Anda di halaman 1dari 13

Proses Produksi Alum (Tawas)

LAPORAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Kimia
Industri

DISUSUN OLEH
Sinta Marfiani
Fadhlan F.
Ulfy D.N. Hamdani
Ikbar Ar-Rumaisha
Emille
Farras Famela Dhiya

140210120001
140210120006
140210120018
140210120028
140210120030
140210120045

Annisa Qonita Firda


Atika N.
Maulana Muhammad
Meiga Kurniawati
Arnel Amalia P.
Fitri Firdausi Ashadi

140210120048
140210120058
140210120068
140210120069
140210120076
140210120086

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN KIMIA
LABORATORIUM KIMIA MATERIAL
2015

PROSES PRODUKSI ALUM (TAWAS)

I. TUJUAN PERCOBAAN
1.

Mengaplikasikan perhitungan stoikiometri dalam skala industri.

2.

Membuat koagulan (tawas) semi pilot

3.

Mempelajari proses, operasi pembuatan tawas

4.

Menghitung ekonomi pembuatan tawas dan dapat menghitung HPP


tawas.

II. PRINSIP PERCOBAAN


Percobaan ini didasarkan pada prinsip sebagai berikut :
1. Pembentukan Garam Rangkap
Garam rangkap terbentuk apabila dua garam mengkrisltal secara
bersamaan dalam perbandingan molekul tertentu
2. Kristalisasi
Proses pembentukan kristal yang didasari atas pemisahan senyawa dari
larutannya karena perbedaan kelarutan dalam pelarut panas dan dingin.
2.1 Like Dissolve Like
Kecenderungan suatu senyawa untuk larut dalam pelarut yang
memiliki tingkat kepolaran yang relatif sama.
2.2 Perbedaan Kelarutan
Perbedaan kelarutan suatu senyawa dalam pelarut panas dan dingin

III.

REAKSI

Alum dari alumunium hidroksida dibuat dengan jalan mereaksikan Al(OH)3


dengan asam sulfat (H2SO4) dengan reaksi seperti dibawah ini:
Al3+(aq) + K+aq) + 2SO4-(aq) + 12H2O () KAl(SO4)2.12H2O(s)
Reaksi parsialnya:
2 Al(OH)3 (aq) + 3H2SO4 (aq) Al2(SO4)3 (aq) + 6 H2O (l)
(Tawas butek)
Al2(SO4)3 + K2SO4 KAl(SO4)2.12H2O(s) (Tawas)
(Svehla, 1990)

IV.

TEORI DASAR
Alum merupakan salah satu senyawa kimia yang dibuat dari molekul air

dan dua jenis garam, salah satunya biasanya Al 2(SO4)3. Alum kalium merupakan

senyawa yang tidak berwarna dan mempunyai bentuk kristal oktahedral atau
kubus ketika kalium sulfat dan aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan
didinginkan. Larutan alum kalium tersebut bersifat asam. Alum kalium memiliki
titik leleh 900oC. Kalium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas kalium) dengan
rumus KAl(SO4)2.12H2O digunakan dalam pemurnian air, pengolahan limbah,
dan bahan pemadam api (Firshen, 2011).
Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas
adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan, sudah
dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. Alum atau tawas sebagai
penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. Alum atau
tawas merupakan bahan koagulan, yang paling banyak digunakan karena bahan
ini paling ekonomis (murah), mudah didapatkan di pasaran serta mudah
penyimpanannya. Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalam air, yaitu
terjadi proses hidrolisis, yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang
bersangkutan. Rentang pH untuk jenis koagulan alum sebesar 5,5 sampai 7,8
(Budi, 2006).
Tawas adalah bahan kimia yang sering digunakan orang untuk proses
penjernihan air, yang fungsinya adalah sebagai bahan penggumpal padatanpadatan yang terlarut di dalam air. Aluminium dalam tawas adalah ion logam
berat yang toksik, dan kebanyakan masuk ke dalam tubuh manusia bersama
dengan makanan. Pada usus, ion logam tersebut diserap ke dalam darah, dan akan
terikat sekitar 90% pada eritrosit dan sisanya berada dalam plasma. Ion
aluminium tersebut terdistribusi ke seluruh jaringan dan berikat an dengan
protein pengikat logam (metalotionein) karena logam tersebut mempunyai
kecenderungan untuk berikatan dengan gugus sulfidrilnya (Cheung et al., 2001)
Tawas merupakan senyawa kimia berupa garam sulfat yang memiliki
banyak sekali ragamnya. Jenis tawas lainnya adalah seperti Tawas Natrium untuk
bahan pengembang roti, Tawas Kalium untuk pengolah limbah, Tawas Besi untuk
penyamakan kulit dan bahan pewarna.(Prayoga dkk., 2013)
Produksi pembuatan tawas dapat dibuat melalui dua cara yaitu (Alaerts &
Santika, 1984)
1. Proses Bauxite

