Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM II

ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA


Difusi dan Osmosis
Untuk memenuhi tugas salah satu tugas mata kuliah Anatomi dan Fisiologi Manusia
semester dua dengan dosen mata kuliah dr. Eri T. M. MH, Kes, MH. Rosen,o S.Si, Apt,
Widyatiwi, Apt. M.Si.
20 Maret 2015

Disusun oleh:

Anitha Desiala
Fitri Rizky Nurjannah
Ghina Kholidaturizqi
Nur Hidayah W.
Rafika Zahraeni

(P17335114030)
(P17335114057)
(P17335114036)
(P17335114005)
(P17335114062)

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHETAN KEMENKES BANDUNG
2015

I.

Dasar teori

Osmosis
Osmosis merupakan difusi air melintasi membran semipermeabel dari daerah dimana air lebih
banyak ke daerah dengan air yang lebih sedikit . Osmosis sangat ditentukan oleh potensial kimia air atau
potensial air , yang menggambarkan kemampuan molekul air untuk dapat melakukan difusi. Sejumlah
besar volume air akan memiliki kelebihan energi bebas daripada volume yang sedikit, di bawah kondisi
yang sama. Energi bebas zuatu zat per unit jumlah, terutama per berat gram molekul (energi bebas mol-1)
disebut potensial kimia. Potensial kimia zat terlarut kurang lebih sebanding dengan konsentrasi zat
terlarutnya. Zat terlarut yang berdifusi cenderung untuk bergerak dari daerah yang berpotensi kimia lebih
tinggi menuju daerah yang berpotensial kimia lebih kecil (Ismail, 2006).Osmosis adalah difusi melalui
membran semipermeabel. Masuknya larutan kedalam sel-sel endodermis merupakan contoh proses
osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air bergerak dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa.
Selain air,molekul-molekul yang berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel.
Molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.
Proses Osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membran tersebut telah mencapai
keseimbangan(Anonim, 2009).Struktur dinding sel dan membran sel berbeda. Membran memungkinkan
molekul air melintas lebih cepat daripada unsur terlarut; dinding sel primer biasanya sangat permeable
terhadap keduanya. Memang membran sel tumbuhan memungkinkan berlangsungnya osmosis, tapi
dinding sel yang tegar itulah yangmenimbulkan tekanan. Sel hewan tidak mempunyai dinding, sehingga
bila timbultekanan didalamnya, sel tersebut sering pecah, seperti yang terjadi saat sel darahmerah
dimasukkan dalam air. Sel yang turgid banyak berperan dalam menegakkantumbuhan yang tidak berkayu
(Salisbury, 1995).Prinsip osmosis: transfer molekul solvent dari lokasi hypotonic (potensirendah) solution
menuju hypertonic solution, melewati membran. Jika lokasihypertonic solution kita beri tekanan tertentu,
osmosis dapat berhenti, atau malah berbalik arah (reversed osmosis).Besarnya tekanan yang dibutuhkan
untuk

menghentikan

osmosis

disebut

sebagai

osmotic

press.Jika

dijelaskan

sebagai

konseptermodinamika, osmosis dapat dianalogikan sebagai proses perubahan entrropi.Komponen solvent


murni memiliki entropi rendah, sedangkan komponen berkandunagn solut tinggi memiliki entropi yg
tinggi juga. Mengikuti Hukum TermoII: setiap perubahan yang terjadi selalu menuju kondisi entropi
maksimum, makasolvent akan mengalir menuju tempat yg mengandung solut lebih banyak, sehinggatotal
entropi akhir yang diperoleh akan maksimum.Solvent akan kehilangan entropi,dan solut akan menyerap
entropi. "Orang miskin akan semakin miskin, sedang yangkaya akan semakin kaya". Saat kesetimbangan
tercapai, entropi akan maksimum, ataugradien (perubahan entropi terhadap waktu) = 0.
Faktor yang mempengaruhi Osmosis :

1. Ukuran molekul yang meresap: Molekul yang lebih kecil daripada garis pusat lubang membran
2.

akan meresap dengan lebih mudah.


