Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH ETIKA dan HUKUM KESEHATAN

Analisis Solusi terhadap Masalah Pencanangan Program


Keluarga Berencana dan Peningkatan Gizi ditinjau dari
Profesi Tenaga Penyuluh Dinas Kesehatan

Disusun Oleh:
Nama

NIM

Tri Wahyuning Tyas

1511015050

Wanda Azizah Rahayu

1511015052

Dyah Dwimuji Rahayuningsih

1511015054

Fiska Aliajania

1511015056

Elisabeth Bonita

1511015058

Nur Hikma

1511015060

Nur Janah

1511015062

SEMESTER 2 B
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2016

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....................................................................i
BAB I PENDAHULUAN.....................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................1
B. Permasalahan.......................................................................2
C. Kajian Pustaka......................................................................3
Keluarga Berencana................................................................3
Kontrasepsi..............................................................................8
Gizi........................................................................................14
Kode Etik Profesi Tenaga Penyuluh Kesehatan Masayarakat. 17
Pengaruh Persepsi Banyak Anak Banyak Rejeki .................18
BAB II PEMBAHASAN....................................................22
BAB III PENUTUP..........................................................24
KESIMPULAN.............................................................................24
SARAN......................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA........................................................25

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Air Bersih, Lingkungan yang sehat, dan makanan
yang bergizi telah lama disadari sebagai prasyarat bagi
kesehatan. Dalam tahun terakhir, penelitian kedokteran
telah menujukan hal penting lainnya bagi kesehatan, dan
itu adalah keluarga berencana. Kaum wanita yang terlalu
cepat atau terlalu lambat memperoleh anak, kaum wanita
yang terlalu banyak anak, dan kaun wanita yang jarak
umur anak-anaknya berdekatan satu sama lain semuannya
membahayakan diri meraka sendiri beserta anak-anaknya.
Tak satu pun program kesehatan yang bisa dipandang
sempurna.
Dengan demikian, kelahiran di kalangan wanita
belasan tahun menunjukan presentase yang semakin lama
semakin tinggi dari jumlah seluruh kelahiran. Sepertiga dari
kelahiran di kalangan wanita belasan tahun, yakni 200.000
tiap tahun, melibatkan wanita yang belum kawin, dan
jumlah itu niscaya akan segera melonjak seandainya jasajasa yang melayani mereka yang hendak menggugurkan
kandungan
tersedia,

diperkecil.
tidak

Jika

alat-alat

dimanfaatkan,

kontrasepsi

atau

tak

tidak

berhasil

(sebagaimana yang sering terjadi), semakin banyak kaum


wanita yang terpaksa harus menyetop kehamilannya yang
diluar rencana. Jelas bahwa kesehatan pada umumnya
akan meningkatkan secara nyata jika sarana-sarana untuk
melakukan keluarga berencana tersedia secara luas dan
semakin

banyak

dimanfaatkan

guna

mengurangi

kehamilan yang terlalu cepat atau terlalu lambat, guna


membatasi

jumlah

anggota

keluarga,

dan

guna

mempertahankan jarak sehat antara tiap kelahiran.


Dengan menyediakan jasa-jasa untuk mempraktekan
keluarga berencana (termasuk penguguran secara legal) di
mana-mana tentu saja tidak akan mengatasi kemiskinan.
jika persyaratan ini sudah kita atasi, baru kita bisa
memikirkan kebijaksaan-kebijaksaan yang terpadu lainnya.
Sama halnya dengan air bersih, sama halnya dengan
makanan yang bergizi, keluarga berencana sangat penting
artinya bagi kesehatan.
B. Permasalahan
Akan

dilakukan

program

berencana

dan

kampanye

kontrasepsi serta peningkatan kualitas gizi di kelurahan Tani Jaya,


dengan alasan warga setempat memiliki jumlah populasi yang
cukup banyak, angka kelahiran bayi dan resiko kehamilan dan
kelahiran yang cukup tinggi dan belum memahami program visi
dan misi pemerintah setempat terkait pengendalian jumlah dan
kualitas

penduduk,

adapun

karakteristik

penduduk

disana,

tingkat pendidikan yang masih rendah, tingkat pertumbuhan


ekonomi yang masih rendah, pemahaman kesehatan yang masih
rendah, tradisi/ adat/ kebiasaan/ nilai religious dan spiritual
masih kental masih mengedepankan kata bijak banyak anak
banyak rezeki. Nilai positifnya adalah adanya keinginan dari
mereka berkomunikasi dan menerima pendapat dari pihak luar,
tetapi perlu penyesuaian yang cukup lama. Saudara diminta
untuk membuat suatu formulasi dari sisi tenaga kesehatan non
medis bagaimana visi pemerintah dibidang kesehatan dapat
dijalankan tanpa mencederai pemahaman kultur mereka yang

sudah dipegang oleh mereka cukup lama, buat analisa agar


program diatas bisa berjalan?

