Anda di halaman 1dari 28

Karya Tulis Ilmiah

PERHITUNGAN UMUR FOSIL DENGAN RADIOAKTIVITAS


DI JAWA BARAT DAN SEKITARNYA

Disusun Oleh:
Dimas Prianggoro
Emille
Kholid Arief
Muhammad Rifky
Rafif Zuhdi Widyanto
Sahril Sidiq Abdulloh
Widodo Agung Nugroho

Kelas
XI IPA 2

SMA NEGERI 13 BEKASI


Jl. Pariwisata Raya Perum Bumi Bekasi Baru Utara
Bekasi Indonesia
2010/2011

HALAMAN PENGESAHAN
Karya tulis berjudul Perhitungan Umur Fosil dengan Radioaktivitas di Jawa
Barat dan Sekitarnya yang disusun oleh :

1. Dimas Prianggoro
2. Emille
3. Kholid Arief
4. Muhammad Rifky
5. Rafif Zuhdi Widyanto
6. Sahril Sidiq, dan
7. Widodo Agung

Dengan pembimbing utama ibu Nur Pamungkas, S.Si telah dibaca dan di
verifikasi oleh pihak sekolah.
Diberikan di : Bekasi
Tanggal :

Guru Pembimbing 1

Guru Pembimbing 2

Nur Pamungkas, S.Si

Sri Wahyuning Dayati, S.Pd

NIP: 194705052006042038

NIP:
Mengetahui
Kepala SMAN 13 Bekasi

Sofian, S.Pd
NIP: 19560411983031006

MOTTO

Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia, maka hendaknyalah dia


meraihnya dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan kebahagian di
akhirat, maka gapailah ia dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki keduaduanya, maka rengguhlah pula ia dengan ilmu. (Al-Hadits).

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah S.W.T, Tuhan Yang Maha
Esa karena berkat rahmat dan ridha-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan
karya tulis ilmiah fisika ini dengan baik dan maksimal.
Karya tulis ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan sekolah
sebagai bagian dari penilaian kenaikan kelas XII serta mencoba untuk
menyampaikan kepada pembaca sekalian mengenai cara menghitung fosil yang
selama ini hanya kita kenal sebagai bagian dari masa lalu (part of the past).
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada wali kelas kami, Ibu Enik
Supriati, S.Pd dan guru fisika kami, Ibu Nur Pamungkas, S.Si yang ikut memberi
dorongan dan arahan kepada kami dalam pembuatan karya tulis ini serta kepada
pihak sekolah dan pihak Museum Geologi, Bandung yang juga ikut memberi andil
terhadap suksesnya pembuatan karya tulis ini. Ucapan terima kasih tak terhingga
juga diberikan kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan karya tulis
ini baik saat proses pengumpulan data, pengolahan hingga finishing yang tidak
dapat disebutkan satu persatu.
Pembuatan karya tulis ini masihlah jauh dari sempurna, maka dari itu kami
menerima segala kritik dan masukan yang membangun sebagai koreksi kami
untuk perbaikan karya tulis ini kedepan.
Sebagai penutup, kami tentunya berharap agar karya tulis ini tidak hanya sekedar
untuk dibaca melainkan untuk dipahami isinya dan mampu memberikan sedikit
manfaat bagi pengetahuan dan wawasan ilmu pembaca sekalian.

Bekasi, Januari 2011


Tim Penulis

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ i


MOTTO ................................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
BAB I: PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1

Latar Belakang Masalah ............................................................................1

1.2

Rumusan Masalah .....................................................................................1

1.3

Ruang Lingkup Permasalahan ...................................................................2

1.4

Tujuan Penulisan .......................................................................................2

1.5

Manfaat Penulisan .....................................................................................2

1.6

Metode Pengumpulan Data .......................................................................3

1.7

Sistematika Penulisan ................................................................................3

BAB II: LANDASAN TEORI ...............................................................................5


2.1

Teori Pendukung Penulisan .......................................................................5

2.1.1

Radioaktivitas.....................................................................................5

2.1.2

Waktu Paro/Paruh (Half Time)...........................................................6

2.1.3

Detektor Radiasi .................................................................................9

2.2

Batasan Penulisan ....................................................................................10

BAB III: PEMBAHASAN ...................................................................................11


3.1

Fosil di Indonesia dan Jawa Barat ...........................................................11

3.2

Kaitan Radioaktivitas dan Cara Menghitung Umur Fosil .......................14

iv

3.2.1

Dasar Perhitungan Umur Fosil dengan Radioaktivitas ....................14

3.2.2

Penerapan Perhitungan .....................................................................15

