Anda di halaman 1dari 6

Mengukur Dengan Multimeter True RMS

Syahrul Ramadhi Wibowo1, Amanda Claudiya A., Ayu Irene W., Valentinus Paramarta
Departemen Fisika, Universitas Indonesia
Depok, Indonesia
syahrul.ramadhi@gmail.com1
Abstract Tegangan yang diberikan oleh listrik AC (Alternating Current) berbeda-beda besarnya
tergantung dari waktu. Besaran yang digunakan untuk menghitung tegangan efektifnya ialah TRms
( True RMS ) yang nilainya berbeda-beda tergantung bagaimana bentuk gelombang dari listrik AC.
Pada praktikum ini, metode yang digunakan adalah percobaan dan observasi langsung menggunakan
function generator, multimeter dan osiloskop untuk menilai seberapa besar nilai V RMS dan
bagaimana bentuk gelombang listrik AC yang berbeda-beda.
Keywords TRMS, Osiloskop, AC
I. PENDAHULUAN
II.
Praktikum ini untuk memenuhi penilaian dari mata kuliah Praktikum Teknik
Pengukuran yang diadakan oleh Departemen Fisika, selain itu dengan melakukan praktikum
pengukuran ini, praktikan dapat mengetahui nilai dari V RMS dari beberapa jenis gelombang
listrik AC. Selain itu praktikan juga praktikan dapat melihat tegangan puncak dan tegangan ratarata. Dengan rumusan masalah yaitu sebagai berikut, pertama apa pengertian V RMS? Lalu apa
pengertian V Average? Apa Pengertian V PP dan VP ? dan bagaimana pengaruh bentuk gelombang
dengan V Rms, V Avg, V PP dan V P yang diberikan? Tujuan dari praktikum ini ialah untuk
mengetahui nilai RMS pada berbagai jenis sinyal, serta mempelajari perbedaan multimeter RMS
dan Non-RMS.
III.

TEORI DASAR

IV.
V. Nilai Root Mean Square (RMS)
VI.
VII. Sebuah Arus I(t) yang mengalir dengan tegangan V(t) pada tahanan murni R, akan
menghasilkan daya sesaat P(t), dengan nilai rata rata P. Daya sebesar P ini dapat dihasilkan
dalam tahanan murni R oleh V yang besarnya konstan. Vrms merupakan besar yang dihitung
sama dengan besar V konstan tersebut. Vrms ini disebut juga sebagai V efektif. Nilainya dapat
dihitung dengan

VIII.

1
2
V rms =
V ( t ) dt

T 0

IX. Pada tegangan sinusoidal

X.

V rms =

v ( t )=V peak . sin( t+) , nilai RMSnya adalah

V peak
2
1

XI. Faktor pembagi

disebut faktor puncak, yang berbeda-beda tiap bentuk sinyal. Contoh,

pada sinyal triangle faktor puncaknya adalah

V rms =

XII.

XIII.
XIV.

V peak
3

Sedangkan pada sinyal square dan DC

V rms =V peak

XV.
XVI.
XVII.
XVIII.

Mengukur Nilai AC

XIX.
XX. Pada Arus listrik searah atau Direct Current (DC) aliran dari muatan listrik bergerak
pada medium dalam satu arah, namun berbeda pada Arus bolak-balik atau Alternating Current
(AC), aliran dari muatan listrik berubah arah secara Periodic. Muatan listrik bergerak maju
mundur berulang ulang secara Periodic.
XXI.
Listrik AC berubah besar arus dan tegangannya terhadap waktu. Listrik AC
digambarkan dengan fungsi gelombang terhadap waktu. Bentuk sinyal AC yang biasa ditemukan
yaitu sinusoidal, namun terdapat banyak bentuk sinyal AC yang berbeda beda tergantung dari
kegunaannya, yaitu : Triangular, Square, Pulse, dll.
XXII.

XXIII.
XXIV. Gambar 3. Contoh bentuk-bentuk sinyal AC (kiri kanan : Sinusoidal, downramp, square)
XXV.
XXVI.
Tidak seperti nilai DC yang tetap, nilai tegangan AC berubah terhadap waktu,
sehingga mengukur nilainya tidak sesederhana seperti mengukur tegangan DC. Dalam mengukur
tegangan AC terdapat beberapa nilai tegangan yang dapat diukur, yaitu :
XXVII.
XXVIII. Nilai sesaat
XXIX.

XXX.
Nilai sesaat menunjukkan nilai pada satu waktu dalam periode, pada
tegangan AC nilainya selalu berubah terhadap waktu, yaitu v(t)
XXXI.
XXXII. Nilai maksimum
XXXIII.

Nilai maksimum adalah nilai amplitudo gelombang dalam satu periode

XXXIV.

XXXV. Nilai rata rata


XXXVI.
XXXVII.
Nilai rata rata arus dari arus bolak balik (AC) diekspresikan dengan
ilustrasi muatan listrik yang mengalir pada suatu medium dengan jumlah yang sama dengan arus
searah (DC) pada rentang waktu yang sama.
XXXVIII.

