Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH EPIDEMIOLOGI

KOHORT

Disusun oleh :

Stela Prida Maliki


Eka Nazarudin
Krisyane Mooduto
Asni Parengreng
Asbar

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


BINA MANDIRI GORONTALO
PROGRAM DIPLOMA TIGA (DIII) ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya
maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Kohort.
Penulisan makalah merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata
kuliah epidemiologi program diploma tiga analis kesehatan.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang
penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang
setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan
semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal Alamiin.
Gorontalo ,
April 2016

Tim Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Epidemiologi adalah bagian dari ilmu kesehatan masyarakat yang
mempelajari penyakit atau masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat.
Epidemiologi mempelajari besar (frekuensi), penyebaran (distribusi) dan
faktor-faktor yang mempengaruhi (determinan) penyakit /masalah kesehatan.
Tujuan dari penerapan epidemiologi adalah untuk menentukan pencegahan
dan penanggulangan yang tepat (Isna, 2011).
Dalam penerapan ilmu epidemiologi akan sering dilakukan berbagai
penelitian. Ada beberapa jenis rancangan penelitian yang biasa diterapkan,
salah satunya adalah desain kohort. Kohort adalah jenis desain penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan dengan penyakit dengan
membandingkan kelompok yang terpapar dengan kelompok yang tidak
terpapar berdasarkan status penyakit (Dyah, 2011).
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dipelajari tentang rancangan
penelitian kohort.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah rancangan penelitian kohort?
1.3 Tujuan
A. Tujuan umum
Mengetahui rancangan penelitian kohort.
B. Tujuan khusus
1.
Mengetahui pengertian rancangan penelitian kohort.
2.
Mengetahui tujuan rancangan penelitian kohort.
3.
Mengetahui ciri-ciri rancangan penelitian kohort.
4.
Mengetahui jenis rancangan penelitian kohort.
5.
Mengetahui skema rancangan penelitian kohort.
6.
Mengetahui kelemahan rancangan penelitian kohort.
7.
Mengetahui kelebihan rancangan penelitian kohort.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
B.1Pengertian Penelitian Kohort
Penelitian Kohort adalah rancangan penelitian epidemiologi analitik
observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit,

dengan cara membandingkan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar


berdasarkan status penyakit (Nuraini, 2010).
Rancangan penelitian kohort disebut juga sebagai survai prospektif
meskipun sesungguhnya kurang tepat. Rancangan penelitian ini merupakan
rancangan penelitan epidemiologis noneksperimental yang paling kuat
mengkaji hubungan antara faktor resiko dengan dampak atau efek suatu
penyakit (Budiharto, 2008).
Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan longitudinal ke depan,
dengan mengkaji dinamika hubungan antara faktor resiko dengan efek suatu
penyakit. Pendekatan yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor resiko,
kemudian dinamikanya diikuti atau diamati sehingga timbul suatu efek atau
penyakit (Budiharto, 2008).
Penelitian prospektif merupakan salah satu penelitian yang bersifat
logitudinal dengan mengikuti proses perjalanan penyakit ke depan bedasarkan
urutan waktu. Penelitian prospektif ini dimaksudkan untuk menemukan
insidensi penyakit pada kelompok yang terpajan oleh faktor resiko maupun
pada kelompok yang tidak terpajan, kemudian insidensi penyakit pada kedua
kelompok tersebut secara sistematik dibandingkan untuk mengetahui apakah
terdapat hubungan sebab-akibat antara pajanan dan penyakit yang diteliti.
Kelompok yang diteliti tersebut dinamakan kohort. Peneliti prospektif kohort
ini mengikuti paradigma dari sebab ke akibat (Budiarto, 2002).
Dari uraian singkat di atas dapat dijelaskan bahwa secara garis besar
proses perjalanan penelitian prospektif sebagai berikut:
A. Pada awal penelitian, kelompok terpsjsn msupun kelompok tidsk terpsjsn
belum mensmpsksn gejala penyakit yang diteliti.
B. Kedua kelompok diikuti ke depan berdasarkan sekuens waktu
(prospektif).
C. Dilakukan pengamatan untuk mencari insidensi penyakit (efek) pada
kedua kelompok.
D. Insidensi penyakit pada kedua kelompok dibandingkan menggunakan
perhitungan statistik untuk menguji hpotesis tentang hubungan sebab
akibat antara pajanan dan insidensi penyakit (efek) (Budiarto, 2002).

Kesimpulan hasil penelitian diketahui dengan membandingkan subyek


yang mempunyai efek positif (sakit) antara kelompok subyek dengan faktor
resiko positif dan faktor resiko negatif (Kelompok kontrol) (Budiharto, 2008).
B.2Karakteristik Penelitian Kohort
A. Bersifat observasional
B. Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
C. Disebut sebagai studi insidens
D. Terdapat kelompok kontrol
E. Terdapat hipotesis spesifik
F. Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif
G. Untuk kohort retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder
(Nuraini, 2010).
B.3Langkah-langkah Penelitian Kohort
A. Mengidentifikasi faktor resiko,

dengan

menentukan

variabel

terikat/bergantung, variabel bebas, variabel yang dikendalikan atau


B.
C.
D.
E.

variabel kontrol.
Menetapkan subyek penelitian dengan menetapkan populasi sampel.
Memilih subyek dengan faktor resiko positif dari subyek efek negatif.
Memilih subyek yang akan dijadikan kelompok kontrol.
Mengobservasi perkembangan subyek sampai batas waktu tertentu atau
ditentukan, diikuti dengan mengidentifikasi timbul atau timbulnya efek

pada kedua kelompok.


