Anda di halaman 1dari 97

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam dunia perindustriaan ini, Time Study and Motion sangatlah penting untuk
mengembangkan sistem dan metode yang lebih baik dari pada sebelumnya. Time Study
and Motion merupakan suatu study tentang gerakan-gerakan untuk melakukan
pekerjaan. Karena pada umumnya penentuan sistem dan metode yang digunakan dalam
perindustrian sangatlah tergantung kepada tujuan yang diinginkan. Misal dalam
perusahaan manufaktur dalam memproduksi barang. Setelah itu akan dilakukan
pendekatan-pendekatan untuk meningkatkan produktivitas atau meningkatkan kinerja
perusahaan dengan cara problem solving dan sebagainya (Sritomo W, 1992:107).
Dalam praktikum modul 1 ini, tentang Time Study and Motion praktikan
dikenalkan dengan departemen-departemen untuk membuat suatu produk dalam suatu
perusahaan. praktikan membuat lampu hias sesuai dengan prosedur yang telah
ditentukan. Praktikan dalam melakukan pekerjaan atau gerakan-gerakan dalam tangan
kanan kirinya dan akan di ukur jarak operator dengan benda kerja. Selain itu dihitung
dengan stopwatch oleh rater untuk mengetahui waktu dalam menyelesaikan setiap
produk (Subagyo, 1992:1).
Pada pembuatan produk lampu hias ini ada beberapa tahapan yaitu perakitan
rangka atas (RA), perakitan rangka bawah (RB), perakitan listrik dalam rangka,
pemasangan kertas kalkir dan yang terakhir proses finising dan inspeksi. Dalam
praktikum ini praktikan dapat mengetahui analisis perancangan dan sistem kerja dalam
suatu perusahaan terutama dalam perindustrian.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum analisis perancangan dan sistem kerja modul 1, yaitu
sebagai berikut ini:
1.2.1 Tujuan Umum
a. Mampu mengetahui waktu standart dan output standart proses pembuatan
lampu hias dinding secara langsung dan tidak langsung.
b. Dapat mengetahui proses produksi lampu hias dinding dan dapat
menggambarkannya di peta kerja.
c. Dapat

merancang

sistem

kerja

yang

baik

dengan

memperbaiki

keseimbangan lini kerja, tangan dan produktivitas kerja operator dalam


produksi.
d. Dapat mengetahui kurva pembelajaran operator dari masing-masing operasi.
e. Dapat menentukan waktu standar berdasarkan prosedur pengukuran yang
dilakukan secara acak.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Dapat menganalisa metode kerja dengan menggunakan peta kerja untuk
mengidentifikasi elemen kerja yang tidak produktif.
b.

Mampu menghitung waktu standar dari suatu sistem kerja dengan


menggunakan metode pengukuran langsung.

c. Mampu menganalisa time study dengan menggunakan metode mation


sehingga didapatkan nilai waktu yang lebih akurat.
1.3 Asumsi yang digunakan

Adapun asumsi analisis perancangan dan sistem kerja modul 1, yaitu sebagai
berikut ini:
a. Metode kerja yang ditentukan (sesuai observation sheet) merupakan suatu
metode yang digunakan pada saat ini dan telah distandarkan, sehingga bisa
dihitung berapa waktu standart dan output standart dari pekerjaan tersebut.
b. Motion analyst dianggap sudah terampil.
c. Dalam hal ini da yang diperoleh dari hasil penelitian diasumsikan telah
memenuhi uji-uji statistik seperti keseragaman data, kecukupan data dan
kenormalan data.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Time and Motion Study
Menurut Ciptani M.K. (2001) istilah Time & Motion Study dapat diartikan atas dua
hal :
a. Motion Study
Motion study terdiri dari deskripsi, analitis sistematis dan pengembangan metode
kerja dalam menentukan bahan baku, desain output, proses, alat, tempat kerja dan
perlengkapan untuk setiap langkah dalam suatu proses, aktivitas manusia yang
mengerjakan setiap aktivitas itu sendiri. Tujuan metode motion study adalah untuk
menentukan atau mendesain metode kerja yang sesuai untuk menyelesaikan sebuah
aktivitas.
b. Time Study
Time study terdiri atas keragaman prosedur untuk menentukan lama waktu yang
dibutuhkan dengan standar pengukuran waktu yang ditetapkan, untuk setiap
aktivitas yang melibatkan manusia, mesin atau kombinasi aktivitas.
2.2 Performance rating dan allowance
a. Rating performance
Menurut Widawati U.T. (2009) Performance rating merupakan konsep
bekerja wajar dimana operator bekerja secara normal yaitu jika seorang operator
yang dianggap berpengalaman ini bekerja tanpa usaha-usaha yang berlebihan,
menguasai cara bekerja yang ditetapkan, dan menunjukkan kesungguhan dalam
menjalankan pekerjaannya. Nilai performance rating yaitu:
a) P = 1 atau P = 100 % berarti normal
b) P < 1 atau P < 100 % berarti lambat
c) P > 1 atau P > 100 % berarti cepat
b. Allowance
Kelonggaran (Allowance) menurut Widawati U.T. (2009) adalah sejumlah
waktu yang harus ditambahkan dalam waktu normal (normal time) untuk
mengantisipasi terhadap kebutuhan-kebutuhan waktu guna melepaskan lelah

(fatique), kebutuhan-kebutuhan yang bersifat pribadi (personal needs) dan kondisikondisi menunggu atau menganggur baik yang bisa dihindarkan ataupun tidak bisa
dihindarkan (avoidable or unavoidable delays).
Salah satu cara yang dapat digunakan dalam menentukan performance rating
adalah metode Westing House yang mempertimbangkan 4 faktor dalam
mengevaluasi 14 performance (kinerja) operator yaitu keterampilan (skill), kondisi
(condition), konsistensi (consistency). Klasifikasi dari kelas keterampilan dibagi
menjadi 6 kelas dengan ciri-ciri dari setiap kelas yang dikemukakan berikut ini:
Super skill:
a. Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya.
b. Bekerja dengan sempurna.
c.Tampak seperti telah terlatih dengan baik.
d.Gerakannya halus tapi sangat cepat sehingga sulit sekali untuk diikuti.
e.Perpindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen pekerjaan lainnya tidak
terlampau terlihat karena lancar.
f.Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencanakan tentang apa
yang akan dikerjakan (sudah sangat otomatis).
Excellent skill:
a. Percaya pada diri sendiri.
b. Tampak cocok dengan pekerjaannya
c. Terlihat terlatih dengan baik
d. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran-pengukuran atau
pemeriksaan-pemeriksaan.
e. Menggunakan peralatan dengan baik.
f. Gerakan kerjanya beserta urutan-uratannya tanpa kesalahan.
Good skill:
a. Kualitas hasil baik.
b.Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerjaan lain yang keterampilannya lebih
rendah.
c. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap.
d. Gerakan terkoordinasi dengan baik.
e. Bekerjanya tampak lebih baik daripada kebanyakan pekerjaan pada umumnya.
f. Tidak memerlukan banyak pengawasan.

