Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

SATUAN PROSES II
INDUSTRI PROPILENA (PETROKIMIA)

Dosen pembimbing: Ir. Sumingkrat, M. Si.

Disusun oleh:
ANNYSSA SETIAWATI (1512006)
Kelas: KA01
TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN R.I.
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INDUSTRI (STMI)
2013/2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas peyertaan-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Industrri Propilena ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ir.
Sumingkrat, M.Si selaku Dosen mata kuliah Satuan Proses II yang telah memberikan tugas
ini sehingga penulis dapat lebih memahami tentang materi Satuan Proses II. Makalah ini
dibuat sebagai tugas dari mata kuliah Satuan Prose II.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kesalahan dan
kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik serta saran untuk perbaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca.

Jakarta, 16 Juli 2014


Penulis

Annyssa Setiawati

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................

DAFTAR ISI .........................................................................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN ..............................................................................................

I.1

Latar Belakang ....................................................................................................

I.2

Tujuan .................................................................................................................

BAB II

PEMBAHASAN .................................................................................................

II.1

Spesifikasi Bahan Baku ......................................................................................

II.2

Spesifikasi Produk Propilen ................................................................................

II.3

Jenis Proses .........................................................................................................

II.4

Kelebihan dan Kekurangan Proses Pembuatan Propilen .................................... 13

BAB III

METODOLOGI .................................................................................................. 20

III.1

Tahapan Sintesa Proses ....................................................................................... 20

III.2

Flowsheet Lengkap ............................................................................................. 25

III.3

Deskripsi Proses Dehydrogenation Catofin ........................................................ 26

BAB IV

PENUTUP ........................................................................................................... 28

IV.1

Kesimpulan ......................................................................................................... 28

IV.2

Saran .................................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 29

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Propylene merupakan bahan baku indutstri petrokimia yang digunakan luas
untuk memproduksi produk-produk petrokimia seperti polypropylene, acrylonitrile,
cumene, oxo-alcohols, propylene oxide, acrylic acid, isopropyl alcohol, and polygas
chemical. Hampir sebagian besar konsumsi propilena digunakan untuk memenuhi
kebutuhan produksi polypropylene. Polypropylene ini merupakan bahan dasar
pembuatan plastic jenis PP yang banyak digunakan dimasyakat. Produksi global
propylene saat ini sekitar 54 juta ton/tahun dengan nilai sekitar $17 milyar. Produksi
dan konsumsi propylene dunia terbesar terpusat di Amerika utara, Eropa barat, dan
Jepang. Ketergantungan propylene ini diperkirakan semakin meningkat hingga dua
kali di pada 10 tahun kedepan (Encyclopedia of Chemical Processing, 2006).
Indonesia pada 2009 mampu memproduksi propylene hingga sebanyak 437 ribu ton,
sementara konsumsi propylene sebanyak 706 ribu ton (Badan Koordinasi Penanaman
Modal, 2011). Analisa produksi dan konsumsi industri propylen di Indonesia
menunjukan terjadi defisit produksi yaitu total produksi lebih sedikit dibandingkan
total konsumsi. Hal ini mendorong peningkatan peranan produk impor dalam rangka
memenuhi kebutuhan konsumsi domestic (Kementerian Perindustrian, 2010).
Tabel 1.1. Profil Industri Propylen di Indonesia
Keterangan
Produksi
Konsumsi
Ekspor
Impor

2005
490
576

2006
440
530

86

90

2007
470
642

2008
2009
461
437
643
706
71
172
252
269
Badan Koordinasi Penanaman Modal, 2011

Defisit produksi Propylen ini menyebabkan tingginya ketergantungan terhadap


aktivitas impor. Pada 2009, volume impor propylene tercatat sebanyak 269 ribu ton
atau 38% terhadap konsumsi domestik. Kebutuhan propylene Indonesia mulai tahun
2005 hingga 2009 dapat digambarkan dalam suatu diagram garis dan dianalisa dengan
menggunakan metode least square, sehingga kebutuhan di tahun-tahun yang akan

datang dapat diprediksi. Berikut ini grafik perbandingan produksi, konsumsi dan
impor propylene Indonesia,

Gambar 1.1. Perbandingan Produksi, Konsumsi, dan Impor Propylene


Indonesia
Berdasarkan grafik tersebut, dengan metode least square maka kebutuhan
propylene Indonesia di tahun-tahun berikutnya dapat ditunjukkan seperti pada tabel
1.2.
Tabel 1.2. Prediksi Kebutuhan Propylen Indonesia
Tahun
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020

Produksi
434
425.5
417
408.5
400
391.5
383
374.5
366
357.5
349

Konsumsi
(000 ton)
731
768.3
805.6
842.9
880.2
917.5
954.8
992.1
1029.4
1066.7
1104

Impor
297
342.8
388.6
434.4
480.2
526
571.8
617.6
663.4
709
755

Tabel tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan konsumsi Propylen,


sementara produksi semakin turun, hal ini menyebakan volume impor semakin
meningkat tajam. Pada tahun 2020 diperkirakan volume impor Propylen Indonesia
mencapai 755 ribu ton, sehingga pendirian pabrik propylen baru harus segera
realisasikan untuk mengurangi ketergantungan impor.

Permasalahan-permasalaha tersebut yang melatarbelakangi perancangan


pendirian pabrik Propylen dengan kapasitas 110.000 ton/tahun dengan harapan dapat
mengurangi ketergantungan volume impor yang sangat besar.

