Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat Asung Kerta Wara Nugraha-Nya makalah ini dapat diselesaikan. Makalah
ini membahas tentang Desain dengan Alam dan Penampilan Alam Dalam Desain yang
utamanya mengambil objek sebuah bangunan umum non komersial seperti bangunan dengan
fungsi Banjar atau Puskesmas yang dimana ini merupakan salah satu bagian pembahasan
dalam mata kuliah Ekologi Arsitektur, Fakultas Teknik Arsitektur, Universitas Udayana.
Dalam penyusunannya, makalah ini mengambil materi dari beberapa sumber literatur yang
diantaranya didapatkan dari tim pengajar mata kuliah ini. Maka dari itu diucapkan
terimakasih kepada orang-orang yang terlibat dalam mendukung proses penyelesaian
makalah ini baik dalam bentuk dukungan materi, sumber literatur, maupun moral. Adapun
diantaranya :
1. Dr. Ir. Widiastuti, MT. Sebagai koordinator dalam mata kuliah Ekologi Arsitektur
dan dosen yang memberikan materi Ekologi secara garis besar.
2. Ni Made Mitha Mahastuti,ST, MT. Sebagai tim dosen sekaligus dosen
pembimbingan dalam fokus teori yang dibahas.
3. Teman-teman yang memberikan dukungan moral dalam penyelesaian makalah ini.
Diharapkan makalah ini dapat menjadi refrensi untuk mengetahui lebih banyak
tentang apa yang dimaksud dengan desain dengan alam dan penampilan alam dalam desain
kaitannya dalam arsitektur yang ekologis.

Denpasar, 14 Februari 2014


Penulis,

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................1
DAFTAR ISI..............................................................................................................................2
BAB I.........................................................................................................................................4
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 1

PENDAHULUAN......................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................4
1.3 Tujuan...............................................................................................................................5
1.4 Metode Penulisan.............................................................................................................5
BAB II........................................................................................................................................6
URAIAN TEORI........................................................................................................................6
2.1 Ekologi Arsitektur............................................................................................................6
2.1.1 Pola Perencanaan Eko-Arsitektur..............................................................................6
2.1.2 Perencanaan Hemat Energi dan Bahan Baku.............................................................6
2.2 Prinsip Ekologi dan Aspek Sadar Lingkungan.................................................................7
2.3 Arsitektur Tropis...............................................................................................................7
2.3.1 Kriteria Perencanaan pada Iklim Tropis Lembab......................................................9
2.3.2 Penerangan Alami pada Siang Hari.........................................................................11
BAB III.....................................................................................................................................14
KONDISI FOKUS...................................................................................................................14
3.1 Banjar Gerenceng...........................................................................................................14
3.1.1 Proses Perancangan dan Pengerjaan........................................................................15
3.2.2 Posisi dan Fungsi.....................................................................................................18
BAB IV....................................................................................................................................19
ANALISIS................................................................................................................................19
4.1 Desain Dengan Alam......................................................................................................19
4.1.1 Pengaplikasian desain arsitektur tropis....................................................................19
4.1.2 Pola komposisi masa................................................................................................21
4.1.3 Sosial Budaya..........................................................................................................22
4.2 Tampilan Alam Dalam Desain........................................................................................23
4.2.1 Material bangunan...................................................................................................24
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 2

BAB V......................................................................................................................................25
PENUTUP................................................................................................................................25
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................................25
3.2 Saran...............................................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................27

BAB I
PENDAHULUAN

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 3

1.1 Latar Belakang


Pembuatan makalah ini dilatarbelakangi oleh penugasan dari mata kuliah Ekologi
Arsitektur yang dimana dalam tugas ini diberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk
melakukan observasi lapangan secara langsung menuju objek yang dibahas dalam fokus teori
yang didapat. Dengan demikian, sistem pembelajaran akan menjadi lebih efektif dengan
memberikan pengalaman langsung yang nantinya akan menjadi sumber ilmu bagi mahasiswa
tersebut. Observasi yang dilakukan pada objek akan dikaitkan dengan teori yang didapat
untuk dijadikan sebuah laporan hasil studi berupa makalah.
Selain itu, latar belakang dari pembuatan makalah ini adalah tidak lain untuk
memberikan kesadaran bagi mahasiswa yang notabene merupakan calon Arsitek masa depan
untuk lebih perduli terhadap lingkungan dalam hal ekologi arsitektur. Faktor alam dan
lingkungan memang sering dipandang sebelah mata akibat adanya sifat egois dari masingmasing individu terutama dalm hal merancang sebuah bangunan yang menggunakan teori
introfert yiatu membangun tanpa memperdulikan keadaan sekitar dengan berfokus pada area
yang merupakan wilayah dimana bangunan itu berdiri.
Faktor alam dan lingkungan terkadang menjadi faktor besar dalam penilaian
kesuksesan seorang perancang terhadap rancangannya. Hal ini dilihat dari seberapa besar
kepedulian perancang tersebut dengan alam dan lingkungan disekitar lokasi bangunan yang
dirancang. Tidak hanya itu, kontribusi yang diberikan oleh perancangn tersebut kepada alam
dan lingkungan disekitarnya juga menjadi titik penialain bagi seorang perancang yang dapat
dikatakan sebagai perancangan yang ekologis. Inilah hal yang ingin disampaikan dalam
makalah ini yang merupakan salah satu latar belakang dalam pembuatan makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain?
2. Bangunan apa yang dijadikan objek pembahasan?
3. Bagaimana hasil analisa terhadap bangunan tersebut sesuai teori yang digunakan?

