Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM I & II

PENGUKURAN PERTUMBUHAN LAPISAN BATAS


SEPANJANG PELAT DATAR DENGAN KEKASARAN DAN TANPA KEKASARAN

Dosen : Dr. Romie O. Bura

Rial Arifin Rajagukguk


13612007

AERONOTIKA DAN ASTRONOTIKA


FAKULTAS TEKNIK MESIN DAN DIRGANTARA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

1.

Pendahuluan

1.1

Tujuan
Praktikum ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

Memahami dan menerapkan metoda eksperimental untuk mengukur pertumbuhan lapisan


batas sepanjang pelat datar dengan elemen kekasaran (roughness) dan tanpa elemen

kekasaran.
Memahami fenomena dan karakteristik aliran di dalam lapisan batas sepanjang pelat

datar dengan elemen kekasaran (roughness) dan tanpa elemen kekasaran.


Membandingkan dan menganalisis data hasil eksperimen dengan hasil perhitungan secara
analitik dan simulasi menggunakan CFD.

1.2

Dasar Teori
Lapisan Batas didefinisikan sebagai daerah aliran yang tipis di dekat permukaan dimana

aliran diperlambat oleh pengaruh gesekan antara permukaan dengan aliran.

Gambar 1
Lapisan Batas pada Pelat Datar

Pengaruh gesekan, dinyatakan oleh tegangan geser (shear stress, ), tersebut disebabkan adanya
velocity gradient yang cukup besar di dalam lapisan batas. Sedangkan velocity gradient muncul
akibat adanya kondisi tidak slip (no-slip condition) dimana kecepatan fluida tepat diatas
permukaan adalah nol. Dengan demikian, tegangan geser mencapai harga maksimumnya pada
permukaan benda dan dengan semakin menjauhnya jarak dari permukaan maka velocity gradient
semakin mengecil sehingga pengaruh tegangan geser dapat diabaikan. Hubungan antara
tegangan geser dengan velocity gradient secara matematis diberikan oleh persamaan sebagai
berikut:

u

y

(1)

Salah satu parameter lapisan batas yang penting adalah local skin-friction coefficient yang
menunjukkan besaran tak berdimensi dari tegangan geser pada permukaan atau secara matematis
diberikan oleh persamaan sebagai berikut:

cf

w
1 u 2

(2)

u
w
y y 0
dimana :
Jarak dari permukaan hingga suatu tempat di dalam medan aliran dimana pengaruh tegangan
geser dapat diabaikan didefinisikan sebagai tebal lapisan batas (boundary layer thickness), yang
dilambangkan dengan (lihat gambar 1). Posisi dimana efek tegangan geser dapat diabaikan

0,99 ue
dinyatakan oleh kondisi kecepatan aliannya yakni telah mencapai

ue
, dimana

adalah

kecepatan aliran di bagian terluar dari lapisan batas dimana efek viskos sudah tidak berpengaruh
lagi. Secara umum, tebal lapisan batas dipengaruhi oleh beberapa parameter yakni sebagai
berikut:
Characteristic Length (L)

Kinematic Viscosity (
)
Local Velocity Outside Boundary Layer (ue)
Dengan demikian, ketebalan lapisan batas dapat dihubungkan dengan bilangan reynolds dan
dinyatakan sebagai berikut:

L
Re L

Sedangkan Re, yang menyatakan bilangan Reynolds, merupakan besaran tak berdimensi yang
secara fisik dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara energi inersia dan energi viskos

(gesekan) dari suatu aliran. Secara matematis, bilangan Reynolds dapat didefinisikan dalam
persamaan berikut:
Re x

inertia .V .x V .x

viscous

Selain boundary layer thickness (

(3)

) terdapat dua definisi lain yang biasa digunakan untuk

menyatakan ketebalan lapisan batas yakni sebagai berikut:


*
Displacement Thickness (
) adalah besaran yang menyatakan terjadinya pengurangan
aliran massa (missing mass-flow) akibat kehadiran lapisan batas. Displacement Thickness
dinyatakan oleh persamaan berikut:

u
* 1 dy
ue
0

(4)

Momentum-Loss Thickness ( ) adalah besaran yang menyatakan terjadinya pengurangan

momentum akibat kehadiran lapisan batas. Momentum-Loss Thickness dinyatakan oleh


persamaan berikut:

u
u
1 dy
u
ue
0 e

(5)

Kedua definisi diatas, digunakan untuk menganalisis benda dengan persamaan Laplace (inviscid
flow) dimana efek viskos telah dimasukkan ke dalamnya. Dengan definisi displacement
thickness, distribusi tekanan disekitar benda dapat dihitung, untuk kemudian gaya angkat pada
benda tersebut dapat diperoleh. Sedangkan definisi momentum-loss thickness digunakan untuk
memperoleh gaya hambat.
Klasifikasi Lapisan Batas
Lapisan batas terbagi menjadi tiga daerah yakni lapisan batas laminar, daerah transisi, dan
lapisan batas turbulen. Fenomena-fenomena aliran di dalam lapisan batas laminar, daerah
transisi, dan lapisan batas turbulen akan dijelaskan sebagai berikut.

