Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

SATUAN PROSES II
INDUSTRI POLIPROPILENA (PETROKIMIA)

Dosen pembimbing: Ir. Sumingkrat, M. Si.

Disusun oleh:
MAXI WILLYAM (1512005)
Kelas: KA01
TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN R.I.
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INDUSTRI (STMI)
2013/2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Industri
Polipropilena ini. Dan juga penulis berterima kasih kepada Ibu Ir. Sumingkrat, M.Si selaku
Dosen mata kuliah Satuan Proses II yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Industri Polipropilena. Penulis juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang penulis
harapkan. Untuk itu, penulis berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan. Semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca sekalian.

Jakarta, 16 Juli 2014


Penulis
Maxi Willyam

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................

DAFTAR ISI .........................................................................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN ..............................................................................................

I.1

Latar Belakang ....................................................................................................

I.2

Tujuan .................................................................................................................

BAB II

PEMBAHASAN .................................................................................................

II.1

Propilena .............................................................................................................

II.2

Polipropilena .......................................................................................................

II.3

Manfaat Polipropilena .........................................................................................

II.4

Struktur Kristalinitas Polipropilena ....................................................................

II.5

Sifat-sifat Polipropilena ......................................................................................

II.6

Pembagian Polipropilena .................................................................................... 10

II.7

Proses Pembuatan Polipropilena ......................................................................... 11

BAB III

PENUTUP ........................................................................................................... 21

III.1

Kesimpulan ......................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 22

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Polimer merupakan molekul besar yang terbentuk dari unit-unit berulang
sederhana. Nama ini diturunkan dari bahasa Yunani Poly, yang berarti banyak dan
mer, yang berarti bagian. Sedangkan industry polimer (polimer sintesis) baru
dikembangkan beberapa puluh tahun terakhir ini.
Polimer tersusun atas perulangan monomer menggunakan ikatan kimia
tertentu. Ukuran polimer, dinyatakan dalam massa (massa rata-rata ukuran molekul
dan jumlah rata-rata ukuran molekul) dan tingkat polimerisasi, sangat mempengaruhi
sifatnya, seperti cuhu cair dan viskositasnya terhadap ukuran molekul (missal seri
hidrokarbon).
Polimer merupakan molekul besar (makromolekul) yang terbangun oleh
susunan unit ulangan kimia yang kecil, sederhana dan terikat oleh ikatan kovalen.
Unit ulangan ini biasanya setara atau hampir setara dengan monomer yaitu bahan
awal dari polimer.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak barang-barang yang digunakan
merupakan polimer sintetis mulai dari kantong palstik untuk belanja, plastic
pembungkus makanan dan minuman, kemasan plastic, alat-alat listrik, alat-alat rumah
tangga, dan alat-alat elektronik.
Kata polimer pertama kali digunakan oleh kimiawan Swedia, Berzelius pada
tahun 1833, sepanjang abad 19 para kimiawan bekerja dengan makromolekul tanpa
memiliki suatu pengertian yang jelas mengenai strukturnya. Sebenarnya beberapa
polimer alam yang termodifikasi telah dikomersialkan. Sebagai cntoh, selulosa nitrat
dipasarkan di bawah nama-nama celluloid dan guncotton. Sepanjang tahun 1839
dilaporkan mengenai polimerisasi stirena, dan selama 1860-an dipublikasikan sintesis
poli (etilena glikol) dan poli (etilena suksinat) bahkan dengan struktur-struktur yang
tepat.
Bahan plastic buatan pertama kali dikembangkan pada abad ke-19, dan saat ini
di awal abad ke-21 jenis bahan ini telah ada di sekeliling kita dalam bentuk dan
kegunaan yang sangat beragam. Cellulose nitrate merupakan salah satu jenis bahan

plastic yang pertama-tama dikembangkan. Ahan ini ditemukan Alexander Parkes di


pertengahan abad ke-19 dan pertama kali dipamerkan pada suatu Pameran Akbar di
London tahun 1862 dalam bentuk sol sepatu dan bola-bola billiard. Pada tahun 1869
John Wesley Hyatt mengembangkan bahan Cellulose nitrate lebih lanjut dengan cara
mencampurkannya dengan camphor menjadi bahan baru yang kemudian diberi nama
Celluloid. Bahan ini menjadi sangat popular digunkan pada produk-produk sisir
rambut, kancing pakaian dan gagang pisau.

I.2

Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini yaitu:
1. Untuk memenuhi tugas Satuan Proses II.
2. Untuk mengetahui tentang polipropilena.
3. Untuk mengetahui sifat fisika dan kimia polipropilena.
4. Umtuk mengetahui kegunaan dari polipropilena.
5. Untuk mengetahui proses pembuatan polipropilena.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1

Propilena
Propilena merupakan bahan baku dalam pembuatan polipropilena jenis
homopolimer sedangkan untuk jenis random copolymer dan impact copolymer selain
propilena diperlukan juga etilena dengan komposisi tertentu.
Propilena merupakan hidrokarbon alfatik dengan satu rantainya mempunyai
ikatan rangkap dua atau ikatan tidak jenuh. Polipropilena merupakan golongan olefin
yang diperoleh dari hasil cracking (perengkahan) minyak bumi pada temperature 700900oC, untuk menghilangkan gas nafhtalena dan dilanjutkan dengan proses
fraksionasi.

