Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tembaga (II) sulfat pentahidrat adalah salah satu jenis dari garam terhidrat
dengan rumus senyawa CuSO4.5H2O yang bersifat stabil dan memiliki bentuk kristal
triklinik. Tembaga sulfat dapat dibuat dengan cara mereaksikan tembaga dengan asam
sulfat dan asam nitrat (Fitroni dkk, 2013). Reaksi yang terjadi pada pembuatan
CuSO4.5H2O.
3Cu(s) + 8HNO3(aq) 3Cu2+(aq) + 6NO3-(aq) + 2NO(g) + 4H2O(l)
Cu2+(aq) + SO42-(aq) + 5H2O(l) CuSO45H2O(s)
Pembuatan CuSO4.5H2O melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah
pencampuran tembaga yang sudah dipotong-potong kecil dengan asam sulfat dan asam
nitrat. Pada tahapan ini asam nitrat berfungsi sebagai agen pengoksidasi tembaga agar
berubah menjadi ion Cu2+. Hasil samping dari pencampuran ini adalah gas NO yang
tidak berwarna, namun gas NO berikatan langsung dengan gas O2 membentuk gas NO2
yang berwarna coklat. Gas NO2 relatif beracun, oleh karena itu pengerjaan tahapan ini
dilakukan dalam lemari asam.
Tahap kedua adalah pemanasan. Pemanasan bertujuan meningkatkan kelarutan
CuSO4membentuk kristal CuSO4.5H2O. Tahap ketiga adalah penyaringan yang
bertujuan untuk memisahkan pengotor yang mungkin ada pada larutan. Tahap keempat
adalah pendiaman larutan. Hal ini dimaksudkan untuk proses kristalisasi CuSO4.5H2O
(Fitroni dkk, 2013). Tahap kelima adalah dekantasi. Dekantasi bertujuan untuk
memisahkan cairan dari kristal CuSO4.5H2O. Tahap keenam adalah pencucian kristal
yang bertujuan untuk menghilangkan pengotor yang masih menempel pada permukaan
kristal CuSO4.5H2O. Tahap ketujuh adalah mendekantasi kembali, untuk memisahkan
cairan dari kristal CuSO4.5H2O.
Berdasarkanmaterial safety data sheet(MSDS), tembaga(II) sulfat pentahidrat
berupa kristal padat berwarna biru cerah dengan titik lebur 1100C, dapat larut dalam
akuades dan tidak larut dalam pelarut etanol

Tujuan
Setelah mempelajari dan melakukan percobaan mahasiswa diharapkan mampu :

Membuat Kristal ttembaga (II) selfat pentahidrat dari limbah tembaga

Mengenal sifat-sifat Kristal tembaga (II) sulfat

Menganalisis produk dengan menghitung rendemen dan jumllah air Kristal


(hidrat) secara stoikhiometri

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Landasan Teori
Dalam SPU, Cu adalah golongan transisi. Cu, Ag, dan Au adalah logam dan
digunakan dalam bentuk lempengan (korn) karena tidak reaktif dan tidak berubah dalam
waktu yang lama. Cu berdaya hantar listrik besar sehingga dipakai pada kabel listrik.
Tembaga teroksidasi oleh HNO3. Tembaga merupakan salah satu logam yang paling ringan
dan paling aktif. Cu+ mengalami disproporsionasi secara spontan pada keadaan standar,
tembaga (II) sulfat mempunyai banyak kegunaan yaitu untuk campuran Bodeaux(sejenis
fungsida) dan senyawa tembaga lainnya. Senyawa juga digunakan dalam penyepuhan dan
pewarnaan tekstil dan sebagai bahan pengawet kayu. Bentuk anhidratnya digunakan untuk
mendeteksi air dalam jumlah kelumit. Tembaga sulfat juga dikenal sebagai vitriol biru.
Tembaga (II) sulfat merupakan padatan Kristal biru. CuSO4.5H2O.
Pentahidratnya kehilangan 4 molekul air pada 110 oC dan yang kelima pada 150 oC
membentuk senyawa anhidrat berwarna putih. Pentahidrat ini dibuat dengan meraksikan
tembaga (II) oksida atau atau tembaga (II) karbonat dengan H 2SO4 encer. Dalam bentuk
pentahidrat, setiap non tembaga (II) dikelilingi oleh empat molekul air pada setip sudut
persegi empat, kedudukan kelima dan keenam dari octahedral ditempati oleh atom oksigen
dan anion sulfat, sedangkan molekul air kelima terikat oleg ikatan hydrogen. Salah satu dari
logam tembaga yaitu tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidanya tetapi
tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3.

