Anda di halaman 1dari 12

STOIKIOMETRI

NAMA-NAMA ANGGOTA KELOMPOK


1
2
3
4
5

MARIA YUNITA MORUK


FRIDA TRINITA PADAFANI
MARIA ALOYSIA IDJU
AHOLIAB MADUBI MOTE
IRFAN SOPHYAN PAKAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa karena atas
penyertaan dan bimbinganNya makalah ini boleh diselesaikan dengan baik dan
tepat pada waktunya. Kami juga berterimakasi kepada Dosen pengasuh mata
kulia,yang telah memberikan tugas juga telah membimbing dalam proses
penulisan makala ini.
Kami menyadari bahawa makalah yang kami buat ini mai jauh dari kata
sempurna ,oleh karna itu saran dan kritik sangat di perluka

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................

DAFTAR ISI..............................................................................................
BAB l
A.Latar Belakang....................................................................................
B.Rumusan Masalah...............................................................................
C.Tujuan..................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Stoikiometri..............................................................................
Hukum-Hukum dasar ilmu kimia..............................................................
Konsep Massa Atom Relatif (Ar), Massa Molekul Relative (Mr),Konsep
Mol dan Bilangan Oksidasi........................................................................
Karakteristik Persamaan Reaksi Kimia dan Jenis-Jenisnya..................
BAB III PENUTUP.......................................................................................................
KESIMPULAN..............................................................................................................
SARAN...........................................................................................................................

BAB I

.A.Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bahwa air adalah salah satu senyawa paling sederhana dan paling
dijumpai serta paling penting. Bangsa Yunani kuno menganggap air adalah salah satu dari
empat unsur penysun segala sesuatu ( tanah, udara, dan api). Bagian terkecil dari air adalah
molekul air. Molekul adalah partikel yang sangat kecil, sehingga jumlah molekul dalam
segelas air melebihi jumlah halaman buku yang ada di bumi ini. Stoikiometri behubungan
dengan hubungan kuantitatif antar unsure dalam satu senyawa dan antar zat dalam suatu
reaksi. Istilah itu berasal dari Yanani, yaitu dari kata stoicheion, yang berarti unsure dan
mentron yang artinya mengukur. Dasar dari semua hitungan stoikiometri adalah pengetahuan
tentang massa atom dan massa molekul. Oleh karena itu, stoikiometri akan dimulai dengan
membahas upaya para ahli dalam penentuan massa atom dan massa molekul.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di dapat dirumuskan maaahnya sbb:
1. Apa pengertian stikiometri dan apa saja hukum-hukum dasar ilmu kimia?
2. Bagaimana konsep massa atom relative (Ar), maasa molekul relative (Mr), konsep mol
dan bilangan oksidasi ?
3. Bagaimana karakteristik persamaan reaksi kimia dan jenis-jenisnya ?
4. Bagaimana cara menyetarakan persamaan reaksi reduksi dan oksidasi (redoks)
C. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian Stoikiometri dan hukum-hukum dasar ilmu kimia
2. Menjelaskan konsep massa atom relative (Ar), maasa molekul relative (Mr), konsep mol
dan bilangan oksidasi
3. Menjelaskan karakteristik persamaan reaksi kimia dan jenis-jenisnya
4. Menyetarakan persamaan reaksi reduksi dan oksidasi (redoks)

BAB ll

PEMBAHASAN
A.Pengertian Stoikiometri
Stoikiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari ilmu kuantitatif dari komposisi zat
- zat kimia dan reaksi - reaksinya. Dengan kata lain stoikiometri merupakan matematika-nya
kimia

