Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KOSMETOLOGI II

SEDIAAN : SHAMPO DAUN LIDAH BUAYA


Tanggal Percobaan : 21 Mei 2016

Kelompok 5

1.
2.
3.

Ketua :
Deny Rusniansyah
Anggota :
Komala Sari
Dewinta Fernanda Putri
Aprilia Budhiyarti

(066113021)
(066113006)
(066113016)
(066113027)

Dosen :
Dr. Haryanto Susilo, DEA
Ella Noorlaela, M.Si.,Apt
Septia Andini, S.Farm.,Apt
Mindiya Fatmi, S.Farm.,Apt
Asisten Dosen:
Ine Sintia Putri
Marybet TRH
Yesi Restina
Ghintya Fitaloka

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori


Shampo adalah suatu zat yang terdiri dari surfaktan, pelembut, pembentuk busa,
pengental dan sebagainya yang berguna untuk membersihkan kotoran yang melekat pada
rambut seperti sebum, keringat, sehingga rambut akan kelihatan lebih bersih, indah dan
mudah ditata.
Kata shampoo berasal dari bahasa Hindi champo, bentuk imperatif dari champna
memijat. Di Indonesia dulu shampoo dibuat dari merang yang dibakar menjadi abu dan
dicampur dengan air.
Beberapa zat tambahan yang digunakan dalam pembuatan shampo
1. Foam Builder
Bahan yang meningkatkan kualitas, volume, dan stabilitas busa.
Contoh : Lauryl benzen monoethanolomide
2. Conditioning Agent
Merupakan bahan berlemak yang memudahkan rambut untuk disisir.
Contoh : Lanolin, minyak mineral
3. Opacifying Agent
Merupakan bahan yang memberikan warna buram pada shampo
Contoh : Glycerol, Mg Stearate
4. Cleating Agent
Bahan yang mencegah terbentuknya sabun Ca aatau Mg karena air sadah
Contoh : asam sitrat, EDTA
5. Thickening Shampo
Bahan yang berguna melindungi shampo dari mikroba
Contoh : etil alkohol
6. Antidandruff Agent
Bahan untuk mencegah adanya ketombe
ontoh : Asam Salisilat
1.2 Tujuan Percobaan
- Untuk mengetahui cara pembuatan Shampoo dari Daun Lidah Buaya
- Untuk mengetahui komposisi dalam pembuatan Shampoo dari Daun Lidah Buaya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan pustaka


Shampoo adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud keramas rambut,
sehingga setelah itu kulit kepala dan rambut menjadi bersih, dan sedapat mungkin menjadi
lembut, mudah diatur, dan berkilau. Dan merupakan produk perawatan rambut yang
digunakan untuk menghilangkan minyak, debu, serpihan kulit, dan kotoran lain dari rambut.
Pada awalnya shampoo dibuat dari berbagai jenis bahan yang diperoleh dari sumber
alam, seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, sari abu merang ( sekam padi ). Shampoo
yang menggunakan bahan alam sudah banyak ditinggalkan, dan diganti dengan shampoo
yang dibuat dari detergen.
Sebuah formulasi shampo yang baik mempunyai kemampuan khusus yang dapat
meminimalisir iritasi mata, mengontrol ketombe, serta dapat memperbaiki struktur rambut
secara keseluruhan. Preparat shampoo harus meninggalkan kesan harum pada rambut, lembut
dan mudah diatur, memiliki performance yang baik, harga yang murah dan terjangkau.
Secara spesifik, shampo harus :
1
2

Mudah larut dalam air


Memiliki daya bersih yang baik tanpa terlalu banyak menghilangkan minyak dari

3
4
5
6
7

kulit kepala
Menjadikan rambut halus, lembut, serta mudah disisir
Cepat berbusa dan mudah dibilas
Memiliki pH yang baik netral maupun sedikit busa
Tidak mengiritasi pada tangan dan kulit kepala
Memiliki performa yang baik

Adapun jenis-jenis shampoo , yaitu :


a

Shampo bubuk ( Dry Shampoo )


Sebagai bahan dasar biasanya digunakan sabun bubuk, sedangkan zat pengencer

biasanya digunakan Natrium Karbonat, Natrium Bikarbonat, atau Boraks.


Shampo Emulsi
Shampo ini mudah dituang, karena konsistensinya tidak begitu kental. Tergantung dari

jenis zat tambahan yang digunakan.


Shampo Krim atau Pasta
Sebagai bahan dasar digunakan Natrium Alkisulfat dari jenis alkohol rantai sedang

yang dapat memberikan konsistensi kuat.


