Anda di halaman 1dari 53

ALAT PENDETEKSI KEBOCORAN ELPIJI DALAM

RUANGAN MENGGUNAKAN SENSOR GAS TGS2610-D00

TUGAS AKHIR
Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Diploma III
untuk Mencapai Gelar Ahli Madya

Oleh
Pipit Setyawan
5350305041

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2009

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Tugas Akhir ini telah dipertahankan di hadapan sidang penguji
tugas akhir Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang pada
Hari

Tanggal

:
Pembimbing

Drs. Isdiyarto, M. Pd
NIP. 131571559
Penguji I

Penguji II

Drs. Isdiyarto, M. Pd
NIP. 131571559

Drs. Agus Suryanto, M. T


NIP. 131993878

Ketua Jurusan

Ketua Program Studi

Drs. Djoko Adi Widodo, M.T


NIP. 131570064

Drs. Agus Murnomo, M.T


NIP. 131616610

Dekan,

Drs. Abdurrahman, M.Pd.


NIP. 130875753

ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO
1. Tolak ukur keindahan hidup adalah perjuangan pantang menyerah untuk
mencapai tujuan. (Penulis)
2. Kita dilahirkan bukan sebagai orang yang kalah, bukan pula sebagai
seorang pemenang. Tapi kita dilahirkan dengan kemampuan untuk
memilih. Jadi, pilihlah yang terbaik dalam kehidupan ini (Penulis)

PERSEMBAHAN
Tugas akhir ini kupersembahkan untuk:
1. Ibu-ku tercinta
2. Keluarga yang selalu mendukung dan
memberikan dukungan
3. Teman-teman D3 Teknik Elektro 05
4. Teman-teman Kelinci Kozt

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
akhir dengan judul

Alat Pendeteksi Kebocoran Gas Elpiji dalam Ruangan

Menggunakan Sensor Gas TGS2610-D00


Penyusunan tugas akhir ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan
berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmojo, M.Si. selaku Rektor
Universitas Negeri Semarang.
2. Bapak Drs. Abdurrahman, M.Pd., Dekan Fakultas Teknik Universitas
Negeri Semarang yang telah memberikan izin dalam penyusunan tugas
akhir ini
3. Bapak Drs. Djoko Adi Widodo, M.T, Ketua Jurusan Teknik Elektro
Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin dalam
penyusunan tugas akhir ini
4. Bapak Drs. Isdiyarto, M. Pd, Dosen Pembimbing yang dengan tulus dan
ikhlas telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan tugas akhir ini.
5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan tugas
akhir ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas akhir ini masih jauh
dari sempurna, hal ini disebabkan karena keterbatasan penulis. Penulis berharap
semoga tugas akhir ini bermanfaat bagi para pembaca.

Semarang,

Penulis

vi

ABSTRAK

Pipit Setyawan, 2008, Alat Pendeteksi Kebocoran Elpiji dalam Ruangan


Menggunakan Sensor Gas TGS2610-D00, Tugas Akhir, Diploma III, Teknik
Elektronika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang.

Sifat elpiji yang mudah terbakar menjadi masalah penting yang harus
diperhatikan, yaitu bila elpiji tersebut bocor maka keberadaannya akan menjadi
berbahaya, yaitu dapat menyebabkan kebakaran atau sesak napas. Dari latar
belakang tersebut muncul pemikiran untuk membuat alat dalam tugas akhir yaitu
alat pendeteksi kebocoran elpiji. Permasalahan akan dibatasi yaitu pembuatan alat
tersebut dengan mengguanakan sensor gas TGS2610-D00, yaitu sensor yang
mendeteksi keberadaan elpiji di udara. Tujuan dari pembuatan alat ini adalah
1) Menghasilkan alat yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi
siswa sebagai penunjang pengetahuan dibidang elektronika, 2) Menghasilkan alat
yang dapat mendeteksi dan memberikan peringatan bila terjadi kebocoran elpiji
dalam suatu ruangan sehingga dapat diambil tindakan pengamanan. Sistematika
penulisan laporan tugas akhir ini yaitu 1) Bab I Pendahuluan, 2) Bab II Landasan
Teori, 3) Eksperimen Pembuatan Alat Pendeteksi Kebocoran Elpiji dalam
Ruangan dengan Sensor Gas TGS 2610-D00, dan 4) Penutup.
Eksperimen pembuatan alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam ruangan
dengan sensor gas TGS2610-D00 ini melalui beberapa tahap, yaitu 1) Tahap
perencanaan alat meliputi diagram blok, rangkaian alat mulai dari rangkaian catu
daya, rangkaian sensor, rangkaian comparator, dan rangkaian untuk keluarannya,
dan cara kerjanya; 2) Tahap pembuatan alat yaitu meyiapkan peralatan dan bahan,
pembuatan layout rangkaian, pemasangan komponen pada layout, serta
pembuatan kotak panel alat; 3) Tahap pengujian yaitu bagian terakhir adalah
menguji alat tersebut apakah sudah bekerja sesuai dengan yang diharapkan atau
masih perlu perbaikan.
Dari pembahasan tersebut dapat dibuat kesimpulan bahwa pembuatan alat
pendeteksi kebocoran elpiji dalam ruangan mengunakan sensor gas TGS2610D00 berjalan dengan baik. Eksperimen pembuatan alat ini melalui 3 tahap yaitu
tahap perencanaan, tahap pembuatan, dan tahap pengujian.

iii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..

HALAMAN PENGESAHAN .. ii
ABSTRAK iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN .. iv
KATA PENGANTAR .

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR GAMBAR ..

DAFTAR TABEL xii


DAFTAR LAMPIRAN ..

xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Permasalahan ..

C. Batasan Masalah .

D. Tujuan .

E. Manfaat 2
F. Sistematika Penulisan .

BAB II LANDASAN TEORI .

A. Elpiji .........

1. Pengertian Elpiji ...............................................................................

2. Sifat Elpiji ........................................................................................

vii

3. Penggunaan Elpiji .

4. Bahaya Elpiji

B.Sensor Gas TGS 2610-D00 .......

C. IC (Integrated Circuit) ..........................................................................

1. IC LM7805 ......................................................................................

2. IC CA3130 .......................................................................................

D. Resistor .................................................................................................

10

1. Gelang Warna Resistor .....................................................................

12

2. Resistor dalam Hubungan Seri .........................................................

13

3. Resistor dalam Hubungan Paralel .....................................................

14

E.Dioda ...

14

1. Penyearah Setengah Gelombang ......................................................

15

2. Penyearah Gelombang Penuh (Model Jembatan) .............................

16

F. Transistor .. .

17

G. Transformator ....

18

H. Kapasitor ...

18

I. Relai ........................................................................................................

19

BAB III EKSPERIMEN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI


KEBOCORAN ELPIJI DALAM RUANGAN MENGGUNAKAN
SENSOR GAS TGS2610-D00 .................................................................