Keterlarutan lipid: Molekul yang mempunyai keterlarutan yang tinggi meresap lebih cepat

daripada molekul yang kelarutan yang rendah seperti lipid.


3. Luas permukaan membran: Kadar resapan menjadi lebih cepat jika luas permukaan membran
yang disediakan untuk resapan adalah lebih besar.
4. Ketebalan membran: Kadar resapan sesuatu molekul berkadar songsang dengan jarak yang harus
dilaluinya. Berbanding dengan satu membran yang tebal, kadar resapan melalui satu membran
yang tipis adalah lebih cepat.
5. Suhu: Pergerakan molekul dipengaruhi oleh suhu. Kadar resapan akan menjadi lebih cepat pada
suhu yang tinggi dibandingkan dengan suhu yang rendah.
Difusi
Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian
berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua
larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara
merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak
ada perbedaan konsentrasi. Contoh yang sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat
laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara.Difusi yang
paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah
lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau fluida.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu:
1. Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak,
2.
3.
4.
5.

sehingga kecepatan difusi semakin tinggi.


Ketebalan membran. Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.
Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.
Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya.
Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat.
Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.
Dalam mengambil zat-zat nutrisi yang penting dan mengeluarkan zat-zat yang tidak diperlukan,

sel melakukan berbagai jenis aktivitas, dan salah satunya adalah difusi. Ada dua jenis difusi yang
dilakukan, yaitu difusi biasa dan difusi khusus.
Difusi biasa terjadi ketika sel ingin mengambil nutrisi atau molekul yang hydrophobic atau tidak
berpolar / berkutub. Molekul dapat langsung berdifusi ke dalam membran plasma yang terbuat dari
phospholipids. Difusi seperti ini tidak memerlukan energi atau ATP (Adenosine Tri-Phosphate).

Difusi khusus terjadi ketika sel ingin mengambil nutrisi atau molekul yang hydrophilic atau
berpolar dan ion. Difusi seperti ini memerlukan protein khusus yang memberikan jalur kepada partikelpartikel tersebut ataupun membantu dalam perpindahan partikel. Hal ini dilakukan karena partikelpartikel tersebut tidak dapat melewati membran plasma dengan mudah. Protein-protein yang turut campur
dalam difusi khusus ini biasanya berfungsi untuk spesifik partikel.

II.

Alat dan bahan

Alat
1 Plastik selofan
2 Benang kasur
3 Gelas kimia
4 Batang pengaduk
5 Tabung reaksi
6 Rak tabung
7 Bunsen
8 Gelas ukur
9 Timbangan analitik
10 Stopwatch
11 Label

Bahan
1 NaCl
2 Albumin
3 Dextrofan
4 Sukrosa 20%
5 Sukrosa 30%
6 Sukrosa 40%
7 Sukrosa 60%
8 Aquadest
9 AgNO3
10 HNO3
11 Benedict

III.

Prosedur kerja

1
2

Semua alat dan bahan disiapkan.


Plastik selofan dipotong dengan ukuran 15x15 cm.

Proses Difusi
NaCl
1
2
3
4
5
6

7
8

NaCl diambil sebanyak 3 ml menggunakan gelas ukur.


NaCl yang telah diambil tadi dimasukkan ke dalam plastik selofan.
Plastik selofan yang telah diisi dengan NaCl diikat menggunakan benang kasur, lalu
diikatkan kembali pada batang pengaduk dan diberi label.
Plastik yang telah diikat dimasukkan ke dalam gelas kimia yang telah diberi aquadest
sama banyak.
Ditunggu selama 1 jam.
Setelah 1 jam, 3 tabung reaksi disiapkan. Tabung reaksi pertama diisi oleh air yang ada
dalam gelas kimia, tabung reaksi kedua diisi oleh aquadest, dan tabung reaksi ketiga diisi
oleh NaCl.
Ketiga tabung reaksi ditambahkan AgNO3.
Perubahan yang terjadi diamati.

