Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN

PRAKTIKUM GEOLOGI MINYAK BUMI


ACARA : PENAMPANG SEISMIK

Disusun Oleh :
Boymo Sanservanda Sinamo
21100113140058

LABORATORIUM SEDIMENTOLOGI,
STRATIGRAFI, DAN GEOLOGI MINYAK BUMI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
MEI 2016

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Praktikum Geologi Minyak Bumi, Acara : Penampang Seismik yang
disusun oleh praktikan bernama Boymo Sanservanda Sinamo, disahkan pada:
hari

tanggal

pukul

Sebagai tugas laporan praktikum mata kuliah Geologi Minyak Bumi.

Semarang,

Mei 2016

AsistenAcara,

Praktikan,

Tim Asisten Acara

Boymo S. Sinamo

Penampang Seismik

NIM. 21100113140058

BAB I
LANGKAH KERJA
Pada praktikum Geologi Minyak Bumi dengan acara Penampang Seismik
yang dilaksanakan pada hari Selasa, 10 Mei 2016 dilakukan pengolahan data dari
penampang seismik. Pengolahan penampang seismik ini dilakukan dengan
beberapa tahapan atau langkah pengerjaan. Adapun tahapan atau langkah-langkah
pengerjaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Picking Horizon
Picking Horizon ini bertujuan untuk menentukan lapisan pada penampang
seismik yang secara horizontal yang mana nantinya digunakan untuk menjadi
datum. Pada tahapan picking horizon ini, bagian yang di picking merupakan
batas atas(top) dan batas bawah(bottom) dari reservoir atau batuan pembawa
minyak sebagai sasaran eksplorasi. Yang mana pada penampang seismik telah
dilakukan deliniasi pada batas atas(top) formasi berwarna merah dan pada
batas bawah(bottom) formasi berwarna kuning. Picking Horizon ini dimulai
dari data log pada line 300. Selanjutnya dilakukan picking horizon pada
penampang seismik dengan line dan trace yg yang lain yang telah tersedia.
Penarikan ini dilakukan dengan mencocokan line dan trace yang sama
kemudian akan didapatlah arah persebaran dari top formasi dan bottom
formasi secara horizontal.
b. Pembacaan Nilai Two Way Time (TWT)
Setelah melakukan picking horizon, kemudian dilakukan pembacaan nilai
Two Way Time. Two Way Time adalah data waktu yang diperoleh
berdasarkan waktu tempuh getaran seismik dari sumber ke lapisan batuan dan
dari lapisan batuan ke reseptor dengan satuan detik. Nilai TWT ini dibaca
pada setiap trace dan line dengan interval 80 pada masing-masing lapisan
baik itu pada top formasi atau yang di deliniasi dengan warna kuning maupun
pada bottom formasi yang di deliniasi dengan warna merah. Kemudian data
TWT yang telah dibaca, di plot pada Time Structure Map.
c. Pengeplotan Nilai Kedalaman pada Depth Structure Map

Setelah memperoleh nilai TWT di setiap titik(line dan crossline),


kemudian dilakukan konversi data dari nilai TWT menjadi nilai
kedalaman(depth). Konversi ini membutuhkan data TWT dan data chekshot.
Data chekshot diperoleh dari hasil pengukuran seismik dilapangan berupa
data TWT dan subsea. Dari kedua data ini digambarkan dalam bentuk grafik
untuk mendapatkan nilai gradien data. Nilai gradien ini ditunjukan dalam
bentuk persamaan garis. Pada wilayah penelitian dibagi atas 4 wilayah sesuai
dengan tempat pengambilan data atau data sumur yang ada yaitu F03-4, F032, F06-1, dam F06-2. Setelah diperoleh rumus persamaan garis dimasingmasing wilayah, kemudian nilai TWT dari hasil pemplotan awal dimasukan
sebagai nilai x pada persamaan garis grafik. Nilai ini merupakan nilai
kedalaman. Setelah diperoleh data kedalaman di semua titik, kemudian
dilakukan pemplotan nilai kedalaman pada Depth Structure Map.
d. Pengeplotan Struktur Geologi
Kemudian tahapan yang dilakukan berikutnya adalah melakukan ploting
dari struktur geologi yang ada pada penampang seismik. Hal ini disebabkan
untuk mengetahui pengaruh struktur geologi terhadap migrasi dari fluida
minyak maupun gas bumi dan penerusannya. Pada penampang seismic yang
telah disediakan terdapat struktur yang berupa sesar. Untuk menentukan
posisi ataua kedudukan sesar pada lapisan yang telah didapat tadi, langkah
awal yaitu dengan membedakan struktur yang bidangnya menerus atau tidak.
Untuk bidang sesar yang menerus dilakukan pemplotan pada top
formasi(warna kuning) maupun bottom formation (warna merah) yang
pisahkan oleh bidang yaitu bagian atas dan bawah. Kemudian sesar ini diplot
pada Time Structure Map dan Depth Strucutre Map

