Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN RESMI

WALL THICKNESS TEST

Disusun Oleh :
Widya Cahyati

(6507040046)

Ahmad Itmamul Wafa (6607040050)


Erdi Wisnu Riftiyanto (6507040057)
Niki Nakula Nuri

(6507040058)

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2008

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 TUJUAN
Pada percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat menggunakan
pesawat Wall thickness test dalam memeriksa ketebalan suatu bahan.
I.2 DASAR TEORI
Dasar teori dari wall thickness test pada dasarnya sama, menggunakan
pantulan dari gelombang ultrasonic tapi pada wall thickness test menggunakan
alat yang perhitungannya dapat langsung dilihat pada layar alat (digital).
Gelombang Ultrasonic adalah gelombang mekanik seperti gelombang suara
yang frekuensinya lebih besar dari 20 kHz. Gelombang ini dapat dihasilkan
dari probe yang berdasarkan perubahan energi listrik menjadi energi mekanik.
Sebaliknya probe juga dapat mengubah energi mekanik menjadi energi listrik.
Selama perambatannya di dalam material, gelombang ini dipengaruhi oleh
sifat-sifat bahan yang dilaluinya missal masa jenis, homogenitas, besar
butiran, kekerasan dan sebagainya. Sehingga gelombang ini dapat dipakai
untuk mengetahui jenis bahan, tebal dan ada tidaknya cacat di dalam bahan
tersebut. Gelombang Ultrasonic dapat dipantulkan dan dibiaskan oleh
permukaan batas antara dua bahan yang berbeda. Berdasarkan sifat pantulan
tersebut dapat ditentukan tebal bahan, lokasi cacat serta ukuran cacat.
I.3 PRINSIP DASAR WALL THICKNESS TEST
Pemeriksaan tebal bahan atau adanya cacat dalam bahan dengan
gelombang ultrasonic dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : teknik
resonansi, teknik transmisi dan teknik gema. Dari ketiga teknik tersebut,
teknik gema kontak langsung paling sering digunakan terutama pada
pemeriksaan di lapangan.
A. Pantulan/Gema
Pada teknik ini, probe secara bergantian mengeluarkan dan
menerima getaran. Tebal bahan dan letak cacat ditentukan dari letak

getaran/gema pada layar osiloskop, sedangkan besarnya ditentukan dari


simpangan tinggi getaran yang diterima kembali.

material

Gb. 1.1 Alat Wall Thickness Test


B. Mode
Dari cara bergetar dan perambatannya maka gelombang ultrasonic
dapat menjalar di dalam bahan dalam berbagai mode :
1. Mode Longitudinal.
Mode longitudinal terjadi bila gelombang ultrasonic merambat
pada suatu arah sejajar dengan arah gerakan atom yang digetarkan,
misal atom digerakkan kekanan dan kekiri sedangkan gelombang
bergerak

merambat

kearah

kekiri

atau

kekanan.

Gelombang

longitudinal dapat merambat pada semua bahan, baik gas, cair maupun
padat.
2. Mode Permukaan.

Mode permukaan terjadi bila gelombang transversal merambat


pada permukaan. Gerakan atom yang bergetar berbentuk elips. Sesuai
dengan namanya gelombang permukaan hanya merambat pada
permukaan padat dengan kedalaman maksimum satu panjang
gelombang.
3. Mode Plat.
Mode pelat terjadi pada bila gelombang transversal merambat
pada bahan pelat tipis yang tebalnya kurang dari setengah panjang
gelombang. Gerakan atom yang bergetar berbentuk elips. Gelombang
pelat merambat pada seluruh benda uji tipis tersebut, baik dalam
bentuk gelombang simetris atau gelombang asimetris.
4. Perubahan Mode.
Gelombang ultrasonic yang merambat dalam suatu bahan dapat
merubah mode dari satu mode ke mode lainnya. Perubahan mode ini
terjadi misalnya karena pantulan atau pembiasan. Bila mode berubah
maka kecepatan rambatnya berubah, sedangkan frekuensinya tetap,
akibatnya panjang gelombangnya juga akan berubah.
5. Kemampuan deteksi.
Cacat kecil dapat memantulkan kembali gelombang ultrasonic
bila permukaannya cukup luas. Cacat terkecil yang dapat dideteksi
oleh gelombang ultrasonic adalah bila :
minimum =

1
2

6. Kecepatan rambat dan panjang gelombang.


Kecepatan rambat (v) gelombang ultrasonic dalam suatu bahan
tergantung pada jenis bahan yang dilalui oleh mode gelombang
tersebut.
7. Transmisi.
Bila gelombang ultrasonic menjalar dari bahan yang satu ke
bahan dua tegak lurus pada permukaan batas pada kedua bahan
tersebut, maka sebagian bahan akan diteruskan sedangkan sebagian
lagi dipantulkan. Intensitas yang diteruskan atau dipantulkan
tergantung pada koefisien transmisi atau refleksinya.