B.Hukum-Hukum dasar ilmu kimia


a. Hukum Lavoisier (Hukum Kekekalan Massa)
Penulisan persamaan reaksi harus menyatakan hubungan kuantitatif antara zat-zat pereaksi
dan zat-zat hasil reaksi. Hubungan kuantitatif antara zat-zat pereaksi dan zat-zat hasil reaksi.
Hubungan kuantitatif dalam reaksi kimia pertama kali dikemukakan oleh Antonie Laurent
Lavoisier (1743-1794), yaitu : Dalam setiap reaksi kimia jumlah massa zat-zat sebelum
reaksi dan sesudah reaksi adalah sama.Contoh:kayu dibakardengan gas oksigen akan
menghasilkan arang dan asap .maka masa total kayu dan gas oksigen akan sama dengan
masa total arang dan gas (asap).
b. Hukum Proust (Hukum Perbandingan Tetap).
Pada tahun 1799, Joseph Louis Proust menemukan satu sifat penting dari senyawa, yang
disebut hukum perbandingan tetap. Berdasarkanpenelitian terhadap berbagai senyawa yang
dilakukannya, Proust menyimpulkanbahwa Perbandingan massa unsur-unsur dalam satu
senyawa adalah tertentudan tetap. Senyawa yang sama meskipun berasal dari daerah
berbeda atau dibuat dengan cara yang berbeda ternyata mempunyai komposisi yang sama
Keuntungan dari hukum Proust:
bila diketahui massa suatu senyawa atau massa salah satu unsur yang membentuk senyawa
tersebut maka massa unsur lainnya dapat diketahui.

Contoh:

Perbandinganmasa

unsur

Dan

Dalam

air

selalu

tetap

dan

a. Pada senyawa NH3 ------ massa N : massa H = 1 Ar . N : 3 Ar . H

(14)

14

(1)

b. Pada senyawa SO3 ------ massa S : massa O = 1 Ar . S : 3 Ar . O


=

(32)

32

3
:

(16)
48

=2:3
Penyimpangan Hukum Susunan Tetap
Isotop
Terdapatnya dua macam senyawa dengan dua macam perbandingan berat misalnya air
(perbandingan berat oksigen-hidrogen 8:1) dan air berat (perbandingan berat oksigenhidrogen 8:2), menunjukkan penyimpangan dari hukum susunan tetap.
Senyawa non-stoikiometri
Komposisi rata-rata Ti0 berkisar dari Ti0,70 ke Ti00,7. Senyawa semacam ini (Pb S1,14
dan UO2,12) yang menyimpang dari Hukum Susunan Tetap disebut senyawa Non-Daltonion,
Berthollide atau Non-Stoikiometrik.

c. Hukum Kelipatan Perbandingan (Hukum Dalton)


Dalton merumuskan hukum kelipatan perbandingan (hukum Dalton) yang berbunyiJika dua
jenis unsur bergabung membentuk lebih dari satu senyawa, dan jika massa-massa salah satu
unsur dalam senyawa-senyawa tersebut sama,sedangkan massa-massa unsur lainnya berbeda,
maka perbandingan massa unsur lainnya dalam senyawa-senyawa tersebut merupakan
bilangan bulat dan sederhana.
d. Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay Lussac)
Gay Lussac merumuskan hukum perbandingan volume (hukum GayLussac)Pada suhu dan
tekanan yang sama, volume gas-gas yang bereaksi dan volume gas-gas hasil reaksi
berbanding sebagai bilangan bulat sederhana.

