Anda di halaman 1dari 37

Referat

COMBUSTIO
Pembimbing :
Dr. T. Henry, SpB. Msi, Med

Penyusun :
Aditya Wicaksono Putra
11-2015-078

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RS. MARDI RAHAYU KUDUS
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Periode 4 Maret 2016 11 juni 2016

Kulit
Sebagai sawar mekanis antara lingkungan
eksternal & jaringan dibawahnya, tetapi secara
dinamis juga terlibat dalam mekanisme
pertahanan

Etiologi, &
Patofisiolo
gi
Luka bakar adalah suatu bentuk
kerusakan atau kehilangan
jaringan yang disebabkan kontak
dengan Sumber Panas;

1. Api,
2. Air panas,
3. Bahan kimia,
4. Listrik,
5. Radiasi

Fase Luka Bakar


1. Fase awal, fase akut, fase syok
saluran nafas yaitu gangguan mekanisme bernafas,
eskar melingkar di dada
trauma multipel di rongga toraks

gangguan sirkulasi
keseimbangan cairan elektrolit,
syok hipovolemia.

2. Fase setelah syok berakhir, fase sub akut


SIRS, MODS dan Sepsis.

3. Fase lanjut
Parut hipertrofik, kontraktur dan deformitas
Terjadi akibat kerapuhan jaringan atau struktur tertentu akibat
proses inflamasi yang hebat dan berlangsung lama

Zona Kerusakan Jaringan


Zona koagulasi, zona nekrosis
Daerah yang langsung mengalami
kerusakan (koagulasi protein)
Akan mengalami nekrosis beberapa saat
setelah kontak (zona nekrosis)
Zona statis
Di luar/di sekitar zona koagulasi.
Terjadi kerusakan endotel pembuluh darah
disertai kerusakan trombosit dan leukosit,
--> gangguam perfusi (no flow phenomena),
diikuti perubahan permeabilitas kapilar dan
respon inflamasi lokal.
Proses berlangsung 12-24 jam pasca cedera

mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan.


Zona Hiperemi

Daerah di luar zona statis,


Reaksi vasodilatasi tanpa banyak
melibatkan reaksi selular.
Dapat mengalami penyembuhan spontan,
atau berubah menjadi zona kedua bahkan
zona pertama.

Diagnosis Luka Bakar


1. Luas luka bakar
2. Derajat (kedalaman) luka bakar
3. Lokalisasi
4. Penyebab

Luas Luka Bakar


Estimasi Luas => Palmar Pasien
Luas telapak tangan mewakili 1% luas
permukaan tubuh

Dihitung hanya dhitung pada pasien dengan


derajat luka II (IIA & IIB) atau III

1. Rumus 9 atau Rule of Nine


2. Rumus 10 untuk bayi
3. Rumus 10-15-20 untuk anak.

Luas Luka Bakar


Rule of Nine

Luas Luka Bakar


Lund and Browder

Luka Bakar Derajat I


Kerusakan terbatas pada
lapisan epidermis
(superfisial)

kulit hiperemik berupa


eritem,

tidak dijumpai bullae,


terasa nyeri karena ujungujung saraf sensorik
teriritasi.

Biasanya sembuh dalam 5-7


hari dan dapat sembuh
secara sempurna.

Contoh luka bakar derajat I


adalah sunburn.

Luka Bakar Derajat II


Kerusakan meliputi
epidermis dan sebagian
dermis,

berupa reaksi inflamasi


disertai proses eksudasi.

Terdapat bullae, nyeri


karena ujung-ujung saraf
sensorik teriritasi.

Dibedakan menjadi 2 bagian


Derajat II dangkal/superfisial
(IIA)
Derajat II dalam/deep (IIB)

dangkal/superfisial
(IIA)
Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas
dari corium/dermis.

organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar


sebasea masih banyak.

Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari


tanpa terbentuk sikatrik.

Gejala yang timbul adalah sangat nyeri, terdapat lepuhan


yang timbul beberapa menit, bula atau blister yang berisi
cairan eksudat yang keluar dari pembuluh darah akibat
permeabilitas dindingnya meningkat.

Komplikasi jarang terjadi, terkadang timbul infeksi sekunder


pada luka.