BAB IV: KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................17


4.1

Kesimpulan ..............................................................................................17

4.2

Saran ........................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................19


LAMPIRAN ..........................................................................................................20

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Prasejarah di kompleks situs Batujaya, Karawang ............. 6
Gambar 3.1 Fosil-Fosil Kayu yang terdapat di daerah Sajira, Banten .................. 12
Gambar 3.2 Fosil Tengkorak Kepala Kerbau Purba (Bubalus paleo kerabau) yang
ditemukan di Sukadami, Kab. Bekasi .............................................. 13

vi

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Waktu paruh berbagai radiosotop dan radiasi yang dipancarkan (Tipler,
1998). ...................................................................................................... 8

vii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Pembahasan mengenai fosil dan rumus menghitung umurnya dengan

radioativitas merupakan pembahasan umum yang oleh beberapa ilmuwan sudah


dibahas. Judul ini kami pilih karena mengungkap sisi lain prasejarah serta kami
ingin membahas, mengetahui sekaligus mendalami

tentang bagaimana cara

menghitungnya.
Penelitian tentang umur fosil sebenarnya sudah lama terjadi. Mulai dengan
cara sederhana yakni dengan merekonstruksi awal masa pra-sejarah hingga
menggunakan radioaktivitas saat ini. Hal ini tidaklah lepas dari perkembangan
zaman serta ditemukannya berbagai penemuan yang mendukung.
Membahas masalah fosil tentu tidak akan ada habisnya. Namun jika kita
mempelajari cara menghitung umur fosil, maka kita akan dapat memperkirakan
sendiri dari zaman manakah fosil tersebut berasal.
Maka dari itu, melalui makalah ini, kami mencoba untuk menggali secara
jelas dan memberikan informasi mengenai cara perhitungan ini dengan baik dan
akurat.

1.2

Rumusan Masalah
Berbagai permasalahan yang mengiringi pembahasan perhitungan umur

fosil dengan radioaktivitas diantaranya:


1. Bagaimana persebaran fosil di daerah Jawa Barat
2. Seberapa efektifkah penggunaan radioaktivitas dalam perhitungan umur
fosil di Jawa Barat
3. Bagaimanakah metode radioaktivitas dalam perhitungan umur fosil ini
dipergunakan?

4. Adakah kelebihan dan kekurangan perhitungan dengan cara tersebut


dibandingkan dengan metode radioaktivitas?
5. Apakah metode yang tepat untuk seharusnya digunakan dalam menghitung
umur fosil di daerah Jawa Barat?

1.3

Ruang Lingkup Permasalahan


Dalam karya tulis ilmiah ini, pembahasan akan diutamakan mengenai

radioaktivitas dalam peranannya di bidang geologi fisis (geofisika) sebagai salah


satu metode perhitungan umur fosil. Selebihnya hanyalah tambahan untuk
memperkaya pembahasan tersebut.

1.4

Tujuan Penulisan
Dalam membuat karya tulis ini, tentulah kami memiliki tujuan yang ingin

kami capai diantaranya:


1. Memenuhi tugas sebagaimana yang pihak sekolah berikan
2. Memberikan informasi kepada pembaca terkait dengan tema yang kami
ambil
3. Menjadikan karya tulis ini sebagai media pembelajaran yang efektif bagi
para pembaca sekalian.

1.5

Manfaat Penulisan
Pembuatan karya tulis dengan tema berjudul Menghitung Umur Fosil

dengan Teori Radioaktivitas diharapkan mampu memberi manfaat diantaranya:


1. Mendorong minat baca siswa/i SMAN 13 Bekasi
2. Memberikan sedikit wawasan kepada pembaca
3. Dapat menjadi media pembelajaran efektif bagi para pembaca
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua
pihak, khususnya kepada siswa untuk menambah pengetahuan dan wawasan
pembaca sekalian. Manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah dengan adanya

penulisan ini, diharapkan mampu mendorong minat membaca siswa SMA Negeri
13 yang menurut kami dirasa masih agak kurang.

1.6

Metode Pengumpulan Data


Data penulisan makalah ini diperoleh dengan metode studi kepustakaan.

Metode studi kepustakaan yaitu suatu metode dengan membaca telaah pustaka
mengenai fosil dan radioaktivitas. Selain itu, tim penulis juga memperoleh
beberapa data maupun referensi dari internet.