Dengan proses bauxite ini tawas dibuat langsung dari bauxite dan asam
sulfat. Dimana bauxite mengandung kurang lebih 50% Al(OH)3.
2. Proses Al(OH)3
Dengan proses Al(OH)3 ini tawas dibuat dari Al(OH)3 yang direaksikan
dengan asam sulfat membentuk alum sulfat.
Tawas sendiri dapat dibuat dengan mereaksikan Al2(SO4)3pada kondisi
panas dan larutan lewat jenuh dengan penambahan senyawa K 2SO4. Dalam
proses pembuatan larutan Al2(SO4)3 dilakukan dengan penambahan Al2(SO4)3
dengan air panas 80oC dan larutan putih yang dihasilkan tidak boleh lebih
terhidrolisis dan larutan dalam keadaan lewat jenuh sehingga lewat jenuh agar
nantinya dapat dilakukan rekristalisasi untuk mendapatkan hasilnya. Saat
pelarutan terjadi larutan Al2(SO4)3 jika terdapat pada suhu yang lebih rendah akan
membentuk larutan kental dan jika didiamkan akan mengkristal (Poler, 2009).
Laju pertumbuhan inti dapat dinyatakan dengan jumlah inti yang
terbentuk dalam satuan waktu. Jika laju pembentukan inti tinggi, banyak sekali
kristal yang akan terbentuk, tetapi tak satupun dari inti akan tambah menjadi
terlalu besar. Jadi terbentuk endapan yang terdiri dari partikel-partikel kecil. Laju
pembentukan inti tergantung pada derajat lewat jenuh (supersaturasi) dari larutan.
Makin tinggi derajat lewat jenuh, makin besar kemungkinan untuk membentuk
inti baru, jadi semakin besarlah laju pembentukan inti (Svehla, 1990).
Laju

pertumbuhan

kristal

merupakan

faktor

lainnya

yang

mempengaruhi ukuran kristal yang terbentuk selama pengendapan berlangsung.


Jika laju inti tinggi, kristal besar-besar terbentuk. Namun sebaliknya jika
diciptakan kondisi-kondisi pada mana lewat jenuhnya sedang-sedang saja, yang
hanya memungkinkan terbentuknya sejumlah inti yang relatif sedikit, yang
setelah itu dapat timbul menjadi kristal-kristal besar (Svehla, 1990).

V. ALAT DAN BAHAN


V.1

Alat
1
2
2

Batang Pengaduk
Gelas Kimia
Neraca Analitis

3
4
5

V.2

Bahan

1.
2.
3.

VI.

Pipet Tetes
Spatula
Wadah plastik

Aluminum Hidroksida ( Al(OH)3 )


Aquades (H2O)
Asam Sulfat Pekat (H2SO4)

PROSEDUR
Sebanyak 200 gram padatan Al(OH)3 ditimbang dalam neraca analitis
dan dilarutkan dengan 200 mL akuades dalam gelas kimia. Kemudian dibuat
H2SO4 400ml dari 200 mL asam sulfat pekat 98% dan 200 mL air secara
perlahan-lahan dan diaduk pelan-pelan selama kurang lebih 60 menit sampai
homogen. Kemudian dilakukan pencampuran antara asam sulfat tadi dengan
aluminum hidroksida terlarut dalam ruang asam. Penambahan asam sulfat
dilakukan dengan pipet tetes per tetes hingga seluruh asam sulfat
ditambahkan dalam larutan Aluminum Hidroksida.
Setelah semua bahan dicampurkan. Setelah itu tunggu beberapa saat,
kemudian dimasukkan dalam wadah plastik yang sebelumnya sudah
ditimbang kosong dan didiamkan beberapa hari. Setelah tawas mengeras
kemudian diambil dan ditimbang.