C. Kajian Pustaka
Keluarga Berencana
a.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009


Tentang

Kesehatan

sudah

mengatur

adanya

berencana yaitu terdapat dalam pasal 78:1


1. Pelayanan
kesehatan
dalam
keluarga

keluarga
berencana

dimaksudkan untuk pengaturan kehamilan bagi pasangan


usia subur untuk membentuk generasi penerus yang sehat
dan cerdas.
2. Pemerintah bertangung jawab dan menjamin ketersedian
tenaga,

fasilitas

pelayanan,

alat

dan

obat

dalam

memberikan pelayanan keluarga berencana yang aman


dan terjangkau oleh masyarakat.
3. Ketentuan mengenai pelayanan
dilaksanakan

sesuai

dengan

kelurga

peraturan

berencana

perundangan-

undangan.
b. Pengertian Keluarga Berencana
Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran
anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan,
melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan
hak

reproduksi

untuk

mewujudkan

keluarga

yang

berkualitas.2
1 Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Kesehatan Nomor 36
Tahun 2009 Tentang Kesehatan, hlm 31
2 Undang-Undang Republik Indonesia Tentang perkembangan
kependudukan dan pembangunan keluarga, hlm 2

Pengetian KB Menurut WHO (World Health Organisation)


Expert Committe 1970):
Ada tindakan yang membantu individu atau pasangan
suami isteri untuk:
1.
2.
3.
4.
5.

Mendapatkan objektif-objektif tertentu.


Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan.
Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan.
Mengatur interval di antar kehamilan.
Mengotrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan

umur suami isteri.


6. Menetukan jumlah anak dalam keluarga.
Secara garis besar definisi ini mencakup beberapa komponen
dalam pelayanan kependudukan/KB yang dapat diberikan
sebagai berikut:3
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE).


Konseling.
Pelayanan kontrasepsi (PK)
Pelayanan interfertilitas
Pendidikan seks (sexs education)
Konsultasi pra-perkawinan dan konsultasi perkawinan.
Konsultasi genetik.
Test keganasan.
Adopsi.

c. Tahap-Tahap Program KB Nasional4


I.
1970 1980 : Management for the People
a Pemerintah lebih banyak berinisiatif.
b Partisipasi masyarakat sangat rendah.
c Terkesan kurangnya demokratis.
d Terdapat unsur pemaksaan.
e Berorientasi pada target.
II.

1980 1990 : Management with the People

3 Hanafi Hartanto. Keluarga berencana dan kontrasepsi. (Jakarta: Pustaka


Sinar Harapan, 1943), hlm.67

4 ibid, hlm.68

a Pemaksaan dikurangi.
b Dimulainya Program Safari KB pada awal tahun 1980an.
III.

1985 1988 : Program KB Lingkaran Biru


a Masyarakat bebas memilih alat kontrasepsi yang
ingin digunakan, meskipun kontrasepsi masih

IV.

dipilihkan jenisnya.
b Dipilihkan satu dari 5 jenis kontrasepsi.
1988 : Program KB Lingkaran Emas
a Pilihan alat kontrasepsi diserahkan sepenuhnya
kepada peserta, namun alat kontrasepsi sudah
terdaftar di Departemen Kesehatan.
b Masyarakat sudah mulai membayar sendiri untuk

V.

alat kontrasepsinya.
1990 : Peningkatan kesejahteraan keluarga melalui
peningkatan pedapatan keluarga (income generating).

d. Peranan perkumpulan-perkumpulan/organisasi masyarakat


Walaupun yang berusaha payah menejelaskan manfaat
keluaraga berencana maupun melakasanakan pelayanannya
adalah para petugas, tetapi sebenarnya yang akan menikmati
secara langsung manfaat program kependudukan/ keluarga
berencana adalah para anggota masyarakat. Oleh karenanya,
adalah sangat wajar bila justru dari kalangan masyarakat
sendiri tumbuh keinginan untuk turut serta menegelola
program agar kepentingan mereka lebih terjamin. Dari tekad
para tokoh masyarakat untuk memperjuangkan kepentingan
warganya
masyarakat

inilah,

bermunculan

yang

perkumpulan/

berparisipasi

secara

organisasi

aktif

dalam

pelakasanaan program kependudukan/Keluarga Berencana.


Organisasi-organisasi

tersebut

antara

lain

terdiri

dari

organisasi wanita, karyawan, pemuda, pelajar, mahasiswa,


5

organisasi keagamaan dan organisasi sosial lainnya. Sesuai


dengan kemampuan yang dimilikinya, organisasi tersebut
dapat melaksanakan kegiatan antara lain:
a. Kegiatan penyuluhan (penerangan motivasi)
Kegiatan
kedudukan

penerangan

yang

penting

motivasi

sekali

mempunyai

dalam

mempercepat

tercapainya keberhasilan program. Kegiatan ini tidaklah


harus

dilaksanakan

oleh

petugas

pemerintah

saja,

melainkan terutama perlu dilakukan oleh masyarakat


sendiri, dalam hal ini organisasi kemasyarakatan. Setiap
kesempatan, kapan saja, dimana saja dan kepada siapa
saja,

perlu

dilakukan

penerangan

motivasi

kependudukan/keluarga berencana.
Kesempatan yang dapat dimanfaatkan antara lain:
1. Kunjungan ke rumah-rumah/anjangsana
Kegiatan penerangan motivasi dari rumah ke rumah
dapat dilakasanakna oleh juru penerang organisasi
kemasyarakatan.
Penerangan motivasi
dilakukan

dari

hati

masalah-masalah

keluarga

kehati

yang

yang

berencana
dikaitkan

dihadapi

yang

dengan

keluarga

yang

bersangkutan, akan memperoleh hasil yang diharapkan.