Average skill:
a. Gerakannya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
b. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan yang direncanakan.
c. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaannya.
d. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik.
e. Bekerjanya secara teliti.
f. Secara keseluruhan cukup memuaskan.
Fair skill:
a. Tampak terlatih tapi belum cukup baik.
b.Terlihat adanya perencanaan-perencanaan sebelum memulai pekerjaannya.
c.Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup sehingga mengetahui apa yang
harus dilakukannya tetapi tampak tidak selalu yakin.
d.Sebagian waktu terbuang karena kesalahan-kesalahan sendiri.
e.Sepertinya tidak cocok dengan pekerjaannya, tetapi telah ditempatkan dipekerjaan
itu sejak lama.
f. Jika tidak bekerja secara sungguh-sungguh outputnya akan sangat rendah.
Poor skill:
a. Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran.
b. Gerakan kaku.
c. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya.
d. Tidak adanya kepercayaan diri.
e. Sering melakukan kesalahan.
f. Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Peralatan dan Bahan
Berikut ini adalah peralatan dan bahan yang digunakan dalam praktikum time study
and motion :
1. Alat-alat Praktikum
Adapun peralatan yang digunakan dalam praktikum analisis perancangan &
sistem kerja modul 1 ini antara lain :
1. Gunting atau cutter
2. Obeng
3. Penggaris
4. Spidol
5. Kamera
6. Stopwatch
7. Lem tembak
2. Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum analisis perancangan & sistem
kerja modul 1 ini antara lain :
1. Kayu
2. Kabel
3. Lampu 5 W
4. Staker
5. Double tape
6. Fitting
7. Gantungan
8. Sekrup
9. Kertas kalkir
10. Pita
11. Triplek
12. lem lilin

3.2 Prosedur Praktikum


Pada praktikum analisis dan perancangan sistem kerja modul 1 ini, ada beberapa
kelompok yang akan dibentuk menjadi satu shift, kemudian dijadikan satu line
produksi. Satu shift terdiri dari 8 departemen yang mempunyai fungsi sendiri-sendiri
yang akan dioperasikan. Departemen-departemen tersebut terdiri atas:
1. Departemen perakitan rangka atas (RA)
2. Departemen perakitan rangka bawah (RB)
3. Departemen perakitan rangkaian listrik
4. Departemen perakitan rangka vertikal dengan rangka atas dan rangka bawah
5. Departemen perakitan rangkaian listrik dengan rangka
6. Departemen pemasangan kertas kalkir
7. Departemen finishing
8. Departemen inspeksi

3.3 Flowchart Praktikum


Berikut ini adalah flowchart praktikum modul 1 Time Study and Motion
mulai
Persiapkan alat praktikum

Tahap Persiapan

Identifikasi masalah
Menentukan tujuan praktikum

Tahap Penentuan
tujuan

Studi literatur
Melakukan pengumpulan data waktu pengerjaan:
1. Departemen Perakitan Rangka Atas (RA)
2. Departemen Perakitan Rangka Bawah (RB)
3. Departemen Perakitan Rangkaian listrik

Tahap Pengumpulan
Data

4. Departemen Perakitan Rangka Vertikal dan Rangka Bawah


5. Departemen Perakitan Rangkaian Listrik dengan Rangka
6. Departemen Pemasangan Kertas Kalkir
7. Departemen Finishing
8. Departemen Inspeksi

Pengolahan Data dan Analisa Data :


1.Menghitung PW, PO, PR, A, WS dan OS
2. Diagram Pareto
3. Menentukan Peta Tangan Kanan dan Kiri

Tahap Pengolahan
Data

4. Menghitung HPP
5. Menghitung Produktivitas Total

Kesimpulan dan saran


Selesai

Gambar 1.3.1 Flowchart Praktikum Modul 1

Tahap Kesimpulan
dan saran

BAB IV
PENGOLAHAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Perhitungan Performance Rating dan Allowance
Dalam pengolahan data ini akan menjelaskan tentang perhitungan performance
rating dan allowance yaitu sebagai berikut:
4.1.1 Departemen Perakitan Rangka Atas (RA)
Berikut merupakan penjelasan tentang perakitan rangka atas:
4.1.1.1 Operasi Perakitan Rangka Atas
Berikut merupakan tabel penyesuaian dengan cara westinghouse.
Tabel 1.4.1 Penyesuaian dengan cara westinghouse

Menghitung PW:
Pw = skill + effort + condition + consistency
Keterangan:
Pw

: penyesuaian westinghouse

Skill

: kecakapan operator pada saat melakukan pekerjaan

Effort

: usaha yang dilakukan operator pada saat bekerja

Condition

: kondisi pada saat bekerja

Consistency : keajegan operator dalam melakukan kerja

PW = skill + effort + condition + consistency


= C1 + C2 + C + D
= 0,06 + 0,02 + 0,02 + 0,00
= 0,10
Perhitungan P dan PR pada operasi perakitan kabel dan colokan
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= (Lengan atas, lengan bawah + tanpa pedal atau atau satu pedal dengan sumbu

dibawah kaki + keadaan tangan saling bantu atau bergantian + onstan dan dekat + perlu
kontrol dan tekan + tangan dan kaki)
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 2 + 3 ) : 100
= 14 :100
= 0,14

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0,1 + 0,14 )
= 1 + 0,24
= 1,24

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik
A

= (sangat ringan + duduk + normal + pandangan yang terpututs-putus + sekarang

+ baik + baik + bersih sehat dengan kebisingan yang rendah)


A

= 7,5 + 2,5 + 5 + 0 + 8 + 0 + 0

= 23

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 1


Operasi

: Perakitan Rangka Atas

Nama Operator

: Puthut Prasetiyo
Tabel 1.4.2 Operasi Perakitan Rangka Atas

Dari tabel data departemen satu elemen kerja yang memiliki nilai rata-rata tertinggi adalah pada saat memasang mur pada ujung RA1 terhadap
RA2 (obeng tidak di lepas) dengan rata-rata 42.52163 (det) sedangkan yang memiliki rata-rata terendah pada saat mengambil mur dengan rata-rata

1.070033 (det).

