Anda di halaman 1dari 15

TRANSESTERIFIKASI: PEMBUATAN BIODIESEL

LAPORAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Kimia
Industri

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 5
Sinta Marfiani

140210120001 Annisa Qonita Firda

140210120048

Fadhlan F.

140210120006 Atika N.

140210120058

Ulfy D.N. Hamdani

140210120018 Maulana Muhammad

140210120068

Ikbar Ar-Rumaisha

140210120028 Meiga Kurniawati

140210120069

Emille

140210120030 Arnel Amalia P.

140210120076

Farras Famela Dhiya

140210120045 Fitri Firdausi Ashadi

140210120086

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN KIMIA
LABORATORIUM KIMIA MATERIAL
2015

TRANSESTERIFIKASI: PEMBUATAN BIODIESEL

I.

TUJUAN PERCOBAAN
1.1

Mengerti proses transesterifikasi dalam pembuatan alkil ester


(biodiesel)

1.2

Mampu membuat alkil ester dari asam lemak melalui proses


transesterifikasi.

II. PRINSIP PERCOBAAN


Percobaan ini didasarkan pada prinsip sebagai berikut :
2.1

Reaksi Transesterifikasi
Reaksi antara suatu alkohol dengan katalis asam atau basa membentuk
suatu senyawa ester.

2.2

Distilasi
Metode pemisahan suatu senyawa dalam suatu campuran berdasarkan
perbedaan titik didih.
2.2.1 Hukum Raoult
Tekanan uap suatu larutan sebanding dengan tekanan uap pelarut
murninya dikalikan fraksi mol larutan.

PA=PA . XA
Keterangan :
PA : Tekanan uap larutan
PA: Tekanan uap pelarut murni
XA : Fraksi mol
2.2.2 Hukum Dalton
Tekanan uap total larutan akan sama dengan jumlah tekanan uap
parsial komponen penyusunnya.

Ptot = PA + PB + +Pn

Keterangan :
Ptot : Tekanan uap total
PA : Tekanan uap parsial komponen A
PB : Tekanan uap parsial komponen B
Pn : Tekanan uap parsial komponen ke-n
2.3

Ekstraksi
Teknik yang digunakan untuk memisahkan suatu komponen dari
campurannya berdasarkan kelarutan selektif komponen tersebut.
2.3.1 Hukum Distibusi Nernst
Apabila suatu zat ditambahkan pada suatu system yang terdiri
dari dua pelarut yang tidak saling bercampur, maka zat tersebut
akan terdistribusi sedemikian rupa sehingga perbandingan pada
tiap pelarut pada suhu tertentu adalah tetap.
=
dimana :

KD

= Koefisien Distribusi

Corganik

= konsentrasi zat pada fase organik

Cair

= konsentrasi pada fase air

2.3.2 Like Dissolved Like


Kecenderungan suatu zat untuk larut pada pelarut yang memiliki
kepolaran yang relatif sama.

III. REAKSI

(Pavia et al., 2013)

IV. TEORI DASAR


Biodiesel telah menarik perhatian di berbagai negara termasuk di
Indonesia. Biodiesel merupakan sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan
yang dapat diproduksi dari minyak nabati dan lemak. Selain itu, biodiesel
memberikan manfaat bagi lingkungan terutama untuk mengurangi polusi
karbon dioksida (Krawczyk, 1996).
Bahan bakar diesel tersusun atas ratusan rantai hidrokarbon yang
berbeda, yaitu pada rentang 12 sampai 18 rantai karbon, didapat pada fraksi
distilasi 250-3700oC. Hidrokarbon yang terdapat dalam minyak diesel meliputi
parafin, naftalena, olefin, dan aromatik (mengandung 24% aromatik berupa
benzena, toluena, xilena, dan lain-lain), dimana temperatur penyalaannya akan
menjadi lebih tinggi dengan adanya hidrokarbon volatil yang lebih banyak
(Purwono, 2003).
Tabel 1, Fraksi yang didapat dari Distilasi Crude Oil (Pavia et al., 2013)