3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO-(aq)

3Cu2+ + 2NO(g) + 4H2O

Logam tembaga dibuat dari tembaga sulfide (Cu2S) yang dioksidasi dengan oksigen
CuS

+ 2O2

2CuO + Cu2S

2CuO + SO2
SO2 + 4Cu

Garam tembaga dalam larutan berwarna biru pucat, karena membentuk ion
Cu(H2O)42+ ditambahamonia menghasilkan ion Cu(NH3)42+ yang berwarna biru pekat.
Senyawa CuCl2 Cu2Br2, Cu2I2 sukar larut dalam iar karena Ksp masing-masing 1,9 x 10 -4, 5 x
10-9, 1 x 10-12. Senyawa Cu2O dan Cu2S dapat dibuat langsung dari unsurnya pada suhu tinggi.
Kedua senyawa ini cenderung nonstoikiometrik karena dapat pula sebagai membentuk CuO
dan CuS.
Senyawa Cu(I) berwarna putih kecuali oksidasinya merah. Senyawa Cu(II) biru dan
anhidratnya abu-abu, lebih stabil dalam larutan. Mereka beracun dan mengion yang berwarna
gelap yang terbentuk dengan larutan ammonia berlebihan. Cu digunakan untuk
kabel/kawat/peralatan listrik ; dalam logam logam paduan ; monel ; perunggu ; kunginga ;
perak jerman ; perak nikel, dll. Garam tembaga (I) tidak larut dalam air dan tidak berwarna,
mirip senyawa perak (I). Dapat dioksidasi menjadi senyawa tembaga (II) dan diturunkan dari
tembaga (II) (yaitu warna ion tembaga (II) dalam air) adlah 500 dalam batas konsentras 1
dalam 104. Tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO4 berwarna putih(abu sedikit kunging).
Larutan ammonia bila ditambahkan dalam jumlah sedikit terbentuk endapan biru
suatu garam basa(tembaga sulfat basa). Bila dalam keadaan basa dibiarkan terkena udara,
tembaga (II) sulfat cenderung teroksidasi menjadi tembaga (II) sulfat dan karenanya menjadi
dapat larut dalam air, banyak sekali panas yamg dilepas dalam proses ini.

BAB III
METODOLOGI KERJA

Alat dan Bahan

Alat

Gelas Kimia 250 ml


Gelas Ukur 50 ml
Corong
Kaca Arloji
Batang Pengaduk
Hot Plate
Pipet Tetes
Cawan Penguap
Magnetic Stirer
Kertas Saring

Bahan
Limbah tembaga dari kabel bekas
Larutan H2SO4 pekat
Larutan HNO3 pekat
Aquadest

Skema Kerja

Membuat Kristal CuSO4.5H2O

Analisis kadar air dalam Kristal CuSO4.xH2O

BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
No Prosedur Percobaan
Dimasukkan air ke dalam gelas
1
kimia
2

Ditambahkan 10 mL H2SO4 pekat

Ditambahkan 5 gram tembaga

Ditambahkan 15 mL HNO3 pekat

Dilakukan pengadukan terus


menerus kurang lebih 30 menit

Hasil Pengamatan
Volume 50 mL
Suhu larutan menjadi lebih panas dan warna
larutan tetap bening
Belum terjadi reaksi (tembaga tidak larut)
Larutan mendidih, warna larutan menjadi
biru keruh da terdapat uap berwarna coklat
Tembaga melarut
Larutan berwarna biru tua (bening) dan

