Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Pengertian
Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos yang
berarti mucus, suatu cairan yang dianggap jahat mengalir dari otak ke
sendi dan struktur lain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri atau
dengan kata lain, setiap kondisi yang disertai kondisi nyeri dan kaku pada
sistem muskuloskeletal disebut reumatik termasuk penyakit jaringan ikat.
Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik
kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan
tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh (Hidayat, 2006).
Osteoartritis atau rematik adalah penyakit sendi degeneratif dimana
terjadi kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan
berhubungan dnegan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan
sendi besar yang menanggung beban
Secara klinis osteoartritis ditandai dengan nyeri, deformitas,
pembesaran sendi dan hambatangerak pada sendi-sendi tangan dan
sendi besar. Seringkali berhubungan dengan trauma maupun mikrotrauma
yang berulang-ulang, obesitas, stress oleh beban tubuh dan penyakitpenyakit sendi lainnya.
2. Klasifikasi
Reumatik dapat dikelompokkan atas beberapa golongan, yaitu :
a. Osteoartritis.
Penyakit merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang
berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis
ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan
gerak pada sendi sendi tangan dan sendi besar yang menanggung
beban ini.
b. Artritis Rematoid.
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik
dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh
organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah

penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya.


Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat
lelah.
c. Polimialgia Reumatik.
Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri
dan kekakuan yang terutama mengenai otot ekstremitas proksimal, leher,
bahu dan panggul. Terutama mengenai usia pertengahan atau usia lanjut
sekitar 50 tahun ke atas.
d. Artritis Gout (Pirai).
Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran
khusus, yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari
pada wanita. Pada pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan
pada wanita biasanya mendekati masa menopause.
3. Etiologi
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa
faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain:
a. Usia lebih dari 40 tahun
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor
penuaan adalah yang terkuat. Akan tetapi perlu diingat bahwa
osteoartritis bukan akibat penuaan saja. Perubahan tulang rawan
sendi pada penuaan berbeda dengan eprubahan pada osteoartritis.
b. Jenis kelamin wanita lebih sering
Wanita lebih sering terkena osteosrtritis lutut dan sendi.
Sedangkan

laki-laki

lebih

sering

terkena

osteoartritis

paha,

pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan, dibawah 45


tahun, frekuensi psteoartritis kurang lebih sama antara pada laki-laki
dan wanita, tetapi diats usia 50 tahunh (setelah menopause)
frekuensi osteoartritis lebih banyak pada wanita daripada pria. Hal ini
menunjukkan

adanya

peran

hormonal

pada

patogenesis

osteoartritis.
c. Suku bangsa
Nampak perbedaan prevalensi osteoartritis pada masingn-masing
suku bangsa. Hal ini mungkin berkaitan dnegan perbedaan pola hidup

maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan


tulang.
d. Genetik
e. Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih, nyata berkaitan dengan meningkatnya
resiko untuk timbulnya osteoartritis, baik pada wanita maupun pria.
Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan oateoartritis pada
sendi yang menanggung beban berlebihan, tapi juga dnegan osteoartritis
sendi lain (tangan atau sternoklavikula). Olehkarena itu disamping faktor
mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban mekanis), diduga
terdapat faktor lain (metabolit) yang berpperan pada timbulnya kaitan
tersebut.
f. Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus
menerus berkaitan dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu.
Olahraga yang sering menimbulkan cedera sendi yang berkaitan dengan
resiko osteoartritis yang lebih tinggi.
g. Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan dengan
timbulnya oateoartritis paha pada usia muda.
h. Kepadatan tulang
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko
timbulnya osteoartritis. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih
padat (keras) tidak membantu mengurangi benturan beban yang diterima
oleh tulang rawan sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih
mudah robek.

4. Patofisiologi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang

berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular


kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus,
atau penutup yang menutupi kartilago.

Pannus masuk ke tulang sub

chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan


gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan
sendi. Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara
permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).
Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi
lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.
Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai
dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara
ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak
terserang lagi.

Yang lain. terutama yang mempunyai faktor rhematoid

(seropositif gangguan rhematoid) gangguan akan menjadi kronis yang


progresif.
Pathway
Umur

Jenis
kelamin

Kerusakan Fokal
Tulang Rawan Sendi
Yang Progresif

Geneti
k

Suku

Kegemuk
an

Pembentukan tulang
baru pada tulang
rawan, sendi dan tepi
sendi
Perubahan
Metabolisme Tulang

Peningkatan aktivitas enzim yang


merusak makro molekul matriks
tulang rawan sendi
Penurunan Kadar
Proteoglikan
Berkurangnya Kadar
Proteoglikan
Perubahan sifat-sifat
kolagen

Berkurangnya kadar air


tulang rawan sendi
Permukaan tulang rawan sendi
terbelah pecah dengan robekan
Timbul laserasi
Osteoartritis

