Anda di halaman 1dari 11

Bendung Simongan

Disusun oleh :
Abdul Kholik Romarchan

Dosen Pengampu :
Dr. Yeri Sutopo M.Pd., M.T

5113413063

JURUSAN TEKNIK
SIPIL
TEKNIK SIPIL S1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Kebutuhan akan ketersediaan air pada suatu daerah sangatlah perlu
diperhatikan dikarenakan air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia
yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Sehingga perlu dikembangkan
potensi - potensi sungai guna meningkatkan hasil produksi pertanian, salah
satunya dengan membangun bendung. Bendung sebagai salah satu contoh
bangunan air mencakup hampir keseluruhan aspek bidang ketekniksipilan,
yaitu struktur, air, tanah, geoteknik, dan manajemen konstruksi didalam
perencanaan teknis strukturnya. Untuk mendapatkan struktur bendung yang
tepat perlu dilakukan analisis dan perhitungan yang detail dan menyeluruh,
hal ini dikarenakan adanya hubungan saling ketergantungan dari banyak
aspek dalam pelaksanaannya.
Bendungan Simongan merupakan bangunan air yang dibuat di Kali
Garang berupa bendung tetap yang berfungsi untuk menangkap air sungai
tersebut guna keperluan penggelontoran kota Semarang dengan melalui alur
sungai asli, yaitu Kali Semarang yang terletak disebelah kanan bendung dan
pengambilan disisi kiri bendung yang juga berfungsi sebagai saluran
penggelontor.
Bagian hilir dari Bendung Simongan ini adalah saluran pengelak banjir
untuk wilayah Semarang Bagian Barat yang dikenal dengan nama Banjir Kanal
Barat (BKB). Adapun Bendung Simongan dengan BKB-nya adalah bangunan
peninggalan Belanda yang dibangun pada awal abad ke-20.
Pengoprasian dari bendung ini adalah sebagai penangkap air pada musim
kemarau dengan membuka kedua intake kanan dan kiri, dan sebagai penerus
banjir ke BKB dengan menutup kedua pintu intake kanan dan kiri. Karena
bendung berupa bendung tetap, maka pada saat banjir terjadi penaikan muka
air yang limpas ditubuh bendung dan pengempangan dibagian hulunya.

1.2. Tujuan Penulisan


Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberi gambaran tentang
Bendung Simongan serta bagian-bagiannya.
1.3. Lokasi Bendungan Simongan
Bendunga Simongan berada di

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Bendung


Bendung adalah bangunan melintang sungai yang berfungsi untuk
meninggikan muka air sungai. Bendung biasanya dibuat dari pasangan batu
kali, bronjong atau beton, yang terletak melintang pada sebuah sungai yang
tentu saja bangunan ini dapat digunakan pula untuk kepentingan lain selain
irigasi, seperti untuk keperluan air minum, pembangkit listrik atau untuk
penggelontoran suatu kota. Dari segi bendung dibagi dua, yaitu bendung
tetap dan bendung sementara. Bendung tetap adalah bangunan yang
sebagian besar konstruksi terdiri dari pintu yang dapat digerakkan untuk
mengatur ketinggian muka air sungai, sedangkan bendung sementara adalah
bangunan yang dipergunakan untuk meninggikan muka air di sungai, sampai
pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan
petak tersier.
2.2. Jenis jenis Bendung
Menurut konstruksi dari sebuah bendungan, bendungan dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
a) Bendung tetap (fixed weir, uncontrolled weir)
Bendung tetap adalah jenis bendung yang tinggi pembendungannya tidak dapat diubah,
sehingga muka air di hulu bendung tidak dapat diatur sesuai yang dikehendaki.
Pada bendung tetap, elevasi muka air di hulu bendung berubah sesuai dengan debit
sungai yang sedang melimpas (muka air tidak bisa diatur naik ataupun turun). Bendung tetap
biasanya dibangun pada daerah hulu sungai. Pada daerah hulu sungai kebanyakan tebingtebing sungai relative lebih curam dari pada di daerah hilir. Pada saat kondisi banjir, maka
elevasi muka air di bendung tetap (fixed weir) yang dibangun di daerah hulu tidak meluber
kemana-mana (tidak membanjiri daerah yang luas) karena terkurung oleh tebing-tebingya
yang curam.