Albumin
1
2
3
4
5
6

7
8

Albumin diambil sebanyak 3 ml menggunakan gelas ukur.


Albumin yang telah diambil tadi dimasukkan ke dalam plastik selofan.
Plastik selofan yang telah diisi dengan Albumin diikat menggunakan benang kasur, lalu
diikatkan kembali pada batang pengaduk dan diberi label.
Plastik yang telah diikat dimasukkan ke dalam gelas kimia yang telah diberi aquadest
sama banyak.
Ditunggu selama 1 jam.
Setelah 1 jam, 3 tabung reaksi disiapkan. Tabung reaksi pertama diisi oleh air yang ada
dalam gelas kimia, tabung reaksi kedua diisi oleh aquadest, dan tabung reaksi ketiga diisi
oleh Albumin.
Ketiga tabung reaksi ditambahkan HNO3.
Perubahan yang terjadi diamati.

Dextrofan
1
2
3
4
5

Dextrofan diambil sebanyak 3 ml menggunakan gelas ukur.


Dextrofan yang telah diambil tadi dimasukkan ke dalam plastik selofan.
Plastik selofan yang telah diisi dengan Dextrofan diikat menggunakan benang kasur, lalu
diikatkan kembali pada batang pengaduk dan diberi label.
Plastik yang telah diikat dimasukkan ke dalam gelas kimia yang telah diberi aquadest
sama banyak.
Ditunggu selama 1 jam.

7
8

Setelah 1 jam, 3 tabung reaksi disiapkan. Tabung reaksi pertama diisi oleh air yang ada
dalam gelas kimia, tabung reaksi kedua diisi oleh aquadest, dan tabung reaksi ketiga diisi
oleh Dextrofan.
Ketiga tabung reaksi ditambahkan Benedict dan dipanaskan.
Perubahan yang terjadi diamati.

Proses Osmosis
Sukrosa 20%, 40% dan 60% dalam Aquadest
1
2
3
4
5

Sukrosa 20%, 40% dan 60% diambil sebanyak 3 ml menggunakan gelas ukur.
Sukrosa yang telah diambil tadi dimasukkan ke dalam plastik selofan yang berbeda-beda.
Plastik selofan yang telah diisi Sukrosa diikat dan diberi label, lalu ditimbang. Catat berat
masing-masing Sukrosa.
Sukrosa yang telah ditimbang, diikatkan pada batang pengaduk dan dimasukkan ke dalam
gelas kimia yang telah berisi aquadest.
Ditunggu selama 1 jam, beratnya ditimbang setiap 15 menit dan dicatat. Saat
penimbangan harus dipastikan plastik selofan yang berisi sukrosa telah kering.

Aquades dalam Sukrosa 30% dan 60%


1
2
3
4
5

IV.

Aquadest diambil sebanyak 3 ml menggunakan gelas ukur. Lakukan dua kali.


Aquadest yang telah diambil tadi dimasukkan ke dalam plastik selofan yang berbeda.
Plastik selofan yang telah diisi Aquadest diikat dan diberi label, lalu ditimbang. Catat
berat masing-masing Aquadest.
Aquadest yang telah ditimbang, diikatkan pada batang pengaduk dan dimasukkan ke
dalam gelas kimia yang telah berisi Sukrosa 30% dan Sukrosa 60%.
Ditunggu selama 1 jam, beratnya ditimbang setiap 15 menit dan dicatat. Saat
penimbangan harus dipastikan plastik selofan yang berisi Aquadest telah kering.

Data hasil pengamatan

Difusi
N
O
1
2
3
NO
1
2
3

SAMPEL

+ AgNO3

Air dalam beaker glass


Air suling
NaCl 0,9%

Terbentuk endapan warna putih


Tidak terjadi perubahan
Terbentuk endapan warna putih

SAMPEL
Air dalam beaker glass
Air suling
Albumin

+ HNO3
Terbentuk koagulasi
Tidak terjadi perubahan
Tidak terjadi perubahan

N
O
1
2
3

SAMPEL

+ BENEDICT + PANAS

Air dalam beaker glass


Air suling
Albumin

Tidak terjadi perubahan


Tidak terjadi perubahan
Tidak terjadi perubahan

Osmosis
NO

LAR. SELOFAN

1
2
3

Sukrosa 20%
Sukrosa 40%
Sukrosa 60%

NO

LAR. SELOFAN

1
2
3

Aquadest
Aquadest

V.