20

A. Perencanaan Alat Pendeteksi Kebocoran Elpiji dalam Ruangan


Dengan Sensor TGS2610-D00 ............................................................

20

1. Diagram Blok .................................................................................

20

viii

2. Rangkaian Alat ................................................................................

20

a.

Rangkaian Catu Daya ................................................................

21

b.

Rangkaian Sensor dan Rangkaian Comparator ........................

21

c.

Rangkaian Keluaran ...................................................................

22

3. Cara Kerja Alat ................................................................................. 23


B. Pembuatan Alat Pendeteksi Kebocoran Elpiji dalam Ruangan
dengan Sensor TGS2610-D00................................................................

25

1. Alat Dan Bahan ...............................................................................

25

2. Langkah Pembuatan ........................................................................

27

a.

Pembuatan Alat ..........................................................................

27

b.

Pembuatan Kotak Panel ...........................................................

29

C. Pengujian Alat Pendeteksi Kebocoran Elpiji dalam Ruangan


dengan Sensor TGS2610-D00 ..............................................................

30

1. Langkah Pengujian Alat .................................................................

30

2. Hasil Pengujian Alat .......................................................................

31

3. Pembahasan ....................................................................................

33

BAB IV PENUTUP ..................................................................................

37

A. Kesimpulan ..........................................................................................

37

B. Saran ....................................................................................................

37

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................

38

LAMPIRAN...............................................................................................

39

ix

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Sensor gas TGS2610-D00 ....................................................

Gambar 2. Rangkaian sensor TGS 2610-D00 ........................................

Gambar 3. IC LM7805 ...........................................................................

Gambar 4. Kaki IC CA3130 ..

Gambar 5. Skema comparator ...............................................................

10

Gambar 6. Simbol resistor tetap ............................................................

11

Gambar 7. Simbol resistor variabel .......................................................

11

Gambar 8. Gelang-gelang resistor .........................................................

13

Gambar 9. Contoh perhitungan gelang resistor .....................................

13

Gambar 10. Resistor hubungan seri .......................................................

14

Gambar 11. Resistor hubungan paralel ..................................................

14

Gambar 12. Simbol dioda ......................................................................

15

Gambar 13. Rangkaian penyearah setengah gelombang satu fase ........

16

Gambar 14. Penyearah gelombang penuh (model jembatan).................

16

Gambar 15. Simbol transistor ................................................................

17

Gambar 16. Simbol transformator ..........................................................

18

Gambar 17. Simbol kapasitor .................................................................

19

Gambar 18. Simbol relai 5 kaki ..............................................................

19

Gambar 19. Diagram blok alat pendeteksi kebocoran elpiji dengan


sensor TGS2610-D00 .........................................................

20

Gambar 20. Rangkaian catu daya ...........................................................

21

Gambar 21. Rangkaian sensor dan rangkaian comparator .....................

21

Gambar 22. Rangkaian output .............................................................

22

Gambar 23. Rangkaian pendeteksi kebocoran elpiji dengan


sensor TGS2610-D00 ........................................................

22

Gambar 24. Lay out rangkaian ................................................................

27

Gambar 25. Tata letak komponen ...........................................................

28

Gambar 26. Ukuran kotak panel .............................................................

29

Gambar 27. Penempatan rangkaian pada kotak panel ............................

29

Gambar 28. Tegangan masukan (VRL) sebelum


sensor mendapat rangsangan elpiji .................................... 34
Gambar 29. Tegangan masukan (VRL) sesudah
sensor mendapat rangsangan elpiji .................................... 35

xi

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Kode warna gelang-gelang resistor .............................................. 12
Tabel 2. Peralatan yang digunakan dalam pembuatan alat pendeteksi
kebocoran elpiji dengan sensor TGS2610-D00 ...........................

25

Tabel 3. Bahan yang digunakan untuk pembuatan alat pendeteksi


kebocoran elpiji dengan sensor TGS2610-D00 ........................... 26
Tabel 4. Alat yang digunakan untuk menguji pendeteksi kebocoran
elpiji dengan sensor TGS2610-D00 ............................................. 30
Tabel 5. Bahan yang dibutuhkan untuk menguji pendeteksi kebocoran
elpiji dengan sensor TGS2610-D00 ............................................

30

Tabel 6. Hasil percobaan kerja alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam


ruangan dengan sensor TGS2610-D00........................................ 32
Tabel 7. Hasil pengukuran hambatan sensor, tegangan masukan (VRL)
dan tegangan referensi (VREF) comparator IC CA3130 saat
alat bekerja dan tidak bekerja.......................................................

xii

33

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Foto Alat Pendeteksi Kebocoran Elpiji dalam Ruangan
dengan Sensor TGS2610-D00 .............................................. 39
Lampiran 2. Datasheet Sensor TGS2610- D00 ........................................ 40
Lampiran 3. Datasheet IC LM7805 .......................................................... 42
Lampiran 4. Datasheet IC CA3130 .......................................................... 45
Lampiran 5. Datasheet Transistor BC547 ................................................ 48

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di zaman sekarang, kompor gas merupakan peralatan yang penting bagi
kehidupan

sehari-hari.

Selain

mudah

digunakan

dibandingkan

kompor

konvensional yang berbahan bakar minyak atau sejenisnya. Kompor gas yang
berbahan bakar elpiji menjadi peralatan memasak yang praktis.
Sifat elpiji yang mudah terbakar menjadi masalah penting yang harus
diperhatikan, yaitu bila elpiji tersebut bocor maka keberadaannya akan menjadi
berbahaya. Tindakan-tindakan pun banyak dilakukan untuk mengatasi masalah
tersebut, memasang regulator yang khusus, mengganti selang yang anti jamur atau
tikus, dan lainnya. Tetapi hal tersebut belum terlalu efektif, karena kekhawatiran
akan kebocoran elpiji masih ada dibenak pengguna / konsumen.
Bagi orang awam tentang elpiji hal tersebut sangat rawan, ditambah lagi
adanya proyek kompor gas bersubsidi dari pemerintah yang dibagikan ke seluruh
lapisan masyarakat. Hal tersebut memungkinkan akan adanya kebocoran gas yang
dapat menjadi kebakaran, karena para pengguna tidak semuanya mengetahui
tentang elpiji dan bahayanya.
Atas dasar latar belakang masalah tersebut maka timbul pemikiran untuk
membuat peralatan yang dapat mendeteksi dan memberikan peringatan bila terjadi
kebocoran elpiji dalam suatu ruangan.