b) Bendung gerak/bendung berpintu (gated weir, barrage)


Bendung gerak adalah jenis bendung yang tinggi pembendungannya dapat diubah sesuai
dengan yang dikehendaki.
Pada bendung gerak, elevasi muka air di hulu bendung dapat dikendalikan naik atau
turun sesuai yang dikehendaki dengan membuka atau menutup pintu air (gate). Bendung gerak
biasanya dibangun pada daerah hilir sungai atau muara. Pada daerah hilir sungai atau muara
sungai kebanyakan tebing-tebing sungai relative lebih landai atau datar dari pada di daerah
hilir. Pada saat kondisi banjir, maka elevasi muka air sisi hulu bendung gerak yang dibangun
di daerah hilir bisa diturunkan dengan membuka pintu-pintu air (gate) sehingga air tidak
meluber kemana-mana (tidak membanjiri daerah yang luas) karena air akan mengalir lewat
pintu yang telah terbuka kea rah hilir (downstream).
Bendung gerak memiliki beberapa keuntungan diantaranya muka air dapat diatur
menurut rencana dan bendung ini dapat menghindarkan pembuatan tanggul banjir yang
kadang-kadang tinggi dan panjang, yaitu dengan mengatur tinggi muka airnya. Akan tetapi
bendung gerak memerlukan pemeliharaan yang serius dan perencanaan dan pelaksaannya
yang rumit.
2.3. Bagian bagian Bendung
Suatu bendung terdiri dari beberapa konstruksi. Komponen/bagian dari
bendung itu sendiri, yaitu:
a) Tubuh Bendung (Weir)
Tubuh bendung merupakan struktur utama yang berfungsi untuk membendung laju
aliran sungai dan menaikkan tinggi muka air sungai dari elevasi awal. Bagian ini biasanya
terbuat dari urugan tanah, pasangan batu kali, dan bronjong atau beton. Tubuh bendung
umumnya dibuat melintang pada aliran sungai. Tubuh bendung merupakan bagian yang selalu
atau boleh dilewati air baik dalam keadaan normal maupun air banjir. Tubuh bendung harus
aman terhadap tekanan air, tekanan akibat perubahan debit yang mendadak, tekanan
gempa,dan akibat berat sendiri.

b) Pintu Air (Gates)


Pintu air merupakan struktur dari bendung yang berfungsi untuk mengatur, membuka,
dan menutup aliran air di saluran baik yang terbuka maupun tertutup. Bagian yang penting
dari pintu air yaitu:
Daun Pintu (Gate Leaf)
Adalah bagian dari pintu air yang menahan tekanan air dan dapat digerakkan untuk
membuka, mengatur, dan menutup aliran air.
Rangka pengatur arah gerakan (guide frame)
Adalah alur dari baja atau besi yang dipasang masuk ke dalam beton yang
digunakan untuk menjaga agar gerakan dari daun pintu sesuai dengan yang direncanakan.
Angker (anchorage)
Adalah baja atau besi yang ditanam di dalam beton dan digunakan untuk menahan
rangka pengatur arah gerakan agar dapat memindahkan muatan dari pintu air ke dalam
konstruksi beton.
Hoist
Adalah alat untuk menggerakkan daun pintu air agar dapat dibuka dan ditutup
dengan mudah.
c) Pintu Pengambilan (Intake)
Pintu pengambilan berfungsi mengatur banyaknya air yang masuk saluran dan
mencegah masuknya benda-benda padat dan kasar ke dalam saluran. Pada bendung, tempat
pengambilan bisa terdiri dari dua buah, yaitu kanan dan kiri, dan bisa juga hanya sebuah,
tergantung dari letak daerah yang akan diairi.
Bila tempat pengambilan dua buah, menuntut adanya bangunan penguras dua buah
pula. Kadang-kadang bila salah satu pintu pengambilam debitnya kecil, maka pengambilannya
lewat gorong-gorong yang di buat pada tubuh bendung. Hal ini akan menyebabkan tidak perlu
membuat dua bangunan penguras dan cukup satu saja.
d) Pintu Penguras
Penguras ini bisanya berada pada sebelah kiri atau sebelah kanan bendung dan kadangkadang ada pada kiri dan kanan bendung. Hal ini disebabkan letak daripada pintu
pengambilan. Bila pintu pengambilan terletak pada sebelah kiri bendung, maka penguras pun
terletak pada sebelah kiri pula. Bila pintu pengambilan terletak pada sebelah kanan bendung,
maka penguras pun terletak pada sebelah kanan pula. Sekalipun kadang-kadang pintu
pengambilan ada dua buah, mungkin saja bangunan penguras cukup satu hal ini terjadi bila
salah satu pintu pengambilan lewat tubuh bendung. Pintu penguras ini terletak antara dinding
tegak sebelah kiri atau kanan bendung dengan pilar, atau antara pilar dengan pilar. Lebar pilar
antara 1,00 sampai 2,50 meter tergantung konstruksi apa yang dipakai. Pintu penguras ini