VII.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

VII.1

Data Pengamatan
Nama Zat

Rumus
Molekul

Berat Terpakai

Massa Molekul

Aluminum Hidroksida

Al(OH)3

300 gram

78,00 g mol-1

Asam Sulfat

H2SO4

366,1 gram

98,08 g mol-1

VII.2

Tabel Pengamatan

Zat
Al(OH)3

Perlakuan
Ditimbang.
Dilarutkan dalam 200 mL air.

Ditempatkan dalam gelas kimia

H2SO4 pekat

Hasil
Massa = 300 g
Volume = 200 mL

Timbul panas (eksoterm),


Ditambahkan ke dalam larutan tawas butek
tetes demi tetes sambil diaduk.
Tawas
butek
dalam
Ditempatkan pada wadah gelas
Didinginkan pada suhu ruang
Ditimbang

wadah gelas
Massa tawas = 596,9 g

VII.3 Perhitungan
VII.3.1

Penentuan Massa Tawas Al2(SO4)3 Praktis

Berat Aluminum Hidroksida

: 300 g

Berat gelas plastik & tawas (1)

: 282.5 g

Berat gelas plastik & tawas (2)

: 266.3 g

Berat gelas plastik & tawas (3)

: 55.9 g

Jadi berat tawas yang dihasilkan adalah : 596.9 gram

VII.3.2

Penentuan Massa Tawas Al2(SO4)3 Teoritis

Stoikiometri:

Massa H2SO4
H2SO4
v H2SO4
Massa H2SO4
Mol Al(OH)3

Mol H2SO4

= 1.8305 g.cm-3
= 200 mL = 200 cm3
= 1.8305 g.cm-3 x 200 cm3 = 366,1 g
= Massa Al(OH)3 / Mr Al(OH)3
= 300 gram/ 78,00 g mol-1
= 3,8461 mol
= Massa H2SO4 / Mr H2SO4

= 366,1 gram/ 98,08 g mol-1


= 3,7326 mol
Reaksi:

2 Al(OH)3

+ 3H2SO4

Al2(SO4)3.+ 6 H2O

3,8461 mol

3,7326 mol

3,8461 mol

1,9269 mol

1,92305 mol 11,5383 mol

1,8094 mol

1,92305 mol 11,5383 mol

Massa Alum

= mol alum x Mr Alum


= 1,92305 mol x 342,17 g/mol = 658,01 gram

VII.3.3
Penentuan Rendemen Tawas Al2(SO4)3
Massa tawas butek yang didapatkan pada percobaan = 596.9 gram
Massa tawas teoritis = 658,01 gram
Rendemen = (massa tawas praktis/teoritis) x 100%
= (596,9 gram / 658,01 gram) x 100% = 90,71 %
VII.3.4

Penentuan Biaya Produksi per Kg Alum

- Al(OH)3
- H2SO4

100 gram x Rp 1.600,00/gram

= Rp

200 mL x Rp 1.500,00/mL

160.000,00
= Rp

300.000,00 +

Rp 460.000,00
Untuk produksi sebanyak 2000 kg/hari

dibutuhkan bahan setiap harinya

sebanyak 3,351 kali lebih banyak


Biaya produksi bahan per hari untuk produksi 2 ton tawas:
Al(OH)3 3,351 x 0,1 kg @ Rp 1.600,00/gram = Rp 536.160,00
H2SO4 3,351 x 0,2 L @ Rp 1.500,00/mL = Rp 1.005.300,00 +
Total Biaya Produksi Bahan
= Rp 1.541.460,00
Biaya produksi TOTAL per BULAN :

Peralatan
Bahan
Gaji pegawai
Uang Makan

Rp 20.000.000
Rp 1.541.460 / hari x 30
Rp 1.500.000,00 x 3 orang
Rp 30.000,00 x 3 x 30