I.2

Tujuan
Tujuan dengan disusunnya makalah ini yaitu:
1. Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Satuan Proses II.
2. Untuk mengetahui proses pembuatan propylen.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Spesifikasi Bahan Baku


1. Propana (C3H8)

Propana adalah senyawa alkana tiga karbon (C3H8) yang berwujud gas
dalam keadaan normal, tapi dapat dikompresi menjadi cairan yang mudah
dipindahkan dalam kontainer yang tidak mahal. Senyawa ini diturunkan dari
produk petroleum lain pada pemrosesan minyak bumi atau gas alam. Propana
umumnya digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin, barbeque (pemanggang),
dan di rumah-rumah. Dijual sebagai bahan bakar, propana dikenal juga sebagai
LPG (liquified petroleum gas - gas petroleum cair) yang dapat berupa campuran
dengan sejumlah kecil propena, butana, dan butena. Kadang ditambahkan juga
etanetiol sebagai bahan pemberi bau agar dapat digunakan sebagai deteksi jika
terjadi kebocoran.
a. Sifat fisis propana
Parameter
Berat molekul
Kemurnian
Densitas
Viskositas
Melting point
Boiling point
Latent heat of vaporization
Vapor pressure (at 21o)
Critical temperature
Critical pressure
Compressibilty factor (Z) at 1.013 bar
Thermal conductivity at 1.013 bar
Heat capacity at constant pressure
Heat capacity at constant volume
Phase
b. Sifat kimia propana

Nilai
44.1 gr/mol
95%
1.83 kg/m3
8.34 a.s at 16.7oC
-187.7oC
-42.1oC
425.31 kJ/kg
8.7 bar
96.6oC
42.5 bar
0.9821
15.198 mW/(m.K)
0.075 kJ/(mol.K)
0.066 kJ/(mol.K)
Gaseous

a) Reaksi monoklorinasi propana (pengantian satu atom H oleh satu atom Cl)
Reaksi:
C3H8 + Cl2 C3H7Cl + HCl
b) Reaksi dibrominasi propana (penggantian dua atom H oleh dua atom Br)
Reaksi:
C3H8 + 2Br2 C3H6Br2 + 2HBr
2. Kromium oksida

Kromium (III) oksida adalah senyawa anorganik dari rumus Cr 2 O 3. Ini


adalah salah satu oksida utama kromium dan digunakan sebagai pigmen. Di alam,
hal itu terjadi sebagai eskolaite mineral langka.
a. Sifat fisis kromium oksida
Parameter
Rumus molekul
Densitas
Melting point
Boiling point
Entalphy of formation
Standard molar
Heat of vaporization
Molar heat capacity
Thermal conductivity at 1.013 bar
Phase

Nilai
Cr2O3
5.22 gr/cm3
2435oC
4000oC
-1128 kJ/mol
81 J/(mol.K)
339.5 kJ/mol
23.35 J/(mol.K)
93.9 W/(m.K)
Solid

b. Sifat kimia kromium oksida


a) tidak larut dalam air, larut dalam asam untuk menghasilkan ion kromium
terhidrasi, [Cr(H2O)6]3+ yang bereaksi dengan dasar untuk memberikan
garam [Cr(OH)6] 3-.
b) Ketika dipanaskan dengan karbon halus dibagi dapat direduksi menjadi
krom logam dengan pelepasan karbon dioksida. Ketika dipanaskan dengan
alumunium halus dibagi direduksi menjadi krom logam dan alumunium
oksida.
Reaksinya:
Cr2O3 + 2 Al 2 Cr + Al2O3

II.2

Spesifikasi Produk Propilen


1. Propilen
a. Sifat fisis propilen
Parameter
Rumus molekul
Kemurnian
Densitas
Specific gravity
Viskositas
Melting point
Boiling point
Vapor pressure (at 21oC)

Nilai
CH3CH=CH2
99.5%
0.612 gr/cc
0.609 at -47oC
0.09 cp
-185.2oC
-47.6oC
B690 torr at 25oC

91.4oC
670 psia
4.35105 J/kg
-458.04105 J/kg
-162oF
1.5 kJ/kg K
1.31 kJ/kg K
Gaseous

Critical temperature
Critical pressure
Latent heat of vaporization
Heat of combustion
Flash point
Heat capacity of constant pressure
Heta capacity at constant volume
Phase
b. Sifat kimia propilen
a) Alkilasi

Reaksi alkilasi terhadap benzene oleh propilen dengan adanya katalis


AlCl3 akan menghasilkan suatu alkil benzene.
Reaksi:
C6H6 + C3H6 C6H6CH(CH3)2
b) Khlorinasi
Alkil klorida dapat dibuat dengan cara khlorinasi dan katalitik terhadap
propilen fase gas pada suhu 500oC dalam reaktor adiabatik. Prinsip reaksi
ini terdiri dari substitusi sebuah atom khlorinasi terhadap atom hidrogen
pada propilen.
Reaksi:
Cl2 + CH2CHCH3 CH2CHCH2Cl + HCl
2. Hidrogen
Hidrogen merupakan unsur yang paling banyak terdapat di alam semesta.
Keberadaanhidrogen di alam semesta mencapai 75%. Hidrogen terdapat di alam
semesta sebagai salahsatu unsur yang menyusun bintang. Hidrogen banyak
ditemukan dalam bentuk atom, danjarang ditemukan dalam bentuk unsur. Di
bumi, gas hidrogen jarang ditemukan, hal tersebutdisebabkan karena beratnya
yang ringan sehingga lepas dari gravitasi bumi.
a. Sifat fisis hidrogen
Parameter
Wujud
Viskositas
Densitas
Melting point
Boiling point
Heat of vaporization

Nilai
Gas, tidak berwarna, dan tidak berbau
0.0000865 Poise
0.08988 gr/L
14.01 K
20.28 K
0.904 kJ/mol

Critical temperature
Critical pressure
Thermal conductivity at 1.013 bar
Latent heat of vaporization
Compressibilty factor (Z)
Specific gravity
Heat capacity of constant pressure