4.1.2 Departemen Perakitan Rangka Bawah (RB)


Berikut merupakan penjelasan tentang perakitan rangka bawah:
4.1.2.1 Operasi Perakitan Rangka Bawah
Berikut merupakan tabel penyesuaian dengan cara westinghouse.
Tabel 1.4.3 Penyesuaian dengan cara westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= C1 + C2 + D + C
= 0,06 + 0,02 + 0 + 0,01
= 0,09
Perhitungan P dan PR pada operasi Perakitan Rangka Bawah
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 2 + 3 ) : 100
= 14 :100
= 0,14

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0,09 + 0,14 )
= 1 + 0.23
= 1,23

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan

yang baik + hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik


A

=7,5 + 2,5 + 5 + 0 + 8 + 0 + 0 + 0

= 23

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 2


Operasi

: Perakitan Rangka Bawah

Nama Operator

: Sony Puji Santoso


Tabel 1.4.4 Operasi Perakitan Rangka Bawah

Dari tabel data waktu kerja departemen yang memiliki nilai rata-rata tertinggi adalah pada saat memasang mur pada ujung RB3 terhadap
RB4 dengan rata-rata 84.35975 (det) sedangkan yang memiliki rata-rata terendah pada saat mengambil kayu RB3 dengan rata-rata 1.23895.

Berikut merupakan penjelasan tentang perakitan Rangkaian Listrik:


4.1.3.1 Operasi Pengukuran kabel
Berikut merupakan tabel penyesuaian dengan cara westinghouse.
Tabel 1.4.5 Penyesuaian dengan cara westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= C2 + D + C + D
= 0,03 + 0 + 0,02 + 0
= 0,05
Perhitungan P dan PR pada operasi pengukuran kabel
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 1 + 3 ) : 100
= 13 : 100
= 0,13

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0.05 + 0.13 )
= 1 + 0,18
= 1,18

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik

= 7,5 + 2,5 + 5 + 7,5 + 8 + 0 + 0

= 30,5

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 3


Operasi

: Perangkain Kabel

Nama Operator

: Imam Daelami
Tabel 1.4.6 Operasi Pengukuran kabel

Dari tabel 1.4.6 yaitu tabel operasi perangkaian kabel, dapat diketahui bahwa rata-rata waktu operasi elemnen tertinggi adalah pada
elemen kedua yaitu 4,977 dan rata-rata waktu operasi elemnen terendah pada elemen kesembilan yaitu 1,181

4.1.3.2 Operasi Pemotongan kabel untuk lilitan


Berikut merupakan tabel penyesuaian dengan cara westinghouse.
Tabel 1.4.7 Penyesuaian dengan cara westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= C1 + C1 + C + D
= 0,06 + 0,05 + 0,02 + 0
= 0,13
Perhitungan P dan PR pada operasi pemotongan kabel untuk lilitan
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 2 + 2 + 3 ) :100
= 12 :100
= 0,12

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0,13 + 0,12 )
= 1 + 0,25
=1,25

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik
A

= 7,5+ 2,5 + 5+ 6 + 8+ 0 + 0

=29

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 3


Operasi

: Perakitan Kabel untuk lilitan

Nama Operator

: Imam Daelami
Tabel 1.4.8 Operasi Pemotongan kabel untuk lilitan

Dari tabel retkapan waktu kerja departemen 3 operasi 2 yang memiliki nilai rata-rata tertinggi adalah pada saat melepaskan bagian luar
kabel yang sudah disayat dengan rata-rata 95,48597 (det) sedangkan yang memiliki rata-rata terendah pada saat mengambil mur dengan
rata-rata 1,472583 (det)

4.1.3.3 Operasi Perakitan kabel dan colokan


Berikut merupakan tabel penyesuaian dengan cara westinghouse.
Tabel 1.4.9 Penyesuaian dengan cara westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= C2 + C2 + C + D
= 0,03 + 0,02 + 0,02 + 0
= 0,07
Perhitungan P dan PR pada operasi perakitan kabel dan colokan
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 17 :100
= 0,17

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0.07 + 0,17 )
= 1 + 0,24
= 1,24

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan) 4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik.
A

= 7,5+ 2,5 + 5+ 6 + 8+ 0 + 0

= 29

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 3


Operasi

: Perakitan Kabel dan Colokan

Nama Operator

: Imam Daelami
Tabel 1.4.10 Operasi Perakitan kabel dan colokan

Dari tabel Rekapan waktu kerja departemen 3 operasi 3 yang memiliki nilai rata-rata tertinggi adalah pada saat memasang baut pada
seteker dengan rata-rata 20,668 (det) sedangkan yang memiliki rata-rata terendah pada saat meletakan obeng dengan rata-rata 0,896 (det).

4.1.3.4 Operasi Perakitan kabel dan fitting


Berikut merupakan tabel penyesuaian dengan cara westinghouse.
Tabel 1.4.11 Penyesuaian dengan cara westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= D + C1 + C + D
= 0 + 0,05 + 0,02 + 0
= 0,07
Perhitungan P dan PR pada operasi perakitan kabel dan fitting
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 8 + 5 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 25 :100
= 0.25

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0.07 + 0,25 )
= 1 + 0,32
= 1,32

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik
A

= 7,5 + 2,5 + 5 + 6 + 8 + 0 + 0

=29

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 3


Operasi

: Perakitan Kabel dan fitting

Nama Operator

: Imam Daelami
Tabel 1.4.12 Operasi Perakitan Kabel dan fitting

Dari tabel Rekapan waktu kerja departemen 3 operasi 3 yang memiliki nilai rata-rata tertinggi adalah pada saat memasang fittingan
dengan papa kayu dengan rata-rata 67,571 (det) sedangkan yang memiliki rata-rata terendah pada saat meletakan obeng dengan rata-rata
1,007 (det).

4.1.4 Departemen Perakitan RA dan RB dengan Rangka Vertikal


Berikut merupakan penjelasan tentang perakitan RA dan RB dengan Rangka
Vertikal :
4.1.4.1 Operasi Perakitan Rangka Vertikal (RV) dengan Rangka Atas (RA)
Tabel 1.4.13 Tabel Performance Rating Sistem Westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= C2 + D + D + C
= 0,03 + 0 + 0 + 0,01
= 0,04
Perhitungan P dan PR pada operasi perakitan Rangka Vertikal (RV) dengan Rangka
Atas (RA)
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 17 :100
= 0.17

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0.04 + 0.17 )
= 1 + 0.21
= 1,21

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan

yang baik + hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik


A

= 7,5 + 2,5 + 5 + 0 + 8 + 0 + 0

= 23

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 4


Operasi

: Perakitan Ragka Vertikal (RV) dengan rangka atas (RS)

Nama Operator

: Wahyu Indra Gunawan


Tabel 1.4.14 Rekapan data waktu perakitan rangka vertikal dengan rangka atas

Dari tabel rekapan data waktu departemen 4 operasi 1 yang memiliki ilai rata-rata tertinggi adalah pada saat memasang baut pada
seteker dengan rata-rata 61,949 (det) sedangkan yang memiliki rata-rata terendah pada saat meletakan obeng dengan rata-rata 1.352 (det)