W2 W1
W2 W1

D = 1-R

W1 1V1

dimana :

R = Koefisien refleksi
D = Koefisien transmisi
W = Impedansi akustik

= Massa jenis (kg/m3)


V = Kecepatan rambat (m/s)
C. Probe
Dalam suatu probe dapat berisi suatu kristal yang disebut probe
tunggal, tetapi dapat pula berisi dua kristal yang identik (probe kembar).
Bila bidang permukaan kristal sejajar dengan bidang permukaan probe,
maka disebut probe normal. Dalam probe normal gelombang yang keluar
dari probe adalah gelombang longitudinal dan arah tegak lurus terhadap
permukaan probe. Bila bidang permukaan tidak sejajar dengan probe maka
disebut probe sudut. Gelombang y. ang masuk ke benda uji adalah
gelombang transversal dan membentuk sudut tertentu terhadap garis
normal permukaan probe. Jadi ada empat macam probe yakni :
1. Probe normal : - tunggal
- kembar
2. Probe sudut : - tunggal
- kembar
Selain empat macam probe diatas terdapat satu jenis probe tunggal
lainnya yaitu probe universal dimana kristal dapat diputar dari luar probe
sehingga dapat berfungsi sebagai probe normal maupun probe sudut.
D. Kalibrasi.
Setiap kali digunakan, pesawat wall thickness test harus dikalibrasi
dengan bantuan blok kalibrasi, misal blok kalibrasi V1, V2 stepwedge dan
sebagainya. Sementara itu harus diperiksa linieritasnya baik linieritas
horizontal dan linieritas vertikalnya.

A. Pemeriksaan Linieritas Horisontal.


Pemeriksaan untuk meyakinkan bahan skala horizontal/ jarak
adalah linier. Pemeriksaan dilakukan dengan cara meletakkan probe
dengan ketebalan 25 mm dari blok kalibrasi, dengan mengambil range
250 mm. Bila setiap indikasi tepat terletak pada skala 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,
8, 9, dan 10 maka skala horisontalnya masih linier.
B. Pemeriksaan linieritas vertical.
Pemeriksaan ini terbagi atas dua yaitu :

Pemeriksaan linieritas layer.


Yaitu untuk meyakinkan bahwa kala vertical adalah linier. Untuk
itu diusahakan pada layer dapat ditimbulakan dua buah indikasi
yang amplitudonya 2 : 1 pada saat amplitude indikasi pertama
mencapai 80 %. Indikasi tertinggi diatur agar mencapai 100 %,
kemudian diturunkan dengan step 10 % sampai amplitudonya
menjadi 20 %. Skala vertical layer disebut linier bila setiap kali
amplitude indikasi kedua tingginya 50 5% dari amplitude
indikasi pertama.

Pemeriksaan linieritas tombol gain.


Pemeriksaan dimaksudkan untukmeyakinkan bahwa step tombol
gain dari pesawat ultrasonic adalah linier. Untuk itu amati
amplitude dari suatu reflector. Kemudian tombol gain diputar agar
diperoleh penambahan 6 dB dan 12 dB.

BAB II
METODOLOGI

II.1. ALAT & BAHAN


Peralatan dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai
berikut:

Pesawat Wall Thickness Test 2 buah

Probe

Block Kalibrasi

Oli

Specimen 2 buah

II.2. LANGKAH PERCOBAAN.


Pada pelaksanaan percobaan wall thickness ini, terdapat beberapa
prosedur yang harus dilakukan. Prosedur tersebut adalah sebagai berikut :

Mempersiapkan peralatan dan bahan-bahan yang akan digunakan.

Melakukan kalibrasi menggunakan block kalibrasi

Mengoleskan oli pada block, kemudian menempelkan Probe yaitu probe


Normal pada bidang tersebut sehingga muncul angka pada layar pesawat
wall thickness

Setelah itu ambil speciment dan probe diletakkan pada sisi yang akan di
uji.

Catat hasil pengujian pada lembar yang telah disediakan

BAB III
ANALISA DATA

III.1. PEMBAHASAN.
Pada pengujian wall thickness ini dilakukan untuk mencari
ketebalan suatu speciment dan juga mencari cacat yang berada pada bagian
dalam dari speciment yaitu berupa lubang. Spesimen yang digunakan
tersebut berbentuk balok baja. Hasil pengujian bisa langsung dilihat pada
layar alat wall thickness. Sehingga hasil pengujian specimen tersebut antara
lain :
1. Alat 1

40.05

20.50
20,50

39.90

105.75
105,40

26.4
29,70

19.90
9.200

29.70

40.05
148.50

149.50

2. Alat 2

78.13

108.0
108.35

31.60
31.65

99.1

99.40

21.2

21.35

148.50

150.05

KETERANGAN :
Angka warna merah = pengukuran dengan menggunakan jangka sorong.
Angka warna hitam = pengukuran dengan menggunakan wallthickness.

BAB IV
PENUTUP
IV.1. KESIMPULAN.
Dari pengujian Wall thickness yang dilakukan, maka dapat diambil
kesimpulan. Adapun kesimpulan yang diperoleh sebagai berikut :

Kalibrasi adalah hal yang terpenting pada wall thickness test.


Untuk mendapatkan hasil yang benar benar valid, maka harus menunggu
angka pada layar benar benar berhenti berganti ganti angka.

DAFTAR PUSTAKA
Metode Ultrasonic, 1997, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.