Shampo Larutan

Merupakan larutan jernih. Faktor yang harus diperhatikan dalam formulasi shampo ini
meliputi viskosita, warna, keharuman, pembentukan dan stabilitas busa.

2.2 Data performulasi


- Zat aktif
1. Lidah buaya ( Aloe vera )
-Kingdom: Plantae
-Subkingdom: Tracheobionta
-Super Divisi: Spermatophyta
-Divisi: Magnoliophyta
-Kelas: Liliopsida
-Ordo: Asparagales
-Famili: Asphodelaceae
-Genus: Aloe
-Spesies: Aloe vera L.
- Zat tambahan
1. Na lauryl sulfat (Handbook of Excipients 6th edition hal. 448)
- Pemerian : putih atau krem sampai kuning pucat, Kristal berwarna atau serbuk.
- Kelarutan : larut dengan mudah dalam air, praktis tidak larut dalam kloroform dan eter.
- Konsentrasi : 0,5-2,5%
- Kegunaan : surfaktan anionic, emulsifying agent, penetrasi kulit, zat pembasah.
- OTT : inkompatibel dengan surfaktan kationik, garam alkaloid, dan garam potassium.
- Stabilitas : stabil dalam kondisi penyimpanan normal, dalam larutan dengan pH 2,5
atau kurang akan mengalami hidrolisis.
2. Natrium Bikarbonat (Farmakope Indonesia Edisi III hal 424)
- Rumus molekul
- Berat molekul

: NaHCO3
: 84,01 g/mol

-Pemerian

: Serbuk hablur, putih. Stabil di udara kering tetapi di udara lembab


secara perlahan-lahan terurai

- Kelarutan

: Larut dalam air, tidak larut dalam etanol

- Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: Antasidum

3. Natrium borat ( FI IV Hal 603)


- Pemerian

: Hablur transparan, tidak berwarna, serbuk hablur putih, tidak berbau,


hampir tidak mempunyai rasa.

- Kelarutan

: Larut dalam air, mudah larut dalam air mendidih dan dalamgliserin,
tidak larut dalam etanol.Konsentrasi : 1 15 %

- Kegunaan

: Pengawet

4. Nipagin (Handbook of Pharmaceutical Exipient 6 Th hal 310)


- Pemerian : Masa hablur atau serbuk tidak berwarna atau kristal putih, tidak berbau atau
berbau khas lemah dan mempunyai rasa sedikit panas.
- Kelarutan : Mudah larut dalam etanol, eter, praktis tidak larut dalam minyak,larut dalam
400 bagian air.Konsentrasi : 0,02-0,3 % untuk sediaan topikal
- Kegunaan : Anti mikroba, pengawet
- OTT

: Non ionik surfaktan seperti polisorbat 80, bentonit, magnesiumtrisilikat, talk,


tragakan, sodium alginate.

- Stabilitas : Stabil terhadap pemanasan dan dalam bentuk larutan.


5. Gliserin (FI IV hal 413, Handbook of Pharmaceutical Excipient edisi 6 hal 283).
- Rumus Molekul

: C3H8O3.

- Berat Molekul

: 92,09

- Pemerian

: Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna; rasa manis; hanya


boleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak). Higroskopis,
netral terhadap lakmus.

- Kelarutan

: Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol; tidak larut


dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak lemak, dan dalam
minyak menguap.

- Titik Beku

: -1,60 C.

- Khasiat

: Pelarut.

- Konsentrasi

: <50%.

- Bj

: Tidak kurang dari 1,249. 1,2620 g/cm3 pada suhu 250 C.

- OTT

: Gliserin bisa meledak jika bercampur dengan oksidator kuat


seperti kromium trioksida, potasium klorat atau potasium
permanganat. Adanya kontaminan besi bisa menggelapkan
warna dari campuran yang terdiri dari fenol, salisilat dan tanin.
Gliserin membentuk kompleks asam borat, asam gliseroborat
yang merupakan asam yang lebih kuat dari asam borat.

- Stabilitas

: Gliserin bersifat higroskopis. Dapat terurai dengan


pemanasan yang bisa menghasilkan akrolein yang beracun.
Campuran gliserin dengan air, etanol 95 % dan propilena glikol
secara kimiawi stabil. Gliserin bisa mengkristal jika disimpan
pada suhu rendah yang perlu dihangatkan sampai suhu 200 C
untuk mencairkannya.

- Penyimpanan
6.

: Wadah tertutup rapat.

Aquadest/Aquadestillata/Aqua

Purficata

FI

IV

hal

Handbook ofPharmaceutical Exipient 2th hal 546)


- Rumus molekul : H2O
- Bobot molekul : 18,02
- Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.

