Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM NUTRISI IKAN

PEMBUATAN PAKAN BENTUK LARUTAN EMULSI

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan akhir praktikum
mata kuliah Nutrisi Ikan semester genap

Disusun oleh:
Rayana Akbar Maulana

230110130047

Aisyah Dwi N R

230110130156

Muh Aulia Rahman S

230110130176

Resna Ajeng Andiani

230110130189

Deni Sihabudin Pratama

230110130222

Kelas :
Perikanan C / Kelompok 7

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2015

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah berkenan
memberi petunjuk kepada kami sehingga laporan akhir praktikum nutrisi ikan
Pembuatan Pakan Bentuk Larutan Emulsi ini dapat diselesaikan. Laporan
akhir ini kami buat guna memenuhi salah satu tugas praktikum mata kuliah
Nutrisi Ikan.
Semoga dengan adanya laporan akhir praktikum ini kami dapat
memberikan wawasan baru yang bermanfaat, khususnya bagi kami yang
menyusun laporan akhir praktikum ini dan umumnya bagi khayalak banyak.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandung, Mei 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Bab

II

Halaman
DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR GAMBAR

iv

DAFTAR LAMPIRAN

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Praktikum
2
1.3 Manfaat Praktikum
2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pakan Ikan


2.1.1 Pakan Alami
2.1.2 Pakan Buatan
2.1.3 Jenis-Jenis Pakan
2.2 Kandungan Gizi Bahan Pakan Bentuk Larutan Emulsi
2.2.1 Protein
2.2.2 Karbohidrat
2.2.3 Vitamin dan Mineral
2.2.4 Binder
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Pakan Bentuk Larutan Emulsi
III METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
3.2.2 Bahan
3.3 Prosedur Kerja
IV

3
3
4
5
6
6
8
10
11
11

20
12
12
13
14

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

15
15

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan

17

3
5.2 Saran

17

DAFTAR PUSTAKA

18

LAMPIRAN

19
DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Komposisi kimia kedelai kering per 100 g..........................

Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan pakan bentuk


larutan emulsi......................................................................

Halaman
7

12

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan


bentuk larutan emulsi........................................................... 13

Hasil pengamatan karakteristik pakan bentuk larutan


emulsi................................................................................... 15

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

Panci...................................................................................

Kompor............................................................................... 12

Gelas Ukur Plastik.............................................................. 12

Baskom............................................................................... 13

Spatula................................................................................ 13

Kuning Telur......................................................................

13

Tepung Kedelai..................................................................

13

Tepung Ragi.......................................................................

14

12

Vitaminchick......................................................................

14

5
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

Halaman

Penambahan air...........................................................................

21

Penghalusan kuning telur............................................................

21

Pengayakan T. Kedelai...............................................................

21

Penambahan T. Kedelai..............................................................

21

Penambahan Tepung Sagu..........................................................

21

Proses pemasakan.......................................................................

21

Memasukan adonan yang sudah masak ke dalam cetakan.........

22

1
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Budidaya ikan di Indonesia merupakan salah satu komponen yang penting

pada sektor perikanan. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam menunjang
ketersediaan pangan nasional, menciptakan pendapatan dan lapangan kerja.
Budidaya ikan juga berperan dalam mengurangi beban sumber daya laut. Di
samping itu budidaya ikan dianggap sebagai sektor penting untuk mendukung
perkembangan ekonomi pedesaan.
Salah satu cara untuk meningkatkan produksi dalam rangka memenuhi
permintaan pasar adalah dengan melakukan usaha budidaya secara intensif dan
terkontrol. Di dalam usaha budidaya perikanan yang intensif, hal-hal yang perlu
diperhatikan salah satunya ialah pemberian pakan yang sesuai. Pakan merupakan
salah satu faktor yang berperan penting dalam keberhasilan kegiatan budidaya
karena menentukan pertumbuhan dan perkembangan ikan.
Salah satu jenis pakan buatan yang dapat dibuat dengan cara sederhana
salah satunya adalah pakan emulsi. Yang dimaksud dengan pakan emulsi disini
adalah jenis pakan yang dapat buat sendiri tanpa bantuan mesin dan mempunyai
tingkat keawetan yang rendah, biasanya pakan emulsi ini digunakan untuk
perawatan larva dari beberap jenis ikan yang bertelur, tetapi bisa juga di berikan
sebagai pakan tambahan pada ikan yang mempunyai bukaan mulut kecil, seperti
jenis ikan leave bearier, adapun bahan yang sering digunakan untuk membuat
pakan emulsi ini adalah kuning telur atau telur utuh, baik itu telur ayam maupun
telur bebek.
1