II.2

Polipropilena
Polipropilena atau polipropena (PP) adalah sebuah polimer termo-plastik yang
dibuat oleh industry kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi, diantaranya
pengemasan, tekstil (contohnya tali, pakaian dalam termal, dan karpet), alat tulis,
berbagai tipe wadah etrpakaikan ulang serta bagian plastic, perengkapan
laboratorium, pengeras suara, komponen otomotif, dan uang kertas polimer. Polimer
adisi yang terbuat dari propilena monomer, permukannya tidak rata serta memiliki
sifat resistan yang tidak biasa terhadap kebanyakan pelarut kimia, basa dan asam.
Struktur molekul propilena dapat dilihat pada gambar berikut.
CH2=CH-CH3
Secara industri, polimerisasi polipropilena dilakukan dengan menggunakan
katalis koordinasi. Proses polimerisasi ini akan menghasilkan suatu rantai linear yang
berbetuk -A-A-A-A-A-, dengan A merupakan propilena. Reaksi polimerisasi dari
propilena secara umum dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.1. Reaksi polimerisasi dari propilena menjadi polipropilen

Pengolahan lelehnya polipropilena bisa dicapai melalui ekstrusi dan


pencetakan. Metode ekstrusi (peleleran) yang umum menyertakan produksi serta
pintal ikat (spun bond) dan tiup (hembus) leleh untuk membentuk gulungan yang
panjang untuk nantinya diubah menjadi beragam produk yang berguna seperti masker
muka, penyaring, dan lap.
Teknik pembentukan yang paling umum adalah pencetakan suntik, yang
digunakan untuk berbagai bagian seperti cangkir, alat pemotong, botol kecil, topi,
wadah, perabotan, dan suku cadang otomotif seperti baterai. Teknik pencetakan tiup
dan injection-stretch blow molding juga digunakan, yang melibatkan ekstrusi dan
pencetakan.
Ada banyak penerapan penggunaan akhir untuk PP (polipropilena) karena
dalam proses pembuatannya bisa di-tailor grade dengan aditif serta sifat molekul yang
spesifik. Sebagai misal, berbagai aditif antistatic bisa ditambahkan untuk memperkuat
resistensi permukaan polipropilena terhadap debu dan pasir. Kebanyakan teknik
penyelesaikan fisik, seperti permesinan, bisa pula digunakan pada polpropilena.
Perawatan permukaan bisa diterapkan ke berbagai bagia polipropilena untuk
meningkatkan adhesi (rekatan) cat dan tinta cetak.
Gambaran umum Polipropilena:
Penggunaan

: Termoplastik, fiber, termoplastik elastomer

Monomer

: propilena

Polimerisasi

: Ziegler-Natta, metallocene catalyst

Titik leleh

: 165oC

Temperature glass transition

: -17oC

II.3

Manfaat Polipropilena
Karena polipropilena kebal dari lelah, kebanyakan living hinge (engsel
fleksibel tipis yang terbuat dari plastic yang menghubungkan dua bagian dari palstik
yang kaku), seperti yang ada di botol dengan tutup flip top, dibuat dari bahan ini.
Lembar propilena yang sangat tipis dipakai sebagai dielektrik dalam pulsa
berdaya tinggi tertentu serta kondensator frekuesni radio yang kehilangan
frekuensinya rendah.
Kebanyakan barang dari palstik untuk keperluan medis atau laboratorium bisa
dibuat dari polipropilena karena mampu menahan panas di dalam autoklaf. Sifat tahan
panas ini menyebabkan digunakan sebagai bahan untuk membuat ketel (ceret) tingkatkonsumen. Wadah penyimpan makan yang terbuat darinya takkan meleleh di dalam
mesin cuci piring dan selama proses pengisian panas industry berlangsung. Untuk
alasan inilah sebagian besar tong plastic untuk produk susu perahan terbuat dari
polpropilena yang ditutupi dengan foil aluminium (keduanya merupakan bahan tahan
panas). Sesuai produk diinginkan, tabung sering diberi tutup yang terbuat dari bahan
yang kurang tahan panas, seperti polietilena berdensitas rendah (LDPE) atau
polistirena. Wadah seperti ini merupakan contoh yang bagus mengenai perbedaan
modulus, karena tampak jelas beda kekenyalan LDPE (lebih lunak, lebih mudah
dilenturkan) dengan polipropilena yang tebalnya sama. Jadi wadah penyimpan makan
dari polpropilena sering memiliki tutup yang terbuat dari LDPE yang lebih fleksibel
agar bisa tertutup rapat-rapat. Polipropilena juga bisa dibuat menjadi botol sekali
pakai untuk menyimpan produk konsumen berbentuk cairan atau tepung, meski
HDPE dan polietilena tereftalatlah yang umumnya dipakai untuk membuat botol
semacam itu. Ember plastic, baterai mobil, container penyejuk, piring dan kendi
sering terbuat dari polipropilena atau HDPE, keduanya memliki penampilan, rasa,
serta sifat yang hampir sama pada suhu ambient.
Polipropilena merupakan sebuah polimer utama dalam barang-barang tak
tertenun. Sekitar 50% digunakan dalam berbagai produk sanitasi yang dipakai untuk
menyerap air (hidrofil), bukan yang secara alami menolak air (hidrofobik).
Penggunaan tak tertenun lainnya yang menarik adalah saringan udara, gas, dan cair
dimana serat bisa dibentuk menjadi lembaran atau jarring yang bisa dilipat untuk
membentuk kartrij atau lapisan yang menyaring dalam batas-batas 0.5 sampai 30
mikron. Aplikasi ini bisa ditemukan di dalam rumah sebagai saringan air atau