Pembahasan

LAR. BEAKER
GLASS
Aquadest
Aquadest
Aquadest
LAR. BEAKER
GLASS
Sukrosa 30%
Sukrosa 60%

15

30

45

60

3,61
3,84
3,96

7,14
5,39
6,89

7,55
6,06
7,95

7,10
6,46
6,86

7,41
6,64
6,98

15

30

45

60

3,57
3,52

5,27
2,56

5,49
2,22

6,4
2,02

6,41
1,96

Pada praktikum kali ini, kami melakukan percobaan mengenai Transpor Pasif, yaitu Difusi
dan Osmosis. Proses difusi dan osmosis yang terjadi pada sel, melibatkan membran sel yang
memisahkan lingkungan luar sel dan lingkungan dalam sel. Membran sel bersifat semi
permeabel, artinya dapat dilewati oleh air dan gas yang terlarut serta bersifat selektif
permeabel, artinya membran hanya dapat dilalui oleh molekul-molekul tertentu, contohnya
glukosa, asam amino, gliserol dan berbagai ion lainnya. Susunan membran plasma yang lengkap
dipaparkan menurut suatu model mosaik cair. Membran plasma memiliki struktur seperti
lembaran tipis. Membran plasma tersusun dari molekul-molekul lipid (lemak), protein dan
sedikit karbohidrat yang membentuk suatu lapisan dengan sifat dinamis dan asimetri. Bersifat
dinamis karena memiliki struktur seperti fluida (zat cair), sehingga molekul lipid dan protein
dapat bergerak. Bersifat asimetri karena komposisi protein dan lipid sisi l uar tidak sama dengan
sisi dalam membran sel. Molekul-molekul tersebut menyusun matriks lapisan fosfolipid rangkap
(fosfolipid bilayer) yang disisipi oleh protein membran. Ada dua macam protein membran, yaitu
protein yang terbenam (integral) dan yang menempel (periferal) di lapisan fosfolipid. Satu unit
fosfolipid terdiri dari bagian kepala (fosfat) dan ekor (asam lemak).

Sisi kepala merupakan sisi hidrofilik (suka air) yang menghadap ke luar membran plasma. Sisi
ekor merupakan sisi hidrofobik (tidak suka air) yang bersembunyi di bagian dalam membran
plasma.
Zat-zat keluar-masuk membran sel mengalir dari konsentrasi tinggi ke rendah atau
sebaliknya. Berdasarkan kebutuhan energi, transportasi zat melalui membran sel ada dua
macam, yaitu Transpor Pasif dan Transpor Aktif.
Mekanisme transport pasif adalah proses fisik yang tidak mengeluarkan energi selular
ataupun metabolik, namun memakai sumber energi eksternal. Mekanisme ini meliputi difusi,
dialisis, osmosis, difusi terfasilitasi, dan filtrasi.
Difusi adalah proses pergerakan acak partikel-partikel (atom, molekul) gas, cairan, dan
larutan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah hingga mencapai tahap
kesetimbangan. Difusi terbagi menjadi dua macam, yaitu difusi dipermudah dengan saluran
protein dan didusi dipermudah dengan protein pembawa. Pada proses difusi dipermudah dengan
saluran protein, substansi seperti asam amino, gula dan substansi bermuatan tidak dapat berdifusi
melalui membran plasma. Substansi tersebut dapat melewati membran plasma melalui saluran
yang dibentuk oleh protein. Protein yang membentuk saluran ini merupakan protein integral.
Sedangkan, pada proses difusi dipermudah dengan protein pembawa melibatkan protein yang
membentuk suatu saluran dan mengikat substansi yang ditranspor. Protein ini disebut protein
pembawa yang biasanya mengangkut molekul polar, contohnya asam amino dan glukosa.
Osmosis adalah perpindahan pelarut (misalnya air) melalui membran selektif permeabel
dari konsentrasi pelarut yang tinggi (hipotonik) menuju konsentrasi pelarut yang lebih rendah
(hipertonik). Membran selektif permeabel akan membiarkan air keluar dan masuk membran