Penelitian pembuatan biodiesel dari minyak nabati melalui proses


alkoholisis atau transesterifikasi telah banyak dilakukan. Beberapa penelitian
alkoholisis minyak jarak yang pernah dilakukan antara lain alkoholisis
minyak jarak dengan katalisator dengan katalisator NaOH, NaOH secara
sinambung menggunakan reaktor pipa, alkoholisis minyak jarak transesterifikasi
minyak jarak dengan katalis H2SO4, NaOH dan KOH dalam dua tahap dan
transesterifikasi minyak jarak dengan katalisator H2SO4 dan NaOH dalam
dua tahap. Penelitian-penelitian di atas umumnya masih menggunakan katalisator
cair yang memiliki kelemahan dalam hal pemisahan dan pemurnian produk
(Rustamaji dkk., 2010).

Minyak atau lemak merupakan trigliserida dengan viskositas tinggi


untuk dapat digunakan sebagai bahan bakar harus diturunkan viskositasnya
dengan reaksi transesterifikasi. Bahan yang dapat digunakan sebagai biodiesel
misalnya minyak sawit, minyak jarak, limbah minyak sawit (minyak parit),
minyak kedelai, bekatul, biji nyamplung, minyak biji kapuk, dan minyak goreng
bekas. Indonesia sejak tahun 2008 sebagai Negara penghasil terbesar minyak
sawit dunia dengan produksi lebih dari 17 juta ton/th, dimana 30 persennya
digunakan untuk kebutuhan dalam negeri, yang sebagian besar merupakan bahan
baku untuk minyak goreng (Demirbas, 2007).
Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang ramah
lingkungan. Pada pembuatan biodiesel dari minyak nabati dengan alkohol
diperoleh hasil samping berupa gliserol. Meningkatnya proses pembuatan
biodisel

diikuti dengan

meningkatnya

jumlah

produk

samping berupa

gliserol. Usaha pengolahan gliserol menjadi produk lain harus dilakukan


agar nilai tambah gliserol mengalami peningkatan. Gliserol bila diesterifikasi
dengan asam asetat akan membentuk triacetin (gliserol triasetat). Untuk
mempercepat reaksi antara gliserol dan asam asetat maka penggunaan
katalisator sangat diperlukan (Nuryoto dkk., 2011).
Biodiesel terdiri dari metil ester minyak nabati, di mana rantai
hidrokarbon trigliserida dari minyak nabati mentah diubah secara kimia menjadi
ester asam lemak. Ini dihasilkan dari reaksi transesterifikasi, yaitu reaksi antara
alkohol dengan minyak untuk melepaskan tiga rantai ester dan gliserin dari tiap
triliserida. Campuran tersebut meninggalkan gliserin di lapisan bawah dan
biodiesel di lapisan atas (Von Wedel, 1999).
Rantai hidrokarbon biodiesel pada umumnya terdiri dari 16-20 atom
karbon. Beberapa sifat kimia biodiesel membuatnya dapat terbakar dengan
sempurna, dan meningkatkan pembakaran pada campurannya dengan bahan
bakar diesel dari minyak bumi. Selain itu, biodiesel juga renewable, nontoksik,
dan biodegradable (Riberio et al, 1984).
Reaksi antara minyak (trigliserida) dan alkohol disebut transesterifikasi.
Alkohol direaksikan dengan ester untuk menghasilkan ester baru, sehingga terjadi
pemecahan senyawa trigliserida untuk mengadakan migrasi gugus alkil antar

ester. Ester baru yang dihasilkan disebut dengan biodiesel. Berikut adalah
mekanisme reaksi umum trigliserida dengan metanol yang dikatalisis oleh zeolit:

H
H

H
O

C
O

R1

OH

OH

OH

R1

C
O

O Na

R2

C
O

O Na

O Na

NaOH

R2

R3

H2O

R3

trigliserida

gliserol

metil ester

Keterangan : R1, R2, R3 adalah asam lemak jenuh dan tak jenuh dari rantai
karbon.
(Altiokka & Citak, 2003).
Reaksi transesterifikasi dari lemak/minyak dapat dilakukan untuk
menurunkan viskositas minyak nabati sehingga dihasilkan metil ester asam
lemak. Dengan transestrifikasi dapat menurunkan viskositas minyak nabati
sampai 85% Reaksi transesterifikasi minyak nabati dapat dilakukan dengan
mereaksikan

minyak

yang

merupakan

trigliserida

dengan

alkohol

(metanol/etanol) dengan katalis asam atau basa, dan dihasilkan alkil ester asam
lemak dengan hasil samping gliserol. Perbedaan bahan baku minyak atau lemak
yang digunakan dalam pembuatan biodiesel berpengaruh besar pada jalannya
reaksi yang ditempuh dan kualitas serta rendemen metil ester atau biodiesel yang
dihasilkan (Mursanti, 2007).
Ketika biodiesel dibakar sebagai suatu bahan bakar, reaksi berikut
terjadi,

Pembakaran biodiesel akan menghasilkan sejumlah energi yang spesifik, yang


dapat diukur dengan kalorimeter bom. Dengan membakar berat tertentu dari
biodiesel dan mengukur suhunya pada kalorimeter, maka dapat dihitung panas
pembakaran biodiesel (Pavia et al., 2013).

V. ALAT DAN BAHAN

5.1 Alat
1.

Batang Pengaduk

2.

Gelas Kimia

2.

Corong Pisah

3.

Kondensor refluks

4.

Labu Leher Tiga

5.

Neraca analitis

6.

Pemanas Listrik/ Hot Plate

7.

Statif dan ring corong

8.

Termometer

5.2 Bahan
1.

Aquades (H2O)

2.

Metanol (CH3OH)

3.

Minyak Sawit/ Crude Palm Oil

4.

Natrium Hidroksida (NaOH)

VI. PROSEDUR

6.1 Pemisahan Gliserol


Campuran minyak-metanol-natrium hidroksida yang direfluks selama
kurang lebih 1 jam, suhu larutan saat pemanasan dijaga konstan sekitar 60oC,
sambil terus diaduk menggunakan pengaduk magnetik. Setelah 1 jam,
campuran didinginkan, Selanjutnya larutan diekstraksi dalam corong pisah
dengan air panas, sehingga terpisah menjadi dua lapisan. Lapisan atas
merupakan biodiesel (metil ester, air, natrium hidroksida, minyak yang tidak
terkonversi, methanol) dan lapisan bawah merupakan gliserol dan air. Lalu,
gliserol di bagian bawah dikeluarkan dan ditampung.

6.2 Pengeringan dan Penentuan Rendemen Biodiesel


Biodiesel dipanaskan pada suhu 100-110C dengan pemanas listrik
sampai dicapai berat biodiesel konstan. Lalu timbang berat biodiesel yang
dihasilkan.Setelah itu, ditentukan rendemen biodiesel yang dihasilkan.

VII.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

7.1 Tabel Pengamatan


Zat

Perlakuan
ditimbang

Natrium

Hasil
m = 1,270 gram

dilarutkan dalam metanol

hidroksida

sambil dihangatkan
ditimbang

larut
m = 188,7 gram

ditambah larutan natrium

Minyak

hidroksida-metanol
dipisahkan dengan distilasi

Metanol

larut
Metanol terpisahkan

direfluks selama 1 jam pada


60oC
dimasukkan dalam corong

Campuran

pisah

minyak dan

ditambahkan air panas

gliserol

diekstraksi

Terbentuk 2 fase

Fase gliserol (bawah)