2. Kegiatan dalam bidang pendidikan/latihan
Organisasi kemasyarakatan yang mempunyai
kegiatan
organisasi,

pendidikan/latihan
sebaiknya

kependudukan/

bagi

memasukan

keluarga

pemimpin/kader
pula

berencana

masalah

di

dalam

kurikulumnya. Dengan dimasukanya bahan pelajaran


tersebut,

diharapkan

para

pemimpin/kader

kemasyarakatan akan memiliki pengertian yang jelas


serta

kesadaran

yang

tinggi

untuk

turut

serta

mengambil

bagian

dalam

mensukseskan

program

Kependudukan/ Keluarga Berencana.


Disamping

melaksanakan

pendidikan/latihan

atau

krusus

lingkungannya

sendiri,

mengirimkan

anggotanya

kegiatan

orientasi

organisasi

dapat

untuk

dalam
pula

mengikuti

krusus/latihan yang diselenggarakan oleh BKKBN atau


intasi lainya.5
e. Peranan setiap warga masyarakat
Program Kependudukan/Keluarga Berencana bertujuan
untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, agar dunia ini
menjadi tempat yang layak untuk dihuni sesuai dengan
derajat kemanusian.
Tujuan tersebut akan tercapai bila ada pengertian,
bantuan dan partisipasi dari segenap masyarakat secara
teratur dan terus menerus.
Bantuan serta partisipasi yang diharapkan adalah
sesuai dengan usaha-usaha penurunan tingkat kesuburan
maupun pelembagaan dan pembudayaan norma keluarga
kecil yang bahagia dan sejahtera, yaitu, agar dipraktekan
oleh orang lain terutama oleh diri sendri. Untuk yang belum
berkeluarga agar dapat mendewasakan usia perkawinan
sedangkan bagi yang sudah berkeluarga agar membatasi
jumlah anak. Dua anak cukup, wanita atau laki yang saja.
Walaupun semua jenis pelayan keluarga berencana
yang diprogramkan pemerintah diberikan secara secara
gratis (tidak bayar) termasuk pula sendainya ada kegagalan
(hamil)

ataupun

komplikasi

pemakaian

alat

kontrasepsi

5 Indan Entjang. Pendidikan kependudukan dan keluarga berencana.


(Bandung: Alumni, 1986), hlm.54

khusunya IUD (spiral) namun adakalah masih memerulkan


pengeluaran biaya dari akseptor untuk keperluarn diri
sendiri6
Kontrasepsi
a. Dalam Undang-Undang RI NO. 52 Tahun 2009 Tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
sudah diatur dalam penggunaan Kontrasepsi Yaitu :

a. pasal 1 yang menyatakan bahwa pengaturan kehamilan


adalah upaya untuk membantu pasangan suami istri
untuk melahirkan pada usia yang ideal, memiliki jumlah
anak, dan mengatur jarak kelahiran anak yang ideal
dengan menggunakan cara, alat, dan obat kontrasepsi.
b. Pasal 23 yang menyatakan bahwa
1. Pemerintah

dan

meningkatkan

pemerintah

akses

dan

daerah

kualitas

wajib

informasi,

pendidikan, konseling, dan pelayanan kontrasepsi


dengan cara:
1. menyediakan metode kontrasepsi sesuai dengan
pilihan

pasangan

suami

istri

dengan

mempertimbangkan usia, paritas, jumlah anak,


kondisi kesehatan, dan norma agama;
2. menyeimbangkan

kebutuhan

laki-

laki

dan

perempuan;
3. menyediakan informasi yang lengkap, akurat, dan
mudah

diperoleh

tentang

efek

samping,

komplikasi, dan kegagalan kontrasepsi, termasuk


6 Ibid, hlm.56
7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 Tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, hlm 8-9

manfaatnya dalam pencegahan penyebaran virus


penyebab penyakit penurunan daya tahan tubuh
dan infeksi menular karena hubungan seksual;
4. meningkatkan

keamanan,

keterjangkauan,

jaminan kerahasiaan, serta ketersediaan alat,


obat dan cara kontrasepsi yang bermutu tinggi;
5. meningkatkan kualitas sumber daya manusia
petugas keluarga berencana;
6. menyediakan pelayanan ulang dan penanganan
efek samping dan komplikasi pemakaian alat
kontrasepsi;
7. menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi
esensial di tingkat primer dan komprehensif pada
tingkat rujukan;
8. melakukan promosi pentingnya air susu ibu serta
menyusui