saringan tipe pengondisian udara. Wilayah permukaan tinggi serta polipropilena


hidrofobik alami yang tak tertenun merupakan penyerap tumpahan minyak yang ideal
dengan perintang apung yang biasanya diletakkan di dekat tumpahan minyak di
sungai.
Polipropilena juga umum digunakan sebagai polipropilena berorientasi dwi
sumbu Biaxially Oriented Polypropilene (BOPP). Lembaran BOPP ini digunakan
untuk membuat berbagai macam bahan seperti clear bag (tas yang transparan). Saat
polipropilena berorientasi dwi sumbu, ia menjadi sejernih Kristal dan berfungsi
sebagai bahan pengemasan untuk berbagai produk artistic eceran.
Polipropilena yang berwarna-warni banyak dipakai dala pembuatan permadani
dan tatakan untuk digunakan di rumah.
Militer AS pernah menggunakan polipropilena atau polypro untuk membuat
lapisan dasar cuaca dingin seperti kaos lengan panjang atau celana dalam yang
panjang. (Saat ini polyester menggantikan polipropilena dalam berbagai aplikasi di
militer AS). Kaos dari polipropilena tidak mudah terbakar, tapi bisa meleleh yang
berakibat pada bekas terbakar pada bagian baju yang terkena apapun jenis ledakan
atau api.
Polipropilena digunakan pula sebagai pengganti polivinil klorida (PVC)
sebagai insulasi untuk kabel listrik LSZH (Low Smoke Zero Halogen) dalam
lingkungan ventilasi rendah, terutama sekali terowongan. Ini karena polipropilena
mengeluarkan sedikit asap serta halogen yang tidak beracun, yang akan menghasilkan
asam pada suhu tinggi.

II.4

Struktur Kristalinitas Poilipropilena


Kristalinitas merupakan sifat penting yang terdapat pada polimer. Kristalinitas
merupakan ikatan antara rantai molekul sehingga menghasilkan susunan olekul yang
lebih teratur. Pada polimer polipropilena, rantai polimer yang trebentuk dapat
tersususn membentuk daerah kristalin (molekul tersusun teratur) dan bagian lain
membentk daerah amorf (molekul tersusun secara tidak teratur).
Dalam struktur polimer atom-atom karbon terikat secara tetrahedral dengan
sudut ikatan C-C 109.5o dan membentuk rantai zigzag planar sebagai berikut:

Untuk polipropilena struktur zigzag planar dapat terjadi dalam tiga cara yang
berbeda-beda tergantung pada posisi relative gugus metal satu sama lain di dalam
rantai polimernya. Ini menghasilkan struktur isotaktik, ataktik dan sindotaktik.
1. Struktur isotatik

Dikatakan berstruktur isotaktik jika gugus metal pada posisi yang sama di dalam
polimer tersebut.
2. Struktur ataktik

Disebut polimer ataktik apabila gugus alkil/fenil yang berada pada rantai
karbonnya berposisi secara random.
3. Struktur sindotaktik

Sedangkan disebut dengan polimer sindotaktik apabila gugus alkil/fenil memiliki


kedudukan yang tidak sama misalnya cis dan trans, namun kedudukan tersebut
berubah secara beraturan.
Ketiga struktur polipropilena tersebut pada dasarnya secara kimia berbeda satu
sama lain. Polipropilena ataktik tidak dapat berubah menjadi polipropilena sindotaktik
atau menjadi struktur lainnya tanpa memutuskan dan menyusun kembali beberapa
ikatan kimia. Struktur yang lebih teratur memiliki kecenderungan yang lebih besar
untuk berkristalisasi daripada struktur yang tidak teratur. Jadi, struktur isotaktik dan
sindotaktik

lebh

cenderung

membentuk

daerah

kristalin

daripada

ataktik.