Derajat II dalam/deep
(IIB)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan
sisa-sisa jaringan epitel hingga tinggal sedikit.

Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar


keringat, kelenjar sebasea tinggal sedikit.

Gejala yang timbul berupa rasa nyeri pada luka yang lebih
superfisial, warna merah muda, hipoestesia (rasa nyeri
sedikit), dan bula atau blister tidak karakteristik.

Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut


hipertrofi. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih
dari satu bulan.

Dapat berkembang menjadi full-thickness burn atau luka


bakar derajat III

Luka Bakar Derajat III


Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit
dan lapisan yang lebih dalam sampai
mencapai jaringan subkutan, otot dan
tulang.

Organ kulit mengalami kerusakan, tidak ada


lagi sisa elemen epitel.

Tidak dijumpai bullae, kulit yang terbakar


berwarna abu-abu dan lebih pucat
sampai berwarna hitam kering.

Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang


sensasi karena ujung-ujung saraf sensorik
rusak.

Terjadi koagulasi protein dan epidermis dan


dermis yang dikenal sebagai escar, yang
dapat menyebabkan kompartemen sindrom.

Penyembuhan terjadi lama karena tidak


terjadi epitelisasi spontan, pada
kebanyakan kasus untuk melindungi
jaringan di bawah kulit dilakukan skin graft

Pembagian Luka Bakar


Luka Bakar
Ringan
Luas < 15% Dewasa
Luas < 10% Anak &
Usia Lanjut

Luas < 2% Segala usia


(tidak mengenai muka,
tangan, kaki, dan
perineum)

Luka Bakar
Sedang
Luas 15-25% Dewasa,
Derajat III < 10%

Luas 10-20%
Anak usia < 10 tahun/
Dewasa > 40 tahun,
Derajat III < 10%

Derajat III < 10%


Anak maupun Dewasa
Tidak mengenai;
muka, tangan, kaki &
perineum

Luka Bakar
Berat
Derajat II-III > 20%;
Usia < 10 tahun atau
>50 tahun

Derajat II-III > 25%


selain usia pada point
pertama

Mengenai; muka,
telinga, tangan, kaki,
dan perineum

Cedera Inhalasi;
tanpa memperhitungkan
luas luka bakar

Luka bakar listrik


tegangan tinggi

Disertai trauma lainnya


Pasien-pasien dengan
resiko tinggi

Survey
Primer

aan
1. Fase Akut
2. Fase Pasca Akut

A
B
C

Trauma inhalasi ? : anamnesa, suara serak


(stridor)observasi selama 24 jam bila perlu
pasang ET atau lakukan Trakheostomi

Gangguan nafas karena Eschar yang


melingkar dada, Trauma Thorax
dlllakukan Escharotomi atau penanganan
trauma thorax yang lain

Dilakukan Resusitasi Cairan.


Bila penderita Syok maka diatasi dulu
syoknya dengan infus RL diguyur sampai
nadi teraba atau tekanan darah >90mmHg,
kemudian lakukan resusitasi cairan.
Cairan yang dibutuhkan dalam penanganan
syok tidak dihitung.

Resusitasi Cairan
Tujuan :
perfusi yang adekuat dan seimbang di
seluruh pembuluh darah vaskular regional,
Sehingga iskemia jaringan tidak terjadi pada
setiap organ sistemik.

Resusitasi Cairan
BAXTER
4cc x kgBB x %luka bakar
Separuh dari jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.
Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua
diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga
diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.

EVANS
1. %luka bakar x kgBB x 1 cc NaCl per 24 jam
2. %luka bakar x kgBB x 1cc Plasma per 24 jam
3. 2.000 cc Glukosa 5% per 24 jam
Separuh dari jumlah 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama.
Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua
diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga
diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.

