Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA
PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP KEAKTIFAN SUATU ENZIM
NAMA
: YENNI ANGRAINI
NIM
: H411 13 026
HARI/ TGL. PERCOBAAN : SELASA/ 02 DESEMBER 2014
KELOMPOK
: III (TIGA)
ASISTEN
: ERYANTI B. BARRUNG

LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai katalisator, enzim berbeda dengan katalisator anorganik dan
organik sederhana yang umumnya dapat mengatalisis berbagai reaksi kimia.

Enzim mempunyai spesifitas yang sangat tinggi, baik terhadap reaktan (substrat)
maupun jenis reaksi yang dikatalisiskan. Pada umumnya, suatu enzim hanya
mengatalisis satu jenis reaksi dan bekerja pada suatu substrat tertentu. Kemudian,
enzim dapat meningkatkan laju reaksi yang luar biasa tanpa pembentukan produk
samping dan molekul berfungsi dalam larutan encer pada keadaan biasa
(fisiologis) tekanan, suhu, dan pH normal. Hanya sedikit katalisator non biologi
yang dilengkapi sifat-sifat demikian (Yazid, 2006).
Suatu reaksi kimia, khususnya antara senyawa organik, yang dilakukan
dalam laboratorium suatu kondisi yang ditentukan oleh beberapa factor seperti
suhu, tekanan, waktu dan lain-lain. Apabila salah satu kondisi tidak sesuai dengan
apa yang seharusnya dibutuhkan maka reaksi tidak dapat berlangsung dengan baik
(Poedjiadi, 1994).
Tubuh kita merupakan laboratorium yang sangat rumit, sebab di dalamya
terjadi reaksi kimia yang beraneka ragam.Penguraian zat-zat yang terdapat dalam
makanan kita, penggunaan hasil uraian untuk memperoleh energy, penggabungan
kembali hasil uraian untuk membentuk persediaan makanan dalam tubuh.
(Poedjiadi, 1994).
Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan percobaan mengenai
pengaruh temperature terhadap keaktifan enzim ini.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percoban
Maksud dari percobaan ini ialah mengetahui suhu optimum aktivitas
enzim amilase dalam saliva.
1. 2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui suhu optimum aktivitas
enzim amilase yang terdapat dalam saliva.
1.3 Prinsip Percobaan

Menentukan suhu optimum keaktifan enzim amilase berdasarkan waktu


penguraian amilum menjadi glukosa pada berbagai temperatur yang ditandai
dengan terbentuknya warna bening pada larutan setelah ditambahkan iodin.
1.4. Manfaat Percobaan
Manfaat dari percobaan ini adalah kita dapat mengetahui dan memahami
mengenai pengaruh temperatur terhadap keaktifan suatu berdasarkan waktu
penguraian amilum menjadi glukosa pada berbagai temperatur yang diuji dengan
Iodin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapat dalam sel
hidup.Sekarang, kira-kira lebih dari 2.000 enzim telah teridentifikasi, yang
masing-masing berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia dalam sistem
hidup.Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat
diperoleh dengan ekstraksi dari jaringan tanpa merusak fungsinya (Yazid, 2006).

Enzim adalah molekul protein yang berperan sebagai biokatalis dan


berfungsi untuk mengkatalisis reaksi-reaksi metabolisme yang berlangsung pada
mahkluk hidup.Fungsi ini dipengaruhi oleh faktor lingkungannya seperti
temperatur, keasaman (pH), konsentrasi substrat, konsentrasi enzim dan aktivator.
Pada kondisi optimum, laju reaksi enzimatik akan bekerja secara optimum,
sehingga diperoleh produk yang lebih banyak. Laju reaksi enzimatik akan
bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim, akan tetapi laju reaksi dapat
mencapai konstan bila jumlah substrat bertambah terus sampai melewati batas
kemampuan enzim (Syaiful,2012).
Untuk dapat bekerja terhadap suatu zat atau substrat harus ada
hubungannya atau kontak antara enzim dengan substratnya suatu enzim
mempunyai ukuran lebih besar daripada substratnya.Oleh karena itu tidak seluruh
bagian enzim dapat berhubungan dengan substrat.Hubungan antara substrat
dengan enzim hanya terjadi pada bagian tertentu saja.Tempat atau bagian enzim
yang mengadakan hubungan atau kontak dengan substrat dinamai bagian aktif
(active site).Hubungan hanya mungkin terjadi apabila bagian aktif mempunyai
ruang yang tepat dapat menampung substrat. Hubungan atau kontak antara enzim
dengan substrat menyebabkan terjadinya kompleks enzimsubstrat, kompleks ini
merupakan kompleks yang aktif, yang bersifat sementara dan akan terurai lagi
apabila reaksi yang diinginkan telah terjadi (Poedjiadi, 1994).
Peningkatan temperatur dapat meningkatkan kecepatan reaksi karena
molekul atom mempunyai energi yang lebih besar dan mempunyai kecenderungan
untuk berpindah.Ketika temperatur meningkat, proses denaturasi juga mulai
berlangsung dan menurunkan aktivitas molekul enzim.Sebelum mencapai
temperatur 70 oC terlihat bahwa aktivitas enzim amilase masih kecil, hal ini