B. Permasalahan
Bagaimana merancang dan membuat alat yang dapat mendeteksi bila
terjadi kebocoran elpiji dalam suatu ruangan dan akan memberikan peringatan
bahaya untuk diambil tindakan pengamanannya ?

C. Batasan Masalah
Permasalahan tersebut akan dibatasi yaitu pembuatan alat pendeteksi
kebocoran elpiji dalam ruangan dengan menggunakan sensor TGS2610-D00
sebagai komponen utamanya.

D. Tujuan
Tujuan dari pembuatan alat ini, adalah:
1.

Menghasilkan alat yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran


bagi siswa sebagai penunjang pengetahuan dibidang elektronika

2.

Menghasilkan alat yang dapat mendeteksi dan memberikan peringatan


bila terjadi kebocoran elpiji dalam suatu ruangan sehingga dapat
diambil tindakan pengamanan.

E. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari penggunaan alat ini adalah permasalahan
yang timbul akibat kebocoran elpiji misalnya kebakaran atau sesak napas dapat
dihindari. Karena saat elpiji bocor, alat ini akan memberikan sinyal tanda bahaya,
sehingga dapat dilakukan tindakan pengamanan terlebih dahulu.

F. Sistematika Penulisan
Penyusunan tugas akhir ini dibuat dan dipaparkan dalam bentuk laporan,
sistematika dalam penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi mengenai latar belakang, permasalahan, pembatasan
masalah, tujuan, manfaat, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisi teori yang mendukung dalam penyusuan laporan tugas
akhir yang nantinya menjadi landasan dalam perhitungan dan pembahasan
permasalahan yang telah ada.
BAB III EKSPERIMEN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI
KEBOCORAN ELPIJI DALAM RUANGAN MENGGUNAKAN
SENSOR GAS TGS2610-D00
Pada bab ini akan dibahas mengenai

perencanaan, pembuatan, dan

pengujian alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam ruangan dengan sensor


gas TGS2610-D00
BAB VI PENUTUP
Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran yang mencakup hal-hal penting
yang telah didapat pada bab awal hingga akhir yang menjadi inti pokok
permasalahan sekaligus penutup dari laporan tugas akhir.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Elpiji
1. Pengertian Elpiji
Kata elpiji adalah hasil dari pelafalan singkatan Bahasa Inggris
Liquified Petroleum Gas (LPG) yang merupakan campuran dari berbagai
unsur hidrokarbon yang berasal dari gas alam. Komponennya didominasi
propana (C3H8) dan butana (C4H10). Elpiji juga mengandung hidrokarbon
ringan lain dalam jumlah kecil, misalnya etana (C2H6) dan pentana (C5H12).
Volume elpiji dalam bentuk cair lebih kecil dibandingkan dalam
bentuk gas untuk berat yang sama. Karena itu elpiji dipasarkan dalam bentuk
cair dalam tabung-tabung logam bertekanan. Untuk memungkinkan
terjadinya

ekspansi

panas

(thermal

expansion)

dari

cairan

yang

dikandungnya, tabung elpiji tidak diisi secara penuh, hanya sekitar 80-85%
dari kapasitasnya.
2. Sifat Elpiji
Sifat elpiji terutama adalah sebagai berikut:
a. Cairan dan gasnya sangat mudah terbakar
b. Gas tidak beracun, tidak berwarna dan biasanya berbau menyengat
c. Cairan dapat menguap jika dilepas dan menyebar dengan cepat
d. Gas ini lebih berat dibanding udara sehingga akan banyak menempati
daerah yang rendah

3. Penggunaan Elpiji
Penggunaan elpiji di Indonesia terutama adalah sebagai bahan bakar
alat dapur (terutama kompor gas). Selain sebagai bahan bakar alat dapur,
elpiji juga cukup banyak digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor
(walaupun mesin kendaraannya harus dimodifikasi terlebih dahulu).
4. Bahaya Elpiji
Salah satu resiko penggunaan elpiji adalah terjadinya kebocoran pada
tabung atau instalasi gas sehingga bila terkena api dapat menyebabkan
kebakaran. Tekanan elpiji cukup besar sehingga kebocoran elpiji akan
membentuk gas secara cepat dan merubah volumenya menjadi lebih besar.
(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Elpiji tanggal 15 November 2008)

B. Sensor Gas TGS 2610-D00


Pengertian sensor secara umum adalah alat yang digunakan untuk
mendeteksi dan mengukur magnitudo sesuatu. Dapat didefinisikan sensor
merupakan jenis tranduser yang digunakan untuk mengubah variasi mekanis,
magnetis, panas, cahaya dan kimia menjadi tegangan dan arus listrik. (Agung P.
Nitiando. 1991 : 18)
Sensor dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Sensor Fisika
Sensor fisika mendeteksi suatu besaran berdasarkan hukum-hukum
fisika. Contoh sensor fisika adalah sensor cahaya, sensor suara,
kecepatan, sensor percepatan, dan sensor suhu.

sensor

2. Sensor Kimia
Sensor kimia mendeteksi jumlah suatu zat kimia dengan cara
mengubah besaran kimia menjadi besaran listrik. Biasanya melibatkan
beberapa reaksi kimia. Contoh sensor kimia adalah sensor pH dan sensor gas.
(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sensor tanggal 15 November 2008)

TGS2610-D00 adalah sensor yang termasuk dalam jenis sensor kimia


yaitu sensor yang dapat mendeteksi unsur kimia yang berupa gas. Sensor
TGS2610-D00 merupakan sensor yang dapat mendeteksi keberadaan elpiji dalam
udara. Sensor ini memiliki daya tahan yang baik untuk aplikasi penanda bahaya
elpiji dalam rumah karena praktis dan tidak perlu daya yang besar. Sensor ini akan
bekerja bila mendapat suplai tegangan sebesar 5 0,2 V.
Sensor gas TGS2610-D00 menggunakan unsur kimia SnO2 sebagai
elemen sensornya. Elektrode ini dihubungkan pada kaki 2 dan 3 dari sensor gas
TGS2610-D00. Dan untuk pemanas (heater) elemen sensor menggunakan
material RuO2 yang disambungkan pada kaki 1 dan 4.

Gambar 1. Sensor gas TGS2610-D00


(Sumber: datasheet sensor TGS2610-D00)

Gambar 2. Rangkaian sensor TGS 2610-D00


(Sumber : datasheet sensor TGS2610-D00)

Pada gambar tersebut dapat dilihat sensor gas ini memiliki 4 kaki yaitu,
kaki 1 dan 4 untuk input tegangan untuk heater atau pemanas ( VH ) sehingga
elemen sensor terjaga pada suhu optimal untuk proses penyensoran gas. Tegangan
rangkaian (VC) digunakan untuk mengukur hasil tegangan keluaran (VRL), hasil
pembagian tegangan antara RS dan RL. Dalam hal ini untuk mendapat tegangan
yang sesuai maka pada RL dipasang sebuah resistor variabel sehingga dapat diatur
nilai hambatannya.