Tujuan
Tujuan dari praktikum Pembuatan Pakan Bentuk Larutan Emulsi adalah

sebagai berikut :
1 Mengetahui apa itu pakan emulsi,

2
2
3

Mengetahui konsep dasar dari pakan emulsi,


Mengetahui kandungan nutrisi dari bahan bahan yang menjadi bahan baku
pembuatan pakan emulsi dan
Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini adalah dimana setelah mahasiswa mengikuti

praktikum ini dapat menerapkan ilmu yang didapat selama praktikum, selain itu
juga diharapkan mahasiswa dapat memformulasikan sendiri kandungan nutrisi
yang terkandung dalam suatu pakan dan dapat melakukan pembuatan pakan
larutan emulsi secara mandiri, sehingga memiliki keahlian dalam hal yang
mencerminkan sebagai mahasiswa perikanan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pakan Ikan
Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi kehidupan dan
pertumbuhan ikan. Zat yang terpenting dalam pakan adalah protein. Jumlah dan
kualitas protein mempengaruhi pertumbuhan optimal ikan. Karena zat ini
merupakan bagian terbesar dari daging ikan. Karena itu, dalam menentukan
kebutuhan zat makanan, kebutuhan protein perlu dipenuhi terlebih dahulu
(Khairuman 2003).
Pakan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Pakan harus dapat dimakan oleh ikan, maksudnya kondisi pakan harus baik dan
ukuran pakan harus sesuai dengan ukuran mulut ikan.
2. Pakan harus mudah dicerna.
3. Pakan harus dapat diserap oleh tubuh ikan.
Pemberian pakan akan memberikan manfaat yang optimal bagi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup ikan apabila ketiga persyaratan tersebut dipenuhi (Khairuman
2002).
2.1.1 Pakan Alami
Pakan alami adalah makanan yang keberadaannya tersedia di alam. Sifat
pakan alami yang mudah dicerna digunakan sebagai pakan benih ikan karena
benih ikan memiliki alat percernaan yang belum sempurna. Oleh karena itu, pakan
alami merupakan pakan yang tepat untuk benih, sehingga kematian yang tinggi
pada benih ikan dapat dicegah (Lingga 1989).
Keunggulan dari pakan alami sebagai pakan benih ikan antara lain pakan
alami memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, mudah dicerna, gerakan pakan
menarik perhatian ikan (Djarijah 1995). Ukuran diameter pakan yang relatif kecil
sehingga benih ikan mudah memakannya, dan tidak mencemari media
pemeliharaan dibandingkan dengan pakan buatan (Lingga 1989).