4.1.4.2 Operasi Perakitan Rangka Vertikal (RV) dengan Rangka Bawah (RB)
Berikut ini merupakan tabel Performance Rating Sistem Westinghouse
Tabel 1.4.15 Performance Rating Sistem Westinghouse

PW

= skill + effort + condition + consistency


= D + C1 + C + C
= 0 + 0,05 + 0,02 + 0,01
= 0,08

Perhitungan P dan PR pada operasi Perakitan Rangka Vertikal (RV) dengan Rangka
Bawah (RB)
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 17 :100
= 0.17

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0,08 + 0,17 )
= 1 + 0,25
= 1,25

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik
A

= 7,5 + 2,5 + 5 + 6 + 8 + 0 + 0

=29

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 4


Operasi

: Perakitan Rangkain RV+RA dengan Rangka Bawah RB

Nama Operator

: Wahyu Indra Gunawan


Tabel 1.4.16 Rekapan waktu kerja perakitan rangkaian RV+RA dengan rangka bawah RB

Dari tabel rekapan waktu kerja perakitan RV+RA dengan rangkaian bawah RB yang memiliki nilai rata-rata tertinggi adalah
memasang baut pada ujung papan rangkaian listrik dengan rata-rata 203.9204 (det) sedangkan nilai yang paling rendah adalah mengambil 4
baut dengan nilai rata-rata 1,295.

4.1.5 Departemen Perakitan rangkaian listrik dengan rangka


Berikut merupakan penjelasan tentang perakitan rangkaian listrik dengan rangka:
4.1.5.1 Operasi Perakitan rangkaian listrik dengan rangka
Tabel 1.4.17 Tabel Performance Rating Sistem Westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


=D+D+C+D
= 0 + 0 + 0,02 + 0
= 0,02
Perhitungan P dan PR pada operasi Perakitan rangkaian listrik dengan rangka
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 17 :100
= 0.17

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0,02 + 0,17 )
= 1 + 0,19
= 1,19

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik
A

= 7,5 + 2,5 + 5 + 0 + 8 + 0 + 0

= 23

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 5


Operasi

: Perakitan Listik dengan Rangka

Nama Operator

: Taufikul Rohman
Tabel 1.4.18 Rekapan waktu kerja perakitan listrik dengan rangka

Dari tabel rangkapan waktu kerja perakitan listrik pada kerangka, yang memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi adalah memasang
baut pada ujung papan rangkaian listrik dengan rata-rata 401,0696 (det) sedangkan yang paling rendah meletakan obeng dengan nilai ratarata 0.7531 (det).

4.1.5.2 Operasi Pemasangan Gantungan


Berikut ini merupakan tabel dari Performance Rating Sistem Westinghouse:
Tabel 1.4.19 Performance Rating Sistem Westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= D + C2 + C + D
= 0 + 0,02 + 0,02 + 0
= 0,04
Perhitungan P dan PR pada operasi Perakitan rangkaian listrik dengan rangka
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 17 :100
= 0.17

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0.04 + 0.17 )
= 1 + 0.21
= 1.21

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)
A

= 7,5 + 2,5 + 5 + 0 + 8 + 0 + 0

= 23

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 5


Operasi

: Perakitan Listik dengan Rangka

Nama Operator

: Taufikul Rohman
Tabel 1.4.20 Rekapan waktu kerja perakitan listrik dengan rangka

Dari tabel 1.4.20 rekapan waktu kerja perakitan listrik dengan rangka yang memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi adalah pada
elemen ketujuh dengan rata-rata 109,173 (det) sedangkan yang paling rendah adalah pada elemen keddelapan dengan nilai rata-rata 0,742
(det).

4.1.6 Departemen Pemasangan Kertas Kalkir


Berikut merupakan penjelasan tentang Pemasangan Kertas Kalkir:
4.1.6.1 Operasi Pemberian Perekat Pada Kerangka
Tabel 1.4. 21 Tabel Performance Rating Sistem Westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= D + C2 + C + D
= 0 + 0,02 + 0,02 +0
= 0,04
Perhitungan P dan PR pada operasi Pemberian Perekat Pada Kerangka
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 17 :100
= 0.17

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0.04 + 0.17 )
= 1 + 0.21
= 1.21

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik
A

= 7,5 + 2,5 + 5 + 0 + 8 + 0 + 0 = 23

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 6


Operasi

: Pemberian Perekat Pada Ragka

Nama Operator

: Khoirul ZamZami
Tabel 1.4.22 Rekapan waktu kerja pemberian perekat pada rangka

Dari tabel 1.4.22 rekapan waktu kerja pemberian perekat pada rangka yang memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi adalah pada elemen
keempat belas dengan rata-rata 4,947 (det) sedangkan yang paling rendah adalah pada elemen pertama dengan nilai rata-rata 1,380 (det).

4.1.6.2 Operasi Pemasangan Kertas Kalkir


Berikut ini merupakan tabel Performance Rating Sistem Westinghouse
Tabel 1.4.23 Tabel Performance Rating Sistem Westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= C1 + C2 + C + C
= 0,06 + 0,02 + 0,02 + 0,01
= 0,11
Perhitungan P dan PR pada operasi perakitan kabel dan colokan
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 17 :100
= 0.17

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0.11 + 0.17 )
= 1 + 0.28
= 1.28

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik
A

= 7,5 + 2,5 + 5 + 0 + 8 + 0 + 0

= 23

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 6


Operasi

: Operasi Pemasangan Kertas Kalkir

Nama Operator

: Khoirul ZamZami
Tabel 1.4.24 Rekapan waktu kerja operasi pemasangan kertas kalkir

Dari tabel 1.4.24 rekapan waktu kerja operasi pemasangan kertas kalkir yang memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi adalah pada
elemen keempat dengan rata-rata 37,384 (det) sedangkan yang paling rendah adalah pada elemen kedelapan dengan nilai rata-rata 1,648
(det).

4.1.7 Departemen Finishing


Berikut merupakan penjelasan tentang finishing.
4.1.7.1 Operasi Pemasangan Pita
Berikut merupakan tabel tentang Performance Rating Sistem Westinghouse
Tabel 1.4.25 Performance Rating Sistem Westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= C2 + C1 + D + C
= 0,03 + 0,05 + 0 + 0,01
= 0,09
Perhitungan P dan PR pada Operasi Pemasangan Pita
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 17 :100 = 0.17

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0.09 + 0.17 )
= 1 + 0.26 = 1,26

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +


keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan
yang baik + hambatan tak terhindarkan)4.1.3 Departemen Perakitan Rangkaian
Listrik

= 7,5 + 2,5 + 5 + 6 + 8 + 0 + 0

= 29

Berikut ini merupakan operasi kerja pada departemen 7


Operasi

: Pemasangan Pita

Nama Operator

: Uswatun Kasanah
Tabel 1.4.26 Rekapan waktu kerja pemasangan pita

Dari tabel 1.4.26 rekapan waktu kerja pemasangan pita, dapat diketahui bahwa elemen dengan nilai rata-rata tertinggi adalah pada
elemen kedua puluh dengan rata-rata 44.98456667 (det) sedangkan yang paling rendah adalah pada elemen kedua puluh satu dengan nilai
rata-rata 0.9242 (det).