Keterangan: RS = hambatan sensor ()


RL = beban ()
VC = tegangan masukan (V)
VRL = tegangan keluaran (V)

C. Integrated Circuit (IC)


IC sebenarnya adalah suatu rangkaian elektronik yang dikemas menjadi
satu kemasan yang kecil. Beberapa rangkaian yang besar dapat diintegrasikan
menjadi satu dan dikemas dalam kemasan yang kecil. Suatu IC yang kecil dapat
memuat ratusan bahkan ribuan komponen. (Sumber: Sunarto. 1998)
1. IC LM7805
IC LM7805 merupakan komponen yang digunakan untuk meregulasi
tegangan untuk memperoleh keluaran sebesar 5 volt. IC ini memiliki 3 buah
kaki yaitu kaki input, common, dan output.
Dalam alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam ruangan, IC LM7805 ini
akan dipasang pada rangkaian catu daya. Keluaran tegangan dari IC ini akan
digunakan untuk suplai rangkaian sensor dan rangkaian pembanding.

Gambar 3. IC LM7805
(Sumber: http://www.electronicsteacher.com/tutorial/images/7805.jpg
tanggal 19 Januari 2009)
2. IC CA3130
IC CA3130 merupakan jenis IC penguat atau operational amplifier
(op-amp). IC CA3130 memiliki 8 kaki, yaitu:

a. Kaki 1 offset null yaitu tegangan yang harus diterapkan pada salah satu
pin masukan untuk memberikan tegangan output nol. karena yang
ideal untuk op-amp, output offset tegangan sama dengan nol
b. Kaki 2 inverting input yaitu sinyal keluaran pada kaki ini akan terbalik
dari sinyal masukan.
c. Kaki 3 non-inverting input yaitu sinyal keluaran pada kaki ini akan
sama dengan sinyal masukan.
d. Kaki 4 merupakan ground dari tegangan (V-) IC
e. Kaki 5 offset null (lihat pada point a.)
f. Kaki 6 output yaitu kaki untuk sinyal keluaran
g. Kaki 7 yaitu pin tegangan positif (V+) IC
h. Kaki 8 strobe
(Sumber: http://ic-datasheet.wikispaces.com tanggal 19 Januari 2009)

Gambar 4. Kaki IC CA3130


(Sumber: datasheet IC CA3130)
Pada rangkaian pendeteksi kebocoran elpiji dalam ruangan, IC
CA3130 akan digunakan sebagai pembanding (comparator). Rangkaian
comparator adalah rangkaian yang membandingkan tegangan masukan
dengan tegangan referensinya. Jika tegangan referensi lebih kecil dari
tegangan masukannya maka keluarannya mendekati +VCC, tetapi apabila

10

tegangan referensi lebih besar dari tegangan masukannya maka tegangan


keluarannya mendekati VEE. Hal ini terjadi bila tegangan referensi diberikan
ke masukan membalik (inverting input). Jika tegangan referensi diberikan ke
masukan tak membalik (non-inverting input) maka akan terjadi hal yang
sebaliknya. (Sumber: http://www. google. com/komparator tanggal 19 Januari
2009)

Gambar 5. Skema comparator


(Sumber: http://www. google. com/komparator tanggal 19 Januari 2009)

V1 > V2 maka VOUT = saturasi tinggi (+VCC)

Jika :

V1 < V2 maka VOUT = saturasi rendah (-VEE)


V1 = V2 maka VOUT = 0
D. Resistor
Resistor adalah salah satu komponen elektronika yang dapat
menghasilkan hambatan. Resistor dapat digunakan sebagai pembatas arus,
pembagi arus maupun sebagai pembagi tegangan dalam sebuah rangkaian
elektronika.

10

11

Dalam suatu rangkaian elektronika, resistor sering ditulis dengan kode


R. Resistor mempunyai satuan Ohm ( ) yang menunjukkan besar kecilnya
hambatan yang dihasilkan dan satuan watt untuk menunjukkan rating daya
maksimum yang boleh digunakan tanpa menimbulkan panas yang berlebihan.
(Faris. 2008: 10)
Resistor terdiri dari dua jenis, yaitu :
1. Resistor Tetap
Resistor tetap adalah resistor yang besar hambatannya tidak dapat
diatur. Resistor tetap sesuai dengan bahannya yaitu :
a. Resistor kawat logam, tahanan dari kawat logam yang digulung pada
permukaan pipa tabung kaca.
b. Resistor karbon / arang, resistor ini paling banyak digunakan pada
rangkaian elektronika.

Gambar 6. Simbol resistor tetap


(Sumber: Daryanto. 2004: 19)

2. Resistor Variabel
Resistor variabel adalah resistor yang nilai hambatannya dapat diatur.

Gambar 7. Simbol resistor variabel


(Sumber: Daryanto. 2004: 78)

11

12

1. Gelang Warna Resistor


Nilai hambatan dari suatu resistor dapat diketahui dengan membaca
kode warna, yaitu nilai hambatan yang ditunjukkan oleh gelang warna yang
melingkar pada badan resistor.
Tabel 1. Kode warna gelang-gelang resistor
(Sumber: Daryanto. 2004: 7)
Gelang

Pertama

Kedua

Ketiga

Keempat

Warna

Angka

Angka

Faktor

Toleransi

Hitam

perkalian
x 100

Cokelat

x 101

Merah

x 102

Jingga

x 103

Kuning

x 104

Hijau

x 105

Biru

x 106

Ungu

x 107

Abu-abu

x 108

Putih

x 109

Emas

5%

Perak

10%

Tanpa lingkaran

20%

12

13

Dalam pembacaan gelang-gelang tersebut dilakukan mulai dari ujung


menuju ke tengah-tengah resistor atau dari gelang petama menuju ke gelang
keempat.

Gambar 8. Gelang-gelang resistor


(Sumber: Daryanto. 2004: 7)
Contoh:

Gambar 9. Contoh perhitungan gelang resistor

2. Resistor dalam Hubungan Seri


Untuk memperbesar resistor yang dipergunakan, maka dua buah
resistor atau lebih disambung secara seri. Rangkaian resistor yang
dihubungkan secara seri dapat dilihat pada gambar 9.

13

14

Gambar 10. Resistor hubungan seri


Adapun rumus resistor yang dihubungkan seri adalah sebagai berikut :

3. Resistor dalam Hubungan Paralel


Jika ingin memperkecil resistor yang dibutuhkan, maka resistor itu
dihubungkan secara paralel. Rangkaian resistor yang terhubung secara paralel
dapat dilihat pada gambar 10.

