Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH SKALA TERHADAP PERSEPSI

MANUSIA

Metode Perancangan I

Dosen Pembimbing: Ir. Prisca Yeniyati, M.T.

NAMA
NIM

: DESI NATALIA FENDIAWATI


: 1411025

UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS


JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
2015/2016

BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Setiap manusia sepanjang hidupnya tentu memiliki kebutuhan untuk tetap
bisa mempertahankan hidupnya. Kebutuhan itu terdiri dari kebutuhan primer,
sekunder, dan tersier. Kebutuhan yang paling penting dan paling pokok dan harus
dipenuhi adalah kebutuhan primer, yang terdiri dari kebutuhan akan sandang,
pangan, dan papan. Kebutuhan akan sandang merupakan kebutuhan akan pakaian;
kebutuhan pangan merupakan kebutuhan akan makanan; dan kebutuhan papan
merupakan kebutuhan manusia akan tempat tinggal. Jika salah satu saja kebutuhan
primer manusia tidak terpenuhi maka manusia belum bisa dikatakan memliki
hidup yang cukup.
Pada jaman dahulu, manusia cukup bertempat tinggal hanya dengan
beralaskan tanah ataupun daun dan beratapkan susunan ranting pohon yang
ditutupi daun pisang agar panas dan hujan tidak langsung masuk ke rumah. Bisa
juga manusia jaman dulu tinggal di goa yang terbuat dari batu yang gelap dan
pengap yang penerangannya hanya menggunakan api dari gesekan ranting kayu.
Namun hal tersebut tidak berlaku di jaman yang sekarang ini. Sekarang kita telah
memasuki era globalisasi dimana teknologi sudah sangat maju dan canggih.
Pemikiran manusia tentang tempat tinggal bukanlah untuk sekedar tempat tidur
saja, namun juga harus mencakup fungsi untuk beraktivitas secara aktif dan juga
sebagai hiburan. Dari segi estetika tentu sangat diperhatikan, sehingga peran
Arsitek pada jaman sekarang sangat berpengaruh terhadap pembangunan rumah
tempat tinggal maupun bangunan komersial seperti mall.
Untuk menciptakan bangunan yang baik, tentu ada prinsip-prinsip
perancangan yang harus dipatuhi. Salah satu poin penting prinsip perancangan
adalah skala. Skala adalah bentuk bangunan yang disajikan sesuai dengan ukuran
yang profesional. Keindahan bangunan tidak hanya dilihat dari besarnya
bangunan tersebut atau bentuknya yang menjulang tinggi, tapi tidak lepas dari
ketentuan skala atau ukuran yang memberikan kesan keindahan. Sebuah bangunan
dikatakan mempunyai skala, jika bangunan tersebut dapat menunjukkan ukuran
besarnya atau kecilnya dengan jelas sebagaimana tujuannya.
Skala dapat juga berarti hubungan yang harmonis antara bangunan beserta
komponen-komponennya, dengan manusia. Segala sesuatu kita lihat selalu
dibandingkan terhadap ukuran diri manusia. Hal ini dilakukan secara intuisi dan
biasanya tidak disadari. Seringkali manusia tersadar setelah kembali melihat
sesuatu. Misalnya bangunan yang terakhir kali dilihat pada masa kanak-kanak
setelah dilihat kembali pada waktu selang beberapa tahun kemudian, terasa
bangunannya tidak sebesar seperti yang terlihat pada masa kanak-kanak. Manusia
sudah terbiasa oleh adanya bangunan yang lebih besar dari dirinya, tetapi
penilaian ini relatif adanya. Bangunan yang sengaja dibuat dengan ukuran sangat