e. Hukum Avogadro
Pada tahun 1811, Amedeo Avogadro menjelaskanpercobaanGay Lussac. Menurut Avogadro,
partikel unsur tidak selalu berupa atom tunggal (monoatomik), tetapi berupa 2 atom
(diatomik) atau lebih (poliatomik). Avogadro menyebutkan partikel tersebut sebagai molekul.
Dari sini Avogadro mengajukan hipotesisnya yang dikenal hipotesis Avogadro yang
berbunyi:Pada suhu dan tekanan yang sama, semua gas dengan volume yang sama akan
mengandung jumlah molekul yang sama pul
C. Konsep Massa Atom Relatif (Ar), Massa Molekul Relative (Mr),Konsep
Mol dan Bilangan Oksidasi
a. Konsep Massa Atom Relatif (Ar)
Massa atom unsur sebenarnya belum dapat diukur dengan alat penimbang massa atom,
karena atom berukuran sangat kecil. Massa atom unsur ditentukan dengan cara
membandingkan massa atom rata-rata unsur tersebut terhadap massa ratarata satu atom
karbon-12 sehingga massa atom yang diperoleh adalah massa atom relatif (Ar). Ar X
b. Konsep Massa Molekul Relatif (Mr)
Perbandingan massa molekul dengan massa standar disebut massa molekul relatif (Mr),
ditulis sebagai berikut: Mr = massa rata-rata 1 molekul senyawa 1/12 massa 1 atom C-12
c. Konsep Mol dan Bilangan Oksidasi
1 Konsep Mol
a) Bilangan Avogadro
Avogadro menyatakan bahwa setiap satu mol zat itu mengandung 6,023 , molekul. Bilangan
yang dihasilkan ini dikenal dengan istilah bilangan Avogadro yang diberi lambing N.
beberapa cara dilakukan untuk menetapkan bilangan Avogadro menunjukkan bahwa bilangan
itu tidak dapat ditentukan secara tepat. Pada saat ini cara yang dianggap paling tepat untuk
menetapkan bilanggan Avogadro adalah pengukuran sinar X pada sisi Kristal suatu garam.
Metode inilah yang memberikan nilai bilangan Avogadro sebesar 6,023 , dengan
demikian apabila molekul dalam satu mol zat 3 telah diketahui, maka massa satu molekul
sembarang zat dapat dihitung.

b) Massa Satu Mol Berdasarkan hokum kekekalan massa


atom tidak mengalami perubahan bila atom-atom itu bergabung (bereaksi) mebentuk
senyawa. Massa satu molekul suatu senyawa ditentukan oleh jumlah massa semua atom
penyusun molekul itu, massa ini kemudian dikenal dengan massa rumus relative (Mr).
misalnya massa rumus air, H2O = (2 1) + (1 16) = 18. Dalam perhitunan kimia, yang
diperlukan adalah suatu satuan jumlah zat yang menyatakan berapa gram zat yang harus
ditimbang agar zat tersebut mengandung partikel yang sama. Satuan yang digunakan adalah
mol. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa satuan patokam bakunya juga
menggunakan isotope karbon-12. Dengan demikian satu mol isotope karbon12 mempunyai
massa 12 gram yang sesuai dengan bilangan Avogadro, N yaitu 6,023 atom. Satu mol
oksigen (O2) mengandung N molekul O2 , atau mengandung 2N atom oksigen (O). jikalau
massa atom relative oksigen adalah 16, maka massa rumus molekul relative oksigen adalah 2
16 = 32. Massa satu mol gas oksigen = 32 c) Volume satu mol gas Hokum Avogadro
menyatakan tiap-tiap gas ideal atau gas yang dianggap sebagai gas ideal pada suhu dan
tekanan tetap, volumenya sama dan mengandung jumlah partikel yang sama pula. Reaksreaksi kimia sering melibatkan molekul dalam fase gas, dengan demikian hokum Avogadro
dapat diterapkan pada reaksi kimia yang melibatkan senyawa yang berfase gas, dengan
catatan bahwa gas-gas itu merupakan gas ideal atau dianggap gas ideal dan berlaku
persamaan PV = nRT. Jikalau pada kondisi baku yaitu 0 tekanan 7 cm Hg (atau 1 atm), maka
volume 1 mol gas adalah 22,41 dm3. Dengan cara yang sama, setiap gas pada kondisi yang
sama volumenya juga sama dan pada keadaan baku setiap satu mol sembarang gas ideal atau
dianggap idel volumenya sama yaitu 22,41 dm3. Cara lain untuk menentukan volume gas itu
adalah dengan menggunakan definisi densitas atau berat jenis atau kerapatan.