Dipanaskan

Disaring larutan

Didiamkan dan ditimbang

Uji titik Leleh

terdapat uap putih (uap coklat hilang)


Terdapat filtrat yang berwarna biru
Terbentuk Tembaga II Sulfat dengan massa
15,15 gram
Titik leleh 112 oC

Pengolahan Data

Rendemen CuSO4.5H2O
m Cu

= 10 gram

m kristal= 15,15 gram


BM CuSO4.5H2O = 249,55 g/mol
BA Cu

= 63,55 g/mol

Rendemen = ...%
Jawab :
Reaksi : Cu + H2SO4 + 2HNO3 + 3H2O
Mol Cu

= = = 0,07868 mol

Mol H2SO4

= = = 0,184 mol

Mol HNO3

= = = 0,2167 mol

Mol H2O

= = = 2,778 mol

Cu

CuSO4.5H2O + 2 NO2

H2SO4 + 2 HNO3 + 3 H2O

Mula : 0,07868

0,184

0,2167

2,778

Reaksi : 0,07868

0,07868

0,1573

0,236

CuSO4.5H2O + 2 NO2
0,07868

0,1573
6

Sisa

:0

0,1053

0,0594

2,542

0,07868

0,1573

Massa CuSO4.5H2O = mol CuSO4.5H2O x BMCuSO4.5H2O


= 0,07868 mol x 249,55 gram/mol
= 19,6346 gram
Rendemen = (15,15 gram) / (19,6346 gram) x 100%
= 77,16%

Kadar air dalam Kristal CuSO4.xH2O


Berat cawan + CuSO4.xH2O = 64,67 gram
Berat CuSO4.xH2O = 64,67-61,52 = 3,15 gram
Berat setelah dikeringkan = 64,12 gram
Berat CuSO4 = 64,12 gram 61,52 gram = 2,6 gram
Mol CuSO4 = =

= 0,0163 mol

Massa xH2O = Massa CuSO4.xH2O Massa CuSO4


= 3,15 gram 2,6 gram = 0,55 gram
mol H2O

= = = 0,0305 mol

=
=
0,0163 x = 0,0305
x = 1,87
Kadar air CuSO4.xH2O = x = 1,87

Reaksi yang terjadi

H2SO4(pekat) + H2O H3O+ + HSO47

3Cu(s) + 8HNO3(aq) 3Cu2+(aq) + 6NO3-(aq) + 2NO(g) + 4H2O(l)

2NO + O2 2NO2

2Cu +2 H2SO4 +O2Cu SO4 + 2H2O

Cu + H2SO4 + 2HNO3 + 3H2O CuSO4. 5H2O + 2 NO2

Pembahasan

Pembahasan Oleh Abdul Faza Mahran


Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan kristal tembaga pentahidrat
(CuSO4.5H2O) berbahan baku limbah tembaga yang berasal dari kabel bekas.
Selain itu, praktikum ini juga membuktikan bahwa kristal yang dihasilkan benarbenar mengandung air kristal dengan perbandingan mol CuSO4: H2O adalah 1:5
(pentahidrat). Kabel bekas digunakan, karena bagian inti kabel ini memiliki kadar
tembaga yang cukup tinggi.
Langkah pertama yang dilakukan adalah memisahkan tembaga dengan
lapisan plastik pada kabel. Lalu potong tembaga menjadi kecil-kecil yang bertujuan
untuk memperluas permukaan tembaga saat bereaksi menjadi lebih banyak/luas
sehingga kontak antara partikel tembaga dapat lebih maksimal dalam proses reaksi.
Langkah selanjutnya aquades 50 mL dimasukkan ke dalam gelas kimia 250 mL
(reaktor), yang selanjutnya menambahkan 10 ml H2SO4 98% sedikit demi sedikit.
Hal ini dilakukan karena aquades memiliki massa jenis yang lebih rendah daripada
asam sulfat dan cenderung mengapung di atasnya, sehingga apabila aquades
ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, larutan akan mendidih dan bereaksi
dengan keras. Kemudian menambahkan 5,00 gram tembaga ke dalam larutan
tersebut, maka akan menghasilkan larutan yang tetap bening, dinding atau dasar
pada gelas kimia terdapat embun (hal ini membuktikan adanya gas), dan larutan
terasa hangat. Hal ini membuktikan bahwa di dalam larutan terjadi reaksi eksoterm
yaitu reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan,
dalam hal ini sistem melepaskan kalor, dan pada umumnya suhu sistem menjadi
bertambah. Logam tembaga (Cu) yang awalnya berwarna coklat kekuningan
berubah menjadi lebih mengkilap. Hal ini dikarenakan lapisan permukaan pada
logam tembaga (Cu) terkikis, hal itu berarti Cu teroksidasi dalam larutan yang
mengandung H2SO4.
8