32.97 K
1.293 MPa
0.1805 W/(m.K)
454.3 kJ/kg
1.001
0.0696
0.029 kJ/(mol.K)

(Cp)
Heat capacty of constant volume (Cv)

0.021 kJ/(mol.K)

b. Sifat kimia hidrogen


a) Hidrogen sangatlah larut dalam berbagai senyawa yang terdiri dari logam
tanah nadir dan logam transisi.
b) Dapat dilarutkan dalam logam kristal maupun logam amorf.
c) Gas hidrogen sangat mudah terbakar dan akan terbakar pada konsentrasi
serendah 4% H2 di udara bebas.
d) H2 bereaksi secara langsung dengan unsur-unsur oksidator lainnya. Ia
bereaksi dengan spontan dan hebat pada suhu kamar dengan klorin dan
fluorin, menghasilkan hidrogen halida berupa klorida dan hidrogen
fluorida.

II.3

Jenis Proses
1. Steam cracking pada hidrokarbon
Cara yang sering dilakukan untuk memproduksi olefin ringan seperti
ethylene dan propylene adalah dengan menggunakan steam cracking pada
hidrokarbon yang secara komersial dilakukan sejak tahun 1950. Saat ini, produksi
propylene di dunia menggunakan metode steam cracking mencapai 112 juta ton
per tahun. Kapasitas dan penggunaan steam cracking pun terus tumbuh karena
permintaan dunia yang terus meningkat akan untuk polimer dan turunan olefin
lainnnya. Etana, LPG dan naphta adalah bahan baku utama untuk steam cracker.
Untuk kondensat gas alam melimpah di daerah amerika utara dan timur tengah
sedangkan naphta sering digunakan untuk daerah Asia dan Eropa.
Tabel 2.1. Sources of propylene and world production data

Propylene sources

World production

Share

Annual growth

in 2002 (million

(%)

for 2002 2015

tpy)
35.9
15.3
1.6
52.8

68.0
29.0
3.0
100

(%)
4.3
5.0
6.5
4.7

Steam crackers
Refinery FCC units
Metathesis/dehydrogenation
Total

Prinsip dari reaksi steam cracking adalah dengan memecah ikatan,


Sehingga dibutuhkan banyak energy untuk melakukan produksi olefin. Sifat dari
reaksi ini sangatlah endotherm sehingga beroperasi pada suhu yang tinggi dengan
tekanan rendah. Uap superheated digunakan untuk mengurangi tekanan parsial
pada reaksi hidrokarbon dan mengurangi deposit karbon yang terbentuk selama
proses pirolisis. Hidrokarbon dengan rantai panjang akan lebih mudah di pecah
daripada senyawa dengan rantai yang pendek. Selain itu suhu yang digunakan
untuk pemecahan juga lebih rendah.
Steam cracker terdiri dari furnace yang digunakan untuk proses pirolisis
dimana bahan baku dipecah menggunakan uap sebagai pengencernya. Gas hasil
cracking didinginkan kemudian dikirim menuju demethanizer untuk memisahkan
gas hydrogen dan methane. Sedangkan untuk effluent kemudian di olah untuk
memisahkan asetylena dan untuk ethylene dipisahkan pada fraksionasi ethylene.
Fraksi bawah dipisahkan pada de-ethanizer menjadi ethane dan C3+ yang
ditreatment lebih lanjut untuk menghasilkan propylene dan olefin lainnya. Kondisi
untuk ethane steam cracker adalah 750 800 oC, tekanan 1 1,2 atm dan rasio
steam/ethane 0,5. Untuk bahan baku cair biasanya dipecah dengan waktu tinggal
yang singkat dan rasio pengenceran uap lebih tinggi dibanding cracking dengan
bahan baku gas. Kondisi untuk cracking naphta terjadi pada suhu 800 oC, tekanan
1 atm dan rasio steam/hydrocarbon 0,6 0,8 dengan waktu tinggal 0,35 detik.
Produksi bahan baku cair mempunyai coproduct yang lebih luas. Sebagai contoh
aromatic BTX yang dapat digunakan untuk produksi berbagai turunan dari bahan
kimia.
Dalam tungku cracking, perbandingan propylene dangan ethylene terbatas
sekitar 0,65. Apabila bahan baku yang digunakan lebih besar maka akan
menyebabkan produk samping C5+ lebih banyak. Hal ini dapat dilihat pada tabel
2.2.

Tabel 2.2. Product yields from steam cracking of various hydrocarbons


Product yield (wt% on
unit)
H2 and methane
Ethylene
Propylene
Butadine
Mixed butanes
C5+
Propylene/ethylene
(wt/wt)
Propylene (wt% of C3)