dengan bebas, namun membatasi masuknya zat yang terlarut di dalamnya. Kondisi osmotik sel
yang bervariasi selalu dialami oleh sel hewan dan sel tumbuhan. Sel hewan lebih mudah rusak
akibat masuknya air, sedangkan sel tumbuhan relatif tidak mudah rusak akibat masuknya air
karena memiliki dinding sel.
Proses osmosis pada sel hewan, mulanya sel-sel hewan dipertahankan dalam keadaan
isotonik, yaitu keadaan dengan konsentrasi air di sekeliling sel sama dengan konsentrasi air di
dalam sel. Pada lingkungan hipotonik dengan kondisi konsentrasi air di luar sel lebih tinggi
daripada di dalam sel menyebabkan air terus-menerus ke dalam sel hingga sel tersebut pecah
(hemolilis). Pada lingkungan hipertonik dengan kondisi konsentrasi air di luar sel lebih rendah
(zat terlarut lebih pekat) daripada di dalam sel, mengakibatkan ai di dalam sel akan mengalir ke
luar sel hingga sel mengkerut (krenasi).
Proses osmosis pada sel tumbuhan, dimana sel-sel tumbuhan memiliki dinding selulosa
yang keras dan elastis sehingga dapat membatasi volum sel serta mempertahankan sel agar tidak
pecah. Bila sel tumbuhan ditempatkan pada lingkungan hipotonik, misalnya aquades, air akan
masuk ke dalam sel. Sel tumbuhan akan terus membengkak sampai selulosa tidak dapat
direntangkan lagi, namun sel tidak pecah, pada keadaan ini sel tumbuhan disebut turgid. Sel-sel
tumbuhan bila ditempatkan pada lingkungan hipertonik, misalnya pada larutan garam dengan
konsentrasi lebih dari 1% akan menyebabkan keluarnya air dari vakuola. Sitoplasma mengkerut
dan membran plasma terlepas dari dinding sel, peristiwa ini disebut plasmolisis.

Mekanisme transpor aktif berbeda dengan transpor pasif dikarenakan untuk melakukan
proses transpor aktif membutuhkan penggunaan penggunaan energi metabolik yang diperoleh
dari reaksi kimia selular da menggerakkan molekul atau ion melawan gradien konsentrasinya,
terjadi dari area berkonsentraso lebih rendah ke area berkonsentrasi lebih tingg. Transpor aktif
melibatkan mekanisme diperantai carrier dan transport massa berukuran besar.