1.7

Sistematika Penulisan
Dalam penulisan karya ilmiah ini, tentulah ada sistematika dalam

penyusunannya agar teratur yakni:

Halaman Pengesahan
Motto
Kata Pengantar
Daftar Isi
Abstract
Intisari
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
1.4 Tujuan Penulisan
1.5 Manfaat Penulisan
1.6 Metode Pengumpulan Data
1.7 Sistematika Penulisan
Bab 2 Landasan Teori
2.1 Teori Pendukung Penulisan
2.2 Batasan Masalah

Bab 3 Pembahasan
3.1 Fosil di Indonesia & Jawa Barat
3.2 Radioaktivitas
3.3 Kaitan Radioaktivitas dan Cara Menghitung Fosil
3.4 Penerapan Perhitungan
Bab 4 Kesimpulan & Saran
Kesimpulan
Saran
Daftar Pustaka
Referensi Internet
Lampiran

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Teori Pendukung Penulisan


Dalam penyusunan karya ilmiah ini, tentulah penulis tidak hanya

mengambil sumber atas pemikiran sendiri, melainkan di dukung oleh sejumlah


teori yang relevan dengan tema karya ilmiah ini diantaranya:
a. Teori Radioaktivitas, dalam perkembangannya sebagai salah satu media
perhitungan umur fosil. Dalam hal ini adalah dengan penggunaan radioisotop. Teori ini berlandaskan perhitungan waktu paruh dari peluruhan zat
radioaktif. Dengan mengetahui kadar zat radioaktif dibandingkan dengan
adar zat luruhannya dapat diketahui kapan zat itu terbentuk (Amirulloh,
2011).
b. Laju Peluruhan, dimana untuk menghitung waktu yang diperlukan suatu
zat radioaktif untuk meluruh (sehingga hanya tinggal separuh).

2.1.1

Radioaktivitas
Radioaktivitas adalah peluruhan atau penyusunan ulang struktur-

struktur internal secara spontan. Peluruhan terjadi pada sebuah nukleus induk
dan menghasilkan sebuah nukleus anak. Ini adalah sebuah proses acak sehingga
sulit untuk memprediksi peluruhan sebuah atom. Radioaktivitas pertama kali
ditemukan pada tahun 1896 oleh fisikawan Perancis Henri Becquerel (1852-1908)
ketika sedang bekerja dengan material fosforen (King & Regev, 1997).
Radioaktivitas di Indonesia diterapkan dalam berbagai hal seperti untuk
kesehatan dan lainnya. Lembaga di Indonesia yang mengatur tentang hal ini
adalah Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN) dan Badan Pengawas Tenaga
Nuklir (BAPETEN) yang mengurusi masalah pengembangan, penelitian dan
pengawasan nuklir di Indonesia.

Radioaktivitas sendiri diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pengawas


Tenaga Nuklir Indonesia nomor 02/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Baku Tingkat
Radioaktivitas di Lingkungan. Dalam keputusan tersebut dijelaskan tentang
definisi radioaktivitas sebagai besaran yang menyatakan kekuatan sumber
radioaktif yaitu banyaknya /jumlah inti radioaktif yang mengalami proses
peluruhan per satuan waktu (BATAN, 1999). Dalam keputusan tersebut,
diterangkan mengenai nilai batas radioaktivitas di udara dan air.
Di Jawa Barat, penggunaan radioaktivitas dalam menghitung umur batuan/
fosil telah dilakukan oleh beberapa tim arkeolog Indonesia. Seperti tim arkeologi
Universitas Indonesia yang telah meneliti batuan pada candi Batujaya di antara
Desa Segaran dan Telagajaya, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa
Barat pada tahun 1984.

Gambar 2.1 Kerangka Prasejarah di kompleks situs Batujaya, Karawang

2.1.2

Waktu Paro/Paruh (Half Time)


Waktu paro adalah selang waktu yang dibutuhkan agar aktivitas radiasi

berkurang setengah dari aktivitas semula. Waktu paro juga dapat didefinisikan
sebagai selang waktu yang dibutuhkan agar setengah dari inti radioaktif yang ada
meluruh (Tipler, 1998), Untuk menghitungnya digunakan rumus :

Keterangan:

1 = [

T1/2 : Waktu paro

ln 2
0,693
]= [
]

In : Logaritma Natural
: tetapan peluruhan (S-1)

Sementara untuk menghitung umur bahan radioaktif digunakan persamaan diatas


dengan:
1

= ( ) 0

Dengan

= 1
2

1 1/2

1 1
= ( )
0
=( ) 2
2
0
2

1
2

ln (

) 1
2

ln ( )
] 1
=[
2
(0,693)

Keterangan:

t: umur fosil,

N/No: perbandingan kandungan C-14 pada fosil jaringan hidup,

T1/2: waktu paro (dalam fosil dikenal T1/2 Carbon-14 = 5730 tahun.