Ethane

Gaseous feed
Propane Butanes

Liquid feeds
Naphta
Gas oil

13
80
1.11
1.4
1.6
1.6

28
45
14
2
1
9

24
37
16.4
2
6.4
12.6

26
30
14.1
4.5
8
18.5

23
25
14.4
5
6
32

0.03

0.3

0.5

0.4

0.6

86.7

58.3

99

98.3

96.7

2. Fluid katalitik cracking


Sekitar 97% produksi propylene pada kilang merupakan coproduct dari
gasoline menggunakan unit fluid katalitik. Pada beberapa kilang fraksi propylene
dan gas ringan biasanya dialihkan menjadi bahan bakar sweet gas. Sekitar 60%
FCC propylene digunakan pada produksi kimia dan sisanya digunakan untuk
campuran bensin ber oktan tinggi. FCC adalah proses pengilangan terbesar untuk
produksi bensin dengan kapasitas dunia 14,2 juta bbl/d atau 715 juta ton per
tahun. Sekitar 50% dari kapasitas ini berada di amerika utara. FCC mengkonversi
bahan baku minyak berat seperti vakum gas minyak, residu, minyak deasphalth.
Untuk produk ringan sebagian besar menjadi olefinik sedangkan untuk fraksi berat
menjadi senyawa aromatic.
Komponen utama FCC terdiri dari sistem injeksi bahan baku, reactor,
stripper, fraksionator, dan regenerator. Sistem Fluidize katalis digunakan sebagai
fasilitas katalis dan transfer panas antara reactor dan regenerator. Reaksi cracking
yang terjadi bersifat endotherm. keseimbangan panas diperoleh oleh pembakaran
katalis-kokas disimpan di regenerator. Secara umum, semua reaksi cracking
dicirikan oleh produksi jumlah yang cukup banyak akan olefin. Hasil propylene
dari unit FCC adalah fungsi dari parameter berikut: kapasitas proses unit FCC,
jenis bahan baku, suhu keluar riser reactor, dan jenis katalis cair dan zat aditif.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi pada olefin ringan, khususnya
propylene. Hydrogen pada bahan baku harus ditingkatkan dan kandungan sulfur
harus dikurangi. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan minyak mentah

kandungan sulfur rendah atau dengan meningkatkan performa dari hydrotreater


upstream bahan baku pada unit FCC. Untuk saat ini Ada beberapa proses FCC
komersial yang bekerja dengan menggunakan katalis.
Pembangunan FCC tidak bernilai ekonomis apabila tujuannya hanya untuk
memproduksi propylene karena yield yang dihasilkan rendah. Akan lebih bernilai
apabila menggunakan propylene untuk kebutuhan kimia. Catalitic cracking yang
dirokemendasikan oleh Stone dan Webster/Shaw shaw and RIPP/Sinopec
merupakan proses FCC dengan hasil olefin tinggi sehingga dapat digunakan untuk
skala komersial. Perkembangan katalis membantu meningkatkan yield FCC
konvensional dari 4,5% menjadi 10% atau lebih besar. Penggunaan katalis ZSM-5
dapat meningkatkan produksi propilen. Perkembangan proses FCC telah
dilakukan oleh PetroFCC (UOP), High Severity-FCC (KFUPM, JCCP, Saudi
Aramco),

Maxofin

(KBR,ExxonMobil),

Selective

Component

Cracking

(Lummus), dan IndMax (Indian Oil). Perbandingan proses tersebut dapat dilihat
pada tabel 2.3.
Tabel 2.3. Product yield of conventional and emerging FCC process
Parameter
Reaction temperature (oC)
Product yield (wt%)
Ethylene
Propylene
Mixed butanes
Gasoline
Heavy and light oils coke

FCC
500
1.5
4.8
6.9
51.5
21
4.5

DCC
530
5.4
14.3
14.7
39
15.6
4.3

Petro FCC
590
6
22
14
28
14.5
5.5

HS-FCC
600
2.3
15.9
17.4
37.8
9.9
6.5

3. Dehydrogenasi propane
Reaksi dehidrogenasi propane bersifat sangat endhoterm sehingga kondisi
operasi berlangsung pada suhu tinggi dan tekanan rendah. Jumlah olefin pada
reactor tergantung pada kondisi output reactor. Reaksi perengkahan thermal
dibatasi kondisi maksimum temperatur dan tekanan yang menjadi variabel
dominan.
C3H8 C3H6 + H2 Hr = 298, K = 129.4 kJ/mol
Reaksi

samping

yang

terjadi

bersamaan

dengan

reaksi

utama

menyebabkan pembentukan hidrokarbon ringan dan hidrokarbon berat yang


menghasilkan pengendapan dalam jumlah kecil yang terjadi di katalis. Hal yang

berbeda dari sistem katalis pada kromium dan platinum digunakan dalam rentang
suhu 500 650 oC. Karena deaktivasi cepat dengan pembentukan coke, maka
konsep yang berlawanan telah digunakan untuk mengaktifkan regenerasi katalis.
Beberapa proses komersial telah dikembangkan untuk dehidrogenasi
katalitik dari propana menjadi propylene sebagai disajikan pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4. Typical properties of commercial propane dehydrogenation processes
Process

Licensor

Reactor type

Catalyst

Reaction

Catofin

Lumuus-

Fixed bed

Cr2O3/Al2O3

condition
560 620 oC,

FBD-3

Houdry
UOP

Fluidized bed

Cr2O3/Al2O3

> 0.5 atm


540 590 oC, 1

Pt/Al2O3

atm
550 650 oC, 1

Oleflex

Snamprogetti

PDH

-Y arsintez
Linde-BASF-

Fixed bed

Cr2O3/Al2O3

atm
590oC, > 1 atm

STAR

Statoil
Krup Uhde

Fixed bed

Pt/Sn/Zn/Al2O3

500oC, 3.5 atm

Pada

gambar

Moving bed

2.1

menunjukkan

diagram

alir

untuk

propane

dehydrogenation. Pada proses fixed bed reactor, dibutuhkan setidaknya 2 reaktor


sehingga katalis dapat diregenerasi

tanpa harus menghentikan proses.

Keuntungan dengan menggunakan moving bed atau fluidized bed adalah


penggunaan katalis yang dapat secara terus menerus dipisahkan dari reactor dan
diregenerasi. Sedangkan kerugiannya adalah dibutuhkanya unit separasi tersebut.