4.1.8 Departemen Inspeksi


Berikut merupakan penjelasan tentang inspeksi:
4.1.8.1 Inspeksi
Berikut merupakan tabel Performance Rating Sistem Westinghouse
Tabel 1.4.27 Performance Rating Sistem Westinghouse

PW = skill + effort + condition + consistency


= C1 + D + C + D
= 0,06 + 0 + 0,02 + 0
= 0,08
Perhitungan P dan PR pada Departemen Inspeksi
P = (anggota terpakai + pedal kaki + penggunaan tangan + koordinasi mata dengan
tangan + peralatan + berat beban) : 100
P

= ( 5 + 0 + 0 + 4 + 5 + 3 ) : 100
= 17 :100
= 0.17

PR

= 1 + ( Pw + P )
= 1 + ( 0.08 + 0.17 )
= 1 + 0.25
= 1.25

= (tenaga yang dikeluarkan + sikap kerja + gerakan kerja + kelelahan mata +

keadaan temperatur tempat kerja + keadaan atmosfer + keadaan lingkungan yang baik +
hambatan tak terhindarkan)
A

= 7,5 + 2,5 + 5 + 0 + 8 + 0 + 0

= 23

4.2 Analisa dan perhitungan WS dan OS


Berikut adalah rumus untuk menentukan OS dan WS:
Waktu siklus = Rata-rata pengamatan
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
Waktu baku/standar (WS) = waktu normal x (

100
)
100 allowence

Output standar/baku (OS) = 1/WS


(sumber: Wignjosoebroto,1995)
4.2.1 Departemen Perakitan Rangka Atas (RA)
Dalam departemen perakitan Rangka atas terdiri dari operasi perakitan rangka
atas.
4.2.1.1 Operasi perakitan rangka Atas
Berikut adalah perhitungan manual dan data rekap tabel operasi perakitan
rangka atas untuk elemen pengambilan rangka RA 1 yaitu:
Perhitungan manual
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 9,431
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 9,431x 1,24
= 11,69382 detik = 0,00324 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (

100
)
100 allowance

= 0,00324 x [100% / (100%-23%)]


= 0,004207 jam/unit
WS = 0,084534 jam/unit
OS = 11,78615874
unit/jam

Berikut ini merupakan data WS dan OS operasi perakitan rangka atas :


Tabel 1.4.28 Rekapan WS dan OS operasi perakitan rangka atas

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0.07964 jam/unit sehingga dalam satu jam operasinya dapat
menghasilkan produk / output baku (OS) 12.5564 unit/jam 12 unit/jam

4.2.2 Departemen Perakitan Rangka Bawah (RB)


Dalam departemen perakitan Rangka bawah terdiri dari operasi perakitan rangka bawah.
4.2.2.1 Operasi Perakitan Rangka Bawah (RB)
Berikut adalah perhitungan manual dan data rekap tabel operasi perakitan rangka atas
untuk elemen pengambilan rangka RB 1 yaitu:
Perhitungan manual
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 12,450 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 12,450 x 1,23
= 16,19609 detik = 0,004499 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (

100
)
100 allowance

= 0,004499 x [100% / (100%-23%)]


= 0,005356 jam/unit
WS = 0,125550756 / unit
OS = 7,964906 unit/jam

Berikut ini merupakan data WS dan OS operasi perakitan rangka Bawah :


Tabel 1.4. 29 Rekapan WS dan OS operasi perakitan rangka Bawah

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,1255 jam/unit sehingga dalam satu jam operasinya dapat
menghasilkan produk / output baku (OS) = 7,9649 unit/jam 7 unit/unit

4.2.3 Departemen Perakitan Rangkaian Listrik


Berikut ini merupakan perakitan rangkaian listrik.
4.2.3.1 Departemen Perakitan Rangkaian Kabel
Berikut adalah perhitungan manual dan data rekap tabel operasi perakitan rangkaian
kabel untuk elemen pengambilan kabel yaitu:
Perhitungan manual
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 1,538 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 1,538 x 1,18
= 1,84552 detik = 0,000513 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (

100
)
100 allowance

= 0,000513 x [100% / (100%-30,5%)]


= 0,000649 jam/unit
WS = 0,011623645 jam/unit
OS = 86,03153646 unit/jam

Berikut ini merupakan data WS dan OS operasi Departemen Perakitan Rangkaian Kabel:
Tabel 1.4. 30 Rekapan WS dan OS operasi Departemen Perakitan Rangkaian Kabel

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = = 0,010399 jam/unit sehingga dalam satu jam operasinya
dapat menghasilkan produk / output baku (OS) = 96,16139 96 unit.

4.2.3.2 Departemen Perakitan Rangkaian Kabel untuk lilitan


Berikut adalah perhitungan manual dan data rekap tabel operasi perakitan
rangkaian kabel untuk elemen pengambilan kabel yaitu:
Perhitungan manual
Perhitungan manual
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 1,627231 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 1,627231 x 1,25
= 2,03403846 detik = 0,00056501 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (

100
)
100 allowance

= 0,00056501 x [100% / (100%-29%)]


= 0,00079579 jam/unit
WS = 0,07437 am/unit
OS = 13,445 unit/jam

Berikut ini merupakan WS dan OS operasi Departemen Perakitan Rangkaian Kabel untuk lilitan
Tabel 1.4. 31 Rekapan WS dan OS operasi Departemen Perakitan Rangkaian Kabel untuk lilitan

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,063932419 jam/unit sehingga dalam satu jam operasinya
dapat menghasilkan produk / output baku (OS) 15,64151668 unit/jam.