Polipropilena berstruktur stereogular seperti isotatik dan sindotaktik adalah sangat


kristalin bersifat keras dan kuat. Dalam struktur polipropilena ataktik gugus metal
bertindak seperti cabang rantai pendek yang muncul pada sisi rantai secara acak. Ini
mengakibatkan sulitnya untuk mendapatkan daerah-daerah rantai yang sama
(tersusun) sehingga mempunyai sifat kristalin rendah menyebabkan tingginya kadar
oksigen pada bahan tersebut sehingga bahan polimer ini mudah terdegradasi oleh
pengaruh lingkungan seperti kelembaban cuaca, radiasi sinar matahari dan lain
sebagainya.

II.5

Sifat-sifat Polipropilena
Polipropilena merupakan bahan baku plastic yang ringan dengan densitas 0.90
0.92, memiliki kekerasan dan kerapuhan yang paling tinggi dan bersifat kurang
stabil terhadap paas dikarenakan adanya hydrogen tersier. Penggunaan pengisi dan
penguat memungkinkan polipropilena memiliki mutu kimia yang baik sebagai bahan
polimer dan tahan terhadap pemecahan karena tekanan (stress-cracking) walaupun
pada temperatur tinggi.
Kerapuhan plipropilena di bawah 0oC dapat dihilangkan dengan penggunaan
bahan pengisis. Dengan bantuan pengisis dan penguat, akan terdapat adisi yang baik.
Polimer

yang

memiliki

konduktivitas

rendah

seperti

polpropilena

(konduktivitas = 0.12 W/m) kristalinitasnya sangat rentan terhadap laju pendinginan.


Misalnya dalam suatu proses pencetakan termoplastik membentuk barang jadi yang
tebal dan luas, bagian tengah akan menjadi dingin lebih lambat daipada bagian luar,

yang besentuhan langsung dengan cetakan. Akibatnya akan terjadi perbedaan derajat
kristalinitas pada permukaan dengan bagian tengahnya.
Polipropilena mempunyai tegangan (tensile) yang rendah, kekuatan benturan
(impact strength) yang tinggi dan ketahanan yang tinggi terhadap pelarut organic.
Polipropilena juga mempunyai sifat usolator yang baik, mudah diproses dan sangat
tahan terhadap air karena sedikit sekali menyerap air, dan sifat kekakuan yang tinggi.
Seperti polyolefin lain, polipropilena juga mempunyai ketahanan yang baik terhadap
bahan kimia anorganik non pengoksidasi, deterjen, alcohol dan sebagainya. Tetapi
polipropilena dapat terdegradasi oleh zat pengoksidasi seperti asam nitrat dan
hydrogen

peroksida. Sifat kristalinitasnya

yang

tinggi menyebabkan

daya

regangannya tinggi, kaku dan keras.


Sifat fisik polipropilena ditunjukkan pada table berikut:
Parameter
Berat molekul
Titik didih ( P=101.3 kPa dalam oC)
Titik leleh (oC)
Temperature kritik (oC)
Densitas kritik (gr/ml)
Tekanan kritik (MPa)
Lower explosion limit (% V udara)
Upper explosion limit (% V udara)
Temperature autoignition (oC)
Kelarutan dalam air (T=20oC; P= 101.3 kPa)
Bau
Titik nyala (oC)
Densitas uap
Specific gravity
Tekanan uap (20o C dalam psig)
Indeks bias
Tensile strength (psi)
Elongation (%)
Tensile modus (103, psi)
Impact of strength (ft-lb/in of notch)
Densitas
Titik leleh

Nilai
42.078
47.7
190 20
92
0.2333
4.3
24
11.1
224
44.6
Bau gas alam
08
1.5
0.516
132
1.49
4300 5500
200 700
1.6 2.3
0.5 2.0
0.855 gr/cm3
160oC

Sifat kimia polipropilena adalah sebagai berikut:


1. Polipropilena diproduksi melalui system cracking pada proses pmurnian minyak
bumi yang juga menghasilkan etile, metana dan hydrogen. Reaksi yang terjadi
adalah:
2CH3CH2CH3 CH3CH=CH2 + CH2=CH2 + CH4 + H2

2. Reaksi polipropilena dengan ammonia menghasilkan akrilonitrit pada industry


asam akrilit. Reaksi yang terjadi adalah:
CH3CH=CH2+ NH3 + 3/2 O2 CH2CHCN + 3H2O
3. Pada temperature tinggi klorinasi propilen dengan klorida memproduksi gliserol.
Reaksi yang terjadi adalah:
CH3CH=CH2 + Cl2 770 K CH2=CH2Cl + HCl