Gliserol di botol khusus

dikeluarkan

Biodiesel

Fase air (biodiesel)

m Gelas = 94,6272 g

ditampung di gelas kimia

m Gelas + Biodiesel =

Dipanaskan di hot plate

216,2000 g

Ditimbang

m Biodiesel = 121,5728 g

7.2 Perhitungan
7.2.1

Penentuan Massa Minyak

Massa gelas kimia kosong

= 312,1 gram

Massa gelas + 150 mL minyak

= 500,8 gram

Massa minyak

= 188,7 gram

7.2.2

Penentuan Jumlah Penggunaan NaOH teoritis

Diketahui kadar NaOH yang digunakan adalah 0.5 %

Volume minyak

: 150 mL

Gram minyak

: 188,7 gram

Mr minyak

: 845 gram /mol

Mol minyak

: 0,2233 mol

0,5 % = + + 100%
0,5 x + 0.5 g minyak + 0,5 g metanol = 100 x
99,5 x = 0,5 g minyak + 0,5 g metanol
=
=

0,5 ( 188,7 ) + 0,5 ( 64,314 )


99.5
126,507
99,5

X = 1,27 gram NaOH

7.2.3

Penentuan Jumlah Penggunaan Metanol Teoritis

Minyak : methanol= 1: 9
1
(/)

=
; ,
= 9

9
(/)

188,7
=9
32
845

Massa methanol

= 64,314 gram

Volume metanol

==

7.2.4

sehingga =

64,314
0,792

= 81,204

Penentuan Massa Biodiesel Teoritis

Volume biodiesel

= 235 mL

Massa biodiesel

= 235 mL x 0,8624 g/mL= 202,664 g

Jadi, massa biodiesel

= 202,664 g g NaOH
= 202,664 g 1,270 g = 201,394 g

7.2.5

Penentuan Rendemen dan Yield

a) =

100 % =

121,5728
201,394

100 %

rendemen = 60,37 %
b) =

201,394121,5728
201,394

100 % =

100 %

yield = 39,63 %

VIII. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini bertujuan untuk membuat biodiesel dari minyak
nabati, yaitu minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil. Biodiesel merupakan
salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan) di samping
Bioetanol.
Biodiesel adalah senyawa alkil ester yang diproduksi melalui proses
alkoholisis (transesterifikasi) antara trigliserida dengan metanol atau etanol
dengan bantuan katalis basa menjadi alkil ester dan gliserol atau esterifikasi
asam-asam lemak (bebas) dengan metanol atau etanol dengan bantuan katalis
basa menjadi senyawa alkil ester dan air. Biodiesel dapat dibuat dari bahan baku
berbagai jenis minyak dan lemak. Salah satunya yaitu minyak jelantah yang
merupakan sisa dari minyak goreng atau minyak sisa dari proses penggorengan
makanan.
Biodiesel memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan bahan bakar
lain sehingga menjadi bahan bakar alternatif pilihan, diantaranya:

Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan


emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah), sesuai
dengan isu-isu global

Bilangan oktan lebih tinggi (> 60) sehingga efisiensi pembakaran lebih
baik

Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin

Biodegradable (dapat terurai) dan tidak beracun

Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat
diperbarui

Meningkatkan independensi suplai bahan bakar


Pada pembuatan biodiesel ini, hal pertama yang dilakukan adalah

penyiapan larutan natrium metoksida. Larutan natrium metoksida ini dibuat


dengan mencampurkan natrium hidroksida (NaOH) dan metanol (CH3OH).
Pencampuran ini dilakukan hingga semua natrium hidroksida larut dalam
metanol. Natrium hidroksida larut dalam metanol karena memiliki kepolaran
yang sama. Sambil melarutkan, campuran diaduk agar natrium hidroksida lebih
cepat larut. Pengadukan disini dapat menambah kelarutan karena dengan
pengadukan maka interaksi atau tumbukan antar partikel larutan meningkat.
Dengan adanya pengadukan, energi kinetik masing-masing partikel akan
bertambah sehingga partikel-partikel mudah bergerak dan interaksi serta
tumbukannya semakin kuat. Pengadukan ini merupakan metode konvensional
yang dapat meningkatkan kelarutan.
Pada proses transesterifikasi, larutan alkali (NaOH) dan metanol
(CH3OH)

dicampurkan

untuk

membentuk

larutan

Natrium

metoksida

(Na+CH3).