(-0,693): hasil logaritma natural (ln) 1/2

In: Logaritma Natural (Logaritma dengan bilangan pokok e)

Elemen radioaktif ini berangsur-angsur meluruh sehingga hilanglah sifat


radioaktivitasnya menjadi radioaktif yang massanya menjadi separuh, waktu
peluruhannya disebut waktu paruh atau half life (Yuwono, 2007). Waktu paruh
bisa menjadi sangat pendek atau sangat panjang. Tabel 3.1 menunjukkan waktu
paruh (t1/2) dari beberapa jenis isotop radioaktif.

Tabel 3.1 Waktu paruh berbagai radiosotop dan radiasi yang dipancarkan (Tipler,
1998).
Radioisotop

Radiasi yang Dipancarkan

Waktu Paruh (t1/2)

Kr-94

1,4 detik

Rn-222

3,8 hari

I-131

8 hari

Co-60

5,2 tahun

H-3

12,3 tahun

C-14

5730 tahun

U-238

4,5 miliar tahun

Rb-87

49 miliar tahun

Cuplikan waktu paruh penting untuk diketahui, sebab dapat digunakan


untuk menentukan kapan suatu bahan radioaktif aman untuk ditangani. Aturannya
adalah suatu cuplikan dinyatakan aman bila radioaktivitasnya telah turun sampai
di bawah batas pengamatan (ini terjadi setelah 10 kali waktu paruh). Aplikasi
waktu paruh yang sangat berguna adalah pada pelacakan radioaktif. Ini
berhubungan dengan penentuan usia benda-benda kuno (Benton, 2008).
Karbon 14 (C-14) adalah isotop karbon radioaktif yang dihasilkan di
atomosfer bagian atas oleh radiasi kosmis. Senyawa utama di atmosfer yang
mengandung karbon adalah karbon dioksida (CO2). Sangat sedikit sekali jumlah
karbon dioksida yang mengandung isotop C-14. Tumbuhan menyerap C-14
selama fotosintesis. Dengan demikian, C-14 terdapat dalam struktur sel tumbuhan.
Tumbuhan kemudian dimakan oleh hewan, sehingga C-14 menjadi bagian dari
struktur sel pada semua organisme.
Selama suatu organisme hidup, jumlah isotop C-14 dalam struktur selnya
akan tetap konstan. Tetapi, bila organisme tersebut mati, jumlah C-14 mulai
menurun. Para ilmuwan kimia telah mengetahui waktu paruh dari C-14, yaitu
5730 tahun. Dengan demikian, mereka dapat menentukan berapa lama organisme
tersebut mati.

2.1.3

Detektor Radiasi
Sinar radioaktif sangatlah berbahaya dan tidak dapat dilihat sehingga

diperlukan alat untuk mendeteksi adanya sinar radioaktif. Alat inilah yang
kemudian disebut detektor radiasi (Tipler, 1998). Berikut ini adalah beberapa jenis
detektor radiasi serta fungsinya:

Pencacah Geiger (GM)


Pencacah Geiger Muller adalah detektor yang paling umum digunakan
untuk mendeteksi radiasi. Alat ini berfungsi untuk menentukan/mencacah
banyaknya radiasi sinar radioaktif. Sensornya adalah sebuah tabung
Geiger-Mller, sebuah tabung yang diisi oleh gas yang akan bersifat
konduktor ketika partikel atau foton radiasi menyebabkan gas (umumnya
Argon) menjadi konduktif.

Kamar Kabut Wilson


Kamar kabut Wilson adalah alat yang digunakan untuk mengamati jejak
partikel radioaktif. Pada mulanya, tahun 1911 C.T.R Wilson menemukan
bahwa ion-ion gas dapat bertindak sebagai inti pengembunan. Ia
menyadari bahwa gejala ini dapat digunakan untuk menunjukkan lintasan
radiasi ionisasi melalui udara, sehingga akhirnya dibuatlah kamar kabut
(Cloud Chamber).

Film Fotografis
Film fotografis digunakan untuk mengamati jejak, jenis dan mengetahui
intensitas partikel radioaktif. Bacquerel telah menggunakannya ketika ia
secara tidak sengaja menemukan radioaktivitas alami dari uranium (baca
subbab 3.3). Disini Bacquerel menemukan sinar radioaktif yang telah
menghitamkan film.