1.3 Tujuan
Tujuan utama dalam pembuatan makalah ini adalah membahas lebih dalam apa yang
dimaksud dalam teori yang dibahas yaitu desain dengan alam dan tampilan alam dalam
desain. Dengan mengetahui hal tersebut tentunya akan memberikan wawasan yang lebih
tentang hal yang berkaitan dengan Arsitektur yang memiliki nilai ekologi utamanya dalam
bangunan umum non komersial seperti puskesmas dan banjar. Selain itu yang menjadi tujuan
dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memberikan laporan hasil observasi terhadap objek
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 4

yang digunakan dalam pembahasan makalh ini kaitannya dengan teori ekologi desain dengan
alam dan tampilan alam dalam desain.
Tujuan yang tidak kalah penting dalam makalah ini adalah hasil analisa dari objek
yang digunakan sebagai bahan pembahasan berkaitan dengan teori yang didapatkan mengenai
ekologi arsitektur. Analisa bangunan dalam hal penilaian bangunan ini dilakukan dengan
melakukan observasi secara langsung pada bangunan yang dijadikan objek dan
mengaitkannya dengan landasan teori yang didapatkan mengenai desain dengan alam dan
tampilan alam dalam desain.

1.4 Metode Penulisan


1.
2.
3.
4.
5.

Pengumpulan sumber uraian teori


Observasi lapangan
Pembuatan laporan berupa makalah hasil analisa
Bimbingan dengan dosen pembimbing
Penyusunan makalah dengan revisi hasil bimbingan

BAB II
URAIAN TEORI
2.1 Ekologi Arsitektur
Menurut sumber yang didapat dari http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_ekologi
dituliskan bahwa Arsitektur ekologis merupakan pembangunan berwawasan lingkungan,
dimana memanfaatkan potensi alam semaksimal mungkin.
Kualitas arsitektur biasanya sulit diukur, garis batas antara arsitektur yang bermutu
dan yang tidak bermutu. Kualitas arsitektur biasanya hanya memperhatikan bentuk bangunan
dan konstruksinya, tetapi mengabaikan yang dirasakan sipengguna dan kualitas hidupnya.
Apakah pengguna suatu bangunan merasa tertarik.

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 5

2.1.1 Pola Perencanaan Eko-Arsitektur


1. Dinding, atap sebuah gedung sesuai dengan tugasnya, harus melidungi sinar panas,
angin dan hujan.
2. Intensitas energi baik yang terkandung dalam bahan bangunan yang digunakan saat
pembangunan harus seminal mungkin.
3. Bangunan sedapat mungkin diarahkan menurut orientasi Timur-Barat dengan bagian
Utara-Selatan menerima cahaya alam tanpa kesilauan
4. Dinding suatu bangunan harus dapat memberi perlindungan terhadap panas. Daya
serap panas dan tebalnya dinding sesuai dengan kebutuhan iklim/ suhu ruang di
dalamnya. Bangunan yang memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa
menghemat banyak energi.
2.1.2 Perencanaan Hemat Energi dan Bahan Baku
1. Perhatian pada iklim setempat Penggunaan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim
Pembangunan yang menghemat energi Orientasi terhadap sinar matahari dan angin
Penyesuain pada perubahan suhu siang-malam
2. Subsitusi sumber energi yang tidak dapat diperbaharui Meminimalisasi penggunaan
energi untuk alat pendingin Menghemat sumber energi yang tidak dapat diperbaharui
3. Penggunaan bahan bangunan yang dapat dibudidayakan dan yang menghemat energi
Memilih bahan bahan bangunan menurut penggunaan energi Menghemat sumber
bahan mentah yang tidak dapat diperbaharui Minimalisasi penggunaan sumber bahan
yang tidak dapat diperbaharui Upaya memajukan penggunaan energi alternatif
Penggunaan kembali sisa-sisa bangunan (limbah) Optimalisasi bahan bangunan yang
dapat dibudidayakan
4. Pembentukan peredaran yang utuh di antara peneyediaan dan pembuangan bahan
bangunan, energi, dan air Gas kotor, air limbah, sampah, dihindari sejauh mungkin
Menghemat sumberdaya alam (Udara, air, dan tanah)Perhatian pada bahan mentah
dan sampah yang tercemar erhatian pada peredaran air bersih dan limbah air
5. Penggunaan teknologi tepat guna yang manusiawi Memanfaatkan/ mengguanakan
bahan bangunan bekas pakai. Menghemat hasil produk bahan bangunan.Mudah
dirawat dan dipelihara Produksi yang sesuai dengan pertukangan hipotesis Gaia

2.2 Prinsip Ekologi dan Aspek Sadar Lingkungan


Menurut salah satu tim dosen pengajar dalam mata kuliah Ekologi Arsitektur yaitu I
Nyoman Susanta, ST, M.Erg menuliskan bahwa dalam Ekologi Arsitektur atau dalam
Green Architecture terdapat 6 prinsip yaitu :
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 6

1.
2.
3.
4.
5.

Konservasi Energi
Bersahabat dengan iklim
Meminimalisir perubahan
Respect terhadap pengguna
Respect terhadap site holism
Selain itu dituliskan juga dalam aspek sadar lingkungan terdapat 6 aspek yang terdiri

didalamnya yaitu :
1. Teknis
2. Ekonomi
3. Ergonomis
4. Sosial Budaya
5. Hemat Energi
6. Pelestarian Lingkungan

2.3 Arsitektur Tropis


Arsitektur tropis merupakan arsitektur yang berada di daerah tropis dan telah
beradaptasi dengan iklim tropis. Indonesia sebagai daerah beriklim tropis memberikan
pengaruh yang cukup signifikan terhadap bentuk bangunan rumah tinggal, dalam hal ini
khususnya rumah tradisional. Kondisi iklim seperti temperatur udara, radiasi matahari, angin,
kelembaban, serta curah hujan, mempengaruhi desain dari rumah-rumah tradisional.
Masyarakat pada zaman dahulu dalam membangun rumahnya berusaha untuk menyesuaikan
kondisi iklim yang ada guna mendapatkan desain rumah yang nyaman dan aman.

