Anda di halaman 1dari 19

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

STRATEGI PENGEMBANGAN
SPAL

4.1.

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN SPAL

4.1.1. Visi dan Misi


4.1.1.1. Visi Penyelenggaraan Sistem Pengolahan Air limbah Pemukiman
Untuk mencapai kondisi masyarakat hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bebas dari pencemaran air limbah permukiman di masa
yang akan datang, baik yang berada di daerah perkotaan maupun yang tinggal di daerah perdesaan, memerlukan pengelolaan air limbah
permukiman yang memadai, yang dapat melindungi sumber-sumber air baku bagi air minum dari pencemaran pembuangan air limbah baik
yang berasal dari aktifitas rumah tangga maupun industri rumah tangga yag berada di tengah-tengah permukiman. Secara umum daerah
perkotaan dan perdesaan yang memiliki sistem pengelolaan air limbah secara memadai, memiliki indikator sebagai berikut :
a.

Rendahnya angka penyakit yang ditularkan melalui media air (waterborne diseases), seperti disentri, typhus, diare,dan lain sebagainya;

b. Meningkatnya kualitas lingkungan permukiman;


c.

Terlindunginya sumber air baik air permukaan maupun air tanah dari pencemaran air limbah permukiman.

Berdasarkan indikator tersebut di atas, maka Visi Pengelolaan Air Limbah Permukiman, ditetapkan sebagai berikut :

Terwujudnya masyarakat sehat dalam lingkungan yang lestari

4.1.1.2. Misi Penyelegaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman


Upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapai visi tersebut dilakukan dengan misi sebagai berikut :
1.

Meningkatkan kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan pengelolaan air limbah dengan sistem
setempat (on-site) dan sistem terpusat (off-site);

2. Mencegah dan menanggulangi pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh air limbah permukiman;
3. Memberdayakan masyarakat dan dunia usaha agar lebih berperan aktif dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan air limbah
permukiman;
4. Menyiapkan peraturan perundangan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan air limbah permukiman;
5. Meningkatkan kemampuan manajemen dan kelembagaan pengelolaan air limbah permukiman dengan prinsip good corporate governance;
6. Meningkatkan dan mengembangkan alternatif sumber pendanaan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan air limbah permukiman.

4.1.2. Tujuan dan Sasaran Strategis


Tujuan dan sasaran strategis yang direncanakan perlu disesuaikan dengan target pemerintah pusat, sehingga target target yang akan
dilakukan oleh pemerintah perlu dijabarkan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 4.1. Target MDGs
No.

Target MDGs

1.

50% - 85%

Rencana Capaian (%)


2015

2020

2025

2030

70%

75%

80%

85%

Keterangan

Sumber: Hasil perhitungan, 2014

Bila melihat data cakupan sanitasi dari DinKes 2012 tabel 2.1 tercatat pemakai septiktank sebesar 67% harus didata ulang apakah septic yang
sesuai atau hanya penampung tetapi tidak kedap.

4.1.3. Kebijakan Umum Air Limbah Kota


Peraturan/Acuan/Pedoman dalam Penyusunan Dokumen Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru ini adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
3. Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataa Ruang;
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan;
5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;

Laporan Akhir

IV-1

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

6. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman;


7. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Penatagunaan Tanah;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air minum (SPAM);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Kerjasama pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2008 tentang Air Tanah;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2011 tentang Ijin Lingkungan;
17. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2011 tentang Sungai;
18. Peraturan Menteri Pekerjaan umum Nomor 45 tahun 1990 tentang Pengendalian Mutu Air pada Sumber-Sumber Air;
19. Peraturan Menteri Pekerjaan umum Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air
limbah Permukiman;
20. Peraturan Menteri Pekerjaan umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang;
21. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau kegiatan yang Wajib Dilengkapi
dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup (AMDAL);
22. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 52 Tahun 1995 tentang baku Mutu limbah Cair bagi Kegiatan Hotel;
23. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 58 Tahun 1995 tentang Baku Mutu limbah Cair bagi Kegiatan Rumah Sakit;
24. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Upaya Pemantauan Lingkungan hidup;
25. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metode Analisis Kualitas air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air
Permukaan;
26. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 110 Tahun 2003 tentang Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemar Air pada
Sumber Air;
27. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 111 Tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai Syarat dan tata Cara Perizinan serta Pedoman
Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air;
28. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang baku mutu Air limbah Domestik.