= Rp 20.000.000,00
= Rp 46.243.800,00
= Rp 4.500.000,00
= Rp 2.700.000,00

Listrik
Transport
Rp 50.000,00 x 30
Sewa Tempat/bulan
Total Biaya Produksi
VII.3.5

= Rp
= Rp
= Rp
= Rp

7.000.000,00
1.500.000,00
1.500.000,00
83.443.800,00

Keuntungan per Bulan

Laba penjualan:
Harga jual:

2000 kg x 30 x Rp 2.500,00

= Rp 150.000.000,00

Biaya produksi total

= Rp 83.443.800,00

Laba

= Rp 66.556.200,00

Jadi, laba perusahaan sebesar Rp 66.556.200,00/bulan. Perusahaan pembuatan


tawas ternyata masih menjanjikan.

VIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pembuatan tawas butek dari
padatan Al(OH)3. Selain itu, praktikum ini bertujuan untuk mengaplikasikan
perhitungan stoikiometri dalam dalam skala industri, membuat koagulan (tawas)
semi pilot, mempelajari proses operasi pembuatan tawas, serta menghitung
ekonomi pembuatan tawas dan dapat menghitung HPP tawas.
Tawas (Alum) merupakan kelompok garam rangkap hidrat berupa kristal
dan bersifat isomorf. Kristal tawas ini cukup mudah larut dalam air, dan
kelarutannya berbeda-beda tergantung pada jenis logam dan suhu. Tawas telah
dikenal sebagai flocculator yang berfungsi untuk menggumpalkan kotorankotoran pada proses penjernihan air. Tawas sering sebagai penjernih air,
kekeruhan dalam air dapat dihilangkan melalui penambahan sejenis bahan kimia
yang disebut koagulan. Tawas merupakan suatu nama dagang atau biasa dikenal
juga dalam bahasa ilmiah alum sulfat Al2(SO4)3 banyak digunakan sebagai
koagulan di dalam pengolahan air maupun limbah. Tawas sangat efektif
mengendapkan partikel yang melayang baik berupa suspensi maupun koloid.
Proses yang menyebabkan sistem koloid dapat diendapkan dinamakan
destabilisasi. Mekanismenya dapat dijelaskan dengan teori penyapuan

gumpalan atau sweep floc. Postulat teori ini menerangkan bahwa penambahan
koagulan membentuk endapan (kelarutan produk dilampaui) yang diakibatkan
oleh gravitasi. Gumpalan koagulan ini akan menarik koloid dan mengendap
bersama. Koagulasi tidak akan terjadi apabila molekul-molekul koagulan tidak
terdistribusi dalam air. Selain itu juga terjadi proses flokulasi. Selama proses
flokulasi campuran air-koloid-koagulan diaduk untuk terjadinya kontak antara
partikel gumpalan (floc) dan koloid. Hal ini akan menyebabkan partikel floc
tumbuh menjadi besar dan akan mengendap (settle) dengan cepat, dan diharapkan
membawa banyak koloid.
Selain sebagai koagulan, tawas juga dikenal sebagai zat aditif untuk
antirespirant (deodorant). Tawas dibagi menjadi dua jenis yaitu tawas butek dan
tawas bening. Dalam pembuatan tawas butek terdapat dua metode yang dapat
dipilih diantaranya:
a. Tawas butek dibuat dengan cara menambahkan asam sulfat 50% ke dalam
reaktor yang berisi padatan Al(OH)3 dan diaduk hingga larutan mulai
mengental.
b. Tawas butek dibuat dengan cara terlebih dahulu melarutkan padatan
Al(OH)3 di dalam sejumlah aquades yang volumenya sama dengan yang
digunakan dalam pengenceran asam sulfat dan kemudian asam sulfat
pekat ditambahkan seraya pengadukan hingga larutan mulai mengental.
Dalam percobaan ini, kami menggunakan metode yang kedua yaitu
melarutkan terlebih dahulu