4
Kerugian yaitu seringkali pakan alami bersifat musiman, sehingga pada saat
tertentu sulit didapat. Dapat membawa hama dan penyakit, seperti cacing sutra,
yang hidup pada lumpur tercemar, sehingga bisa mengimpor bakteri terhadap
lingkungan akuarium. Hama seperti larva capung atau hydra bisa secara tidak
sengaja masuk ke akuarium dan memangsa burayak (Dharmawan 2010).
2.1.2 Pakan Buatan
Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu
berdasarkan pertimbangan kebutuhannya. Pembuatan pakan sebaiknya didasarkan
pada pertimbangan kebutuhan nutrisi ikan, kualitas bahan baku, dan nilai
ekonomis. Dengan pertimbangan yang baik, dapat dihasilkan pakan buatan yang
disukai ikan, tidak mudah hancur dalam air, aman bagi ikan (Dharmawan 2010).
Berdasarkan tingkat kebutuhannya pakan buatan dapat dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu :
1. Pakan tambahan
Pakan tambahan adalah pakan pakan yang sengaja dibuat untuk memenuhi
kebutuhan pakan. Dalam hal ini, ikan yang dibudidayakan sudah mendapatkan
pakan dari alam, namun jumlahnya belum memadai untuk tumbuh dengan baik
sehingga perlu diberi pakan buatan sebagai pakan tambahan.
2. Pakan suplemen
Pakan suplemen adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menambah
komponen nutrisi tertentu yang tidak mampu disediakan pakan alami.
3. Pakan utama
Pakan utama adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menggantikan
sebagian besar pakan alami (Dharmawan 2010).
Dalam pembuatan pakan ikan, pertama-tama perlu diperhatikan tentang
pemilihan bahannya. Bahan-bahan tersebut harus memenuhi beberapa syarat,
yaitu:
a. Mempunyai nilai gizi tinggi

5
b. Mudah diperoleh
c. Mudah diolah
d. Tidak mengandung racun
e. Harga relatif murah
f. Tidak merupakan makanan pokok manusia, sehingga tidak merupakan saingan
(Mujiman 1991).
2.1.3 Jenis jenis Pakan
Berdasarkan bahan bakunya, pakan buatan memiliki dua karakter, yaitu :
1. Pakan basah
Pakan basah adalah pakan ikan yang bahan penyusunnya mengandung kadar
air lebih dominan. Karakter pakan seperti ini sengaja dibuat agar larva dan
burayak ikan lebih mudah mengomsumsi dan mencernanya. Jenis pakan basah ini
beragam bentuknya, dari larutan emulsi, larutan suspensi, sampai bentuk pasta.
a. Pakan berbentuk emulsi,
Bahan-bahan yang terlarut menyatu dengan air sebagai pelarutnya. Apabila
dipegang, terasa agak liat mirip lem encer. Contohnya adalah sari kacang kedelai
yang sudah diramu dengan vitamin serta tambahan protein dari kuning telur.
b. Pakan berbentuk suspensi
Bahan terlarutnya tidak menyatu dengan pelarutnya karena mengandung
partikel-partikel halus yang tidak dapat larut. Contohnya adalah bubuk spirulina
yang ditebarkan dalam kolam pemeliharaan ikan.
c. Pakan bentuk pasta
Pakan bentuk pasta adalah pakan hasil adonan yang berbentuk gumpalan gumpalan.
2. Pakan kering
Pakan kering adalah pakan ikan yang bahan penyusunnya mengandung
sedikit kadar air, yakni sekitar 5-20 persen. Persentase kandungan air ini sengaja
dibuat agar pakan bisa disimpan lebih lama dan mengapung diperairan.

