Anda di halaman 1dari 13

PROSES PRODUKSI CAT TEMBOK

LAPORAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Kimia
Industri

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 5B
Sinta Marfiani

140210120001 Annisa Qonita Firda

140210120048

Fadhlan F.

140210120006 Atika N.

140210120058

Ulfy D.N. Hamdani

140210120018 Maulana Muhammad

140210120068

Ikbar Ar-Rumaisha

140210120028 Meiga Kurniawati

140210120069

Emille

140210120030 Arnel Amalia P.

140210120076

Farras Famela Dhiya

140210120045 Fitri Firdausi Ashadi

140210120086

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN KIMIA
LABORATORIUM KIMIA MATERIAL
2015

PROSES PRODUKSI CAT TEMBOK

I.

TUJUAN PERCOBAAN
1.1

Mempelajari dan mempraktekan proses produksi pembuatan cat


tembok.

1.2

Mampu menghitung kelayakan ekonomi pembuatan cat HPP, biaya


produksi operasional, keuntungan, BEP, PBP.

1.3

Mampu merancang proses produksi pembuatan cat semi komersial.

II. PRINSIP PERCOBAAN


Percobaan ini didasarkan pada prinsip sebagai berikut :
2.1

Reaksi Polimerisasi
Reaksi pembentukan suatu polimer yang terdiri dari kumpulan struktur
monomer yang berulang

2.2

Pengikatan Resin
Proses pengikatan resin akrilik pada polimer yang berfungsi
membentuk lapisan tipis (film) pada cat

2.3

Pembentukan Pigmen
Proses pembentukan pigmen pada lapisan tipis (film) cat menggunakan
Titanium dioksida (TiO2) sebagai proteksi terhadap sinar UV

III. REAKSI
Reaksi pembentukan cat dari resin akrilik
Polimerisasi
Adisi
n

Metil metakrilat

Poli(metil metakrilat)
Sebagai cat lateks
(Pavia et al., 2013)

IV. TEORI DASAR


Cat didefinisikan sebagai tebaran koloid dari pigmen dalam sarana
(resin dan pelarut). Dengan demikian sifat cat sangat tergantung pada
ukuran partikel dan permukaan pigmen. Tebaran pigmen adalah proses
untuk membasahi dan melepas partikel utama pigmen dan menebarkannya
ke dalam media secara merata. Dalam menghindari koagulasi dan menjaga agar
kondisi tetap stabil, hal yang sangat penting adalah kontrol yang didasarkan atas
kimia koloid dan kimia antar-permukaan (Sucahyo, 2011).
Cat adalah berbagai komposisi cair, liquefiable, atau komposisi mastik
dimana, setelah diaplikasikan pada substrat dalam sebuah lapisan tipis, ia akan
terkonversi menjadi lapisan padat. Ia biasa digunakan untuk mewarnai,
melindungi atau menyediakan tekstur pada objek (Berendsen, 1989).
Cat pertama kali digunakan sebagai pelapis protektif oleh bangsabangsa Mesir dan Israel, yang mengaplikasikan pitches dan balsam pada kayu di
kapal-kapal mereka. Seniman di zaman awal juga menggantungkan dengan
mudah pada zat-zat alam yang tersedia untuk membuat cat, seperti pigmen alami
Bumi, arang, jus beri, lard, darah dan getah sadap pada abad keduapuluh sebagai
perubahan berarti dalam komposisi dan pembuatan cat (Baov, 1981).
Cat mengandung berbagai komposisi seperti resin bagian pembentuk
film pada cat, termasuk diantaranya polivinil asetat (PVA), alkyd resin dll;
pelarut digunakan untuk menipiskan atau mendispersikan resin, meningkatkan
ketahanannya, menyediakan kemudahan aplikasi dan pembentukan film cat
contohnya kerosene dan air (Dumitiu & Jitaru, 2011).

