Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRESENTASI KASUS DOKTER INTERNSIP

FRAKTUR COLLES
Disusun untuk Memenuhi sebagian Syarat Program Dokter Indonesia

Oleh :
Dr. Siti Hafsah
Pembimbing:
Dr. Hery

Pendamping Wahana:
Dr. Azharul Yusri, Sp. OG
Dr. Aisah Bee

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KEPULAUAN MERANTI
MERANTI
2015

STATUS PASIEN
I. Identitas
Nama

: Ny. M

Umur

: 65 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Status pernikahan

: Menikah

Agama

: Islam

Alamat

: Desa Kuala Merbau

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Tanggal masuk

: 13 Desember 2015

II.

Anamnesa

Keluhan utama

: Nyeri pada pergelangan tangan sebelah kiri

Primary survey
Airway

Breathing

Circulation

Snouring (-)

Gurgling (-)
Stridor (-)
Leher tidak ada nyeri
Airway paten, cervical dalam batas normal

SaO2 100%

RR 22x/menit
Thorax dalam batas normal

TD: 130/70 mmHg

Cor dalam batas normal

Disability

Gcs 15

Exposure

Lokalis: deformitas pada ekstremitas atas sinistra, hematom

(+), nyeri tekan(+)


Secondary survey

Riwayat penyakit sekarang : pasien datang ke Poli Paru RSUD Kab. Kepulauan
Meranti, dengan keluhan nyeri pada pergelangan tangan sebelah kiri. Sebelumnya os
jatuh terpeleset dikapal 30 mnt SMRS dengan posisi tangan kiri tertumpu menahan
badan. Semua jari tangan bisa digerakkan tidak ada keluhan, kecuali jari jempol yang
agak nyeri saat digerakkan.
Riwayat penyakit dahulu

: Os tidak pernah mengalami penyakit yang sama

sebelumnya.
Riwayat alergi : Riwayat alergi terhadap makanan, minuman, maupun obat-obatan
disangkal oleh pasien.
Riwayat pengobatan : Os belum pernah berobat kemanapun untuk keluhan penyakit
sekarang.
III.

Pemeriksaan fisik:

Status Generalisata
Kepala

: Jejas (-)

Mata

: Konjungtiva anemis (-), sclera ikterik (-)

THT

: Dalam batas normal

Leher

: Pembesaran KGB (-), peningkatan JVP (-)

Thorak

: Jejas (-)

Paru-paru

: Inspeksi

Jantung

: Bentuk simetris, retraksi (-)

Palpasi

: Vokal fremitus simetris kanan = kiri

Perkusi

: Sonor dikedua lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

: Inspeksi

: Iktus cordis terlihat (-)

Palpasi

: Iktus cordis teraba (+)

Perkusi

: Batas atas : intercostalis II garis parasternal kiri


Batas kanan : intercostalis IV garis parasternal kanan

Batas kiri : intercostalis IV garis midsternalis kiri


Auskultasi
Abdomen

: Inspeksi

: BJ1 = BJ2 reguler


: Bentuk datar, distensi (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Perkusi

: Tympani

Palpasi

: Soepel, nyeri tekan epigastrium (-)

Genitalia

: Alat genital wanita, jejas (-)

Ekstremitas

: Status lokalisata

Status lokalis region ekstremitas superior sinistra


Look

Luka (-)
Udem (+)
Deformitas (+)

Feel

Nyeri tekan 1/3 distal ekstremitas sinistra


Nyeri sumbu (+), krepitasi (+)
NVD baik, CRT < 2 detik

Movement

ROM terbatas karena nyeri

Diagnosis Kerja : susp. Fraktur tertutup os radius sinistra 1/3 distal (displaced) /
fraktur

colles

Penatalaksanaan awal

IV.

Immobilisasi dengan pemasangan bidai


Rencana rontgen wrist joint AP/Lateral
Inf. RL 15 tpm
Inj. Ketorolak 1 ampul
Inj. Ranitidin 1 ampul
Pemeriksaan penunjang

Laboratorium 13 Desember 2015


Hemoglobin

10,7 gr%

Eritrosit

3,75 jt/mm3

Leukosit

5.900 rb/mm3

Hematokrit

31,9%

Trombosit

148.000 rb/mm3

Gds

95 mg/dl

Foto Ro wrist joint

Kesan: fraktur tertutup os radius (1/3 distal displaced) sinistra


Diagnosis kerja

: fraktur tertutup os radius sinistra 1/3 distal (displaced) /


fraktur

colles

Tatalaksana :