besar misalnya istana, Gereja dan sebagainya. Penampilan bangunan tersebut


seolah-olah menunjukkan sesuatu yang lebih besar atau lebih penting dari
manusia.
Teori skala juga sangat berperan dalam upaya menciptakan kesan
pengamat terhadap ruang dan bangunan yang diciptakan. Skala yang baik dalam
arsitektur dapat menggambarkan hubungan antara elemen-elemen visual dan
tekstural terhadap keseluruhan, terhadap satu sama lain, dan terhadap pengamat
yang telah direncanakan dan diatur guna menunjang kepuasan visual pengamat
dan kesesuaian rancangan yang dibangun.
Pada desain arsitektur, skala diukur dengan menggunakan standar tubuh
manusia sehingga menghasilkan skala intim, alamiah atau monumental. Skala
intim meciptakan suasana yang dekat dan akrab. Skala alamiah adalah skala yang
paling cocok bagi kebutuhan ruang bagi manusia. Dan skala monumental
menciptakan ruangan yang megah. Ada satu lagi skala kejutan, ini terjadi bila
anda mendapati sebuah bangunan dengan skala intim atau skala manusiawi lalu
menuju skala megah yang "mengejutkan".
Skala yang berbeda tentu dapat menimbulkan kesan yang berbeda juga.
Hanya dengan memainkan skala, kesan manusia terhadap satu bangunan juga bisa
berubah. Bangunan yang sama, jika dibuat skalanya berbeda maka bisa
menimbulkan persepsi yang berbeda juga. Anda bisa rasakan "sense of space"
karena perbedaan skala? Bahwa ruang dengan luasan/skala yang berbeda akan
memberikan kesan yang berbeda. Inilah salah satu dasar Prinsip Desain Arsitektur.
Dengan dasar itu pula, saya ingin mengetahui lebih lanjut hubungan skala dengan
manusia dan mengangkat judul makalah Pengaruh Skala terhadap Persepsi
Manusia.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut Bagaimana Pengaruh Skala terhadap Persepsi Manusia?
3. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan pembuatan makalah ini adalah
sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui pengaruh skala terhadap persepsi manusia;
b. Untuk mengetahui pengelompokkan skala dalam prinsip desain Arsitektur;
c. Untuk mengetahui skala yang paling cocok untuk manusia.

BAB 2
PEMBAHASAN

1. Definisi skala secara umum


Skala adalah suatu system pengukuran (alat pengukur) yang
menyenangkan, dapat dalam satuan cm, inchi, atau apa saja dari unit-unit yang
diukur. Gambar skala adalah dimensi yang diapaki untuk gambar sebagai
perbandingan, misalnya 1 m struktur digambar 1 cm dalam gambar. Jadi
ukuran dalam gambar, menyatakan ukuran sebenarnya dari bangunan.
2. Definisi skala dalam Arsitektur
Dalam Arsitektur yang dimaksud dengan skala adalah:
- Hubungan yang harmonis antara bangunan beserta komponenkomponennya, dengan manusia.
- Bentuk bangunan yang disajikan sesuai dengan ukuran yang profesional.
Sebuah bangunan dikatakan mempunyai skala, jika bangunan tersebut
dapat menunjukkan ukuran besarnya atau kecilnya dengan jelas
sebagaimana tujuannya.
- Pengukuran besaran bangunan dengan menggunakan standar tubuh
manusia sehingga menghasilkan skala minimal, optimal atau maksimal.
- Kualitas yang membuat sebuah bangunan terlihat benar, tepat dan nyata.
3. Elemen dan prinsip skala
Elemen-elemen skala merupakan aspek-aspek dari realitas fisik dari
strukturnya atau benda lain yang tengah dirancang: garis, bentuk, warna,
tekstur, pola, cahaya, dan seterusnya. Sedangkan prinsip-prinsip skala di lain
pihak melukiskan hubungan yang mungkin melalui manipulasi atau
pengekspresian elemen-elemen antara lain: irama, pengulangan, simetri,
keseimbangan,
proporsi,
kedominanan,
subordinasi,
tegangan,
keanekaragaman, dan kesatuan. Elemen dan prinsip skala tersebut dapat
membentuk komposisi tertentu yang menghasilkan skala-skala yang baik
berjenis skala intim, manusiawi, monumental/megah maupun kejutan.
4. Penggolongan skala
Skala ruang terbagi atas empat golongan, yaitu:
a. Skala alamiah
Merupakan usaha perancangan untuk mengekspresikan sebuah bangunan
sesuai dengan dimensi yang sesungguhnya. Diperoleh dengan pemecahan
masalah fungsional secara wajar antara ukuran ruang dan kegiatan di
dalamnya, berdasarkan kenyamanan jasmani dan rohani. Besarnya ukuran

pintu, jendela dan unsur-unsur lain di mana manusia bekerja adalah


menurut fungsinya atau standar-standar ukuran yang ada. Contoh
bangunan: rumah tempat tinggal.