Gambar 11. Resistor hubungan paralel


Adapun rumus untuk resistor yang dihubungkan paralel adalah sebagai
berikut :

E. Dioda
Dioda dibuat dari dua jenis bahan-bahan semikonduktor, bahan P (positif)
dan bahan N (negatif). Bahan P dinamakan anoda (A) dan bahan N dinamakan
katoda (K). (Daryanto. 2004: 70)

14

15

Gambar 12. Simbol dioda


(Sumber: Daryanto. 2004: 70)

Pada rangkaian elektronik dioda umumnya dipakai sebagai penyearah


gelombang yaitu, proses pengubahan arus bolak-balik menjadi arus searah. (Frank
D. Petruzella. 2001: 233). Penyearah dibagi dua yaitu penyearah setengah
gelombang dan penyearah gelombang penuh.
1. Penyearah Setengah Gelombang
Penyearah setengah gelombang ini, selama setengah siklus positif
gelombang ac input, sisi anoda dari dioda adalah positif. Dioda kemudian
diberi bias maju,memungkinkan dioda menghantarkan arus mengalir pada
beban. Sebab dioda bertindak sebagai saklar tertutup selama waktu
tersebut, siklus setengah positif dibangkitkan pada beban. Selama
setengah siklus negatif gelombang ac input, sisi anoda dari dioda adalah
negatif. Dioda kemudian diberi bias mundur, akibatnya tidak ada arus
yang mengalir melaluinya. Dioda bertindak sebagai saklar terbuka selama
waktu tersebut, sehingga tidak ada tegangan yang dihasilkan pada beban.
(Frank D. Petruzella. 2001: 233)

15

16

Gambar 13. Rangkaian penyearah setengah gelombang satu fase


(Sumber: Pretuzella. 2001: 234)
2. Penyearah Gelombang Penuh (Model Jembatan)
Penyerah gelombang penuh ini, selama setengah siklus positif,
anoda D1 dan D2 adalah positif (bias maju). Sedangkan anoda D3 dan D4
adalah negatif (bias mundur). Elektron mengalir dari sisi negatif dari lin,
melalui D1 ke beban kemudian melalui D2 dan kembali pada sisi lin yang
lain. Selama setengah siklus berikutnya, polaritas tegangan lin ac berubah.
Sebagai akibatnya dioda D3 dan D4 diberikan bias maju. Elektron sekarang
mengalir dari sisi negatif lin melalui D3 ke beban dan melalui D4 dan
kembali ke sisi lin yang lain. (Frank D. Pretuzella. 2001: 235)

Gambar 14. Penyearah gelombang penuh (model jembatan)


(Sumber: Pretuzella. 2001: 235)

16

17

F. Transistor
Transistor adalah komponen semi konduktor yang mempunyai tiga kaki
sehingga daya dapat diperkuat. Fungsi transistor sebagai penguat atau amplifier
dari sinyal listrik, tahanan variabel atau sebagai saklar. (Frank D. Pretuzela, 2001:
246). Transistor yang akan digunakan dalam rangkaian pendeteksi kebocoran gas
elpiji adalah transistor sambungan bipolar atau bipolar-junction transistor (BJT),
transistor jenis ini memiliki dua variabel yaitu tipe NPN dan PNP.

C
B
(a)

C
NPN

E
(a) Tipe NPN

PNP

E
(b) Tipe PNP
Gambar 15. Simbol transistor
(Sumber : Daryanto. 2004: 45)

Transistor merupakan salah satu komponen aktif, yang dapat difungsikan


sebagai sistem digital yang bekerja dalam satu daerah keadaan, yaitu on dan off.
Syarat transistor dapat difungsikan sebagai saklar adalah harus tegangan antara
kolektor-emitor dapat mendekati nol saat transistor dalam keadaan jenuh dan
keadaan tersumbat.
Sebuah transistor dapat digunakan sebagai saklar yang dapat mengontrol
beban dengan kemampuan melewatkan arus cukup besar tergantung pada jenis
transistor yang digunakan. Prinsip pengoperasian transistor sebagai saklar dengan
mengoperasikan dalam 2 keadaan, yaitu pada keadaan jenuh dan keadaan mati.
(Ganti Depari. 2000)

17

18

Pada alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam ruangan dengan sensor TGS
2610-D00, akan digunakan transistor NPN tipe BC547. Tegangan kerja dari
transistor BC547 adalah 0,6 V karena transistor ini merupakan jenis silikon.
G. Transformator
Transformator merupakan komponen yang dapat digunakan untuk
pemindah daya. Transformator mempunyai dua buah lilitan, yaitu lilitan primer
dan lilitan sekunder yang dililitkan pada suatu inti dan saling terisolasi antara
yang satu dengan yang lain. Besar tegangan yang muncul pada lilitan sekunder
dan lilitan primer ditentukan oleh jumlah lilitan yang terdapat pada bagian
sekunder maupun primer. Simbol transformator diperlihatkan dalam gambar 16.

Gambar 16. Simbol transformator


(Sumber: Faris. 2008: 15)
H. Kapasitor
Kapasitor

(C) merupakan

komponen

elektronika yang

berfungsi

menyimpan tegangan. Kapasitor terdiri dari dua plat logam yang berhadapan satu
sama lain yang dipisahkan olah bahan isolasi. (Taslim Rudatin. 1990: 23)
Kapasitor memiliki kemampuan untuk menyimpan tenaga listrik yang
sering disebut kapasitas kapasitor. Besar nilai kapasitas kapasitor mempengaruhi
proses pengisian dan pengosongan. Semakin besar nilai kapasitas kapasitor,
semakin lama waktu pengosongan, jadi semakin rata tegangan yang dihasilkan.

18

19

Gambar 17. Simbol kapasitor


(Sumber: Daryanto. 2004: 34)
H. Relai
Relai adalah suatu sakelar otomatis yang digerakkan oleh prinsip
elektromagnet. Relai memiliki beberapa kontak yaitu kontak kumparan, kontak
normaly open (NO), kontak normaly close (NC), dan kontak com.

Gambar 18. Simbol relai 5 kaki


Cara kerja dari relai adalah bila ada arus yang mengalir pada kumparan
relai (kontak 1 dan 2), maka kumparan akan bertindak seperti magnet. Sehingga
meyebabkan kontak NO (kontak 3) bekerja untuk menutup atau on. Kemudian
saat tidak ada arus yang mengalir pada kumparan, maka kontak NO akan
membuka kembali atau off.