melarutkan padatan Al(OH)3 di dalam sejumlah

aquades yang volumenya sama dengan yang digunakan dalam pengenceran asam
sulfat dan kemudian asam sulfat pekat ditambahkan seraya pengadukan hingga
larutan mulai mengental. Metode in dipilih untuk mempermudah jalannya
percobaan karena padatan Al(OH)3 telah larut.
Padatan Al(OH)3 yang digunakan sebanyak 100 gram. Padatan yang telah
ditimbang kemudian di larutkan dalam 200 mL aquades. Volume aquades yang
digunakan sebanyak 200 mL karena asam sulfat yang digunakan dalam reaksi ini
adalah asam sulfat 50% sebanyak 200 mL, sehingga jika digunakan metode yang
kedua dalam pembuatan tawas ini maka jumlah aquades yang diperlukan adalah
200 mL untuk melarutkan padatan Al(OH)3 yang telah ditimbang. Metode
konvensional ini juga dapat meningkatkan interaksi antar partikel. Dengan

meningkatnya interaksi tersebut kelarutan akan meningkat. Air digunakan


sebagai medium pelarut dan air yang digunakan secara stoikiometri langsung
digunakan untuk melarutkan alummunium hidroksida agar jumlah air semakin
banyak sehingga pada saat bereaksi dengan asam sulfat akan menghasilkan panas
yang cukup tinggi sehingga tidak perlu lagi menambahkan katalis.
Setelah semua padatan Al(OH)3 larut, asam sulfat pekat ditambahkan
sedikit demi sedikit kedalam reactor. Penambahan asam sulfat ini harus hati-hati
karena akan menumbulkan reaksi eksotermis sehingga menghasilkan panas. Oleh
sebab itu, penambahan asam sulfat dilakukan perlahan melalui dinding gelas
kimia. sehingga pengerjaannya perlu lebih hati-hati dan sebaiknya dikerjakan di
ruang asam karena dengan adanya panas maka potensi terjadinya penguapan zat
termasuk asam sulfat yang bersifat korosif semakin besar. Jika penambahan asam
sulfat dilakukan dalam jumlah yang banyak, maka dikhawatirkan suhu larutan
akan meningkat drastis sehingga dapat terjadi ledakan. Selain itu juga
penambahan asam sulfat sedikit demi sedikit akan memaksimalkan reaksi yang
akan terjadi. Sambil terus diaduk, melalui pengadukan, partikel-partikel dalam
larutan akan saling bertabrakan dengan sejumlah energi kinetik tertentu.
Pada saat H2SO4 dimasukkan kedalam reaktor muncul endapan berwarna
putih yang berasal dari alumunium hidroksida dan jika H2SO4 ditambahkan
berlebih maka endapan tersebut akan terlarut sehingga berdampak pada warna
larutan menjadi agak bening. Selama penambahan H2SO4 ke dalam reactor,
pengadukan terus dilakukan untuk mempercepat energi kinetik molekul- molekul
pereaksi sehingga reaksi dapat berlangsung lebih cepat. Pada percobaan ini, pH
larutan haruslah berada pada rentang 1-2. Hal tersebut bertujuan untuk
membentuk kation (Al3+) yang merupakan elemen yang diperlukan untuk
membentuk tawas. Pada tahap ini terjadi reaksi,
2 Al(OH)3 + 6H2O + 3 H2SO4 Al2(SO4)3 + 12H2O
(Svehla, 1990).
Setelah semua asam sulfat ditambahkan ke dalam reactor, larutan terus
diaduk hingga larutan mulai mengental. Setelah larutan mulai mengental, larutan
segera dimasukan kedalam cetakan karena tidak segera dipindahkan maka larutan

tersebut akan mengeras di dalam reactor sehingga tidak bisa dicetak.Selain itu,
pada saat akan dipindahkan ke dalam cetakan, tawas tidak boleh terlalu dingin.
Jika terlalu dingin, tawas akan mengkristal dan mengendap karena kelarutannya
rendah dalam suasana dingin, akibatnya tawas sulit untuk dicetak. Pada saat
didiamkan pada suhu kamar terbentuklah kristal. Kristal tawas terbentuk karena
pada saat didinginkan kepolaran air relatif menurun sehingga kepolaran air dan
tawas relatif berbeda. Menurut prinsip like dissolved like suatu zat akan mudah
larut dalam pelarut yang memiliki kepolaran relatif sama. Karena kepolarannya
berbeda maka tawas akan mengkristal kembali atau cenderung keluar dari
larutannya dan mengendap. Ukuran kristal yang terbentuk selama pengendapan,
tergantung pada dua faktor penting yaitu laju pembentukan inti atau nukleasi dan
laju pertumbuhan kristal.
Laju pertumbuhan inti dapat dinyatakan dengan jumlah inti yang
terbentuk dalam satuan waktu. Jika laju pembentukan inti tinggi, banyak sekali
kristal yang akan terbentuk, tetapi tak satupun dari inti akan tambah menjadi
terlalu besar. Jadi terbentuk endapan yang terdiri dari partikel-partikel kecil. Laju
pembentukan inti tergantung pada derajat lewat jenuh (supersaturasi) dari larutan.
Makin tinggi derajat lewat jenuh, makin besarlah kemungkinan untuk
membentuk inti baru, jadi semakin besarlah laju pembentukan inti.
Laju