secara

kehamilan

ekslusif

(enam)

bulan

untuk
pasca

mencegah
kelahiran,

meningkatkan derajat kesehatan ibu, bayi dan


anak; dan
9. melalui pemberian informasi tentang pencegahan
terjadinya

ketidakmampuan

pasangan

untuk

mempunyai anak setelah 12 (dua belas) bulan


tanpa menggunakan alat pengaturan kehamilan
bagi pasangan suami isteri.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai akses, kualitas,
informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan alat
kontrasepsi sebagaimana diatur pada ayat (1) diatur
dengan peraturan menteri yang bertanggung jawab di
bidang kesehatan.
c. Pasal 24

1. Pelayanan kontrasepsi diselenggarakan dengan tata


cara yang berdaya guna dan berhasil guna serta
diterima dan dilaksanakan secara bertanggung jawab
oleh pasangan suami isteri sesuai dengan pilihan dan
mempertimbangkan

kondisi

kesehatan

suami

atau

isteri.
2. Pelayanan kontrasepsi secara paksa kepada siapa pun
dan dalam bentuk apa pun bertentangan dengan hak
asasi manusia dan pelakunya akan dikenakan sanksi
sesuai

dengan

undangan.
3. Penyelenggaraan

ketentuan
pelayanan

peraturan

perundang-

kontrasepsi

dilakukan

dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan dari


segi agama, norma budaya, etika, serta segi kesehatan.
d. Pasal 25
Dalam

menentukan

cara

keluarga

berencana

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah wajib


menyediakan bantuan pelayanan kontrasepsi bagi suami
dan isteri.
e. Pasal 26
1. Penggunaan alat, obat, dan cara kontrasepsi yang
menimbulkan risiko terhadap kesehatan dilakukan atas
persetujuan

suami

dan

istri

setelah

mendapatkan

informasi dari tenaga kesehatan yang memiliki keahlian


dan kewenangan untuk itu.
2. Tata cara penggunaan alat, obat, dan cara kontrasepsi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut
standar profesi kesehatan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan
alat, obat, dan cara kontrasepsi sebagaimana dimaksud

10

pada ayat (1), dan ayat (2) diatur dengan peraturan


menteri yang bertanggungjawab di bidang kesehatan.
f. Pasal 27
Setiap
orang
dilarang
memalsukan
dan
menyalahgunakan alat, obat, dan cara kontrasepsi di luar
tujuan dan prosedur yang ditetapkan.
g. Pasal 28
Penyampaian informasi dan/atau peragaan alat, obat,
dan cara kontrasepsi hanya dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan

dan

tenaga

lain

yang

terlatih

serta

dilaksanakan di tempat dan dengan cara yang layak.


h. Pasal 29
1. Pemerintah dan pemerintah daerah mengatur
pengadaan dan penyebaran alat dan obat kontrasepsi
berdasarkan

keseimbangan

antara

kebutuhan,

penyediaan, dan pemerataan pelayanan sesuai dengan


ketentuan peraturan perundangundangan.
2. Pemerintah
dan
pemerintah
daerah

wajib

menyediakan alat dan obat kontrasepsi bagi penduduk


miskin.
3. Penelitian dan pengembangan teknologi alat, obat,
dan cara kontrasepsi dilakukan oleh Pemerintah dan
pemerintah daerah dan/atau masyarakat berdasarkan
ketentuan peraturan perundangundangan.
b. Definisi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti melawan
atau mencegah dan konsepsi adalah pertemuan antara sel
telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan
kehamilan.

Maksud

dari

kontrasepsi

adalah

menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat


pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma.
Untuk itu, maka yang membutuhkan kontrasepsi adalah

11

pasangan yang aktif melakukan hubungan intim/seks dan


kedua-duanya

memiliki

kesuburan

normal

namun

tidak

menghendaki kehamilan.8
c. Macam-macam Metoda Kontrasepsi

a. Kontrasepsi Sederhana
1. Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet tipis yang
dipasang pada penis sebagai tempat penampungan
sperma yang dikeluarkan pria pada saat senggama
sehingga tidak tercurah pada vagina. Cara kerja kondom
yaitu mencegah pertemuan ovum dan sperma atau
mencegah spermatozoa mencapai saluran genital wanita.
Sekarang sudah ada jenis kondom untuk wanita, angka
kegagalan dari penggunaan kondom ini 5-21%.
2. Coitus Interuptus
Coitus interuptus atau senggama terputus adalah
menghentikan senggama dengan mencabut penis dari
vagina pada saat suami menjelang ejakulasi. Kelebihan
dari cara ini adalah tidak memerlukan alat/obat sehingga
relatif sehat

untuk

digunakan wanita

dibandingkan

dengan metode kontrasepsi lain, risiko kegagalan dari


metode ini cukup tinggi.
3. KB Alami
KB alami berdasarkan pada siklus masa subur dan
tidak masa subur, dasar utamanya yaitu saat terjadinya
ovulasi. Untuk menentukan saat ovulasi ada 3 cara,
8Adenin, Konsep kontrasepsi diakses dari
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37114/4/Chapter%20II.pdf.\, pada tanggal 28
mei 2016, pada pukul 15.40