b. Skala Heroik/Monumental/Megah
Merupakan usaha untuk membuat bangunan terlihat menjadi sebesar
mungkin sehingga manusia terasa kecil. Skala ini banyak dijumpai dan
diaplikasikan penggunaannya digunakan pada bangunan-bangunan umum
seperti masjid, ruang lobby sebuah bangunan, atau sebuah gereja dan
sebagainya. Skala monumental/megah diperoleh dengan:
- Penerapan satuan-satuan unsur berukuran besar, lebih besar dari
ukuran biasa. Ukuran ruang yang berlebih bagi kegiatan di dalamnya,
untuk menyatakan "keagungan" atau kemegahan.
- Perletakkan elemen yang berukuran kecil berdekatan dengan elemenelemen berukuran besar sehingga tampak perbedaan ukuran besarnya.
- Penerapan langit-langit tinggi misalnya pada ketinggian langit-langit
ruang ibadah Gereja Gotik. Sehingga saat kita masuk ke dalamnya,
kita seperti akan dibuat merasa kecil di rumah Tuhan.

c. Skala Intim
Merupakan usaha untuk mendapatkan skala bangunan atau ruangan
terlihat lebih kecil dari besaran yang sesungguhnya sehingga menimbulkan
suasana yang nyaman dan akrab. Skala intim dapat dicapai melalui:
- Pemakaian ornamen yang lebih besar dari ukuran standar/kebiasaan
- Pembagian-pembagian yang lebih besar (pembuatan garis pembagi
bidang)
- Penerapan skema bahan dan warna yang sederhana, bentuk datar, rata,
horizontal.
- Pertimbangan pencahayaan yang berkesan redup pada ruang
pub/restaurant dapat menimbulkan skala intim pada ruang.

d. Skala kejutan/mencekam
Merupakan skala yang membuat manusia sulit merasakan pertalian dirinya
dengan ruang. Bersifat seolah-olah diluar kekuasaan manusia, tak terduga.
Umumnya skala ini terdapat dalam alam, bukan buatan manusia.
Misalnya: padang pasir, hutan belantara.

5. Pengaruh skala terhadap persepsi manusia


Skala terhadap persepsi manusia sangatlah berpengaruh. Bangunan yang
sama, jika skalanya dibuat berbeda dapat menimbulkan persepsi yang beda juga.
Skala dapat memainkan emosi, perasaan dan psikologi manusia. Skala
berpengaruh terhadap jasmani dan rohani manusia. Hanya dengan skala, kita bisa
mengenali fungsi bangunan tersebut dari jauh. Misalnya dari kejauhan kita
melihat bangunan yang megah dan tinggi, otomatis kita sudah dapat
menyimpulkan bahwa bangunan tersebut adalah tempat beribadah baik Gereja