Setelah itu dilakukan penambahan 15 ml HNO3 pekat, hal ini karena


tembaga tidak larut dalam asam sulfat encer, karena tembaga merupakan unsur
yang relatif tidak reaktif. Sehingga tidak akan langsung membentuk garam sulfat
dari logam, yaitu tembaga (II) sulfat. Sehingga perlu penambahan HNO 3 pekat
karena tembaga dapat larut dalam larutan HNO 3 pekat dan juga HNO3 dapat
mengoksidasi logam tembaga (Cu) menjadi (Cu2+). Pada tahap ini terbentuk gas
NO yang kemudian teroksidasi oleh oksigen di udara menjadi gas NO 2 yang
berwarna coklat. Gas NO2 ini merupakan gas yang berbahaya dengan bau yang
menyengat. Apabila gas coklat tidak terbentuk lagi, dapat dikatakan bahwa
tembaga sudah terlarut seluruhnya didalam larutan. Pada waktu yang bersamaan,
larutan dalam reaktor berubah warna menjadi biru. Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut.
3Cu(s) + 8HNO3(aq) 3Cu2+(aq) + 6NO3-(aq) +2NO(g) + 4H2O
Warna biru tersebut adalah karakteristik dari ion tembaga (II) tetrahidrat
[Cu(H2O)4]2+. Kemudian Cu2+ yang terbentuk dengan segara akan berikatan dengan
ion SO42- yang bersumber dari H2SO4 dan membentuk CuSO4. Reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut.
Cu2+(aq) + SO42-(aq) + 5H2O(aq) CuSO4.5H2O(l)
Atau
Cu(H2O)42+(aq) + SO42-(aq) + H2O(aq) Cu(H2O)4.H2O(l)
Pemanasan dan pengadukan berpengaruh terhadap kecepatan reaksi karena
dapat meningkatkan tumbukan antar partikel dalam larutan sehingga dapat
mempercepat pelarutan tembaga. Adapun reaksi secara keseluruhannya adalah
sebagai berikut:
Cu + 3H2O + H2SO4 + HNO3

CuSO4.5H2O + 2NO2

Setelah dilakukan pemanasan dengan suhu 100 oC, kemudian di


saring ketika dalam keaddaan panas, penyaringan ini ditujukan agar
pembentukan kristal yang tidak diharapkan (kristal yang masih
mengandung

zat

pengotor)

dapat

terhindar.

Dari

hasil

penyaringan diperoleh larutan berwarna biru tua dengan endapan


(yang mengandung zat pengotor) berwarna hijau. Selanjutnya,
filtrat yang telah disaring didiamkan selama satu hari untuk

mendapatkan

kristal

dari

tembaga

(II)

sulfat.

Persamaan

reaksinya adalah sebagai berikut.