19

20

BAB III
EKSPERIMEN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI KEBOCORAN
ELPIJI DALAM RUANGAN MENGGUNAKAN SENSOR
GAS TGS2610-D00

A. Perencanaan Alat Pendeteksi Kebocoran Elpiji dalam Ruangan dengan


Sensor TGS2610-D00
1. Diagram Blok
Pembuatan alat pendeteksi kebocoran elpiji ini dirancang dan akan
diaplikasikan sebagai pendeteksi bila terjadi kebocoran elpiji dalam suatu
ruangan sehingga dapat diambil tindakan pencegahan. Secara garis besar,
sistem kerja dari alat ini dapat dilihat pada diagram blok pada gambar 19.

Gambar 19. Diagram blok alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam ruangan
dengan sensor TGS2610-D00

2. Rangkaian Alat
Pada rangkaian alat pendeteksi kebocoran gas elpiji ini dibagi
menjadi beberapa bagian yaitu rangkaian catu daya, rangkaian sensor,
rangkaian comparator, dan rangkaian output.

20

21

a. Rangkaian Catu Daya


Rangkaian catu daya dari alat pendeteksi kebocoran elpiji dapat
dilihat pada gambar 20.

Gambar 20. Rangkaian catu daya

Rangkaian catu daya ini akan mengeluarkan tegangan keluaran sebesar 5


volt yang nanti akan digunakan untuk input tegangan pada rangkaian
pendeteksi kebocoran elpiji.
b. Rangkaian Sensor dan Rangkaian Comparator
Rangkaian sensor dan rangkaian comparator pada alat pendeteksi
kebocoran elpiji dapat dilihat pada gambar 21.

Gambar 21. Rangkaian sensor dan rangkaian comparator

21

22

c. Rangkaian Output
Rangkaian output dari alat pendeteksi kebocoran elpiji adalah
LED berwarna merah dan buzzer. Rangkaian dapat dilihat pada gambar
22.

Gambar 22. Rangkaian output

Rangkaian lengkap dari alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam


ruangan dengan sensor TGS2610-D00 dapat dilihat pada gambar 23.

Gambar 23. Rangkaian pendeteksi kebocoran elpiji dengan sensor TGS2610-D00

22

23

3. Cara Kerja Alat


Alat pendeteksi kebocoran gas elpiji ini bekerja pada jala-jala PLN
220 volt. Pada rangkaian catu daya, trafo Tr1 bekerja menurunkan tegangan
yang masuk melalui jala-jala pln dari 220 volt ac menjadi 6 volt ac,
selanjutnya dioda D1, D2, D3, D4 membentuk dioda jembatan untuk
mengubah tegangan ac menjadi tegangan dc, keempat dioda tersebut bekerja
sebagai penyearah. Untuk memperoleh tegangan dc yang rata dipasang
kapasitor 100F / 16V secara paralel diantara kedua polaritasnya. IC LM7805
di sini digunakan untuk meregulasi tegangan tadi untuk memperoleh tegangan
keluaran sebesar 5 volt yang nantinya akan digunakan untuk suplai tegangan
sensor TGS2610-D00. Pada rangkaian catu daya ini dipasang LED1 sebagai
indikator bahwa rangkaian catu daya bekerja.
Kemudian masuk pada rangkaian sensor, yaitu TGS2610-D00.
Sensor ini akan bekerja bila mendapat suplai tegangan 5 0,2 V. Tegangan
tersebut dihubungkan pada ke-4 pin kakinya, yaitu pemanas pada kaki 1 dan 4
dan elektrode sensor pada kaki 2 dan 3. Sensor mulai bekerja saat mendapat
rangsangan elpiji yang menyebabkan terjadi perubahan tegangan karena
hambatan dalam sensor berubah. Tegangan keluaran dari sensor akan diatur
dengan resisitor variabel P1. Tegangan tersebut kemudian akan menjadi
masukan IC CA3130 pada kaki 3 (non-inverting input).
IC CA3130 di sini dimanfaatkan sebagai comparator yaitu rangkaian
yang membandingkan sinyal masukan dengan sinyal referensi atau acuan.
Pada IC CA3130, tegangan masukan merupakan hasil pembagian tegangan

23

24

antara hambatan sensor (RS) dengan resistor variabel P1. Sedangkan yang
menjadi tegangan referensi adalah hasil pembagian tegangan antara R4 dengan
P2 yang masuk pada kaki 2 (inverting input). Untuk keluaran dari IC CA3130
adalah kaki 6 yang dihubungkan dengan kaki basis Transistor (T1) dan dioda
1N4148 yang difungsikan untuk switching ke grounding. Tegangan kerja IC
disuplai dari kaki 4 dan 7 yaitu sebesar 5 V dc.
Prinsip dari comparator adalah saat tegangan masukan berada di
atas tegangan referensinya, maka tegangan keluarannya akan menyamai
tegangan saturasinya (positif) dan bila tegangan masukan berada dibawah
tegangan referensinya, maka tegangan keluarannya kurang dari tegangan
saturasinya (negatif). Jadi aplikasi komparator pada alat pendeteksi kebocoran
elpiji adalah saat sensor TGS2610-D00 mencium adanya elpiji, tegangan
yang masuk pada kaki 3 akan lebih tinggi dari tegangan referensinya maka
tegangan keluarannya akan positif dan transistor (T1) akan menyulut atau on
dan arus mengalir pada relai Re1 dan LED. Kontak NO relai akan bekerja
(menutup) sehingga buzzer akan berbunyi memberikan tanda bahaya
kebocoran elpiji.

24

25

B. Pembuatan Alat Pendeteksi Kebocoran Elpiji dalam Ruangan dengan


Sensor TGS2610-D00
1. Alat Dan Bahan
Untuk pembuatan alat pendeteksi kebocoran gas elpiji dibutuhkan
beberapa peralatan dan bahan sebagai berikut :
Tabel 2. Peralatan yang digunakan dalam pembuatan alat detektor elpiji
dengan sensor TGS2610-D00
No

Nama alat

Bor PCB

Mata bor PCB

Jumlah

Keterangan

1 buah

1 set

Ukuran yang dipakai adalah :


Mata bor 0,8 mili untuk kaki IC
Mata bor 1 mili untuk pad yang lebih
besar, header, atau yang sejenis
Mata bor 1,5 mili untuk kaki relay,
switch, dan yang sejenisnya
Mata bor 3 mili untuk pemasangan
spacer atau tempat baut

Obeng (+)

2 buah

Ukuran 4 dan 2

Obeng (-)

