandis,


kemudian gelas objek diletakkan diatas cairan lugol.

Hasil Yang diharapkan:

Epitel dinding vagina yang berbentuk hexagonal tampak berwarna


coklat atau coklat kekuningan.

Menentukan adanya Kuman N. Gonorrhea


Bahan pemeriksaan : sekret
urethrae

Metode : Sediaan Langsung


dengan pewarna gram
Hasil yang diharapkan:
Ditemukan kuman N.gonorrhae

TEKNIK PEMERIKSAAN PADA ANAK

Frog-Leg

Frog-Leg &
dipangku

Knee-Chest

HUKUMAN
KEBIRI

2003 PASAL 23 DAN 35 2014


PASAL 23 KE PASAL 1 2016
proses dan
PERBANDINGAN

Definisi

Tindakan bedah atau kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi


testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina

Kebiri yang digunakan dalam hukuman pelaku kejahatan seksual adalah


kebiri kimiawi

SEJARAH KEBIRI
Abad

ke-20, kebiri secara bedah telah dilakukan pada


pelaku tindakan kejahatan seksual di Amerika Serikat
dan beberapa negara di Eropa

Tingkat

terulangannya tindak kejahatan seksual


2,5-7,5% setelah kebiri bedah, dibandingkan 6084% pada pelaku tindak kejahatan seksual yang
tidak di terapi

SEJARAH KEBIRI (2)

Sejak tahun 1960an


kebiri bedah di ganti
dengan kebiri kimiawi
yang reversibel

Medroxyprogesterone
asetat (MPA) di
Amerika Serikat,
Cyproterone asetat
(CPA) di Eropa

Menurunkan hasrat
seksual pada pria
dewasa

HUKUM KEBIRI TERHADAP KEJAHATAN SEKSUAL


Tahun 1996 Negara
Bagian California
menerapkan hukuman
kebiri kimiawi pada
pelaku kejahatan
seksual
Negara Bagian Lainnya
Georgia, Iowa,
Lousiana,

Tahun 1997 Negara


Bagian Florida
menerapkan hukuman
kebiri kimiawi

Montana, Oregon,
Texas, Wisconsin

Di Indonesia, Presiden Jokowi sudah menandatangani


Perppu Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua
atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak
Perubahan pada Pasal 81 tentang kekerasan seksual dan Pasal
82 tentang pencabulan
Hukuman ditambah sepertiga dari ancaman pidana, seumur
hidup, pengumuman identitas pelaku, serta kebiri kimia dan
alat deteksi elektronik

PERPPU KEBIRI
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANGUNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK.
Ketentuan Pasal 81 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 81
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap Orang yang dengan
sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan
dengannya atau dengan orang lain.
(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang tua, wali, orangorang yang mempunyai hubungan keluarga, pengasuh anak, pendidik, tenaga kependidikan, aparat yang
menangani perlindungan anak, atau dilakukan oleh lebih dari satu orang secara bersama-sama, pidananya
ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

PERPPU KEBIRI (2)


(4) Selain terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (3), penambahan 1/3 (sepertiga) dari ancaman
pidana juga dikenakan kepada pelaku yang pernah dipidana karena melakukan tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76D.
(5) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D menimbulkan korban lebih dari 1 (satu)
orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi,
dan/atau korban meninggal dunia, pelaku dipidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 10
(sepuluh) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.
(6) Selain dikenai pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5), pelaku dapat
dikenai pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku.
(7) Terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat dikenai tindakan berupa kebiri kimia
dan pemasangan cip.
(8) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) diputuskan bersama-sama dengan pidana pokok dengan
memuat jangka waktu pelaksanaan tindakan.
(9) Pidana tambahan dan tindakan dikecualikan bagi pelaku Anak.

PERPPU KEBIRI (3)

Di antara Pasal 81 dan Pasal 82 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 81A yang berbunyi sebagai
berikut:

Pasal 81A
(1) Tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (7) dikenakan untuk jangka waktu
paling lama 2 (dua) tahun dan dilaksanakan setelah terpidana menjalani pidana pokok.
(2) Pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bawah pengawasan secara
berkala oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum,
sosial, dan kesehatan.
(3) Pelaksanaan kebiri kimia disertai dengan rehabilitasi.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan tindakan dan rehabilitasi diatur
dengan Peraturan Pemerintah.