Inform consent
Cek laboratorium
Laboratorium 13 Desember 2015
- Hemoglobin
- Eritrosit
- Leukosit
- Hematokrit
- Trombosit
- Golongan darah
- Gds
- CT

:
:
:
:
:
:
:
:

10,7 gr%
3,75 jt/mm3
5.900 rb/mm3
31,9%
148.000 rb/mm3
A+
95 mg/dl
6

- BT
:
2
- Ureum
:
15 mg/dl
- Kreatinin
:
0,7 mg/dl
- HBsAg
:
(-)
Lapor DPJP: Rencana reposisi fraktur dan pemasangan gips

Laporan operasi
-

Pasien dibaringkan dengan posisi supine dalam general anastesi


Lepas bidai lalu cuci tangan ante brachii
Asisten I : Traksi
Asisten II : Counter traksi
Operator melakukan reposisi pada fraktur site, jaga kesegarisan dengan

pertahanan traksi dengan counter oleh asisten, operator memasang soft band
Lakukan fiksasi dengan gips zone mulai dari area fraktur side, kekaudal

sampai dengan metacarpal phalangeal sampai dengan 1/3 humerus


Fleksikan siku 90o
Pasang armsling
Operasi selesai
Tindakan
: Reposisi tertutup dalam TIVA

: Fiksasi dengan gips atas siku (above elbow cast)Follow Up


Selama Di Bangsal
Tanggal
13-12-2015

Perjalanan penyakit
Terapi
S nyeri pada pergelangan tangan Diet makanan biasa
kiri
IVFD Rl 20 tpm
O KU : baik, kesadaran kompos
mentis, TD : 150/ 80 mmHg, nadi : Inj ranitidin 1amp / 8 jam
80x/i, nafas 20 x/i, suhu 36,6 C

Inj ketorolac 1amp / 8 jam


Osteocal 1x1 tab / oral

A: Fraktur radius sinistra distal


displaced tertutup

Rencana reposisi tertutup

nonkomplikata

dalam GA + gips above


elbow

14-12-2015

S Nyeri (-)
Aff infus, boleh pulang
O KU : baik, kesadaran kompos
mentis, TD : 130/ 78 mmHg, nadi : Obat pulang:
98x/i, nafas 20 x/i, suhu 36,8 C.
Antebrachii sinistra:
-

Analsic (10) 3x1


Ranitidin (10) 3x1
Kalk (12) 2x1

Gips rigid
Distal gips, crt: < 2dtk
kontrol ulang 1bln jg

A: Post reposisi fraktur radius


sinistra

distal

nonkomplikata

tertutup

PEMBAHASAN
Diagnosa awal dilakukan dengan anamnesa pasien. Berdasarkan teori gejala
klinis pasien dengan fraktur colles berupa nyeri tekan lokal dan nyeri bila
pergelangan tangan digerakkan. Selain itu pada pasien inijuga didapatkan kekakuan,
gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan di daerah yang terkena. Selain itu
anamnesa kronologis kejadian yang terjadi pada pasien, tempat jatuh, penyebab jatuh,
posisi jatuh, yang dirasakan pasien setelah jatuh juga sangat mendukung untuk
menegakkan diagnose fraktur colles, pada pasien ini jelas didapatkan posisi jatuh
yang sangat mendukung yaitu posisi tangan yang menumpu berat badan yang dapat
menyebabkan fraktur pada pergelangan tangan.
Pada pemeriksaan fisis, terlihat jelas adanya pembengkakan pada pergelangan
tangan, nyeri pada pergerakan atau penekanan, terbatasnya gerakan sendi pergelangan
tangan dan, deformitas yang menyerupai garpu, dikenal sebagai dinner fork
deformity (dimana bagian distal fragmen fraktur beranjak ke arah dorsal dan radial,
bagian distal ulna menonjol ke arah volar, sementara tangan biasanya dalam posisi
pronasi).
Untuk pemeriksaan penunjang pasien ini dilakukan foto rontgen wrist joint
untuk mendukung tegaknya diagnose fraktur colles dan dari hasil foto tersebut
ditemukan adanya fraktur 1/3 distal radius sinistra.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fraktur radius distal adalah salah satu dari macam fraktur yang biasa terjadi
pada pergelangan tangan. Umumnya terjadi karena jatuh dalam keadaan tangan
menumpu dan biasanya terjadi pada anak-anak dan lanjut usia. Bila seseorang jatuh
dengan tangan yang menjulur, tangan akan tiba-tiba menjadi kaku, dan kemudian
menyebabkan tangan memutar dan menekan lengan bawah. Jenis luka yang terjadi
akibat keadaan ini tergantung usia penderita. Pada anak-anak dan lanjut usia, akan
menyebabkan fraktur tulang radius.1
Fraktur radius distal merupakan 15 % dari seluruh kejadian fraktur pada
dewasa. Abraham Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur
radius distalis pada tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles.
(Armis, 2000). Ini adalah fraktur yang paling sering ditemukan pada manula,
insidensinya yang tinggi berhubungan dengan permulaan osteoporosis pasca
menopause. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh pada
tangan yang terentang.2
Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan
dalam posisi terbuka dan pronasi. Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius
distal yang akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2
cm dari permukaan persendian pergelangan tangan. Fragmen bagian distal radius
terjadi dislokasi ke arah dorsal, radial dan supinasi. Gerakan ke arah radial sering
menyebabkan fraktur avulsi dari prosesus styloideus ulna, sedangkan dislokasi bagian
distal ke dorsal dan gerakan ke arah radial menyebabkan subluksasi sendi radioulnar
distal.2