F. Menganalisis data dengan membandingkan proporsi subyek yang
memperoleh efek positif dengan subyek yang memperoleh efek negatif
baik pada kelompok resiko positif maupun kelompok kontrol. Contohnya,
menganalisis data dengan menghitung resiko relatif (RR) (Budiharto,
2008).
B.4Kegunaan Rancangan Penelitian Kohort
Secara garis besar rancangan analisis diperlukan agar orang dapat
mengetahui analisis yang akan dilakukan oleh peneliti sehingga mudah
dilakukan evaluasi terhadap hasil penelitian.
Kegunaan yang diperoleh dengan penelitian kohort sebagai berikut :
A. Penelitian kohort dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan
normal (ontogenik) yang terjadi dengan berjalannya waktu karena
intervensi yang dilakukan oleh alam berupa waktu. Misalnya,

mempelajari pertumbuhan dan perkembangan anak selama 5 tahun sejak


dilahirkan.
B. Penelitian ini dapat pula digunakan untuk mempelajari timbulnya penyakit
secara alamiah akibat pemajanan (patogenik) yang dilakukan oleh orang
yang bersangkutan secara sengaja, misalkan merokok atau tidak sengaja
memakan makanan atau minuman yang tercemari bakteri patogen.
Misalnya mempelajari hubungan antara rokok dan penyakit jantung
koroner atau mempelajari terjadinya kejadian luar biasa pada keracunan
makanan.
C. Penelitian kohort dapat digunakan untuk mempelajari perjalanan klinis
suatu penyakit (patogresif), misalnya perkembangan penyakit karsinoma
payudara.
D. Rancangan penelitian ini dapat digunakan untuk mempelajari hubungan
sebab-akibat.
E. Penelitian kohort dapat digunakan untuk mempelajari insidensi penyakit
yang diteliti.
F. Penelitian kohort tidak memiliki hambatan masalah etis.
G. Besarnya risiko relatif dan risiko atribut dapat dihitung secara langsung.
H. Pada penelitian kohort dapat dilakukan perhitungan statistik untuk menguji
hipotesis.
I. Pada penelitian kohort dapat diketahui lebih dari satu out cometerhadap
satu pemaparan, misalnya penelitian tentang hubungan antara rokok dan
karsinoma paru-paru ternyata mempunyai hubungan juga dengan penyakit
jantung, gastritis, karsinoma kandung kemih, dan lain-lain (Lesmana,
2012).
B.5Kelebihan dan Kelemahan Penelitian kohort
Kelebihan Penelitian Jenis Kohort
A. Adanya kesesuaian dengan logika studi eksperimental dalam membuat
inferensi kausal, yaitu penelitian dimulai dengan menentukan faktor
B.

penyebab yang diikuti dengan akibat.


Peneliti dapat menghitung laju insidensi, sesuatu hal yang hampir tidak

C.
D.

mungkin dilakukan pada studi kasus kontri, sehingga raju insidensi (idr).
Sesuai untuk meneliti paparan yang langka.
Memungkinkan peneliti mempelajari sejumlah efek secara serentak dan
sebuah paparan.

E.
F.
G.
H.
I.

Bias yang terjadi kecil


Tidak ada subyek yang sengaja dirugikan.
Dapat mempelajari beberapa akibat dari suatu paparan
Disain terbaik untuk menentukan insidens dan perjalanan penyakit.
Menerangkan hubungan faktor risiko & outcome secara temporal dengan

J.
K.
L.

baik.
Pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan progresif
Dapat meneliti beberapa efek sekaligus dari faktor resiko tertentu.
Pengamatan kontinu & longitudinal, kekuatan penelitian andal.

Kelemahan Penelitian Kohort


A. Membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang mahal.
B. Pada kohort retrospektif, butuh data sekunder yang lengkap dan handal.
C. Tidak efisien dan tidak praktis untuk mempelajari penyakit yang
langka. : hilangnya subyek amatan selama masa penelitian.
D. Tidak cocok menentukan merumuskan hipotesis tentang faktor etiologi
lainnya untuk penyakit amatan.
E. Risiko untuk hilangnya subyek selama penelitian, karena migrasi,
partisipasi rendah atau meninggal (Ayu, 20010)
Sedangkan menurut Budiharto, 2008 keunggulan dan keterbatasan penelitian
kohort sebagai berikut:
A. Dapat membandingkan dua kelompok, yaitu kelompok subyek dengan
faktor resiko positif dan subyek dari kelompok kontrol sejak awal
penelitian.
B. Secara langsung menetapkan besarnya angka resiko dari waktu ke waktu.
C. Keseragaman observasi terhadap faktor resiko maupun efek dari waktu
ke waktu.
Selain keunggulan, penelitian kohort juga mempunyai keterbatasan, yaitu:
A. Memerlukan waktu penelitian yang relatif cukup lama
B. Memerlukan sarana dan prasarana serta pengolahan data yang lebih
rumit.
C. Kemungkinan adanya subyek penelitian yang drop out sehingga
mengurangi ketepatan dan kecukupan data untuk dianalisis.
D. Menyangkut etika sebab faktor resiko dari subyek yang diamati sampai
terjadinya efek, menimbulkan ketidaknyamanan bagi subyek.