Cu(NO3)2 + H2SO4 CuSO4 + 2HNO3
CuSO4 + 5H2O CuSO4.5H2O
Selanjutnya dilakukan rekristalisasi agar HNO3 yang masih
tersisa dapat menjadi gas NO2 yang berwarna cokelat. Rekristalisasi
ini bertujuan agar kristal yang didapatkan lebih murni, bebas dari nitrat sisa.
Setelah rekristalisasi, kristal yang terbentuk disaring kembali untuk mengetahui
banyaknya CuSO4.xH2O yang terbentuk. Pada percobaan didapatkan berat kristal
CuSO4.xH2O sebanyak 15,15 gram dengan rendemen yang didapat adalah 77,16%.
Setelah itu dilakukan pengujian titik leleh dengan langkah pertama
menghaluskan kristal CuSO4.xH2O. Lalu kristal CuSO4.xH2O halus dimasukkan
kedalam alat penguji titik leleh. Kemudian didapatlah titik leleh dari CuSO 4.xH2O
adalah 112 oC yang mendekati dengan titik leleh dari literatur yaitu 110 oC
Hal selanjutnya dilakukan adalah analisis kadar air pada kristal CuSO4.xH2O
yang terbentuk dengan cara menimbang massa kristal CuSO 4.xH2O dan dipanaskan
pada suhu 100 oC menggunakan hot plate. Lalu melakukan pengamatan hingga
kristal CuSO4.xH2O berubah menjadi putih. Namun pada saat pengamatan
kelompok kami,

kristal CuSO4.xH2O belum berubah menjadi putih karena

keterbatasan waktu. Sehingga masih terdapat kadar air dalam kristal CuSO 4.xH2O.
Lalu didapatlah kadar H2O yaitu 1,87.

Pembahasan Oleh Afifah Nur Aiman


Praktikum kali ini adalah pembuatan kristal Tembaga (II) Sulfat lalu menghitung
rendemen dan jumlah air serta menentukan titik lelehnya. Dari hasil pengamatan
proses yang pertama, 50 mL aquades ditambahkan asam sulfat pekat. Reaksi ini
sangat eksotermis dengan reaksi yang terjadi adalah
H2SO4(pekat) + H2O H3O+ + HSO4Lalu pada saat ditambahkan potongan tembaga, tembaga tidak larut. Ketika
ditambahkan 15 mL HNO3 larutan berubah menjadi warna biru keruh, terdapat busa
dan keluar gas NO2yang berwarna coklat. Seharusnya gas yang dihasilkan (gas NO
berwarna putih. Akan tetapi gas ini sangat reaktif yerhadap oksigen sehingga
membentuk gas NO2 yang berwarna coklat. Reaksi yang terjadi adalah
10

3Cu(s) + 8HNO3(aq) 3Cu2+(aq) + 6NO3-(aq) + 2NO(g) + 4H2O(l)


dan 2NO + O2 2NO2
Pada proses ini dilakukan pengadukan selama 30 menit agar tembaga larut
sambil dilakukan pemanasan. Kondisi operasi seharusnya pada suhu 100 oC agar gas
NO2 habis menguap, akan tetapi pada praktikum in tidak tercapai suhu 100oC.
waktu untuk uapp tidak lagi berwarna coklat adalah 5 menit 28 detik. Setelah
beberapa waktu,, larutan menjadi berwarna biru bening.

Lalu setelah proses

tersebut larutan disaring dalam keadaan panas dan menghasilkan filtrate berwarna
biru. Larutan disaring pada keadaan panas bertujuan adar tidak terdapat pengotor
dalam kristal. Kemudian larutan didiamkan selama 24 jam didalam oven.
Setelah dikeringan didapatkan produk dengan berat 15,15 gram. Rendemen
dari tembaga sulfat pada praktikum ini adalah 77,16%. Dan kadar air yang ada pada
CuSO4.xH2O adalah 1,8. %rendemen tidak mencapai 100% disebabkan beberapa
faktor diantaranya proses pemanasan yang kurang lama sehingga Cu dalam kawat
tembaga ada yang belum larut semua; suhu pada saat pemanasan yang tidak
mencapai 100C karena pada saat praktikum suhu yang didapat adalah 90C, hal
ini menyebabkan proses pengendapan menjadi tidak sempurna; dan pada saat
penimbangan masih ada larutan yang belum mengkristal seluruhnya.
Praktikum ini bertujuan untuk membuat kristal tembaga sulfat pentahidrat.
Akan tetapi hidrat yang dihasilkan tidak mencapai 5. Hal ini disebabkan oleh
kesalahan praktikan saat melakukan prosedur kerja. Seharusnya larutan didiamkan
pada suhu ruangan, bukan didalam oven. Apabila didiamkan didalam oven, makan
air yang menguap akan semakin banyak.Pada produk yang dihasilkan,
terdapat warna kuning. Hal ini disebabkan pada saat pemanasan, suhu
tidak mencapai 100 oC

sehingga gas NO2 tidak habis menguap.