6
Kandungan air yang ada dalam pakan digunakan untuk melarutkan komposisi
bahan-bahan penyusunnya agar mudah diramu. Bentuk pakan kering cukup
beragam, seperti granule (butiran), flake (remah), pellet (bulat), dan stick (batang)
(Tiana 2004).
2.2 Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Bentuk Larutan Emulsi
Yang dimaksud dengan nutrisi untuk ikan adalah kandungan gizi yang
dikandung pakan, yang diberikan kepada ikan peliharaan. Apabila pakan yang
diberikan ikan peliharaan mempunyai kandungan nutrisi yang cukup tinggi, maka
hal ini tidak saja akan menjamin hidup dan aktivitas ikan, tetapi juga akan
mempercepat pertumbuhannya. Beberapa komponen nutrisi yang penting dan
tersedia dalam pakan ikan antara lain protein, karbohidrat, lemak, dan serat kasar
(Kordi 2004).
2.2.1 Protein
Protein merupakan senyawa organik kompleks, tersusun atas banyak asam
amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh
lemak atau karbohidrat. Molekul protein mengandung fospor dan sulfur. Kualitas
protein suatu bahan pakan ditentukan oleh kandungan asam amino, khususnya
asam amino esensial (Sumeru 1992).
Protein merupakan unsur yang paling penting dalam penyusunan formulasi
pakan karena usaha budidaya diharapkan pertumbuhan ikan yang cepat. Dalam
hal ini, protein mempunyai tiga fungsi bagi tubuh yaitu:
a. Sebagai zat pembangun yang membentuk berbagai jaringan baru untuk
pertumbuhan, mengganti jaringan yang rusak, maupun yang bereproduksi.
b. Sebagai zat pengatur yang berperan dalam pembentukan enzim dan hormon
penjaga serta pengatur berbagai proses metabolisme didalam tubuh ikan.
c. Sebagai zat pembakar karena unsur karbon yang terkandung didalamnya dapat
difungsikan sebagai sumber energi pada saat kebutuhan energi tidak terpenuhi
oleh karbohidrat dan lemak (Sahwan 2002).

Kebutuhan protein masing-masing jenis ikan berbeda-beda. Jumlah protein


yang dibutuhkan ikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain ukuran ikan,
suhu air, jumlah pakan yang dimakan ikan, ketersediaan dan kualitas pakan alami,
dan kualitas protein (Kordi 2004). Pada umumnya ikan membutuhkan makanan
yang kadar proteinnya berkisar antara 20-60 persen. Sedang kadar optimum
berkisar antara 30-36 persen. Apabila protein dalam pakan kurang dari 6 persen,
maka ikan tidak dapat tumbuh (Mujiman 1991).
Pakan buatan terdiri dari beberapa macam campuran bahan pakan yang
berasal dari protein hewani maupun nabati. Sumber protein hewani antara lain
tepung ikan, telur ayam, tepung tulang dan tepung darah. Sumber protein nabati
bisa diperoleh dari limbah industri pertanian seperti bungkil kacang tanah, ampas
tahu, kedelai dan sorghum (Tiana 2004).
Protein nabati (asal tumbuh-tumbuhan) lebih sukar dicerna daripada
protein hewani (asal hewan). Hal itu disebabkan karena protein nabati terbungkus
didalam dinding selulose yang memang sukar dicerna. Selain itu kandungan asam
amino esensial dari protein nabati pada umumnya kurang lengkap dibandingkan
dengan protein hewani (Mujiman1991).
Protein yang digunakan dalam pembuatan pakan bentuk larutan emulsi
adalah tepung kedelai. Di antara jenis kacang-kacangan, kedelai merupakan
sumber protein yang paling baik. Kedelai juga dapat digunakan sebagai sumber
lemak, vitamin, mineral, dan serat. Komposisi rata-rata kedelai dalam bentuk biji
kering dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi kimia kedelai kering per 100 g
Komposisi
Jumlah
Kalori (kkal)
331,0
Protein (g)
34,9
Lemak (g)
18,1
Karbohidrat (g)
34,8
Kalsium (mg)
227,0
Fosfor (mg)
585,0
Besi (mg)
8,0
Vitamin A (SI)
110,0