PERPPU KEBIRI (4)

Ketentuan Pasal 82 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 82
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang tua,
wali, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga, pengasuh anak, pendidik, tenaga
kependidikan, aparat yang menangani perlindungan anak, atau dilakukan oleh lebih dari
satu orang secara bersama-sama, pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Selain terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (2), penambahan 1/3
(sepertiga) dari ancaman pidana juga dikenakan kepada pelaku yang pernah dipidana
karena melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E.

PERPPU KEBIRI (5)

(4) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E menimbulkan korban
lebih dari 1 (satu) orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular,
terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, pidananya
ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(5) Selain dikenai pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4),
pelaku dapat dikenai pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku.
(6) Terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat (4) dapat
dikenai tindakan berupa rehabilitasi dan pemasangan cip.
(7) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diputuskan bersama-sama dengan pidana
pokok dengan memuat jangka waktu pelaksanaan tindakan.
(8) Pidana tambahan dikecualikan bagi pelaku Anak.

PERPPU KEBIRI (6)

Di antara Pasal 82 dan Pasal 83 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 82A yang berbunyi sebagai berikut:
Pasal 82A
(1) Tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (6) dilaksanakan selama dan/atau
setelah terpidana menjalani pidana pokok.
(2) Pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bawah pengawasan secara
berkala oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum, sosial,
dan kesehatan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan tindakan diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Pasal II
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.

Patofisiologi Kebiri
Testosterone Homeostatis, sexual drive dan ciri seks pria
Regulasi testosterone Leydig cell, testosterone, estrogen, diet, siklus tidur bangun,
usia, hipotalamus, thalamus, pituitary
Hukuman Kebiri Mengganggu produksi testosterone dalam tubuh pria sehingga kadar
testosterone serum dalam tubuh menurun dengan antiandrogen. Mengurangi atau
menghilangkan libido serta menyebabkan infertilitas sementara sampai dengan
permanen
Agent untuk hukuman Medroxyprogesterone asetat (MPA) di Amerika Serikat,
Cyproterone asetat (CPA) di Eropa

Kebiri di Negara Lain

Yurisprudensi secara nasional dan global


serta tanggapan tokoh/instansi terkait
hukuman kebiri terhadap kejahatan seksual
di Indonesia dan internasional

Rusia, Polandia, Korea Selatan, Macedonia, Estonia, dan Moldova


keharusan atau paksaan untuk dikastrasi
Korea Kejahatan seks terhadap anak di bawah usia 16 tahun bisa dihukum
kebiri kimia pada pelaku yang korbannya berumur di bawah 19 tahun.
Belanda, Jerman, Perancis, Belgia, Swedia, Denmark, dan Ceko
pelaku kejahatan seksual boleh memilih hukuman baginya
California, Florida, Iowa, dan Louisiana,
memperbolehkan kastrasi kimia dan bedah (sukarela).
Skandinavia
Kastrasi mengurangi tingkat pengulangan kejahatan seksual oleh pelaku
yang sama hingga 35%.

Charles Scott dan Trent Holmberg, dalam artikelnya di Journal of the


American Academy of Psychiatry and the Law, pada September
1996, menyebutkan bahwa California menjadi negara bagian di AS
pertama yang mengizinkan penerapan kebiri terhadap penjahat seks
tertentu yang telah tuntas menjalani masa tahanannya.

Ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel,


alumnus The University of Melbourne, Autralia
"Di balik itu ada amarah, dendam, kebencian yang berkobar-kobar,
"Justru kastrasi hormonal bisa membuat si predator semakin eksplosif,"
(26/10/2015).

Prof. Muhammad Mustofa, Guru


Besar Kriminologi UI
Kebiri

tidak menyelesaikan masalah.

Kekerasan

dibalas dengan kekerasan.

Melemahnya

pengendalian sosial masyarakat mengenai tingkah laku

seksual.
Negara

gagal melakukan kontrol sosial.

Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP Universitas


Indonesia
pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang komprehensif,
terbukti dapat memberikan kemampuan bagi anak dan remaja untuk
memahami otoritas tubuhnya, mengenali tindak kekerasan seksual
dan mengajarkan prinsip anti kekerasan sehingga anak dan remaja
dapat terhindar dari bahaya kekerasan seksual. Selain itu pendidikan
kesehatan reproduksi dan seksualitas ini juga memberikan kemampuan untuk
mengendalikan dorongan seksual, memberikan informasi seputar
kesehatan reproduksi kepada sesama teman sebaya, serta mencegah
anak dan remaja melakukan hubungan seksual berisiko.