Akibatnya pada saat pengeringan (di oven), gas tersebut menguap.

Pembahasan Oleh Agus Hermawan


Praktikum kali ini adalah pembuatan senyawa CuSO4 yang berbahan dasar
limbah tembaga yang terdapat pada kabel bekas, H2SO4, dan HNO3. Pertama-tama
menyiapkan larutan untuk melarutkan Cu, masukkan aquadest terlebih dahulu
kedalam gelas kimia setelah itu masukkan H2SO4, mengapa harus aquades terlebih
11

dahulu? Karena perbedaan massa jenis kedua zat, sehingga air akan mengapung di
atas asam sulfat karena massa jenisnya lebih rendah. Oleh sebab itu jika di lakukan
dengan cara menambahkan aqudes pada asam sulfat maka akan terjadi reaksi yang
keras atau mendidih, sama seperti air yang jatuh ke dalam minyak panas.
H2SO4 (pekat) + H2O H3O+ + HSO4
Selanjutnya ditambahkan tembaga sebanyak 5 gram yang telah dipotong kecilkecil. Laruran aquades ditambahkan H2SO4 agar terjadinya pembentukan Kristal
garam CuSO4. Saat penambahan Cu yang terlihat oleh mata belum terjadi reaksi
apa-apa atau mungkin mulai bereaksi tapi belum terjadi suatu perubahan. Reaksi
yang terbentuk adalah :
Cu + H2SO4 CuSO4 + SO2 + 2 H2O
Selanjutnya menambahkan asam HNO3. Yang telah praktikan amati setelah
penambahan tembaga kedalam aquades yang ditambahkan asam sulfat belum terjadi
reaksi apapun, fungsi HNO3 disini adalah pembantu untuk mereaksikan Cu dengan
H2SO4. Tidak menunggu lama setelah penambahan HNO3 bisa dilihat terjadinya
perubahan yang signifikan yaitu larutan berubah menjadi biru keruh dan
menghasilkan uap yang berwarna coklat gelap. Reaksi yang terjadi saat
penambahan HNO3 adalah :
3Cu + 8H+ + 2NO3 3Cu2+ + 2NO + 4H2O
2NO + O2 2NO2
Setelah itu dilakukan pemanasan selama 30 menit yang berfungsi untuk
menghomogenkan

larutan, mempercepat reaksi, dan mempercepat pembentukan

Kristal garam CuSO4. Reaksi yang terjadi adalah :


Cu + 3H2O + H2SO4 + 2HNO3 CuSO4 + 5H2O+ 2NO2
Setelah larutan dipanaskan, larutan langsung disaring selagi temperaturnya
masih panas untuk menyaring larutan dari senyawa pengotor yang masuk atau yang
terbentuk pada saat proses pembuata. Setelah itu proses pengkristalan dengan cara
larutan yang telah disaring didiamkan diudara terbuka selama sehari semalam agar
pembentukan kristal berjalan secara alami dan maksimal. Setelah terbentuk pisahkan
kristal yang terbentuk dengan sisa larutan yang lewat jenuh(tidak dapat mengkristal
lagi). Tetapi kesalahan praktikan pada percobaan ini adalah setelah disaring dari
12