2. Bilangan Oksidasi
Bilangan oksidasi didefinisikan sebagai jumlah muatan negatif dan positif dalam atom, yang
secara tidak langsung menandakan jumlah elektron yang telah diterima atau
diserahkan.Bilangan oksidas suatu unsur dapat diketahui bila susunan elektron adr molekul
yang mengandung tersebut dilukiskan, akan tetapi cara ini akan menyita banyak waktu, maka
dalam penentuan bilanag oksidasi suatu unsur dapat dilakukan dengan berpedoman pada
aturan berikut :

a) Bilangan oksidasi unsur H dalam senyawa = +1, kecuali pada senyawa hidrida = 1
(misalnya : NaH)
b) Bilangan oksidasi unsur O dalam senyawa = 2, kecuali pada senyawa peroksida = 1
(misalnya : Na2O2, H2O2, Ba2O2), dan pada senyawa oksifluorida (OF2) = +2
c) Bilangan oksidasi unsur logam dalam senyawa selalu positif dan nilainya sama dengan
valensi logam tersebut. ( Misalnya : Biloks logam gol.IA= +1, gol.IIA=+2, gol.IIIA=+3)
d) Bilangan oksidasi unsur golongan VIIA dalam senyawa = 1
e) Bilangan oksidasi unsur dalam bentuk ion tunggal sama dengan muatannya. (Misalnya
Biloks
Na pada Na+= +1, Cl pada Cl-=1, Mg pada Mg2+=+2) f) Jumlah bilangan oksidasi unsurunsur dalam suatu senyawa sama dengan 0 (nol).

D. Karakteristik Persamaan Reaksi Kimia dan Jenis-Jenisnya


a. Karakteristik Persamaan Reaksi Perbandingan koefisien reaksi dapat menyatakan :
1) Perbandingan jumlah partikel-partikel zat dalam suatu persamaan reaksi.
2) Perbandingan jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi, hal ini disebabkan jika
jumlah partikel-partikel zat sama maka jumlah molnya juga sama.
3) Perbandingan volume zat yang terlibat dalam reaksi, jika zat-zat berwujud gas dan
diukur pada temperatur yang sama, sesuai hipotesis Avogadro.
b. Jenis-Jenis Reaksi Kimia
Untuk menyatakan terjadinya suatu reaksi kimia digunakan persamaan kimia, dengan
persamaan kimia 5 macam atau lebih zat dicampur pada kondisi tertentu, berapa banyaknya
zat itu bereaksi dan berapa banyak terbentuk senyawa baru. Persamaan reaksi kimia
dikelompokkan dalam empat macam reaksi yaitu
1) Reaksi sintesis yaitu reaksi pembentukan molekul dari unsur-unsurnya Contoh : Fe
+S FeS Fe3+ + 6SCN- Fe(SCN6)3-

2) Reaksi penguraian berganda yaitu pembentukan molekul akibat adanya pertukaran


ntoh AlCl3 + 3NaOH Al(OH)3 + 3NaCl
3) Reaksi antara ion hydronium dengan ion hidroksida atau antara suatu asam
dengan sanya menghasilkan air. Contoh H3O- + OH- HOH + HOH
4) Reaksi redoks yaitu reaksi yang terjadi dengan adanya transfer electron Contoh
2Br- Br2 + Mn2+ + 2H2O 4. Penyetaraan Persamaan Reaksi Reduksi dan Oksidasi
(Redoks) Reaksi redoks adalah proses kimia dimana ada pereaksi yang melepaskan
electron dan ada yang menerima elektron. Peristiwa oksidasi dan reduksi terjadi
bersamaan dalam suatu reaksi, oleh karena reaksi redoks merupakan reaksi
perpindahan electron dari reduktor kepada oksidator , maka reaksi ini mengakibatkan
perubahan bilangan oksidasi pada oksidator dan reduktor.