B.6Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Penelitian Kohort


A. Sampel dimulai dengan adanya pajanan atau tidak
B. Peneliti harus mengetahui status keterpajanan subyek
C. Untuk memperoleh n subyek terpajan perlu memeriksa n subyek, yang
banyaknya tergantung proporsi pajanan di populasi
D. Kohort dapat dilakukan secara retrsopektif dg menggunakan rekam medis
atau catatan yang ada (Ayu, 2010).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian
Penelitian Observasional kohort merupakan penelitian epidemiologis
analitis noneksperimental yang didasarkan pada pengamatan sekelompok
penduduk tertentu dalam satu jangka waktu tertentu. Kelompok kohort adalah
sekelompok penduduk yang memiliki persamaan dalam hal tertentu dan
merupakan kelompok yang diamati sampai batas waktu tertentu. Dalam
epidemiologi, subjek dalam studi kohort dipilih berdasarkan beberapa
karakteristik tertentu yang dianggap sebagai faktor risiko terjadinya penyakit
atau gangguan kesehatan tertentu. Pada dasarnya studi kohort didasarkan pada
pertanyaan "apa yang akanterjadi?" sehingga dengan demikian pengamatan ini
bersifat prospektif.
Kelompok

penduduk

yang

diamati/diteliti

(kelompok

kohort)

merupakan kelompok penduduk dengan dua kategori tertentu yakni yang


terpapar dan yang tidak terpapar terhadap faktor yang dicurigai sebagai faktor
risiko atau penyebab. Pada awal penelitian,semua anggota kelompok kohort
harus bebas/tidak menderita penyakit atau mengalami gangguan kesehatan
yang sedang diteliti, artinya semua yang menderita atau yang dicurigai
menderita penyakit/out put yang akan diteliti harus dikeluarkan dari kelompok
kohort.
Pengamatan (studi) kohort dapat bersifat deskriptif maupun analitis.
Kohort deskriptif adalah pengamatan kohort yang bertujuan hanya untuk
menjelaskan insidensi atau akibat yang terjadi terhadap populasi kohort
setelah diamati dan diikuti selama jangka waktu tertentu. Sedangkan
pengamatan kohort analitis bertujuan untuk menganalisis hubungan antara

faktor risiko (efek keterpaparan) dengan kejadian penyakit atau gangguan


kesehatan yang terjadi selama/setelah waktu pengamatan.

3.2 Bentuk bentuk studi kohort


Studi kohort pada dasarnya dapat dibagi dalam dua kelompok utama
yakni kohort prospektif dan kohort retrospektif (historical cohort study). Di
samping itu, dikenal pula suatumodi-fikasi studi kohort yakni nested casecontrol study yakni suatu bentuk pengamatan kohortyang menggunakan
analisis bentuk kasus-kelola (case control study).
A. Kohort Prospektif
Bentuk pengamatan ini merupakan bentuk studi kohort yang murni
sesuai dengan sifatnya. Pengamatan dimulai pada saat populasi kohort
belum mengalami akibat yang ditelitidan hanya diketahui kelompok yang
terpapar (berisiko) dan yang tidak terpapar. Bentuk ini adadua macam
yaitu (1) kohort prospektif dengan pembanding internal, di mana
kelompok yang terpapar dan yang tidak terpapar

sebagai kelompok

pembanding atau kontrol) berasal dari satu populasi yang sama; (2) kohort
prospektif dengan pembanding eksternal di mana kelompok terpapar dan
kelompok pembanding tidak berasal dari satu populasi yang sama.
Pada bentuk pertama, populasi kohort dibagi dalam dua kelompok
yakni yang terpapar dan yang tidak terpapar sebagai kelompok
pembanding. Kedua kelompok tersebut diikuti secara prospektif sampai
batas waktu penelitian, di mana akan muncul dari kelompok terpapar dua
subkelompok yakni subkelompok yang mengalami akibat/efek (a) dan
yang tidakmengalami akibat (b). Sedangkan dari kelompok yang tidak
terpapar akan muncul juga duasubkelompok yakni yang mengalami akibat
(c) dan yang tidak mengalami akibat (d).Dari hasil pengamatan kohort
tersebut, peneliti dapat menghitung insiden kejadian darikelompok yang

terpapar dan insiden kejadian dari kelompok yang tidak terpapar


dankemudian dapat dihitung; angka resiko relatif hasil pengamatan.

Pada bentuk kedua dari kohort prospektif adalah populasi kohort


terdiri dari dua populasi yangberbeda, dengan satu populasi mengalami
keterpaparan (ada faktor risiko) dan populasi lainnyatanpa faktor risiko.
Bentuk

studi

kohort

dengan

pembanding

eksternal

ini

harus

memperhatikan sifat keduapopulasi awal (populasi yang terpapar dan


pembanding) yakni sifat-sifat populasi di luar factor keterpaparan atau
faktor risiko yang diteliti. Hasil luaran terjadinya efek yang diamati pada
kedua populasi ini, memberikan nilai rate insiden populasi yang terpapar
dan rate insiden populasi yang tidak terpapar.
B. Kohort Retrospektif

Umumnya studi kohort bersifat prospektif, di mana peneliti


memulai pengamatan dengan mengidentifikasi kelompok dengan faktor
risiko (terpapar) dan kelompok tanpa faktor risiko

(tidak terpapar),

kemudian diamati akibat yang diharapkan terjadi sepanjang waktu


tertentu. Namun demikian, studi kohort dapat pula dilakukan dengan
menggunakan data yang telah dikumpulkan pada waktu yang lalu yang
tersimpan dalam arsip atau bentuk penyimpanan data lainnya. Umpamanya
seorang peneliti yang ingin menganalisis faktor-faktor risiko dari 78 orang
penderita stroke yang berasal dari kelompok pegawai perusahaan tertentu
yang dijumpai nyadalam dua tahun terakhir, dengan menelusuri catatan
kesehatan penderita tersebut sejakbekerja pada perusahan yang dimaksud.
Contoh lain adalah pengamatan terhadap sejumlah pegawai bagian
produksi dari suatu pabriksemen tertentu yang sedang menderita sejenis
penyakit gangguan pernapasan. Peneliti mencoba mengamati factor risiko
yang berhubungan dengan penyakit tersebut dengan menelusuri data
kesehatan dan factor lingkungan tempatnya bekerja sejak pegawai tersebut
mulai bekerja pada pabrik tadi. Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama
dengan kohort biasa, namun pada bentuk ini, pengamatan dimulai pada
saat akibat (efek) sudah terjadi. Yang terpenting dalam bentuk ini adalah
populasi yang diamati tetap memenuhi syarat populasi kohort dan yang
diamati adalah faktor risiko masa lalu yang diperoleh melalui pencatatan
data yang lengkap. Dengan demikian, bentuk penelitian retrospektif kohort
hanya dapat dilakukan bila data tentang faktor risiko tercatat dengan baik
sejak terjadinya keterpaparan pada populasi yang sama dengan efek yang
ditemukan pada awal pengamatan.
Pada dasarnya keunggulan studi kohort prospektif dijumpai pula
pada kohort retrospektif, namun kohort retrospektif membutuhkan biaya
yang lebih rendah. Kelemahannya terletak pada kualitas pengukuran dan
pencatatan faktor risiko yang telah berlalu sehingga sangat ditentukan oleh
kualitas data yang telah dikumpulkan pada waktu yang lalu.