II.6

Pembagian Polipropilena
Berdasarkan monomer penyusunnya polipropilena dapat dibedakan menjadi :
1. Polipropilena Homopolimer, yaitu polipropilena uang disusun hanya oleh
monomer propilena. Sifat utama jenis polipropilena ini adalah kekauannya yang
bahkan juga dimiliki pada temperature tinggi. Jenis polipropilena ini memiliki
temperature transisi gelas 0oC, sehingga polipropilena jenis ini bersifat getas pada
temperature rendah. Pada sifat optis, jeis polipropilena ini memiliki tingkat
kebeningan sedang (translucent). Polipropilena jenis ini juha memiliki sifat
kemengkilapan yang baik. Aplikasinya meliputi kemasan makanan (baik rigid
maupun flexible), peralatan rumah tangga, karung palstik, dan lain-lain.
2. Polipropilena Random Copolimer yaitu polipropilena yang disusun oleh monomer
propilena dan etilena yang tersusun acak dalam ranati polipropilena. Random
copolymer dikenal terutama dari kebeningannya dan kelenturannya yang tinggi.
Karenanya, polipropilena random copolymer banyak digunakan untuk pembuatan
peralatan yang bening, tutup botol jenis flip top dan kemasan lainnya.
3. Karakteristik yang penting lainnya adalah polipropilena random copolymer
memiliki temperature leleh yang lebih rendah dibanding polipropilena
homopolymer. Namun kekuatan dan kekerasannya kurang jika dibandingkan oleh
polipropilena homopolimer. Karena karakteristik ini, polipropilena random
copolymer juga digunakan sebagai bahan laminasi (extrusion coating) untuk
aplikasi karung.
4. Polipropilena Impact Copolimer (ICP) yaitu polipropilena yang disusun oleh
monomer propilena dan etilena yang tersusun dalam dua blok fasa, yaitu
polipropilena

homopolimer

dan

ethylene-propylene-rubber

(EPR).

ICP

menawarkan variasi sifat yang besar, namun terutama dapat dikenali dari sifatnya
yang memiliki ketahanan pembebanan kejut yang sangat baik, termasuk pada

temperature rendah (memiliki temperature transisi gelas -30oC) dan berwarna


putih susu doff, berbeda dengan polipropilena homopolimer atau juga
polipropilena random copolymer. Aplikasi polipropilena jenis ini antara lain bahan
baku pembuatan kaleng plastic, pallet, elektronik dan perlengkapan otomotif.

II.7

Proses Pembuatan Polipropilena


Polipropilena adalah hasil polimerisasi propena. Polimerisasi adalah
penggabungan molekul-molekul sejenis menjadi molekul raksasa sehingga beranati
karbon sangat panjang. Molekul yang bergabung disebut monomer-monomer.
Sedangkan molekul raksasa yang terbentuk disebut polimer.
Jenis polimerisasi yang terjadi pada pembuatan polipropilena ini adalah
polimerisasi adisi, karena terjadi ikatan antara monomer propilena melalui ikatan
rangkapnya. Pertumbuhan yang terjadi pada polimerisasi ini disebabkan karena
adanya penambahan monomer yang berlangsug secara terus menerus pada pusat
aktif radikal bebas. Polimerisasi adisi menghasilkan berat molekul yang sama dengan
berat semu unit menome yeng tergabung dalam rantai polimer.
Polimerisasi ini akan berlangsung sampai semua monomer habis bereaksi.
Akan tetapi, terminasinya dapat diatur dengan menambah molekul hydrogen yan
memutuskan pertumbuhan atau perpanjangan rantai polimer. Polimerisasi adisi pada
umumnya berlangsung dalam kondisi tanpa katalisator dan temperature kamar, pada
polimerisasi adisi juga tidak dihasilkan molekul-molekul ringan sebagai produk
samping. Adapun sifat-sifat polimerisasi adalah:
1. Tidak ada hasil samping
2. Mekanisme reaksi adalah reaksi rantai (chain growth) berlangsung cepat
3. Hasilnya pada umumnya adalah polimer termoplastik, artinya dengan pemanasan
dapat melebur lagi, dan dapat berubah menjadi bentuk lain
CH2 = CH CH2 (-CH2 CH-) n CH3

Mekanisme rekasi yang terjadi terdiri dari 3 tahapan, yaitu :


4. Inisiasi
5. Propagasi, dan
6. Terminasi.
Polimerisasi Ziegler-Natta merupakan metode sintesis polimer dengan
monomer yang memliki ikatan rangkap, termasuk jenis polimerisasi adisi, metode ini

sesuai dengan namanya, ditemukan oleh dua ilmuwan yaitu Ziegler dan Natta.
Polimerisasi Ziegler-Natta menggunakan system katalis dank o-katalis dalam reaksi
polimerisasinya. Katalis ini merupakan senyawa komplek dari golongn I-III dengan
halide dan turunan logam transisi golongan IV-VII.
Katalis Ziegler-Natta biasanya adalah senyawa TiCl3 sebagai ko-katalis yang
digunakan adalah TiCl3 dan Al(C2H5)2Cl atau TiCl4 dengan Al(C2H5)3. Reaksi antara
katalis dank o katalis ini akan menghasilkan suatu kompleks yang selanjutnya akan
bereaksi dengan molekul propilena. Pada proses pengakhiran, polimerisasi ZieglerNatta dilakukan dengan menambahkan molekul hydrogen akan memutuskan
pertumbuhan rantai polimer.
Sebelum terjadi ketiga tahapan reaksi tersebut, katalis TiCl 4 diaktifkan terlebih
dahulu oleh ko-katalis Al(C2H5)3 sehingga akan terbentuk pusat aktif (active center)
katalis seperti pada reaksi berikut:

Setelah katalis diaktifkan oleh ko-katalis membentuk radikal bebas Ti, maka
monomer propilen akan menyerang abgian aktif ini dan berkoordinasi dengan logam
transisi, selanjutnya ia menyisip antara metal dan grup alkil, sehingga mulailah
terbentuk rantai polipropilena.