9 Ibid

12

yaitu : metode kalender, suhu basal, dan metode lendir


serviks.
4. Diafragma
Diafragma merupakan suatu alat yang berfungsi
untuk mencegah sperma mencapai serviks sehingga
sperma

tidak

memperoleh

akses

ke

saluran

alat

reproduksi bagian atas (uterus dan tuba fallopi). Angka


kegagalan diafragma 4-8% kehamilan.
5. Spermicida
Spermicida adalah suatu zat atau bahan kimia yang
dapat

mematikan

dan

menghentikan

gerak

atau

melumpuhkan spermatozoa di dalam vagina, sehingga


tidak

dapat

berbentuk

membuahi

tablet

sel

vagina,

telur.
krim

Spermicida
dan

jelly,

dapat
aerosol

(busa/foam), atau tisu KB. Cukup efektif apabila dipakai


dengan kontrasepsi lain seperti kondom dan diafragma.
b. Kontrasepsi Hormonal
1. Pil KB
Suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk
pil atau tablet yang berisi gabungan hormon estrogen dan
progesteron (Pil Kombinasi) atau hanya terdiri dari
hormon progesteron saja (Mini Pil). Cara kerja pil KB
menekan ovulasi untuk mencegah lepasnya sel telur
wanita dari indung telur, mengentalkan lendir mulut
rahim sehingga sperma sukar untuk masuk kedalam
rahim, dan menipiskan lapisan endometrium. Mini pil
dapat dikonsumsi saat menyusui. Efektifitas pil sangat
tinggi, angka kegagalannya berkisar 1-8% untuk pil
kombinasi, dan 3-10% untuk mini pil.

13

2. Suntik KB
Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan
(cyclofem) dan suntik KB 3 bulan (DMPA). Cara kerjanya
sama dengan pil KB. Efek sampingnya dapat terjadi
gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat, perubahan
berat badan, pemakaian jangka panjang bisa terjadi
penurunan libido, dan densitas tulang.
3. Implant
Implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan
dibawah kulit, biasanya dilengan atas. Cara kerjanya
sama dengan pil, implant mengandung levonogestrel.
Keuntungan dari metode implant ini antara lain tahan
sampai 5 tahun, kesuburan akan kembali segera setelah
pengangkatan.

Efektifitasnya

sangat

tinggi,

angka

kegagalannya 1-3%.
Gizi
a. Dalam UU kesehatan sudah dijelaskan mengenai gizi yang
terdapat dalam pasal 141, 142 dan 143:10
a. Pasal 141
a. Upaya perbaikan gizi masyarakat

ditujukan

untuk

peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat.


b. Penigkatan mutu gizi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan melalui:
a. Perbaikan pola kunsumsi

makanan

yang

sesuai

dengan gizi seimbang;


b. Perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan
kesehatan;
c. Peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang
sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi; dan
10 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan, hlm 51

14

d. Penigkatan system kewaspadaan pangan dan gizi.


c. Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat
bersama-sama menjamin tersedianya bahan makanan
yang mempunyai nilai gizi yang tinggi secara merata dan
terjangkau.
d. Pemerintah berkewajiban menjaga agar bahan makanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memenuhi standar
mutu

gizi

yang

ditetapkan

dengan

peraturan

perundangundangan.
e. Penyediaan bahan makanan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan secara lintas sektor dan antarprovinsi,
antarkabupaten atau antarkota.

b. Pasal 142
1. Upaya perbaikan gizi dilakukan pada seluruh siklus
kehidupan sejak dalam kandungan sampai dengan lanjut
usia dengan prioritas kepada kelompok rawan:
a. bayi dan balita;
b. remaja perempuan; dan
c. ibu hamil dan menyusui.
2. Pemerintah bertanggung jawab menetapkan standar
angka kecukupan gizi, standar pelayanan gizi, dan standar
tenaga gizi pada berbagai tingkat pelayanan.
3. Pemerintah bertanggung jawab atas pemenuhan
kecukupan gizi pada keluarga miskin dan dalam situasi
darurat.
4. Pemerintah bertanggung jawab terhadap pendidikan dan
informasi yang benar tentang gizi kepada masyarakat.
5. Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat
melakukan upaya untuk mencapai status gizi yang baik.
c. Pasal 143

15

Pemerintah

bertanggung

jawab

meningkatkan

pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya


gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status gizi.
b. Pengertian Gizi Seimbang
Susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi
dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh,
dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan,
aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan mempertahankan
berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.11
c. Tujuan Pedoman Gizi Seimbang
Pedoman