3.3 Langkah - langkah Kegiatan pada Penelitian Kohort


Untuk melaksanakan suatu studi kohort, dianjurkan melakukan
persiapan disertai dengan tahapan-tahapan kegiatan yang sistematis untuk
memudahkan pelaksanaannya.
A. Merumuskan Pertanyaan Penelitian
Langkah awal dari suatu studi kohort adalah merumuskan masalah
atau pertanyaan penelitian yang kemudian akan mengantar peneliti
merumuskan hipotesis penelitian yang lebih tepat/sesuai. Dari formulasi
hipotesis tersebut, akan tercermin berbagai variable yang menjadi variabel
penelitian, baik yang bersifat variabel bebas, variabel terikat dependent)
maupun variabel-variabel lainnya yang harus menjadi perhatian peneliti,
antara lain variabel kendali (kontrol), variabel pengganggu serta variabel
lainnya yang harus dipertimbangkan.
B. Penetapan Populasi Kohort
Dalam memilih populasi kohort harus diperhatikan beberapa hal
tertentu seperti berikut:

Populasi kohort sedapat mungkin agak stabil


Populasi kohort dapat bekerja sama selama penelitian;

Populasi kohort mudah diamati dan mudah terjangkau untuk follow

up selama penelitian;
Populasi kohort memiliki derajat keterpaparan yang cukup
Anggota kohort tidak sedang menderita penyakit yarig akan
diamati.
Dalam hal ini peneliti harus yakin bahwa kelompok kohort dan

kelompok control betul-betul tidak sedang menderita atau dicurigai sedang


menderita (suspect case) efekyang akan diteliti. Subjek yang terpilih dari
populasi harus memenuhi kriteria pemilihan,meliputi kriteria inklusif dan
eksklusif. Disebut kriteria inklusif adalah karakteristik umum subjek
penelitian pada populasi target dan populasi kontrol. Sering terdapat
kendala untuk mendapatkan kriteria yang sesuai dengan masalah
penelitian yang telah ditetapkan. Untuk menghadapi hal tersebut dapat
dilakukan penyimpangan ilmiah sampai batas-batas tertentu, tetapi hal ini
harus dijelaskan dalam laporan penelitian tentang penyimpangan tersebut
yang merupakan jarak antara idealis ilmiah dengan kondisi yang dihadapi.
Kriteria eksklusif bila dalam memilih subjek penelitian, sebagian subjek
yang telah memenuhi kriteria inklusif, namun harus dikeluarkan dari
pengamatan karena beberapa hal antara lain.

Terdapat keadaan atau penyakit lain pada subjek yang dapat


mengganggu

pengukuranmaupun

interpretasi

hasil

penelitian,

umpamanya bila terdapat predisposisi atau faktor genetis yang dapat

mempengaruhi hasil pengamatan.


Terdapat keadaan yang dapat mengganggu pelaksanaan studi,
umpamanya mereka yangtidak mempunyai alamat yang tetap sehingga

sulit diamati.
Adanya hambatan etis, kultur atau kepercayaan individual maupun

masyarakat untuk dapat berpartisipasi.


Kemungkinan subjek yang akan

diteliti,

akan

menolak

berpartisipasi.Sumber populasi kohort dapat berasal dari berbagai


kelompok populasi.

1) Kelompok penduduk yang tergabung/berada dalam satu wilayah


pelayanan kesehatan tertentu.
2) Kelompok pekerja pada satu perusahaan tertentu/atau instansi
tertentu.
3) Kelompok penduduk dengan kondisi kesehatan yang menggunakan
pelayanan tertentuseperti kelompok akseptor, kelompok dengan
pengobatan radiasi dan lain-lain.
4) Kelompok penduduk dengan asuransi kesehatan tertentu.
5) Untuk populasi yang tidak terpapar (sebagai pembanding) dapat
berasal dari :
Penduduk kelompok kohort yang sama,
Populasi umum asal populasi kohort
Populasi lain yang memiliki keadaan yang sama dengan
populasi kohort yangterpapar (populasi target), tetapi tidak
terpapar.
Semua anggota kelompok tersebut harus diperiksa sebelum
pengamatan dimulai. Dalam memilih populasi kohort ada beberapa faktor
yang secara rinci perlu diperhatikan pula;

Komparabilitas sampel, artinya sedapat mungkin kelompok studi


memiliki atribut yang sama (tidak berbeda atau sebanding) dengan
kelompok kontrol untuk menghindari bias seleksi yang dapat

mempengaruhi hasil penelitian.


Frekuensi faktor risiko, artinya bila faktor risiko tinggi maka
diusahakan memilih populasi penelitian yang berasal dari masyarakat
umum (komunitas). Sebaliknya, bila faktor risiko rendah atau jarang
diketemukan, maka populasi penelitian dapat dipilih dari orang-orang
(individu) yang mempunyai risiko tinggi untuk menderita penyakit

yang diteliti.
Frekuensi penyakit, di mana semakin kecil atau rendah frekuensi
kejadian penyakit dalam masyarakat, semakin besar sampel yang
diperlukan, yang disertai dengan waktu follow up yang lebih lama.