Gambar 1, Reaksi pembentukan Alkyd Resin (Sucahyo, 2011)

Pigment secara dasar; seperti titanium dioksida (TiO2) yang memberi


pengaruh pada penyembunyian kapabilitas film cat dan memastikan proteksi sinar
ultraviolet (Woodbridge, 1991)
Bagian sekunder, yakni ekstender menyediakan sebagai filter dan
membantu mengendalikan viskositas dan kilap pada cat. Contohnya meliputi:
Kalsium karbonat (CaCO3), kaolin dan talcum; Pewarna cairan pemberi warna
yang memberikan cat warna-warna akhir yang diinginkan; Zat aditif suatu zat
yang ditambahkan pada jumlah kecil untuk memberikan cat berbagai kualitas
yang dibutuhkan seperti kemampuan untuk mengering secara normal,
menyimpan tenaga, memodifikasi tegangan muka, meningkatkan laju alir,
meningkatkan penampilan akhir, meningkatkan puncak basah, meningkatkan
stabilitas pigmen, menyediakan sifat antibeku, control foaming, control skinning,
dll (Bently and Turner, 1997).
Tipe lain aditif termasuk diantaranya katalis, penebal (thickener) seperti
hidroksietil dan selulosa (Natrosol); stabilizer, emulsifier, teksturizer, promotor
adhesi, stabilizer ultra-violet (UV), flattener (agen de-glossing), biosida untuk
melawan pertumbuhan bakteri, pengawet dan pengering (Gunorubon & Misel,
2014).
Akrilik merupakan polimer adisi sintetik, sering digunakan sebagai
binder dalam pembuatan cat karena memiliki gaya adhesi yaitu gaya tarik
menarik antar partikel. Akrilik berbentuk cairan tidak berwarna, bau tajam
khas, mudah terbakar, rumus molekul C3H4O2, Berat molekul 72,06 g/mol,
Titik didih 141C ,Titik leleh 14C, Titik nyala 50C, Kerapatan relatif (air = 1)
2,5 dan Tekanan uap 3,1 mmHg pada 20 C. Dalam kimia organik , kelompok
acryloyl adalah kelompok fungsional dengan struktur H2C=CH-C(=O) dengan
Nama IUPAC prop-2-enoyl, dan juga dikenal sebagai acrylyl atau hanya
akrilik. Senyawa mengandung kelompok acryloyl dapat disebut sebagai senyawa
akrilik (Sucahyo, 2011).

Bahan pengikat berfungsi agar cat dapat membentuk lapisan film tipis
dan merekat pada benda yang dilapisi titik. Bahan-bahan ini biasanya adalah
alkyd resin, epoxy resin, minor resin, silikon resin, dan lateks. Zat pewarna atau
pigmen biasanya berupa partikel padat yang mudah terdispersi dalam cat dan
dapat memberikan warna, daya tahan, daya tutup dan melindungi besi dari korosi.
Pelarut yang ditambahkan ke dalm cat berfungsi melarutkan zat pengikat dan
mengencerkan sehingga kekentalan cat dapat diatur sesuai dengan standar. Zat
pengisi digunakan untuk biasanya digunakan untuk menambahkan volume dari
cat sehingga dapat menurunkan harga produksi cat. Zat pengisi yang biasanya
digunakan adalah barium sulfat, kaolin, mika, talk, dan paris white. Zat aditif
yang digunakan dalam proses pembuatan cat biasanya digunakan untuk
meningkatkan performansi cat. Zat yang biasanya digunakan antara lain (Shreve,
1956):
a. Bioaktif aditif
Bahan ini untuk mencegah timbulnya mikroorganisme seperti jamur.
Bahan-bahan yang biasa digunakan adalah Barium metaborat,
Diklorofluamida, dll.
b. Viskositas Modifier
Formulasi cat biasanya dalam bentuk larutan encer sedangkan dalam
bentuk konsentrat biasanya harus ditambahkan bahan pengental agar
dapat mempertahankan dalam cat sesuai dengan keinginan. Bahan-bahan
yang biasanya digunakan adalah CMCNa, AllginatNa, PVA, dll. Bahan
ini biasanya digunakan untuk mempertahankan bahan pengisi dan
pewarna tetap terdispersi.
c. Dispersing Agent
d. Antifoam
Untuk menghilangkan busa dan selama produksi cat.
e. Slip Agent
Untuk melicinkan permukaan film sehingga lapisan cat mengkilat.
Biasanya digunakan sodium silikat

V. ALAT DAN BAHAN

5.1 Alat
1.

Gelas kimia

2.

Mixer (Pengaduk)

3.