Gambar 1, 2.3 Perumahan tradisional pulau samosir

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 7

Sumber : Bangunan Arsitektur yang Ramah Lingkungan Menurut Arsitektur Tropis,


Ahmad Nidlom, 2001

Di samping itu, arsitektur rumah tradisional sebagai ungkapan bentuk rumah tinggal
karya manusia adalah merupakan salah satu unsur budaya yang tumbuh dan berkembang
bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan suatu masyarakat, suku atau
bangsa yang unsur-unsur dasarnya tetap bertahan untuk kurun waktu yang lama dan tetap
sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan kebudayaan suatu masyarakat, suku, atau
bagsa yang bersangkutan. Oleh karena itu, arsitektur tradisional, pada khususnya arsitektur
rumah tradisional, akan merupakan salah satu identitas sebagai pendukung kebudayaan
masyarakat, suku, atau bangsa tersebut.

Gambar 2, 2.3 Rumah Tradisional Joglo


Sumber : Bangunan Arsitektur yang Ramah Lingkungan Menurut Arsitektur Tropis,
Ahmad Nidlom, 2001

Konsep rumah tropis, pada dasarnya adalah adaptasi bangunan terhadap iklim tropis,
dimana kondisi tropis membutuhkan penanganan khusus dalam desainnya. Pengaruh
terutama dari kondisi suhu tinggi dan kelembaban tinggi, dimana pengaruhnya adalah pada
tingkat kenyamanan berada dalam ruangan. Tingkat kenyamanan seperti tingkat sejuk udara
dalam rumah, oleh aliran udara, adalah salah satu contoh aplikasi konsep rumah tropis.
Meskipun konsep rumah tropis selalu dihubungkan dengan sebab akibat dan adaptasi bentuk
(tipologi) bangunan terhadap iklim, banyak juga interpretasi konsep ini dalam tren yang
berkembang dalam masyarakat; sebagai penggunaan material tertentu sebagai representasi
dari kekayaan alam tropis, seperti kayu, batuan ekspos, dan material asli yang diekspos
lainnya.

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 8

(Ahmad Nidlom : 2001 : Bangunan Arsitektur yang Ramah Lingkungan Menurut


Arsitektur Tropis)
2.3.1 Kriteria Perencanaan pada Iklim Tropis Lembab
Kondisi iklim tropis lembab memerlukan syarat-syarat khusus dalam
perancangan bangunan dan lingkungan binaan, mengingat ada beberapa factor- faktor
spesifik yang hanya dijumpai secara khusus pada iklim tersebut, sehingga teori-teori
arsitektur, komposisi, bentuk, fungsi bangunan, citra bangunan dan nilai-nilai estetika
bangunan yang terbentuk akan sangat berbeda dengan kondisi yang ada di wilayah
lain yang berbeda kondisi iklimnya. Menurut DR. Ir. RM. Sugiyatmo, kondisi yang
berpengaruh dalam perancangan bangunan pada iklim tropis lembab adalah, yaitu :
1. Kenyamanan Thermal
Usaha untuk mendapatkan kenyamanan thermal terutama adalah mengurangi
perolehan

panas,

memberikan

aliran

udara

cukup

yang

dan membawa panas


keluar

bangunan

serta

mencegah

radiasi panas, baik


radiasi
Gambar 3, 2.3.1 Gambar ilustrasi sirkulasi
penghawaan dalam ruangan
Sumber :
https://himaartra.wordpress.com/2012/12/10/751/

matahari
dari

langsung
maupun
permukaan

dalam yang panas.


Perolehan panas dapat dikurangi dengan menggunakan bahan atau material
yang mempunyai tahan panas yang besar, sehingga laju aliran panas yang menembus
bahan tersebut akan terhambat.Permukaan yang paling besar menerima panas adalah
atap. Sedangkan bahan atap umumnya mempunyai tahanan panas dan kapasitas panas
yang lebih kecil dari dinding. Untuk mempercepat kapasitas panas dari bagian atas
agak sulit karena akan memperberat atap. Tahan panas dari bagian atas bangunan
dapat diperbesar dengan beberapa cara, misalnya rongga langit-langit, penggunaan
pemantul panas reflektif juga akan memperbesar tahan panas.
Cara lain untuk memperkecil panas yang masuk antara lain yaitu :
1. Memperkecil luas permukaan yang menghadap ke timur dan barat.
2. Melindungi dinding dengan alat peneduh.
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 9

Perolehan panas dapat juga dikurangi dengan memperkecil penyerapan panas


dari permukaan, terutama untuk permukaan atap. Warna terang mempunyai
penyerapan radiasi matahari yang kecil sedang warna gelap adalah sebaliknya.
Penyerapan panas yang besar akan menyebabkan temperatur permukaan naik.
Sehingga akan jauh lebih besar dari temperatur udara luar. Hal ini menyebabkan
perbedaan temperatur yang besar antara kedua permukaan bahan, yang akan
menyebabkan aliran panas yang besar.

2. Aliran Udara Melalui Bangunan


Kegunaan dari aliran udara atau ventilasi adalah :
1. Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yaitu penyediaan oksigen untuk pernafasan,
membawa asap dan uap air keluar ruangan, mengurangi konsentrasi gas-gas dan
bakteri serta menghilangkan bau.
2. Untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan thermal, mengeluarkan panas, membantu
mendinginkan bagian dalam bangunan.
Aliran udara terjadi karena adanya gaya thermal yaitu terdapat perbedaan
temperature antara udara di dalam dan diluar ruangan dan perbedaan tinggi antara
lubang ventilasi. Kedua gaya ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk
mendapatkan jumlah aliran udara yang dikehendaki. Jumlah aliran udara dapat
memenuhi kebutuhan kesehatan pada umumnya lebih kecil daripada yang diperlukan
untuk memenuhi kenyamanan thermal. Untuk yang pertama sebaiknya digunakan
lubang ventilasi tetap yang selalu terbuka. Untuk memenuhi yang kedua, sebaiknya
digunakan lubang ventilasi yang bukaannya dapat diatur.
3. Radiasi Panas
Radiasi panas dapat terjadi oleh sinar matahari yang langsung masuk ke dalam
bangunan

dan

dari

permukaan yang lebih


panas dari sekitarnya,
untuk mencegah hal itu
dapat digunakan alat-alat
peneduh (Sun Shading
Gambar 4, 2.3.1 Gambar beberapa jenis-jenis
shading device