Derajat sensitivitas pengamatan, dimana setiap peningkatan faktor


risiko dengan presisi yang tinggi akan menyebabkan ukuran besarnya

sampel yang diperlukan akan menjadi bertambah besar pula.


Representatif populasi penelitian, artinya populasi yang dipilh
sedapat mungkin mendekati ciri-ciri yang diinginkan untuk dianalisis,

baik untuk kelompok studi maupun untuk kelompok kontrol.


Tingkat asesibilitas, artinya populasi yang dipilih harus mampu
memberikan informasi lengkap mengenai segala sesuatunya yang
berhubungan dengan faktor risiko dan proses terjadinya penyakit.

C. Besarnya Sampel
Sebagaimana diketahui bahwa pada hipotesis nol (Ho) biasanya
dinyatakan bahwa besarnya kelompok yang akan menderita penyakit yang
diteliti pada kelompok terpapar tidak berbeda dengan kelompok yang tidak
terpapar sehingga nilai Risiko Relatifnya menjadi satu (RR = 1).
Sedangkan hipotesis alternant dapat bersifat satu sisi atau dua sisidengan
RR > 1 atau RR < 1 atau tidak sama dengan satu (RR1). Dalam
menentukan besarnya sampel pada penelitian ini, umumnya pada sebagian
kasus, besarnya RR dan P2 ditentukan terlebih dahulu sedangkan P1
dihitung dari kedua nilai tersebut. Besarnya sampel untuk pengujian dua
sisi menjadi

D. Sumber Keterangan Keterpaparan


Sumber

keterangan

tentang

adanya

dan

besarnya

derajat

keterpaparan dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dapat dipercaya


kebenarannya.

Dari status/kartu pemeriksaan kesehatan berkala dengan berbagai sifat

tertentu seperti tekanan darah, kadar kolesterol, dan lain lain.


Dari kartu pelayanan kesehatan khusus seperti kartu KB, kartu

pengobatan radiologis dan lain lain.


Wawancara langsung dengan anggota kohort, terutama tentang
kebiasaan sehari hari seperti merokok, pola makanan, kebiasaan olah

raga dan lain lain.


Keterangan hasil pemeriksaan Lingkungan (fisik, biologis dan sosial)
termasuk lingkungan kerja, tempat tinggal, dan lain lain.

E. Identifikasi Subjek
Subjek pada pengamatan kohort dapat dengan efek negatif maupun
dengan efek positif. Pada studi kohort prospektif umpamanya, kedua
kondisi ini dapat terjadi pada akhir pengamatan di mana efek positif dan
negatif dapat dijumpai baik pada kelompok terpapar (kelompok target)
maupun pada kelompok yang tidak terpapar (kelompok kontrol). Pada
pengamatan kohort prospektif dengan kontrol internal, kelompok kontrol
terbentuk secara alamiah, artinya diambil dari populasi kohort yang tidak
terpapar dengan faktor resiko yang diamati. Pada bentuk kohort dengan
pembanding internal seperti ini, mempunyai keuntungan tersendiri karena:
pertama, kedua kelompok (target dan kontrol) berasal dari populasi yang
sama, dan kedua, terhadap kedua kelompok tersebut dapat dilakukan
follow-up dengan tatacara dan waktu yang sama. Dalam pelaksanaannya,
perbedaan adanya faktor risiko pada kelompok target dan absennya pada
kelompok kontrol dapat berupa faktor risiko internal (seperti rentannya
kelompok target terhadap gangguan kesehatan atau penyakit tertentu),
dapat pula sebagai faktor risiko eksternal (umpamanva adanya faktor
lingkungan atau perilaku maupunkepercayaan kelompok tertentu yang
dapat mempermudah seseorang terkena penyakit atau gangguan kesehatan
tertentu). Di samping itu, pada kelompok kontrol internal. Perbedaan
faktor risiko antara dua kelompok yang diamati dapat pula hanya berbeda
pada intensitas,kualitas, dan waktu keterpaparan, umpamanva perokok

aktif dan mereka yang berada di sekitar perokok aktif tersebut. Pada
penelitian kohort, pemilihan anggota kelompok kontrol biasanya tidak
diperlukan teknik matching (penyesuaian) dengan anggota kelompok
target, terutama bila subjek yang diteliti jumlahnya cukup besar, atau bila
proporsi subjek dengan faktor risiko (kelompok target) jauh lebih besar
bila dibanding dengan kelompok kontrol. Namun dalam beberapa keadaan
tertentu, teknik matching perlu dipertimbangkan, misalnya apabila peneliti
ingin mengetahui besarnya pengaruh pemapaparan yang lebih akurat, pada
penelitian dengan besarnya sampel terbatas, atau pada keadaan di mana
proporsi kelompok target lebih kecil bila disbanding dengan kelompok
kontrol. Namun demikian, bila variabel luar cukup banyak ragamnya,
teknik matching akan sulit dilakukan, dan apabila tetap dipaksakan, akan
mengakibatkan jumlah subjek akan lebih kecil sehingga sulit mengambil
kesimpulan yang definitif.Untuk penelitan kohort, perlu mendapatkan
perhatian utama dalam menentukan hasil luaran secara standar, apa positif
atau negatif (menderita atau tidak menderita penyakit yang diteliti). Pada
penelitian ini kemungkinan timbulnya negatif palsu cukup besar bila tidak
dilakukan standar penentuan diagnosis.
F. Memilih Kelompok Kontrol (Pembanding)
Kelompok kontrol dalam penelitian kohort adalah kumpulan
subjek yang tidak mengalami pemaparan atau pemaparannya berbeda
dengan kelompok target. Perbedaan antara kelompok target dengan
kelompok kontrol dapat dalam beberapa bentuk.