Neraca analitis

4.

Pemanas Listrik/ Hot Plate

5.

Spatula

6.

Wadah (Reaktor/ Tangki)

5.2 Bahan
1.

Aquades (H2O)

2.

HE Selulosa (Natrosol)

3.

Natrium Karbonat

4.

Pine Oil

5.

Polimer Akrilik

6.

Titanium dioksida (TiO2)

VI. PROSEDUR
Sebanyak 12,5 gram natrosol (HE Selulosa) dilarutkan dalam air panas,
kemudian setelah tercampur sempurna diambahkan 1300 gram kalsium karbonat
dan diaduk hingga merata. Lalu sebanyak 250 gram akrilik dimasukkan dan
diaduk hingga merata. Kemudian ditambahkan 25 gram pine oil dan diaduk
hingga merata selama beberapa menit, lalu ditambahkan 125 gram titanium
dioksida dan diaduk kembali hingga merata. Cat yang telah diproduksi lalu
dimasukkan dalam kantung plastik.

VII.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

7.1 Tabel Pengamatan


Zat

Perlakuan
ditimbang

Natrosol

Hasil
m = 12,5 gram

dilarutkan dalam akuades


larut

yang dipanaskan

ditimbang
Kalsium
karbonat

m = 1300 gram

dimasukkan dalam wadah


berisi larutan natrosol
diaduk dengan mixer

larut
terbentuk emulsi berwarna
putih

ditimbang

m = 250 gram

dimasukkan dalam campuran

Akrilik

reaksi
diaduk dengan mixer
ditimbang
Pine Oil

m = 25 gram

dimasukkan dalam campuran


reaksi
diaduk dengan mixer
ditimbang

Titanium

m = 125 gram

dimasukkan dalam campuran

dioksida

reaksi
diaduk dengan mixer

Cat tembok

cat tembok jadi

dimasukkan dalam kantung

hasil reaksi

plastik

7.2 Perhitungan
7.2.1

Biaya Investasi
Modal Tetap:

Timbangan

: Rp 420.000,- (kapasitas 100 kg)

Reaktor (drum bekas 100 L)

: Rp 75.000,-

Motor pengaduk

: Rp 3.250.000,- (kapasitas 5 kg)

Wadah-wadah

: Rp 200.000,-

Perlengkapan lainnya

: Rp 150.000,-

Total Modal Tetap

: Rp 4.095.000,-

Modal Kerja

Persediaan bahan baku dan kemasan

: Rp 540.000,-

Persediaan bahan jadi

: Rp 1.235.000,-

Total Modal Kerja

: Rp 1.775.000,-

7.2.2

Total Investasi
Total Modal

= Modal Tetap + Modal Kerja


= Rp (4.095.000,-) + (1.775.000,-)
= Rp 5.870.000,-

7.2.3

Biaya Operasional

Biaya bahan baku dan kemasan

Air bersih (1520 g (%) x Rp3000,00/kg)

: Rp. 4.560,00

HE Cellulose (25 g (%) x Rp52.000,00 /kg)

: Rp. 1.300,00

Kalsium karbonat (2600 g (%) x Rp 2000,00/kg) : Rp. 5.200,00

Polimer Akrilik (500 g (%) x Rp 20.000,00 /kg) : Rp 7.500,00

Pine oil (50 g (%) x Rp 25.000,00/kg)

Titanium dioksida (250 g (%) x Rp 5000,00 /kg) : Rp. 1.250,00

Pewama (5 ml (%) x Rp40.000,00/kg)

: Rp 200,00

Total Biaya Bahan Baku

: Rp 21.260,-

: Rp 1.250,00

Penyusutan peralatan (depresiasi alat)

: Rp 11.090.000,-

Biaya operasional penjualan

: Rp 5.103.000,-

Total Biaya Operasional

: Rp 16.214.260,-

7.2.4

Perhitungan HPP

Harga pokok bahan baku : Rp 21.260,- (untuk 5 kg)

Biaya HPP/kg

: Rp 4.252,-

Apabila produk tersebut dijual per unit Rp 5.000,- maka :