berfungsi untuk menguras bahan-bahan endapan yang ada pada sebelah udik pintu tersebut.
Untuk membilas kandungan sedimen dan agar pintu tidak tersumbat, pintu tersebut akan
dibuka setiap harinya selama kurang lebih 60 menit. Bila ada benda-benda hanyut
mengganggu eksploitasi pintu penguras, sebaiknya dipertimbangkan untuk membuat pintu
menjadi dua bagian, sehingga bagian atas dapat diturunkan dan benda-benda hanyut dapat
lewat diatasnya.
e) Kolam Peredam Energi
Bila sebuah konstruksi bendung dibangun pada aliran sungai baik pada palung maupun
pada sodetan, maka pada sebelah hilir bendung akan terjadi loncatan air. Kecepatan pada
daerah itu masih tinggi, hal ini akan menimbulkan gerusan setempat (local scauring). Untuk
meredam kecepatan yang tinggi itu, dibuat suatu konstruksi peredam energi. Bentuk
hidrolisnya adalah merupakan suatu bentuk pertemuan antara penampang miring, penampang
lengkung, dan penampang lurus. Secara garis besar konstruksi peredam energi dibagi menjadi
4 (empat) tipe, yaitu:
Ruang Olak Tipe Vlughter
Ruang olak ini dipakai pada tanah aluvial dengan aliran sungai tidak membawa
batuan besar. Bentuk hidrolis kolam ini akan dipengaruhi oleh tinggi energi di hulu di atas
mercu dan perbedaan energi di hulu dengan muka air banjir hilir.
Ruang Olak Tipe Schoklitsch
Peredam tipe ini mempunyai bentuk hidrolis yang sama sifatnya dengan peredam
energi tipe Vlughter. Berdasarkan percobaan, bentuk hidrolis kolam peredam energi ini
dipengaruhi oleh faktor-faktor, yaitu tinggi energi di atas mercu dan perbedaan tinggi
energi di hulu dengan muka air banjir di hilir.
Ruang Olak Tipe Bucket
Kolam peredam energi ini terdiri dari tiga tipe, yaitu solid bucket, slotted rooler
bucket atau dentated roller bucket, dan sky jump. Ketiga tipe ini mempunyai bentuk
hampir sama dengan tipe Vlughter, namun perbedaanya sedikit pada ujung ruang olakan.
Umumnya peredam ini digunakan bilamana sungai membawa batuan sebesar kelapa
(boulder). Untuk menghindarkan kerusakan lantai belakang maka dibuat lantai yang
melengkung sehingga bilamana ada batuan yang terbawa akan melanting ke arah hilirnya.
Ruang Olak Tipe USBR
Tipe ini biasanya dipakai untuk head drop yang lebih tinggi dari 10 meter. Ruang
olakan ini memiliki berbagai variasi dan yang terpenting ada empat tipe yang dibedakan
oleh rezim hidraulik aliran dan konstruksinya. Tipe-tipe tersebut, yaitu ruang olakan tipe
USBR I merupakan ruang olakan datar dimana peredaman terjadi akibat benturan