Gambar 2.1. Flow diagram of catalytic dehydrogenation of propane to propylene

4. Methatesis

Olefin methathesis adalah reaksi yang digunakan untuk memproduksi


propylene dari ethylene dan butane menggunakan katalis senyawa logam transisi
tertentu. Dua reaksi utama yang terjadi secara simultan adalah methathesis dan
isomerasi. Methatesis mengubah ikatan ganda pada carbon- carbon yang tidak
reaktif terhadap reagen lainnya menjadi gugus fungsional yang reaktif. Ikatan
carbon-carbon yang baru terbentuk pada suhu kamar pada media cair untuk
memulai bahan. Karena reaksi methatesis adalah reaksi bolak balik, maka
propylene dapat diproduksi dari ethylene dan butane-2. Methatesis dapat
ditambahkan steam cracking untuk meningkatkan produksi ethylene dari
perubahan ethylene dan perengkahan butane. Secara skematik dijelaskan pada
gambar 2.2.

Gambar 2.2. Olefin Methatesis

II.4

Kelebihan dan Kekurangan Proses Pembuatan Propylene


Proses
Steam cracking

FCC

Kelebihan
Sudah popular digunakan

Kekurangan
Memerlukan uap

Bahan baku lebih variatif

Yield masih rendah

Investasi sedang
Investasi sedang

Menggunakan generator

Yield sedang

katalis

Memerlukan uap

Perlu

mengurangi

hidrogen dan sulfur pada


bahan baku
Dehydrogenasi

Selektivitas tinggi

Biaya investas tinggi

propane

Methatesis

Tidak memerlukan steam

Pertumbuhan tinggi

Belum

popular

digunakan

Investasi sedang

Produksi

sedikit
Membutuhkan uap

Belum

dunia

masih

popular

digunakan
Dari kelebihan dan kekurangan proses-proses diatas maka akan digunakan
proses dehidrogenasi propane. Adapun berbagai macam paten yang telah ada pada
proses propane dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.4. Typical properties of commercial propane dehydrogenation processes
Process
Licensor
Catofin Lumuus-

Reactor type
Catalyst
Fixed bed
Cr2O3/Al2O3

Reaction condition
560 620 oC, > 0.5

Fluidized bed
Moving bed

Cr2O3/Al2O3
Pt/Al2O3

atm
540 590 oC, 1 atm
550 650 oC, 1 atm

FBD-3
Oleflex

Houdry
UOP
Snamprogetti

PDH

-Y arsintez
Linde-BASF- Fixed bed

Cr2O3/Al2O3

590oC, > 1 atm

STAR

Statoil
Krup Uhde

Pt/Sn/Zn/Al2O3

500oC, 3.5 atm

Fixed bed

1) Catofin dehidrogenasi
Dehidrogenasi catofin merupakan proses kontinyu dengan operasi reaktor
bersiklus dimana reaktor mengalami proses pemanasan atau regenerasi. Ketika
hidrokarbon diproses, umpan awal dan umpan dari recycle (dari unit sintesis
MTBE atau C3 splitter dasar) dievaporasi oleh pertukaran berbagai arus proses
dan suhu reaksinya meningkat sebagai pengganti pemanas. Hasil buangan
disalurkan melalui generator dengan uap tekanan tinggi, penukar umpan buangan,
dan dapat mengurangi pendingin untuk ke kompresor.
Keluaran dari kompresor didinginkan, dikeringkan dan diteruskan ke
bagian yang suhunya rendah untuk direcovery. Pada bagian suhu rendah yaitu
offgas, yang merupakan gas kaya akan hidrogen, dapat juga dialirkan ke PSA
(Pressure Swing Adsorption), unit yang memurnikan hidrogen. Cairan yang
direcovery dari bagian suhu rendah terserbut, bersama dengan hasil buangan dari

flash drum, dimasukkan ke tahap destilasi atau MTBE sintesis untuk


menghasilkan produk recovery.
Suhu reaktor turun selama reaksi karena reaksi endotermik. Peralatan
tambahan yang diperlukan untuk memanaskan / regenerasi, yang diperlukan untuk
mempersiapkan off-line reaktor untuk tahap reaksi berikutnya. Selama langkah
pemanasa, karbon yang terkandung pada katalis juga dibakar.
2) FBD
Tekhnologi FBD dioperasikan menggunakan reaktor fluidized bed dengan
menggunakan katalis yang bersirkulasi secara kontinyu dari dasar reaktor ke atas
pada plant regenerator. Panas yang dibutuhkan untuk proses reaksi disuplai oleh
pembakaran bahan bakar fuel dalam generator yang dialirkan ke reaktor.

3) Oleflex
Proses oleflex adalah teknologi dehidrogenasi katalis untuk pembuatan
olefin ringan dari parafin yang sesuai. Salah satu aplikasi yang sering digunakan
adalah pembuatan propylene dari propane.

4) STAR
STAR merupakan singkatan Steam Active Reforming adalah teknologi
komersial yang digunakan untuk dehidrogenasi parafin ringan, seperti propane
dan butane. Bagian reaksi terdiri dari reaktor eksternal yang dipanaskan dan
dihubungkan secara seri dengan reaktor adiabatis (oxyreactor).

5) PDH
Linde telah mengembangkan proses PDH dalam proses reformasi uap,
tetapi menggunakan katalis yang berbasis kromium. Sementara itu, Statoil telah
mengembangkan katalis generasi kedua, menggunakan platinum dan timah. Linde
menggabungkan "hidrotalsit" katalis dengan teknologi proses, dan mengubah
50% propana pada uji coba pertama (sebagai lawan 32% dengan katalis
sebelumnya), dan batas pembentukan kokas sampai kurang dari 0,1% berat .
Langkah-langkah proses nya adalah debutanization, dehidrogenasi katalis,
pendinginan gas biaya, kompresi, maka penghapusan fraksi ringan dan daur ulang
dari fraksi berat ke debutanizer. Proses dehidrogenasi berjalan dengan 50% cairan
uap pada 600C tekanan lebih besar dari atomospheric (yang mencegah infiltrasi
udara yang akan mengguncang proses). Katalis diregenerasi tanpa menggunakan
bahan kimia klorin.