Detektor lainnya
Selain ketiga detektor umum diatas, ternyata masih terdapat beberapa
macam detektor radiasi lainnya seperti:
1. Kamar gelembung (bubble chamber)

2. Kamar kawat (wire chamber)


3. Kamar ion, yang berisi gas BF3.
4. Detektor Sintilasi, yang memanfaatkan efek fotolistrik

2.2

Batasan Penulisan
Dalam penulisan karya ilmiah ini, pembahasan penerapan radioaktivitas

dalam kaitannya dengan perhitungan umur fosil akan dibahas dengan terperinci,
sementara lainnya akan ditambahkan sebagai penjelasan/ informasi terhadap
pembahasan diatas

10

BAB III
PEMBAHASAN

3.1

Fosil di Indonesia dan Jawa Barat


Dalam penelitian kami di Museum Geologi, Jawa Barat, terungkap bahwa

Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan dan sejarahnya di masa lalu.
Hal ini tak terlepas dari kehidupan pra-sejarah bangsa Indonesia. Fosil adalah
bukti adanya kehidupan sebelum zaman sejarah dimulai. Hal ini terlihat dari fosilfosil yang tertata rapi di museum tersebut. Jawa Barat sendiri adalah bagian dari
wilayah yang memiliki keragaman fosilnya. Sejarah alam Jawa Barat sendiri
dimulai bersamaan dengan terbentuknya Paparan Sunda pada zaman Plestosen
(sekitar 3 -10 juta tahun yang lalu) (Danasasmita, 1984) menjadikan Jawa Barat
kaya akan fosil-fosil hewan purba yang ditemukan di beberapa jalur yang dilalui
hewan purba untuk bermigrasi akibat peristiwa alam yang terjadi. Beberapa fosil
hewan purba yang sudah ditemukan di Jawa Barat terdapat di Kota Bekasi (fosil
tanduk kepala kerbau) dan Kabupaten Ciamis (fosil rahang dan tulang kaki
stegodon, fosil taring kuda nil, fosil tulang kaki banteng).
Sejarah budaya Jawa Barat yang dimulai sejak masa prasejarah, 2 juta
hingga 2000 juta tahun yang lalu, menjadi lebih khas dengan ditemukannya fosil
Pithecanthropus erectus beserta peralatan hidup nomadennya berupa kapak
perimbas di Tasikmalaya dan Ciamis (Asmar, 1975). Peninggalan sejarah budaya
Jawa Barat lainnya yang menunjukkan perkembangan dari pola hidup nomaden
menjadi pola hidup menetap adalah kubur peti batu di Kuningan serta punden
berundak situs Gunung Padang di Cianjur.
Di Museum Geologi, terungkap bahwa Indonesia kaya akan fosil. Tak
hanya fosil manusia saja namun juga fosil tumbuhan (kayu) maupun hewan. Di
Indonesia, banyak juga terdapat fosil kayu sebagai harta terpendam yang masih
banyak belum di gali. Karakteristik fosil ini adalah unik, keras, dingin,
bercahaya,warna-warni dan berusia jutaan tahun. Lokasi-lokasi fosil kayu banyak

11

terdapat di beberapa titik di Jawa Barat, yaitu di daerah Banten, Sukabumi, dan
Tasikmalaya.
Di Banten, terdapat fosil kayu yang berasal dari batang pohon yang
tertimbun karena proses sedimentasi selama jutaan tahun di dalam tanah.
Kawasan yang memiliki banyak timbunan fosil kayu tersebut berada di daerah
Sajira, Kabupaten Lebak Banten.

Gambar 3.2 Fosil-Fosil Kayu yang terdapat di daerah Sajira, Banten

Sementara di Sukabumi dan Tasikmalaya terdapat fosil kayu dengan


ukuran yang bervariasi. Di Sukabumi misalnya yang terbaru yakni penemuan fosil
kayu di Kampung Cikatomas, Desa Ginanjar, Kecamatan Ciambar. Fosil yang
diduga berusia ratusan tahun ini memiliki panjang 14 meter dengan diameter
sekitar 1 meter berada di bawah permukaan tanah dengan kedalaman antara 2
meter hingga 4 meter. Sementara di Tasikmalaya terdapat fosil kayu di daerah
Kampung Pasirgintung, Desa Buniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten
Tasikmalaya.
Selanjutnya, fosil hewan di Indonesia lebih beragam. Di Jawa Barat
tepatnya di Bandung, terdapat fosil ular dan ikan yang ditemukan pada lapisan
tanah bekas Danau Bandung serta artefak diperagakan dalam bentuk aslinya.