pertumbuhan

kristal

merupakan

faktor

lainnya

yang

mempengaruhi ukuran kristal yang terbentuk selama pengendapan berlangsung.


Jika laju inti tinggi, kristal besar-besar terbentuk. Namun sebaliknya jika
diciptakan kondisi-kondisi pada mana lewat jenuhnya sedang-sedang saja, yang
hanya memungkinkan terbentuknya sejumlah inti yang relatif sedikit, yang
setelah itu dapat timbul menjadi kristal-kristal besar
Proses pembentukan kristal dijelaskan sebagai berikut. Tahap pertama
pada pembentukan kristal dimulai dengan pembentukan inti kristal (nukleasi)
dalam hal ini partikel-partikel tawas mulai membentuk inti kristal yaitu pasangan
beberapa partikel menjadi butir-butir sangat kecil. Tahap berikutnya adalah
pertumbuhan kristal yaitu inti tersebut menarik partikel-partikel lain sehingga
kumpulan dari beberapa molekul tumbuh menjadi butiran lebih besar. Pada
percobaan ini dihasilkan sebanyak 596.9 gram tawas butek.

10

IX.

KESIMPULAN

1. Tawas Al2(SO4)3 dapat dibuat dengan mereaksikan aluminium hidroksida


Al(OH)3 ) dengan asam sulfat ( H2SO4 ).
2. Perhitungan stoikiometri dapat digunakan dalam skala industri.
3. Operasi dan proses pembuatan tawas dapat dipelajari dari percobaan ini.
4. Harga jual untuk produksi 2 ton per hari: Rp 150.000.000,00 Total pengeluaran
produksi per bulan adalah Rp 83.443.800,00, jadi laba yang diperoleh dari
produksi satu ton per hari adalah Rp 66.556.200,00 per bulan dengan harga
jual Rp 2.000,00 per kg.

DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G. & S.S. Santika. 1984. Metoda Penelitian Air. Usaha Nasional,
Surabaya
Budi, S.S. 2006. Penurunan Fosfat dengan Penambahan Kapur (Lime), Tawas
dan Filtrasi Zeolit pada Limbah Cair. Tesis Magister S2 program studi Ilmu
Lingkungan Universitas Diponegoro. Semarang.
Cheung, R.C.K., Chan, M.H.M., Lam, C.W.K., & Lau, E.L.K. 2001. Heavy metal
poisoning clinical significance and laboratory investigation. Asia pasific
Analyte Notes. BD Indispensable to Human Health. Hong Kong.;7(1):2234
Firshen,

S.

M.

2002.

Aluminium

dalam

Tawas.

http://firshen46.blogspot.com-/2011/04/aluminium-dalam-tawas.html
Poler. 2009. Proses Pembuatan Tawas. http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/05/proses-pembuatan-alum-tawas.html

11

Svehla, G. 1990. Vogel: Buku Teks Analisis Kimia Anorganik Kualitatif Makro
dan Semimakro, diterjemahkan oleh L. Setiono & A.H. Pudjaatmaka. PT.
Kalman Media Pustaka, Jakarta.
Yoga, P., A. Winarni, F. Kamalia., K.N. Laila, M. Adha. 2013. Pembuatan Tawas
Dari

Limbah

Alumunium

http://kimiaanorganik1.blogspot.com/2013/09/laporan-praktikumpembuatan-tawas-dari.html

12

Foil.