Device).
Pancaran

panas

dari

suatu permukaan akan

memberikan ketidaknyamanan thermal bagi penghuni, jika beda temperatur udara


Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 10

melebihi 40C. hal ini sering kali terjadi pada permukaan bawah dari langit-langit atau
permukaan bawah dari atap.
(Ahmad Nidlom : 2001 : Bangunan Arsitektur yang Ramah Lingkungan
Menurut Arsitektur Tropis.
2.3.2 Penerangan Alami pada Siang Hari
Cahaya alam siang hari yang terdiri dari :
1. Cahaya matahari langsung.
2. Cahaya matahari difus
Di Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya cahaya ini untuk
penerangan siang hari di dalam bangunan. Tetapi untuk maksud ini, cahaya matahari
langsung tidak dikehendaki masuk ke dalam bangunan karena akan menimbulkan pemanasan
dan penyilauan, kecuali sinar matahari pada pagi hari. Sehingga yang perlu dimanfaatkan
untuk penerangan adalah cahaya langit.
Untuk bangunan berlantai banyak, makin tinggi lantai bangunan makin kuat potensi
cahaya langit yang bisa dimanfaatkan. Cahaya langit yang sampai pada bidang kerja dapat
dibagi dalam 3 (tiga) komponen :
1. Komponen langit.
2. Komponen refleksi luar
3. Komponen refleksi dalam
Dari ketiga komponen tersebut komponen langit memberikan bagian terbesar pada
tingkat penerangan yang dihasilkan oleh suatu lubang cahaya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi besarnya tingkat penerangan pada bidang kerja tersebut adalah :
1. Luas dan posisi lubang cahaya.
2. Lebar teritis
3. Penghalang yang ada dimuka lubang cahaya
4. Faktor refleksi cahaya dari permukaan dalam dari ruangan.
5. Permukaan di luar bangunan di sekitar lubang cahaya.
Untuk bangunan berlantai banyak makin tinggi makin berkurang pula kemungkinan
adanya penghalang di muka lubang cahaya. Dari penelitain yang dilakukan, baik pada model
bangunan dalam langit buatan, maupun pada rumah sederhana, faktor penerangan siang hari
rata-rata 20% dapat diperoleh dengan lubang cahaya 15% dari luas lantai, dengan catatan
posisi lubang cahaya di dinding, pada ketinggian normal pada langit, lebar sekitar 1 meter,
faktor refleksi cahaya rata-rata dari permukaan dalam ruang sekitar 50% 60% tidak ada
penghalang dimuka lubang dan kaca penutup adalah kaca bening

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 11

Desain rumah tropis bekerja menuju satu tujuan utama dasar: tinggal nyaman tanpa
bergantung pada AC. Hal ini dilakukan dengan moderasi dari tiga variabel: temperatur,
kelembaban dan sirkulasi udara. Victor Olgay dalam bukunya, Desain dengan Iklim,
mengembangkan garis panduan untuk arsitektur iklim responsif dalam empat daerah iklim
yang berbeda, salah satunya adalah lingkungan tropis panas lembab. Merancang sebuah
rumah pasif didinginkan dimulai dengan situs dan mencakup setiap aspek dari rumah sampai
ke warna. (Ahmad Nidlom : 2001 : Bangunan Arsitektur yang Ramah Lingkungan
Menurut Arsitektur Tropis)

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 12

BAB III
KONDISI FOKUS
3.1 Banjar Gerenceng
Menurut informasi yang didapat dari blog yang dimiliki oleh bale banjar ini yaitu
http://www.gerenceng.blogspot.com/ dituliskan bahwa Bale Banjar Gerenceng adalah ruang

pertemuan tradisional warga Dusun Gerenceng dengan suasana kota yang padat. Terletak di
Jalan Sutomo, Desa Pemecutan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, termasuk salahsatu pintu
masuk kota Denpasar. Hampir tidak tersisa ruang yang lengang, kendaraan lewat tak pernah
hentinya, ruang yang dahulu agraris kini telah menjadi ruang urban yang sesak dan bising.
Warga banjar pun kini semakin berkembang pesat, beragam pekerjaan dan asal-usulnya.
Persoalan persoalan urbanisasi menjadi bagian keseharian warga banjar.
Untuk bisa menjawab kondisi tersebut fungsi bale banjar memerlukan sebuah
revitalisasi. Masalah lain adalah usia bangunan
bale banjar yang telah cukup berumur, harus
segera diremajakan agar aktifitas yang ada di
dalamnya dapat terakomodasi secara memadai,
aman dan nyaman.
Mulai 11 Juni 2006 dimulailah renovasi
bale banjar Gerenceng dengan tujuan utama
merekondisi bangunan, pengembalian linggih
Betara

Sri,

pembenahan

tata

ruang,

meningkatkan fleksibilitas dan daya tampung


ruang

serta

kegiatan

banjar.