langsung dari aliran dengan permukaan dasar kolam, ruang olakan tipe USBR II
merupakan ruang olakan yang memiliki blok-blok saluran tajam (gigi pemencar) di ujung
hulu dan di dekat ujung hilir (end sill) dan tipe ini cocok untuk aliran dengan tekanan
hidrostatis lebih besar dari 60 m, ruang olakan tipe USBR III merupakan ruang olakan
yang memiliki gigi pemencar di ujung hulu, pada dasar ruang olak dibuat gigi penghadang
aliran, di ujung hilir dibuat perata aliran, dan tipe ini cocok untuk mengalirkan air dengan
tekanan hidrostatis rendah, dan ruang olakan tipe USBR VI merupakan ruang olakan yang
dipasang gigi pemencar di ujung hulu, di ujung hilir dibuat perata aliran, cocok untuk
mengalirkan air dengan tekanan hidrostatis rendah, dan Bilangan Froud antara 2,5 - 4,5.
Ruang Olak Tipe The SAF Stilling Basin (SAF = Saint Anthony Falls)
Ruang olakan tipe ini memiliki bentuk trapesium yang berbeda dengan bentuk ruang
olakan lain dimana ruang olakan lain berbentuk melebar. Bentuk hidrolis tipe ini
mensyaratkan Fr (Bilangan Froude) berkisar antara 1,7 sampai dengan 17. Pada
pembuatan kolam ini dapat diperhatikan bahwa panjang kolam dan tinggi loncatan dapat
di reduksi sekitar 80% dari seluruh perlengkapan. Kolam ini akan lebih pendek dan lebih
ekonomis akan tetapi mempunyai beberapa kelemahan, yaitu faktor keselamatan rendah
(Open Channel Hidraulics, V.T.Chow : 417-420)
f) Kantong Lumpur
Kantong lumpur berfungsi untuk mengendapkan fraksi-fraksi sedimen yang lebih besar
dari fraksi pasir halus ( 0,06 s/d 0,07mm ) dan biasanya ditempatkan persis disebelah hilir
bangunan pengambilan. Bahan-bahan yang telah mengendap dalam kantung lumpur kemudian
dibersihkan secara berkala melalui saluran pembilas kantong lumpur dengan aliran yang deras
untuk menghanyutkan endapan-endapan itu ke sungai sebelah hilir.
g) Bangunan Pelengkap
Terdiri dari bangunan-bangunan atau pelengkap yang akan ditambahkan ke bangunan
utama untuk keperluan :
Pengukuran debit dan muka air di sungai maupun di saluran sungai.
Pengoperasian pintu.
Peralatan komunikasi, tempat berteduh serta perumahan untuk tenaga eksploitasi dan
pemeliharaan.
Jembatan diatas bendung agar seluruh bagian bangunan utama mudah dijangkau atau agar
bagian-bagian itu terbuka untuk umum.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Bendung adalah bangunan melintang sungai yang berfungsi untuk
meninggikan muka air sungai agar bisa disadap. Bendung merupakan salah
satu

bagian

dari

bangunan

utama.

Fungsi

utama

dari

bangunan

utama/bendung adalah untuk meninggikan elevasi muka air dari sungai yang
dibendung sehingga air bisa disadap dan dialirkan ke saluran lewat bangunan
pengambilan (intake structure). Bendung terdiri atas dua jenis yaitu, bendung
tetap dan bendung gerak. Bagian bagian bendung yaitu tubuh bendung,
pintu air, pintu pengambilan, pintu penguras, kolam peredam energi, kantong
lumpur, dan bangunan pelengkap.
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim 1. Bendung. https://www.scribd.com/doc/96778026/Bendung.


2. Anonim 2. "Bendung". https://id.wikipedia.org/wiki/Bendung.
Lopulalan, Polce. 30 Januari 2012. Makalah Bendung.
http://civilioengineerio.blogspot.co.id/2012/01/makalah-bendung.html