Pada subjek dengan taktor risiko internal maka kelompok target


dengan variabel faktor risiko tersebut, sedangkan kelompok kontrol

tanpa variabel tersebut pada populasi yang sama.


Subjek dengan faktor risiko eksternal yang biasanya berupa variabel
lingkungan, dimana kelompok target berada/hidup pada lingkungan
tersebut sedangkan kelompok kontrol bebas dari pengaruh lingkungan
bersangkutan.

Bila keduanya mengandung faktor risiko maka kelompok kontrol


dipilih dari mereka dengan dosis faktor risiko yang lebih sedikit
(intensitas, kualitas, kuantitas, dan waktu pemaparan yang lebih
rendah) dibanding kelompok target.
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pemilihan kelompok

kontrol pada rancangan kohort biasanya tidak disertai dengan teknik


matching. Keadaan tanpa teknik matching biasanya pada pemilihan
kelompok kontrol seperti berikut.

Penelitian yang melibatkan subjek yang besar.


Penelitian dalam satu populasi atau sampel yang proporsi kelompok
yang terpapar dengan faktor risiko jauh lebih besar dibanding dengan
kelompok tanpa risiko (kontrol).
Sedangkan yang dianjurkan melakukan teknik matching pada

pemilihan kelompok kontrol adalah pada kondisi berikut.

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor risiko

secara teliti dan mendalam.


Penelitian yang subjeknya sangat terbatas jumlahnya.
Penelitian dengan proporsi subjek yang terpapar jauh lebih kecil.

G. Pengamatan Hasil Luaran (Timbulnya Kejadian)


Pengamatan terhadap kedua kelompok (target dan kontrol)
dilakukan secara bersamaan selama jangka waktu tertentu. Lamanya waktu
pengamatan prospektif kohort tergantung pada karakteristik penyakit atau
kejadian yang diharapkan timbul, dan hal ini sangat dipengaruhi oleh sifat
patogenesis serta perkembangan penyakit/masalah kesehatan yang diteliti.
Untuk jenis penyakit keganasan, misalnya timbulnya kanker hati pada
kelompok target dengan faktor risiko adanya HBs-Ag positif, diperlukan
periode pengamatan yang cukup lama (dapat sampai puluhan tahun),
sedangkan sebaliknya hubungan antara perokok pasif (asap rokok sebagai

faktor risiko)dengan keadaan kelahiran bayi (BBLR) dari satu proses


kehamilan dibutuhkan masa pengamatan hanya 9 bulan untuk setiap
subjek. Pengamatan terhadap timbulnya akibat, dapat dilakukan dengan
hanya pengamatan tunggal yakni menunggu sampai terjadinya efek
sebagai hasil akhir, tetapi dapat pula dengan pengamatan berkala, caranya
setiap subjek diamati secara periodik menurut interval waktu tertentu,
termasuk pengamatan pada akhir penelitian. Di samping itu, dapat pula
dilakukan analisis perbandingan antara kelompok target dan kelompok
kontrol dengan memperhitungkan unsur waktu sebagai unit analisis
sehingga dengan demikian perbandingannya menggunakan skala rasio.
Penentuan hasil akhir yakni penentuan tentang timbulnya akibat
harus dilakukan berdasarkan kriteria baku yang telah disusun pada awal
penelitian. Untuk mengurangi bias, sebaiknya penilaian dilakukan dengan
sistem "Blind" di mana penilai tidak mengetahui apakah yang dinilainya
adalah kelompok target atau kelompok kontrol, walaupun hal demikian
agak sulit diterapkan.
Salah satu masalah yang sering terjadi pada pengamatan bentuk
kohort adalah hilangnya subjek dari pengamatan (lost to follow up),
terutama pada pengamatan yang membutuhkan waktu yang cukup lama.
Oleh sebab itu bila sejak awal diketahui bahwa ada subjek yang akan
berpindah tempat, sebaiknya tidak diikutsertakan pada penelitian. Bila
subjek dipilih dengan teknik matching, maka setiap subjek yang hilang
dari pengamatan, pasangannya harus dihapus pula dari pengamatan.
Apabila

jumlah

subjek

yang

hilang

dari

pengamatan

cukup

besar,pengamatan harus dihentikan.Untuk mengantisipasi adanya mereka


yang hilang dari pengamatan, dapat dilakukanperhitungan person years
pada akhir pengamatan.

Subjek menolak ikut/drop-out selama penelitian, sedangkan kegiatan


penelitian tetapteruskan, dapat dilakukan analisis hasil sebagai
berikut :
- Usahakan keterangan tentang keadaan insiden mereka yang dropout/menolak ikut;
- Bandingkan sifat karakteristik tertentu mereka yang menolak/drop
out dengan populasi kohort
- Follow up mereka yang menolak drop out melalui sarana lain; dan
- Melakukan pemeriksaan berkala yang lebih sering pada kelompok
kohort untuk menilai kecenderungan penyakit yang diteliti dari waktu

ke waktu.
Perhitungan person years dilakukan terutama pada:
- Anggota kohort memasuki kelompok penelitian tidak bersamaan
-

waktunya;
Sejumlah anggota kohort meninggal atau drop-out selama masa

penelitian
Perhitungan hasil akhir pada mereka yang drop out :
- Adakan perhitungan nilai rate maksimal (mereka yang ; drop out
-

dianggap menderita semua)


Adakan perhitungan dengan rate minimal (mereka yang drop out

dianggap tidak menderita);


Adakan perhitungan dengan menganggap yang drop out

keadaannya dengan yang tidak drop out; dan


Adakan perhitungan dengan menambahkan penyebut sebesar

sama

setengah dari jumlah drop out.