Fraktur colles merupakan kira-kira 8-15% dari seluruh fraktur dan 60% dari
fraktus radius. Prevalensi kejadian fraktur colles , umur atas 50 tahun wanita lebih
banyak dari pada pria (5:1), sedang umur sebelum 50 tahun wanita sama dengan pria.
Sisi kanan lebih sering dari sisi kiri. Angka kejadian rata-rata pertahun 0,98%. Usia
terbanyak dikenai adalah antara umur 50 59 tahun.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Menurut Abraham colles 1814, fraktur colles adalah fraktur metafisis distal
radius yang sudah mengalami osteoporosis, garis fraktur transversal, komplit,
jaraknya 2-2,5cm proximal garis sendi, bagian distal beranjak ke dorsal dan angulasi
ke radial serta fraktur avulsi dari processus styloideus ulna.1
Menurut Mansjoer (2000), fraktur colles adalah fraktur antebrachii yang khas,
fraktur metafisis distal radius dengan jarak 2,5 cm dari permukaan sendi distal
radius, dislokasi fragmen distalnya ke arah posterior/dorsal, subluksasi sendi
radioulnar distal, avulsi prosesus stiloideus ulna.1
2.2 Etiologi
Fraktur Colles dapat timbul setelah penderita terjatuh dengan tangan posisi
terkadang dan meyangga badan (Appley, 1995 ; Salter, 1981). Pasien terjatuh dalam
keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam
(endorotasi).

Tangan

terbuka

yang

terfiksasi

di

tanah

berputar

keluar

(eksorotasi/supinasi). Pada saat terjatuh sebagian energi yang timbul diserap oleh

jaringan lunak dan persendian tangan, kemudian diteruskan ke distal radius, hingga
dapat menimbulkan patah tulang pada daerah yang lemah yaitu antara batas tulang
kortikal dan tulang spongiosa.2

2.3 Patofisiologi
Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan tangan biasanya
merupakan trauma langsung, yaitu jatuh pada permukaan tangan sebelah volar atau
dorsal. Jatuh pada permukaan tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi fragmen
fraktur sebelah distal ke arah dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah
dan tangan bila dilihat dari samping menyerupai garpu.2
Apabila tulang hidup normal mendapat tekanan yang berlebihan, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan tersebut
mengakibatkan jaringan tidak mampu menahan kekuatan yang mengenainya. Maka
tulang menjadi patah sehingga tulang yang mengalami fraktur akan terjadi perubahan
posisi tulang, kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak dan jaringan disekitarnya
yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan yang mengelilinginya.3

Periosteum akan terkelupas dari tulang dan robek dari sisi yang berlawanan
pada tempat terjadinya trauma. Ruptur pembuluh darah didalam fraktur, maka akan
timbul nyeri. Tulang pada permukaan fraktur yang tidak mendapat persediaan darah
akan mati sepanjang satu atau dua millimeter.3
Setelah fraktur lengkap, fragmen-fragmen biasanya akan bergeser, sebagian
oleh karena kekuatan cidera dan bisa juga gaya berat dan tarikan otot yang melekat.
Fraktur dapat tertarik dan terpisah atau dapat tumpang tindih akibat spasme otot,
sehingga terjadi pemendekkan tulang (Apley, 1995), dan akan menimbulkan derik
atau krepitasi karena adanya gesekan antara fragmen tulang yang patah.3

