Anda di halaman 1dari 21

PROSES PRODUKSI DETERGEN DAN

SABUN TANGAN CAIR (Hand Soap)

LAPORAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Kimia
Industri

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 5B
Sinta Marfiani

140210120001 Annisa Qonita Firda

140210120048

Fadhlan F.

140210120006 Atika N.

140210120058

Ulfy D.N. Hamdani

140210120018 Maulana Muhammad

140210120068

Ikbar Ar-Rumaisha

140210120028 Meiga Kurniawati

140210120069

Emille

140210120030 Arnel Amalia P.

140210120076

Farras Famela Dhiya

140210120045 Fitri Firdausi Ashadi

140210120086

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN KIMIA
LABORATORIUM KIMIA MATERIAL
2015

PROSES PRODUKSI DETERGEN DAN


SABUN TANGAN CAIR (Hand Soap)

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari praktikum pembuatan sabun (saponifikasi) ini adalah :
1. Mempelajari dan mempraktekkan proses produksi detergen dan sabun
tangan cair.
2. Mampu mengitung kelayakan ekonomi pembuatan detergen dan sabun
tangan cair, HPP, Biaya produksi, Operasional, Keuntungan, BEP, dan
PBP
3. Mampu merancang proses produksi pembuatan detergen dan sabun
tangan cair skala semi komersial

II. PRINSIP PERCOBAAN


Percobaan ini didasarkan pada prinsip sebagai berikut :
1. Saponifikasi
Suatu proses hidrolisis ester dalam suasana basa untuk membentuk suatu
akohol dan garam dari asamnya.
2. Salting out
Proses pengendapan suatu zat akibat larutan lewat jenuh (supersaturated)
3. Like Dissolve Like
Kecenderungan suatu senyawa untuk larut dalam pelarut yang memiliki
tingkat kepolaran yang relatif sama.

III. REAKSI

(Solomons & Fhryle, 2011).

IV. TEORI DASAR


Hidrolisis ester dalam suasana basa untuk menghasilkan garam
karboksilat disebut saponifikasi karena merupakan proses yang digunakan untuk
membuat sabun. Secara tradisional, ester tristearat dari gliserol-asam stearat
C17H35COOH dihidrolisis dengan natrium hidroksida menghasilkan natrium
stearat, C17H35COONa, komponen utama dari sabun. Hidrolisis dengan KOH
menghasilkan kalium karboksilat, yang digunakan dalam sabun cair (Clayden, et
al., 2012)

Gambar 1, Reaksi Saponifikasi Asam Miristat (Clayden, et al., 2012).


Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air yang digunakan untuk
mencuci dan membersihkan. sabun memiliki banyak bentuk, salah satunya adalah
sabun cair. Sabun cair merupakan produk yang strategis, karena saat ini
masyarakat modern suka produk yang praktis dan ekonomis. Penggunaan sabun
cair juga telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada
suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengangkat partikel dalam suspensi
mudah dibawa oleh air bersih. Sabun cair memiliki manfaat dan kegunaan yang
tidak kalah dengan sabun-sabun berbentuk lainnya (Paramita & Artati, 2003).
Surfaktan merupakan senyawa organik yang dalam molekulnya memiliki
sedikitnya satu gugus hidrofilik dan satu gugus hidrofobik. Apabila ditambahkan
ke suatu cairan pada konsentrasi rendah, maka dapat mengubah karakteristik
tegangan permukaan dan antarmuka cairan tersebut. Antarmuka adalah bagian
dimana dua fasa saling bertemu/kontak. Permukaan yaitu antarmuka dimana satu
fasa kontak dengan gas, biasanya udara (Paramita & Artati, 2003).

Gambar 2, Misel pada Sabun, Utamanya pada Deterjen (Bahl et al, 2013)
Gugus hidrofilik molekul surfaktan dapat bermuatan positif, negatif
maupun tidak bermuatan. Jenis muatan tersebut akan menentukan jenis surfaktan
yang terbentuk (Hui & Matheson, 1996) :
a. Bermuatan negatif surfaktan anionik
b. Bermuatan positif surfaktan kationik
c. Bermuatan positif dan negatif surfaktan amfoterik (ampholyte,
zwitter ion)
d. Tidak bermuatan surfaktan nonionik.
Molekul dari zat seperti sabun dan deterjen buatan lebih kecil dari partikel
koloid. Walau dalam larutan pekat molekul-molekul ini membentuk agregat
berukuran koloid, zat yang molekulnya teragregasi langsung pada pelarut yang
diberikan membentuk partikel berdimensi koloid disebut koloid berasosiasi atau
koloid asosiasi (Bahl et al., 2013).
Agregat koloid dari molekul sabun dan deterjen yang terbentuk dalam
pelarut disebut sebagai misel. Beberapa contoh koloid asosiasi diantaranya (Bahl
et al., 2013):

Dispersi cairan dalam bentuk emulsi disebut emulsifikasi. Hal ini dapat
terjadi dengan agitasi sejumlah kecil dari satu cairan dengan dengan fasa ruahnya
satu sama lain. Hal ini terjadi lebih baik dengan melewatkan campuran dua cairan
melalui colloid mill yang dikenal sebagai homogenizer (Bahl et al., 2013):

Gambar 3, Peranan Emulsifier pada Sabun (Bahl et al., 2013)


Mula-mula reaksi penyabunan berjalan lambat karena minyak dan larutan
alkali merupakan larutan yang tidak saling larut (Immiscible). Setelah terbentuk
sabun maka kecepatan reaksi akan meningkat, sehingga reaksi penyabunan
bersifat sebagai reaksi autokatalitik, di mana pada akhirnya kecepatan reaksi akan
menurun lagi karena jumlah minyak yang sudah berkurang (Alexander et al.,
1964).

Gambar 4, Bentuk-bentuk Emulsi antara Air dan Minyak (Bahl et al., 2013)

V. ALAT DAN BAHAN

5.1 Alat
1.

Batang Pengaduk

2.

Gelas Kimia

3.

Hot Plate / Pemanas Elektrik

4.

Neraca Analitis

5.

Panci Stainless Steel

6.

Spatula

7.

Wadah plastik

5.2 Bahan
5.2.1 Detergen Powder
Formulasi Umum (Basis 1 kg produk)
1. Na-LAS (Texaphon)

: 150 gram

2. Natrium karbonat

: 250 gram

3. Sodium Sulfat

: 495 gram

4. STPP

: 200 gram

5. CMS

: 5 gram

6. OBA

: 1,5 gram

7. Parfum

: secukupnya

5.2.2 Sabun Tangan Cair


Formulasi Umum (Basis 1 kg produk)
1. Surfaktan (Sodium/ Amonium Lauryl Sulfat)

: 75 gram

2. Pelembut (Cab-30 dan glycerin)

: 40 gram

3. Pengawet (Methyl-paraben)

: 1 gram

4. Pengomplek (EDTA)

: 1 gram

5. Pewangi (Parfum)

: secukupnya

6. Pengatur kekentalan (NaCl)

: secukupnya

7. Pengatur pH (Asam sitrat)

: secukupnya

8. Demin water

: sampai 1 L

VI. PROSEDUR
6.1 Detergen Powder
Bahan-bahan seperti CMS sebanyak 5 gram, OBA 1,5 gram,
soda ash 250 gram, soda LAS 50 gram, sodium sulfat 495 gram dan
STTP 200 gram ditimbang dengan menggunakan timbangan. Setelah
ditimbang, bahan-bahan tersebut dimasukkan dalam wadah yang telah
disediakan. Bahan-bahan yang telah dimasukkan ke dalam wadah,
diaduk sampai rata. Setelah semua bahan tercampur dengan rata, secara
pelan-pelan parfum ditambahkan ke dalam campuran bahan tersebut.
Lalu diaduk kembali. Setelah itu, produk jadi dimasukkan ke dalam
kemasan plastik, lalu dibungkus yang rapat dan diberi label.