8
Vitamin B1 (mg)
1,1
Air (g)
7,5
(Sumber: Koswara 1992)
Beberapa hal yang menyebabkan adanya hubungan yang menguntungkan
antara protein kedelai dan kalsium adalah:
a. Kedelai rendah kandungan asam amino bersulfur. Asam amino bersulfur dapat
menghambat resorpsi kalsium oleh ginjal, yang menyebabkan lebih banyak
kehilangan kalsium dalam urine
b. Protein hewani diketahui mempunyai kandungan phosfor dan phosfat yang
tinggi, dan tinggi kehilangan kalsium dari tubuh. Oleh karena itu, penggantian
protein hewani dengan protein kedelai dapat mengurangi kehilangan tersebut.
(Koswara, 2006).
Dalam pembuatan tepung dan bubuk kedelai, proses pemanasan toasting
(perebusan, pengukusan atau penyangraian) merupakan tahap yang penting.
Proses ini bertujuan untuk:
1. Menginaktifkan anti-tripsin,
2. Menginaktifkan enzim lipoksigenase, sehingga bau langu kedelai dapat
dihilangkan.
Di dalam industri makanan campuran, tepung kedelai mempunyai peranan
yang penting karena dapat dicampur dengan produk tepung lainnya (Koswara
1992). Tepung kedelai merupakan salah satu bahan pengikat yang dapat
meningkatkan daya ikat air pada bahan makanan karena di dalam tepung kedelai
terdapat pati dan protein yang dapat mengikat air. Daya ikat air mempengaruhi
ketersediaan air yang diperlukan oleh mikroorganisme sebagai salah satu faktor
penunjang pertumbuahannya. Semakin meningkat daya ikat air maka ketersediaan
air yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme semakin berkurang,
sehingga aktivitas bakteri dalam bahan makanan yang dapat menyebabkan
kebusukan menurun (Virgo 2007).

9
2.2.2 Karbohidrat
Karbohidrat merupakan senyawa organik yang terdiri dari serat kasar dan
bahan bebas tanpa nitrogen (nitrogen free extract) atau dalam bahasa Indonesia
disebut bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Unsur-unsur karbohidrat terdiri dari
karbon, hidrogen, dan oksigen dalam perbandingan yang berbeda-beda.
Karbohidrat dalam bentuk yang sederhana pada umumnya lebih mudah larut
dalam air daripada lemak atau protein (Kordi 2004).
Karbohidrat merupakan salah satu komponen sumber energi yang juga
berperan dalam menghemat penggunaan protein sebagai sumber energi. Apabila
pakan yang diberikan kekurangan karbohidrat, ikan akan kurang efesien dalam
penggunaan pakan berprotein untuk menghasilkan energi dan kebutuhan
metabolik lainnya (Afrianto 2005).
Kebutuhan karbohidrat pada pakan ikan bergantung dari jenis ikannya.
Menurut Wilson, hanya ikan herbivor dan omnivor yang dapat memanfaatkan
karbohidrat tanaman. Watanabe , mengatakan bahwa kadar karbohidrat optimum
untuk ikan omnivor adalah 20-40%, sedangkan untuk ikan karnivor antara 1020% (Kordi 2014).
Kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohidrat ini tergantung pada
kemampuannya untuk menghasilkan enzim amilase. Dan kemampuan ini
tergantung pula pada jenis ikannya. Apabila makan karbohidrat lebih dari 12
persen, maka pada hatinya akan terjadi timbunan glikogen yang berlebihan, dan
dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi. Tapi ikan pemakan segala, dapat
hidup baik dengan makanan yang kadar karbohidratnya sampai 50% atau bahkan
lebih (Mujiman 1991).
Bahan-bahan pakan yang banyak mengandung karbohidrat adalah jagung,
beras, tepung terigu, dedak halus, tepung tapioka, tepung sagu dan beberapa bahan
lainnya. Sebagian bahan diatas, selain sebagai sumber karbohidrat, juga berfungsi
sebagai bahan perekat (binder) dalam pembuatan pakan ikan (Kordi 2004).
Pembuatan pakan bentuk larutan emulsi ini menggunakan tepung sagu
sebagai sumber utama karbohidrat. Tepung sagu adalah tepung yang berasal dari