Gambar 2
Daerah Laminar, Transisi, dan Turbulen di dalam Lapisan Batas pada Pelat Datar (Ref. 6)

Pada lapisan batas laminar, aliran atau lapisan fluida (fluid layers) bergerak secara halus antara
satu sama lainnya atau dengan kata lain lapisan batas laminar memiliki streamline yang saling
paralel satu sama lainnya. Pengaruh gesekan yang ditimbulkan velocity gradient diakibatkan oleh
viskositas fluida itu sendiri, sehingga perpindahan massa dan momentum antara aliran fluida
terjadi dalam tingkat molekular saja. Hal ini dapat dilihat dari persamaan (1) dimana tegangan
geser diakibatkan oleh velocity gradient dan viskositas fluida. Sedangkan pada lapisan batas
turbulen, gerakan molekul fluida yang acak menyebabkan terjadinya fluktuasi kecepatan (baik
pada arah paralel maupun tegak lurus terhadap aliran). Fluktuasi kecepatan pada arah tegak lurus
aliran menyebabkan perpindahan massa dan momentum terjadi dalam jumlah yang sangat besar
antar lapisan fluida. Hal inilah yang menyebabkan tegangan geser pada lapisan batas turbulen
lebih besar jika dibandingkan pada lapisan batas laminar. Dengan kata lain tegangan geser di
dalam lapisan batas tidak hanya dipengaruhi oleh viskositas fluida itu sendiri melainkan oleh
Reynolds Shear Stresses. Reynolds shear stresses atau turbulent stresses merupakan besaran yang
menunjukkan fluktuasi kecepatan molekul fluida. Untuk penjelasan lebih lanjut, dapat dilihat
pada referensi 2 dan 6.
Perbedaan efek viskositas dan reynolds stresses terhadap tegangan geser juga mempengaruhi
profil kecepatan (velocity profile) di dalam lapisan batas. Profil kecepatan merupakan variasi

y0
kecepatan aliran dari jarak

hingga

. Profil ini berbeda-beda di tiap titiknya. Pada

lapisan batas laminar, perpindahan energi dari luar lapisan batas dialirkan ke bagian dalam aliran
di dekat permukaan melalui medium viskositas saja sehingga menghasilkan penetrasi yang kecil.
Konsekuensinya sebagian besar daerah di dalam lapisan batas mengalami pengurangan

kecepatan. Sedangkan pada lapisan batas turbulen, perpindahan energi yang terjadi lebih mudah
karena tidak hanya melalui medium viskositas melainkan juga

Reynolds stresses.

Konsekuensinya velocity profile di dekat permukaan cenderung lebih penuh dan kecepatan
aliaran bukan di dekat permukaan lebih dekat dengan kecepatan aliran di luar lapisan batas.
Ilustrasi perbedaan velocity profile antara lapisan batas laminar dengan turbulen diberikan pada
gambar 3 sebagai berikut.

Gambar 3
Profil Kecepatan di Dalam Lapisan Batas Laminar dan Turbulen

Reynolds Stresses yang menjadi efek utama dalam meningkatkan tegangan geser dalam lapisan
batas turbulen mulai muncul pada daerah transisi. Proses transisi dari lapisan batas laminar
menjadi turbulen hingga saat ini masih dalam penelitian dan merupakan proses yang sangat
kompleks. Proses transisi yang banyak dijadikan dasar pegangan dalam metode analisis lapisan
batas adalah Prandtl Hypothesis. Dalam hipotesis ini, lapisan batas dianggap seagai sebuah
Complex Non-Linear Oscilator dan memiliki kondisi awal yakni Linear Wave-Like Response.
Untuk penjelasan lebih lanjut, dapat dilihat pada referensi 2 dan 6.
Pertumbuhan Lapisan Batas Pada Pelat Datar
Untuk aliran yang melewati pelat datar, maka lapisan batas tumbuh dari ketebalan nol pada
Leading Edge hingga pada daerah tertentu dimana transisi dengan cepat ke lapisan batas turbulen
terjadi. Daerah transisi ini diikuti dengan penebalan lapisan batas secara cepat. Proses penebalan
ini berlanjut pada lapisan bats turbulen hingga Trailing Edge.

Seperti telah disebutkan diatas bahwa tegangan geser mencapai harga maksimumnya pada
permukaan benda dan memperlambat lapisan dtau aliran fluida di dekat permukaan. Aliran fluida
ini lebih lambat dibandingkan dengan aliran diatasnya dan akan mempengaruhi aliran fluida
diatasnya, dan seterusnya. Dengan demikian, makin membesarnya jarak dari Leading edge pelat,
aksi saling memperlambat aliran fluida akan bertambah. Hal ini disebabkan lapisan atau aliran
fluida di dekat permukaan telah lebih dahulu lelah, sedangkan pada arah tegak lurus terhadap
permukaan, aksi ini berkuran akibat pengaruh tegangan geser yang semiakin berkuran. Sehingga
gradient kecepatan pada arah tegak lurus berkuran dan tebal lapisan batas makin meningkat.
Dalam menganalisis lapisan batas sepanjang pelat datar beberapa penyederhanaan dilakukan
yakni sebagai berikut:
Sepanjang pelat datar berlaku zero pressure gradient.
kecepatan terluar dari lapisan batas sama dengan kecepatan aliran tak terganggu (freestream
velocity).
Penyederhanaan tersebut menjadikan lapisan batas sepanjang pelat datar lebih mudah dipelajari
baik secara eksperimental maupun teoritik. Hasil penelitian berkaitan dengan lapisan batas
sepanjang pelat datar banyak digunakan untuk memprediksi gaya gesek pada benda sembarang.
Solusi pendekatan dari persamaan lapisan batas telah dikembangkan oleh Prandtl dan Blasius.
Blasius memecahkan persamaan lapisan batas laminar pada pelat datar dengan asumsi-asumsi
yakni aliran stasioner (steady) dan inkompresibel. Sehingga menurut Blasius, penurunan secara
rinci dapat dilihat pada referensi 1 dan 2, parameter-parameter pada lapisan batas laminar dapat
di dekati dengan persamaan sebagai berikut:

5, 2 x
Re x

(6)

1, 7208 x
Re x

(7)

0, 664 x
Re x

(8)

cf

0, 664
Re x

(9)

Cf

1,328
Re L

(10)

Sedangkan untuk pendekatan bagi lapisan batas turbulen, Prandtl mengasumsikan bahwa
distribusi kecepatan di dalam lapisan batas pada pelat datar identik dengan lapisan batas pada
pipa sirkular (circular pipe). Asumsi ini tidak pasti benar karena distribusi kecepatan di dalam
sebuah pipa dibentuk akibat pengaruh gradient tekanan (pressure gradient), sedangkan pada
pelat datar pressure gradient adalah nol. Akan tetapi hasil eksperimen oleh Hansen dan Burgers
menunjukkan bahwa asumsi ini sesuai pada rentang moderat dari bilangan Reynolds yang besar
(ReL < 106) dan berlaku bahwa profil kecepatan dari lapisan batas pada pelat datar dinyatakan
oleh power law formula. Untuk profil kecepatan pada pelat datar berlaku 1/7-th-power law yang
merupakan distribusi kecepatan di dalam sebuah pipa atau dapat dinyatakan sebagi berikut:
u

ue

y 7

(11)

Demikian pula dengan shearing-stress equation pada permukaan diambil dari circular pipe
sebagai berikut:
1

4
0
0,0255

2
ue

ue

(12)

Penurunan secara rinci dapat dilihat pada referensi 2. Dengan demikian parameter-parameter
pada lapisan batas turbulen dapat di peroleh dengan persamaan-persamaan sebagai berikut:

u x
x 0,37 x e

1
5

(13)

u x
* x 0, 04625 x e

u x
x 0, 036 x e

1
5

(14)

1
5

(15)

1
5

C f 0, 074 Re L

c f 0, 0592 Re X

1
5

(16)
(17)

Persamaan-persamaan diatas hanya berlaku untuk rentang moderat dari bilangan Reynolds
yang besar yakni 5x105 < ReL < 107. Hal ini dikarenakan adanya batasan pada Blasius pipe
resistance formula dimana pada ReL < 5x105, lapisan batas di pelat datar adalah fully
laminar. Sedangkan untuk memprediksi daerah transisi pada pelat datar dapat digunakan
beberapa hasil eksperimen sebagai berikut:

Michels Criteria (ref. 1), untuk permukaan pelat datar yang halus, dengan

0
di

dalam aliran dengan turbulensi rendah, transisi mulai terjadi pada bilangan Reynolds sekitar

ReX = 2,8x106.
Hansen Experiment (ref. 2), untuk pelat datar yang halus dengan sudut 00, transisi mulai

terjadi pada bilangan Reynolds sekitar ReX = 3,2x105.


Secara rule of thumb (ref. 3), untuk aliran dengan bilangan Reynolds kurang dari 500.000
maka lapisan batas tersebut adalah lapisan batas laminar. Untuk aliran dengan bilangan
Reynolds lebih dari 500.000 maka lapisan batas tersebut adalah lapisan batas turbulen.
Sehingga daerah transisi adalah daerah dimana aliran memiliki bilangan Reynolds sekitar
500.000 (ReX = 5x105).

1.3

Peralatan Praktikum
Peralatan ekperimental yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut:
Terowongan Angin Subsonik Tertutup 30 x 30 cm
Model plat datar tanpa elemen kekerasan dan dengan elemen kekerasan
DPI (Druck pressure indicator)
Multimanometer
Stetoskop
Termometer
Higrometer
Barometer
Tabung pitot
LED


1.4

Uni-Slide

Prosedur Praktikum
Ada beberapa prosedur yang dilakukan untuk melakukan eksperimental yang terdiri dari
sebagai berikut:
1. Mengukur dan menghitung kondisi atmosfer laboratorium seperti temperature (T),
kelembaban (), dan tekanan (P) masing-masing dengan menggunakan thermometer,
hygrometer, dan barometer. Sedangkan untuk kerapatan udara (), dan viskositas udara
() dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
3

T 2 T 110
0 . . 0

T 110
T0

2. Me
ma

RT

e
1 0.378
P

stik
an

Dimana:
0 1,79 105 kg
e emax water

m3

T0 150 C 288,15 K
emax water 611 10

R 287, 26 J

kg K

7,5 T 273,15
237,3 T 273,15

benda uji dan seksi uji dalam keadaan tidak kotor !


3. Menyalakan DPI dan diamkan selama minimal 24 jam sebelum eksperimental. Hal ini
dilakukan agar pengukuran yang ditunjukkannya cukup stabil.

Ilustrasi Pengambilan Data Kalibrasi Terowongan Angin

4. Kalibrasi terongan angin dilakukan untuk mengukur kecepatan alitan tak terganggu yang
akan digunakan saat eksperimental. Memastikan seksi uji dalam keadaan kosong !
5. Menghubungkan DPI-1 dengan kedua tabung pitot pada area kalibrasi untuk mengukur
tekanan referensi.
6. Memasang tabung pitot pada seksi uji kosong kemudian hubungkan dengan DPI-2 untuk
mengukur tekanan dinamik dari aliran tak terganggu.
7. Menghitung tekanan dinamik untuk berbagai kecepatan aliran tak terganggu. Persamaan
yang digunakan adalah sebagai berikut:
1
q . .U 2
2

8. M
e
n

Atau

2.q

y
al
a

kan terowongan angin dan atur hingga DPI-2 menunjukkan nilai tekanan yang sama
dengan tekanan dinamik yang diinginkan.
9. Mencatat nilai tekanan referensi yang ditunjukkan oleh DPI-1. Nilai tekanan tersebut
merupakan tekanan referensi yang akan digunakan pada eksperimental. Lihat Appendix
A!
10. Matikan terowongan angin.
11. Memasang benda uji berupa pelat datar di dalam seksi uji.
12. Memastikan posisi pelat datar berada dalam kondisi lurus terhadap aliran (memiliki
sudut serang 0o ) dengan melihat distribusi ketinggian udara pada multimanometer yang
menunjukkan tekanan statik pada permukaan pelat datar. Ketinggian air pada tiap

multimanometer harus menunjukkan ketinggian yang sama. Jika posisi pelat datar adalah
0o terhadap arah aliran maka dapat dikatakan bahwa sepanjang pelat datar berlaku zero
pressure gradient.
13. Menghubungkan tabung pitot tekanan total ke salah satu lubang pada DPI-2 dan lubang
lainnya dibiarkan terbuka untuk mengukur tekanan atmosfer.
14. Menyalakan terowongan angin dan mengatur agar kecepatan aliran udara di dalam
terowongan angin sesuai dengan yang telah dipilih. Untuk mengetahuinya, lakukan
penyamaan seperti yang telah dicatat pada saat kalibrasi (langkah 9).
15. Memperkirakan daerah transisi dari lapisan batas laminar menjadi turbulen dengan
menggunakan stetoskop yang dihubungkan pada tabung pitot. Daerah transisi
diperkirakan dengan mendeteksi suara semilir dan gemuruh secara bergantian.
16. Melakukan pengukuran tekanan total dari aliran tak terganggu yakni dengan
menghubungkan tabung pitot tekanan total dengan DPI-2. Untuk kemudian dicatat.
Lihat Appendix A!
17. Menentukan titik pengukuran yang pertama didasarkan pada kombinasi jendela seksi uji
yang tersedia.
18. Melakukan pengukuran ketebalan lapisan batas pada permukaan pelat datar yakni
dengan cara membaca nilai (Pt Patm) dari DPI-2. Sisi terluar dari lapisan batas
ditandati dengan tidak berfluktuasinya tekanan total lokal yang terbaca. Sedangkan sisi
terdalam dari lapisan batas ditandai dengan menyalanya LED yang menunjukkan bahwa
pitot telah menyentuh permukaan pelat datar.
19. Mencatat tebal lapisan batas dan tekanan total lokal pada titik pengukuran yang pertama.
Lihat Appendix A!
Sebagai tambahan, jika tekanan total lokal yang diperoleh pada langkah ini (pada
berbagai titik pengukuran di sepanjang pelat datar) memiliki harga yang sama dengan
tekanan total dari aliran tak terganggu yang diperoleh dari langkah 16 maka dapat
dikatakan bahwa sepanjang pelat datar berlaku zero pressure gradient. Atau dengan kata
lain, tekanan total lokal ini dapat pula bertindak sebagai indikator yang sama dengan
multimanometer.
20. Melakukan pengukuran tekanan total lokal di sekitar permukaan pelat datar pada titik
pengukuran yang pertama. Pada titik pengukuran tersebut dibagi lagi menjadi 10 bagian
sama besar atau dengan kata lain 1/10 dari ketebalan lapisan batas yang diperoleh dari
langkah 18. Sehingga pengukuran ke arah ketebalan lapisan batas terdapat 11 titik.
21. Mencatat data hasil pengukuran pada tabel data hasil pengukuran. Lihat Appendix A!
22. Mengulangi langkah 16-21 untuk titik pengukuran selanjutnya.

23. Mengulangi langkah 14-22 untuk kecepatan aliran tak terganggu yang kedua.

Ilustrasi Pemasangan DPI pada Eksperimental

24. Langkah 1-23 diulang dengan memasang elemen kekasaran jenis pertama, yakni dengan
panjang 1 cm, pada pelat datar. Posisi elemen kekasaran harus jauh dari leading edge
(setelah langkah 12)

2.

Pengolahan Data

Data pengukuran kondisi lingkungan laboratorium


Tabel 2.1. Kondisi Atmosfer Laboratorium

Temperature (K

297

Kelembapan (%)

0.65

Tekanan (Pa)

92600

Viskositas udara (kg/ms)


3
Densitas (kg/ m

1.83311 10
1.07678

Tabel 2.2. Data Pengamatan Tekanan Total dariAliran Tak Terganggu

U (m/s)
U1
U2
2.1

Pt (Pa)
215.36
484.55

Hasil Pengukuran Lapisan Batas Tanpa Kekasaran

Tabel 2.3 Hasil Pengukuran Lapisan Batas Tanpa Kekasaran


U1 (20 m/s)
x=5.1 cm
P
(kPa)
0.128
0.132
0.15
0.158
0.176
0.187
0.197
0.204
0.21
0.213
0.216
0.218
0.219
0.22
0.221
0.221
0.221
0.221

Uin
(m/s)

x=14.5 cm
y
(m
m)

P
(kPa)

x=29 cm
y
(mm
)

Uin
(m/s)

P
(kPa)

15.42

0.107

14.10

0.108

15.66

0.1

0.114

14.55

0.2

0.117

16.69

0.2

0.121

14.99

0.4

0.132

17.13

0.3

0.131

15.60

0.6

0.153

18.08

0.4

0.143

16.30

0.8

0.169

18.63

0.5

0.169

17.72

0.184

19.13

0.6

0.19

18.78

1.2

0.195

19.46

0.7

0.205

19.51

1.4

0.206

19.75

0.8

0.214

19.93

1.6

0.217

19.89

0.9

0.221

20.26

1.8

0.222

20.03

0.226

20.49

0.226

20.12

1.1

0.229

20.62

2.2

0.228

20.17

1.2

0.23

20.67

2.4

0.23

20.21

1.3

0.23

20.67

2.6

0.23

20.26

1.4

0.231

20.71

2.8

0.231

20.26

1.5

0.231

20.71

0.232

20.26

1.6

0.231

20.71

3.2

0.232

20.26

1.7

0.233
0.233
0.233

Uin
(m/s)
14.1
6
14.7
4
15.6
6
16.8
6
17.7
2
18.4
8
19.0
3
19.5
6
20.0
7
20.3
0
20.4
9
20.5
8
20.6
7
20.6
7
20.7
1
20.7
6
20.7
6
20.8
0
20.8
0
20.8
0

x=70 cm
y
(mm
)

y
(m
m)

P
(kPa)

Uin
(m/s)

0.121

14.99

0.2

0.139

16.07

0.4

0.4

0.148

16.58

0.8

0.6

0.154

16.91

1.2

0.8

0.16

17.24

1.6

0.164

17.45

1.2

0.169

17.72

2.4

1.4

0.174

17.98

2.8

1.6

0.178

18.18

3.2

1.8

0.183

18.43

3.6

0.188

18.68

2.2

0.191

18.83

4.4

2.4

0.195

19.03

4.8

2.6

0.199

19.22

5.2

2.8

0.203

19.42

5.6

0.206

19.56

3.2

0.21

19.75

6.4

3.4

0.212

19.84

6.8

3.6

0.214

19.93

7.2

3.8

0.217

20.07

7.6

0.218

20.12

0.219

20.17

8.4

0.22

20.21

8.8

0.221

20.26

9.2

0.221

20.26

9.6

0.221

20.26

10

U2 (28.7 m/s)
x=5.1 cm
P
(kPa)
0.277
0.291

Uin
(m/s)
22.68
23.25

x=14.5 cm
y
(m
m)
0
0.1

P
(kPa)
0.225
0.234

Uin
(m/s)
20.44
20.85

x=29 cm
y
(mm
)
0
0.2

P
(kPa)
0.214
0.228

Uin
(m/s)
19.9
3
20.5

x=70 cm
y
(mm
)
0
0.2

P
(kPa)

Uin
(m/s)

0.257
0.296

21.85
23.45

y
(m
m)
0
0.4

0.331

24.79

0.2

0.254

21.72

0.4

0.253

0.364

26.00

0.3

0.302

23.68

0.6

0.287

0.39

26.91

0.4

0.362

25.93

0.8

0.33

0.41

27.59

0.5

0.4

27.25

0.375

0.424

28.06

0.6

0.426

28.13

1.2

0.404

0.433

28.36

0.7

0.44

28.58

1.4

0.424

0.438

28.52

0.8

0.451

28.94

1.6

0.438

0.443

28.68

0.9

0.457

29.13

1.8

0.453

0.446

28.78

0.459

29.20

0.464

0.448

28.84

1.1

0.461

29.26

2.2

0.468

0.449

28.88

1.2

0.461

29.26

2.4

0.47

0.45

28.91

1.3

0.461

29.26

2.6

0.472

0.451

28.94

1.4

0.473

0.451

28.94

1.5

0.475

0.451

28.94

1.6

0.475
0.475

2.2

8
21.6
8
23.0
9
24.7
6
26.3
9
27.3
9
28.0
6
28.5
2
29.0
0
29.3
5
29.4
8
29.5
4
29.6
1
29.6
4
29.7
0
29.7
0
29.7
0

0.4

0.306

23.84

0.8

0.6

0.319

24.34

1.2

0.8

0.329

24.72

1.6

0.339

25.09

1.2

0.349

25.46

2.4

1.4

0.357

25.75

2.8

1.6

0.268

22.31

3.2

1.8

0.375

26.39

3.6

0.384

26.70

2.2

0.392

26.98

4.4

2.4

0.398

27.19

4.8

2.6

0.407

27.49

5.2

2.8

0.414

27.73

5.6

0.42

27.93

3.2

0.425

28.09

6.4

3.4

0.428

28.19

6.8

0.43

28.26

7.2

0.432

28.32

7.6

0.435

28.42

0.437

28.49

8.4

0.439

28.55

8.8

0.439

28.55

9.2

0.439

28.55

9.6

Hasil Pengukuran Lapisan Batas Menggunakan Kekasaran (Roughness)


Tabel 2.4 Hasil Pengukuran Lapisan Batas Dengan Kekasaran (Roughness)
U1 (20 m/s)
x=21 cm
P (kPa)

Uin (m/s)

x=30.5 cm
y (mm)

P (kPa)

Uin (m/s)

x=70 cm
y (mm)

P (kPa)

Uin (m/s)

y (mm)

0.15

16.68986

0.15

16.68986

0.116

14.67696

0.162

17.34461

0.4

0.157

17.07485

0.4

0.127

15.35709

0.4

0.17

17.76772

0.8

0.164

17.45135

0.8

0.135

15.83339

0.8

0.177

18.12983

1.2

0.17

17.76772

1.2

0.141

16.18142

1.2

0.183

18.43456

1.6

0.174

17.97553

1.6

0.146

16.46583

1.6

0.188

18.6847

0.18

18.28283

0.15

16.68986

0.193

18.93153

2.4

0.184

18.48486

2.4

0.153

16.85594

2.4

0.199

19.22355

2.8

0.19

18.78382

2.8

0.157

17.07485

2.8

0.204

19.46356

3.2

0.194

18.98052

3.2

0.161

17.291

3.2

0.207

19.60615

3.6

0.198

19.17519

3.6

0.164

17.45135

3.6

0.21

19.74771

0.203

19.41579

0.167

17.61024

0.214

19.9349

4.4

0.206

19.55873

4.4

0.17

17.76772

4.4

0.216

20.02784

4.8

0.209

19.70064

4.8

0.173

17.9238

4.8

0.218

20.12034

5.2

0.213

19.88827

5.2

0.177

18.12983

5.2

0.219

20.16644

5.6

0.215

19.98142

5.6

0.179

18.23197

5.6

0.22

20.21243

0.218

20.12034

0.182

18.38412

0.22

20.21243

6.4

0.22

20.21243

6.4

0.185

18.53502

6.4

0.22

20.21243

6.8

0.221

20.25831

6.8

0.188

18.6847

6.8

0.221

20.25831

7.2

0.191

18.83319

7.2

0.22

20.21243

7.6

0.193

18.93153

7.6

0.23

20.6667

0.196

19.0781

0.23

20.6667

8.4

0.199

19.22355

8.4

0.23

20.6667

8.8

0.201

19.31991

8.8

0.203

19.41579

9.2

0.205

19.5112

9.6

0.208

19.65345

10

0.21

19.74771

10.4

0.212

19.84153

10.8

0.214

19.9349

11.2

0.216

20.02784

11.6

0.217

20.07414

12

0.218

20.12034

12.4

0.22

20.21243

12.8

0.22

20.21243

13.2

0.221

20.25831

13.6

0.222

20.30409

14

0.222

20.30409

14.4

0.222

20.30409

14.8

U2 (30 m/s)
x=21 cm
P (kPa)

Uin (m/s)

x=30.5 cm
y (mm)

P (kPa)

Uin (m/s)

x=70 cm
y (mm)

P (kPa)

Uin (m/s)

y (mm)

0.309

23.95446

0.296

23.44515

0.264

22.14161

0.317

24.26257

0.4

0.325

24.56681

0.4

0.293

23.32604

0.4

0.34

25.12735

0.8

0.342

25.20114

0.8

0.304

23.75986

0.8

0.358

25.7839

1.2

0.357

25.74787

1.2

0.313

24.10901

1.2

0.73

36.81871

1.6

0.367

26.10599

1.6

0.323

24.49111

1.6

0.385

26.73853

0.381

26.59926

0.332

24.82997

0.399

27.22034

2.4

0.392

26.98051

2.4

0.34

25.12735

2.4

0.411

27.62664

2.8

0.4

27.25443

2.8

0.347

25.38469

2.8

0.425

28.09323

3.2

0.412

27.66023

3.2

0.352

25.56692

3.2

0.435

28.42181

3.6

0.42

27.92748

3.6

0.359

25.81989

3.6

0.445

28.74664

0.431

28.29084

0.366

26.0704

0.452

28.97186

4.4

0.439

28.55219

4.4

0.373

26.31853

4.4

0.459

29.19534

4.8

0.447

28.81117

4.8

0.379

26.52936

4.8

0.463

29.32227

5.2

0.455

29.06785

5.2

0.385

26.73853

5.2

0.465

29.38554

5.6

0.46

29.22712

5.6

0.392

26.98051

5.6

0.466

29.41712

0.466

29.41712

0.399

27.22034

0.467

29.44866

6.4

0.468

29.48018

6.4

0.405

27.42424

6.4

0.467

29.44866

6.8

0.472

29.60589

6.8

0.412

27.66023

6.8

0.467

29.44866

7.2

0.473

29.63724

7.2

0.416

27.79418

7.2

0.474

29.66855

7.6

0.421

27.96071

7.6

0.475

29.69983

0.427

28.15925

0.475

29.69983

8.4

0.432

28.32364

8.4

0.475

29.69983

8.8

0.438

28.51965

8.8

0.443

28.68197

9.2

0.447

28.81117

9.6

0.452

28.97186

10

0.456

29.09977

10.4

0.46

29.22712

10.8

0.463

29.32227

11.2

0.464

29.35392

11.6

0.467

29.44866

12

0.469

29.51166

12.4

0.471

29.57451

12.8

0.471

29.57451

13.2

0.472

29.60589

13.6

0.473

29.63724

14

0.473

29.63724

14.4

0.473

29.63724

14.8

2.3

Grafik Perbandingan CFD ,Eksperimen dan Analitik

12
10
8
x=5.1 cm
x=14.5 cm

x=29 cm
x=70 cm

4
2
0
10.00

15.00

20.00

25.00

Grafik 2.1 Hasil Eksperimen y (mm) vs u (m/s) Pada Berbagai Section Uji Kondisi U =20 m/s
12
10
8
x=5.1 cm
6

x=14,4 cm
x=29 cm

4
2
0
20.0022.0024.0026.0028.0030.00

x=70 cm

Grafik 2.2 Plot Hasil Eksperimen y (mm) vs u (m/s) Pada Berbagai Section Uji Dengan Kondisi
U=30 m/s