mensepakati
Gambar 5, 3.1 Lumbung padi yang
dipertahankan keberadaannya
Sumber :
http://photos1.blogger.com/blogger/1553
/3937/1600/Br-GRENCENG-1920.0.jpg

mengantisipasi
Warga

pembiayaan

perkembangan
banjar

telah

pembangunannya

dilakukan secara swadaya dari kas banjar dan


sumbangan-sumbangan sukarela. Konsepsi ini
merupakan salah satu falsafah bale banjar

dengan melakukan gotong royong. Hal yang menarik dari renovasi ini adalah pelestarian
tempat tinggal Dewi Sri (dalam bentuk jineng atau beras bangunan lumbung) yang mewakili
masyarakat agraris.
Renovasi bale banjar ini melibatkan seorang arsitek profesional untuk mempersiapkan
desain. A A. Yoka Sara, seorang arsitek yang dipercayakan untuk tugas ini adalah penghuni
Gerenceng Hamlet. Dia mempersiapkan itu dalam semangat ngaturang ayah (layanan
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 13

pekerjaan sukarela tanpa pembayaran). Sebagai penghuni Gerenceng ia dianggap mengetahui


kompeten semangat dan asal dusun rumahnya. Oleh karena itu, pertimbangan kreatif,
pengalaman panjang dalam desain arsitektur dan pengetahuan dalam karya-karya modern
diharapkan dapat membawa kembali semangat bangunan tradisional dari bale banjar
Gerenceng seperti yang kita dapat amati hari ini.

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 14

3.1.1 Proses Perancangan dan Pengerjaan

Gambar 6, 3.1.1 Sketsa proses transformasi filosofi oleh Yokasara


Sumber : http://www.gerenceng.blogspot.com/

Dimulai

dengan

melakukan

studi

terhadap kondisi masa lalu, kini dan akan datang dengan mengakomodasi pelbagai
komponen yang menunjang bagi terbentuknya proses perencanaan. Munculah
konseptempekan yang secara filosofis membagi ruang berdasarkan wilayah tata letak
yaitu poros yang menjadi pusat serta kangin-kauh dan kelod-kaja yang menjadi
satelitnya.
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 15

Gambar 7, 3.1.1 Gambar kajian letak


dan tata nilai
Sumber :
http://www.gerenceng.blogspot.com/

Gambar 8, 3.1.1 Gambar visualisasi 3D


Sumber : http://www.gerenceng.blogspot.com/

Gagasan dituangkan ke dalam perencanaan arsitektur utama pada ruang bale


banjar dan jineng. Ruang utama bale banjar dibuat dengan atap bersusun dengan
penyangga empat tiang besar. Atap bersusun ini jika dilihat dari atas merupakan
formasi yang membentuk Tri Mandala menyerupai bunga Padma yang bersisi delapan
dan titik tengahnya (puncak) adalah Menur yang terbuat dari tembaga, sebuah harapan
akan semua kegiatan banjar dilindungi pikiran baik yang bersumber dari Dewata
Nawa Sanga.
Filosofi yang digunakan pada atap adalah filosofi yang lazim bagi bangunan
tradisional, yaitu Tiga Dunia (Bhur, Bwah,Swah) yaitu symbol dengan makna adanya
transparansi jiwa. Menur yang terbuat dari tembaga itu berada pada posisi tertinggi,
yang melambangkan Hyang Parama Wisesa. Atap yang artistik ini ditopang oleh
empat pilar yang diberi ornamen dengan materi bata merah memakai pola dan detail
empat tempekan banjar sehingga membentuk formasi purusa-predana. Sedang pada
bagian kelod yang dipisahkan oleh jalan kecil ditempatkan Jineng, dimana dulunya
berada di bawah setinggi jalan, kini dipindahkan ke atas sehingga menjadi lebih tinggi
dan leluasa membentang pandang ke sekelilingnya. Ini juga merupakan bagian dari
usaha untuk melepaskan instrumen banguan agraris dari ruang sekitarnya yang sangat
urban.

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 16

Gambar 9, 3.1.1 Gambar kerja 3D Bale Banjar Gerenceng


Sumber : http://www.gerenceng.blogspot.com/

Pada bagian ruang utama bale banjar menghadap ke dalam, dibuat level
menyerupai panggung yang berfungsi sebagai wadah aktifitas banjar, baik kesenian
maupun kegiatan banjar lainnya. Dengan melalui tangga dari bagian belakang banjar
maka kita akan sampai di lantai dua tempat menyimpan dan berlatih gamelan
sekaligus pada bagian luarnya kita dapat berjalan mengitari sekeliling atap bagian
utama.
Finishing dari tiap bagian dengan pemilihan materi yang beragam dikerjakan
begitu

rapi

memberikan

dan

modern;

penawaran

mampu

ruang

dan

estetika bagi kepentingan saat ini dan


masa depan. Integrasi antara fungsi
tradisional bale banjar dan penataannya
yang bernuansa modern, membuat bale
banjar
menjadi
Gambar 10, 3.1.1 Finishing Bale Banjar
Sumber :
http://www.gerenceng.blogspot.com/

Gerenceng
matching

secara
dengan

kesatuan
ruang

sekitarnya yang urban.

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 17

3.2.2 Posisi dan Fungsi

Gambar 11, 3.1.1 Tampilan Bale banjar Gerenceng dari Jalan Sutomo
Sumber : http://www.gerenceng.blogspot.com/

Jika dilihat dari Jalan Sutomo, maka bale banjar ini akan memberi impresi
yang bukan hanya menarik perhatian kita, tetapi secara kuat memberikan gambaran
dan kesan keindahan yang tercipta dari hasil pencapaian esetetik perancangnya.
Sedari awal, memang bangunan bale banjar Gerenceng ini diposisikan untuk menjadi
sebuah landmark di area memasuki kota Denpasar ini.
Banjar Gerenceng yang baru ini banyak memberikan nilai-nilai baru bagi
aktifitas banjar, seperti disampaikan oleh prajuru Banjar Gerenceng. Mereka bersama
mengakui bahwa selain memberikan kebanggaan bagi Gerenceng, bale banjar yang
baru ini memperkuat tali persaudaraan diantara warga masyarakat. Masyarakat
berharap fungsi banjar akan semakin mengakomodasi setiap kegiatan warga.