Transpor aktif diperantai carrier, yang dimaksud carrier adalah protein integral yang
disebut pompa. Pompa ini mempertahankan gradient ion yang menembus membran sel dan
berkontribusi dalam terjadinya perbedaab voltase listrik yang lebih dikenal sebagai potensial
membran.
Transpor massa berukuran besar merupakan suatu proses aktif yang mentranspor partikel
besar dan makromolekul menembus membrane plasma dengan membungkusnya dalam suatu
bagian atau dengan melipat membran untuk membentuk kantong atau vesikel (vakuola) yang
melekat pada membran. Transpot ini mencakup endositosis dan eksositosis.
Endositosis (endo = bagian dalam) berarti masuk kedalam sel, terdiri dari fagositosis dan
pinositosis. Yang dimaksud dengan proses fagosistosis (fago = memakan) berarti menelan suatu
zat padat yang besar dengan cara melipat membran plasma untuk membentuk suatu vesikel
fagositik. Sedangkan yang dimaksud dengan pinositosis (pino = minum) berarti menelan tetesan
kecil cairan ekstraselular, yang mengandung nutrient yang sudah terurai, dan memasukkannya ke
dalam sel.
Eksositosis merupakan suatu metode untuk mengendalikan sel suatu substansi yang tidak
diinginkan dan sekaligus berfungsi untuk melepas produk sel yang berguna ke dalam cairan
ekstraselular.
Pada praktikum yang telah dilakukan, kami menggunakan plastik selofan sebagai alat
pengganti dari membran sel untuk dapat mengamati proses difusi dan osmosis. Seperti yang telah
disinggung di awal bahwa sifat yang dimiliki oleh membran sel adalah semi permeabel dan
selektif permeabel, sifat tersebut pun dimiliki oleh plastik selofan.
Pada proses difusi digunakan larutan NaCl 0,9 %, Albumin dan Dextrose 5%. Ketiga
larutan tersebut dimasukkan kedalam masing-masing plastik selofan dan direndam selama 60
menit dalam masing-masing beaker glass berisi aqudest yang memiliki volume sama. Hasil yang
didapat menunjukan bahwa proses difusi berlangsung pada beaker glass yang merendam plastik
selofan berisi NaCl 0,9%. Hal tersebut dapat diketahui dengan cara mereaksikan aquadest yang
berada dalam beaker glass dengan pereaksi AgNO 3 dan didapatkan hasil endapan putih yang
menunjukan keberadaan dari ion-ion NaCl yang berhasil menembus membran plastik selofan
(ion NaCl berdifusi dengan membran plastik selofan). Mengapa dapat terjadi demikian?
Dikarenakan ion-ion NaCl memiliki ukuran yang kecil sehingga dapat dengan mudah melewati
membran plastik selofan tanpa memerlukan energi. Faktor lain yang dapat mempermudah
molekul-molekul NaCl melewati membran plastik selofan adalah gradient konsentrasi yang
searah antar larutan NaCl yang berada dalam plastik selofan dan aquadest yang berada dalam
beaker glass. Proses difusi tidak berlangsung pada beaker glass yang merendam plastik selofan
berisi albumin dikarenakan molekul albumin yang besar. Albumin adalah bentuk makromolekul
dari asam amino yang saling berikatan, sehingga albumin tidak mampu menembus membran
plastik selofan tanpa bantuan energi. Tidak terjadinya proses difusi dapat diketahui dengan cara