112,

- Kelarutan : Dapat bercampur dengan pelarut polar.


- PH : 5,0 - 7,0
-Kegunaan : Sebagai pelarutOTT : Bereaksi dengan obat dan zat tambahan, bereaksi keras
dengan logam alkali.
-Stabilitas : Secara kimiawi stabil pada semua suasana (es, cair, uap air).
-Wadah : Dalam wadah tertutup rapat.

BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan


A.Alat
- Beaker glass
- Gelas ukur
- Mixer

B. Bahan
- Aqua destilata
- Ekstrak daun Lidah buaya
- Glycerin
- Metil paraben

- Kertas saring
- Penyaring
- Spatula

- Pewarna hijau
- Pewangin ( mint )
- Sodium Lauryl Sulfate
- Sodium bikarbonat
- Sodium borat

3.2 Metode Kerja


a. Ekstrak daun Lidah buaya ( Dibuat untuk semua Group)
- Pembuatan ekstrak ini hanya untuk keperluan pratikum
- Ditimbang 250g daun lidah buaya yang sudah dikupas
- Dipotong potong , dimasukkan dalam blender
- Ditambahkan air suling 500ml
- Dijalan blender sampai didapatkan campuran yang halus. Disaring dan ambil
filtratnya.
b. Pembuatan shampoo ( Per group)
1. Kedalam beaker glass yang beridi air suling 200ml
Ditambahkan secara berurutan dan dilakukan pengadukan setiap kali penambahan :
Sodium lauryl sulfat
Natrium bikarbonat
Ekstrak daun lidah buaya
Glycerin
Dilakukan pengadukan sampai larut dan tercampur sempurna
2. Setelah larut sempurna, ditambahkan :
- Sodium borat
- Sisa air suling sebanyak 175 ml
Dilakukan pengadukan sampai ttercampur dengan rata.
3. Ditambahkan kedalam campuran :
- Pewarna hijau
- Pewangi ( mint )
- Metil paraben
Dilakukan pengadukan sampai semuanya larut
4. Kemudian diambil sample untuk pengujian
Pengujian :
1. Aspek organioleptik
2. Kelarutan
3. Ph
4. Kekentalan ( Viskometer Brookfield )
5. Kandungan Lauryl Sulfat ( Tidak dilakukan pada saat ini)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Formulasi


No

Bahan

Formula

Formula

1
2
3
4
5

Aqua dest
Ekstrak daun lidah buaya
Glycerin
Metil paraben
Pewarna hijau

37 5ml
30 ml
4g
0,2 g
0,2 ml

187,5 ml
15 ml
2g
0,1 g
0.1 ml

6
7
8
9
-

Pewangi ( mint
Sodium borat
Sodium bikarbonat
Sodium lauryl sulfate

0,5 ml
4g
9g
50 g

Perhitungan
1. Aqua dest
2. Eksrak daun lidah buaya
3. Glycerin
4.Metil paraben
5.Pewarna
6. Pewangi (mint)
7. Sodium borat
8. Sodium bikarbonat
9. Sodium lauryl sulfate

0,25 ml
2g
4,5 g
25 g

= 375 ml x 1/2 = 187,5 ml


= 30 ml x 1/2 = 15 ml
= 4 g x 1/2 = 2 g
=0,2 g x 1/2 = 0,1 g
= 0,2 ml x 1/2 = 0,1 ml
= 0,5 ml x 1/2 = 0,25 ml
= 4 g x 1/2 = 2 g
= 9 g x 1/2= 4,5 g
= 50 g x 1/2= 25 g

4.2 Hasil pengamatan


Metode Pengujian
Uji Organoleptik :

Hasil Pengamatan

Kesimpulan

a. Warna

Hijau

++

b. Bau

Mint

+++

8
26.0

Basa
Tidak memenuhi syarat

pH
Kekentalan

Ket : +++ = Sangat baik


++ = Baik
+ = Kurang baik

4.3 Pembahasan
Pada pratikum kali ini, dilakukan pembuatan sediaan shampoo ekstrak lidah buaya.
Shampo adalah sediaan setengah cair yang tersusun atas dua macam surfaktan, pengental, air,
serta bahan aditif lain yang meliputi pengatur pH dan pengawet dan dibuat sesuai prosedur
pembuatan shampoo. Surfaktan merupakan bahan utama karena bertanggung jawab atas sifat
detergensi dan pembersihan rambut. Larutan surfaktan akan membasahi baik kotoran maupun
rambut lewat penurunan tegangan muka. Kemudian kotoran maupun minyak pada rambut
akan terdispersi pada larutan surfaktan tersebut dan menjadi mudah dibilas oleh air.
Surfaktan yang dipilih untuk pembuatan shampoo yang beredar, yaitu yang banyak
digunakan di pasaran adalah Sodium Lauryl Sulfate. Sodium lauryl sulfate merupakan