Paten yang kami pilih adalah dehidrogenasi catofin dengan keuntungan dan
keadaan operasi sebagai berikut:
Reactor

Catofin
Adiabatic

Oleflex
Adiabatic

STAR
FBD
DH reactor, Fluidized

PDH
Isotherm

fixed

moving bed

adiabatic

bed

al

Continuous
C3 or C4
C3: 40

bed
Cyclical
C3 or C4
C3: 30

C4: 50
C3: 89

C3: 90

Operation
Feed
Conversion

Cyclical
C3 or C4
C3: 48 65

Continuous
C3 or C4
C3: 25

oxyreactor
Cyclical
C3 or C4
C3: 40

(%)
Selectivity

C4: 60 65
C3: 82 87

C4: 35
C3: 89 91

C3: 89

(%)

C4: 93

C4: 91 93

fixed

C4: 91

Berikut ada perbandingan antara paten catofin dan oleflex:

Reactor system

PROPANE DEHYDROGENATION
CATOFIN BY LUMUS
OLEFLEX
8 horizontal fixed bed 4 vertical moving beds
reactors in parallel

Catalyst;

catalyst

spent catalyst
Catalyst

reactors in series

life; Chromium oxide over 3 Pt catalyst; over 5 years


years

spent

catalysts spent catalyst dump out

dump-out and land filling


and Pt recovery
regeneration; In
situ,
cyclic Continous

catalyst

catalyst

regeneration regeneration; 10 20 min

regeneration 7 days

cycle; cycle time


Operation
conditions; 600oC, 0.3 1 bar

630 650 oC, 1.2 2 bar

temperature and pressure


Conversion

45 50%

35 40%

Selection
Advantages

80 90%
80 90%
No separate facility for Safe and

reliability

in

catalyst regeneration

operation

No H2 recycle gas

Longer catalyst life

High conversion

High on-stream operation

Lower C3 consumption
Lower catalyst cost
Frequent
changes

Disadvantages

reactor
of

chromium

catalyst
7 plants

Commercial plants

BAB III
METODOLOGI
III.1 Tahapan Sintesa Proses
1. Distribute of chemical

reactor

operation design

conditions 12 min
Use

of Complicated
Separate

facility

for catalyst regeneration


9 plants

for

Feed yang komponen terbesar berupa propane terjadi reaksi dehidrogenasi


sehingga terbentuk propene dan hydrogen. Berdasarkan hukum neraca bahan Total
mass flow input sama dengan total mass flow output. Secara stoikiometri,
perbandingan reaktan (propane) dan produk (propena) adalah 1 : 1, sehingga
untuk memproduksi 110.000 ton propena dibutuhkan propane sebanyak 115.238
ton dan dihasilkan hiddrogen sebagai produk samping sebesar 5.238 ton.
Dehidrogenasi propane dengan prosess catofine memiliki konversi sekitar
53% dan selectivity 86% dengan kondisi operasi 900 K dan tekanan 40 Kpa.
Katalis yang digunakan pada porses catofin adalah Cr2O3 (18 20%)dan alkali
metal (1 2%) dengan support alumina.
Umpan tunggal propane mengalami proses dehidrogenasi menghasillan
propene, hydrogen dan propane sisa. Propene dan hydrogen diambil sebagai
produk, sedangkan propane sisa di recycle untuk didehidrogenasi lagi. Propane
sisa di mix dengan fresh propane sebelum masuk unit dehidrogensi dengan tujuan
homogenisasi komposisi, tekanan dan suhu serta fase.

Gambar 3.1. Flowsheet distribution of chemical pada reaksi dehidrogenasi


prases catofin
2. Eliminate difference in composition
Hasil proses dehidrogenasi terdiri dari propylene, hydrogen dan propane
sisa. Produk utama yang diinginkan dari proses dehidrogenasi adalah propylene,
sehingga perlu dilakukan separasi untuk memisahkan propylene dengan produk
amping tersebut.

Hasil reaksi unit dehidrogenasi yang terdiri campuran gas-liquid dalam


keseimbagan dipisahkan menggunakan flash drum yang dioperasikan dengan
menurunkan tekanan hingga 1 atm sehingga terjadi flashing. Hydrogen dengan
boiling point sangat rendah berupa gas akan keluar pada low temperature section
bagian atas (puncak kolom) sedangkan liquid dengan boling point lebih tinggi
(ethane, propane, propylene) keluar lewat dasar kolom.
Liquid keluaran dari flash drum dan recovery liquid dari low temperature
section dimier kemudian dipisahkan diunit destilasi brdasarkan titik didih. Ethane
dan propane+ dipisahkan pada unit deetanizer yang di operasikan pada tekanan 1
atm dan suhu kolom -60oC. Ethane dengan titik didih lebih rendah keluar lewat
puncak kolom sedangkan propane+ dengan titik didih lebih tinggi keluar lewat
dasar kolom. Propane dan propylene masuk ke unit C3 spliter untuk memisahkan
propylene produk dengan propane sebagai umpan recycle, kolom ini di operasikan
pada tekanan 1 atm dan suhu -45oC.
Tabel 3.1. Boiling point dan critical constant, 1 atm (Properties of Aspen HY ISIS
7.3 reference)
Komponen
Propane
Propylene
Hidrogen
Ethena

Boiling point (oC)