12

Artefak yang terkumpul dari beberapa tempat di pinggiran Danau Bandung


menunjukkan bahwa sekitar 6000 tahun lalu danau tersebut pernah dihuni oleh
manusia prasejarah. Di Bekasi, bahkan terdapat tengkorak tanduk kepala kerbau.
Fosil tengkorak kerbau purba (Bubalus Paleo Kerabau) ini terdiri dari tengkorak
kepala bagian atas serta kedua tanduk, tulang rahang bawah dengan gigi bawah
dan beberapa potongan tulang lainnya. Hewan ini diperkirakan pernah hidup di
Pulau Jawa kurang lebih 1,8 juta tahun yang lalu (masa Plestosen akhir).Fosil
hewan ini ditemukan di desa Sukadami, Kabupaten Bekasi.

Gambar 3.3 Fosil Tengkorak Kepala Kerbau Purba (Bubalus paleo kerabau) yang
ditemukan di Sukadami, Kab. Bekasi

Fosil hewan lainnya adalah fosil ruas tulang belakang ikan paus purba
yang ditemukan di daerah Surade, Sukabumi. Dimana paus purba tersebut
diperkirakan hidup sekitar 8 juta tahun yang lalu.
Benar sajalah bahwa Indonesia khususnya Jawa Barat kaya akan fosil
makhluk hidup. Namun dalam memperkirakan umur dari makhluk tersebut hidup
dibutuhkan sebuah metode dalam penentuan umur tersebut. Saat ini telah
ditemukan metode perhitungan yang lebih ilmiah dan akurat yakni dengan
radioaktivitas. Bagaimanakah Radioaktivitas berkembang di Jawa Barat. Mari kita
lihat berikut ini.

13

3.2

Kaitan Radioaktivitas dan Cara Menghitung Umur Fosil


Saat ini telah dijumpai cara pengukuran usia fosil yang lebih modern,

yaitu dengan menggunakan elemen radioaktif. Elemen radioaktif adalah elemen


yang dapat memancarkan cahaya (invisible light) alfa, beta, dan gamma.
Dengan meningkatkannya pengetahuan isotop radioaktif, hal ini memungkinkan
untuk memperkirakan usia fosil secara lebih akurat. Di antara isotop radioktif
yang dapat digunakan untuk maksud tersebut adalah Uranium-238 (U-238),
Potasium-40 (K-40), dan Carbon-14 (C-14). Isotop Uranium dan Potasium sangat
baik untuk memberikan data tentang umur lapisan bumi, sedangkan isotop karbon
sangat bermanfaat untuk memberikan data tentang umur fosil.

3.2.1

Dasar Perhitungan Umur Fosil dengan Radioaktivitas

Perhitungan umur fosil dengan radioaktivitas diawali setelah adanya


penemuan radioaktivitas oleh Henri Bacquerel tahun 1896 dan Marie Curie. Ia
menjelaskan terkait adanya sejumlah isotop yang tergolong radioaktif seperti Kr94, H-3, C-14, Co-60, U-238, dan lainnya.
Penelitian selanjutnya datang dari Martin David Kamen (1913-2002) dan
Sam Ruben yang menemukan Isotop Karbon-14 (C-14) tahun 1940. Lalu
penelitian berlajut ketika tahun 1942, seorang kimiawan yang bernama Williard
Frank Libby (1908-1980) menemukan metode pertama dalam penanggalan
material dalam asal-usul biologis (biological origin). Libby menyadari bahwa
semua mahluk hidup memiliki karbon yang relatif konstan antara 14-12 karbon
rasio.
Karbon-14 ternyata merupakan radioaktif sehingga Libby tahu bahwa
ketika makhluk hidup itu mati, mereka akan berhenti menyerap karbon. Beberapa
tahun kemudian oleh isotop karbon 14 terjadi pembusukan yang akan
membuatnya menjadi nitrogen 14 sesuai dengan jadwal yang sangat tepat
sedangkan karbon 12 akan tetap tidak berubah. Dengan demikian rasio karbon
karbon 14 sampai 12 akan berubah dan dengan mengukur seberapa banyak