4.2.3.3 Departemen Perakitan Rangkaian kabel dan colokan


Berikut adalah perhitungan manual dan data rekap tabel operasi perakitan
rangkaian kabel untuk elemen pengambilan kabel yaitu:
Perhitungan manual
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 2 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 2 x 1,24
= 2,50174 detik = 0,00069 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (

100
)
100 allowance

= 0,00069 x [100% / (100%-29%)]


= 0,000086 jam/unit
WS = 0,05667 jam/unit
OS = 17,6444 unit/jam

Berikutini merupakan WS dan OS operasi Departemen Perakitan Rangkaian kabel dan colokan
Tabel 1.4. 32 Rekapan WS dan OS operasi Departemen Perakitan Rangkaian kabel dan colokan

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,049185426 jam/unit sehingga dalam satu jam operasinya
dapat menghasilkan produk / output baku (OS) = 20,33122569

4.2.3.4 Departemen Perakitan Rangkaian kabel dan fitting


Berikut adalah perhitungan manual dan data rekap tabel operasi perakitan
rangkaian kabel untuk elemen pengambilan kabel yaitu:
Perhitungan manual
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 1,468bdetik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 1,468 x 1,32
= 1,93732 detik = 0,000538 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (

100
)
100 allowance

= 0,000538 x [100% / (100%-29%)]


= 0,00075795 jam/unit
WS = 0,092602786 jam/unit
OS = 10,798811 unit/jam

Berikut ini merupakan WS dan OS operasi Departemen Perakitan Rangkaian kabel dan fitting
Tabel 1.4. 33 Rekapan WS dan OS operasi Departemen Perakitan Rangkaian kabel dan fitting

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,075595584 jam/unit sehingga dalam satu jam operasinya
dapat menghasilkan produk / output baku (OS) 13,22828598..

4.2.4 Departemen Perakitan Rangka dan rangkaian listrik


Berikut merupakan uraian departemen perakitan rangka dan rangkaian listrik yang
terdiri dari contoh perhitungan manual dan tabel, berikut penjelasanya:
4.2.4.1 Operasi Perakitan Rangka vertikal (RV) dengan Rangkaian Atas (RA)
Berikut merupakan perhitungan manual perakitan rangka vertikal (RV) dengan
rangkaian atas (RA)
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 2,262 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 2,262 x 1,21
= 2,737464 detik = 0,00076 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (

100
)
100 allowance

= 0,00076 x [100% / (100%-23%)]


= 0,009875 jam/unit
WS = 0,1074213 /unit
OS = 9,309142 unit/jam

Berikut ini merupakan rekapan WS dan OS operasi Perakitan Rangka vertikal (RV) dengan Rangkaian Atas (RA)
Tabel 1.4. 34 Rekapan WS dan OS operasi Perakitan Rangka vertikal (RV) dengan Rangkaian Atas (RA)

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,110996 jam/unit sehingga dalam satu jam operasinya dapat
menghasilkan produk / output baku (OS) 9,009338 9 unit.

4.2.4.2 Operasi perakitan rangka ian RV+RA dengan Rangkaian bawah (RB)

Perhitungan manual
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 18,55787 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 18,558 x 1,25
= 23,19733 detik = 0,0064437 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (

100
)
100 allowance

= 0,0064437 x [100% / (100%-29%)]


= 0,0090756 jam/unit
WS =0,114 jam/unit
OS = 8,793 unit/jam

Berikut ini merupakan tabel WS dan OS operasi perakitan rangkaian RV+RA dengan Rangkaian bawah (RB)

Tabel 1.4.35 Rekapan WS dan OS operasi perakitan rangkaian RV+RA dengan Rangkaian bawah (RB)

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,101505643 jam/unit sehingga dalam satu jam
operasinya dapat menghasilkan produk / output baku (OS) = 9,851669049 unit.

4.2.5 Departemen Perakitan Rangkaian listrik dengan rangka


Berikut merupakan uraian departemen perakitan rangkaian listrik dengan rangka
yang terdiri dari contoh perhitungan manual dan tabel, berikut penjelasanya:
4.2.5.1 Operasi Perakitan Rangkaian listrik dengan rangka
Berikut merupakan perhitungan manual operasi Perakitan Rangkaian listrik dengan
rangka
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 1,9376 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 1,9376 x 1,19
= 2,306 detik = 0,00064 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (
= 2,306 x (

100
100 allowance

100
)
100 allowance

= 0,000831798 jam/unit
WS = 0,1789 jam/unit
OS = 5,5876 unit/jam

Berikut ini merupakan tabel Rekapan WS dan OS operasi perakitan rangkaian listrik dengan rangka
Tabel 1.4.36 Rekapan WS dan OS operasi perakitan rangkaian listrik dengan rangka

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,102664312 jam/unit sehingga dalam satu jam
operasinya dapat menghasilkan produk / output baku (OS) = 9,740483105 unit.

4.2.5.2 Operasi Pemasangan gantungan


Berikut merupakan perhitungan manual operasi Pemasangan gantungan
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 3,689 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 3,689x 1,21
= 4,464 detik = 0,00124 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (
= 0,00124 x (

100
100 allowance

100
)
100 allowance

= 0,001610452 jam/unit
WS = 0,08327 jam/unit
OS = 12,009725 unit/jam

Berikut ini merupakan tabel rekapan WS dan OS operasi Pemasangan gantungan


Tabel 1.4.37 Rekapan WS dan OS operasi Pemasangan gantungan

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,051896626 jam/unit sehingga dalam satu jam
operasinya dapat menghasilkan produk / output baku (OS) = 19,26907547 19 unit.

4.2.6 Departemen pemasangan kertas kalkir


Berikut merupakan uraian departemen pemasangan kertas kalkir yang terdiri dari
contoh perhitungan manual dan tabel, berikut penjelasanya:
4.2.6.1 Operasi pemberian perekat pada kerangka
Berikut merupakan perhitungan manual pemberian perekat pada kerangka
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 1,380 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 1,380 x 1,21
= 1,6696 detik = 0,00046 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (
= 0,00046 x (

100
)
100 allowance

= 0,000602308 jam/unit
WS = 0,035437897 jam/unit
OS = 28,218 unit/jam

100
100 allowance

Berikut ini merupakan tabel rekapan dan OS operasi pemberian perekat pada kerangka
Tabel 1.4.38 Rekapan WS dan OS operasi pemberian perekat pada kerangka

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,0217 jam/unit sehingga dalam satu jam operasinya
dapat menghasilkan produk / output baku (OS) 46,0736 unit

4.2.6.2 operasi pemasangan kertas kalkir


Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 35,3267
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 35,363 x 1,28
= 45,2643 detik = 0,01257 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (
= 0,01257 x (

100
)
100 allowance

= 0,0163291 jam/unit
WS = 0,065830018 jam/unit
OS = 15,19063835 unit/jam

100
100 allowance

Berikut ini merupakan WS dan OS operasi pemberian perekat pada kerangka


Tabel 1.4.39 Rekapan WS dan OS operasi pemasangan kertas kalkir

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,03812
operasinya dapat menghasilkan produk / output baku (OS) 26,236 unit.

jam/unit sehingga dalam satu jam

4.2.7 Departemen Finishing


Berikut merupakan uraian departemen finishing

yang terdiri dari contoh perhitungan

manual dan tabel, berikut penjelasanya:


4.2.7.1 operasi pemasangan pita
Waktu siklus = Rata-rata pengukuran
= 4,135 detik
Waktu normal (WN) = Waktu siklus x PR
= 4,135 x 1,26
= 5,21065 detik = 0,00145 jam
Waktu standar (WS) = Waktu normal x (
= 0,00145 x (

100
)
100 allowance

= 0,001143 jam/unit
WS = 1,382604014 jam/unit
OS = 0,723272889 unit/jam

100
100 allowance

Berikut ini merupakan data WS dan OS operasi pemasangan pita


Tabel 1.4.40 Rekapan WS dan OS operasi pemasangan pita

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,0783 am/unit sehingga dalam satu jam operasinya
dapat menghasilkan produk / output baku (OS) = 12,775

4.3 Diagram pareto


Menurut Walpole (1995) Pareto diagram merupakan gambaran pemisah unsur
penyebab yang paling dominan dari unsur-unsur penyebab lainnya dari suatu
masalah. Diagram Pareto diperkenalkan oleh seorang ahli yaitu Alfredo Pareto.
Diagram Pareto ini merupakan suatu gambar yang mengurutkan klasifikasi data
dari kiri ke kanan menurut urutan ranking tertinggi hingga terendah. Dalam
diagram pareto terdapat prinsip yaitu aturan 80-20 yang menyatakan sekitar 80%
efek yang ditimbulkan oleh 20% penyebab.
Berikut adalah tabel rekap data atribut departemen 8
Tebel 1.4.41 Tabel rekap data atribut departemen 8

Berikut hasil output dari diagram pareto dengan software minitab, yaitu:
diagram pareto
35

100

30
80

60

20
15

40

10
20

5
0

jenis cacat
Count
Percent
Cum%

kerapian bentuk
23
67,6
67,6

kerapian pita kerapian kertas kalkir


7
3
20,6
8,8
88,2
97,1

Gambar 1.4.2 Diagram Pareto

Other
1
2,9
100,0

Percent

jumlah cacat

25

Dari output di atas dapat diketahui jika penyebab cacat seperti kerapian
bentuk, kerapian kertas kalkir, dan kerapian pita melebihi 20%, sehingga
kecacatan tersebut mengakibatkan efek kecacatan melebihi 80% dari produk,
perlu diberi penanganan yang lebih agar hasil produk lebih baik. Dan perlunya
dilakukan perbaikan untuk cacat kerapian bentuk karena nilai nilai kecacatannya
yang paling besar diantara nilai kecacatan yang lain.
4.4 HPP
Berikut ini adalah data perhitungan harga pokok produksi
1. Harga bahan baku (input bahan baku)
Tabel 1.4.42 Harga Bahan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nama Bahan
Kayu
Baku
Kabel
Lampu 5 Watt
Staker
Double tape
Gantungan
Fitting
Sekrup
Kertas Kalkir
Pita
Triplek
Isi lem tembak
Jumlah

Harga perRp
5.000,00
bahan
Rp
1.000,00
Rp
3.500,00
Rp
2.000,00
Rp
3.000,00
Rp
1.000,00
Rp
3.000,00
Rp
3.000,00
Rp
2.500,00
Rp
2.000,00
Rp
3.500,00
Rp
1.000,00
Rp
30.500,00

1. 2 BiayaListrik
a. Hargaper KWh

= Rp. 1496,-/KWh

b. Lama penyelesaian produk

= 0,886404514 unit/jam

c. lem tembak

= 0,01 KWh

d. Biayalistrik perjam

= 0,01 KWh x Rp. 1496,-/KWh


= 14,96 Kwh

e. Total BiayaListrik

= Total WS x Biaya listrik perjam


= 0,886404514 x 14,96
= Rp. 13,26061

2. Upahyangharus dibayar

=UMR(Bangkalan) / hari kerja/ jamkerja


=Rp. 1.267.300.00 / 23 hari /8 jam

= Rp. 6.887/jam
3. Upah Pegawai

=Upah yang harus dibayar xTotal WS


= Rp. 6.887 x 0,886404514

4. Upah Pekerja

5. Harga Pokok Produksi

=Rp. 6.104,67
=7 x Rp. 6.265,78
=Rp. 42.732,67
= Harga bahan baku + Biaya Listrik + Upah Pekerja
= Rp. 30.500 + 13,26 + 42.732,67
=Rp. 73.245,936

6. Profit

=Rp. 73.245,936 x 10%


=Rp. 7.324,594

7. HargaPokok Penjualan

=Harga pokok produksi+profit


= 73.245,936 + 7.324,594
= Rp. 80.570,53

4.5 Produktifitas
Produktifitas merupakan suatu landasan ukur atau nilai yang diambil dari suatu
perbndingan yaitu antara hasil yang dikeluarkan dengan bahan yang dimasukkan,
terkadang produktifitas diartikan sebagai tingkat efisiensi dalam memproduksi suatu
barang ataupun jasa. Berikut beberapa perhitungan produktifitas dari suatu produk yang
kami buat:
1. Produktifitas Parsial Material

= harga pokok penjualan


Input bahan baku
= Rp. 80.570,53 / 30.500
= 2,6416567

2. Produktifitas Parsial Tenaga Kerja = harga pokok penjualan


Input tenaga kerja
= Rp. 80.570,53 / 43.860,46
=1,836974
3. Produktifitas Parsial Energi

= harga pokok penjualan


Input energi
= Rp. 80.570,53 / 13,61
= 5919,95

4. Produktifitas total

= total output (Harga pokok penjualan


Input total ( bahan baku+tenaga kerja +
energi)
= Rp. 80.570,53 / (30.500 + 43.860,46
+ 13,61)
= Rp. 80.570,53 / 74.374,10
= 1,08331435

Jika produktifitas total > 1, maka sudah produktif


Jika produktifitas total 1, maka kurang produktif
Berdasarkan perhitungan di atas maka di dapatkan niliai produktifitas total
sebesar 1,0833 dan dapat di tarik kesimpulan bahwa semua departemen sudah produktif.

4.6 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri


Berikut ini merupakan tampilan tangan tangan kanan dan tangan kiri tiap elemen kerja
Departemen 1 operasi 1

Gambar 1.4.3 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 1

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle
Banyak elemen

x 100% =

9 x 100% = 50%
18

Peta tangan kanan =

banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %


Banyak elemen
18
Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri dapat diketahui bahwa idle

pada peta tangan kiri adalah 50 % dan idle pada peta tangan kanan adalah 0 %

Departemen 2 oprasi 1

Gambar 1.4.4 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 2

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle

x 100% =

x 100% = 44,4%

Banyak elemen
18
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
18
Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 2 dapat diketahui
bahwa idle pada peta tangan kiri adalah 44,4 % dan idle pada peta tangan kanan adalah
0%
Departemen 3 oprasi 1

Gambar 1.4.5 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 3

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle
x 100% = 1 x 100% = 11,1%
Banyak elemen
9
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
9

Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri dapat diketahui bahwa idle
pada peta tangan kiri adalah 11,1 % dan idle pada peta tangan kanan adalah 0 %.