Nilainya dapat diperoleh dengan merata-ratakan seluruh nilai terhadap waktu,

sehingga :
XXXIX.
T

1
V ratarata = V ( t ) dt
T 0

XL.

XLI.
XLII.
Pada bentuk-bentuk sinyal yang simetri setengah gelombang nilai tegangan
rata ratanya akan memiliki nilai nol, sehingga nilai rata-rata ini kurang tepat jika digunakan
dalam mendefinisikan nilai tegangan AC.
XLIII.

XLIV.
XLV.

Gambar 2. Fungsi sinyal simetri setengah gelombang

XLVI.

XLVII. METODE EKSPERIMEN


XLVIII.Pada percobaan ini dibutuhkan berbagai alat dan bahan yang terdiri dari:
XLIX. DIGITAL OSCILLOSCOPE
L. FUNCTION GENERATOR
LI. MULTIMETER VRMS
LII.
LIII.

Sedangkan cara kerja yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

Memasang Probe Function Generator pada Multimeter True RMS dan Digital
Oscilloscope.
Mengatur Output Function Generator dengan tipe sinyal Sinusoidal
Mengatur Output Function dengan Frekuensi Sinyal f = 100Hz
Mengatur Output Function dengan Vpp Sinyal Vpp = 2 V
Mengatur Oscilloscope pada mode Measure dan pilih measure
o

Box 1 pada mean untuk menghitung Vrata-rata,

Box 2 pada pk-pk untuk menghitung Vpp,

Box 3 pada cyc RMS untuk menghitung Vrms, dan

Box 4 pada max untuk menghitung Vp

Mencatat hasil pengukuran tersebut dalam tabel seperti contoh table 1 dan 2.

LIV.

LV.

DATA EKSPERIMEN

Dalam eksperimen dilakukan percobaan untuk melihat empat buah komponen yang
berbeda, yaitu tegangan peak to peak, tegangan maksimum (peak), tegangan efektif (RMS). Dan
tegangan rata rata (average). Dari keseluruhan hasil pengukuran dengan menggunakan rangkaian
yang terdiri dari osiloskop, function generator dan multimeter RMS diperoleh hasil sebagai
berikut:
LVI.

LVII.
LIX.
LVIII. Si

gnal

LXIV.

Ukur

Vpp
(Volt)

LXI.

Si
mulasi

LXV.

LXXIV. 2

LXXXII.LXXXIII.

4
LXXII. Si

nusoid
al

XCI.

Vp (Volt)

LXVI.

LXVII. Si

Ukur

mulasi

LXXV. LXXVI. 0,

LXXIII.

LX.

XCII.

1,06

LXXXIV.LXXXV.

CIX.

CI. 8

CXVII. S

quare

CXVIII.

CXIX. 2

CXXVII.CXXVIII.

Vav (mV)

LXVIII. LXIX. Si

LXX.

LXXI. Si

Ukur

Ukur

mulasi

mulasi

LXXVII.LXXVIII.

LXXIX. LXXX. 8,

706,2

23,87

707,11

LXXXVI.LXXXVII.

04

LXXXVIII.
LXXXIX.

1,414

1,39

1410

295

12,66

XCIII.

XCIV. 2,

XCV.

XCVI. 21

XCVII.

XCVIII. -

3,2

121

2105

2,
828

CIV.

3,
536

CXIII.

4,56
CXX.

CXXI. 0,

4,16
1

CX.

10

LXII.

2,24

CII.
C. 8

707

Vrms
(mV)

CXI.

1,26

CIII.

CXII.

999

CXXIX. CXXX. 2

2,4
4

2776
3432

20
CV.

308

28 CVI.
30
304

CXIV. 35

40

27,13
36,17

CVII.

CXV.

CXVI. -

-166

45,21

CXXII. CXXIII. 99

CXXIV. CXXV. -

1005

23,84

9,75

1,5

CXXXI. CXXXII.

CXXXIII.CXXXIV.

1736

521,8

2000

-3

CXXXVI.CXXXVII.

3,36

CXLV.

8
CLIV.

CXLVI. 8

CLV.

5,99

CXC.

CXCI. 7,

99
9,

CXCIX. CC.

99

577
155
1,732

CXCII. CXCIII. 2,

4,4
CCI.

5,36

40 CLI.
00
714,1
50 CLX.
00
293,6

CLVIII. CLIX.
CLVII. 5

CLXXXIII.
CLXXXIV.

3,36

30 CXLII.
00
514,5

CXLI.

CXLIX. CL.

3426

CLXXIV.CLXXV.1,

2,32

CLXXXI.CLXXXII.

10

CLVI.

1,2

CXL.

2515

CLXV. CLXVI. 0,
CLXIV. 2

CLXXII. CLXXIII.

iangel

4,4
5,12

CLXIII.

CLXII. Tr

CXLVII. CXLVIII.

10
2

CXXXVIII.
CXXXIX.

4179

CLXVII. CLXVIII.

545,1

577,35

CXLIII. -

4,5
-6

CLII.
CLXI.

CLXIX. CLXX. -

185

5,39

CLXXVI.CLXXVII.