-42.10
-47.75
-252.6
-88.6

T critis (oC)
96.75
91.85
-239.7
32.28

P critis (psia)
617.4
670.1
190.8
708.3

Gambar 3.2. Flowsheet Eliminate Difference in Composition pada reaksi


dehidorgenasi proses catofin

3. Eliminate different temperature, pressure, and phase


Untuk mendapatkan produk yang diinginkan dengan kemurnian dan
selektivitas tinggi, maka reactor harus dioperasikan pada kondisi suhu dan tekanan
yang optimal. Untuk mencapai suhu dan tekanan operasi terdapat rangkaian
sistem proses yang harus dilalui.
Unit dehidrogenasi dioperasikan pada temperature 626.85oC dan tekanan
40 Kpa (0.39 atm). Feed propane pada kondisi 30oC, 12 atm di kontakkan dengan
stream dari reactor yag bersuhu 626.85oC, 40 Kpa dalam unit heat echanger
sehingga terjadi kenaikan temperature feed menjadi 40oC tekanan 1 atm.
Temperature feed tersebut belum mencukupi kondisi operasi spesifikasi reactor
sehingga feed propane harus dipanaskan lagi hingga suhu mencapai 626.85 oC
dengan menggunakan furnace. Peningkatan suhu yang sangat tinggi menyebabkan
peningkatan tekanan feed propane sehinga diperlukan ekpander untuk
menurunkan pressure hingga 40 Kpa agar sesuai dengan unit dehidrogenasi.
Panas produk hasil reaksi dehidrogenasi dengan suhu tinggi tersebut
kemudian dipakai untuk memanaskan feed dengan heat exchanger sehingga
terjadi penurunan suhu hingga 525,85oC kemudian diturunkan suhunya
menggunakan cooler menggunakan refigeran hingga mencapai suhu 20oC dengan
tekanan 40 Kpa. Untuk keperluan pemisahan pada unit flashing drum maka
propylene dinaikkan tekanan terlebih dahulu hingga 4 atm menggunakan
compressor dan diflasing pada unit flashing drum 1 atm. Hydrogen dengan boiling
point sangat rendah berupa gas akan keluar pada low temperature section bagian
atas (puncak kolom flash) sedangkan liquid dengan boling point lebih tinggi
(ethane, propane, propylene) keluar lewat dasar kolom.
Hasil flashing kemudian dipisahkan menggunakan destilasi kolom untuk
mencapai produk yang diinginkan.

Gambar 3.3. Flowsheet eliminate difference temperature, pressure, and


phase pada reaksi dehidrogenasi proses catofin

4. Task integration
Raw material yang mengandung komponen utama propane dilakukan
pengolahan pada sistem proses untuk mendapatkan produk yang diinginkan yakni
propylene. Pada sisitem proses dehidrogenasi propane menjadi propylene dengan
proses catofin diperlukan unit-unit operasi yang tersusun secara terintegrasi dan
kontinyu.

Alat-alat proses yang diperlukan dalam produksi propylene meliputi heat


exchanger, reactor fixbed, furnace, cooler, flash tank, kompresor, dan kolom
destilasi. Alat-alat tersebut disusun secera terintegrasi dengan harapan
mendapatkan produk propylene dengan kemurnian tinggi serta konversi dan
selektivitas reaksi tinggi sehingga dapat menurunkan cost.
Reactor merupakan tempat reaksi dehidrogenasi untuk memproduksi
propylene denga hasil samping hydrogen. Reaktor fixbed yang dipilih
dioperasikan pada temperature 626.85oC dan tekanan 40 Kpa (0.38 atm).
Sedangkan cooler dan heat exchanger merupakan alat perpindahan panas yang
diperlukan untuk menaikkan dan menurukan suhu bahan. Heat echanger yang
digunakan untuk menaikkan suhu dioperasikan untuk menghasilkan beda
temperature +10oC terhadap suhu umpan, sedangkan cooler digunakan untuk
menurukan suhu produk dari reakatr hingga temperature normal dan menurunkan
suhu akibat compressi pada kompresor.
Flash drum digunakan untuk memisahkan antara hydrogen dan propane,
propen, dan ethane dengan prinsip flashing yaitu penurunan tekanan. Flash drum
dioperasikan untuk menurunkan tekanan umpan 10 atm hingga 1 atm. Produk dari
flash drum yang bertekanan 1 atm kemudian dipisahkan menggunakan 2 unit
kolom destilasi dengan produk ethane pada kolom 1 dan propylene pada kolom 2,
sedangkan propane sisa dikembalikan sebagai propane recycle. Kedua unit kolom
dioperasikan pada tekanan 1 atm dan temperature kolom 1dan 2 masing-masing
-60oC dan -45oC.

Gambar 3.4. Flowsheet task integration pada reaksi dehidrogenasi proses catofin

III.2 Flowsheet Lengkap


Berikut ini flowsheet lengkap pembuatan propylene dengan proses catofin.

Gambar 3.5. Flowsheet lengkap pada rekasi dehidrogenasi propana menjadi propilen
proses catofin

III.3 Deskripsi Proses Dehydrogenation Catofin


Pembuatan propylene dapat dilakukan dengan metode steam cracking, Fluid
Katalitik Cracking, Methatesis dan Dehydrogenasi. Pada proses steam cracking bahan
baku yang digunakan adalah LPG, Etana dan nafta. Untuk Fluid katalitik cracking
bahan baku yang digunakan adalah heavy crude oil sedangkan proses methatesis
bahan baku yang digunakan berupa Ethylene dan 2-butane. Ketiga metode ini bersifat
sangat endotermis sehingga dilakukan dalam keadaan suhu yang tinggi dan tekanan
yang rendah. Kerugian proses-proses tersebut adalah penggunaan steam sehingga
dalam operasinya memerlukan banyak biaya dan adanya sulfur pada bahan baku
menyebabkan alat mudah mengalami korosi. Oleh karena itu, kami memilih proses

dehydrogenasi karena bahan baku hanya berupa propane sehingga mudah untuk
dikendalikan dan dalam prosesnya dilakukan dalam suhu sedang serta tidak
memerlukan uap. (Heuristik 1)
Tahapan proses pembuatan Propylene dari Propana

dengan proses

dehydrogenasi Catofin dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:


1. Tahap penyiapan bahan baku.
2. Tahap reaksi dehidrogenasi pembentukan propylene.
3. Tahap pemurnian produk.
1. Tahap penyiapan bahan baku
Umpan berupa propane dengan kemurnian minimal 95% diberikan
preparasi sebelum bahan tersebut dimasukkan ke dalam reactor. Propane disimpan
pada keadaan cair jenuh dalam tangki berbentuk tabung pada suhu lingkungan
(30oC) dan tekanan 12 atm. Dari tangki penyimpanan terdapat valve untuk
mengalirkan propane. Setelah melewati valve di atur pada tekanan 1 atm sehingga
propane cair jenuh akan terkondensasi menjadi gas dan dapat mengalir dengan
sendirinya. Gas propane kemudian dilewatkan menuju Heat Excanger dengan
aliran counter current sehingga suhunya naik menjadi 40oC. (Heuristic 26) setelah
itu kemudian propane dimasukkan ke dalam furnace untuk mendapatkan suhu
626.85oC. (Heuristik 25). Peningkatan suhu yang sangat tinggi menyebabkan
peningkatan tekanan feed propane sehinga diperlukan ekpander untuk
menurunkan pressure hingga 40 Kpa agar sesuai dengan unit dehidrogenasi.
(Heuristic 40)
2. Tahap reaksi dehidrogenasi pembentukan propylene
Reaktor dehydrogenasi yang digunakan adalah reactor fixed bed mutitube
dengan katalis kromium oksida. Reactor ini beroperasi pada suhu 626,85 oC dan
tekanan 40 Kpa. Reaktan masuk melalui bagian atas reaktor yang kemudian
masuk ke dalam pipa-pipa yang ada dalam reaktor dan kontak dengan katalis.
Reaksi bersifat endoterm sehingga diperlukan panas untuk menjaga agar
temperatur reactor agar tetap stabil. Panas tersebut diambil dari pembakaran udara
yang bermanfaat selain sebagai suplay panas juga untuk meregenerasi katalis
karena mampu membakar kerak yang ada pada katalis sehingga umur katalis
dapat lebih panjang. Produk keluar berupa propylene , gas hydrogen, propane dan
beberapa gas ringan dengan suhu yang masih tinggi sehingga produk tersebut

dilewatkan Heat exchanger untuk dikontakkan dengan bahan baku propane yang
baru secara counter current (lawan arah) untuk memanaskan bahan baku.
(Heuristic 25). Suhu produk keluar heat exchanger adalah 525,85oC (Heuristic
26).
3. Tahap pemurnian produk
Setelah melalui Heat Exchanger, produk di dinginkan menggunakan cooler
hingga mencapai suhu 30oC (suhu normal). Hal ini dilakukan untuk menghemat
energy yang digunakan untuk proses kompresi. Setelah melewati cooler produk di
kompresi mencapai tekanan 4 atm menggunakan kompresor 2 stage agar gas dapat
dialirkan dan dikendalikan. (Heuristic 36). Setelah melewati kompresor, suhu
produk akan kembali mengalami kenaikan sehingga produk tersebut dilewatkan
kembali menuju cooler mencapai suhu 20oC menggunakan refrigasi. Setelah itu,
produk masuk menuju Flash Tank dengan tekanan 1 atm untuk memisahkan gas
dari cairannya. Produk atas dari Flash Tank menuju PSA untuk menghasilkan gasgas ringan seperti hydrogen sedangkan produk cair masuk menuju kolom
deethanizer untuk memisahkan ethane. Pada kolom destilasi tersebut digunakan
kondisi operasi suhu -60oC tekanan 1 atm. Produk atas dari kolom tersebut akan
menghasilkan ethane sedangkan produk bawah menghasilkan campuran propane
dan propylene. Campuran tersebut dilewatkan kolom destilasi ke 2 yang
dioperasikan pada suhu -45oC pada tekanan 1 atm untuk mendapatkan propylene.
Sedangkan hasil bawahnya di recycle kembali untuk dilakukan reaksi kembali.
(Heuristic 11)

BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
Proses pembuatan propylene menggunakan metode dehidrogenasi catofin
melalui beberapa tahapan yaitu, penyiapan bahan baku, reaksi dehidrogenasi
pembentukan propylene, dan pemurnian produk. Dengan temperatur di reaktor
sebesar 628.85oC dan tekanan 40 Kpa yang menghasilkan konversi sebesar 53%.

IV.2 Saran
1. Sebaiknya mahasiswa teknik kimia mempelajari lebih lanjut tentang proses
pembuatan propylene sampai dengan menghasilkan produk yang memiliki nilai
jual tinggi.
2. Pemilihan metode proses sebaiknya disesuaikan dengan produk yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Koordinasi Penanaman Modal 2011. Perencanaan Pengembangan Investasi Industri
Petrokimia Terintegrasi.
Chicago

Bridge

&

Iron

Company.

2012

CATOFIN

Dehydrogenation.

www.CBI.com/lummus-technology.
en.wikipedia.org/wiki/Chromium
http://cameochemicals.noaa.gov/chris/PPL.pdf
Lee, Sungyu. 2006. Encyclopediaof Chemical Processing. Vol 1. Department of Chemical
Engineering University of Missouri Columbia Columbia,Missouri U.S.A.

Sanfilippo, Domenico Dan Ivano Marco, Dehydrogenation Processes. VOLUME II /


REFINING AND PETROCHEMICALS Dipartimento Di Chimica Industriale E Dei
Materiali Universit Degli Studi di Bologna, Italy.