Departemen 3 oprasi 2

Gambar 1.4.6 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 3

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle

x 100% =

7 x 100% = 36,8%

Banyak elemen
19
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
19
Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri deaprtemen 3 operasi 2 dapat
diketahui bahwa idle pada peta tangan kiri adalah 36,8 % dan idle pada peta tangan
kanan adalah 0 %
Departemen 3 oprasi 3

Gambar 1.4.7 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 3 operasi 3

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle x 100% = 1 x 100% = 20%


Banyak elemen
5
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
5
Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 3 operasi 3

dapat diketahui bahwa idle pada peta tangan kiri adalah 20 % dan idle pada peta tangan
kanan adalah 0 %
Departemen 3 oprasi 4

b
Gambar 1.4.8 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 3

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle

x 100% =

10 x 100% = 50%

Banyak elemen
20
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
20
Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 3 operasi 3
dapat diketahui bahwa idle pada peta tangan kiri adalah 50 % dan idle pada peta tangan
kanan adalah 0 %

Departemen 4 oprasi 1

Gambar 1.4.9 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 4 operasi 1

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle x 100% =


1 x 100% = 6,67%
Banyak elemen
15
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
15
Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 4 operasi 1

dapat diketahui bahwa idle pada peta tangan kiri adalah 6,67 % dan idle pada peta
tangan kanan adalah 0 %
Departemen 4 oprasi 2

Gambar 1.4.10 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 4 operasi 2

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle
x 100% =
0 x 100% = 0%
Banyak elemen
6
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
6
Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 4 operasi 2

dapat diketahui bahwa idle peta tangan kiri adalah 0 % dan idle peta tangan kanan
adalah 0 %.

Departemen 5 oprasi 1

Gambar 1.4.11 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 5 operasi 1

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle
x 100% =
3 x 100% = 50%
Banyak elemen
6
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
6
Dari perhitungan manual peta tangan kakan kiri departemen 5 operasi 1 dapat
diketahui bahwa idle peta tangan kiri adalah 50 % dan idle peta tangan kanan adalah 0
%.

Departemen 5 oprasi 2

Gambar 1.4.12 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 5 operasi 2

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle
x 100% =
4 x 100% = 40%
Banyak elemen
10
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
10

Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 5 operasi 2
dapat diketahui bahwa idle peta tangan kiri adalah 40 % dan idle peta tangan kanan
adalah 0 %.

Departemen 6 oprasi 1

Gambar 1.4.13 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 6 operasi 1

Gambar 1.4.14 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 6 operasi 1

Analisa: (% idle)

Peta tangan kiri =

banyak idle
x 100% =
1 x 100% = 3,57%
Banyak elemen
28
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 4 x 100% = 14,28 %
Banyak elemen
28
Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 6 opearsi 1
dapat diketahui bahwa idle peta tangan kiri adalah 3,57 % dan idle peta tangan kanan
adalah 14,28 %.
Departemen 6 oprasi 2

Gambar 1.4.15 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 6 operasi 2

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle
Banyak elemen

x 100% =

3 x 100% = 30%
10

Peta tangan kanan =

banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %


Banyak elemen
10

Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 6 operasi 2
dapat diketahui bahwa idle peta tangan kiri adalah 30 % dan idle peta tangan kanan
adalah 0 %.

Departemen 6 operasi 3

Gambar 1.4.16 peta tangan kanan kiri departemen 6 operasi ke-3

Analisa :

Peta tangan kiri =

banyak idle
x 100% =
3 x 100% = 30%
Banyak elemen
10
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
10
Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 6 operasi 3
dapat diketahui bahwa idle peta tangan kiri adalah 30 % dan idle peta tangan kanan
adalah 0 %.

Departemen 7 Finishing

Gambar 1.4.16 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 7

Analisa: (% idle)
Peta tangan kiri =

banyak idle
x 100% =
8 x 100% = 33,3%
Banyak elemen
24
Peta tangan kanan = banyak idle x 100% = 0 x 100% = 0 %
Banyak elemen
24

Dari perhitungan manual peta tangan kakan dan kiri departemen 7 dapat
diketahui bahwa idle peta tangan kiri adalah 33,3 % dan idle peta tangan kanan adalah 0
%.
Stasiun kerja departemen 8

Gambar 1.4.17 Peta Tangan kanan dan kiri departemen 8

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan tersebut, maka dapat diambil suatu
kesimpulan sebagai berikut:
1. Praktikan mampu mengetahui waktu standar dalam pembuatan lampu dinding
secara langsung dan tidak langsung yaitu,

praktikan melakukan perakitan

sendiri dalam pembuatan lampu dinding pada saat praktikum modul 1


sedangkan pembuatan tidak langsung praktikan mengetahui beberapa dalam segi
bahan yakni kayu yang digunakan dalam perakitan lampu dinding. dapat
diketahui bahwa waktu baku standar (WS) = 0,0905 jam/unit sehingga dalam
satu jam operasinya dapat menghasilkan produk / output baku (OS) = 11,047
11 unit.
2. Berdasarkan hasil pengolahan diagram pareto, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa kerapian pita melebihi 20%, sehingga kecacatan tersebut mengakibatkan
efek kecacatan melebihi 80% dari produk dan menghasilkan perbaikan kualitas.
Metode ini dapat membantu perusahaan dalam mengontrol proses produksinya .
3. Melihat dari peta tangan kanan dan kiri, setelah dianalisa, dapat diketahui dari
seluruh operasi ternyata jumlah idle kurang dari jumlah non idle, sehingga
pekerjaan ini bisa dikatakan produktif.

5.2

SARAN
Diharapkan asisten membangun koordinasi yang lebih baik antara asisten yang lain,

agar praktikum berjalan dengan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Ciptani M.K. 2001. Peningkatan Produktivitas Dan Efisiensi Biaya Melalui Integrasi
Time & Motion Study Dan Activity-Based Costing. Jurusan Ekonomi Akuntansi,
Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra
Widiawati U.T. 2009. Deskripsi Time And Motion Study Untuk Mengetahui Waktu Baku
di Produksi Sambal PT. HEINZ ABC Indonesia karawang. Program Diploma III
Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Wignjosoebroto, Sritomo. 1992. Teknik Tata Cara dan Pengukuran Kerja. Surabaya:
PT. Guna Widya.