Anda di halaman 1dari 12

Unit Proses Saponifikasi: Pembuatan Sabun

LAPORAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Kimia
Industri

DISUSUN OLEH
Sinta Marfiani
Fadhlan F.
Ulfy D.N. Hamdani
Ikbar Ar-Rumaisha
Emille
Farras Famela Dhiya

140210120001
140210120006
140210120018
140210120028
140210120030
140210120045

Annisa Qonita Firda


Atika N.
Maulana Muhammad
Meiga Kurniawati
Arnel Amalia P.
Fitri Firdausi Ashadi

140210120048
140210120058
140210120068
140210120069
140210120076
140210120086

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN KIMIA
LABORATORIUM KIMIA MATERIAL
2015

UNIT PROSES SAPONIFIKASI: PEMBUATAN SABUN

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari praktikum pembuatan sabun (saponifikasi) ini adalah :
1
2
3

Mahasiswa mampu melakukan pembuatan sabun dari minyak.


Mahasiswa dapat melakukan proses saponifikasi sabun.
Mahasiswa dapat memahami proses saponifikasi dalam skala pilot.

II. PRINSIP PERCOBAAN


Percobaan ini didasarkan pada prinsip sebagai berikut :
1. Saponifikasi
Suatu proses hidrolisis ester dalam suasana basa untuk membentuk suatu
akohol dan garam dari asamnya.
2. Salting out
Proses pengendapan suatu zat akibat larutan lewat jenuh (supersaturated)
3. Like Dissolve Like
Kecenderungan suatu senyawa untuk larut dalam pelarut yang memiliki
tingkat kepolaran yang relatif sama.

III.

REAKSI

(Solomons & Fhryle, 2011).

IV.

TEORI DASAR
Saponifikasi merupakan suatu proses hidrolisis ester dalam suasana basa

untuk membentuk suatu akohol dan garam dari asamnya. Saponifikasi biasanya
digunakan untuk menggantikan reaksi logam basa dengan suatu lemak atau
minyak untuk membuat sabun (Solomons & Fhryle, 2011).
Hidrolisis ester dalam suasana basa untuk menghasilkan garam
karboksilat disebut saponifikasi karena merupakan proses yang digunakan untuk
membuat sabun. Secara tradisional, ester tristearat dari gliserol-asam stearat

C17H35COOH dihidrolisis dengan natrium hidroksida menghasilkan natrium


stearat, C17H35COONa, komponen utama dari sabun. Hidrolisis dengan KOH
menghasilkan kalium karboksilat, yang digunakan dalam sabun cair (Clayden, et
al., 2012)

Gambar 1, Reaksi Saponifikasi Asam Miristat (Clayden, et al., 2012).


Hidrolisis ester dengan penggunaan katalis asam mengikuti rute parallel
yang berbeda, penyerangan nukleofilik dilakukan oleh basa lemah, daripada oleh
ion hidroksida yang merupakan basa kuat. Tetapi terjadi dalam ester yang
terprotonasi lebih mudah dibanding pada ester bebas. Gambar dibawah ini
menerangkan paralelisme ini (Scharf & Malerich, 2000).

Gambar 2, Reaksi Saponifikasi Berkatalis-basa (Scharf & Malerich, 2000)

Gambar 3, Reaksi Saponifikasi Berkatalis-asam (Scharf & Malerich, 2000)


Asam lemak yang paling banyak ditemukan dalam lemak alami
diantaranya adalah sebagai berikut (Wintner, 2000):

Asam lemak jenuh yaitu :


Asam Laurat (Asam dodekanoat)
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-COOH
Asam miristat (Asam tetradekanoat)
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2COOH
Asam palmitat (asam heksadekanoat)
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-COOH
Asam stearat (Asam oktadekanoat)
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2CH2-CH2-CH2-CH2-COOH

Asam lemak tak jenuh

Asam oleat (asam oktadek-9-enoat)


CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH=CH-CH2-CH2-CH2CH2-CH2-CH2-CH2-COOH
Asam linoleat (asam oktadek-9, 12-dienoat)
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH=CH-CH2-CH=CHCH2-CH2-CH2-CH2-COOH

Gambar 4, Struktur Asam Lemak Tak Jenuh (kiri) & Asam Lemak Jenuh (kanan)
(Wintner, 2000)

V. ALAT DAN BAHAN


V.1

Alat
1
2
3
4
5
6
7

V.2

1.
2.
3.
4.
5.