mereaksikan aquadest yang merendam plastik selofan berisi albumin dengan pereaksi HNO 3 dan
didapatkan hasil murni aquadest (tidak ada endapan putih seperti larutan albumin). Sedangkan
pada beaker glass yang merendam plastik selofan berisi dextrose 5% tidak dapat diketahui bahwa
proses difusi telah berlangsung atau tidak dikarenakan pereaksi yang digunakan untuk
mengetahui keberadaan molekul dextrose dalam aquadest tersebut telah terkontaminasi zat lain
sehingga kehilangan fungsinya untuk dapat bereaksi dengan dextrose. Seharusnya aquadest yang
merendam plastik selofan berisi dextrose 5% tersebut setelah direaksikan dengan bennedict dan
dipanaskan dapat menunjukan adanya dextrose, karena molekul-molekul dextrose yang
berukuran kecil sehingga dapat dengan mudah melewati membran plastik selofan tanpa bantuan
energi.
Pada percobaan osmosis digunakan larutan sukrosa 20%, sukrosa 30% sukrosa 40%
sukrosa 60%. Pada percobaan yang pertama untuk mengamati proses osmosis, larutan sukrosa
20%, 40% dan 60 % dimasukkan kedalam masing-masing plastik selofan dan direndam selama
60 menit dalam masing-masing beaker glass berisi aquadest yang memiliki volume yang sama,
disetiap 15 menitnya dilakukan penimbangan terhadap masing-masing plastik selofan. Pada
percobaan yang kedua, larutan sukrosa 30% dan 60% tersebut dimasukkan kedalam masingmasing beaker glass dengan volume yang sama, sedangkan aquadest dimasukkan kedalam
masing-masing plastik selofan dan direndam dalam masing-masing beaker glass berisi larutan
sukrosa. Hasil dari percobaan proses osmosis pertama adalah plastik selofan berisi larutan
sukrosa 60% secara perlahan-lahan menunjukan kenaikan berat yang lebih darastis dibandingkan
dengan plastik selofan berisi larutan sukrosa 20% dan 40%. Hal tersebut dapat terjadi
dikarenakan aquadest mampu berpindah dengan lebih cepat menuju larutan dengan konsentrasi
zat terlalut yang lebih tinggi untuk mencapai isotonik (kesetimbangan) atau dikatakan lain
gradient konsentrasi pada proses osmosis antara larutan sukrosa 60% dan aquadest memiliki
jarak yang lebih jauh dibandingkan gradient konsentrasi antara aquadest dengan larutan sukrosa
20% ataupun 40%, sehingga aquadest pun berpindah lebih cepat menuju daerah/lingkungan
dengan perbedaan konsentrasi yang lebih jauh/tinggi untuk mencapai isotonik. Sedangkan hasil
percobaan kedua dari proses osmosis ini dinilai tidak akurat disebabkan terjadinya human error
atau praktikan yang salah dalam melaksanakan prosedur kerja. Hasil yang akan didapat jika
percobaan ini dapat dilakukan dengan prosedur kerja yang benar adalah plastik selofan berisi
aquadest yang direndam dalam larutan sukrosa 60% menunjukan penurunan berat yang lebih
drastis dibandingkan dengan aqudest dalam plastik selofan yang direndam dalam larutan sukrosa
30%. Hal tersebut terjadi karena perbedaan gradien konsentrasi yang jauh antara aquadest
dengan larutan sukrosa 60%.
Jadi dalam proses transport pasif difusi dan osmosis dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1

Ukuran molekul; dimana jika ukuran molekul tersebut makin kecil, maka semakin
mudah untuk melewati atau menembus membran plasma.

3
4

VI.

Gradien konsentrasi, yaitu semakin jauh perbedaan gradient konsentrasi antara pelarut
dan zat terlarut, maka pelarut akan lebih cepat berpindah menuju lingkungan dimana
konsentrasi zat terlarut tinggi.
Peningkatan suhu; dengan suhu yang tinggi akan meningkatkan gerak acak partikel
sehingga memungkinkan perpindahan partikel tersebut menjadi lebih cepat.
Berat molekul rendah; karena molekul yang besar tidak mudah dipindahkan dengan
cara bertubrukan satu sama lain.

Kesimpulan

Difusi adalah proses pergerakan acak partikel-partikel (atom, molekul) gas, cairan, dan
larutan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sedangkan Osmosis adalah
perpindahan pelarut (misalnya air) melalui membran selektif permeabel dari konsentrasi
pelarut yang tinggi (hipotonik) menuju konsentrasi pelarut yang lebih rendah (hipertonik).
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa difusi dan osmosis dipengaruhi
oleh beberapa factor seperti ukuran molekul terbukti pada hasil percobaan difusi NaCl
dimana beaker glass yang terisi aquadest bercampur dengan NaCl yang dicelupkan
menggunakan plastic selofan. Lalu dipengaruhi juga oleh gradient konsentrasi dimana
dilakukan percobaan osmosis dengan menggunakan sukrosa 20%, 40% dan 60%, ternyata
sukrosa dengan konsentrasi 60% yang mengalami penurunan berat yang drastic. Selain itu,
difusi osmosis juga dipengaruhi oleh luas permukaan sehingga plastic selofan yang terisi
sampel harus tercelup seluruhnya kedalam aquadest didalam beaker glass, yang terakhir
difusi osmosis dipengaruhi oleh suhu.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Osmosis
http://id.wikipedia.org/wiki/Difusi
Sloane, Ethel. 1995. ANATOMI DAN FISIOLOGI untuk pemula. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
Aryulina, Diah., dkk. 2004. BIOLOGI 2 SMA dan MA untuk Kelas XI. Jakarta: Erlangga.

LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai