Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK AUTIS

1 PENGERTIAN
Autism disebut juga sindroma keanner. Dengan gejala tidak mampu bersosialisasi,
mengalami kesulitan menggunakan bahasa , berperilaku berulang-ulang,serta bereaksi tidak
biasa terhadap rangsangan sekitarnya. (dr.leo keanner,1938)
Autism bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) dimana
terjadi penyimpangan perkembangan social, kemampuan berbahasa dan kepedulian terhadap
sekitar, sehingga autism seperti hidup dalam dunianya sendiri.
Autism tidak termasuk golongan penyakit jadi tetatepi suatu kumpulan gejala kelainan
perilaku dan kemajuian perkembangan. Dengan kata lain,pada anak autism terjadi kelainan
emosi, intelektual dan kemauan (gangguan pervasive).
Autism terjadi sejak usia muda,biasanya sekitar 2-3 tahun. Autisme bisa mengenai siapa saja.
2 PENYEBAB
Penyebab terjadinya belum diketahui secara pasti,hanya diperkirakan mungkin adanya kelainan
dari system saraf (neurologi) dalam berbagai derajat beratnya ringan penyakit.(faisal,2003)
Penyebab wabah autisme menurut buku (bony,2003) adalah :
a. Gangguan susunan saraf pusat
Ditemukan kelainan neuranotomi (anatomi susunan saraf pusat) pada beberapa tempat didalam
otak anak autis. Selain itu,ditemukan kelainan struktur pada pusat emosi didalam otak sehingga
emosi anak autis sering terganggu. Penemuan ini membantu dokter menentukan obat yang lebih
tepat. Obat-obatan yang sering dipakai adalah dari jenis psikotropika,yang bekerja pada susunan
saraf pusat.
b. Gangguan sistem pencernaan
Ada hubungan antara gangguan sistem pencernaan dengan gejala autis. Tahun 1997,seorang
pasien autis,Parker Beck,mengeluhkan gangguan pencernaan yang sangat buruk. Ternyata,ia
kekurangan enzim sekretin. Setelah mendapat suntikan sekretin,Beck sembuh dan mengalami
kemajuan luar biasa. Kasus ini memicu penelitian-penelitian yang mengaruh pada gangguan
c.

metabolisme pencernaan.
Peradangan dinding usus
Bersdasarkan pemeriksaan endoskopi atau peneropongan usus pada sejumlah anak autis yang
memiliki pencernaan buruk ditemukan adanya peradangan usus pada sebagian besar anak. Dr.
Andrew Wakefiled ahli pencernaan asal inggris,menduga peradangan tersebut disebabkan
virus,mungkin virus campak. Itu sebabnya, banyak orangtua yang kemudian menolak imunisasi
MMR (measles,mumps,rubella) karena diduga menjadi biang keladi autis pada anak.

d. Faktor genetika
Ditemukan 20 gen yang terkait dengan autisme. Namun, gejala autisme baru bisa muncul jika
terjadi kombinasi banyak gen. bisa saja autisme tidak muncul,meski anak membawa gen
autisme. Jadi perlu faktor pemicu lain.
e. Keracunan logam berat
Berdasarkan tes laboratorium yang dilakukan pada rambut dan darah ditemukan kandungan
logam berat dan beracun pada banyak anak autis. Diduga,kemampuan sekresi logam berat dari
tubuh terganggu secara genetik.
3 TANDA DAN GEJALA
Kelompok kelainan perilaku yang hampir selalu ditemukan pada autisme,antara lain :
a. Mengalami kesulitan untuk menjalin pergaulan yang rapat
b. Sangat kurang menggunakan bahasa
c. Sangat lemah kemampuan berkomunikasi
d. Kelainan lain :
Sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Anaka akan bereaksi secara emosional kadang
a.
b.
c.
d.

bereaksi kasar meskipun hanya perubahan kecil dari kehidupan rutin


Setiap perubahan bagi anak autisme selalu dirasakan buruk dan perubahan yang kearah baik pun
tidak pernah dirasakan surprise.
Memperlihatkan gerakan-gerakan tubuh yang aneh
Sebagian kecil anak autisme menunjukkan masalah perilaku yang sangat menyimpang
autisme ditandai oleh ciri- ciri utama,antara lain :
Tidak peduli dengan lingkungan sosialnya
Tidak bisa bereaksi normal dalam pergaulan sosialnya
Perkembangan bicara dan bahasa tidak normal (penyakit kelainan pada anak = autistic-children)
Reaksi/pengamatan terhadap lingkungan terbatas atau berulang-ulang dan tidak padan.
Gejala iniber variasi beratnya pada setiap kasus tergantung pada umur,intelegensia,pengaruh
pengobatan,dan beberapa kebiasaan pribadinya. Pada pemeriksaan status mental,ditemukan
kurangnya orientasi lingkungan,rendahnya tingkatan meskipun terhadap kejadian yang baru,
demikian juga kepedulian terhadap lingkungan sekitar sangat kurang. Anak autisme kalau
berbicara cepat tetapi tanpa arti,kadang diselingi suara yang tidak jelas maksudnya seperti suara
gemeretak gigi.

4 KLASIFIKASI
Autisme dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
a. Autisme persepsi
Autisme persepsi dianggap autisme asli dan disebut juga autisme internal karena kelainan sudah
timbul sebelum lahir.
b. Autisme reaktif

Pada autisme reaktif,penderita membuat gerakkan-gerakkan tertentu berulang-ulang dan kadangkadang disertai kejang-kejang
c. Autisme yang timbul kemudian
Kalau kelainan dikenal setelah anak agak besar tentu akan sulit memberikan pelatihan dan
pendidikan untuk mengubah perilakunya yang sudah melekat,ditambah beberapa pengalaman
baru dan mungkin diperberat dengan kelainan jaringan otak yang terjadi setelah lahir.
Dalam berinteraksi anak autisme dikelompokkan atas 3 kelompok :
a. Menyendiri
- Terlihat menghindari kontak fisik dengan lingkungannya
- bertendensi kurang menggunakan kata-kata dan kadang-kadang sulit berubah meskipun usianya
-

bertambah lanjut.
menghabiskan harinya berjam-jam sendiri,dan kalau berbuat sesuatu,melakukannya berulang-

ulang
- Sangat tergantung pada kegiatan sehari-hari
b. Kelompok anak autisme yang pasif
- Lebih bisa bertahan pada kontak fisik dan agak mampu bermain dengan kelompok.
Mempunyai pembendaharaan kata yang lebih banyak meskipun masih agak terlambat biasa
berbicarannya.
- Kadang malah lebih cepat merangkai kata meskipun kadang ada kata yang kurang tepat
- Gangguan kelompok ini tidak seberat anak kelompok menyendiri.
- Kelompok ini bisa diajari dan dilatih
c. Anak autisme kelompok yang aktif tetapi menggunakan cara sendiri
Kelompok ini lebih cepat mempunyai pembendaharaan kata paling banyak dan cepat bisa
-

berbicaramasih bisa ikut berbagi rasa dengan teman


Meskipun bisa merangkai kata dengan baik namun masih terselip kata yang aneh dan kurang

dimengerti
Menyenangi dan terpaku pada salah satu jenis barang tertentu.

5 PENATALAKSANAAN
Banyak cara yang bisa dilakukan terhadap penderita autisme,antara lain (faisal,2003)
a. Melalui program pendidikan dan latihan diikuti pelayanan dan perlakuan lingkungan yang wajar
b. Pengasuh dan orangtua harus diajari cara menghadapi anak autisme untuk mengurangi perlakuan
yang tidak wajar.
c. Pengobatan yang dilakuakan adalah untuk membatasi memberatnya gejala dan keluhan sejalan
d.

dengan pertambahan usia anak


Diusahakan agar anak meningkatkan perhatian dan dan tanggung jawab terhadap orang

sekitarnya
e. Bimbingan dilakukan secara perorangan agar efektif
Gangguan di otak tidak dapat disembuhkan,tapi dapat ditanggulangi dengan terapi dini,terpadu,
dan intensif. Gejala-gejala autisme dapat dikurangi,bahkan dihilangkan sehingga anak bisa

bergaul secara normal,tumbuh sebagai orang dewasa yang sehat ,berkarya, bahkan membina
keluarga. Berikut ini beberapa jenis terapi bagi anak autis :
a) Terapi medikamentosa
Terapi ini dilakukan dengan obat-obatan yang bertujuan memperbaiki komunikasi,memperbaiki
respon terhadap lingkungan,dan menghilangkan perilaku aneh serta diulang-ulang. Dalam kasus
ini gangguan terjadi di otak sehingga obat-obatan yang dipakai adalah yang bekerja di otak.
b) Terapi biomedis
Terapi ini bertujuan memperbaiki metabolisme tubuh melalui diet dan pemberian suplemen.
Terapi ini dilakuak berdasarkan banyaknya gangguan fungsi tubuh,seperti gangguan
pencernaan,alergi,daya tahan tubuh rentan,dan keracunan logam berat. Berbagai gangguan fungsi
tubuh ini akhirnya mempengaruhi fungsi otak.
c) Terapi wicara
Umumnya,terapi ini menjadi keharusan bagi anak autis karena mereka mengalami keterlambatan
bicara dan kesulitan bahasa.
d) Terapi perilaku
Terapi inibertujuan agar anak autis dapat mengurangi perilaku tidak wajar dan menggantinya
dengam perilaku yang bisa diterima di masyarakat.
e) Terapi okupasi
Terapi ini bertujuan membantu anak autis yang mempunyai perkembangan motorik kurang
baik,antara

lain

gerak-geriknya

kasar

dan

kurang

luwes.

menguatkan,memperbaiki koordinasi dan ketrampilan otot halus anak.


6.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK AUTISME


1. Pengkajian

a.

Riwayat gangguan psikiatri/jiwa pada keluarga.

b. Riwayat keluarga yang terkena autisme.


c. Riwayat kesehatan ketika anak dalam kandungan
1. Sering terpapar zat toksik, seperti timbal.
2. Cedera otak.
d. Status perkembangan anak.

Anak kurang merespon orang lain.

Anak sulit fokus pada objek dan sulit mengenali bagian tubuh.

Anak mengalami kesulitan dalam belajar.

Anak sulit menggunakan ekspresi non verbal.

Terapi

okupasi

akan

Keterbatasan Kongnitif.

e.

Pemeriksaan fisik

Tidak ada kontak mata pada anak.

Anak tertarik pada sentuhan (menyentuh/disentuh).

Terdapat Ekolalia.

Tidak ada ekspresi non verbal.

Sulit fokus pada objek semula bila anak berpaling ke objek lain

Anak tertarik pada suara tapi bukan pada makna benda tersebut.

Peka terhadap bau

2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hambatan komunikasi yang berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulus.
Hasil yang diharapkan :
Anak mengkomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata-kata atau gerakan tubuh
yang sederhana, konkret; bayi dengan efektif dapat mengkomunikasikan kebutuhannya
(keinginan akan makan, tidur, kenyamanan, dsb).
Intervensi :
a. Ketika berkomunikasi dengan anak, bicaralah dengan kalimat singkat yg terdiri atas 1 hingga 3
kata, dan ulangi perintah sesuai yang diperlukan. Minta anak untuk melihat kepada anda ketika
anda berbicara dan pantau bahasa tubuhnya dengan cermat.
b. Gunakan irama, musik dan gerakan tubuh untuk membantu perkembangan komunikasi sampai
anak dapat memahami bahasa.
c. Bantu anak mengenali hubungan antara sebab dan akibat dengan cara menyebutkan perasaannya
yang khusus dan mengidentifikasi penyebab stimulus bagi mereka.
d. Ketika berkomunikasi dengan anak, bedakan kenyataan dengan fantasi, dalam pernyataan yang
singkat dan jelas.
e. Sentuh dan gendong bayi, tetapi semampu yang dapat ditoleransi.
2. Risiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan dengan rawat inap di
rumah sakit
Hasil yang diharapkan :
Anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan atau perilaku merusak
diri sendiri, yang ditandai oleh frekuensi tantrum dan sikap agresi atau destruksi berkurang, serta
peningkatan kemampuan mengatasi frustasi.
Intervensi :

a. Sediakan lingkungan kondusif dan sebanyak mungkin rutinitas sepanjang periode perawatan di
rumah sakit
b. Lakukan intervensi keperawatan dalam sesi singkat dan sering. Dekati anak dengan sikap
lembut, bersahabat, dan jelaskan apa yang anda akan lakukan dengan kalimat yang jelas dan
sederhana. Apabila dibutuhkan, demonstrasikan prosedur kepada orang tua.
c. Gunakan restrain fisik selama prosedur ketika membutuhkannya, untuk memastikan keamanan
d.

anak dan untuk mengalihkan amarah dan frustasinya.


Gunakan teknik modifikasi perilaku yang tepat untuk menghargai perilaku positif dan

menghukum perilaku yang negatif.


e. Ketika anak berperilaku destruktif, tanyakan apakah ia mencoba menyampaikan sesuatu.
3. Risiko Perubahan peran orang tua yang berhubungan dengan gangguan
Hasil yang diharapkan :
Orang tua mendemonstrasikan keterampilan peran menjadi orang tua yang tepat yang ditandai
oleh ungkapan kekhawatiran mereka tentang kondisi anak dan mencari nasihat serta bantuan.
Intervensi :
a. Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran mereka.
b. Rujuk orang tua ke kelompok pendukung autisme setempat dan ke sekolah khusus jika
diperlukan
c. Anjurkan orang tua untuk mengikuti konseling (bila ada).

DAFTAR PUSTAKA
Danuatmaja, Bony. 2003. Terapi Anak Autis di Rumah. Jakarta: Puspa Swara.
Yatim, Faisal. 2003. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak-Anak. Jakarta: Pustaka Populer Obor
http://luci-fransisca.blogspot.com/2011/06/askep-pada-anak-autis.
htmlhttp://www.scribd.com/doc/39800209/Askep-Autisme-pada-anak

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN


GANGGUAN AUTISME

D
I
S
U
S
U
N

Oleh :

1. Ruth Regina Kaban


2. Fitri Z.H Padang
3. Eki Sibagariang
4. Ahmad Ridwan
5. Romaito Lumbanbatu
6. Greta Santya Simbolon

POLTEKKES KEMENKES RI MEDAN


JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat-Nya, makalah ini dapat
diselesaikan. Makalah ini merupakan makalah pengetahuan bagi mahasiswa/i akper maupun
para pembaca untuk bidang Ilmu Pengetahuan.
Makalah ini sendiri dibuat guna memenuhi salah satu tugas kuliah dari dosen mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN GANGGUAN AUTISME. Dalam penulisan makalah ini penulis berusaha menyajikan
bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh para pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan masih banyak
kekurangan. Oleh karenanya, penulis menerima kritik dan saran yang positif dan membangun
dari rekan-rekan pembaca untuk penyempurnaan makalah ini. Penulis juga mengucapkan
banyak terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu dalam penyelesaian makalah
ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Amin.

Medan, 19 Maret 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada
seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya
penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan
mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada
reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial
(pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner,
seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun
1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan
berhubungan

dengan

orang

lain,

mengisolasi

diri,

perilaku

yang

tidak

biasa

Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota,
berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun
demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih
awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik.
Jumlah anak yang terkena autis makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan
ini mencapai 40% sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9
kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir
dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut
di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius
dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia. Di Amerika Serikat
disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain
menyebutkan prevalens autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang
mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka
kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis.
Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang

terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta,
hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakan
jumlah anak austime dapat mencapai 150 - 200 ribu orang.
Berdasarkan hal diatas, maka kami sebagai penulis tertarik untuk lebih memahami
konsep anak dengan autisme, dimana konsep ini saling terkait satu sama lain. Semoga Askep
ini dapat membantu para orang tua, masyarakat umum dan khusnya kami (mahasiswa
keperawatan) dalam memahami anak dengan autisme, sehingga kami harapkan kedua anak
dengan kondisi ini dapat diperlakukan dengan baik.

B. Tujuan
a.

Tujuan umum
Agar mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan pada anak dengan autism.
b. Tujuan Khusus
a)
Mahasiswa memahami pengertian Autisme.
b)
Mahasiswa memahami etiologi dan manifestasi klinik autisme
c)
Mahasiswa memahami cara mengetahui autis pada anak.
d) Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan anak
dengan autisme

BAB II

LANDASAN TEORITIS

1. Defenisi
Autisme adalah ketidakmampuan perkembangan yang biasanya terlihat sebelum usia
dua setengah

tahun dan ditandai dengan gangguan pada

wicara dan bahasa, mobilitas,

persepsi, dan hubungan interpersonal.(Speer, Kathleen Morgan. 2007)


Autisme

adalah

gangguan

perkembangan

yang

umumnya

menimpa

anak-

anak.Gangguan ini membuat anak tidak mampu berinteraksi sosial dan seolah-olah hidup
dalam dunianya sendiri. (Aizid, Rizem. 2011)
Autisme merupakan

gangguan perkembangan pervasif pada anak

yang ditandai

dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang koqnitif, bahasa, perilaku,
komunikasi, dan interaksi social.

2. Etiologi
Penyebab yang pasti dari autisme belum diketahui, yang pasti hal ini bukan disebabkan
karena pola asuh yang salah.
Menurut penelitian para ahli menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab
neurobiologist yang sangat

kompleks. Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh

interaksi factor genetic dan lingkungan seperti pengaruh negative selama masa perkembangan
otak.
Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negative selama masa perkembangan
otak, antara lain; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan
logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan,
gangguan imunologis,gangguan absorpsi-protein tertentu akibat kelainan di usus.

3. Klasifikasi

Jenis persepsi
Autisme persepsi meupakan autism yang timbul sebelum lahir dengan gejala adanya
rangsangan dari luar, baik kecil maupun kuat dapat menimbulkan kecemasan.
Jenis reaksi
Autisme reaktif yaitu dengan gejala penderita membuat gerakan-gerakan tertentu
berulang-ulang dan kadang disertai kejang dan dapat diamati pada usia 6-7 tahun, memiliki sifat

rapuh, mudah terpengaruh oleh dunia luar.


Jenis autisme yang timbul kemudian
Jenis ini diketahui setelah anak agak besar dan akan mengalami kesulitan dalam
mengubah perilakunya karena sudah melekat atau ditambah adanya pengalaman yang baru.

4. Pathway

5. Tanda dan gejala Autisme


Gejala autisme mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia 3 tahun,dan secara
umum gejala paling jelas terlihat antara umur 2-5 tahun. Namun, pada beberapa kasus anak
autis, gejalanya justru terlihat pada usia sekolah. Berdasarkan sebuah penelitian, autisme lebih
banyak menimpa anak laki-laki dari pada anak perempuan
Adapun gejala-gejala autisme pada anak, menurut Dr. Suriviana, antara lain:
1. Gangguan pada bidang komunikasi verbal dan nonverbal,meliputi:
a. Terlambat bicara atau tidak dapat bicara

b.

Mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain,yang sering disebut

sebagai bahasa planet.


c. Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai
d. Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
e. Meniru atau membeo; beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada, maupun katakatanya tanpa mengerti artinya.
f. Kadang berbicara monoton seperti robot
g. Mimik muka datar
h. Seperti anak tuli,tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat.
2. Gangguan pada interaksi sosial, meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.

Menolak atau menghindar untuk bertatap muka


Mengalami kesulitan
Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk
Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain
Menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu

untuknya,apabila ia sedang menginginkan sesuatu


f. Jika didekati untuk bermain,justru menjauh
g. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain
h.
Terkadang masih mendekati orang lain untuk
i.

makan

atau

duduk

di

pangkuan

sebentar,kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun.


Keengganan untuk berinterasi lebih nyata dengan anak sebaya dibandingkan terhadap orang
tuanya.

3. Gangguan pada bidang perilaku dan bermain


a.

Seolah tidak mengerti cara bermain, bermainnya sangat monoton, dan melakukan gerakan

yang sama berulang-ulang sampai berjam-jam.


b. Bila sudah senang terhadap satu mainan, tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya
c.

juga aneh.
Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil-mobilan secara terus-menerus untuk

d.

waktu yang lama) atau sesuatu yang berputar.


Terdapat kelekatan dengan benda-benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, serta

gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana-mana.


e. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, dan air yang bergerak.
f. Perilaku ritualistik sering terjadi
g. Dapat terlihat sangat hiperaktif,misalnya tidak dapat diam, lari ke sana-sini, melompat-lompat,
berputar-putar, dan memukul benda berulang-ulang.
h. Bisa juga menjadi terlalu diam.
4.Gangguan pada bidang perasaan dan emosi, meliputi:

a. Tidak ada atau kurangnya rasa empati (misalnya, ketika melihat anak menangis, si anak tidak
merasa kasihan ia bahkan merasa terganggu, sehingga anak sedang menangis akan didatangi
dan dipukulinya).
b. Tertawa-tawa sendiri serta menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata
c. Sering mengamuk tidak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan,
bahkan dapat menjadi agresif dan destruktif.
5.Gangguan dalam persepsi sensori, meliputi:
a. Mencium-cium, menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja
b. Bila mendengar suara keras,langsung menutup mata.
c. Tidak menyukai rabaan atau pelukan; bila digendong, cenderung merosot untuk melepaskan
diri dari pelukan.
d. Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu. (Aizid, Rizem. 2011)

6. Gambaran dan Perilaku Anak Autis


1. Gambaran unik anak autis
a. Selektif yang berlebihan terhadap rangsangan sehingga kemampuan menangkap isyarat yang
berasal dari lingkungan sangat terbatas.
b. Kurang motifasi, bukan hanya sering menarik diri dan asyik sendiri, tetapi juga cenderung tidak
c.

termotivasi menjelajah lingkungan baru atau memperluas lingkup perhatian mereka.


Memiliki respon stimulasi diri tinggi. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk
merangsang diri sendiri, misalnya bertepuk tangan, mengepak-ngepakkan tangan, dan

memandangi jari-jemari sehingga tidak produktif.


d. Memiliki respon terhadap imbalan. Mereka belajar paling efektif pada kondisi imbalan langsung,
yang jenisnya sangat individual. Namun, respon ini berbeda untuk setiap anak autis.
2. Perilaku Autistik
a. Perilaku berlebihan (excessive)

Perilaku self-abuse (melukai diri sendiri)


Perilaku memukul, menggigit, dan mencakar diri diri sendiri.
Agresif
Perilaku menendang, memukul, menggigit, dan mencubit.
Tantrum
Perilaku menjerit, menangis, dan meloncat-loncat.
Masuk atau membuat berantakan
Masuk ke dalam lemari, memberantakkan buku-buku dan mainan, dan bermain-main di air.
Perilaku stimulasi-diri

Menatap jari-jemari, berayun, dan mengepak-ngepakkan tangan.

b. Perilaku Berkekurangan (deficit)

Kesiapan belajar
Kontak mata jika disuruh dan mengikuti perintah sederhana, seperti tutup pintu dan duduk.
Keterampilan motorik kasar
Bermain bola dan mengayuh sepeda roda tiga.
Keterampilan motorik halus
Menyalin garis, mewarnai, dan menggunakan gunting.
Imitasi non verbal
Tepuk tangan, menunjuk bagian tubuh, dan mengikuti gerakan atau mimik mulut.
Imitasi verbal
Mengeluarkan suara secara spontan, meniru suku-suku kata, dan meniru penekanan atau tinggi
rendah dalam suatu kalimat
Pembicaraan sederhana yang berguna
Menjawab pertanyaan-pertanyaan paling tidak satu kata, meminta sesuatu dengan satu kata
atau lebih.

7. Penatalaksanaan
Autisme merupakan gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable) namun bisa
diterapi (treatable), maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun ada
gejala-gejala yang dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya dapat
berbaur dengan anak-anak lain secara normal.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
a. Terapi Medikamentosa
Terapi ini dilakukan dilakukan dengan obat-obatan yang bertujuan memperbaiki
komunikasi, memperbaiki respon terhadap lingkungan,menghilangkan perilaku aneh serta
diulang-ulang.Obat-obat yang ada di Indonesia adalah dari jenis anti-depresan selektive
serotonin

reuptake

inhibitor

(SSRI)

prozac,sertralin,zoloft,dan risperidone rispedal.


b. Terapi Biomedis

dan

benzodiazepin,

seperti

fluoxetine

Terapi ini bertujuan memperbaiki metabolisme tubuh melalui diet dan pemberian
suplemen. Terapi ini dilakukan berdasarkan banyaknya gangguan fungsi tubuh, seperti
gangguan pencernaan, alergi, daya tahan tubuh rentan, dan keracunan logam berat.
c. Terapi wicara
Umumnya, terapi

ini menjadi keharusan bagi anak autis karena mereka mengalami

keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa. Psikoterapi menggunakan teknik bermain kreatif
verbal dan non verbal yang memungkinkan orang tua lebih mendekatkan diri kepada anak
autisme dan mengenal kondisi anak secara mendetail guna membantu proses penyembuhan
anak.
d. Psikoterapi
Terapi khusus bagi anak autisme yang dalam pelaksanaannya harus melibatkan peran
aktif dari orang tua. Psikoterapi menggunakan teknik bermain kreatif verbal dan non verbal yang
memungkinkan orang tua lebih mendekatkan diri kepada anak autisme dan mengenal kondisi
anak secara mendetail guna membantu proses penyembuhan anak.
e. Terapi okupasi
Terapi ini bertujuan membantu anak autisme
kurang baik, antara lain gerak-geriknya

kasar

yang mempunyai perkembangan motorik


dan kurang luwes.Terapi okupasi akan

menguatkan, memperbaiki koordinasi, dan keterampilan otot halus anak.


f.Terapi Music
Terapi music untuk anak-anak autisme ialah penggunaan bunyi dan musik dalam
memunculkan hubungan antara penderita dengan individu lain, sekaligus terapi untuk
mendukung serta menguatkan secara fisik, mental, social dan emosional. Penggunaan bunyi
dan musik dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya bermain music bersama dengan
improvisasi bebas. Hal ini sangat cocok untuk anak-anak autisme yang notabene sulit dalam
berkomunikasi. Melalui musik, anak-anak autisme dapat mengungkapkan perasaan mereka
dengan segala cara, baik menggunakan anggota tubuh, suara, maupun alat musik yang
disediakan.
g. Peran orang tua
Banyak peran yang bisa dan harus dilakukan orang tua anak autis. Pertama, memastikan
diagnosa, sekaligus mengetahui ada- tidaknya gangguan lain pada anak untuk ikut

diobati.Carilah dokter yang dapat memahami penyakit anak dan jangan fanatik pada satu dokter
karena tidak selamanya seorang dokter benar secara mutlak. Hal yang juga sangat membantu
orang tua adalah bertemu dan berbicara dengan sesama orang tua anak autis. Usahakan
bergabung dalam parents support group.Selain untuk berbagi rasa, juga untuk berbagi
pengalaman, informasi, dan pengetahuan.Orang tua juga harus bertindak sebagai manager
saat terapi dilakukan, misalnya mempersiapkan kamar khusus, mencari dan mewawancara
terapis, mengatur jadwal, melakukan evaluasi bersam tim, juga mampu memutuskan segala
sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan, terapisan, dan pengobatan anak.
h. Spesifikasi diet bagi anak autis
1.

Bahan makanan yang mengandung luten yang biasanya terdapat dalam gandum, tepung
terigu, atau maizena, oat, barley, dan lainlain. Produk olahan yang mengandung gluten antara
lain kecap, roti, cookies atau biskuit, mie, sereal, donat, pie.

2. Bahan makanan yang mengandung kasein yang biasanya terdapat dalam susu hewan. Produk
olahan yang mengandung kasein antara lain keju, es krim, yougurt, biskuit, margarin.
3. Bahan makanan yang mengandung penyedap rasa atau MSG. Selain itu,sebagian besar anak
autisme juga sensitif terhadap bumbu makanan tertentu seperti ketumbar, merica, jahe,
cengkeh.
4. Bahan pemanis dan pewarna buatan seperti permen, saos tomat, minuman kemasan.
5. Makanan yang diawetkan seperti makanan kalengan, sosis, makanan olahan atau makanan
yang dijual di supermarket.
6. Makanan siap saji
7. Minuman berkarbonasi atau sooftdrink
8. Buah-buahan tertentu seperti anggur, pir, lengkeng, pisang, apel, jeruk, tomat, almond, cherry,
strawberry, melon, mangga yang terlalu manis, ketimun.
9.

Jenis air tertentu, seperti air ledeng, air sumur. Oleh karena itu tetap dianjurkan bagi anak
autisme untuk mengkonsumsi air mineral

10. Kurma, jagung, santan, minyyak kelapa atau kelapa sawit, abon sapi
11. Gelatin, mayones, mustard, cuka

12. Ebi, kornet, dendeng, ham, telur asin, ikan asin, daging kambing. Oleh karena itu, ikan dan
daging ayam masih menjadi prioritas makanan bagi anak autisme.
13. Kentang goreng, rempeyek
14. Semua jenis gula tanpa terkecuali selain jenis gula yang direkomendasikan dokter atau terapis
15. Madu dengan campuran gula

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Kaji riwayat kehamilan ibu,nutrisi saat hamil dan terjadi ganguan pada saat hamil atau tidak.
Kaji riwayat partum dan post partum
Uji perkembangan
Psikososial

Menarik diri dan tidak responsive terhadap orang tua


Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem
Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek
Perilaku menstimulasi diri
Pola tidur tidak teratur
Permainan stereotip
Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain
Tantrum yang sering
Peka terhadap suara-suara yang lembut bukan pada suatu pembicaraan
Kemampuan bertutur kata menurun
Menolak mengonsumsi makanan yang tidak halus
Neurologis

Respons yang tidak sesuai terhadap stimulasi


Reflex mengisap buruk
Tidak mampu menangis ketika lapar
Gastrointestinal
Penurunan nafsu makan
penurunan berat badan
Gangguan tingkah laku
Gangguan komunikasi verbal dan nonverbal.contoh:sulit bicara atau bicara berulang-ulang
Gangguan pola bermain.contohnya:tidak suka bermain dengan teman sebaya
Gangguan sensori,seperti tidak sensitive terhadap rasa sakit/takut
Gangguan respon emosi.contoh:sering marah-marah dan tertawa tanpa alasan
Gangguan interaksi social
2. Diagnosa Keperawatan

a. Hambatan komunikasi berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulasi


b. Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubngan dengan rawat inap di
rumah sakit
c. Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan

3. Intervensi Keperawatan
a. Hambatan komunikasi berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulasi
Hasil yang diharapkan :
Anak mengkomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata-kata atau gerakan tubuh
yang sederhana,konkret; bayi dengan efektif dapat mengomunikasikan kebutuhannya
(keinginan akan makan, kenyamanan, dan sebagainya).
INTERVENSI
Ketika

RASIONAL

berkomunikasi

dengan Kalimat yang sederhana dan diulang-

anak,bicaralah dengan kalimat singkat ulang mungkin merupakan satu-satunya


yang

terdiri

kata,dan

atas

ulangi

satu

hingga

perintah

tiga cara berkomunikasi karena anak yang

sesuai

yg

diperlukan.

autistic

mungkin

tidak

mampu

mengembangkan tahap operasional yang


konkret

Gunakan

irama,music,dan

gerakan Gerakan fisik dan suara membantu anak

tubuh untuk membantu perkembangan


komunikasi

sampai

anak

mengenali integritas tubuh serta batasan-

dapat batasannya

memahami bahasa.

sehingga

mendorongnya

terpisah dari objek dan orang lain.

Bantu anak mengenali hubungan antara Memahami konsep penyebab dan efek
sebab akibat dengan cara menyebutkan
perasaannya

yang

khusus

membantu

anak

membangun

dan kemampuan untuk terpisah dari objek

mengidentifikasi penyebab stimulus bagi

serta orang lain dan mendorongnya

mereka.

mengekspresikan

kebutuhan

serta

perasaannya.
Ketika

berkomunikasi

dengan Biasanya anak autistic tidak mampu

anak,bedakan

kenyataan

dengan membedakan

antara

realitas

dan

fantasi,dalam pernyataan yang singkat fantasi,dan gagal untuk mengenali nyeri


dan jelas.

atau sensasi lain serta peristiwa hidup


dengan cara yang bermakna.

Sentuh

dan

gendong

bayi,

tetapi Menyentuh dan menggendong mungkin

semampu yang dapat ditoleransi

tidak membuat bayi yang autistic merasa


nyaman

b. Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan dengan rawat inap di
rumah sakit
Hasil yang diharapkan :
Anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan atau perilaku merusak
diri sendiri,yang ditandai oleh frekuensi tantrum dan sikap agresi atau destruksi berkurang,serta
peningkatan kemampuan mengatasi frustasi.

INTERVENSI
Sediakan

RASIONAL

lingkungan

kondusif

dan anak yang autistic dapat berkembang

sebanyak mungkin rutinitas sepanjang melalui lingkungan yang kondusif dan


periode perawatan di rumah sakit.

rutinitas,dan biasanya tidak dapat


beradaptasi

terhadap

perubahan

dalam hidup mereka.


Lakukan intervensi keperawatan dalam Sesi

yang

singkat

sesi singkat dan sering.Dekati anak memungkinkan


dengan

sikap

lembut

dan

anak

sering
mudah

dan mengenal perawat serta lingkungan

bersahabat,dan jelaskan apa yang akan rumah sakit.Mempertahankan sikap


anda lakukan dengan kalimat yang tenang,ramah,dan
jelas,dan sederhana.

mendemonstrasikan prosedur pada


orang

tua,dapat

membantu

anak

menerima intervensi.
Gunakan restrain fisik selama prosedur Restrain fisik dapat mencegah anak
ketika

membutuhkannya,

untuk dari

tindakan

mencederai

diri

memastikan keamanan anak dan untuk sendiri.Biarkan anak terlibat dalam


mengalahkan amarah dan frustasinya.

perilaku

yang

tidak

terlalu

membahayakan.
Gunakan teknik modifikasi perilaku yang

Pemberian imbalan dan hukuman

tepat untuk menghargai perilaku positif dapat membantu mengubah perilaku


dan menghukum perilaku yang negative.

anak

dan

mencegah

episode

kekerasan.
Ketika

anak

tanyakan

berperilaku

apakah

ia

destruktif, Setiap peningkatan perilaku agresif


mencoba menujukkan

perasaan

stress

menyampaikan sesuatu untuk dimakan meningkat, kemungkinan muncul dari


atau diminum atau apakah ia perlu pergi

kebutuhan untuk mengkomunikasikan

ke kamar mandi

sesuatu

c. Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan


Hasil yang diharapkan :
Orang tua mendemonstrasikan keterampilan peran menjadi orang tua yang tepat yang ditandai
oleh ungkapan kekhawatiran mereka tentang kondisi anak dan mencari nasihat serta bantuan.
INTERVENSI
Anjurkan

RASIONAL
orang

mengekspresikan

tua
perasaan

untuk Membiarkan
dan mengekspresikan

kekhawatiran mereka.

orang

tua

perasaan

dan

kekhawatiran mereka tentang kondisi


kronis

anak

membantu

mereka

beradaptasi terhadap frustasi dengan


baik.
Rujuk orang tua ke kelompok pendukung

Kelompok

autism setempat dan ke sekolah khusus

memperbolehkan orang tua menemui

jika diperlukan.

orang

tua

menderita

pendukung
dari
autis

anak
untuk

lain

yang

berbagi

informasi dan memberikan dukungan


emosional.
Anjurkan orang tua untuk mengikuti Kontak dengan kelompok swabantu
konseling

membantu orang tua memperoleh

informasi tentang masalah terkini,dan


perkembangan yang berhubungan
dengan autisme

DAFTAR PUSTAKA
Speer,Kathleen morgan.rencana asuhan keperawatan pediatric.2007.EGC:Jakarta

AUTISME
AUTISME
A. PENGERTIAN
Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak
dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin,
R, M, 1996 : 305)
Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal,
aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30
bulan.(Behrman, 1999: 120)
Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk
mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam
pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif.(Sacharin,
R, M, 1996: 305)
Autisme pada anak merupakan gangguan perkembangan pervasif (DSM IV, sadock
dan sadock 2000)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan
perkembangan pervasif, atau kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal,
aktivitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik berupa kegagalan
mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan),hambatan dalam
pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif serta
penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas.
B.EPIDEMIOLOGI
Prevalensi 3-4 per 1000 anak. Perbandingan laki-laki dari wanita 3-4:1. Penyakit
sistemik, infeksi dan neurologi (kejang) dapat menunjukan gejala seperti austik.
C.ETIOLOGI
Penyebab Autisme diantaranya
a.Genetik (80% untuk kembar monozigot dan 20% untuk kembar dizigot) terutama
pada keluarga anak austik (abnormalitas kognitif dan kemampuan bicara).
b.Kelainan kromosim (sindrom x yang mudah pecah atau fragil).

c.Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti).


d.Cidera otak, kerentanan utama, aphasia, defisit pengaktif retikulum, keadaan
tidak menguntungkan antara faktor psikogenik dan perkembangan syaraf,
perubahan struktur serebellum, lesi hipokompus otak depan.
e.Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan gangguan
sensori serta kejang epilepsi
f.Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak
Gambaran Autisme pada masa perkembangan anak dipengaruhi oleh
Pada masa bayi terdapat kegagalan mengemong atau menghibur anak, anak tidak
berespon saat diangkat dan tampak lemah. Tidak adanya kontak mata, memberikan
kesan jauh atau tidak mengenal. Bayi yang lebih tua memperlihatkan rasa ingin
tahu atau minat pada lingkungan, bermainan cenderung tanpa imajinasi dan
komunikasi pra verbal kemungkinan terganggu dan tampak berteriak-teriak.
Pada masa anak-anak dan remaja, anak yang autis memperlihatkan respon yang
abnormal terhadap suara anak takut pada suara tertentu, dan tercengggang pada
suara lainnya. Bicara dapat terganggu dan dapat mengalami kebisuan. Mereka yang
mampu berbicara memperlihatkan kelainan ekolialia dan konstruksi telegramatik.
Dengan bertumbuhnya anak pada waktu berbicara cenderung menonjolkan diri
dengan kelainan intonasi dan penentuan waktu. Ditemukan kelainan persepsi visual
dan fokus konsentrasi pada bagian prifer (rincian suatu lukisan secara sebagian
bukan menyeluruh). Tertarik tekstur dan dapat menggunakan secara luas panca
indera penciuman, kecap dan raba ketika mengeksplorais lingkungannya.
Pada usia dini mempunyai pergerakan khusus yang dapt menyita perhatiannya
(berlonjak, memutar, tepuk tangan, menggerakan jari tangan). Kegiatan ini ritual
dan menetap pada keaadan yang menyenangkan atau stres. Kelainann lain adalh
destruktif , marah berlebihan dan akurangnya istirahat.
Pada masa remaja perilaku tidak sesuai dan tanpa inhibisi, anak austik dapat
menyelidiki kontak seksual pada orang asing.
D.CARA MENGETAHUI AUTISME PADA ANAK
Anak mengalami autisme dapat dilihat dengan:
a.Orang tua harus mengetahui tahap-tahap perkembangan normal.
b.Orang tua harus mengetahui tanda-tanda autisme pada anak.
c.Observasi orang tua, pengasuh, guru tentang perilaku anak dirumah, diteka, saat
bermain, pada saat berinteraksi sosial dalam kondisi normal.
Tanda autis berbeda pada setiap interval umumnya.
a.Pada usia 6 bulan sampai 2 tahun anak tidak mau dipeluk atau menjadi tegang
bila diangkat ,cuek menghadapi orangtuanya, tidak bersemangat dalam permainan
sederhana (ciluk baa atau kiss bye), anak tidak berupaya menggunakan kat-kata.
Orang tua perlu waspada bila anak tidak tertarik pada boneka atau binatan
gmainan untuk bayi, menolak makanan keras atau tidak mau mengunyah, apabila
anak terlihat tertarik pada kedua tangannya sendiri.
b.Pada usia 2-3 tahun dengan gejal suka mencium atau menjilati benda-benda,

disertai kontak mata yang terbatas, menganggap orang lain sebagai benda atau
alat, menolak untuk dipeluk, menjadi tegang atau sebaliknya tubuh menjadi lemas,
serta relatif cuek menghadapi kedua orang tuanya.
c.Pada usia 4-5 tahun ditandai dengan keluhan orang tua bahwa anak merasa
sangat terganggu bila terjadi rutin pada kegiatan sehari-hari. Bila anak akhirnya
mau berbicara, tidak jarang bersifat ecolalia (mengulang-ulang apa yang diucapkan
orang lain segera atau setelah beberapa lama), dan anak tidak jarang menunjukkan
nada suara yang aneh, (biasanya bernada tinggi dan monoton), kontak mata
terbatas (walaupun dapat diperbaiki), tantrum dan agresi berkelanjutan tetapi bisa
juga berkurang, melukai dan merangsang diri sendiri.
E.MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis yang ditemuai pada penderita Autisme :
a.Penarikan diri, Kemampuan komunukasi verbal (berbicara) dan non verbal yang
tidak atau kurang berkembang mereka tidak tuli karena dapat menirukan lagu-lagu
dan istilah yang didengarnya, serta kurangnya sosialisasi mempersulit estimasi
potensi intelektual kelainan pola bicara, gangguan kemampuan mempertahankan
percakapan, permainan sosial abnormal, tidak adanya empati dan ketidakmampuan
berteman. Dalam tes non verbal yang memiliki kemampuan bicara cukup bagus
namun masih dipengaruhi, dapat memperagakan kapasitas intelektual yang
memadai. Anak austik mungkin terisolasi, berbakat luar biasa, analog dengan bakat
orang dewasa terpelajar yang idiot dan menghabiskan waktu untuk bermain sendiri.
b.Gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat yang
sempit, keasyikan dengan bagian-bagian tubuh.
c.Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menatap pada objek.
Kesibukannya dengan objek berlanjut dan mencolok saat dewasa dimana anak
tercenggang dengan objek mekanik.
d.Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak untuk
memelihara lingkungan yang tetap (tidak menyukai perubahan), anak menjadi
terikat dan tidak bisa dipisahkan dari suatu objek, dan dapat diramalkan .
e.Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin.
f.Kontak mata minimal atau tidak ada.
g.Pengamatan visual terhadap gerakan jari dan tangan, pengunyahan benda, dan
menggosok permukaan menunjukkan penguatan kesadaran dan sensitivitas
terhadap rangsangan, sedangkan hilangnya respon terhadap nyeri dan kurangnya
respon terkejut terhadap suara keras yang mendadak menunjukan menurunnya
sensitivitas pada rangsangan lain.
h.Keterbatasan kognitif, pada tipe defisit pemrosesan kognitif tampak pada
emosional
i.Menunjukan echolalia (mengulangi suatu ungkapan atau kata secara tepat) saat
berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpuisi yang tidak berujung pangkal,
bentuk bahasa aneh lainnya berbentuk menonjol. Anak umumnya mampu untuk
berbicara pada sekitar umur yang biasa, kehilangan kecakapan pada umur 2 tahun.
j.Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara

fungsional.
k.Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakan tangan dan
mengedipkan mata, wajah yang menyeringai, melompat, berjalan berjalan
berjingkat-jingkat.

Ciri yang khas pada anak yang austik :


a.Defisit keteraturan verbal.
b.Abstraksi, memori rutin dan pertukaran verbal timbal balik.
c.Kekurangan teori berfikir (defisit pemahaman yang dirasakan atau dipikirkan
orang lain).
Menurut Baron dan kohen 1994 ciri utama anak autisme adalah:
a.Interaksi sosial dan perkembangan sossial yang abnormal.
b.Tidak terjadi perkembangan komunikasi yang normal.
c.Minat serta perilakunya terbatas, terpaku, diulang-ulang, tidak fleksibel dan tidak
imajinatif.
Ketiga-tiganya muncul bersama sebelum usia 3 tahun.
F.PENGOBATAN
Orang tua perlu menyesuaikan diri dengan keadaan anaknya, orang tua harus
memeberikan perawatan kepada anak temasuk perawat atau staf residen lainnya.
Orang tua sadar adanaya scottish sosiety for autistik children dan natinal sosiety for
austik children yang dapat membantu dan dapat memmberikan pelayanan pada
anak autis. Anak autis memerlukan penanganan multi disiplin yaitu terapi edukasi,
terapi perilaku, terapi bicara, terapi okupasi, sensori integasi, auditori integration
training (AIT),terapi keluarga dan obat, sehingga memerlukan kerja sama yang baik
antara orang tua , keluarga dan dokter.
Pendekatan terapeutik dapat dilakukan untuk menangani anak austik tapi
keberhasilannya terbatas, pada terapi perilaku dengan pemanfaatan keadaan yang
terjadi dapat meningkatkan kemahiran berbicara. Perilaku destruktif dan agresif
dapat diubah dengan menagement perilaku.
Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant konditioning
yaitu dukungan positif (hadiah) dan hukuman (dukungan negatif). Merupakan
metode untuk mengatasi cacat, mengembangkan ketrampilan sosial dan
ketrampilan praktis. Kesabaran diperlukan karena kemajuan pada anak autis
lambat.
Neuroleptik dapat digunakan untuk menangani perilaku mencelakkan diri sendiri
yang mengarah pada agresif, stereotipik dan menarik diri dari pergaulan sosial.
Antagonis opiat dapat mengatasi perilaku, penarikan diri dan stereotipik, selain itu
terapi kemampuan bicara dan model penanganan harian dengan menggunakan
permainan latihan antar perorangan terstruktur dapt digunakan.
Masalah perilaku yang biasa seperti bising, gelisah atau melukai diri sendiri dapat

diatasi dengan obat klorpromasin atau tioridasin.


Keadaan tidak dapat tidur dapat memberikan responsedatif seperti kloralhidrat,
konvulsi dikendalikan dengan obat anti konvulsan. Hiperkinesis yang jika menetap
dan berat dapat ditanggulangi dengan diit bebas aditif atau pengawet.
Dapat disimpulkan bahwa terapi pada autisme dengan mendeteksi dini dan tepat
waktu serta program terapi yang menyeluruh dan terpadu.
Penatalaksanaan anak pada autisme bertujuan untuk:
a.Mengurangi masalah perilaku.
b.Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan terutama bahasa.
c.Anak bisa mandiri.
d.Anak bisa bersosialisasi.
G.PROGNOSIS
Anak terutama yang mengalami bicara, dapat tumbuh pada kehidupan marjinal,
dapat berdiri sendiri, sekalipun terisolasi, hidup dalam masyarakat, namun pada
beberapa anak penempatan lama pada institusi mrp hasil akhir. Prognosis yang
lebih baik adalah tingakt intelegensi lebih tinggi, kemampuan berbicara fungsional,
kurangnya gejala dan perilaku aneh. Gejala akan berubah dengan pertumbuhan
menjadi tua. kejang-kejang dan kecelakaan diri sendiri semakin terlihat pada
perkembangan usia.
DAFTAR PUSTAKA

Sacharin, r.m, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2, EGC, Jakarta


Behrman, Kliegman, Arvin, 1999, Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15, Alih Bahasa
Prof. DR. Dr. A. Samik Wahab, Sp. A (K), EGC, Jakarta
___,1995, Kesehatan Anak Pedoman Bagi orang Tua, Arcan, Jakarta