Survei Sekunder
Penilaian luas luka bakar dan derajat kedalamannya.
Biasanya dihitung sebelum resusitasi cairan definitive

NGT.
Untuk dekompresi penderita yang mengalami ileus paralitik
dan untuk memasukkan makanan

Cuci luka
NaCl dan savlon, keringkan, olesi dengan salep (Dermazin)
kemudian rawat luka secara tertutup

Pemeriksaan laboratorium darah dan Analisa Gas Darah


tiap 24 jam

Pemberian analgetika dan antibiotika

Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah
Urinalisis
Pemeriksaan keseimbangan elektrolit
Analisis gas darah
Radiologi - jika ada indikasi ARDS

Penatalaksanaan
1. Pada luka bakar ringan,
Prinsip penanganan utama;
mendinginkan daerah yang terbakar dengan air,
mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berploriferasi dan menutup
permukaan luka.
Luka dapat dirawat secara tertutup atau terbuka.

2. Pada luka bakar berat,


selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan
Tanda-tanda syok ? => resusitasi
Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan nafas, diberikan campuran udara lembab dan
oksigen.
Kalau terjadi edema laring, dipasang endotrakeal tube atau dibuat trakeostomi.

.Antiseptik dan membiarkannya terbuka untuk perawatan terbuka atau menutupnya dengan
pembalut steril untuk perawatan tertutup. Kalau perlu, penderita dimandikan terlebih dahulu.

.ATS dan/atau toksoid.


.Analgesik
.Antibiotik

Indikasi Rawat Inap


1. Luka bakar derajat III > 5%
2. Luka bakar derajat II > 10%
3. Luka bakar derajat II atau III yang melibatkan area kritis
(wajah, tangan, kaki, genitalia, perineum, kulit di atas sendi
utama) risiko signifikan untuk masalah kosmetik dan
kecacatan fungsi

4. Luka bakar sirkumferensial di thoraks atau ekstremitas


5. Luka bakar signifikan akibat bahan kimia, listrik, petir,
adanya trauma mayor lainnya, atau adanya kondisi medik
signifikan yang telah ada sebelumnya

6. Adanya trauma inhalasi

Analgetik

Morfin sulfat, Demerol dan Vicodin


Anti Inflamasi Non steroid

Ibuprofen, naproxen, ansaid dan anaprox


Antibiotik Topikal

Neo sporin digunakan untuk infeksi minor dan dioleskan ke kulit 1 3x


sehari.
Silvadene

mencegah dan mengobati infeksi bakteri atau jamur.


dioleskan menggunakan teknik steril ke tempat luka bakar dan tempat
luka bakar tersebut harus dicuci bersih sebelum pemakaian.

Hindari bagian wajah dan silvadene, tidak boleh digunakan pada


neonatus, bayi berumur kurang dari 2 tahun atau pada kehamilan
trimester akhir.

24 JAM KEDUA
Cairan yang diberikan Volumenya dari hari pertama
Pemberian koloid/plasma ekspander sudah boleh dilakukan
Diet sudah mulai 8 jam pasca trauma bila tidak terjadi ileus,
melalui NGT

Perawatan luka dilakukan sesuai kebutuhan, biasanya setiap


hari

Hari ke 7 penderita boleh dimandikan


Posisi penderita diletakkan dalam posisi yang baik agar tidak
terjadi kontraktur maupun problem rekonstruksi yang lain.

Kebutuhan Nutrisi

Luka Bakar Kimia


Antibiotik

Silvadene
pencegahan infeksi pada luka bakar
derajat 2 dan 3.
Dioleskan pada kulit 1 atau 2x sehari
dan semua obat yang diberikan
sebelumnya harus dibersihkan terlebih
dahulu sebelum mengoleskan salep
baru.

Eritromicin salep (bacitracin)


digunakan untuk mencegah infeksi
pada luka bakar yang terdapat di
bagian mata.
Analgetik

Morfin dan asetaminofen


Anti Inflamasi Non Steroid

Advil, Motrin, Ansaid, Naprosyn, dan


anaprox adalah obat anti inflamasi
yang digunakan untuk menghilangkan
nyeri ringan sampai sedang.

Terapi Luka Bakar


Elektrik
Terapi Cairan

RL biasanya digunakan
untuk terapi.
dihentikan apabila terdapat
tanda-tanda edema pulmo.

Osmosis diuretik

Manitol
diuretik osmosis yang tidak
dimetabolisme secara
signifikan dan melewati
glomerulus tanpa
direabsorpsi oleh ginjal.
mengembalikan dan
mempertahankan urin
output.