Follow-up terhadap subjek, baik sebelum, selama, atau setelah
mengalami keterpaparan merupakan hal yang cukup penting dan sangat
mempengaruhi hasil luaran penelitian kohort. Penentuan dimulainya
follow-up merupakan hal yang penting dan berbagai hasil yang diamati
sangat dipengaruhi oleh waktu awal follow-up tersebut. Hal ini erat
hubungannya dengan awal keterpaparan maupun awal setiap anggota
kelompok memasuki pengamatan. Hal lain yang juga sangat penting dalam
penelitian ini adalah lamanya masa pengamatan. Sebagaimana dikatakan

sebelumnya, bahwa lama pengamatan sangat tergantung pada sifat dan


jenis penyakit yang diamati.

H. Perhitungan Hasil Penelitian (Insinden dan Risiko)


Hasil penelitian kohort biasanya dianalisis berdasarkan besarnya
insiden kejadian pada akhir pengamatan terhadap kelompok yang terpapar
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dalam analisis demikian ini,
selain mereka yang tidak terpapar sebagai kelompok kontrol, juga
dimungkinkan membandingkan tingkat keterpaparan yang berbeda antara
kelompok target dengan kelompok kontrol. Hasil perhitungan adalah
dengan menentukan besarnya pengaruh keterpaparan atau hubungan
tingkat keterpaparan dengan hasil luaran(efek). Ukuran yang sering
digunakan untuk menilai besarnya pengaruh taktor keterpaparan terhadap
kejadian adalah tingkat risiko relatif(RR)

a = Jumlah yang terpapar dan menderita


b = Jumlah yang terpapar dan tidak menderita
c = Jumlah yang tidak terpapar dan menderita
d = jumlah yang tidak terpapar dan tidak menderita
a + c = Jumlah seluruhnya yang menderita pada akhir pengamatan
b + d = Jumlah mereka yang tidak menderita pada akhir pengamatan
a + b = Jumlah mereka yang terpapar pada awal pengamatan

c + d = Jumlah mereka yang tidak terpapar pada awal pengamatan yang


diamati
N = Jumlah populasi
Risiko relatif (RR) disebut juga Rasio Insiden Kumulatif
(Cumulatif Incidence Ratio) adalah ukuran yang menunjukkan berapa kali
(lebih besar atau lebih kecil) risiko secara relatif untuk mengalami
kejadian

(penyakit

atau

kematian)

pada

populasi

terpapar

bila

dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar. Perhitungan RR dapat


dilihat pada contoh tabel di atas.
Besarnya rate insiden (IR) umum : Jumlah penderita/jumlah yang
diamati (ingat perhitungan terhadap drop out dan Iain-lain):
IR =

a+c
N
Besarnya rate insiden kelompok terpapar (IRT): Jumlah penderita

dari kelompok terpapar/ jumlah semua anggota kohort yang terpapar:


IRT = a
a+b
Besarnya rate insiden yang tidak terpapar (IRTT ) : Jumlah penderita dari kelompok yang tidak terpapar/jumlah anggota kohort yang
tidak terpapar.
IRTT = c
c+d
Besarnya risk relatif (RR) : Rate insiden yang terpapar/rate insiden
yang tidak terpapar.
RR = IRT

IRTT
Nilai RR menyatakan besarnya risiko (kemungkinan) untuk
menderita bagi mereka yang terpapar dibanding dengan mereka yang tidak
terpapar atau memperlihatkan besarnya pengaruh keterpaparan terhadap
timbulnya penyakit. Risiko relatif merupakan nilai perbandingan (rasio)
antara rate insiden kelompok terpapar dengan rate insiden kelompok yang
tidak terpapar, pada akhir pengamatan. Bila nilai RR = 1 artinya tidak ada
pengaruh antara keterpaparan dengan kejadian penyakit. Bila nilai RR > 1
artinya ada pengaruh positif dimana faktor keterpaparan mempunyai
peranan dalam timbulnya kejadian yang diamati. Makin besar nilai RR,
makin besar pula nilai kelipatan pengaruh tersebut. Sedangkan bila nilai
RR < 1, artinya faktor keterpaparan bukan merupakan risiko kejadian
penyakit, tetapi mempunyai efek pencegahan terjadinya penyakit.
Selain nilai risiko relatit tersebut di atas, dikenal pula nilai
perbedaan rate insiden dari kedua kelompok yang diamati, dan nilai ini
disebut risiko atribut (Attributable Risk). Besarnya risiko atribut (RA)
adalah selisih antara rate insiden kelompok terpapar dengan rate insiden
kelompok yang tidak terpapar.
RA = IRT IRTT
Nilai RA ini menunjukkan besarnya pengaruh bila faktor
keterpaparan dihilangkan atau untuk melihat besarnya kemungkinan dalam
usaha pencegahan penyakit. Kedua nilai tersebut di atas mempunyai arti
tersendiri yaitu risiko relatif menunjukkan berapa besarnya pengaruh
faktor keterpaparan terhadap kejadian penyakit maupun kematian,
sedangkan risiko atribut mempunyai kepentingan dalam kesehatan
masyarakat di mana frekuensi kejadian dapat diperkirakan pada suatu
populasi tertentu.
Untuk menganalisis hasil akhir suatu pengamatan kohort, harus
dianalisis apakah setiap nilai yang diperoleh pada pengamatan, memenuhi

syarat serta betul-betul sesuai dengan ketentuan penelitian. Di samping itu,


nilai yang dicapai harus memberikan gambaran hubungan penyebab
(causality associated) dengan memperhatikan syarat-syarat yang telah
dikemukakan terdahulu.Di bawah ini diberikan suatu contoh perbandingan
antara nilai risiko relatif dengan risiko atribut antara perokok ringan
dengan perokok berat untuk penyakit kanker paru-paru dengan penyakit
jantung kardiovaskuler.