14

perubahan yang terjadi akan memungkinkan untuk mengetahui umur apa saja
yang berasal dari tanaman hidup atau hewan.
Menghitung dengan metode perhitungan pembusukan yang digunakan
Libby melibatkan perhitungan radioaktivitas oleh karbon padat dengan
menggunakan pencacah Geiger yang telah dimodifikasi. Libby awalnya menguji
metode radiokarbon pada sampel yang beberapa tanggalnya diketahui,
kebanyakan adalah benda-benda prasejarah Mesir. Melalui perhiyungan ini,
sebuah kayu dari makam Firaun Djoser (3 Dinasti) mereka ketahui adalah sekitar
4700 tahun. Sejak paruh karbon 14 itu diperkirakan sekitar 5.700-an tahun ia
diharapkan untuk menemukan sekitar setengah dari 14 konsentrasi karbon seperti
yang akan ditemukan di alam.
Tes-tes lain dilakukan pada sampel kayu tanggal lingkaran pohon dengan
menggunakan metode dating (dendrochronology) menunjukkan bahwa karbon 14
adalah sah bahwa waktu paruh karbon 14 sekitar 5730 tahun.
Dengan cara menggunakan radioaktif C-14 yang dikenal dengan istilah
'Carbon-14 Dating', caranya dengan membandingkan jumlah Carbon-14 yang ada
di dalam fosil tersebut dengan kandungan C-14 di makhluk hidup, kemudian
menghitungnya dengan menggunakan rumus waktu paro (BSNP, 2006)

3.2.2

Penerapan Perhitungan

Penerapan perhitungan umur fosil ini dapat dilihat pada ilustrasi beriku.
Dalam penelitian kami di Museum Geologi terdapat fosil batuan yang semula
mengandung U238 sehingga dapat ditentukan umurnya dengan menghitung kadar
Pb206 pada batuan yang tersisa (sekarang). U238 akan berhenti meluruh jika telah
terbentuk Pb206.

238
92

4
0
206
82 + 8 2 + 6 1

Jadi setiap 238 gram U238 setelah berhenti meluruh akan menghasilkan 206 gram
Pb206. Waktu paruh U238 adalah 4,5 x 109 tahun. Setelah 4,5 x 109 tahun, 1 gram
U238 akan menghasilkan ( x 1= 0,5) gram U238 dan ( x 206238 = 0,43) gram

15

Pb206. Jika dimisalkan sedikit sampel batuan tersebut mengandung 1 gram U238
dan 0,76 gram Pb206, maka:

236

Massa U238 semula (N0) = 1 + (206 0,76) gram = 1,88 gram


1

0,693

Umur batuan (t) dapat dicari dengan persamaan: ln 1,88 = 4,5109


4,5109

Jadi umur batuan tersebut (t) = (

0,693

) ln

1,88
1

= 4,099 109

Umur sisa mahluk hidup (fosil) dapat ditentukan dengan mengukur


radioaktifitas atau laju peluruhan C14 pada sisa mahluk hidup dan dibandingkan
dengan laju peluruhan C14 pada mahluk hidup sekarang. Penggunaan radiasi C14
untuk menentukan umur sisa mahluk hidup ini disebut Radiocarbon Dating.
Kemudian, untuk radioaktifitas C14 pada fosil sisa tumbuhan (= A) = 10
peluruhan permenit pergram 14 C , Radioaktifitas C14 pada tumbuhan sekarang (=
Ao) = 50 peluruhan permenit pergram C14. Waktu paruh C14 = 5 730 tahun. Maka
umur fosil (= t) dicari dengan persamaan:

ln

10
0,693
50 0,693
=
ln
=

50
5730
10 5730

5730
50
ln = 13.307, 47
0,693
10

16

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan
Jawa Barat adalah bagian dari wilayah di Indonesia yang memiliki

keragaman fosilnya. Sejarah alam Jawa Barat sendiri dimulai bersamaan dengan
terbentuknya Paparan Sunda pada zaman Plestosen yang menjadikan Jawa Barat
juga kaya akan fosil-fosil hewan purba yang ditemukan di beberapa jalur yang
dilalui hewan purba untuk bermigrasi akibat peristiwa alam yang terjadi.
Fosil-fosil di Jawa Barat menggambarkan bagian hidup dari makhluk
hidup di Jawa Barat era pra-sejarah yang didalamnya merupakan salah satu contoh
aplikasi radioaktivitas. Hal ini diaplikasikan pada kandungan Karbon C-14 yang
terkandung dalam setiap makhluk hidup. Saat hidup, makhluk hidup menyerap
dan mengeluarkan karbon C-14 sehingga persentase karbon C-14 dalam tubuh
selalu tetap. Begitu mereka mati, ia berhenti memproduksi karbon baru sehingga
persentase karbon C-14 berkurang karena inti C-14 meluruh dengan
memancarkan sinar beta. Perbandingan carbon-12 dengan carbon-14 di saat
kematian sama untuk setiap mahluk hidup, namun carbon-14 meluruh dan tidak
tergantikan. Peluruhan carbon-14 memiliki waktu paruh 5.730 tahun, sementara
jumlah carbon-12 tetap dalam sampel.
Dengan melihat perbandingan carbon-12 dengan carbon-14 pada sampel
dan membandingkannya dengan perbandingan dalam organisme hidup, adalah
mungkin menentukan usia mahluk yang dulunya hidup ini dengan cukup teliti.
Teknik inilah yang kemudian dikenal sebagai penentuan umur dengan radioaktif
(radioactive dating). Teknik ini banyak digunakan oleh ahli antropologi sehingga
mereka dapat mengetahui umur fosil dalam periode sampai 40000 tahun dengan
akurat.
Pengembangan perhitungan ini di Jawa Barat perlu dilakukan agar dapat
meningkatkan keakurasian data umur fosil yang ditemukan. Jawa Barat sebagai

17

bagian

dari

daerah

dengan

sejarahnya

yang

panjang

tentu

perlu

mengembangkannya dengan dibantu oleh pemerintah melalui BATAN dan


kalangan akademisi.
Dalam penerapannya, dapat menggunakan teknik tersebut untuk menaksir
umur batuan saat miliaran tahun yang lalu dimana batuan terbentuk dari magma,
kristal uranium-238 dan sebagainya. Uranium-238 memiliki waktu paruh yang
sangat panjang (4,5 miliar tahun) sehingga memungkinkan penaksiran umur
batuan. Batuan tertua yang pernah ditemukan dibumi kira kira berumur 4,6 miliar
tahun.
Penggunaan beragam radioisotop memungkinkan sampel biologis dan
geologis ditentukan usianya dengan akurat. Walau demikian, penanggalan
radioisotop tidak akan bekerja baik di masa depan, apapun yang mati setelah
tahun 1940an, saat bom nuklir, reaktor nuklir dan uji nuklir udara terbuka mulai
merubah segala hal, akan sulit menentukan usia dengan tepat.

4.2

Saran
Dari kesimpulan diatas, penulis dapat memberikan sedikit saran kepada

pembaca sekalian diantaranya:


1. Dalam perhitungan umur fosil diperlukan ketelitian yang penuh karena
sedikit kesalahan dapat memberikan hasil akhir yang salah.
2. Diperlukannya pengembangan oleh BATAN sebagai pemegang kendali
radioaktivitas di Indonesia bersama kalangan akademisi untuk lebih
mensosialisasikan perhitungan umur fosil dengan metode ini kepada
masyarakat.

18

DAFTAR PUSTAKA

Amirulloh, G., 2011. Alam Semesta dan Tata Surya. [Online]


Available at: http://iaduhamka.blogspot.com/
[Diakses 10 2 2011].
Asmar, T. d., 1975. Sejarah Jawa Barat : dari masa pra-sejarah hingga masa
penyebaran Agama Islam. Bandung: Proyek Pembangunan Pemerintah
Jawa Barat.
BATAN, B. T. A. N., 1999. Keputusan Kepala BAPETEN No. 5 Tahun 1999
tentang Baku Tingkat Radioaktivitas di Lingkungan. [Online]
Available at:
http://ansn.bapeten.go.id/download.php?fid=&filename=BDI_sk-02-99...
[Diakses 10 2 2013].
Benton, M. J., 2008. Vertebrae Palaeontology. London: Blackwell Publishing.
BSNP, 2006. Kurikulum 2006 KTSP: Mata Pelajaran Fisika untuk Sekolah
Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta: Depdiknas.
Danasasmita, S., 1984. Sejarah Jawa Barat. Bandung: Pemda Tk I Jawa Barat.
Diah, F. I., 2011. Frederick Soddy, Nobel Kimia Penguak Rahasia Radioaktivitas.
[Online]
Available at: http://www.chem-is-try.org/tokoh_kimia/frederick-soddynobel-kimia-penguak-rahasia-radioaktivitas/
[Diakses 10 2 2011].
King, A. R. & Regev, O., 1997. Physics with Answer. Cambridge: Cambridge
University Press.
Soddy, F., 1992. Radioactivity. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Tipler, P. A., 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Yuwono, T., 2007. Biologi Molekular. Jakarta: Penerbit Erlangga.

19

LAMPIRAN

20