surfaktan anionik yang memiliki karakteristik sebagai pembentuk busa yang baik, memiliki
daya pembersih yang tinggi , dan stabil ada air sadah. SLS bersifat sukar larut dalam air
dingin, namun kelarutannya meningkat seiring dengan kenaikkan suhu. Maka dalam proses
pembuatan shampoo digunakan air hangat untuk melarutkan SLS yang berbentuk serbuk.
Sebagai zat pengencer biasanya digunakan sodium bikarbonat, sodium borat. Dan dapat
dikombinasikan pewarna alami dan pewangi mint sehingga memberikan sedikit efek
pewarnaan dan pengaroma pada rambut.
Selain itu bahan lain yang perlu ditambahkan adalah pengawet . hal ini dikarenakan
shampoo merupakan sediaan berair yang dapat menjadi tempat jamur dan bakteri. Pengawet
yang dipilih disini adalah metil paraben atau sering disebut nipagin. Karena metil paraben
mampu bekerja efektif pada rentang pH yang lebar, memiliki aktivitas antimikroba spektrum
luas, dan sangat efisien melawan kapan maupun jamur. Selain itu bahwa nipagin atau nipasol
merupakan pengawet yang sesuai bagi sediaan gel, karena tidak mempengaruhi efisiensi
polimer untuk menaikkan viskositas sediaan. Disamping itu nipagin merupakan pengawet
golongan paraben yang memiliki kelarutan paling tinggi dalam air dibanding jenis paraben
yang lain.
Untuk pembuatan shampoo ini digunakan air demineralisasi. Tujuannya adalah untuk
menghindari keberadaan mineral-mineral seperti Ca dan Mg yang mungkin terdapat dalam
air. Selain itu pada saat proses pencampuran sebaiknya dilakukan pengadukan perlahan. Hal
ini supaya tidak banyak udara yang masuk dan terjebak sehingga mengakibatkan munculnya
banyak gelembung.
Pada pembuatan shampoo dilakukan evaluasi pengujian yang terdiri dari organoleptik
seperti warna dan bau, pH, dan viskositas. Pada pengujian terhadap organoleptik dihasilkan
warna hijau muda dan wangi mint.. Dan pengujian terhadap pH dihasilkan nilai pada pH
yaitu 9 , berarti basa. Pada hasil pengamatan tersebut masih berada dalam batasan persyaratan
pH shampoo yaitu ( 5,0-9,0) menurut penelitian Faizatun dkk dengan jurnal Formulasi
Sediaan Shampo Ekstrak Bunga Chamonile dengan Hidroksi Propil Metil Selulosa sebagai
Pengental. Kemudian pada pengujian terhadap viskositas menggunakan Brookfield
didapatkan nilai Cp sebesar 26.0 dengan kecepatan rpm 100 menggunakan spindel nomer 2
selama 2 menit. Hasil yang didapatkan tidak memenuhi persyaratan yang sesuai oleh SNI
tahun 1992 dalam skripsi Rini Budiarti viskositas shampo selama penyimpanan yaiu 8853,5
16950 Cp. Hal ersebut dapat disebabkan dari beberapa faktor yaitu dari jumlah bahan untuk
formulasi atau pada penggunaan Brookfield pada kecepatan ( rpm) atau angka pada spindel.

BAB V
KESIMPULAN

Shampo adalah sediaan setengah cair yang tersusun atas dua macam surfaktan,
pengental, air, serta bahan aditif lain yang meliputi pengatur pH dan pengawet dan

dibuat sesuai prosedur pembuatan shampoo


Pada pengujian organoleptik didapatkan warna hijau muda dan wangi mint, dengan
pH 9 , dan hasil viskositas pada nilai Cp 26.0

DAFTAR PUSTAKA
-

Permono, Ajar. 2002. MembuatSampo. Jakarta :Puspa Swara.


Tranggono, Retno I.S. 2011. Ilmu pengetahuan kosmetik. Gramedia.
Wasitaatmaja, SM. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. UI Press: Jakarta
Wade, Ainkey, Paul, J.Walker.1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients Second

Edition. London: Pharmaceutical Press


Susilo, Haryanto. 2015. Buku Penuntun Praktikum Kosmetologi II. Bogor :
Universitas Pakuan