Sebab

Angka Kematian/ 100 per

Risiko

Risiko

Kematian

tahun
Perokok

Relatif

Atribut

Perokok

Kanker Paru-

Ringan
0.07

Berat
2.27

32.43

2.20

paru
Penyakit

7.32

9.93

1.36

2.61

Jantung

Dari tabel tersebut tampak bahwa risiko relatit kanker paru-paru


dengan perokok berat sampai 32 kali dan jauh lebih besar bila dibanding
dengan penyakit jantung kardiovaskuler, tetapi resiko atribut keduanya
hampir sama.
3.4 Kelebihan dan Kekurangan Studi Kohort
Ada beberapa kelebihan dari penelitian kohort bila dibanding dengan
bentuk penelitian epidemiologi lainnya;
a. Pada prinsipnya, penelitian ini memberikan gambaran yang cukup lengkap
tentang pengaruh dan sifat keterpaparan (hubungan keterpaparan dengan
kejadian penyakit serta sifat penyakit yang diteliti).
b. Memungkinkan mengamati/meneliti pengaruh efek ganda dari suatu sifat
keterpaparan (penyebab) sehingga dapat memberikan gambaran besarnya
pengaruh taktor keterpaparan seperti halnya pengaruh taktor risiko.

c. Memungkinkan perhitungan rate secara langsung yakni insiden penyakit


pada kelompok terpapar dan tidak terpapar.
d. Memungkinkan mencatat berbagai variabel yang dapat ditemukan/diamati
secara jelas dan sistematis.
e. Memungkinkan melakukan quality control (pengawasan kualitas) dalam
setiap pengukuran variabel yang diamati.
Namun di lain pihak, penelitian ini memiliki berbagai keterbatasan pula,
antara lain:
a. Membutuhkan jumlah penduduk yang cukup besar untuk pengamatan
penyakit yang jarang terjadi dalam masyarakat (rate insidennya rendah).
b. Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk follow up pengamatan.
c. Kemungkinan pada faktor keterpaparan, sifat karakteristik penduduk atau
jenis kegiatan kelompok yang diamati mengalami perubahan selama
pengamatan, yang dapat menyebabkan hasil akhir kurang relevan.
d. Biaya penelitian umumnya relatif mahal.
e. Dalam pelaksanaan follow up yang cukup lama, berbagai kesulitan dapat
timbul sehingga mengganggu follow up.
f. Kontrol terhadap variabel eksternal/variabel yang tidak diperhitungkan
mungkin kurang lengkap dan mempengaruhi hasil penelitian.
g. Dapat menimbulkan masalah etika oleh karena peneliti membiarkan
subyek terkena pajanan yang dicurigai atau dianggap dapat merugikan
subyek.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penelitian Kohort adalah rancangan penelitian epidemiologi analitik
observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit,
dengan cara membandingkan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar
berdasarkan status penyakit.
Peneitian kohort sendiri dibagi menjadi 2 bentuk yaitu retrospektif dan
prospektif yang dibagi bagi lagi menurut kelompok pembandingnya.
Adapun kelebihan dari penelitian kohort yaitu :
1.

Studi kohort merupakan desain yang terbaik dalam menentukan insidens

2.

dan perjalanan penyakit atau efek yang diteliti.


Studi kohort yang baik dalam menerangkan hubungan antara factor-

3.

faktor resiko dengan efek secara temporal.


Studi kohort merupakan pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal

4.

dan progesif.
Studi kohort dapat dipakai untuk meneliti beberapa efek sekaligus dari

5.

suatu factor resiko tertentu.


Karena pengamatan dilakukan secara kontinyu dan longitudinal, studi
kohort memiliki kekuatan yang andal untuk meneliti berbagai masalah
kesehatan yang makin meningkat.
Namun, kohort juga memiliki kelemahan yaitu :

1.
2.
3.
4.

Memerlukan waktu yang lama


Sarana dan biaya biasanya mahal
Sering kali rumit
Kurang efisien segi waktu maupun biaya untuk meneliti kasus yang jarang

terjadi
5. Terancam terjadinya drop out atau terjadinya perubahan intensitas pajanan
atau factor resiko dapat mengganggu analisis hasil
6. Dapat menimbulkan masalah etika oleh karena peneliti membiarkan
subyek terkena pajanan yang dicurigai atau dianggap dapat merugikan
subyek.

DAFTAR PUSTAKA

Aksara Noor, Nur Nasry. 2000. Pengantar Epidemiologi. Makassar : Fakultas


Kesehatan Masyarakat,Universitas Hasanuddin
Ayu,

Sanyta.

2010.

Desain

Penelitian.

(Online),

(http://sanytaayu.blogspot.com/2010/12/desain-penelitian.html, Diakses
pada Tanggal 6 Maret 2015)
Budiarto, Eko. 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta : Penerbit EGC
Budiarto, Eko dan Dewi Anggraeni. 2002. Pengantar Epidemiologi Edisi 2.
Jakarta: EGC
Budiharto. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan dengan Contoh Bidang Ilmu
Kesehatan Gigi. Jakarta: EGC
Gordis, Leon. 2004. Epidemiology. Philadelphia : Elsevier Saunders
Hikmati, Isna. 2011. Buku Ajar Epidemiologi. Yogyakarta: Numed
Nugrahaeni, Dyah Kunti. 2011. Konsep Dasar Epidemiologi. Jakarta: EGC.
Nuraini,

Siska.

2010.

Penelitian

Kohort.

(Online),

(http://siskanuraini08.students-blog.undip.ac.id/2010/11/04/penelitiankohort/, Diakses pada Tanggal 9 April 2016)


Sastroasmoro, Sudigdo dkk. 1995. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta: Binarupa

yusri_halada@yahoo.com