2.4 Klasifikasi
Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan pada fraktur ekstensi dari
radius distal. Namun yang paling sering digunakan adalah sistem klasifikasi oleh
Frykman. Berdasarkan sistem ini maka fraktur Colles dibedakan menjadi 4 tipe
berikut : 4
Tipe IA : Fraktur radius ekstra artikuler
Tipe IB : Fraktur radius dan ulna ekstra artikuler
Tipe IIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal
Tipe IIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radiokarpal
Tipe IIIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radioulnar
Tipe IIIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radioulnar
Tipe IVA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal dan sendi
radioulnar
Tipe IVB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radiokarpal dan
sendi radioulnar

2.5 Trauma/kelainan Yang Berhubungan


Trauma/Kelainan yang Berhubungan
Fraktur ekstensi radius distal sering terjadi berbarengan dengan trauma atau luka yang
berhubungan, antara lain : 4
1. Fraktur prosesus styloideus (60 %)
2. Fraktur collum ulna
3. Fraktur carpal
4. Subluksasi radioulnar distal

5. Ruptur tendon fleksor


6. Ruptur nervus medianus dan ulnaris

2.6 Manifestasi Klinis


Kita dapat mengenali fraktur ini (seperti halnya Colles jauh sebelum
radiografi diciptakan) dengan sebutan deformitas garpu makan malam, dengan
penonjolan punggung pergelangan tangan dan depresi di depan. Pada pasien dengan
sedikit deformitas mungkin hanya terdapat nyeri tekan lokal dan nyeri bila
pergelangan tangan digerakkan. Selain itu juga didapatkan kekakuan, gerakan yang
bebas terbatas, dan pembengkakan di daerah yang terkena.1

2.7 Diagnosis
Diagnosa awal dilakkan dengan anamnesa pasien : kronologis kejadian yang
terjadi pada pasien, tempat jatuh, penyebab jatuh, posisi jatuh, yang dirasakan pasien
setelah jatuh.1
Pada pemeriksaan fisis, terlihat jelas adanya :1

Pembengkakan pada pergelangan tangan jika fraktur berat karena terjadi extra

vasasi darah
Nyeri pada pergerakan atau penekanan
Terbatasnya gerakan sendi pergelangan tangan

Deformitas yang menyerupai garpu, dikenal sebagai dinner fork deformity


(dimana bagian distal fragmen fraktur beranjak ke arah dorsal dan radial,
bagian distal ulna menonjol ke arah volar, sementara tangan biasanya dalam
posisi pronasi)

Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000), adalah :4

Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menentukan ada/tidaknya dislokasi.


Lihat kesegarisan antara kondilus medialis, kaput radius, dan pertengahan

radius. Contoh:
- Pemeriksaan roentgen (Anterior Posterior & Lateral)
- Arteriogram
- Scan CT/MRI
Pemeriksaan laboratorium (jika fraktur terbuka dan memerlukan tindakan
operasi) :
- Hitung darah lengkap
- golongan darah
- CT
- BT
- Kreatinin

Pada pemeriksaan foto polos daerah fraktur, dapat dilihat karakteristik gambaran
patahan fraktur ini, yaitu:

Garis patahan yang transversal, 2 cm distal dari radius

Prosesus styloid ulnaris biasanya avulsi

Biasanya hanya terdapat dua fragmen patahan tulang, tapi pada keadaan
tertentu dapat terjadi banyak patahan yang dinamakan kominutif

Dapat dilihat ada dua tipe fraktur ini, yaitu :

Stabil, yang ditandai dengan hanya terdapat 1 garis patahan transversal

Tidak stabil, terdapat banyak garis patahan (kominutif) dan crushing dari
tulang cancellous

2.8 Diagnosis Banding


1. fraktur pergelangan tangan : fraktur Smith, fraktur Geleazzi1
2. Dislokasi sendi Wrist1

2.9 Penatalaksanaan

Pada jenis fraktur yang undisplaced, dapat dilakukan imobilisasi dengan


menggunakan below-elbow cast (pemasangan gips sirkular di bawah siku) selama
4 minggu Pengawasan pasca pemasangan gips dan komplikasi pemasangannya.
Latihan isometrik segera dilakukan dan oposisi jari. Mengganti gips bila
pembengkakan pergelangan tangan telah mereda, biasanya setelah satu minggu, dan
mengganti dengan forearm splint bila telah clinical union.5

Pada jenis fraktur yang displaced : 5


Dilakukan reduksi tertutup

Prinsip5
Reposisi seanatomis mungkin, pertahankan hasil reposisi dan cegah
komplikasi karena reposisi yang anatomis akan memberikan fungsi yang baik.
Reposisi dapat dilakukan dalam anestesi lokal, regional blok atau anestesi umum.
Teknik reposisi5
Segera dilakukan sebelum adanya edema. Dilakukan dorsofleksi fragmen
distal, traksi kemudian posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna (untuk mengoreksi
deviasi radial) dan diputar ke arah pronasio (untuk mengoreksi supinasi). dilakukan
selama 2-5 menit. Fungsi yang baik tercapai jika post reposisi angulasi dorsal <
150pemendekan radius < 3mm. Perawatan Pasca reduksi tertutup : imobilisasi dengan
forearm splint selama 3 minggu.