e. Pembuatan Kontur (konturing)


Setelah semua data diplot di masing-masing peta, langkah selanjutnya
yaitu penggambaran kontur(konturing). Penggambaran ini dilakukan untuk
mengetahui kondisi lapisan dan penerusannya. Pembuatan ini diawali dengan

kedalaman terkecil menuju kedalaman terbesar. Kontur akan terpotong atau


tidak menerus jika melalui bidang struktur yaitu sesar.

BAB II
PEMBAHASAN

Pada dasarnya sesismik stratigrafi adalah penafsiran stratigrafi dari data


seismic (Vail dan Mitchum, 1977). Penampang seismik merupakan penampang
bagian bawah permukaan bumi yang diperoleh dengan metode seismik. Metode
seismik sendiri merupakan salah satu metode dari bidang ilmu geofisika yang
memberikan impuls berupa gelombang getaran yang bisa diberikan dari pukulan
palu, peledak, maupun alat pemberi getaran (vibrator) yang kemudian getara
tersebut akan memantul (refleksi) dan ada juga yang merambat yang kemudian
memantul, dan pantulan ini akan direkam oleh alat yang disebut geophone untuk
perekaman data di darat dan hydrophone untuk perekaman di air. Data hasil
rekaman ini berupa data Two Way Time atau yang sering disebut dengan TWT
dalam satuan detik. Two Way Time merupakan waktu tempuh gelombang getaran
mulai dari awal dipancarkan hingga diterima oleh alat perekam atau receiver.
Setelah dilakukannya tahapan-tahapan untuk melakukan analisa penampang
seismic yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, kemudian dari data yang
didapat, dilakukan interpretasi geologi tentang penampang seismic dan peta
kontur yang telah dibuat.
1. Intepretasi Litologi
Pada penampang seismic yang telah disediakan, dapat diinterpretasikan
litologi yang ada pada bawah permukaan. Yang mana garis yang terlihat tegas dan
tebal pada openamoang seismic tersebut, merupakan batuan kristalin yang
mungkin saja merupakan batuan beku atau batuan metamorf yang mungkin
merupakan basement dari daerah tersebut. Kemudian yang dilakukan analisis atau
yang berawarna merah dan kuning tersebut merupakan batuan reservoir yang
diinterpretasikan adalah batugamping. Terlihat ciri-ciri nya dikatakan sebagai
batugamping karena hasil yang terlihat pada penampang seismic garis-garis yang
blur. Kemudian bagian atasnya merupakan batuan sedimen yang mana mungkin
menjadi batuan cap rock. Dan terlihat pada batuan sedimen tersebut tanda tanda
berada pada daerah pesisir Karena terlihat pada penampang seismic pengendapan
dari sedimen nya penciri pada daerah pesisir. Dan bagian yang paling atas
merupakan endapan alluvium ataupun soil yang merupakan bagian permukaan.
2. Struktur Geologi