Keuntungan/ kg

= HPP/ kg Harga Pokok Penjualan/kg


= Rp 5.000,- - Rp 4.252,- = Rp 748,-

Keuntungan/ bulan

= Keuntungan/ kg x Kapasitas Produksi/ bulan

= Rp 748,- x (1000 kg/hari x 25 hari/bulan)


= Rp 18.700.000,-/ bulan
.
7.2.5

Perhitungan Break Even Point (BPP)

BEP

= Biaya operasional/ bulan : harga jual (kapasitas 1000 kg/hari)


= Rp 16.214.260,- : (Rp 5.000,-/kg x 1000 kg/hari)
= 3,24 buah/hari

7.2.6

Perhitungan Pay Back Period (PBP)

PBP = [(Total Investasi) : [(Target Penjualan/hari BEP/hari) x keuntungan/


kg x hari kerja/bln] ]
= [(Rp 5.870.000,-) : [ (10 buah/hari 3,24 buah/hari) x Rp 748,-/kg
x 25 hari/bulan)] ]
= [(Rp 5.870.000,-) : (126.412)]
= 46,435 bulan = ~ 4 tahun

VIII. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini bertujuan untuk mempelajari dan mempraktekan
proses produksi pembuatan cat tembok, menghitung kelayakan ekonomi
pembuatan cat HPP, biaya produksi, operasional, keuntungan, BEP (Break Even
Point), PBP (Pay Back Period), serta merancang proses produksi pembuatan cat
semi komersial.
Pertama-tama HE Cellulose atau yang lebih dikenal dengan natrosol
ditimbang dengan menggunakan neraca analitis sebanyak 25 g. HE Cellulose
atau natrosol berfungsi sebagai zat perekat (binder) yang akan membuat cat dapat
menempel pada tembok. Setelah itu, HE Cellulose dilarutkan dalam air panas
sebanyak 1520 kg. Air berfungsi sebagai pelarut, dan karena dipanaskan maka
kelarutan natrosol akan meningkat. Pelarut ini ditambahkan ke dalam cat untuk
melarutkan zat pengikat dan mengencerkan cat sehingga kekentalan cat dapat
diatur sesuai dengan standar.
Air yang digunakan adalah air dingin. Karena itulah, untuk memperbesar
kelarutan HE Cellulosa dilakukan pengadukan menggunakan mixer (pengaduk).

Hal ini bertujuan untuk memperbesar tumbukan antar molekul-molekul HE


Cellulose dengan molekul air, sehinggga proses pelarutan menjadi lebih cepat.

Gambar 2, Struktur dari Hidroksietil Selulosa (merek dagang Natrosol)


Setelah larut sempurna, kalsium karbonat, CaCO3 ditambahkan sedikit
demi sedikit sebanyak 1300 g sambil diaduk hingga merata. Pengadukan
berfungsi

untuk

mempercepat

pelarutan. Pada proses pengadukan ini

menggunakan alat bantu mixer yang memiliki kecepatan yang dapat diatur.
Proses pengadukan ini dapat pula menggunakan pengaduk biasa, akan tetapi
kurang efektif karena membutuhkan waktu yang lama dan membutuhkan tenaga
atau energi yang cukup besar untuk mencampurkan larutan HE Cellulose dan
kalsium karbonat.
Kalsium karbonat yang ditambahkan digunakan sebagai bahan pengisi.
Kalsium karbonat ini dapat digunakan untuk menambahkan volume cat, sehingga
dapat menurunkan harga produksi cat. Zat pengisi lainnya yang biasanya
digunakan adalah barium sulfat, kaolin, mika, talk, dan paris white.
Setelah terbentuk larutan berwama putih, polymer acrylic ditambahkan
sebanyak 250 g dan diaduk hingga merata dengan menggunakan mixer agar
proses pencampuran berlangsung cepat. Polymer acrylic ini dapat membentuk
lapisan film tipis dan merekat pada benda yang dilapisi serta akan membuat
lapisan cat yang telas dioleskan pada dinding atau tembok telihat rata dan halus.
Bahan-bahan yang biasa digunakan adalah alkyd resin, epoxy resin, amino resin,
silicon resin, dan lateks. Sedangkan untuk cat kayu dan besi biasanya digunakan
alkyd resin.