10
teras batang pohon sagu. Tepung sagu biasa digunakan sebagai salah satu bahan
baku kue atau penganan lainnya. Pembuatan kue, sagu biasanya digunakan
sebagai bahan pengental karenatepung ini bersifat lengket. Tepung sagu kaya
dengan karbohidrat (pati) namun sangat miskin gizi lainnya. Ini terjadi akibat
kandungan tinggi pati di dalam teras batang maupun proses pemanenannya.
Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori. Dalamnya rata-rata
terkandung 94 gram karbohidrat, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10mg kalsium,
1,2mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah sangat
kecil.Tepung sagu memiliki ciri fisik yang mirip dengan tepung tapioka. Dalam
resep masakan, tepung sagu yang relatif sulit diperoleh sering diganti dengan
tepung tapioka, meskipun keduanya sebenarnya berbeda (Anonim 2011).
2.2.3 Vitamin dan mineral
Kebutuhannya berkisar antara 2-5% .Kandungan vitamin di dalam pakan
buatan tergantung dari bahan baku yang digunakan dan bahan yang ditambahkan.
Jumlah vitamin dapat berkurang atau rusak selama proses pembuatan dan
penyimpanan pakan buatan. Oleh karena itu, perlu selalu dilakukan penambahan
vitamin. Sebagian besar vitamin akan rusak karena penanganan yang kurang
cermat, baik selama proses pembuatan maupun penyimpanan pakan yang terlalu
lama (lebih dari tiga bulan). Tiamin akan kehilangan aktivitasnya apabila
pembuatan atau penyimpanan pakan dilakukan dalam kondisi basa atau
mengandung sulfida. Beberapa vitamin akan mengalami perombakan lebih lanjut
apabila terkena cahaya matahari secara langsung. Riboflavin harus dilindungi dari
cahaya matahari atau cahaya lampu. Piridoksin tidak tahan terhadap udara dan
cahaya matahari. Asam pantotenat kurang stabil apabila disimpan di tempat yang
panas dan lembab. Cahaya matahari dan penyimpanan yang terlalu lama akan
merusak aktivitas asam folat. Fungsi vitamin B-12 akan menurun apabila
disimpan di tempat yang bersuhu tinggi. Vitamin E sangat sensitif terhadap proses
oksidasi. Vitamin K dalam bentuk sintetis harus terlindung dari cahaya matahari
secara langsung. Tampak jelas bahwa fungsi vitamin mudah terganggu sehingga

11
lebih baik segera digunakan. Jika terpaksa disimpan, sebaiknya vitamin di
letakkan di tempat kering dan dingin, serta terhindar dari pengaruh cahaya
matahari maupun cahaya lampu yang terlalu terang.
2.2.4 Binder
Binder yang digunakan pada pembuatan pakan bentuk larutan emulsi yaitu
kuning telur.Telur memiliki sifat pengemulsi. Telur membentuk warna, aroma,
kelembutan dan berfungsi sebagai emulsifier alami. Telur juga berfungsi
membentuk struktur dan kekokohan. Di samping itu, telur juga menambah nilai
gizi produk akhir, karena mengandung protein, lemak dan mineral (Anonim
1990).
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Pakan Bentuk Larutan Emulsi
Pakan basah memiliki keunggulan mudah dicerna, tetapi tidak tahan
disimpan lama seperti halnya pakan kering. Pakan basah dibuat untuk satu kali
konsumsi saja. Seandainya jumlahnya berlebihan, pakan basah bisa disimpan
dalam lemari es. Dengan demikin, kualiatas pakan basah relatif dapat
dipertahankan. Pakan basah lebih banyak dibuat sendiri oleh peternak ikan
sehingga jarang ditemukan di pasaran. Ramuan pakan basah dapat diracik sesuai
dengan keinginan pembuatnya.