5. Manifestasi Klinik
Gejala utama dari osteoartritis adalah adanya nyeri pada sendi
yang terkena, etrutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara
perlahan-lahan. Mula-mula terasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang
berkurang dnegan istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi,
kaku pagi, krepitasi, pembesaran sendi dn perubahan gaya jalan. Lebih
lanjut lagi terdapat pembesaran sendi dan krepitasi.
Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak emnonjol dan timbul
belakangan, mungkin dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri
tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan,
antara lain:
a. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah
dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa
gerakan tertentu kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih
dibandingkan gerakan yang lain.
b. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelanpelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri.
c. Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah immobilisasi,
seperti duduk dari kursi, atau setelah bangun dari tidur.
d. Krepitasi

Rasa gemeretak (kadqang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang


sakit.
e. Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut atau
tangan yang paling sering) secara perlahan-lahan membesar.
f. Perubahan gaya berjalan
Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau
panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan
gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar
untuk kemandirian pasien yang umumnya tua (lansia).
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes serologi
1) Sedimentasi eritrosit meningkat
2) Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
3) Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita
b. Pemerikasaan radiologi
1) Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi
2) Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan
ankilosis.
3) Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik,
cairan dari sendi dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.

7. Penatalaksanaan
a. Pendidikan : meliputi tentang pengertian, patofisiologi, penyebab,
dan prognosis penyakit ini
b. Istirahat : karena pada RA ini disertai rasa lelah yang hebat
c. Latihan : pada saat pasien tidak merasa lelah atau inflamasi
berkurang, ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi sendi
pasien.
d. Termoterapi.
e. Gizi yaitu dengan memberikan gizi yang tepat, Pemberian Obatobatan
8. Komplikasi

a. Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya


proses granulasi di bawah kulit yang disebut subcutan nodule.
b. Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan
otot.
c. Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli.
d. Terjadi splenomegaly.
9. Konsep Keperawatan
Proses keperawatan adalah kerangka kerja dalam melaksanakan
tindakan yang digunakan agar proses pertolongan yang diberikan kepada
keluarga menjadi sistematis (S.G. Bailon dan Arcelis Maglaya, 1989).
a. Pengkajian
Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan untuk
mengukur keadaan klien dan keluarga dengan memakai patokan normanorma

kesehatan

pribadi

maupun

sosial,

sistem

integritas

dan

kesanggupan keluarga menjadi sistematis (S.G. Bailon dan Arcelis


Magalaya, 1989);
1)
2)
3)
4)
b.

Pengumpulan data
Analisa data
Pengumpulan masalah
Menentukan prioritas masalah
Perencanaan
Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan yang

ditentukan perawat untuk dilaksanakan dalam memecahkan masalah


kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi (SG. Bailon,
1989:1972). Perencanaan tersebut meliputi tujuan, intervensi dan kriteria
evaluasi yang disesuaikan dengan diagnosa keperawatan.
c. Implementasi
Merupakan realisasi dari

rencana keperawatan yang telah

ditetapkan bersama keluarga. Adapun implementasi yang telah dilakukan


adalah penyuluhan.
d. Evaluasi

Evaluasi adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai.


Evaluasi berkaitan dengan tujuan bagaimana tujuan dinyatakan akan
menentukan mudah atau sulitnya mengadakan evaluasi.
Pathway
Umur

Jenis
kelamin

Geneti
k

Suku

Kerusakan Fokal
Tulang Rawan Sendi
Yang Progresif

Kegemuk
an

Pembentukan tulang
baru pada tulang
rawan, sendi dan tepi
sendi
Perubahan
Metabolisme Tulang

Peningkatan aktivitas enzim yang


merusak makro molekul matriks
tulang rawan sendi
Penurunan Kadar
Proteoglikan
Berkurangnya Kadar
Proteoglikan
Perubahan sifat-sifat
kolagen
Berkurangnya kadar air
tulang rawan sendi
Permukaan tulang rawan sendi
terbelah pecah dengan robekan
Timbul laserasi
Osteoartritis

DAFTAR PUSTAKA
Gloria, M.B. (2004). Nursing Intervention Classification. America: Mosby
Elsevier.
Herdman, T.H. (2009). NANDA International Nursing Diagnoses:
Defenitions and Classification edition 2009-2011. United Kingdom:
Willey Blackwell.
http://ajunkdoank.wordpress.com/2008/12/25/definisi-dan-patologiosteoarthritis-oa/.
http://www.slideshare.net/sibermedik/osteoartritis-2809824
http://mukipartono.com/osteoartritis/
Lueckenotte, A.G. (1996). Gerontologic Nursing. America: Mosby.

Masjoer, A, dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran (edisi ketiga).


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Media Aesculapius.
Moorhead. (2004). Nursing Outcomes Classification (fourth edition).
America: Mosby Elsevier
Purwoastuti, E. (2009). Waspadai Gangguan Rematik. Yogyakarta:
Kanisius.
Wiyayakusuma, H. (2007). Atasi Rematik dan Asam Urat Ala Hembing.
Jakarta: Puspa Swara.

Anda mungkin juga menyukai