atau masjid, atau Istana. Gereja dibuat sedemikian rupa megah dan seperti
berlebihan untuk manusia beraktivitas karena untuk menciptakan kesan jika
manusia berada didalamnya merasa kecil di dalamnya dan Tuhan adalah besar
yang diwakilkan oleh bangunan itu sendiri.
Lain halnya jika untuk bangunan penjara. Tujuan dari penjara itu sendiri
adalah membuat penghuni bangunan merasa tertekan, sempit dan tidak nyaman.
Maka digunakanlah skala intim yang sebenarnya penggunaan bangunan tidak
sesuai dengan aktivitasnya. Mengapa saya bisa bilang seperti itu? Karena di
penjara itu penuh sesak karena banyak orang dimana aktivitas makan, tidur,
beribadah, berkumpul semuanya disitu. Luasan satu sel penjara itupun kecil dan
sebenarnya kurang layak untuk dihuni. Dibandingkan dengan tempat tinggal,
tentu perbedaannya cukup signifikan. Ditambah dengan ruang gerak yang diawasi
dan tidak bisa bebas beraktivitas, tentu skala intim pada penjara sangat
mempengaruhi persepsi manusia terhadap penjara itu sendiri yang identik dengan
seram dan membuat perasaan tertekan.
Penggunaan skala harus disesuaikan dengan fungsi bangunan itu sendiri,
Agar kesan visual yang ingin dicapai sesuai dengan tujuan pembangunan. Untuk
tempat tinggal, skala yang paling cocok digunakan adalah skala alamiah. Untuk
tempat yang bersifat monumental dan menciptakan kesan megah harus
menggunakan skala heroik. Untuk menciptakan kesan nyaman dan akrab,
sebaiknya menggunakan skala intim. Untuk penggunaan skala kejutan bukanlah
skala buatan manusia dan banyak dijumpai di alam.

BAB 3
PENUTUP
1. Kesimpulan
a. Bentuk bangunan yang disajikan sesuai dengan ukuran yang profesional
sehingga membuat sebuah bangunan terlihat benar, tepat dan nyata.
b. Sebuah bangunan dikatakan mempunyai skala, jika bangunan tersebut
dapat menunjukkan ukuran besarnya atau kecilnya dengan jelas
sebagaimana tujuannya.
c. Terdapat empat penggolongan skala, yaitu skala alamiah, skala heroik,
skala initm dan skala kejutan.
d. Skala alamiah merupakan usaha perancangan untuk mengekspresikan
sebuah bangunan sesuai dengan dimensi yang sesungguhnya. Skala
alamiah yang paling cocok bagi kebutuhan ruang bagi manusia.
e. Skala heroik menciptakan ruangan yang megah. Skala heroik digunakan
pada bangunan-bangunan umum seperti masjid, ruang lobby sebuah
bangunan, atau sebuah gereja.
f. Skala intim menciptakan bangunan atau ruangan terlihat lebih kecil dari
besaran yang sesungguhnya sehingga tercipta suasana yang nyaman dan
akrab. Umumnya digunakan pada kamar tidur, bar, dan lain-lain.
g. Skala kejutan membuat manusia sulit merasakan pertalian dirinya dengan
ruang. Skala ini terdapat dalam alam, bukan buatan manusia, misalnya
padang pasir, hutan belantara, dan lain-lain.
h. Skala terhadap persepsi manusia sangatlah berpegaruh. Bangunan yang
sama, jika skalanya dibuat berbeda dapat menimbulkan persepsi yang beda
juga. Skala dapat memainkan emosi, perasaan dan jiwa manusia. Skala
berpengaruh terhadap jasmani dan rohani manusia.
2. Saran
a. Penggunaan skala bangunan sebaiknya disesuaikan dengan fungsi dan
tujuan dari pembangunan suatu bangunan.
b. Perlunya mempelajari tentang prinsip desain untuk menciptakan bangunan
yang indah dan nyaman untuk digunakan manusia.

DAFTAR PUSTAKA
tn. 2014. 7 Prinsip Desain Arsitektur: Skala. http://jporo.blogspot.co.id/2015/03/
7-prinsip-desain-arsitektur-skala.html, diunduh pada 22 April 2016, pukul
19.15 WIB
Triple, Andi. 2011. Skala Ruang pada Pusat Desain Arsitektur. http://anditriplea.
blogspot.co.id/2011/06/skala-ruang-pada-pusat-desain.html, diunduh pada 23
April 2016, pukul 00.30 WIB
tn. 2013. Bab 5 Prinsip Desain Sebagai Elemen Komposisi Bentuk.
http://elearning.guna
darma.ac.id/docmodul/tata_ruang_luar_1/bab3-elemen_ruang_luar.pdf, diunduh pada
23 April 2016, pukul 00.05 WIB