6.2 Sabun Tangan


Sebanyak 75 gram sodium lauryl sulfat ditimbang kemudian
dilarutkan dalam 500ml air demineral dalam sebuah reaktor (panci
stainless-steel). Campuran dalam reaktor tersebut kemudian dipanaskan
diatas kompor listrik (pemanas), diaduk hingga campuran tercampur
baik. Campuran diangkat dan ditambah dengan CAB-30 sebanyak 40
gram, diaduk kembali hingga larut dengan baik. Selanjutnya campuran
ditambah dengan 50 gram gliserin, 1 gram pengawet (Metil Paraben),
dan pewarna hijau secukupnya disertai pengadukan agar seluruh zat
yang ditambahkan dapat terlarut dan tercampur dengan baik. Sebanyak 1
gram EDTA ditimbang dan di larutkan dalam 50ml air kemudian
dituangkan kedalam reaktor berisi campuran bahan sebelumnya. Setelah
campuran di aduk rata, pH campuran di cek menggunakan indikator
universal. Kemudian pH diatur agar larutan sabun tangan cair netral
(pH=7) dengan penambahan asam sitrat. Langkah terakhir adalah
mengatur kekentalan larutan sabun tangan cair dengan menambahkan
garam dapur (natrium klorida) secukupnya.

VII. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


7.1 Tabel Pengamatan
7.1.1 Pembuatan Deterjen Powder
Zat

Perlakuan

Hasil

Sodium LAS

Ditimbang 50 gram

Seluruh bahan telah

Soda Ash

Ditimbang 250 gram

ditimbang

Sodium Sulfat

Ditimbang 495 gram

STPP

Ditimbang 200 gram

CMS

Ditimbang 5 gram

OBA

Ditimbang 1,5 gram

Bahan-bahan yang telah

Dimasukkan dalam

ditimbang

wadah plastik

Dicampurkan dengan

Semua bahan tercampur

merata
Parfum

Ditambahkan

Deterjen bubuk hasil

Dimasukkan dalam

produksi

Deterjen telah jadi

kantung plastik

Disegel dan diberi


label

7.1.2 Pembuatan Sabun Tangan Cair


Zat
Surfaktan (Texaphone)

Perlakuan

Ditimbang 75 gram

Dimasukkan dalam

Hasil

panci

Dilarutkan dalam 500


mL akuades

Surfaktan larut, terbentuk

Larutan dipanaskan

busa

Cocodiamine

Ditimbang 30 gram

Dimasukkan dalam
larutan surfaktan

CAB-30

Campuran diaduk

Ditimbang 40 gram

Dimasukkan dalam
campuran larutan

Gliserin

Ditimbang 50 gram

Dimasukkan dalam

Campuran larutan

Semua bahan tercampur

campuran larutan

Campuran diaduk

Semua bahan tercampur

Pewarna

Ditambahkan

Larutan berwarna hijau

Campuran larutan sabun

Diuji pH dengan

pH larutan ~ 9

cair

indikator universal

Diatur pH agar netral


dengan asam sitrat
secukupnya

Diuji lagi pH setelah

pH larutan ~ 7

penambahan sitrat

Ditambah NaCl agar


Sabun tangan cair jadi

kental

Sabun tangan cair hasil

Larutan didinginkan

Dimasukkan dalam

produksi

kantung plastik

Disegel dan diberi


label

7.2 Perhitungan
7.2.1

Biaya Investasi
Modal Tetap:

Timbangan

: Rp 420.000,- (kapasitas 100 kg)

Reaktor (drum bekas 100 L)

: Rp 75.000,-

Motor pengaduk

: Rp 6.500.000,- (kapasitas 10 kg)

Sistem pemanas & kontrol

: Rp 12.000.000,-

Wadah-wadah

: Rp 200.000,-

Perlengkapan lainnya

: Rp 150.000,-

Total Modal Tetap

: Rp 19.345.000,-

Modal Kerja

Persediaan bahan baku dan kemasan

: Rp 540.000,-

Persediaan bahan jadi

: Rp 1.235.000,-

Total Modal Kerja

: Rp 1.775.000,-

7.2.2

Total Investasi
Total Modal

= Modal Tetap + Modal Kerja


= Rp (19.345.000,-) + (1.775.000,-)
= Rp 21.120.000,-

7.2.3

Biaya Operasional, HPP, BEP dan PBP untuk Detergen Powder

Biaya Operasional (untuk Detergen Powder)

Biaya bahan baku dan kemasan

o Sod. Lauril Sulfat

: Rp 21.000,- (per kg)

o Soda Ash

: Rp 3.500,- (per kg)

o Sod. Sulfat

: Rp 2.000,- (per kg)

o STPP

: Rp 4.250,- (per kg)

o CMS

: Rp 30.000,- (per kg)

o OBA

: Rp 51.750,- (per kg)

o Parfum

: Rp 150.000,- (per kg)

Total Biaya Bahan Baku

: Rp 262.500,-

Penyusutan peralatan (depresiasi alat)

: Rp 11.090.000,-

Biaya operasional penjualan

: Rp 5.103.000,-

Total Biaya Operasional

: Rp 16.455.500,-

Perhitungan HPP Detergen Powder

Harga pokok bahan baku


o Sod. LAS 0,150kg x 21.000/kg

: Rp 3.150,-

o Sod. Ash 0,250kg x 3.500/kg

: Rp

875,-

o Sodium Sulfat 0,495kg x 2.000/kg

: Rp

990,-

o STPP 0,2kg x 4.250/kg

: Rp

850,-

o CMS 0,005kg x 30.000/kg

: Rp

150,-

o OBA 0,0015kg x 51.750/kg

: Rp

78,-

o Parfum 0,003kg x 150.000/kg

: Rp

: Rp 6.543,-

Total HPP/kg produk

Biaya HPP/kg produk

450,- +

: Rp 6.543,-

Apabila produk tersebut dijual per unit Rp 10.000,- maka :

Keuntungan/ kg

= HPP/ kg Harga Pokok Penjualan/kg


= Rp 10.000,- - Rp 6543,- = Rp 3457,-

Keuntungan/ hari

= Keuntungan/ kg x Kapasitas Produksi/ hari


= Rp 3457,- x 500 kg/hari
= Rp 1.728.500,-/ hari

Perhitungan Break Even Point (BPP) Detergen Powder

BEP

= Biaya operasional/ bulan : harga jual


= Rp 16.455.500,- : Rp 10.000,= 1.646 buah

BEP/ hari = BEP : 25 hari = 1.646 buah : 25 hari = 66 buah/hari

Perhitungan Pay Back Period (PBP) Detergen Powder

PBP = [(Total Investasi) : [(Target Penjualan/hari BEP/hari) x keuntungan/


kg x hari kerja/bln] ]

10

= [(Rp 21.120.000,-) : [ (100 buah/hari 66 buah/hari) x Rp 3457,-/kg x


25 hari)] ]
= [(Rp 21.120.000,-) : (2.938.450)]
= 8 bulan

7.2.4

Biaya Operasional, HPP, BEP dan PBP untuk Sabun Tangan Cair

Biaya Operasional (untuk Sabun Tangan Cair)

Biaya bahan baku dan kemasan

o Surfaktan

: Rp 31.000,-

o CAB- 30

: Rp 15.000,-

o Glycerin

: Rp 25.000,-

o Metil Paraben

: Rp 110.000,-

o EDTA

: Rp 50.000,-

o Parfum

: Rp 200.000,-

o Natrium Klorida

: Rp 2.000,-

o Asam Sitrat

: Rp 10.000,-

o Demin water

: Rp 500,00

Total Biaya Bahan Baku

: Rp 443.500,-

Penyusutan peralatan (depresiasi alat)

: Rp 11.090.000,-

Biaya operasional penjualan

: Rp 5.103.000,-

Total Biaya Operasional

: Rp 16.636.500,-

Perhitungan HPP Detergen Powder

Harga pokok bahan baku


o Surfaktan 0,075% x Rp 31.000,00/ kg

: Rp 2.325,00

o CAB- 30 0,040% x Rp 15.000,00/ kg

: Rp 600,00

o Glycerin 0,050% x Rp 25.000,00/ kg

: Rp 1.250,00

o Metil Paraben 0,001% x Rp 110.000,00/ kg : Rp 110,00


o EDTA 0,001% x Rp 50.000,00/ kg

: Rp 50,00

o Parfum 0,003% x Rp 200.000,00/ kg

: Rp 600,00

o Natrium Klorida 0,005% x Rp 2.000,00/ kg : Rp 10,00


o Asam Sitrat 0,001% x Rp 10.000,00/ kg

11

: Rp 10,00

o Demin water 1 x Rp 500,00/ liter

: Rp 5455,-

Total HPP/kg produk

Biaya HPP/kg produk

: Rp 500,00 +

: Rp 5455,-

Apabila produk tersebut dijual per unit Rp 10.000,- maka :

Keuntungan/ kg

= HPP/ kg Harga Pokok Penjualan/kg


= Rp 10.000,- - Rp 5455,- = Rp 4545,-

Keuntungan/ hari

= Keuntungan/ kg x Kapasitas Produksi/ hari


= Rp 4545,- x 500 kg/hari
= Rp 2.272.500,-/ hari

Perhitungan Break Even Point (BPP) Sabun Cair

BEP

= Biaya operasional/ bulan : harga jual


= Rp 16.636.500,- : Rp 10.000,= 1.664 buah

BEP/ hari = BEP : 25 hari = 1.664 buah : 25 hari = 67 buah/hari

Perhitungan Pay Back Period (PBP) Sabun Cair

PBP = [(Total Investasi) : [(Target Penjualan/hari BEP/hari) x keuntungan/


kg x hari kerja/bln] ]
= [(Rp 21.120.000,-) : [ (100 buah/hari 67 buah/hari) x Rp 4545,-/kg x
25 hari)] ]
= [(Rp 21.120.000,-) : (3.749.625)]
= 6 bulan

VIII. PEMBAHASAN
8.1 Sabun Tangan Cair
Percobaan kali ini bertujuan untuk mempelajari dan mempraktekan
proses pembuatan detergent powder, menghitung kelayakan ekonomi
pembuatan detergent powder HPP, biaya produksi, operasional, keuntungan,

12

BEP, PBP, dan mampu merancang proses pembuatan detergent powder skala
semi komersial.
Formulasi detergent cukup sederhana yaitu Natrium LAS, Natrium
karbonat, Sodium sulfat, STPP, CMS (Carboxyl Methyl Cellulose), OBA
(Optical Brithening Agent), dan parfum. Begitu pun dengan cara
pembuatannya. Tahap awal, dimulai dengan mempersiapkan bahan-bahan
baku sesuai dengan formula atau detergent powder yang akan dibuat. Bahanbahan baku sudah teruji kualitasnya, tidak pula cacat atau rusak baik fisik
maupun kimia (yang ditandai dengan adanya perubahan bau, warna, bentuk,
atau kekentalan pada bahan tersebut). Mengukur bahan yang akan diproses,
bisa dilakukan dengan cara menimbang beratnya atau mengukur volumenya,
tergantung dengan basis apa yang digunakan dalam formula atau resepnya.
Ketelitian dan keakuratan penimbangan merupakan faktor penting terhadap
hasil akhir pembuatan detergent powder.
Semua bahan dicampurkan dengan cara penambahan satu per satu
tiap bahan, lalu dikocok sampai homogen. Bahan utama pembentuk detergen
adalah surfaktan. Surfaktan yang digunakan adalah Na-LAS (Natrium Laury
Sulfonate). Texaphon adalah salah satu merek dagang dari Sodium LAS
yang merupakan suatu surfaktan.

Gambar 5, Struktur Natrium Lauril Sulfonat.


Surfaktan (Surface Active Agents) merupakan bahan yang dapat
menurunkan teganqan permukaan suatu cairan dan pada bagian antarmuka
fasa (baik cair-gas maupun cair-cair) sehingga mempermudah penyebaran
dan pemerataan. Sufaktan merupakan bahan aktif dari detergent yang
berfungsi untuk meningkatkan daya bersih. Ciri dari keaktifannya adalah
keberadaan busa jika dilarutkan dalam air. LAS memiliki fungsi sebagai
bahan aktif permukaan yang akan berperan dalam pencucian. LAS memiliki
sifat hidrofobik dan sifat hidrofilik yang berfungsi untuk mengemulsikan

13

kotoran dengan lautan cuci sehingga dapat terangkat dalam proses


pencucian.
Setelah itu, ditambahkan Natrium karbonat yang berfungsi untuk
meningkatkan daya bersih. Natrium karbonat disebut juga soda ash, yang
secara fisik berbentuk kristalin dengan kemurnian 99% . Soda ash
merupakan senyawa garam basa yang berperan dalam pengendapan ion-ion
logam yang menggangu proses pencucian seperti Ca2+ dan Mg2+ . Soda ash
melarut dalam air dengan melepaskan kalor sehingga akan memberikan efek
panas ditangan bila zat tetsebut terkandung dalam konsentrasi berlebih.
Natrium karbonat yang ditambahkan tidak boleh terlalu banyak, karena dapat
menyebakan panas di kulit ketika digunakan pada waktu mencuci. Bahan ini
hanya merupakan bahan penunjang dalam pembuatan detergent.
Selanjutnya ditambahkan Sodium sulfat yang merupakan bahan
pengisi (Filler). Sodium sulfat berbentuk powder berwarna putih dengan
densitas cukup besar sekitar 1000 g/L dan mudah larut dalam air. Bahan ini
berfungsi untuk mengisi seluruh campuran bahan baku yang secara tidak
langsung tidak memberikan efek terhadap daya cuci detergen. Penambahan
bahan ini mencapai hampir 50% pada setiap fomulasi detergent. Hal ini
bertujuan untuk menambah massa dari produk detergen supaya menjadi lebih
banyak. Karena keberadaannya dalam detergent hanya ditinjau dari sisi
ekonomis. Selain itu natrium sulfat juga mempunyai kemampuan yang cukup
baik untuk melarut dalam air, dan karena densitasnya sangat besar sehingga
tidak mempengaruhi pH larutan. Kemurnian natrium

sulfat

yang

diperdagangkan adalah 99% dan sisanya adalah air.


Kemudian ditambahkan STTP (Sodium Tripolyphosphate) yang
berupa kristalin berwarna putih dengan densitar 800 g/L dan berbentuk
sedikit kasar atau granula. STTP berfungsi sebagai bahan penunjang untuk
meningkatkan daya bersih detergen. STTP membantu daya cuci detergen
dalam kondisi air sadah sehingga surfaktan jenis non ionik akan mengendap
akibat bereaksi dengan Ca2+ dan Mg2+ sehingga fungsi dari surfaktan
menurun.

14

Gambar 6, Struktur Natrium Tripolifosfat (STTP).


Bahan tambahan lainya adalah CMS dan OBA. Kedua bahan ini
merupakan bahan tambahan, sehingga keberadaannya tidak harus selalu ada
dalam formulasi detergent. CMS (Carboxyl Methyl Cellulose) berbentuk
powder berwarna putih yang memiliki sifat kental jika dilarutkan dalam air.
Bahan ini berfungsi agar kotoran tidak menempel lagi pada kain. CMS tidak
tahan bakteri sehingga larutan ini akan beraroma busuk jika terlalu lalma
disimpan. Sedangkan OBA (Optical Brithening Agent) yang berbentuk
serbuk kekuning-kuningan berfungsi untuk memutihkan kain. Bahan ini
tersusun atas senyawa organik yang memiliki sifat fluorescense yang
menmbuat bahan yang dicuci menjadi lebih cerah dan bersih. Hasil
pencucian menggunakan OBA akan terobservasi dengan baik menggunakan
lampu ultaviolet dimana bahan yang mengandung OBA akan cemerlang
sedangakan yang tidak memakai OBA akan terlihat kusam.
Semua bahan yang telah ditambahkan harus tercampur semua sampai
homogen dan semua bahan terdistribusi merata. Langkah terakhir adalah
penambahan bahan pewangi yaitu parfum. Bahan ini merupakan bahan
tambahan dalam formulasi detergent, tetapi keberadaannya merupakan salah
satu hal yang penting. Parfum disemprotkan ke dalam detergent. Hal ini
dilakukan agar parfum dapat terdistribusi secara merata pada tiap bagian
detergent. Karena ketika disemprotkan dan dilakukan pengadukkan terhadap
detergent tersebut, maka parfum akan lebih mudah terdistribusi karena lebih
ringan. Detergen bubuk yang telah jadi lalu dimasukkan dalam kantung
plastik, disegel dan diberi label.

15

8.2 Sabun Tangan Cair


Percobaaan kali ini bertujuan untuk mempelajari dan mempraktekan
proses produksi sabun tangan cair, menghitung kelayakan ekonomi
pembuatan sabun tangan cair HPP, biaya produksi, operasional, keuntungan,
BEP, PBP, dan mampu merancang proses produksi pembuatan sabun tangan
cair skala semi komersial.
Proses pembuatan sabun ini dimulai dengan mempersiapkan bahan
yang akan digunakan sebagai bahan baku sesuai dengan daftar formula atau
resep sabun tangan cair yang akan dibuat. Bahan-bahan yang akan digunakan
dalam percobaan ini harus telah teruji kualitasnya, tidak kedaluwarsa dan
tidak pula cacat atau rusak baik fisik maupun kimia (yang ditandai dengan
adanya perubahan bau, warna, bentuk, atau kekentalan pada bahan tersebut).
Pertama-tama Sodium Lauryl Sulfat atau yang biasa disebut dengan
SLS dilarutkan dalam aqua demin sebanyak 500 mL. SLS berfungsi
sebagai surfaktan. Surfaktan atau surface active agent merupakan suatu
molekul amphipatic atau amphiphilic yang mengandung gugus hidrofilik dan
lipofilik dalam satu molekul yang sama. Secara umum kegunaan surfaktan
adalah untuk menurunkan tegangan permukaan, tegangan antarmuka,
meningkatkan kestabilan partikel yang terdispersi dan mengontrol jenis
formasi emulsi, yaitu misalnya oil in water (O/W) atau water in oil (W/O).

Gambar 7, Mekanisme Kerja Surfaktan (Surface Active Agents).


Larutan dipanaskan dan sambil sekali-sekali diaduk hingga SLS
melarut, kemudian diangkat. Pemanasan dan pengadukan bertujuan untuk
mepercepat kelarutan campuran. Dengan adanya pemanasan dan pengadukan
akan meningkatkan energi kinetik molekul-molekul di dalam larutan dan
menghasilkan frekuensi tumbukkan antar molekul meningkat sehingga

16

larutan dapat mempercepat penghomogenan larutan. Akan tetapi pengadukan


tidak boleh dilakukan terlalu kuat dan sering karena SLS yang digunakan
bersifat surfaktan, sehingga bila pengadukan terlalu kuat atau sering
dikhawatirkan timbulnya busa yang dapat mengganggu proses selanjutnya.
Setelah larutan SLS terbentuk, Cab-30 ditambahkan dan diaduk
hingga merata. Cab-30 disini berfungsi sebagai pelembut. Kemudian
ditambahkan cocodiamide yang merupakan bahan pembentuk busa.
Selanjutnya

ditambahkan

glyserin

dan

kemudian

disusul

dengan

penambahan Methylparaben dan pewarna hijau, kemudian seluruhnya diaduk


hingga merata. Glycerin ditambahkan sebagai pelembut. Sedangkan
Methylparaben bertindak sebagai pengawet.
Methylparaben adalah salah satu dari parabens yang memiliki
struktur molekul CH3(C6H4(OH)COO). Methylparaben merupakan methyl
ester dari asam p-hidroksibenzoat. Methylparaben merupakan pengawet
untuk makanan dan kosmetik.

Gambar 8, Struktur Metil Paraben


Setelah itu, EDTA ditambahkan ke dalam larutan yang berwarna
kuning. Namun sebelumnya EDTA dilarutkan terlebih dahulu dalam air
sebanyak 50 mL. EDTA berfungsi sebagai zat pengompleks, di mana EDTA
akan mengomplekskan ion Ca2+ dan Mg2+. hal tersebut bertujuan untuk
mengurangi kesadahan air.

Gambar 9, Struktur Etilendiamin Tetraasetat (EDTA).

17

Setelah itu, pH larutan diatur dengan panambahan asam sitrat


berkadar 50% hingga mencapai pH netral atau pH 7 dengan menggunakan
kertas lakmus. Jika larutan dibiarkan dalam kondisi asam, maka akan
berakibat menimbulkan kegatalan pada kulit.
Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada
daun dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini
merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai
penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan. Keasaman asam
sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton
dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat. Sitrat
sangat baik digunakan dalam larutan penyangga untuk mengendalikan pH
larutan.

Gambar 10, Struktur Asam Sitrat.


Kemampuan asam sitrat untuk mengkhelat logam menjadikannya
berguna sebagai bahan sabun dan deterjen. Dengan meng-kelat logam pada
air sadah, asam sitrat memungkinkan sabun dan deterjen membentuk busa
dan berfungsi dengan baik tanpa penambahan zat penghilang kesadahan.
Demikian pula, asam sitrat digunakan untuk memulihkan bahan penukar ion
yang digunakan pada alat penghilang kesadahan dengan menghilangkan ionion logam yang terakumulasi pada bahan penukar ion tersebut sebagai
kompleks sitrat.
Kekentalan sabun diatur dengan menambahkan padatan garam
natrium klorida, NaCl jenuh. NaCl dapat meningkatkan kekentalan dari
sabun cair karena di dalam NaCl terkandung ion Na+ yang dapat mengikat
air. Dalam jumlah sedikit NaCl dapat meningkatkan kelarutan akan tetapi
dalam jumlah yang cukup banyak NaCl dapat mengentalkan, proses ini
sering disebut dengan salting-out. Setelah kekentalan sabun tercapai, sabun
cair lalu dimasukkan dalam kantung plastik, disegel dan diberi label.

18

IX. KESIMPULAN
9.1 Sabun Tangan Cair
1. Proses produksi sabun tangan cair dapat dipelajari dan dipraktekkan.
2. Kelayakan ekonomi pembuatan sabun tangan cair semi komersial antara
lain:

HPP

: Rp 5.455/kg

Operasional

: Rp 16.636.500

Keuntungan

: Rp 2.272.500/hari

BEP

: 67 buah/ hari

PBP

: 8 bulan

3. Proses produksi pembuatan sabun tangan cair dalam skala semi komersial
dapat dirancang.

9.2 Detergen Powder


1. Proses produksi detergen powder dapat dipelajari dan dipraktekkan.
2. Kelayakan ekonomi pembuatan detergen powder semi komersial antara
lain:
HPP

: Rp 6.543/kg

Operasional

: Rp 16.455.500/bln

Keuntungan

: Rp 1.728.500/hari

BEP

: 66 buah/hari

PBP

: 6 bulan

3. Proses produksi pembuatan detergen powder dalam skala semi komersial


dapat dirancang.

19

DAFTAR PUSTAKA
Alexander J., Shirrton, Swern D., Norris F.A., & Maihl K.F., 1964, Baileys
Industrial Oil and Fat Product, 3rd Ed. John Wiley & Sons. New York.
Bahl, A., Bahl, B.S. & Tuli, G.D. 2013. Essentials of Physical Chemistry,
Multicolour Edition. S. Chand Limited, Khatmandu.
Clayden, J., Greeves, N. & Warren, S., 2012. Organic Chemistry. 2nd edition.
London: Oxford University Press.
Paramita, V. & Artati, Y., 2003, Pemanfaatan Abu Sabut Kelapa Sebagai
Substitusi Basa dalam Proses Saponifikasi, Laporan Penelitian Jurusan
Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.
Solomons, T. & Fhryle, C., 2011. Organic Chemistry. 10th edition. New York:
John Wiley and Sons, Inc..

20