Gambar 12, 3.2.2 Proses pengerjaan Bale Banjar Gerencang


Sumber : http://www.gerenceng.blogspot.com/

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 18

BAB IV
ANALISIS
4.1 Desain Dengan Alam
Sebuah desain arsitektur terkadang lebih
berfokus terhadap tampilan bangunan
yang

mengejar

nilai

estetika

dari

bangunan tersebut. Ini terjadi akibat


adanya keegoisan dari Arsitek yang
terlibat dengan hanya berfokus terhadap
apa yang menjadi idealismenya sebagai
Gambar 13, 4.1 Gambar ilustrasi Arsitektur
Tropis
Sumber : minimalistrend.com

seorang Arsitek. Dengan hal ini, banyak


terlihat bangunan-bangunan yang secara

estetika memiliki nilai jual yang sangat tinggi, namun jika dinilai dalam sudut pandang
ekologisnya bangunan tersebut tidak memenuhi syarat dari ekologi arsitektur. Hal ini dapat
dilihat dari penggunaan material yang mengutamakan estetika yang baik daripada berpikir
tentang penggunaan sumber alam yang ada dilingkungan tersebut. Selain itu, bentuk
bangunan yang lebih mengutamakan bentuk-bentuk yang diadopsi dari bentuk bangunan
yang berasal dari luar daerah dengan musim dan keadaan iklim yang berbeda membuat
bangunan tersebut tidak mengtindahkan keadaan lingkungan yang memiliki alam dengan
iklim tropis.
4.1.1 Pengaplikasian desain arsitektur tropis
Pembahasan
Arsitektur

mengenai

Tropis

dari

bangunan ini akan dimulai


dengan gambar disamping
yang didapat langsung dari
sumber

website

milik

perancang bangunan ini.


Gambar 14, 4.1.1 Penggunaan atap limasan
bertumpang pada Bale Banjar Gerenceng
Sumber : yokasara.com

Pada

gambar

disamping

dapat dilihat beberapa hal

yang terkait dengan pembahasan Arsitektur Tropis seperti tentang kenyamanan


thermal, aliran sirkulasi udara melalui bangunan, dan radiasi panas.
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 19

1. Kenyamanan thermal
Kenyamanan Thermal akan dapat dicapai dengan adanya iklim mikro
yang terbentuk atas perancangan sebuah bangunan yang memenuhi standar
dari segi kelembaban, suhu, dll. Pada bangunan ini kenyamanan thermal dapat
dicapai dengan adanya penggunaan atap yang berbentuk limasan dengan
tumpangan atap yang memiliki celah untuk udara panas keluar melalui atap
bangunan. Selain itu suhu dalam bangunan juga terbilang cukup nyaman
dengan membiarkan adanya sirkulasi udara bergerak bebas dengan tidak
adanya dinding penutup pada beberapa sisi bangunan.
Namun dengan tidak menggunakan dinding pada beberapa sisi
bangunan terutama pada sisi barat bangunan menjadi salah satu kelemahan
pada bangunan ini. Hal ini akan menyebabkan radiasi panas matahari akan
dengan mudah masuk kedalam bangunan karena memang bangunan ini
menggunakan arah barat sebagai arah orientasi bangunannya.
2. Aliran sirkulasi udara melalui bangunan
Seperti pada pembahasan sebelumnya yang mengatakan bahwa
bangunan ini didesain tanpa memnggunakan dinding penutup pada beberapa
sisi nya. Dengan demikian aliran udara yang melalui bangunan ini akan sangat
leluasa untuk bergerak dan melalui bangunan ini. Ditambah dengan
penggunaan pola masa jamak yang memberikan jarak antara setiap bangunan
akan memberikan keleluasaan udara untuk bergerak baik didalam maupun
diluar bangunan.
3. Radiasi panas
Dengan desain yang tidak menggunakan dinding pada beberapa sisi
bangunan memamng memiliki kelemahan pada sisi perlindungan civitas
terhadap radiasi panas matahari tanpa adanya pembatas dinding. Hal ini
semakin diperparah dengan bangunan ini yang menghadap kearah barat dan
overstek atap yang dapat dikatakan kurang memadai untuk menahan sinar
matahari langsung untuk masuk kedalam bangunan secara langsung. Dengan
demikian, radiasi matahari kedalam bangunan akan sangat mudah untuk
masuk dan mengganggu kenyamanan dari civitas didalam bangunan terutama
pada sore hari.
4.1.2 Pengaplikasian Prinsip Ekologi Arsitektur
Dalam pengaplikasian prinsip ekologi arsitektur terhadap budaya dan tradisi
ditunjukkan dengan menggunakan pola masa jamak yang menjadi tradisi bangunan di
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 20

Bali

yang

dimana

bangunan

tersebut

terpisah satu sama lain


berdasarkan

fungsinya

masing-masing
memiliki
tertentu
Gambar 15, 4.1.2 Contoh susunan pola masa
jamak
Sumber : www.wacananusantara.org