2 buah

Ukuran 4 dan 2

Solder listrik

1 buah

220 V ac dengan daya 40 watt

Gergaji besi

1 buah

Ukuran panjang 50 cm

Multi meter

1 buah

Tipe SUNWA YX-360TRD dan alat


dalam keadaan normal

25

26

Tabel 3. Bahan yang digunakan untuk pembuatan alat pendeteksi


kebocoran elpiji dengan sensor TGS2610-D00
No

Nama Bahan

Jumlah

Keterangan

Sensor gas TGS 2610-D00

1 buah

IC tipe CA3130

1 buah

IC tipe LM 7805

1 buah

Transformator step down 300 mA/ 6

1 buah

4 buah

Dioda 1N4001

2 buah

Dioda 1N4148

Resistor

3 buah

a. 1K

1 buah

b. 4K7

1 buah

c. 390

1 buah

Resistor variabel

d. 22K

1 buah

Resistor variabel

e. 4K7

Kapasitor

2 buah

a. 100 F/10 V

1 buah

b. 330 nF

1 buah

5 kaki

10

Relai 12 V

1 buah

11

Buzzer 9-12 V

1 buah

12

Sekering 315 mA

1 buah

Push-on

26

27

No

Nama Bahan

Jumlah

Keterangan

1 buah

13

Sakelar

14

Papan PCB (Printed Circuit Board)

secukupnya

15

Larutan Ferry Chloride (Fecl3)

secukupnya

16

Timah solder

secukupnya

17

Kabel

secukupnya

Ukuran 1 mm

2. Langkah Pembuatan
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan alat pendeteksi
kebocoran gas elpiji dengan sensor gas TGS2610-D00 adalah sebagai berikut :
a. Pembuatan Alat
1) Buat lay out rangkaian berdasarkan gambar rangkaian yang
ditunjukan pada gambar 24

Gambar 24. Lay out rangkaian

27

28

2) Salin gambar lay out pada papan PCB, kemudian dilarutkan


dengan larutan ferric chloride (FeCl3)
3) Proses pelarutan papan PCB dilakukan dalam wadah plastik atau
wadah yang tidak terbuat dari logam. PCB di rendam hingga
bagian tembaga yang tidak terlapisi hilang
4) Setelah itu bilas dengan air, kemudian gosok PCB dengan thiner
atau bensin untuk membersihkan sisa residu tinta yang masih
menempel
5) Setelah bersih, PCB kemudian dibor menggunakan bor dengan
mata bor yang sesuai dengan kaki-kaki komponen yang akan
dipasang
6) Pasang komponen sesuai gambar rangkaian.

Gambar 25. Tata letak komponen

28

29

b. Pembuatan Kotak Panel


1) Buat kotak panel dan dilubangi sesuai dengan gambar 26

Gambar 26. Ukuran kotak panel

2) Kemudian pasang rangkaian dalam kotak panel sesuai gambar 27.

SENSOR TGS2610-D00

SA
O KE
N- L
O AR
FF

PUSH-ON

LED MERAH
BUZZER
LED HIJAU

Gambar 27. Penempatan rangkaian pada kotak panel

29

30

C. Pengujian Alat Pendeteksi Kebocoran Elpiji dalam Ruangan dengan


Sensor TGS2610-D00
1.

Langkah Pengujian Alat


Pengujian dilakukan untuk menghasilkan data-data yang digunakan

sebagai dasar untuk menjawab permasalahan yang timbul.

Tabel 4. Alat yang digunakan untuk menguji pendeteksi kebocoran


elpiji dengan sensor TGS2610-D00
No
1

Alat yang digunakan


Multimeter tipe SANWA YX-830B*

Jumlah

Keterangan

1 buah

Alat dalam
keadaan normal

Tabel 5. Bahan yang dibutuhkan untuk menguji pendeteksi kebocoran


elpiji dengan sensor TGS2610-D00
No

Bahan yang dibutuhkan

Jumlah

Keterangan

Elpiji dalam tabung 3 kg

1 buah

Kotak

1 buah

Ukuran 30 x 20 x 20 cm

Selang dan regulator elpiji

1 buah

Regulator COMPACT 2 kg/h

Langkah-langkah pengujian yang dilakukan adalah :


1. Cek kondisi peralatan dan bahan yang digunakan
2. Pengujian dilakukan di ruangan yang aman, tidak terdapat sumber api
atau bahan yang mudah terbakar dan tertutup

30

31

3. Tempatkan alat dalam kotak yang telah dihubungkan dengan tabung


elpiji
4.

Hubungkan alat pendeteksi kebocoran elpiji dengan sumber tegangan


220 V

5. Pastikan indikator LED hijau menyala, untuk memastikan kalau alat


mendapat suplai tegangan dari catu daya
6. Mengukur tegangan keluaran dari catu daya
7. Masukan elpiji secara bertahap (konsentrasi rendah, konsentrasi
sedang, konsentrasi tinggi) ke dalam kotak untuk mengetahui kerja
dari alat
8. Mengukur hambatan sensor TGS2610-D00 sebelum dan sesudah
mendapat rangsangan elpiji
9. Mengukur tegangan masukan dan tegangan referensi pada IC CA3130
10. Mengukur tegangan keluaran dari comparator IC CA3130
11. Membahas kerja dari alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam ruangan
dengan sensor TGS2610-D00

2.

Hasil Pengujian Alat


Data yang diperoleh dari pengujian alat pendeteksi kebocoran elpiji

dengan sensor TGS2610-D00 yaitu saat alat ini dihubungkan dengan sumber
tegangan 220 V ac, LED hijau menyala. Hal itu mengindikasikan bahwa
rangkaian catu daya bekerja memberikan suplai untuk rangkaian pendeteksi

31

32

kebocoran elpiji. Dari hasil pengukuran didapatkan tegangan keluaran dari


catu daya (VS) = 4,79 V dc.
Pengujian selanjutnya dilakukan dengan memasukan elpiji ke dalam
kotak percobaan yaitu elpiji dengan konsentrasi rendah, konsentrasi sedang,
dan konsentrasi tinggi terhadapkerja dari alat pendeteksi kebocoran elpiji
dalam ruangan dengan sensor TGS 2610-D00.

Tabel 6. Hasil percobaan kerja alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam


ruangan dengan sensor TGS2610-D00
Keterangan

Keadaan alat

Sebelum ada elpiji

Alat tidak bekerja (LED dan buzzer tidak memberikan

Ada elpiji dengan

sinyal tanda kebocoran elpiji)


Alat tidak bekerja (LED dan buzzer tidak memberikan

konsentrasi rendah
Ada elpiji dengan

sinyal tanda kebocoran elpiji)


Alat bekerja (LED dan buzzer memberikan sinyal tanda

konsentrasi sedang

kebocoran elpiji)

Alat ini bekerja diakibatkan oleh perubahan hambatan pada sensor


(RS) akibat pengaruh elpiji. Hal ini dikarenakan perubahan hambatan sensor
akan mengkibatkan perubahan tegangan masukan (VRL) comparator IC
CA3130. Hasil pengukuran hambatan sensor, tegangan masukan dan tegangan
referensi dari comparator IC CA 3130 dapat dilihat pada tabel 7.