Ion metoksida merupakan nukleofil kuat yang dapat menyerang tiga gugus
karbonil pada molekul minyak nabati. Ketika larutan Natrium metoksida ini
dicampurkan dengan minyak nabati, ikatan polar yang kuat dari natrium
metoksida memecah trigliserida menjadi gliserin dan rantai ester (biodiesel).
Proses transesterifikasi banyak menggunakan metanol, karena harganya
lebih murah, walaupun tidak menutup kemungkinan menggunakan jenis alcohol
seperti ethanol. Transesterifikasi merupakan suatu reaksi kesetimbangan. Untuk
mendorong reaksi agar bergerak ke kanan agar dihasilkan metil ester (biodiesel)
maka perlu digunakan alkohol dalam jumlah berlebih atau salah satu produk yang
dihasilkan harus dipisahkan. Persamaan reaksi transesterifikasi trigliserida
dengan methanol untuk menghasilkan metil ester (biodiesel) sebagai berikut :

10

Mekanisme reaksi pembentukan produk ester metil asam lemak dengan


menggunakan ion metilat adalah sebagai berikut:

Gambar 8.1 Mekanisme Pembentukan Ester Metil Asam Lemak


Biodiesel dapat dihasilkan dengan mencampurkan metanol dan NaOH
yang berfungsi sebagai katalis dengan perbandingan tertentu. Yang terpenting
dalam proses ini adalah menjaga agar tidak ada air. Jika terdapat air, maka akan
terjadi reaksi penyabunan/reaksi saponifikasi sehingga tidak akan terbentuk
metilester (biodiesel) sebagai produk yang diinginkan. Oleh karena itu NaOH

11

yang digunakan harus kering (dalam bentuk pellet) agar terhindar dari reaksi
saponifikasi.
Reaksi antara semua natrium hidroksida dengan metanol merupakan
reaksi eksoterm (menghasilkan panas) membentuk molekul polar (Na+ CH3).
Setelah larutan natrium metoksida disiapkan, selanjutnya minyak nabati
dipanaskan hingga 50-60oC dan dicampurkan dengan larutan natrium metoksida.
Akan tetapi, setelah minyak nabati dan natrium metoksida tercampur, terbentuk
campuran kental seperti sabun. Apabila sabun terbentuk pada proses ini, berarti
dalam sistem terdapat air dengan basa (natrium hidroksida) dan terjadilah reaksi
esterifikasi. Air di sini mungkin diperoleh dari natrium hidroksida yang
higroskopis (menyerap air dari udara) dan juga berasal dari metanol yang
bukanlah metanol 100% yang berarti masih terdapat pelarutnya yaitu air.
Setelah itu campuran dimasukkan dalam labu leher tiga dan dilakukan
pemanasan atau refluks selama 1 jam sambil diaduk. Pengadukan campuran
dilakukan menggunakan magnetic stirrer selama 50 menit hingga 1 jam. Reaksi
pada dasarnya dapat berlangsung dalam 30 menit, namun bila dilakukan lebih
lama lebih baik.
Keterangan:
1. Air pendingin masuk
2. Termometer
3. Pendingin balik/
kondenser
4. Penutup labu
5. Labu leher tiga
6. Stirrer
7. Magnetic stirrer dan
hot plate
Gambar 8.2 Rangkaian Alat Pembuatan Biodiesel
Setelah itu, campuran didiamkan dan dibiarkan pada suhu kamar untuk
menjaga gliserol yang terbentuk masih dalam fasa semicairan (semiliquid).
Kemudian, larutan hasil refluks lalu dimasukkan dalam corong pisah dan
ditambahkan 200 mL air panas. Campuran lalu diekstraksi.