Radikal propilena yang terbentuk akan menyerang monomer propilena lainnya


terus menerus dan membentuk radikal polimer yang panjang. Pada tahap ini tidak
terjadi pengakhiran, polimerisasi terus berlangsung sampai tidak ada lagi gugs fungsi
yang tersedia untuk berekasi. Cara penghentian reaksi yang biasa dikenal adalah
dengan penghentian ujung atau dengan menggunakan salah satu monomer secara
berlebihan.

Pada tahap terminasi ini diinjeksikan sejumlah hydrogen yang berfungsi


sebagai terminator. Hydrogen sebagai terminator akan bergabung dengan sisi aktif
katalis sehingga terjadi pemotongan radkal polimer yang akan menghentikan
polimerisasi propilen.

Dalam pembuatan polipropilena terdapat dua macam bahan baku, yakni


1. Bahan baku utama (feedstock) dari polipropilena adalah propilena (C 3H6) yang
diambil dari minyak bumi untuk menjadi polipropilena.
2. Bahan baku penunjang, antara lain:
a.

Katalis (Kaminsk / Ziegler-Natta / metallocene)

Katalis Ziegler-Natta mampu membatasi berbagai monomer mendatang ke


sebuah orientasi yang spesifik, hanya menambahkan monomer-monomer
itu ke rantai polimer jika mereka menghadap ke arah yang benar.
Polipropilena yang paling tersedia secara komersial dibuat dengan katalis
Ziegler-Natta, yang menghasilkan polipropilena yang ada pada umumnya
isotaktik. Dengan gugus metal konsisten di satu sisi, molekul seperti itu
cenderung melingkar ke dalam bentuk heliks; heliks-heliks ini lalu berjajar
bersebelahan untuk membentuk Kristal yang memberikan sifat-sifat yang
diinginkan dari sebuah polipropilena komersial.

Katalis Kaminsky yang terekayasa dengan lebih presisi menawarkan


tingkat kendali yang lebih besar. Didasarkan pada molekul metalosena,
katalis ini menggunakan gugus organic untuk mengendalikan monomer
yang ditambahkan, sehingga pilihan katalis yang lebih tepat mampu
menghasilkan polipropilena isotaktik, sindotaktik atau ataktik, atau bahkan
kombinasi dari ketiga sifat tersebut. Selain control kualitatif tadi, katalis
Kaminsky membolehkan control kuantitatif yang lebih baik, dengan jauh
lebih baiknya rasio taktisitas yangdiinginkan daripada teknik Ziegler-Natta
sebelumnya. Katalis ini menghasilka pula distribusi berat molekul yag
lebih sempit daripada katalis Ziegler-Natta yang tradisional, yang mampu
meningkatkan berbagai sifat lebih jauh lagi.

Reaksi kebanyakan katalis metolesena membutuhkan sebuah ko-katalis


untuk pengaktifan. Salah satu ko-katalis yang paling umum digunakan
untuk tujuan ini adalah Methylaluminumoxane (MAO). Ko-katalis yang
lain adalah Al(C2H5)3. Ada sejumlah katalis metalosena yang bisa
digunakan untuk polimerisasi polipropilena. (Sejumlah katalis metalosena
dipakai untuk proses industry, sedangkan yang lain tidak, dikarenakan
harganya yang tinggi). Salah satunya yang paling sederhana adalah
Cp2MCl2 (M=Zr, Hf). Katalis yang berbeda bisa menghasilkan polimer
dengan berat molekul serta sifat yang berbeda. Katalis metalosena sedang
diteliti secara aktif.
Katalis metalosena bereaksi dulu dengan ko-katalis. Jika MAO adalah kokatalisnya, langkah pertama adalah menggantikan satu atom Cl d katalis
dengan satu gugus metal dari MAO. Gugus metal di MAO digantikan oleh
Cl dari katalis. MAO lalu menghilangkan Cl lainnya dari katalis. Ini
membuat katalis bermuatan positif dan rentan terhadap serangan dari
propilena.
Begitu katalis diaktifkan, ikatan ganda di propena berkoordinasi dengan
logamnya katalis. Gugus metal di katalis lalu bermigasi ke propena, dan
ikatan ganda terputus. Hal ini memulai polimerisasi. Begitu metal
bermigrasi maka katalis bermuatan positif terbentuk kembali dan propena
yang lain berkoordinasi dengan logam. Propena kedua berkoordinasi dan
migras berlanjut serta sebuah rantai polimer tumbuh dari katalis
metalosena.

b.