Gizi

Seimbang

(PGS)

bertujuan

untuk

menyediakan pedoman makan dan berperilaku sehat bagi


seluruh lapisan masyarakat berdasarkan prinsip konsumsi
anekaragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik dan
mempertahankan berat badan normal.12
d. Sasaran Pedoman Gizi Seimbang
Sasaran PGS adalah penentu kebijakan, pengelola
program, dan semua pemangku kepentingan antara lain
Lembaga Swadaya Masyarakat, organisasi profesi, organisasi
keagamaan, perguruan tinggi, media massa, dunia usaha,
dan mitra pembangunan internasional.13
e. Empat Pilar Gizi Seimbang

11 Anung Sugihantono. Pedoman Gizi seimbang, diakses dari


gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/PGS%20Ok.pdf, pada tanggal 28 mei
2016, pukul 14.50

12 Ibid
13 Ibid

16

Pedoman Gizi Seimbang yang telah diimplementasikan


di Indonesia sejak tahun 1955 merupakan realisasi dari
rekomendasi Konferensi Pangan Sedunia di Roma tahun 1992.
Pedoman

tersebut

menggantikan

slogan

Sehat

Sempurna yang telah diperkenalkan sejak tahun 1952 dan


sudah

tidak

sesuai

lagi

dengan

perkembangan

ilmu

pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam bidang gizi serta


masalah

dan

tantangan

yang

dihadapi.

Dengan

mengimplementasikan pedoman tersebut diyakini bahwa


masalah gizi beban ganda dapat teratasi.

Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 (empat) Pilar yang


pada

dasarnya

merupakan

rangkaian

upaya

untuk

menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi


yang masuk dengan memonitor berat badan secara teratur.14
Kode
Etik
Profesi
15
Masayarakat

Tenaga

Penyuluh

Kesehatan

Kode Etik Profesi Kesehatan Masyarakat diuraikan dalam pasalpasal. Dan kode etik yang bersangkutan dengan kasus ini yaitu
sebagia berikut:
a. Pasal 1 : setiap profesi kesehatan masyarakat harus
menjunjung tinggi, menghayati, dan mengamalkan etika
profesi kesehatan masyarakat.
b. Pasal 3: dalam melaksanakan

tugas

dan

fungsinya

hendaknya menggunakan prinsip efektifitas-efisiensi dan


mengutamakan penggunaan teknologi tepat guna.
14 Ibid
15 Eryati darawin dan hardisman. Etika profesi kesehatan. (Yogyakarta:
Deepublish), hlm 81

17

c. Pasal 9: dalam pembinaan kesehatan masyarakat harus


menggunakan pendekatan menyelurh, multidisiplin dan
lintas sektoral serta mementingkan usaha-usaha promotif,
preventif, protektif dan pembinaan kesehatan.
d. Pasal 12 : dalam menjalakan tugas dan fungsinya harus
bertanggungjawab

dalam

melindungi,

memelihara

dan

meningkatkan kesehatan penduduk.


e. Pasal 21 : setiap anggota profesi kesehatan masyarakat
dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari harus berusaha
dengan

sunguh-sungguh

memegang

teguh

kode

etik

kesehatan masyarakat indoensia ini.


Pengaruh Persepsi Banyak Anak Banyak Rejeki Terhadap
Status Gizi Di Indonesia
Peningkatan status gizi di Indonesia tidak terlepas
dari permasalahan kepadatan penduduk yang terjadi.
Banyaknya anak dalam keluarga akan mempengaruhi
status gizi terutama balita yang merupakan golongan
rawan gizi. Atas dasar inilah pada tahun 1970 Pemerintah
Indonesia

menjadikan

Program

Keluarga

Berencana

sebagai Program Nasional. Meskipun pemerintah telah


berupaya, namun masalah kepadatan penduduk ini masih
terus berpengaruh pada status gizi di Indonesia. Persepsi
masyarakat

mengenai

banyak

anak

banyak

rejeki

merupakan salah satu faktor ketidakberhasilan Program


Keluarga Berencana di beberapa daerah di Indonesia
terutama pada masyarakat di pedesaan dengan tingkat
pendidikan yang rendah dan masih kental dengan budaya
dan adat istiadat yang berlaku sehingga mereka memiliki
pemikiran yang masih kolot dan tidak berpartisipasi
terhadap Program Keluarga Berencana. Wilayah yang

18

berupa

kepulauan

juga

membuat

program

program

pembatasan penduduk seperti KB, sulit untuk diterapkan


dan dilaksanakan, apalagi masyarakat Indonesia juga
masih ada yang berbentuk suku suku tradisonal yang acuh
terhadap program pemerintah.
Fungsi utama progam Keluarga Berencana adalah
untuk

mengendalikan laju

pertambahan penduduk

di

Indonesia sehingga dapat menghindarkan dari peristiwa


baby boom. Selain itu, Program Keluarga Berencana juga
memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting yaitu,
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu-ibu dan
anak-anak

maupun

keluarga

serta

bangsa

secara

menyeluruh, meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat


dengan

mengurangi

angka

kelahiran

sehingga

pertumbuhan penduduk tidak melebihi kapasitas produksi .


Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
tahun 2007, prevalensi pengguna kontrasepsi modern di
kalangan wanita usia subur yang sudah menikah mencapai
57%. Jumlah ini hanya naik tipis dari data tahun 2003 yang
menunjukkan prosentase 56%.Pada kenyataannya masih
banyak keluarga yang tidak mengikuti program Keluarga
Berencana ini, khususnya masyarakat yang berada di
daerah pelosok dan berada dalam tingkatan sosial ekonomi
menengah kebawah, mereka masih memiliki anak dengan
jumlah banyak yang tidak sesuai dengan motto Keluarga
Berencana yaitu Dua Anak Lebih Baik. Faktor yang
melatarbelakangi
Berencana

dan

terhambatnya
keputusan

program

masyarakat

Keluarga

untuk

tidak

mengikuti program Keluarga Berencana, antara lain belum


adanya

penggalakan

menangani

keluarga

pada
miskin

proyek
dalam

yang
masalah

langsung
Keluarga
19

Berencana, minimnya petugas di lapangan seperti PLKB


dan

Bidan

desa,

masyarakat,

kurangnya

masih

juga

ajakan

berkembangan

dari

pemikiran

tokoh
budaya

tradisional yang mengatakan banyak anak banyak rejeki,


merebaknya pernikahan dini di kalangan masyarakat,
penggunaan alat kontrasepsi oral dan juga kurangnya
keseriusan pemerintah dalam menangani masalah baby
boom.
Pada kondisi di lapangan, masih banyak masyarakat
khususnya

di

desa

ataupun

pelosok-pelosok

yang

mengambil keputusan untuk tidak mengikuti program


Keluarga

Berencana.

Hal

tersebut

sebagian

besar

dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang dianut oleh


mereka yang cenderung masih tradisional. Masih saja
banyak masyarakat yang beranggapan bahwa banyak
anak banyak rezeki. Faktor kultural inilah yang sulit untuk
dirubah

khususnya

di

dalam

lingkungan

masyarakat

agraris. Mereka berpendapat bahwa semakin banyak anak


akan menambah tenaga untuk membantu melakukan
pekerjaan seperti bercocok tanam, bertenak dan juga
dapat melayani ketika mereka lanjut usia.
Masalah tersebut tentu saja mempengaruhi status
gizi. Dalam hal ini penjelasan mudahnya adalah jumlah
anak

yang

banyak

mempengaruhi

jumlah

gizi

yang

diperoleh oleh anak-anak tersebut terutama bagi keluarga


yang berada pada status ekonomi menengah kebawah.
Karena realita yang banyak ditemui diluar sana, mayoritas
masyarakat yang tidak

berpartisipasi dalam program

Keluarga Berencana adalah masyarakat dengan status


ekonomi menengah ke bawah.

20

Kemiskinan atau pendapatan keluarga yang rendah


sangat berpengaruh kepada kecukupan gizi keluarga.
Kekurangan

gizi

berhubungan

dengan

sindroma

kemiskinan. Tanda-tanda sindroma kemiskinan antara lain


berupa: penghasilan yang sangat rendah sehingga tidak
dapat

mencukupi

kebutuhan,

sandang,

pangan,

dan

perumahan; kuantitas dan kualitas gizi makanan yang


rendah; sanitasi lingkungan yang jelek dan sumber air
bersih yang kurang, akses terhadap pelayanan yang sangat
terbatas; jumlah anggota keluarga yang banyak, dan
tingkat pendidikan yang rendah.
Faktor yang menyebabkan

terjadi

peningkatan

jumlah anak dalam penelitian ini yaitu faktor budaya, anak


laki-laki sebagai penerus keturunan, ketika belum memiliki
anak laki-laki keluarga terus berusaha untuk mencari anak
laki-laki, serta dalam pengambilan keputusan mengikuti KB
masih didominasi oleh suami. Hal ini sejalan dengan
penelitian Aritonang, (2010) menyatakan perempuan tidak
mempunyai
kontrasepsi

kekuatan
yang

dalam

diinginkan

kepada keputusan suami.


Jumlah
anak
dalam

penentuan

metoda

karena

ketergantungan

keluarga

mempengaruhi

ketersediaan pangan keluarga. Pada tingkat penghasilan


yang berbeda akan menghasilkan tingkat ketersediaan
pangan yang berbeda pula. Jumlah anak yang banyak pada
keluarga dengan status ekonomi yang rendah mempunyai
peluang anak menderita gizi buruk. Keterlibatan ibu ikut
mencari nafkah untuk membantu perekonomian keluarga
menyebabkan pemenuhan gizi balita terabaikan. Anak
yang tumbuh dalam keluarga miskin paling rawan terhadap
kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga, anak yang

21

paling

kecil

yang

akan

terpengaruh

oleh

karena

kekurangan pangan, apabila anggota keluarga bertambah


maka

pangan

untuk

setiap

anak

berkurang,

asupan

makanan yang tidak adekuat merupakan salah satu


penyebab

langsung

karena

dapat

menimbulkan

manifestasi berupa penurunan berat badan atau terhambat


pertumbuhan pada anak, oleh sebab itu jumlah anak
merupakan faktor yang turut menentukan status gizi balita.