32

33

Tabel 7. Hasil pengukuran hambatan sensor, tegangan masukan (VRL) dan


tegangan referensi (VREF) comparator IC CA3130 saat alat bekerja dan
tidak bekerja
Keterangan

Hambatan

Alat tidak bekerja (LED dan

sensor (RS)
19,58 k

VRL
1,41 V

VREF
2,68 V

VOUT
- 24 mV

0,89 k

3,24 V

2,68 V

4,91 V

buzzer

tidak

memberikan

sinyal tanda kebocoran elpiji)


Alat bekerja (LED dan
buzzer

Comparator IC CA3130

memberikan

sinyal

tanda kebocoran elpiji)


3. Pembahasan
a. Rangkaian Catu Daya
Dari hasil pengujian alat pendeteksi kebocoran elpiji dengan
sensor TGS2610-D00, dapat dijelaskan bahwa alat ini dapat bekerja
dengan suplai tegangan dari catu daya sebesar 4,79, yaitu memberikan
sinyal bahaya setelah sensor mendapat rangsangan elpiji. Pada rangkaian
catu daya terjadi penurunan tegangan dari perencanaan awal yaitu sebesar
0,21 V. Dalam perencanaan tegangan catu daya yang ingin dihasilkan
adalah 5 V, tetapi dalam prakteknya rangakain catu daya hanya
memberikan suplai tegangan sesbesar 4,79 V. Hal ini dapat terjadi karena
nilai toleransi dari komponen yang digunakan, banyaknya kabel
penghubung pada rangkaian catu daya sehingga menyebabkan hambatan
bertambah, dan hambatan dalam dari alat ukur yang digunakan.

33

34

b. Rangkaian Sensor, Rangkaian Comparator, dan Rangkaian Output


Rangkaian ini bekerja dengan prinsip pembandingan tegangan
(voltage comparator). Yaitu saat perubahan hambatan sensor TGS2610D00 akibat pengaruh elpiji, akan menyebabkan perubahan tegangan pada
masukan non-inverting input IC CA3130.
Saat sensor TGS2610-D00 belum mendapat rangsangan elpiji,
hambatannya 19,58 k dan menghasilkan tegangan masukan (VRL) IC
CA3130 sebesar 1,41 V. Karena tegangan masukan lebih rendah dari
tegangan referensinya maka tegangan keluaran dari IC CA3130 negatif.
Hal itu membuat Tr1 BC547 tidak mampu on karena tegangan yang
dibutuhkan untuk saturasi masih belum cukup, yaitu kurang dari 0,6 V.
Sehingga buzzer dan LED tidak memberikan sinyal tanda kebocoran elpiji.

Gambar 28. Tegangan masukan (VRL) IC CA3130


sebelum sensor mendapat rangsangan elpiji

Kemudian sesudah sensor TGS2610-D00 mendapat rangsangan


elpiji, hambatannya berubah menjadi 0,89 k dan menghasilkan tegangan

34

35

masukan (VRL) IC CA3130 sebesar 3,24 V. Karena tegangan masukan


lebih tinggi dari tegangan referensinya maka IC CA3130 memberikan
keluaran tegangan positif sebesar 4,91 V, sehingga Tr1 BC547 bekerja atau
on. Hal itu menyebabkan buzzer dan LED bekerja memberikan sinyal
bahwa ada kebocoran elpiji.

Gambar 29. Tegangan masukan (VRL) IC CA3130


sesudah sensor mendapat rangsangan elpiji

4. Kelebihan dan Kekurangan Alat


Kelebihan dan kekurangan dari alat pendeteksi kebocoran elpiji
dengan sensor TGS2610-D00 adalah:
a. Kelebihan
Alat ini akan bekerja bila terdapat kebocoran elpiji yang
mengenai sensor dengan konsentrasi sedang, yaitu dengan memberikan
sinyal peringatan berupa lampu dan suara. Sehingga dari sinyal tersebut,
konsumen dapat mengetahui dengan pasti apakah ada atau tidak kebocoran
elpiji pada tempat itu.

35

36

b. Kekurangan
Alat ini memiliki kekurangan yaitu dalam hal sensitivitas atau
kepekaan. Kepekaan dari alat ini belum dapat ditentukan dengan pasti,
yaitu nilai konsentrasi minimal elpiji yang dapat membuat alat ini akan
bekerja belum dapat ditentukan. Jadi kepekaan dari alat ini dilakukan
dengan cara memperkirakan konsentrasi elpiji yang dapat membuat alat
bekerja.

36

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan tentang alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam
ruangan dengan sensor TGS 2610-D00, dapat disimpulkan:
1. Alat ini bekerja bila terdapat kebocoran elpiji dengan konsentrasi tertentu,
yaitu dengan memberikan sinyal bahaya berupa suara dari buzzer dan
cahaya merah dari LED
2. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip pembandingan (comparator) yaitu
membandingkan suatu input tegangan dengan suatu tegangan referensi
yang telah diatur besarnya
3. Kepekaan alat ini belum dapat ditentukan dengan pasti, yaitu berapa nilai
konsentrasi elpiji yang dapat membuat alat bekerja.

B. Saran
Saran untuk alat pendeteksi kebocoran elpiji dalam ruangan dengan sensor
TGS2610-D00 adalah alat ini perlu dikembangkan lagi, yaitu masalah kepekaan
dan nilai konsentrasi yang belum dapat dipastikan jumlahnya. Misalnya dengan
menambah display untuk menapilkan nilai konsentrasi elpiji pada sensor sehingga
dapat diketahui dengan pasti konsentrasi elpiji yang dapat membuat alat ini
bekerja.

37

38

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, E Zaenal. 2003. Dasar-dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: PT


Grasindo.
Bishop, Owen. 2002. Dasar-dasar Elektronika. Jakarta: Erlangga.
Blocher, Richard. 2004. Dasar Elektronika. Yogyakarta: Andi.
Caughlin, Robert F & Freerik F. Driscoll. 1983. Penguat Operasional dan
Rangkaian Terpadu Linier. Jakarta : Erlangga.
Daryanto. 2004. Pengetahuan Teknik Elektronika. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Frank D Petruzzela. 2001. Elektronika Industri. Yogyakarta: Andi.
Malvino, Albert Paul. 2003. Prinsip-prinsip Elektronika. Jakarta: Salemba
Teknika.
Rusmadi, Dedy. 1999. Hoby Elektronika Aneka Rangkaian Populer. Bandung:
Pionir Jaya.
http://alfiyan.wordpress.com/2008/02/11/6/
http://id.wikipedia.org/wiki/Elpiji
http://id.wikipedia.org/wiki/Sensor
http://www. edukasi.e-net/
http://www.electronicsteacher.com/tutorial/images/7805.jpg
http://www.geocities.com/
http://www.google.com/

38