Ko-katalis Tri Ethyl Aluminium (TEAL), Al(C2H5)3


Ko-katalis berfungsi sebagai pembentuk kompleks katalis aktif yang
digunakan adalah Tri Ethyl Alumunium (TEAL). TEAL berwujud cairan pada
kondisi ruang, bening dan tidak berwarna.
Sifat-sifat fisik TEAL:
Sifat Fisik
Nilai
Titik didih (oC)
185
o
Titik beku ( C)
-58
Tekanan uap (mmHg)
0.025
Densitas (gr/mL)
0.8324
TEAL merupakan senyawa yang reaktif terhadap air dan udara, dan
dapat menyala secara spontan di udara. Apabila terjadi kebakaran gunakan dry

chemical, vermisalite, atau pasir kering sebagai pemadam. Jangan gunakan air.
Produk dekomposisi TEAL berbahaya, dapat berupa oksida karbon, oksida
alimunium, dan uap flammable yang mengandung debu. Laju alir TEAL yang
diumpankan ditentukan oleh rasio katalis terhadap ko-katalis dalam reactor.
c.

Selectivity Control Agent (NPTMS)

d.

Hydrogen

e.

Nitrogen

f.

Carbon Monoxide

g.

Aditif
Aditif ditambahkan guna mendapatkan produk polipropilena dengan
sifat tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Aditif berbentuk padatan dan
cairan. Aditif ditambahkan dalam resin sebelum proses pelleting. Aditif padat
ditambahkan ke resin pada master mix blender. Sedangkan aditif cair
ditambahkan pada mixer hopper sebelum extruder. Secara umum fungsi zat
aditif antara lain:

Untuk mempengaruhi sifat-sifat dari produk

Untuk mempermudah proses fibrikasi

Untuk mencegah pelapukan material akibat pengaruh sinar UV atau sinar


matahari

Untuk member warna dengan mengatur sifat transparansi

Macam-macam zat aditif yang digunakan yaitu:


-

Antioksidan : berfungsi untuk mencegah oksidasi dan perubahan warna


dari polimer maupun penurunan sifat mekanik.

Acid acceptor (penetral asam) : berfungsi untuk mencegah terjadinya


degradasi polimer dan korosi pada mesin produksi dengan menetralisir
residu anion yang bersifat asam.

Heat stabilizer (penstabil panas) : berfungsi mengurangi kemungkinan


kerusakan akiat adanya panas.

Nucleating and clarifying agent : berfungsi untuk meningkatkan


kejernihan produk dengan mempengaruhi ukuran Kristal lebih halus dan
homogeny. Millad merupakan clarifying agent yang berbentuk serbuk
putih dengan titik leleh 270oC dan berat molekul 378 gram/mol. Clarifying
agent merupakan perkembangan dari nucleating agent. Nucleating agent

berfungsi untuk membentuk lebih banyak Kristal atau pertumbuhan inti


Kristal.
-

Slip agent : berfungsi untuk melicinkan permukaan.

Anti block agent : berfungsi untuk mencegah lengket.

Optical brightening agent : berfungsi untuk menigkatkan keputihan.

Polipropilena dapat dibuat dari monomer propilen melalui proses polimerisasi


menggunakan katalis Ziegler-Natta, Kaminsky, atau metallocene. Pembuatan
propilena terdir dari 4 tahap besar. Pertama, persiapan bahan baku dari minyak
mentah untuk mendapatkan monomer. Kedua, monomer mengalami polimerisasi pada
produksi yang lebih besar. Ketiga, hasil dari polimerisasi terbentuk resin-resin
(pelet/butiran). Keempat, produk resin yang terbentuk akan diolah lebih lanjut untuk
menjadi produk baru.

Berikut adalah diagram alir pembuatan propilena.

Tahapan proses pembuatan Polipropilena, yaitu:

1. Persiapan bahan baku, dimana seperti yang telah dijelaskan jika bahan baku utama
pembuatan polipropilena adalah propena yang diambil dari minyak bumi untuk
menjadi polipropilena.
2. Selanjutnya bahan dimasukkan ke dalam reactor dimana di dalam rekator terjadi
reaksi polimerisasi propilen menjadi resin propilena dengan menggunakan
fluidized bed reactor fasa gas, reaksi ini terjadi di dalam unggun resin
polipropilena yang terfluidakan dengan menggunakan unggun resin.
3. Product Discharge System merupakan suatu system yang digunakan untuk
mengeluarkan resin yang terbentuk di dalam reactor dan dikirim ke product
receiver.
4. Pada product receiver ini terjadi proses pemisahan campuran gas hidrokarbon,
hydrogen, dan nitrogen dengan resin polipropilene, dari bagian bawah product
receiver dimasukkan gas nitrogen yang berasal dari nitrogen surge tank.
5. Purge bin merupakan alat yang digunakan untuk menetralisir sisa katalis dank o
katalis (TEAL) serta menghilangkan sisa-sisa gas yang masih terdapat di dalam
resin.
6. Pelletizing system dimana untuk proses pembuatan pellet polipropilen dari resin
polipropilena. Resin polipropilene yang berasal dari product purge bin dan aditif
masuk ke dalam polipropilen dan additive dicampur dan diletakkan di dalam long
continous mixer masuk ke dalam melt pump yang berfungsi untuk menaikkan
tekanan polimer agar polimer melewati transition piece1, screen changer
transition piece 2 dan die plate.
7. Hasil dari pelletizing system akan masuk ke dalam silo angd bagging dimana
pellet yang dihasilkan akan dimasukkan ke dalam silo dan untuk proses
pengantongan produk.

Bagan pembuatan Polipropilena dapat diringkas sebagai berikut:

Resin atau biji plastic yan telah terbentuk kemudian diproses lebih lanjut
untuk dijadikan produk baru. Salah satu caranya adalah dengan metode ekstrusi
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Proses ekstrusi adalah proses mengubah
bentuk dari bahan baku bijih plastic menjadi gulungan-gulungan atau roll plastic.
Pertama-tama bijih plastic dilelehkan pada Ekstruder, kemudian diinjeksikan melalui
cetakan, setelah keluar dari cetakan yang sesuai dengan profil yang diinginkan
dimasukkan ke dalam alat kalibrasi. Keluar dari alat kalibrasi masuk tangki air untuk
didinginkan, setelah dingin dimasukka ke bahan penarik kemudian dipotong-potong
sesuai dengan ukuran yang diminta pada alat potong dan disusun pada alat penyusun.

Berdasarkan kualitasnya, produk polipropilena yang dihasilkan digolongkan


menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Primer; merupakan produk yang memenuhi kualitas yang diinginkan

2. Near prime; merupakan produk yang menyimpang sedikit dari kualitas yang
diinginkan
3. Utility; merupakan produk yang tidak memenuhi kualitas yang diinginkan
Selain ketiga kategori di atas sebagai hasil sisa produk juga dihasilkan enam
jenis hasil sisa (scarp) yang masing-masing memiliki nilai jual tertentu dan disimpan
di gudang pokok. Keenam hasil sisa tersebut adalah:
1. Rebagging ; produk dari tumpahan pellet akibat karung yang rusak atau
berlubang, baik dari proses bagging maupun loading. Produk ini dikemas dalam
karung dan dapat diolah tetapi harus dipertimbangkan adanya pengotor.
2. Trash ; diperoleh dari proses produksi (ayakan), merupakan pellet over size atau
less than size.
3. Sweeping ; merupakan scarp yang sama dengan rebagging, kandungan pengotor
lebih banyak.
4. Dust ; merupakan ekor pellet yang memang harus dihilangkan dalam proses
produksi.
5. Resin ; berupa bubuk yang merupakan hasil reaksi yang tidak memenuhi
spesifikasi dan kualifikasi sehingga tidak menjadi pellet.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Polipropilena atau polipropena (PP) adalah sebuah polimer termo-plastik yang
dibuat oleh industry kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi, diantaranya
pengemasan, tekstil (contohnya tali, pakaian dalam termal, dan karpet), alat tulis,
berbagai tipe wadah etrpakaikan ulang serta bagian plastic, perengkapan
laboratorium, pengeras suara, komponen otomotif, dan uang kertas polimer.
Proses pembuatan Polipropilena yaitu resin atau biji plastic yan telah terbentuk
kemudian diproses lebih lanjut untuk dijadikan produk baru. Salah satu caranya
adalah dengan metode ekstrusi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Proses
ekstrusi adalah proses mengubah bentuk dari bahan baku bijih plastic menjadi
gulungan-gulungan atau roll plastic. Pertama-tama bijih plastic dilelehkan pada
Ekstruder, kemudian diinjeksikan melalui cetakan, setelah keluar dari cetakan yang
sesuai dengan profil yang diinginkan dimasukkan ke dalam alat kalibrasi. Keluar dari
alat kalibrasi masuk tangki air untuk didinginkan, setelah dingin dimasukka ke bahan
penarik kemudian dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang diminta pada alat
potong dan disusun pada alat penyusun.

DAFTAR PUSTAKA
http:www/firdaus ali POLIPROPILENA (polypropylene).html
http:www/Polimer Polipropilena (Pp), Acrylonitrile Butadiene Styrene (Abs) , Dan Poliuretan
_tommy putra simeulue.html
http:www/200912140808370.BukuSaku-Catatan2-Pengetahuan Dasar Polipropena.pdf
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/makromolekul/polimerisasi/
http://www.chandra-asri.com/product_types.php
http://id.wikipedia.org/wiki/Polipropilena