disebabkan karena pada temperatur tersebut energi aktivasi yang diperlukan enzim
untuk mengkatalisis reaksi hidrolisis substrat belum maksimal, sehingga enzim
tidak dapat bekerja dengan baik.Kenaikan temperatur menyebabkan aktivitas
enzim amilase meningkat hingga mencapai temperatur optimum.Setelah mencapai
kondisi optimum, terlihat bahwa aktivitas enzim juga menurun. Terjadinya
penurunan aktivitas ini karena pada temperatur tinggi struktur enzim akan berubah
sehingga sisi aktif enzim akan rusak atau berubah dan menyebabkan aktivitasnya
menurun (Syaiful,2012).
Enzim adalah protein katalik.Suatu katalis adalah suatu agen kimiawi yang
mengubah laju reaksi tanpa harus dipergunakan oleh reaksi itu. Dengan tidak
adanya enzim, lalu lintas kimiawi melalui jalur-jalur metabolismeakan menjadi
sangat macet. Setiap reaksi kimiawi melibatkan pemutusan ikatan dan
pembentukan ikatan. Misalnya hidrolisis sukrosa melibatkan pertama-tama
pemutusan ikatan antara glukosa dan fruktosa dan kemudian pembentukan ikatan
baru dengan suatu atom hidrogen dan suatu gugus hidroksil air (Campbell, 2008).
Enzim oksidase bekerja sebagai katalis daam reaksi oksidasi asam amino.
Untuk reaksi lain dekarboksilase bekerja sebagai katalis, sedangkan transaminase
dapat pula bekerja terhadap asam amino untuk memindahkan gugus -NH2 kepada
senyawa lain. Jadi walaupun ketiga reaksi tersebut mungkin berjalan, namun tiap
enzim hanya bekerja pada satu reaksi. Enzim dekarboksilase dan transaminase
mempunyai koenzim yang sama yaitu piridoksalfosfat. Jadi kekhasan reaksi
bukan disebabkan oleh koenzim tetapi oleh apoenzim (Poedjiadi, 1994).
Setiap reaksi kimia antara molekul-molekul melibatkan pemutusan maupun
pembentukan ikatan.Misalnya, hidrolisis sukrosa melibatkan pemutusan ikatan
antara glukosa dan fruktosa dan salah satu ikatan baru. Mengubah satu molekul

menjadi molekul lain umumnya melibatkan pemuntiran molekul awal menjadi


kondisi yang amat tidak stabil sebelum reaksi dapat berlanjut (Cambell, 2008).
Penelitian ini berhasil membuat modifikasi pati jagung menggunakan
enzim -amilase dari kecambah kacang hijau, tanpa memisahkan enzim amilase
dari kecambah (tidak dilakukan ekstraksi enzim -amilase), serta potensi
kecambah kacang hijau sebagai sumber enzim -amilase.Menggunakan
menggunakan enzim -amilase komersial dalam pembuatan tepung pisang instan.
Selain berasal dari kecambah biji-bijian, enzim amilase yang berasal dari tanaman
juga telah digunakan dalam proses hidrolisis pati, melakukan isolasi enzim
amilase dari temulawak dan menggunakannya dalam produksi gula glukosa dari
pati (Syaiful, 2012).
Pemanfaatan enzim amilase dari kecambah biji jagung ini di bidang
industri masih belum banyak dilakukan.Bila hal ini dilakukan tentunya
merupakan.Enzim yang digunakan untuk merombak protein adalah enzim
protease, perombakan lemak adalah enzim lipase dan pati memerlukan enzim
amilase. Enzim-enzim tersebut secara bersamaan dihasilkan tumbuhan selama
proses perkecambahan (Syaiful, 2012).
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan


Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan amilum
1%, saliva encer (enzim amilase) dengan perbadingan (1 ML saliva : 9 mL
akuades ), iodin 0,01 M dan tissue roll.