4.1.4. Alasan Utama Pembangunan Sarana Air Limbah di Kota Perencanaan


Secara umum limbah domestik yang berasal dari rumah tangga yang tidak memiliki akses terhadap bangunan pengolahan merupakan sumber
pencemaran utama bagi lingkungan yang dapat menimbulkan dampak yang serius karena dapat dengan mudah masuk ke badan air ataupun
meresap ke badan tanah. Fakta dilapangan menunjukkan, air limbah domestik ini merupakan sumber utama pencemar badan air lingkungan
terutama di daerah perkotaan.
Tanpa adanya sistem penataan dan pengelolaan yang baik terhadap air limbah maka akan berdampak pada pencemaran dan menurunnya
kualitas air lingkungan dalam jangka panjang, mengakibatkan menurunnya kualitas air di badan penerima air, seperti sungai, waduk, situ dan
lainnya. Akan menyebabkan beberapa masalah,seperti kerusakan keseimbangan ekologi di aliran sungai, masalah kesehatan penduduk yang
memanfaatkan air sungai secara langsung sehingga dapat menurunkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatkan angka kematian
akibat penyakit infeksi air (seperti disentri dan kolera).
Kondisi saat ini menggambarkan bahwa sebagian besar rumah tangga masih secara langsung membuang air limbah (grey water) ke halaman
rumahnya maupun ke saluran lingkungan, sedangkan untuk black water dilakukan dengan sistem pengelolaan setempat. Perilaku masyarakat
yang membuang air limbah mereka tanpa didahului dengan pengolahan, tidak tersedianya regulasi lokal yang mengatur pengelolaan air limbah
domestik permukiman, serta tidak adanya struktur yang khusus mengelola air limbah domestik pada intansi teknis yang ditugaskan untuk
menangani pengelolaan sanitasi yang menyebabkan pengelolaan air limbah domestik belum tertangani secara baik.

Limbah rumah tangga umumnya dibuang langsung ke genangan air yang merupakan dasar dari rumah. Kendati sudah menggunakan septic
tank, namun bagian dasarnya tidak kedap. Oleh karena itu pengembangan IPAL untuk permukiman menjadi prioritas utama untuk dibangun.
Seiring perkembangan pembangunan yang cukup pesat, serta adanya daya tarik perpindahan pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan
ke Kota Banjarbaru makin tinggi tinggat pertumbuhan pembangunan perumahan baru, jumlah penduduk meningkat dalam laju yang sangat

Laporan Akhir

IV-2

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

tinggi, rata-rata sekitar 5,27% dalam kurun waktu tahun 2005 - 2011. Pertambahan jumlah penduduk tersebut pada akhirnya berakibat pada
meningkatnya volume buangan atau limbah domestic.

Perkembangan ini tentunya memerlukan antisipasi pengelolaan agar tidak mencemari dan menurunkan kualitas lingkungan, terutama air tanah
dan air permukaan di Kota Banjarbaru. Untuk itu perlu disusun pentahapan pembangunan mulai dari jangka pendek, jangka menengah hingga
pembangunan jangka panjang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi pada masing-masing kawasan.
Beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan dalam penentuan prioritas tersebut adalah kepadatan penduduk, klasifikasi wilayah (perkotaan
atau perdesaan), karakteristik tata guna lahan, serta resiko kesehatan lingkungan. Analisis yang dilakukan menghasilkan suatu peta yang
menggambarkan kebutuhan sistem pengelolaan air limbah yang akan menjadi bahan untuk perencanaan pengembangan sistem. Peta tersebut
membagi daerah kajian ke dalam beberapa zonasi sistem pengelolaan air limbah.
Dengan menggunakan trend pertumbuhan penduduk Kota Banjarbaru

2005 2011 yang menghasilkan rata-rata pertumbuhan 5,27%

pertahun, beberapa wilayah yang saat ini masih termasuk dalam kategori rural area pada 15 tahun ke depan telah berkembang menjadi peri

urban area.

Wilayah-wilayah tersebut antara lain, Kelurahan Kemuning Kelurahan Sungai Besar, Loktabat Utara, Komet dan

Kelurahan Sungai Ulin. Sementara Kelurahan Mentaos yang saat ini sudah termasuk dalam kategori peri urban, diestimasi
akan berkembang menjadi urban low.

4.2.

TUJUAN DAN TARGET PENANGANAN

Untuk mengukur keberhasilan pencapaian sasaran MDGs, Indikator yang digunakan adalah:
a. Proporsi penduduk perkotaan yang memiliki akses ke perbaikan sanitasi (proportion of urban population with access to improved

sanitation) dan
b. Proporsi keluarga yang mempunyai akses ke tempat tinggal yang aman baik dimiliki atau disewa (proportion of household with access to

secure tenure, owned and rented).