Ada dua cara untuk menyetarakan reaksi redoks yaitu cara reaksi setengah dan cara
perubahan bilangan oksidasi.
a. Cara Reaksi Setengah
Setiap persamaan reaksi redoks merupakan dua reaksi setengah, dalam
persamaan reaksi redoks yang sudah setara, jumlah elektro yang dilepas
pada proses oksidasi sama dengan jumlah elektro yang diterima pada
proses reduksi. Ada tahap penyetaraan reaksi yakni :
1) Penulisan kerangka reaksi setengah
2) Penyeimbangan setiap reaksi setengah
3) Penambahan electron untuk mengimbangkan muatan
4) Penjumahan kedua reaksi setenga.
b. Cara Perubahan Bilangan Oksidas
Cara ini dapat dilakukan dalam beberapa tahap yaitu :
1) Tuliskan pereaksi dan hasil reaksi
2) Tandai usnur-unsur yang mengalami perubahan bilagan oksidasi

3) Setarakan jumlah unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi


diruas kiri dan ruas kanan persamaan reaksi.
4) Hitung jumlah berkurangnya dan bertambahnya bilangan oksidasi
5) Samakan jumlah berkurangnya dan bertambahnya bilangan oksidasi
6) Samakan jumlah muatan diruas kiri dan ruas kanan dengan dengan
menambahkan H+ bila larutan bersifat asam atau OH- bila larutan bersifat
basa
7) Tambahkan H2O untuk menyamakan jumlah atom H diruas kiri dan kanan

Soal-Soal :
1) Berapa volume 8,5 gram amoniak (NH3) pada suhu 27 derajat C dan tekanan 1 atm ? (Ar: H
=1;

N = 14)

Jawab:
mol amoniak = ( 8,5 / 17 ) mol = 0,5 mol
Volume amoniak (STP) = 0,5 x 22,4 = 11,2 liter
Berdasarkan persamaan Boyle-Gay Lussac:

2) Berapa tekanan dari 0 5 mol O2 dengan volume 10 liter jika pada temperatur tersebut 0,5 mol
NH3 mempunyai volume 5 liter den tekanan 2 atmosfir ?
Jawab:
P1 V1 = P2 V2

maka

2 x 5 = P2 x 10 P2 = 1 atmosfir

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
Dari seluruh isi dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Hukum kekekalan massa, hokum perbandingan tetap, dan hokum kelipatan berganda
adalah hukum-hukum dasar kimia.
2. Penyetaraan persamaan reaksi dilakukan dengan memberi koefisien yang tepat dengan
tidak mengubah indeks senyawa.
3. Satu mol setiap zat mengandung partikel sejumlah tetapan Avogadro (L), yaitu 6,023 x
1023. Massa zat bergantung pada jumlah molnya, dimana massa = mol Ar/Mr . Volume
molar gas tidak bergantung pada jenisnya, tetapi pada jumlah mol, suhu, dan tekanan
pengukuran, dimana V = mol Vm . Pada STP Vm = 22,4 liter/mol.

4. Rumus molekul dapat ditentukan dari rumus empiris, jika massa molekul relatif (Mr)
senyawa diketahui. Rumus empiris senyawa dapat ditentukan, jika kadar unsur-unsurnya
diketahui.
5. Ada dua cara menyetarakan reaksi redoks yaitu cara reaksi setengah dan cara
perubahan bilangan oksidasi.

B. Saran
Sesuai dengan kesimpulan, maka dapat diberikan beberapa saran yaitu dalam
mengerjakan setiap soal stoikiometri diharapkan memahami dan menguasai konsep
hukum-hukum dasar kimia. Selain itu soal-soal stoikiometri harus dikerjakan secara teliti.
Sebab perhitungan yang diberikan biasanya berbentuk hitungan bilangan pecahan desimal
dan bilangan berpangkat sehingga apabila tidak teliti dapat menyebabkan kesalahan
dalam perhitungan.