3.2 Alat Percobaan


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini ialah tabung reaksi, rak
tabung reaksi, wadah berisi air es, inkubator, pipet tetes, pipet skala 1 mL,
stopwatch, plat tetes, sikat tabung, penangas air, kertas label, dan gegep.
3.3 Prosedur percobaan
Sebanyak 4 buah tabung reaksi disiapkan dan masing-masing diisi dengan
2 mL larutan pati (amilum) 1%. Kemudian disiapkan lagi 4 tabung reaksi lain dan
masing-masing diisi dengan 2 tetes saliva encer. Masing-masing 1 buah tabung
reaksi berisi amilum dipasangkan dengan tabung reaksi berisi saliva. Tabung
pertama dimasukkan dimasukkan dalam air es atau suhu 0 C. Tabung kedua
ditempatkan pada suhu kamar atau 25 C. Tabung ketiga dimasukkan dalam
inkubator atau suhu 40 C. Tabung keempat dimasukkan dalam penangas air. Atau
suhu 100 C. Semua tabung dibiarkan selama 5 menit kemudian masing-masing
larutan dicampurkan. Selanjutnya disimpan kembali dan tiap interval 5 menit
diambil 1 tetes masing-masing larutan dan ditambahkaniodin sebanyak 2 tetes.
Amati perubahan warna yang terjadi dan hentikan perlakuan apabila larutan yang
telah ditambahkan iodin berwarna bening.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A, Reece, J. B, Urry, L. A, Cain, M. L, Wasserman, S. A, Minorsky,


P. V, dan Jackson, R. B, 2008, Biologi, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi, A., 1994, Dasar-Dasar Biokimia, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Syaiful, B., 2012, Karakterisasi Enzim Amilase Dari Kecambah Biji Jagung
Ketan (Zea mays ceratina L.), Jurnal Natural Science, 1 (1) 132-143,
diakses pada hari Kamis, 04 Desember 2014, pukul 20.05 WITA.

Yazid, E., 2006, Biokomia Untuk Mahasiswa Analis, Penerbit Andi, Yogyakarta.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 1. Pengaruh temperatur terhadap aktivitas enzim amilase
Warna
Waktu
Tabung I
Tabung II
Tabung III
(menit)
(0C)
(25 C)
(38 C)

Tabung IV
(100C)

5
10
15
20
25
30
35
40

++++
++++
++++
++++
++++
++++
++++
+++

++++
++++
++++
++++
++++
++++
++++
++++

+++
+++
++++
++++
++

Keterangan:
++++ = Biru tua
+++

= Biru

++

= Biru muda

= Putih kebiruan

= Bening

Tabel 2. Temperatur Vs Kebalikan waktu


Temperatur
Waktu (t)

1/t

0 C

40

0,025

25 C

40

0,025

38 C

25

0,04

100 C

40

0,025

Grafik 1. Temperatur vs Kebalikan Waktu

++++
++++
++++
++++
++++
++++
++++
++++

Aktivitas Enzim Amilase


0.05
0.04
0.03

Aktivitas
Enzim
Amilase

1/T (Menit)0.02
0.01
0

Temperatur (C)