12
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum
Praktikum Pembuatan Pakan Bentuk Larutan Emulsi dilaksanakan pada hari
Senin, 9 Mei 2016 pukul 15.00 17.00 WIB di Laboratorium Avertebrata
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Pembuatan Pakan Bentuk
Larutan Emulsi dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Alat yang digunakan dalam pembuatan pakan bentuk larutan
emulsi
No
Alat
Fungsi
Gambar
Panci
1
Untuk wadah saat
memanaskan larutan

Gambar 1. Panci
(sumber: http://google.com)
2

Kompor

Tempat untuk
memanaskan

Gambar 2. Kompor
(sumber: http://google.com)
3

Gelas ukur plastik

Untuk mengukur air

Gambar 3. Gelas ukur


plastik

13
No
4

Alat
Baskom

Fungsi

Gambar

Untuk tempat
mencampurkan
bahan-bahan

Gambar 4. Baskom
5

Spatula

Untuk
mencampurkan
bahan-bahan

Gambar 5. Spatula
3.2.2 Bahan bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Pembuatan Pakan Bentuk
Larutan Emulsi dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Alat yang digunakan dalam pembuatan pakan bentuk larutan
emulsi
No
Alat
Fungsi
Gambar
1
butir
kuning
telur
1
Sebagai emulsifier

Gambar 6. Kuning
Telur

14
No
2

Alat

Fungsi

Gambar

20 gram tepung Sebagai sumber protein


kedelai,
disaring
terlebih dahulu

Gambar 7. Tepung
Kedelai
3

5 gram tepung sagu

Sebagai sumber
karbohidrat

Gambar 8. Tepung
Sagu
4

1 gram vitamin

Sebagai sumber vitamin


dan mineral

Gambar 9.
Vitaminchick

3.3 Prosedur Kerja


Prosedur kerja dalam Pembuatan Pakan Bentuk Larutan Emulsi adalah
sebagai berikut :
1. Sebutir telur direbus sampai masak, kemudian diambil kuningnya dan
dilarutkan dalam 200 ml air.
2. Ditambahkan tepung kedelai halus yang sudah diayak, sagu dan terakhir
vitamin sambil terus diaduk.
3. Larutan dipanaskan sambil tetap diaduk, hingga diperoleh cairan kental seperti
lem yang encer.
4. Larutan siap digunakan setelah dingin.

15
5. Masa simpan larutan 10 jam dan digunakan untuk makanan burayak ikan yang
berumur 3-20 hari.

15
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil pengamatan yang diperoleh dari praktikum Pembuatan Pakan Bentuk
Larutan Emulsi dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil pengamatan karakteristik pakan bentuk larutan emulsi
No
Karakteristik
Hasil Pengamatan
1 Warna
Kuning kecoklatan
2 Aroma
Aroma tepung kedelai mendominasi
namun aroma kuning telur masih
tercium
3 Tekstur
Kental seperti lem
4 Lainnya
Bahan bahan tercampur merata
4.2

Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum bahwa pakan emulsi merupakan pakan yang

digunakan untuk konsumsi ikan yang masih dalam fase larva atau burayak. Pakan
emulsi di buat dari berbagai macam bahan yaitu tepung kedelai yang berfungsi
sebagai sumber protein dan juga berfungsi sebagai bahan pengental adonan,
tepung sagu merupakan bahan yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat dan
juga sebagai pengental adonan, Kuning telur matang sebagai sumber protein,
sebagai binder dan juga dapat berfungsi sebagai emulsifier, dan bahan yang
terakhir adalah air yang berfungsi melarutkan bahan-bahan agar homogen.
Pemanasan dalam pembuatan pakan emulsi memiliki fungsi sebagai proses
pembentukan emulsi dan juga berfungsi untuk mendenaturasikan protein yang
terkandung didalam bahan sehingga pakan yang dibuat lebih mudah untuk
dicerna.
Pakan emulsi memiliki daya tahan yang rendah sekitar 10 jam karena dalam
pakan emulsi memiliki kandungan air yang relatif tinggi sehingga mengakibatkan
pakan lebih cepat mengalami jamuran. Pakan emulsi yang didapatkan kelompok 7
jika diamati secara fisik memiliki warna kuning kecoklatanseperti warna tepung