VI.

Batang Pengaduk
Gelas Kimia
Hot Plate / Pemanas Elektrik
Neraca Analitis
Pipet Tetes
Spatula
Wadah plastik

Bahan
Aquades (H2O)
Crude Palm Oil (CPO) / Minyak Palem Mentah
Etanol (alkohol 99%)
Natrium Hidroksida (NaOH) 50%
Natrium Klorida (NaCl)

PROSEDUR
Sebanyak 30 mL Crude Palm Oil (CPO) diambil, lalu dimasukkan ke
dalam sebuah wadah. Ke dalam wadah berisi CPO tersebut kemudian
ditambahkan 30 mL etanol dan kurang lebih 15 mL larutan Natrium
hidroksida 50%, lalu diaduk sambil dipanaskan diatas pemanas elektrik (hot
plate) sambil terus diaduk. Setelah kurang lebih 30 menit kemudian ke dalam
campuran tersebut ditambahkan kurang lebih 150 mL larutan garam jenuh
(Natrium klorida), lalu diaduk sambil dipanaskan terus selama 2 jam sampai
semua cairan menguap dan terbentuk padatan berupa sabun.

Sabun yang telah terbentuk kemudian ditempatkan dalam wadah


kering dan didiamkan sampai mengeras. Setelah kering dan mengeras, sabun
yang telah didapat kemudian ditimbang.

VII.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

VII.1

Data Pengamatan

Nama Zat

Rumus Molekul

Berat Terpakai

Massa Molekul

Minyak Goreng

CH3-(CH2)16-COOH

16,145 gram

284,48 g/mol

Etil Alkohol

CH3-CH2-OH

46,07 g/mol

Natrium Klorida

Na-Cl

58,50 g/mol

Natrium Hidroksida

Na-OH

39,99 g/mol

VII.2

Tabel Pengamatan

Zat
Crude Palm Oil (CPO)

Perlakuan
Diambil 90 mL
(3 x 30 mL)
Ditambah 90 mL

etanol (3 x 30 mL)
Ditambahkan

Hasil
Massa minyak = 16,145
gram (30 mL)
Campuran kental

larutan Natrium
hidroksida 45 mL
Campuran CPO + Etanol
+ NaOH

berwarna merah jingga

50% (3 x 15 mL)
Diaduk sambil
dipanaskan 30

menit
Ditambah akuades
300 mL (3 x 100

Sabun

mL)
Ditambahkan

Campuran mengeras, air


menguap, terbentuk

larutan garam

sabun

jenuh
Dipanaskan sampai

Massa sabun = 114, 8531

mendidih dan

gram

diaduk
Dikeringkan lalu
ditimbang

VII.3 Perhitungan
VII.3.1

Biaya Investasi

Modal Tetap:
Timbangan
Reaktor (drum bekas 100 L)
Motor pengaduk
Sistem pemanas & kontrol
Wadah-wadah
Perlengkapan lainnya
Total Modal Tetap

: Rp 420.000,- (kapasitas 100 kg)


: Rp 75.000,: Rp 6.500.000,- (kapasitas 10 kg)
: Rp 12.000.000,: Rp 200.000,: Rp 150.000,+
: Rp 19.345.000,-

Modal Kerja
Persediaan bahan baku dan kemasan
Persediaan bahan jadi
Total Modal Kerja