Imobilisasi, dapat dengan cara :5

Plaster cast, selama 3 minggu


Three quarter slab
External fixation, yang dapat digunakan pada fraktur yang sangat tidak stabil
dan pada orang berusia lebih dari 60 tahun

Metode Imobilisasi5

Konservatif dengan gip atau lungtional brace.

Operatif dengan fiksator

Posisi pergelangan tangan

Posisi palmar fleksl 15 dan ulnar deviasi 20

Posisi lengan bawah

Posisi pronasi (klasik)

Posisi supinasi

Lama imobilisasi5
Lamanya pemasangan gip bervariasi 3-6 minggu. Setelah 28 hari fraktur
sudah cukup stabil dan boleh mobilisasi. Pada kasus yang minimal displacement
imobilisasi cukup 3-4 minggu.
Fisioterapi5
Dimaksudkan agar fungsi tangan kembali normal karena penderita diharapkan
bekerja biasa setelah 3-4 bulan fraktur.

Indikasi Operasi5

Kominusi dorsal > 50% dari dorsal ke palmar distance

Kominusi metafiseal Palmar

Initial dorsal tilt > 20

Pergeseran initial (fragment translation) > 1 cm

Pemendekan Initial > 5 mm

Disrupsi Intra-artikuler

Disertai Fraktur ulna

Osteoporosis massif

2.10 Prognosis
Bila fraktur colles menurut klasifikasi Frykman, nomor yang lebih besar
menunjukkan fase penyembuhan yang lebih rumit dan prognosa yang lebih jelek.6

2.12 Komplikasi
Umumnya akan selalu ada komplikasi, komplikasi yang mungkin terjadi pada
fraktur colles:6

Komplikasi Dini
- Kompresi/trauma a. ulnaris dan medianus
- Kerusakan tendon
- Edema post reposisi

- Redislokasi
Komplikasi Lanjut
- Arthrodosis dan nyeri kronis
- Shoulder hand syndrome
- Defek kosmetik (penonjolan styloideus radii)
- Malunion/ non union
- Stiff hand
- Volksman ischemic contraktur
- Suddeck atropi

BAB III
KESIMPULAN

Fraktur colles adalah fraktur metafisis distal radius yang sudah mengalami
osteoporosis, garis fraktur transversal, komplit, jaraknya 2-2,5cm proximal garis
sendi, bagian distal beranjak ke dorsal dan angulasi ke radial serta fraktur avulsi dari
processus styloideus ulna.Fraktur colles disebabkan biasanya pasien terjatuh dalam
keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam
(endorotasi).

Tangan

terbuka

yang

terfiksasi

di

tanah

berputar

keluar

(eksorotasi/supinasi).
Manifestasi klinik Fraktur colles terdapat : pembengkakan pada pergelangan
tangan, nyeri pada pergerakan atau penekanan, terbatasnya gerakan sendi pergelangan
tangan, deformitas yang menyerupai garpu, dikenal sebagai dinner fork deformity.
Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000), adalah : pemeriksaan
roentgen, Arteriogram, Scan CT/MRI dn pemeriksaan laboratorium : hitung darah
lengkap, golongan darah, CT, BT, Kreatinin.
Penatalaksanaan Fraktur colles : pada jenis fraktur yang undisplaced, dapat
dilakukan imobilisasi dengan menggunakan below-elbow cast. Pada jenis fraktur
yang displaced : dilakukan reduksi tertutup, imobilisasi, atau operasi.

DAFTAR REFERENSI

1. Mansjoer, A, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Media


Aeculapius : Jakarta
2. Price, Sylvia. 1990. Patofisiologi dan Konsep Dasar Penyakit. EGC : Jakarta
3. Long, B.C. . 2000. Perawatan Medikal Bedah. Edisi 7. Yayasan Alumni
Pendidikan Keperawatan Pajajaran : Bandung
4. Stanley hoppenfeld. 2000. Treatment and rehabilitation of Fracture. USA:
Lippincott Williams & Wilkins
5. Delores C. Schoen. 2011. Adult Orthopaedic Nursing. USA: Lippincott
Williams & Wilkins
6. John Ebnezar. Text Book of Orthopedics. 4th Editotion. Jaypee.

Anda mungkin juga menyukai