8
7
6
5
Blasius

Eksperimen
CFD

3
2
1
0
0

10

15

20

25

Grafik 2.3 Perbandingan plot y (mm) vs u (m/s) Hasil Eksperimen, Numerik, dan CFD Ansys
Pada Section Uji x=5.1 cm

8
7
6
5
Blasius

Eksperimen

CFD

2
1
0
0

10

15

20

25

Grafik 2.4 Perbandingan plot y (mm) vs u (m/s) Hasil Eksperimen, Numerik, dan CFD Ansys
Pada Section Uji x=14.5 cm

8
7
6
5
Blasius

Eksperimen

CFD

2
1
0
0

10

15

20

25

Grafik 2.5 Perbandingan plot y (mm) vs u (m/s) Hasil Eksperimen, Numerik, dan CFD Ansys
Pada Section Uji x=29 cm

25

20

15

Blasius
Eksperimen

10

CFD

0
0

10 15 20 25

Grafik 2.6 Perbandingan plot y (mm) vs u (m/s) Hasil Eksperimen, Numerik, dan CFD Ansys
Pada Section Uji x=70 cm

10
9
8
7
6

Blasius

Ekperimen 1

CFD

Eksperimen 2

2
1
0
0

10

15

20

25

Grafik 2.7 Perbandingan plot y (mm) vs u (m/s) Hasil Eksperimen Tanpa Kekasaran,
Eksperimen Dengan Kekasaran, Numerik, dan CFD Ansys Pada Section Uji x=29 cm Kondisi
Inlet U=20 m/s

10
9
8
7
6

Blasius

Eksperimen 1

CFD

Ekperimen 2

2
1
0
0

5 10 15 20 25 30 35

Grafik 2.8 Perbandingan plot y (mm) vs u (m/s) Hasil Eksperimen Tanpa Kekasaran,
Eksperimen Dengan Kekasaran, Numerik, dan CFD Ansys Pada Section Uji x=29 cm Kondisi
Inlet U=30 m/s

3.

Analisis
Berdasarkan eksperimen yang telah dilakukan, terlihat bahwa pola boundary layer

thickness, displacement thickness dan momentum-loss thickness akan semakin bertambah besar
dengan bertambahnya jarak. Dapat dilihat dari grafik perbedaan ketinggian lapisan batasnya.
dimana ketinggian lapisan batas tersebut memiliki pola membesar dengan bertambahnya section
uji. Hasil eksperimen dengan roughness dan tanpa roughness memiliki pola yang berbeda di
awal, namun kembali mendekati pola CFD dan blasius pada bagian akhir ,karena kondisi pada
eksperimen tidak terjadi no-slip wall. Sedangkan pada CFD dan Blasius digunakan kondisi batas
no-slip wall.. Dari hasil ekperimen tanpa kekasaran dan dengan kekasaran juga terlihat bahwa
tebal lapisan batas akan bertambah dengan adanya kekasaran karena tanpa kekasaran aliran
masih laminar sedangkan dengan kekasaran maka aliran bersifat turbulen. Ketelitian alat juga
sangat berpengaruh pada hasil yang diperoleh termasuk kalibrasi yang dilakukan pada

terowongan angin. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh faktor asumsi perhitungan analitik
maupun ketelitian pada eksperimennya

4.

Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan dari eksperimen dan pengolahan data yang telah dilakukan:
1.
2.
3.
4.

Lapisan batas akan semakin tebal dengan bertambahnya jarak section uji
Penambahan roughness juga mempengaruhi tebal lapisan batas (roughness semakin tebal)
Pada kasus turbulent lapisan batas lebih tebal dibandingkan aliran laminar
Hasil eksperimen ,analitik dan CFD memiliki perbedaan yang diakibatkan oleh kondisi
eksperimen yang mungkin kurang teliti pada saat melakukan eksperimennya dan juga
diakibatkan oleh adanya beberapa asumsi.

5.

Referensi
Anderson Jr., John D., Fundamentals of Aerodynamics 4thedition. New York:

McGrawHill, 2007.
Schlichting, H. Boundary Layer Theory 4thedition. New York: McGraw-Hill, 1960.