4.3

Reaksi

CH2O
H

CH2O
O

H
OH

O
H

OH

H
O

O
H
OH

H
+ nI2

H
O

OH

CH2O
H

CH2O
O

H
OH

O
OH

O
H
OH

amilase

H
O

OH

biru

CH2O
H

O
H
OH

H
+ nI2

H
OH

OH
OH

H
bening

4.4 Pembahasan
Pada percobaan ini akan ditentukan suhu optimum dari enzim amilase
dengan membandingkan kerja enzim pada empat kondisi temperatur yang
berbeda-beda. Masing-masing tabung diisi dengan larutan pati 1 % sebanyak
5 mL dan 6 tetes saliva encer dengan perbandingan (1:9).Tabung pertama
ditempatkan dalam wadah yang berisi air es dengan suhu sekitar 0 oC.Tabung
kedua ditempatkan pada suhu kamar dengan suhu kamar sekitar 25 C. Tabung
ketiga di masukkan ke dalam inkubator dengan suhu sekitar38oC dan tabung
keempat dimasukkan ke wadah yang di didihkan dalam penangas air dengan suhu

sekitar 100 oC. Tiap interval 5 menit diambil 2 tetes masing-masing larutan dan
ditambahkaniodin sebanyak 5 tetes. Amati perubahan warna yang terjadi dan
hentikan perlakuan apabila larutan yang telah ditambahkan iodin menghasilkan
warna bening yang menandakan amilum telah selesai terurai.
Pada percobaan ini, tabung pertama mengalami perubahan warna pada
menit ke 40 namun perubahannya sangat lambat karena pada suhu 0 oC amilum
belum pecah menjadi glukosa karena kerja enzim amilasenya terhambat. Tabung
kedua pada menit ke 5 warnanya biru tua sampai menit ke 40 warnanya tetap
biru. Tabung ketiga pada menit ke 5 sampai 10 warnanya biru tua, menit ke 15
warnanya biru, dan pada menit ke 20 berubah menjadi biru muda. Tabung ke
empat dari 5 menit pertama sampai menit terakhir tidak terjadi perubahan warna
hal ini disebabkan karena enzim tidak bisa bekerja pada suhu tinggi.
Adapun kesalahan dalam percobaan ini yaitu, iodin sudah teroksidasi
dengan udara, amilum yang digunakan sudah tidak baik, sehingga pada suhu
optimun enzim tidak dapat mengurai dari amilun

deskrin

maltosa

dan

menjadi amilum.
Penghitungan nilai 1/t dilakukan untuk mengetahui suhu optimal untuk
aktivitas enzim. Nilai t merupakan waktu dimana larutan telah berwarna bening,
sehingga nilai 1/t merupakan nilai perbandingan angka 1 dengan menit. Tabung
pertama nilai 1/t-nya 0,025, tabung kedua 0,02, taabung ketiga 0,04 dan tabung
keempat nilai 1/t- nya 0,025.

LAMPIRAN I

Bagan Kerja
Tabung
-

4 buah tabung reaksi masing-masing diisi dengan 5

mL larutan kanji (amilim) 1 %


Ditambahkan 2 mL tetes saliva

encer

dengan

perbandingan (1:9) pada masing-masing tabung,


khusus tabung IV saliva encer yang ditambahkan
telah dipanaskan dalam air mendidih

Tabung I ditempatkan pada air es (0 0C), tabung II


ditempatkan

pada suhu kamar (25 0C), tabung III

pada inkubator (380C) dan tabung IV pada air panas


-

(100 0C).
Pada interval 5 menit diambil larutan contoh dari
masing-masing tabung dan ditetes pada plat tetes.
Lalu ditambahkan dengan Iod 0,01 M sebanyak 6

tetes.
Dilakukan perlakuan yang sama sampai menit ke 40.

Hasil

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 05 Desember 2014


Asisten

Praktikan

ERYANTI B. BARRUNG
NIM: H311 11 270

YENNI ANGRAINI
NIM: H411 13 026
BAB V

YULIANSARI

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dalam percobaan ini adalah suhu optimum
untuk enzim amilase adalahsekitar 25 - 38C.
5.2 Saran

5.2.1Saran untuk Laboratorium


Sebaiknya bahan yang digunakan dalam laboratorium seperti iodin diganti
dengan yang baru, agar hasil eraktikum sesuai dengan tujuan.
5.2.2 Saran untuk Percobaan
Sebaiknya dalam percobaan bahan yang sudah tidak baik diganti, serta
bahan yang kurang sebaiknya ditambah
5.2.3 Saran untuk Asisten
Kakak menjelaskan dengan begitu detail tahap demi tahap percobaan ini
dan membuat praktikan juga lebih mengerti.

LAMPIRAN II

Lampiran foto Percobaaan

Perlakuan 0 oC

Perlakuan 25 oC

Perlakuan 38 oc

Perlakuan 100oC