Pandangan Ulama Terhadap Kebiri


Menurut hukum islam, laki-laki dengan penampilan perempuan tidaklah diperbolehkan begitu
juga sebaliknya, pada kastrasi, ciri tubuh pria dapat berubah dikarenakan ketidakseimbangan
hormonal, sehingga hukuman kebiri secara kimiawi menurut islam tidak diperbolehkan.
Pandangan Seto Mulyadi, pemerhati anak
Seto Mulyadi meminta pemerintah untuk mengkaji ulang wacana memberikan hukuman kebiri
bagi pelaku kejahatan seksual. Alasanya secara psikologis, pelaku yang dikebiri ini dapat
bertindak lebih agresif. Jadi tidak hanya melakukan kekerasan seksual, tapi dapat melakukan
ke kekerasan berbagai aspek.
Ahok, Gubernur DKI Jakarta
Berbeda dengan praktisi kesehatan dan aktivis perempuan, Gubernur DKI Jakarta setuju dengan
sikap pemerintah pusat apabila undang-undangnya telah berlaku

Pandangan HM. Prasetyo, Jaksa Agung


HM. Prasetyo menilai bahwa kejahatan kekerasan seksual terhadap anak harusnya
menjadi kejahatan luar biasa, atau extraordinary crime, sehingga harus ada penanganan
proses hukum yang luar biasa

Badrodin Haiti, Kepala Polisi RI


Kepala polisi RI menyambut baik usulan tersebut, karena hukuman tambahan dinilai dapat
memberikan efek jera pada predator anak

Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak


Arist yakin hukuman dikebiri sebagai pemberatan hukuman dapat mengurangi kasus kekerasan
anak, hukuman tersebut dinilainya lebih efektif dengan ditambahkanya sanksi sosial dengan
menyebarluaskan serta menempel foto pelaku di tempat tempat umum

PENDAPAT AHLI TENTANG KEBIRI


Menteri Sosial, Menteri
Kesehatan, Komisi
Perlindungan Anak :
Hukuman kebiri dapat
menurunkan tindakan
kejahatan seksual pada
anak

Presiden Jokowi : kejahatan


seksual terhadap anak
ditetapkan sebagai kejahatan
luar biasa karena
mengandung mencam dan
membahayakan jiwa anak.

Komnas HAM : hukuman


kebiri berpotensi
merendahkan martabat
manusia, tidak etis dilakukan
di Indonesia

DI Korea : kebiri kimia


menciptakan beban
sosial ekonomi yang
luar biasa, dengan biaya
USD 4.650/orang/tahun
untuk pengobatan dan
pemantauan

Medis : terapi
psikoterapi
dikombinasikan dengan
farmakologi lebih baik
dibanding monoterapi.

Contoh Kasus :
Sidang putusan kasus pencabulan terhadap belasan anak-anak dan remaja dengan
terdakwa pengusaha Sony Sandra alias Koko digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kota
Kediri, Jawa Timur, Kamis (19/5/2016).

Sejumlah aktivis memintapelaku dihukum berat. Saya minta pelaku dihukum


mati, ujar salah satu korban SS.Pengacara pelaku mengatakan kasus yang menimpa
Sony Sandra adalah prostitusi anak. Pengacara mengatakan pelaku dan korban
bersedia melakukan berhubungan intim atas dasar suka sama suka.

Polisi mengklarifikasi jumlah anak-anak yang menjadi korban persetubuhan


Sony Sandratidak sampai 58. Korban yang perkaranya diproses hukum hanya 7,
Putusan Hakim untuk kasus adalah 10 tahun penjara, yang dinilai tidaklah adil dan
tidak maksimal, namun dalam menanggapi putusan hakim ini, pihak pelaku akan
mengajukan banding ke PN Kediri.

Ilustrasi Kasus :
1. Seorang ibu telah menikah, mengaku diperkosa, bagaimana cara membuktikanya ?
2. Seorang anak berusia 15 tahun mengaku diperkosa 5 bulan yang lalu dan sekarang hamil
bagaimana pembuktianya ?

Kesimpulan
1.

Kejahatan oleh pelaku kejahatan seksual terdahulu, hukuman kejahatan


seksual belum menimbulkan efek jera.

2.

Hukuman kebiri yang dilakukan di Indonesia adalah dengan cara kimiawi.

3.

Hukuman kebiri pada pelaku kejahatan seksual diberlakukan apabila


korban adalah anak-anak.

4.

Hukuman kebiri sudah diberlakukan di berbagai negara lainya

5.

Terdapat banyak pro-kontra terhadap hukuman kebiri di Indonesia dan


secara internasional.

6.

Hukuman kebiri dinilai mampu untuk menimbulkan efek jera pada pelaku
pencabulan dan kejahatan seksual di luar negeri.