: Rp 540.000,: Rp 1.235.000,: Rp 1.775.000,-

VII.3.2
Total Investasi
Total Modal = Modal Tetap + Modal Kerja
= Rp (19.345.000,-) + (1.775.000,-)
= Rp 21.120.000,VII.3.3
Biaya Operasional
Biaya bahan baku dan kemasan
o Minyak Goreng
o Natrium Hidroksida
o Etanol 99%
o Natrium Klorida Jenuh
Total Biaya Bahan Baku
Penyusutan peralatan (depresiasi alat)
Biaya operasional penjualan
Total Biaya Operasional

:
: Rp 1.260.000,- (100 liter)
: Rp 27.000,- (per kg)
: Rp 1.300.000,- (100 liter)
: Rp 1.500.000,- (per kg) +
: Rp 4.060.000,: Rp 11.090.000,: Rp 5.103.000,+
: Rp 20.253.000,-

VII.3.4
Perhitungan HPP
Harga pokok bahan baku : Rp 867.000,- (untuk 100 L)
Biaya HPP/Liter
: Rp 8.670,Apabila produk tersebut dijual per unit Rp 10.000,- maka :

Keuntungan/ liter

Keuntungan/ bulan

= HPP/ liter Harga Pokok Penjualan/liter


= Rp 10.000,- - Rp 8670,- = Rp 1330,= Keuntungan/ liter x Kapasitas Produksi/ bulan
= Rp 1330,- x 100 L = Rp 133.000,-/ bulan

VII.3.5
BEP

Perhitungan Break Even Point (BPP)


= Biaya operasional/ bulan : harga jual (kapasitas 100 L/bulan)
= Rp 20.253.000,- : Rp 1.000.000,= 20.253 buah (untuk 100 L)
BEP/ hari = BEP : 25 hari = 20.253 : 25 hari = 0,8102 L/hari

VII.3.6
Perhitungan Pay Back Period (PBP)
PBP = [(Total Investasi) : [(Target Penjualan/hari BEP/hari) x keuntungan/
liter x hari kerja/bln] ]
= [(Rp 21.120.000,-) : [ (4 L/hari 0,8102 L/hari) x Rp 1330,-/L x 25
hari)] ]
= [(Rp 21.120.000,-) : (106.060)]
= 199,13 bulan = ~ 16 tahun 6 bulan

VIII. PEMBAHASAN
Proses pembuatan

sabun dapat dilakukan dengan mereaksikan

trigliseraldehid dengan natrium hidroksida dengan proses saponifikasi. Pada


proses ini ikatan antara atom oksigen pada gugus asam karboksilat dan atom
karbon pada gliserol menjadi terpisah,dan atom oksigen mengambil satu ion
natrium yang berasal dari natrium hidroksida dan hal ini menyebabkan ujung dari
asam karboksilat menjadi larut dalam air. Garam natrium dari asam lemak ini
yang disebut sabun. Sedangkan gugus OH dalam hidroksida akan berikatan
dengan molekul gliserol. Apabila ketiga gugus asam lemak tersebut dilepas maka
reaksi saponifikasi dinyatakan selesai. Mekanisme reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut ;

R - OCOCH2
R - OCOCH

CH2OH
+

3 NaOH

3 R - COONa

R - OCOCH2
Triasilgliserol

CHOH
CH2OH

Sabun

Sodium Hidroksida

Tahapan

percobaan

yang

pertama

Gliserin

dilakukan

adalah

mencampurkan minyak goreng dan larutan natrium hidroksida dengan disertai


pemanasan. Proses pencampuran ini untuk mereaksikan trigliseraldehid yang ada
pada minyak goreng dengan natrium hidroksida sebagai inti dari proses
pembentukan sabun, reaksi dilakukan dengan pemanasan, hal ini agar terjadi
reaksi antara trigliseral dengan natrium hidroksida,selain itu pemanasan juga
dilakukan untuk meningkatkan kelarutan natrium hidroksida dalam minyak
goreng,sebab natrium hidroksida bersifat polar sedangkan minyak goreng bersifat
nonpolar, sehingga Natrium hidroksida tidak dapat larut dalam minyak goreng,
sehingga agar keduanya dapat bereaksi maka maka dilakukan pemanasan yang
dapat menurunkan kepolaran dari natrium hidroksida sehingga reaksi dapat
terjadi.
Pemanasan dilakukan selama kurang lebih 30 menit,pada saat pemanasan
dapat terjadi reaksi saponofikasi dan menghasilkan garam sodium dari asam
lemak (sabun) dan gliserol.Setelah reaksi selesai maka gliserol/ gliserin perlu
dipisahkan dari sabunnya. Hal ini dilkukan dengan menambahkan air kedalam
campuran tersebut agar menambah lebih cair dalam teksturnysa dan kemudian
menambahkan larutan garam natrium klorida jenuh.Penambahan garam natrium
klroida ini