senyawa pengotor langsung dimasukkan kedalam es ditambah ai agar mempercepat


terbentuknya kristal. Bukan kristal yang terbentuk tetapi yang terbentuk adalah berupa
serbuk garam. Dan setelah terbentuk serbuk garam disaring untuk memisahkan serbuk
garam tadi dengan sisa-sisa larutan setelah itu dikeringkan didalam oven selama
sehari semalam. Alhasil tujuan dari percobaan ini dengan produk yang dihasilkan
tidak sejalan.
Setelah dikeringkan produk ditimbang diatas neraca dan menunjukkan 15,15
gram. Dari 15,15 produk garam yang dihasilkan diperolah % rendemen sebesar 77,16
% dan kadar air yang terdapat pada senyawa CuSO 4.xH2O adalah 1,87. Bisa
disimpulkan hasil-hasil yang didapat dari perhitungan tidaklah maksimal yang
mungkin dikarenakan pada saat pemanasan larutan harus dipanaskan sampai
temperatur 100 oC tetapi pada saat praktikum pemanasan hanya sampai temperatur
90an. Pada saat penyaringan senyawa pengotor masih ada yang lolos karena
bentuknya sangat kecil sehingga lolos dari kertas saring. Pada saat proses
pengkristalan masi hada larutan yang tidak terbentuk. Dan faktor yang mungking
sangat mempengaruhi adalah kesalahan pada pengerjaan yang seharusnya
pembentukan kristal harus didiamkan diudara terbuka saja, tanpa dengan bantuan air
es dan tanpa pengeringan didalam oven.
Sesuai judul modul yang dilakukan adalah Pembuatan Senyawa Kompleks
Tembaga Sulfat Pentahidrat, seharusnya kadar air pada produk CuSO 4 yang terbentuk
seharusnya 5 tetapi pruduk yang praktikan hasilkan kadar airnya dibawah 5 tepatnya
1,87 hal ini terjadi mungkin dikarenakan beberapa faktor yang telah praktikan
sebutkan diatas. Setelah produk terbentuk dilakukan uji titik leleh, dan didapatkan
titik leleh senyawa CuSO4 yang dihasilkan adalah 112 oC. Titik leleh yang didapatkan
dari hasil uji yang praktikan lakukan dengan titik leleh dari literatur tidak terlalu jauh
perbedaannya, hanya sekitar 2 oC saja.

Pembahasan Oleh Anggraghany S. W

13

Praktikum kali ini bertujuan untuk membuat garam CuSO4 dengan


menggunakan logam Cu dan asam, asam tersebut adalah H 2SO4 yang bersifat
oksidator dan HNO3 yang juga bersifat oksidator yang lebih kuat dari HCl. Proses
pembuatannya secara rekristalisasi, yaitu ketika kristal sudah terbentuk, kristal
tersebut dilarutkan lagi dengan aquades, untuk selanjutnya didiamkan hingga
terbentuk kristal kembali.
Pertama-tama, 50 mL akuades dimasukkan ke dalamnya asam sulfat pekat,
kemudian ditambah dengan tembaga dan asam nitrat pekat. Saat aquades
dimasukkan H2SO4 pekat, ditambahkan sedikit demi sedikit, karena reaksinya
eksoterm, inilah yang menyebabkan suhunya semakin panas. Dengan begitu bukan
air yang ditambahkan ke H2SO4 pekat, tetapi H2SO4 yang ditambahkan ke dalam air.
H2SO4 (pekat) + H2O H3O+ + HSO4
Tujuan dari diperlukannya bahan-bahan tersebut, terutama asam sulfat adalah
ditujukan agar terbentuknya garam CuSO4. Persamaan reaksinya adalah sebagai
berikut :
Cu + H2SO4 CuSO4 + SO2 + 2 H2O
Selanjutnya tujuan dari dilakukannya penambahan asam nitrat pekat adalah
untuk mengaktifkan tembaga agar ia dapat bereaksi dengan asam sulfat.
Penambahan keping tembaga pada larutan tersebut tidak akan membuat keping
tembaga tersebut menjadi larut. Maka untuk melarutkan tembaga ditambahkan
HNO3 pekat, karena tembaga dapat teroksidasi oleh HNO3 pekat dan larut dengan
reaksi:
3Cu + 8H+ + 2NO3 3Cu2+ + 2NO + 4H2O
Gas yang dikeluarkan pada dasarnya adalah gas NO yang tidak berwarna,
namun pada percobaan ini gas yang dihasilkan berwarna coklat, karena gas NO
sangat reaktif terhadap oksigen membentuk gas NO2 yang berwarna coklat menurut
persamaan reaksi:
2NO + O2 2NO2