Nutrisi
2.500-3.000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi
Protein tidak dapat menghentikan proses perusakan ini
akan tetapi protein penting untuk menyediakan bahan
untuk sintesis jaringan yang rusak atau hilang

Beberapa vitamin yang penting adalah vitamin C dan E


bersama dengan zinc dapat membatasi kerusakan
oksidatif dan mempercepat penyembuhan luka.

Kegagalan memenuhi kebutuhan ini dapat


bermanifestasi sebagai penyembuhan luka yang tidak
sempurna, balance nitrogen yang negatif, penurunan
BB dan penurunan fungsi kekebalan tubuh

Jaringan Parut
1. Keloid
2. Parut Hipertrofik
3. Kontraktur

Kontraktur
Suatu pengencangan kulit yang permanen yang bisa
mempengaruhi otot dan tendon dibawahnya sehingga
membatasi pergerakan dan mungkin merusak atau
mengurangi fungsi saraf.

Kontraktur terjadi ketika jaringan elastis normal digantikan


dengan jaringan berserat yang tidak elastis.

Fisioterapi, tekanan dan memperbanyak berlatih dapat


membantu mengendalikan kontraktur. Jika perawatan ini tidak
bisa mengendalikan efek kontraktur, pembedahan mungkin
diperlukan.

Skin graft
Z-Plasty

Prosedur Pembedahan
Prosedur bedah yang dapat menghilangkan
jaringan parut dan mengganti jaringan yang
hilang pada korban luka bakar berat:
1. Dermabrasi
2. skin graft

Permasalahan Pasca
Luka Bakar
Infeksi dan sepsis
Oliguria dan anuria
Oedem paru
ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome )
Anemia
Kontraktur
Syok
Kematian

SIRS = > MODS

SIRS-MODS-MOF
SIRS adalah suatu bentuk respon klinik yang bersifat sistemik
terhadap berbagai stimulus klinik berat akibat infeksi ataupun
noninfeksi seperti trauma, luka bakar, reaksi autoimun, sirosis,
pankreatitis, dll

Mulanya bersifat fisiologik dalam proses penyembuhan luka, namun


oleh respon ini berubah secara berlebihan dan menyebabkan
kerusakan pada organ-organ sistemik, menyebabkan disfungsi dan
berakhir dengan MODS bahkan sampai MOF

Ada 5 hal yang bisa menjadi aktivator;


infection,
injury,
inflamation,
inadequate blood flow, dan
ischemia-reperfusion injur

SIRS
konsensus American College of Chest phycisians dan the
Society of Critical Care Medicine

Hipertermia (suhu > 38C) atau hipotermia (suhu <


36C)

Takikardi (frekuensi nadi > 90x/menit)


Takipneu (frekuensi nafas > 20x/menit) atau tekanan
parsial CO2 rendah (PaCO2 < 32 mmHg)

Leukositosis (jumlah lekosit > 12.000 sel/mm3),


leukopeni (< 4000 sel/mm3) atau dijumpai > 10%
netrofil dalam bentuk imatur (band).

Prognosis
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat
luka bakar, luas permukaan badan yang terkena
luka bakar, adanya komplikasi

Luka bakar minor dapat sembuh 5-10 hari tanpa


adanya jaringan parut.

Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14


hari dan mungkin menimbulkan luka parut.

Luka bakar mayor membutuhkan lebih dari 14 hari


untuk sembuh dan akan membentuk jaringan
parut.

Kesimpulan
Luka bakar adalah trauma yang disebabkan oleh termis, elektris, khemis
dan radiasi yang mengenai kulit, mukosa, dan jaringan yang lebih dalam.

Beberapa penyebab luka bakar) adalah suhu tinggi, bahan kimia,


sengatan listrik, dan radiasi.

Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan kedalaman, luas permukaan,


lokasi, dan penyebab.

Untuk mengatasi pasien dengan luka bakar yaitu dengan


menghindari kontak dengan penyebab,
menilai keadaan umum,
perawatan luka,
resusitasi cairan dan
nutrisi yang adekuat

Pasien diawasi dari gejala anemia, gagal ginjal akut, perdarahan


lambung, infeksi hingga sepsis.

Bekas luka bakar dapat ditangani dengan pembedahan yaitu debramasi


dan skin graft.