dapat memisahkan gliserol dari sabunnya karena

gliserol lebih

mudah larut dalam larutan garam dibandingkan dengan sabunnya.Setelah


penambahan garam campuran masih dipanaskan ,hal ini bertujuan untuk
menguapkan air yang ada dalam campuran.
Setelah dipanasakan selama kurang lebih 30 menit, kemudian campuran
dibiarkan terpisah,ini biasanya disebut salting out sabun,setelah dibiarkan maka
didapatkan dua fasa yang terpisah ,sabun dibagian bawah dan fasa air ada
dibagian atas,hal ini terjadi karena berat molekul sabun lebih besar daripada
berat molekul air. Setelah itu, kedua fasa tersebut difilter untuk memisahkan fasa

sabun dari fasa cairnya yang juga mengandung gliserol. Pemisahan ini
berdasarkan perbedaan ukuran molekul ,dimana molekul-molekul sabun memiliki
ukuran moleul

lebih besar daripada ukuran molekul-molekul

dari fasa

cair,sehingga sabun tertahan dan fasa cairnya lolos dan keduanya dapat
dipisahkan,sehingga sabun dapat diperoleh.
Asam lemak yang digunakan dalam pembuatan sabun ini dapat
berupa asam,lemak jenuh maupun asam lemak tak jenuh.Apabila atom karbon
berikatan dengan ikatan tunggal maka disebut asam lemak jenuh ,dan apabila
semua atom karbon berikatan dengan ikatan rangkap maka disebut ikatan
rangkap tak jenuh.Asam lemak tak jenuh dapat dikonversikan menjadi asam
lemak jenuh dengan menambahkan atom hidrogen pada lokasi ikatan
ganda..Jumlah asam lemak tak jenuh dalam pembuatan sabun akan memberikan
pengaruh pelembutan pada sabun yang dibuat.
Sabun memiliki sifat yang unik yaitu bahwa salah satu ujung bersifat larut
dalam air (hidrofilik) dan yang satunya lagi bersifat tak larut dalam air
(hidrofobik) Pada proses pencucian dengan sabun,partikel minyak atau kotoran
dikelilingi oleh molekul sabun.Bagian hidripobik untuk dapat dihilangkan oleh
air. Hal ini menyebabkan kotoran minyak dapat larut dalam air,dan kemudian
dapat dibilas dengan air.
Dari hasil percobaan didapat sabun berwarna putih yang terbentuk
sebanyak 114, 8531 gram.

IX.

KESIMPULAN
Sabun dapat dibuat dengan mereaksikan suatu asam lemak dengan NaOH

melalui reaksi saponifikasi. Dari percobaan dihasilkan sabun sebanyak 114, 8531
gram.

DAFTAR PUSTAKA
Clayden, J., Greeves, N. & Warren, S., 2012. Organic Chemistry. 2nd edition.
London: Oxford University Press.

10

Solomons, T. & Fhryle, C., 2011. Organic Chemistry. 10th edition. New York:
John Wiley and Sons, Inc..
Scharf, W. , and Malerich, C. 2000. Preparation Of Soap. http://www2. latech.
edu/~dmg/preparation_soap.PDF.
Wintner, C. 2002. Hydrolysis of Esters. http://icn2. umeche.maine.edu/new
nav/NewNavigator/labs/esters_hydrolysis.htm.

11