16
kedelaidan aroma tepung kedelai mendominasi namun aroma kuning telur masih
tercium, hal ini karena tepung kedelai merupakan bahan yang dominan dalam
pembuatan pakan emulsi. Pakan emulsi selain memiliki warna kuning kecoklatan
dan aroma tepung kedelai juga memiliki tekstur yang kental seperti lem, hal ini
karena adanya pengental yaitu berupa tepung sagu dan juga tepung ikan yang
berfungsi sebagai pengental dan juga karena adanya kuning telur yang berfungsi
sebagai emulsifier.

17
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan dari hasil praktikum Pembuatan Pakan Bentuk

Larutan Emulsi adalah sebagai berikut :

Pakan emulsi merupakan pakan yang bahan-bahannya terlarut (menyatu)

dengan air sebagai pelarutnya.


Pakan emulsi memiliki daya tahan yang rendah sekitar 10 jam karena dalam
pakan emulsi memiliki kandungan air yang relatif tinggi sehingga
mengakibatkan pakan lebih cepat mengalami jamuran, pakan emulsi memiliki
warna kuning kecoklatan seperti warna tepung kedelai dan aroma tepung
kedelai mendominasi namun aroma kuning telur masih tercium, selain itu juga

memiliki tekstur yang kental seperti lem.


Beberapa kandungan nutrisi yang penting dan tersedia dalam pakan ikan
emulsi antara lain protein, karbohidrat, dan vitamin

5.2

Saran
Saran yang dapat diberikan adalah sebaiknya peralatan praktikum seperti

kompor dan panci untuk memanaskan harus ditambah sehingga praktikan tidak
mengantri untuk menggunakan kompor dan panci tersebut pada saat praktikum
berlangsung.

18
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E. dan E. Liviawaty. 2005. Pakan Ikan. Yogyakarta : Kanisius. 148 hlm
Djarijah, A.S. Ir. 1995. Nila Merah. Pembenihan dan Pembesaran Secara Intensif.
Yogyakarta : Kanisius. Hal 13-18
Kordi, K.M.G. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Cetakan
Pertama. Jakarta: Rineka Cipta
Koswara, S., 1992. Teknologi Pengolahan Kedelai Menjadikan Makanan
Bermutu., Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Koswara, S., 2006. Isoflavon, Senyawa Multi-Manfaat Dalam Kedelai.
http://ebookpangan.com. ( Diakses pada tanggal 12 Mei 2016 pukul 18.59).
Lingga,P.& H.Susanto. 1989. Ikan Hias Air Tawar. Jakarta : Penebar Swadaya.
Hal. 236
Mudjiman, A. 1992. Makanan Ikan. PT. Jakarta : Penebar Swadaya. 190 hlm
Virgo, S. D. Hanela, 2007. Pengaruh Pemberian Tepung Kedelai Terhadap Daya
Simpan Nugget Ayam Ras Afkir. Padang : Fakultas Peternakan Universitas
Andalas,

17

LAMPIRAN

20

Lampiran 1. Diagram Alir Prosedur Pembuatan Pakan Bentuk Larutan


Emulsi
Telur direbus sampai masak
Kuning telur diambil dan dilarutkan dalam 200 ml air

Ditambahkan tepung kedelai halus yang sudah diayak, sagu dan vitamin sambil terus diaduk

Larutan dipanaskan sambil tetap diaduk hingga cairan menjadi kental

Larutan siap digunakan setelah dingin

21

Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan

Gambar 1. Penambahan air

Gambar 3. Pengayakan T. Kedelai

Gambar 5. Penambahan tepung sagu

Gambar 2. Penghalusan kuning telur

Gambar 4. Penambahan T. Kedelai

Gambar 6. Proses pemasakan

22

Gambar 7. Memasukan adonan yang


sudah masak ke dalam cetakan