14

Larutan yang telah ditambahkan beberapa senyawa tadi, selanjutnya


dipanaskan dengan tujuan untuk mempercepat proses reaksi. Selain itu, tujuan dari
pemanasan ini adalah untuk memperbesar hasil kali dari ion-ionnya dan
memperkecil harga hasil kali kelarutannya (Ksp), sehingga hal ini dapat membentuk
endapan kristal. Kristal yang terbentuk inilah yang dinamakan tembaga (II) sulfat.
Persamaan reaksi yang secara lengkapnya adalah sebagai berikut:
Cu + 3H2O + H2SO4 + 2HNO3 CuSO4 + 5H2O+ 2NO2
Dari pemanasan yang telah dilakukan, terbentuk larutan berwarna biru tua.
Untuk memisahkan filtrat dengan endapan (zat pengotor) maka dilakukan
penyaringan. Penyaringan tidak dilakukan ketika larutan telah dingin, melainkan
dilakukan saat larutan tersebut masih panas. Hal ini ditujukan agar pembentukan
kristal yang tidak diharapkan (kristal yang masih mengandung zat pengotor) dapat
terhindar. Dari hasil penyaringan diperoleh larutan berwarna biru tua. Selanjutnya,
filtrat yang telah disaring didiamkan selama satu hari di oven untuk mendapatkan
kristal dari tembaga (II) sulfat.
Kristal yang diperoleh setelah didiamkan selama satu hari di dalam oven
menghasilkan warna biru, dengan bentuk seperti serbuk. Seharusnya padatan yang
terbentuk berbentuk kristal. Hal ini dikarenakan pada saat proses pendinginan
(kristalisasi), larutan seharusnya disimpan di udara terbuka saja, bukan di oven. Hal
tersebut menyebabkan proses kristalisasi menjadi tidak sempurna.
Kristal yang diperoleh, kemudian ditimbang. Dari hasil penimbangan
didapatkan massa kristal CuSO4.xH2O sebesar 15,15 gram dan dari hasil
perhitungan diperoleh rendemen kristal tersebut sebesar 77,16 %, dengan kadar air
dalam kristal CuSO4.xH2O sebesar 1,87.
Hasil rendemen tidak mencapai 100% bisa disebabkan oleh beberapa hal,
diantaranya adalah: Proses pemanasan yang kurang lama sehingga Cu dalam kawat
tembaga ada yang belum larut semua; suhu pada saat pemanasan yang tidak
mencapai 100C karena pada saat praktikum suhu yang didapat adalah 90C, hal
ini menyebabkan proses pengendapan menjadi tidak sempurna; dan pada saat
penimbangan masih ada larutan yang belum mengkristal seluruhnya.

15

Kadar air dalam kristal CuSO4.xH2O atau nilai x nya seharusnya bernilai 5,
tetapi yang didapat adalah 1,87. Hal ini disebabkan karena pada saat proses
pendinginan (kristalisasi), larutan disimpan di oven. Hal tersebut menyebabkan
hidrat dari CuSO4 sudah menguap sebagian di oven, sehingga nilai hidratnya
berkurang.

16

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, terdapat beberapa kesimpulan:

Berat produk dari hasil praktikum adalah 15,15 gram dengan rendemen 77,16%.

Kadar air dalam Kristal CuSO4.xH2O adalah 1,87

Titik leleh produk dari ppraktium adalah 112 oC

Saran
Dalam melakukan praktikum ini, Sebaiknya pada saat praktik menggunakan APD
lengkap, terutama menggunakan respirator, karena pada saat pemanasan dengan asam
nitrat pekat menghasilkan gas NO2 yang bersifat racun bagi tubuh. Lalu pada proses
pengkristalan sebaiknya dilakukan uji bebas nitrat agar persen rendamen yang
diperoleh dari hasil timbangan berat terusi diperoleh persen yang tinggi, karena dengan
masih adanya nitrat maka masih ada larutan yang belum membentuk kristal.

17