Pada lapisan bawah atau bottom formation dari reservoir nya yang mana di
deliniasi dengan warna kuning merupakan lapisan batas bawah formasi ini yang
telah banyak mengalami deformasi. Pada prinsipnya, awalnya semua batuan
tersebut terendapkan secara horizontal mengikuti prinsip Horizontality of Strata.
Namun akibat adayan pengaruh tektonik atau tenaga endogen, menyebabkan
lapisan batuan tersebut mengalami deformasi. Terlihat dari penampang seismic
yang telah disediakan, lapisan yang merupakan bottom formation ini lebih intens
terkena deformasi dibandingkan lapisan batuan yang merupakan top formation.
Pada penampang seismik, terlihat bahwa bidang rekahan ini membuat lapisan
bawah formasi ini menjadi terputus, dan bagian yang terputus berpindah posisi
menjadi lebih ke bawah. Hal ini dilihat dari hanging wall bergerak ke bawah.
Pergeseran bidang ke bagian bawah ini merupakan struktur geologi yang disebut
sesar turun atau normal fault . Namun, kalau dilihat pada penampang seismik
tersebut, struktur sesar tersebut terdapat dua penurunan yang menunjukkan bahwa
adanya horst.
Pada lapisan atas atau top formasi, atau pada penampang seismic berwarna
merah tidak terlalu intensif pengaruh endogennya atau bisa dikatakan tidak
seintensif lapisan bawah formasi. Hal ini dapat diinterpratasikan bahwa pusat
deformasi yang terjadi keberadaanya lebih dalam atau lebih dekat dengan lapisan
bawah formasi. Terdapat struktur sesar normal jika dilihat ketidakmenerusan
lapisan batuannya.
3.

Petroleum System
Petroleum System biasa digunakan sebagai istilah dalam sistem fluida

hidrokarbon yang ada dalam batuan. Fluida hidrokarbon merupakan fluida hasil
akumulasi hidrokarbon yang terbentuk dari material organik yang terdapat dalam
batuan. Sistem hidrokarbon dalam batuan disebut dengan petroleum system.
Dalam petroleum system terdapat 5 komponen penyusunnya yaitu source rock,
reservoar, cap rock, fluida dan trap atau zona perangkap. Source rock merupakan
batuan yang menghasilkan hidrokarbon. Batuan yang dijadikan sebagai source
rock umumnya adalah batuan dengan kandungan material organik yang banyak

mengandung hidrokarbon. Batuan yang biasanya dijadikan sebagai batuan sumber


adalah shale atau serpih, batugamping, dan batubara. Hidrokarbon yang
dihasilkan oleh source rock ini akan terakumulasi dan mengisi ruang antar butir
pori. Batuan yang menyimpan dan mengalirkan fluida ini disebut batuan
reservoar. Batuan reservoar inilah menjadi target dalam industri minyak. Batuan
resservoar yang baik adalah batuan yang memiliki porositas yang besar sehingga
dapat menyimpan fluida serta memiliki permeabiilitas yang besar sehingga dapat
mengalirkan fluida. Batuan sedimen yang sangat baik sebagai reservoar adalah
batupasir. Pada penampang seismic yang merupakan batuan reservoir merupakan
batugamping yang mana batas atasnya adalah lapisan yang berwarna merah dan
lapisan batas bawahnya adalah lapisan yang berwarna kuning. Cap rock atau
batuan tudung adalah batuan yang berfungsi sebagai tudung dari batuan reservoar
agar fluida dapat terakumulasi. Batuan yang umumnya menjadi cap rock adalah
batulempung dan shale. Batuan ini bersifat impermeable atau kedap fluida
sehingga fluida dapat tertampung dan terakumulasi di reservoar. Trap zone atau
zona perangkap merupakan komponen petroleum system yang berperan sebagai
zona tempat terakumulasinya fluida. Trap umumnya terbentuk dari struktur baik
itu lipatan maupun sesar. Pada penampang seismik, terdapat trap zone yang
berupa struktur sesar.

Rumus yang digunakan Untuk Melakukan Konversi dari Time


Structure Map ke Depth Structure Map
0
0
500

1000 2000 3000 4000


1487.57
ln(x) - 9047.47
f(x)f(x)
==
1.09x
- 78.83
= 0.95
R R
=1

1000

Axis Title 1500

Subsea (TVDSS)

2000

Logarithmic (Subsea
(TVDSS))

2500

Linear (Subsea (TVDSS))

3000
3500

checkshot Sumur F-03-4

Checkshot Sumur F06-1


0
200

200

400

600

800

1000

1200

1400

f(x) = 1x - 27.97
R = 1

400
600
800
1000
1200
1400

Checkshot F02-1
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500

500

1000

f(x) = 0.97x + 11.94


R = 1

1500

2000

2500

3000

3500

Checkshot F03-2
0
0
500

Axis Title

500

1000

1500

2000

f(x) = 1.11x - 87.02


R = 1
Linear ()

1000
1500
2000

Axis Title