CLXXVIII.
CLXXIX.

1185

270,1

1150

-11,86

CLXXXV.
CLXXXVI.

CLXXXVII.
CLXXXVIII.

1750

340,4

1730

-17,8

CXCIV. CXCV. 23

CXCVI. CXCVII.

309

2335

381,2

2,
887

CCIII.

CCII.

7,5

2925

10

28 CCV.
90
359,8

CCIV.

-23,74
CCVI. -

29,68

CCVII.
CCVIII.

CCIX. ANALISIS
CCX.

CCXI. Pada percobaan kali ini yaitu mengukur dengan Multimeter TRMS. Tujuan dari percobaan ini
ialah untuk mengetahui nilai RMS pada berbagai jenis sinyal, serta mempelajari perbedaan
multimeter RMS dan Non-RMS. Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan kali ini ialah
digital oscilloscope, function generator, dan multimeter RMS. Dengan prosedur percobaan yang
telah ada dimulailah percobaan kali ini.
CCXII. Vpp merupakan nilai tegangan pada gelombang AC dihitung berdasarkan amplitudo terendah
ke tingginya. Pada perhitungan, nilai Vp didapatkan dari nilai setengah dari tegangan Vpp.
Perhitungan nilai tegangan yang dihitung berdasarkan perhitungan dan berdasarkan percobaan
memiliki perbedaan nilai yang sedikit. Namun tetap ada yang memiliki perbedaan nilai mulai dari
0.02 V hinga 0.2 V. Praktikan menganalisanya ada ketidaktepatan output pada function generator
atau sambungan konduktor yang digunakan, sehingga menyebabkan adanya perbedaan nilai.
Untuk Vpp dan Vp tidak bisa didapatkan dengan multimeter, karena multimeter hanya bisa
membaca nilai Vrmsnya saja.
CCXIII. VRMS MERUPAKAN TEGANGAN EFEKTIF YANG DIDAPAT DARI TEGANGAN LISTRIK AC.
PERHITUNGANNYA BERBEDA-BEDA TERGANTUNG BENTUK GELOMBANGNYA. BILA DILIHAT DARI PEMBACAAN
PERCOBAAN, NILAI DARI VRMS SINUSOIDAL ADALAH KISARAN DARI PERHITUNGAN VPEAK /2 , UNTUK
GELOMBANG TRIANGLE VRMS MERUPAKAN VPEAK / 3, DAN UNTUK GELOMBANG SQUARE MERUPAKAN
VPEAK = VRMSNYA. NAMUN NILAI DARI PERHITUNGAN DAN NILAI PERCOBAAN YANG DIDAPAT PUN MEMILIKI
PERBEDAAN NILAI PADA KEDUA ALAT UKUR YAITU OSILOSKOP DAN MULTIMETER. KECENDRUNGAN INI
PRAKTIKAN RASA DIAKIBATKAN KARENA ADA KETIDAKTEPATAN OUTPUT PADA FUNCTION GENERATOR ATAU
SAMBUNGAN KONDUKTOR YANG DIGUNAKAN. NAMUN NILAINYA TIDAK BEGITU BESAR.

CCXIV. NILAI AV YANG DIHASILKAN SELURUHNYA DARI PERCOBAAN MEMILIKI KECENDRUNGAN MENDEKATI 0.
NILAI AVERAGE ATAU RATA-RATA DARI TEGANGAN INI MEMANG SEHARUSNYA 0 DIKARENAKAN GELOMBANG
YANG DIHASILKAN DARI FUNCTION GENERATOR ADALAH GELOMBANG SIMETRIS SUMBU X. SEHINGGA

TEGANGAN YANG DIHASILKAN ADA YANG POSITIF DAN NEGATIF YANG SIMETRIS DAN BILA DIRATA-RATA
HASILNYA AKAN MENDEKATI 0. NAMUN PADA PENGUKURAN, HASILNYA TIDAK SAMPAI 0. PRAKTIKAN
MENGANALISANYA MEMANG KARENA KELEMAHAN DARI FUNCTION GENERATOR ITU SENDIRI YANG MASIH
BELUM MAMPU MENGHASILKAN GELOMBANG YANG BENAR-BENAR SIMETRIS.

CCXV.

CCXVI.

KESIMPULAN

CCXVII.
CCXVIII.

DARI PERCOBAAN INI PRAKTIKKAN DAPAT MENGETAHUI NILAI VRMS PADA BERBAGAI JENIS
SINYAL, MENGETAHUI PERBEDAAN MULTIMETER RMS DAN NON-RMS.
CCXIX. RUMUS UNTUK VRMS PADA AC DIDAPATKAN
CCXX. SINUSOIDAL

: VP / 2

CCXXI. TRIANGEL

: VP / 3

CCXXII.

SQUARE : VP

CCXXIII.
CCXXIV.

CCXXV.
REFERENSI
[1] scele.ui.ac.id/Modul PTP Mengukur Dengan Multimeter True RMS
CCXXVI.
CCXXVII.
CCXXVIII.

MALVINO ALBERT, BATES J DAVID. 2007. ELECTRONIC PRINCIPLES 7TH EDITION.


MORRIS ALAN S, 2001. MEASUREMENT AND INSTRUMENTATION PRINCIPLES.