12

Saat diekstraksi, terbentuk dua fase yaitu fase air (mengandung biodiesel)
dan fase organik (gliserol) dibagian bawah, karena massa jenis gliserol lebih
besar dari air ( gliserol = 1,26 g/mL). Biodiesel (yang merupakan alkil ester)
akan tertarik ke fasa air karena tingkat kepolaran yang hampir sama dengan air.
Gliserol yang berada di fasa organik lalu dikeluarkan dari corong pisah dan
ditampung pada botol khusus.
Sementara biodiesel yang berada di fasa air lalu dimasukkan dalam gelas
kimia yang sebelumnya telah ditimbang kosong. Lalu dipanaskan pada hot plate
untuk menguapkan air tersebut, sehingga tersisa biodieselnya saja. Biodiesel
yang telah dipanaskan ini lalu ditimbang dan dihitung massa serta rendemennya.
Dari hasil percobaan didapat rendemen biodiesel sebanyak 60,37% dan
yield sebesar 39,63%. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi rendemen
biodiesel yang dihasilkan pada reaksi transesterifikasi adalah rasio molar antara
trigliserida dan alkohol, jenis katalis yang digunakan, suhu reaksi, waktu reaksi,
kandungan air, dan kandungan asam lemak bebas pada bahan baku (yang dapat
menghambat reaksi yang diharapkan). Faktor lain yang mempengaruhi
kandungan ester pada biodiesel diantaranya yaitu kandungan gliserol pada bahan
baku minyak, jenis alkohol yang digunakan pada reaksi transesterifikasi, serta
jumlah katalis (NaOH) sisa.

IX. KESIMPULAN
Bahan bakar biodiesel dapat dihasilkan dari minyak sawit (Crude Palm Oil) dan
campuran

metanol

dengan

katalis

natrium

hidroksida

melalui

reaksi

transesterifikasi. Dari percobaan didapat massa biodiesel sebanyak 121,5728 g


dengan rendemen sebesar 60,37 % dan yield sebesar 39,63%.

13

DAFTAR PUSTAKA
Altiokka, M. R. & Citak, A. 2003. Kinetics Study of Esterification of Acetid
Acid with Isobutanol in The Presence of Amberlite Catalyst, Applied
Catalyst A. General, 239, 141-148.
Demirbas, A. 2007. Alternative and Renewable Energy Industries; Energy &
Fuel, International Journal of Green Energy. Volume 4. Issue January
2007. pages 15-26
Krawczyk, T., 1996. Biodiesel-Alternative Fuel Makes Inroads but Hurdles
Remain, INFORM, 7, 801-829.
Mursanti. 2007. Proses Produksi dan Substitusi Biodiesel Dalam Mensubtitusi
Solar Untuk Mengurangi Ketergantungan Tehadap Solar, Pararel session
International Seminar: Natural Resource & Enviroment 13 December
2007. Wisma Makara Universitas Indonesia
Nuryoto, Sulistyo, H., Rahayu, S.S. & Sutijan. 2011. Kinetika Reaksi Esterifikasi
Gliserol dengan Asam Asetat Menggunakan Katalisator Indion 225 Na.
Jurnal Rekayasa Proses, Vol. 5 (2) pp. 35-40.
Pavia, D.A., Lampman, G.M. , Kriz, G.S. & Engel, R.G. 2013. Microscale
Approach to Organic Laboratory Techniques, fifth edition. Brooks/Cole
Cengage Learning, Belmont.
Purwono, S., Yulianto, N. & Pasaribu, R. 2003. Biodiesel dari Minyak Kelapa.
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia. Yogyakarta.
Riberio, F. R., Rodrigues, A. E., Rollmann, L. D., & Naccache. 1984. Zeolite:
Science and Technology. Martinus Nijhoff publisher. The Hague.
Rustamaji, H., Sulistyo, H. & Budiman, A. 2010. Pemodelan dan Simulasi
Kinetika Reaksi Alkoholisis Minyak Jarak Pagar (Jatropha Curcas)
dengan Katalisator Zirkonia Tersulfatasi. Jurnal Rekayasa Proses, Vol.
4 (1) pp. 19-24.
Von Wedel, R. 1999. Technical Handbook for Marine Biodiesel. Department Of
Energy. San Fransisco Bay and Northen California.

14