BAB II
PEMBAHASAN

Tenaga penyuluh harus melakukan pendekatan kepada


tokoh formal untuk melakukan kerja sama seperti kepala desa
untuk mendapat dukungan agar program yang dijalankan
bisa berjalan dengan baik. Setelah itu melakukan pendataan
dan penganalisaaan yang bertujuan untuk wilayah kerja
sebagai perencanaan penggarapan KB .

22

Setelah dilakukan pendataan maka proses selanjutnya


adalah Pembentukan suatu acara yang dilakukan secara
sistematis

untuk

mendapat

kesepakatan

semua

pihak.

Setelah pembentukan acara selesai dilakukan pendekatan


tokoh informal untuk menumbuhkan hubungan kerja sama
dan silahturahmi dengan para tokoh informal baik tokoh
masyarakt maupun tokoh agama untuk mendapat dukungan
dalam penggarapan program KB.
Kemudian pemantapan tokoh informal dan formal agar
berperan aktif sesuai dengan hasil kesepakatan dan rencana
yang telah diputuskan bersama.kemudia memepersiakan
tokoh

masyarakat

yang

akan

ditanamakan

pengertian,

peningkatan pengetahuan, dan keterampilan agar mampu


melaksanakan program KB sesuai dengan kondisi daerah.
Jenis pelayanan yang dibutuhkan keluarga yaitu berupa
Pembinaan

keluarga

mengaktifkan

melalui

serta

bimbingan,

mengembkan

mengarahkan

keluarga

dalam

melaksanakan fungsi-fungsi keluarga seperti kegiatan PUP


(Pendewasaan
pembinaan

Usia

Perkawinan),

ketahanan

pengaturan

keluarga

dan

kelahiran,

peningkatan

kesejahteraan keluarga. Setelah itu melakukan pelaporan dan


evaluasi hasil-hasil kegiatan disetiap wilayah.
Jadi, Analisa program tenaga penyuluh kesehatan dengan
cara meyakinkan masyarakat terhadap integrasi mereka
dalam

menjalankan

profesinya.

Begitu

juga

sebaliknya,

masyarakat harus merasa yakin bahwa profesi tenaga


penyuluh

mampu

memberikan

solusi,

usulan,

langkah-

langkah dalam pencegahan dan pengendalian

penyakit

melalui cara promotif dan preventif sesuai kebutuhan, etika,


norma yang ada di masyarakat.

23

Paling penting bahwa profesi tenaga penyuluh

dapat

memiliki kepercayaan di masyarakt, pekerjaan yang sedang


dilakukan atas nama sendiri secara professional. Oleh karena
itu, tenaga penyuluh dapat dipercaya dan dapat membela
apa yang mereka percaya, dengan tujuan untuk mewujudkan
keadilan

sosial

dan

meningkatkan

derajat

kesehatan

masyarakat.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jadi, Analisa program tenaga penyuluh kesehatan dengan
cara meyakinkan masyarakat terhadap integrasi mereka
dalam

menjalankan

profesinya.

Begitu

juga

sebaliknya,

masyarakat harus merasa yakin bahwa profesi tenaga


penyuluh

mampu

memberikan

solusi,

usulan,

langkah-

langkah dalam pencegahan dan pengendalian

penyakit

24

melalui cara promotif dan preventif sesuai kebutuhan, etika,


norma yang ada di masyarakat.

B. SARAN
Apabila seseorang hendak menggunakan alat kontrasepsi
dalam program keluarga berencana maka sebaiknya
mempertimbangkan terlebih dahulu segala aspek yang
menyangkut kelancaran penggunaan. Beberapa aspek harus
diperhatikan diantaranya sebagai berikut:
a. Alat kontrasepsi
b. Kesehatan ibu dan anak

DAFTAR PUSTAKA

Adenin,

Konsep

kontrasepsi

diakses

dari

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37114/4/Chapter
%20II.pdf.\, pada tanggal 28 mei 2016, pada pukul 15.40
Anung Sugihantono. Pedoman Gizi seimbang, diakses dari
gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/PGS%20Ok.pdf,
pada tanggal 28 mei 2016, pukul 14.50
Entjang, Indan. 1986. Pendidikan kependudukan dan keluarga
berencana. Bandung: Alumni
25

Eryati

darawin

dan

hardisman.

Etika

profesi

kesehatan.

Yogyakarta: Deepublish.
Hartanto, Hanafi. 1943. Keluarga berencana dan kontrasepsi.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009
Tentang

Perkembangan

Kependudukan

dan

Pembangunan

Keluarga
Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Kesehatan Nomor 36
Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

26