Setelah itu, pine oil ditambahkan sebanyak 50 g dan diaduk hingga rata
menggunakan mixer. Pada proses pencampurannya dilakukan pada suhu kamar,
karena pemanasan tidak memberi pengaruh yang cukup berarti pada proses ini.
Pine oil digunakan sebagai pewangi yang dapat memberikan bau khas cemara
pada cat. Selain itu, pine oil juga berfungsi untuk menambah kelarutan CaCO3.
Titanium dioksida ditambahkan sebanyak 250 g ke dalam campuran dan
diaduk kembali menggunakan mixer. Titanium dioksida ini membuat campuran
berwama putih. Campuran atau pasta yang dihasilkan memiliki kekentalan atau
viskositas yang cukup tinggi. Kekentalan sendiri menunjukkan kualitas dari cat
itu sendiri.
Cat tembok yang dihasilkan dapat saja ditambahkan dengan pewama
untuk menghasilkan wama yang diinginkan sesuai dengan selera pembuat. Zat
pewama atau pigmen yang biasanya digunakan dapat berupa partikel padat yang
mudah terdispersi di dalam cat dan dapat memberikan karakteristik tertentu pada
cat tersebut. Karakteristk tersebut antara lain dapat memberikan wama, daya
tahan, daya tutup, dan melindungi seperti melindungi besi dan korosi. Pigmen
terdiri dari berbagai wama, antara lain pigmen putih (Titanium dioksida), pigmen
kuning (Seng kromat), pigmen hijau (Kromium (III) oksida), pigmen biru
(Prussian blue), pigmen merah (Besi (II) oksida), dan pigmen hitam (Carbon
black). Kadang-kadang pada proses pembuatan cat ini digunakan antifoam yang
berguna untuk menghilangkan busa selama produksi cat. Selain itu, kadangkadang digunakan anti-jamur untuk mencegah tumbuhnya jamur pada cat.
Kemudian terkadang pula digunakan dispersing agent untuk mendispersikan
campuran cat.
Dalam percobaan ini, cat yang dihasilkan kurang homogen. Hal ini
disebabkan karena tidak digunakan antifoam sehingga selama proses pembuatan
cat timbul busa dalam jumlah banyak akibatnya bahan-bahan cat kurang
tercampur.

IX. KESIMPULAN
9.1

Proses produksi pembuatan cat tembok dapat dipelajari dan


dipraktekkan.

10

9.2

9.3

Kelayakan ekonomi pembuatan cat dapat dihitung, dimana:

Harga Pokok Produksi (HPP)

: Rp 4.252,-/ kg

Biaya produksi operasional

: Rp 16.240.260,-

Keuntungan

: Rp. 18.700.000.-/ bulan

Break Even Point (BEP)

: 3,24 buah/hari

Pay Back Period (PBP)

: 4 tahun

Proses produksi pembuatan cat semi komersial dapat dirancang.

11

DAFTAR PUSTAKA
Baov, A. 1981. Paints and Coatings Handbook, New York, USA.
Bently, J. & Turner, G.P.A. 1997. Introduction to Paint Chemistry and Principles
of Paint Technology. Unk.
Burrel, M. M. 2003. State The Need for Improved Quality or Quantity: An
Overview. Journal of Experimental Botany. Vol. 54(382): 451-456.
Dumitiu, P. & Jitaru, I. 2011. The Impact of Rheorlogy Modifiers on the Viscosity of Decorative water Based Paint upon Tinting. Sci. Bull Series. Vol.
73(1): 133-144.
Gunorubon, A.J. & Misel, U. 2014. Alternatives to Natrosol as Thickener in The
Production of Emulsion Paint. ARPN Journal of Engineering and
Applied Sciences. Vol. 9(7): 1129-1133.
Pavia, D.A., Lampman, G.M., Kriz, G.S. & Engel, R.G. 2013. Microscale
Approach to Organic Laboratory Techniques, fifth edition. Brooks/Cole
Cengage Learning, Belmont.
Shreve. 1956. Chemical Process Industries. McGraw-Hill Book Company. Inc.
Tokyo.
Sucahyo, P.M. 2011. Cara Membuat Cat untuk Industri Kecil. Dikutip pada
23/05/2015 Tersedia pada: http://paulusmikisucahyo.wordpress.com/2011/02/15/310/

12