dan

jarak-jarak
pada

setiap

antara bangunan. Namun


jika dilihat berdasarkan

yang sesuai dengan dasar teori yang diuraikan pada bab sebelumnya yaitu tentang
pola perencanaan, hemat energi dan bahan baku, Bangunan ini terbilang cukup
memenuhi prinsip tersebut.
Dalam hal pola perencanaan eko arsitektur bangunan ini memang cukup
memiliki nilai dengan adanya penggunaan prinsip arsitektur tropis yang digunakan
pada perencanaan bangunan ini, dengan demikian keberadaan bangunan yang ada di
daerah tropis akan dapat didukung dengan adanya desain berbasis arsitektur tropis
tersebut. Namun kesalahan rancangan ini terlihat pada pemilihan keputusan desain
dengan tidak menggunakan dinding pada bagian sisi barat bangunan yang menjadi
arah orientasi bangunan terhadap jalan. Hal ini sangat merugikan mengingat radiasi
panas matahari yang seharusnya dapat dihentikan dengan adanya pembatas ruang
seperti dinding tidak dapat terlihat pada bangunan ini.
Dari sisi lain prinsip ekologi arsitektur yaitu hemat energy dan bahan baku,
bangunan ini memiliki nilai yang cukup baik. Hal ini terlihat dengan bukaan
bangunan yang membuat adanya biasan sinar yang masuk kedalam bangunan secara
alami dan udara yang bersirkulasi dengan bebas didalam bangunan. Hal ini akan
berdampak besar pada penghematan energy karena tidak diperlukannya penggunaan
lampu pada aktivitas disiang hari dan tidak perlunya menggunakan alat elektronik
untuk penghawaan dan pengkondisian udara pada bangunan ini.\
Untuk bahan baku banguna terbilang cukup baik dalam hal penghematan.
Dengan menggunakan bata merah sebagai bahan utama bangunan yang terbilang
cukup familiar dengan bangunan di Kota Denpasar, batu bata merah menjadi bahan
yang mudah ditemukan dan memiliki nilai tradisi dan budaya khususnya di Kota
Denpasar. Selain itu penggunaan material alang-alang sebagai penutup atap jineng
dan genteng sebagai penutup atap bangunan utama memberikan kemudahan dalam
pencarian dan persiapan bahan baku ketika perancangan. Namun adanya penggunaan
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 21

ornament dan dekorasi yang cukup banyak guna memberikan estetika dan nilai tradisi
dan budaya pada bangunan ini memberikan nilai kurang pada penghematan bahan
baku dari bangunan ini.
4.1.3 Sosial Budaya
Nilai sosial budaya
dalam sebuah perancangan
bangunan

modern

terkadang memiliki nilai


yang sangat minim. Namun
hal ini tidak ditunjukkan
oleh bangunan ini. Secara
Gambar 16, 4.1.3 Dinding yang terbuka
menuju ke dalam Bale banjar

tampilan

bangunan,

bangunan ini memiliki batas

area atau batas site yang hanya dibatasi oleh dinding yang tidak terlalu tinggi. Selain
itu, area terbuka pada setiap ruangan yang tidak ditutup dengan dinding massive
menjadikan kegiatan apapun didalam bangunan ini akan terlihat dari luar area
bangunan. Yang paling menonjol adalah masih dipertahankannya bentuk-bentuk
bangunan yang menjadi bangunan bersejarah dari bangunan bale banjar Gerenceng
tersebut.
Dengan beberapa hal yang disebutkan diatas tentunya bangunan ini terbilang
bangunan yang sangat memasyarakat. Bangunan Bale Banjar Gerenceng ini
menggunakan konsep desain yang ekstrofert dan hal inilah yang menjadikan
bangunan ini sangat memasyarakat. Dengan desain bangunan seperti ini sangat cocok
digunakan pada bangunan yang bersifat publik atau umum namun non komersial. Ini
akan terlihat dengan adanya warga dusun yang melakukan kegiatan bersama didalam
bangunan tanpa merasakan adanya batas antara civitas didalam area bangunan dengan
yang berada diluar bangunan.
Dengan hal tersebut diatas menunjukkan bahwa bangunan ini cukup memiliki
nilai untuk sudut pandang desain dengan alam. Dengan mengindahkan kondisi
lingkungan yang dimana iklim disekitar bangunan adalah iklim tropis. Penggunaan
energy alam sebagai energy utama yang digunakan dalam bangunan ini seperti udara
atau penghawaan alami dan pencahayaan alami menjadi salah satu pertimbangan
untuk menyebutkan bahwa bangunan ini adalah bangunan yang menggunakan desain
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 22

dengan alam. Selain itu keterbukaan bangunan ini terhadap lingkungan dan masih
adanya pengaplikasian nilai budaya dalam bangunan ini d membuat bangunan ini
memiliki niali social budaya yang sangat tinggi.

4.2 Tampilan Alam Dalam Desain


Tampilan alam dalam desain adalah
bagaimana sebuah rancangan bangunan
membuat adanya kontribusi alam kedalam
bangunan

tersebut

dan

sebaliknya.

Biasanya hal ini diaplikasikan dengan cara


penggunaan

material

bangunan

yang

berasal dari alam disekitarnya untuk


digunakan sebagai bahan atau material
Gambar 17, 4.2 Contoh tampilan alam dalam
desain
Sumber : inhabitat.com

bangunan tersebut. Dengan cara demikian


maka tampilan bangunan bahkan bagian

dalam bangunan akan terlihat selaras dan senada dengan lingkungan disekitarnya.
Keuntungan dari hal tersebut adalah penghematan biaya dalam pembuatan bangunan karena
dengan penggunaan bahan dari alam sekitar akan membuat biaya semakin dihemat. Selain
itu, ketahanan material terhadap kondisi alam sekitar atau iklim mikro disekitar site akan
sangat baik karena memang apapun yang ada di alam utamanya disekitar site tentunya sudah
sangat teruji dapat bertahan dalam kondisi alam dan iklim sedemikian rupa.
Selain penggunaan material dan bahan dari alam, membuat area hijau didalam area
bangunan juga merupakan salah satu cara membuat tampilan alam dalam desain. Dengan
adanya area hijau didalm bangunan akan memberikan kesejukan terhadap area bangunan
tersebut. Kesejukan dan oksigen yang dihasilkan oleh sebuah pohon tentunya akan dapat
memberikan kenyamanan terhadap civitas didalam bangunan tersebut. Area hijau ini adalah
wujud dari kontribusi kita terhadap alam disekitar dengan membantu kelangsungan ekosistem
tumbuhan hijau pada alam.
4.2.1 Material bangunan
Penggunaan material dalam bagunan ini adalah salah satu titik lemah
daribangunan ini jika dinilai dari segi ekologis bangunan. Hal ini disebabkan oleh
penggunaan material berat yang umumnya kurang mengindahkan kondisi alam dan
iklim mikro pada area site. Adapun bahan tersebut adalah penggunaan material beton
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 23

sebagai inti dari struktur bangunan. Ini membuat


tampilan

bangunan

menjadi

kaku

dengan

penggunaan balok-balok beton disetiap sudut


bangunan. Penggunaan beton tentunya kurang
mengindahkan kondisi alam pada daerah tropis
yang dikenal dengan banyaknya sumber daya alam
yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan
seperti kayu dan bambu.
Dengan penggunaan material beton sebagai
material utama, bangunan ini tidak sesuai dengan
salah satu syarat bangunan ekologis yaitu syarat
ekonomis.

Penggunaan

material

dari

alam

Gambar 18, 4.2.1 Penggunaan


beton pada bangunan
Sumber :
http://www.gerenceng.blogspot
.com/

tentunya salah satu cara untuk mencapai srayat ekonomis tersebut. Ini tentunya karena
ketersediaan bahan material dari alam yang melimpah dan layak digunakan.
Namun disamping penggunaan beton yang tidak mengindahkan kondisi alam, terdapat
pengunaan

batu

bata

merah

sebagi bahan finishing estetika


dari bangunan ini. Penggunaan
batu bata merah pada tampilan
bangunan

ini

mencerminkan

kepedulain perancang terhadap


tradisi dari lingkungan sekitar.
Batu bata merah yang identik
Gambar 19, 4.2.1 Penggunaan material
batu bata merah
Sumber :

dengan

bangunan

Arsitektur

Bali

membuat bangunan ini memiliki budaya

dan tradisi didalam tampilannya. Dengan demikian kontribusi bangunan terhadap


kelestarian budaya dan tradisi disekitar memiliki nilai lebih.

BAB V
PENUTUP

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 24

3.1 Kesimpulan
Sebuah karya arsitektur tidak haya dinilai berdasarkan seberapa baik atau menarik
estetika yang ditampilkan oleh bangunan tersebut. Selain dapat memenuhi fungsi dan efektif
dalam penggunaannya, hubungan yang sinergi antara bangunan dengan alam juga menjadi
nilai yang penting dalam sebuah perancangan bangunan. Hal ini akan muncul dengan adanya
penggunaan konsep ekologi dalam perancangan sebuah bangunan. Konsep ini akan membuat
bangunan dengan alam dapat berjalan tanpa saling mengganggu dan saling menguntungkan.
Banjar Gerenceng ini memiliki nilai yang cukup baik dalam hal pengaplikasian
Arsitektur Tripis pada bangunan. Dengan menggunakan atap limasan, dinding terbuka,
mengutamakan sirkulasi udara, menggunakan bahan material yang umum dan alami,
bangunan ini menjadi bangunan yang sangat mendukung iklim yang ada dimana bangunan ini
berdiri. Penghematan energy juga didapatkan dengan adanya sirkulasi udara yang baik dan
adanya pencahayaan alami yang masuk kedalam bangunan.
Penggunaan desain bangunan tanpa dinding penutup pada beberapa sisi bangunan
khususnya pada arah barat yang menjadi orientasi bangunan terhadap jalan menjadikan
bangunan ini sedikit buruk dalam hal penanggulangan radiasi panas sinar matahari langsung
di siang hingga sore hari. Hal ini diperparah dengan minimnya penggunaan pohon sebagai
penghalang radiasi matahari. Namun dibalik kelemahan tersebut, dengan tidak menggunakan
dinding pada bagian sisi barat bangunan yang menjadi orientasi tersebut membuat bangunan
ini terkesan familiar dengan warga dan orang-orang yang melewatinya. Hal ini lah yang
membuat bangunan ini memiliki nilai social yang tinggi dengan membuat Banjar sebagai
balai pertemuan dengan sangat familiar dan terkesan mengundang warga untuk datang.

3.2 Saran
Seorang Arsitek harus belajar mencoba bersinergi dengan alam guna menciptakan
hubungan yang harmonis antara karyanya dengan alam itu sendiri. Dengan menahan egoisme
dari Arsitek tersebut yang hanya mementingkan tampilan bangunan sebagai yang utama dapat
menjadi salah satu jembatan menuju kepeduliuan terhadap lingkungan dan alam sekitar.
Dengan memperhatikan faktor alam dan lingkungan dengan tetap mengaplikasikan estetika
yang baik pada bangunan tentunya akan memperlengkap nilai yang akan dihasilkan oleh
bangunan tersebut.
Dalam rancangan Banjar Gerenceng ini sebaiknya lebih ditekankan pada efektivitas
bangunan terhadap aktivitas dan civitas pengguna bangunan dengan memberikan desain yang
fungsional pada bangunan. Dengan lebih memperhatikan kepentingan estetika bangunan,
Penghematan bahan baku yang dapat menghemat biaya pembangunan tidak akan dapat
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 25

dicapai. Selain itu kurangnya minimnya penggunaan pohon sebagai penghalang sinar
matahari langsung membuat orientasi bangunan yang menghadap kearah barat dan tidak
adanya dinding sebagai partisi menjadi masalah pada bangunan yang mengakibatkan dengan
bebasnya radiasi matahari langsung masuk kedalam bangunan dan mengurangi rasa nyaman
civitas yang beraktivitas didalam bangunan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ahmad Nidlom : 2001 : Bangunan Arsitektur yang Ramah Lingkungan Menurut
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Arsitektur Tropis
http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_ekologi
inhabitat.com
I Nyoman Susanta, ST, M.Erg
minimalistrend.com
yokasara.com
www.wacananusantara.org
Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 26

Ekologi Arsitektur | Desain dengan alam dan tampilan alam dalam desain 27