Saat ini telah dibentuk konsep sustainable sanitation. Konsep ini tidak hanya terdiri dari perencanaan dan pelaksanaan, tetapi termasuk
managemen dan operasi dari sistem sanitasi yang terbentuk. Tujuannya adalah:
-

Meningkatkan kesadaran masyarakat.

Pencapaian sasaran sanitasi MDGs termasuk kesehatan.

Mobilisasi gabungan pemerintah baik dari tingkat pusat maupun daerah, kesepakatan dalam hal bagaimana dan siapa yang akan
mengambil langkah-langkah penanganan sanitasi saat ini.

Menjamin kesepakatan-kesepakatan yang ada dalam pelaksanaan yang efektif untuk scale-up program sanitasi dan perkuatan kebijakan
sanitasi melalui penugasan tanggung jawab yang jelas.

Menjamin peningkatan pendanaan untuk progres yang berkelanjutan melalui kesepakatan alokasi pendanaan dari pemerintah.

Mengembangkan dan memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusia melalui pengenalan di semua tingkatan bahwa progres
dalam pencapaian sasaran sanitasi dalam MDGs melibatkan keterkaitan program-program dalam penyehatan, permukiman.

Kontinuitas operasional dan pemeliharaan bangunan penunjang sanitasi harus terus selalu dijaga, sementara pembangunan tangki septik
individual dan komunal terus dilaksanakan, disertai dengan penjadwalan, penambahan armada penyedotan tinja, penguatan payung hukum,
kelembagaan, serta peningkatan kesadaran masyarakat harus dilakukan secara simultan.

4.3.

PENGEMBANGAN DAERAH PELAYANAN

Berdasarkan pedoman penyusunan master plan PPLP Cipta Karya, untuk melakukan pengembangan pengelolaan arah pengembangan, maka
ada dua instrument penting yang harus dipertimbangkan yaitu analisis SWOT, sementara penentuan teknologi harus didasarkan kepada
diagram alir pemilihan teknologi.

Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan instrument perencanaaan strategis. Analisis ini menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan
kesempatan ekternal dan ancaman, instrument ini memberikan cara sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah
strategi.Pada analisis ini akan dianalisa kondisi internal maupun eksternal suatu organisasi yang selanjutnya akan digunakan sebagai dasar
untuk merancang strategi dan program kerja. Analisis internal meliputi peniaian terhadap faktor kekuatan (Strength) dan kelemahan
(Weakness). Sementara, analisis eksternal mencakup faktor peluang (Opportunity) dan tantangan (ThreathS).
Untuk menentukan arah pengembangan di Kota Banjarbaru, maka dibuat analisis SWOT dengan pendekatan kuantitatif. Pilihan arah
pengembangan sarana dan prasarana air limbah yang harus dipertimbangkan antara lain adalah:

Laporan Akhir

IV-3

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

a. Mengoptimalkan sistem setempat (on-site) yang sudah berjalan.


b. Mengembangkan sistem off-site pada kawasan tertentu.
c. Mengembangkan sistem off-site skala kota.
d. Mengembangkan sistem off-site dengan teknologi maju.

Secara garis besar aspek yang akan dianalisis adalah ditujukan untuk peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana air limbah pada
zona prioritas di permukiman terbangun, dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Kondisi sistem penyediaan air minum.
b. Kondisi tingkat pencemaran air tanah.
c. Kondisi tingkat pencemaran badan air penerima (air baku).
e. Kondisi sosial ekonomi masyarakat.
f. Kondisi kesehatan masyarakat.
g. Kondisi prasarana lingkungan permukiman lainnya (jalan, drainase, dan sebagainya).

Pemilihan Teknologi
Pemilihan alternatif teknologi akan didasarkan kepada kepadatan penduduk, adanya Central business distric (CBD), keberadaan/ kontinuitas
sumber air, kondisi geohidrologi, serta faktor sosial ekonomi. Diagram tersebut dapat dilihat di bawah ini.

4.3.1. Pilihan Arah Pengembangan


Strategi sanitasi bisa dirumuskan dengan menganalisis SWOT isu-isu strategis dan kemungkinan hambatan tersebut, yakni dengan analisis S-O,
S-T, W-O, dan W-T. Selanjutnya, hasilnya menjadi strategi sanitasi kota/kabupaten yang mencakup semua sub sektor (teknis) dan seluruh
aspek non teknis (kelembagaan, keuangan, partisipasi masyarakat, komunikasi, peran swasta).
Seperti telah dijelaskan di atas, untuk merumuskan strategi aspek non teknis, akan dipergunakan analisis SWOT. Analisis SWOT (strong,

weakness, opportunity, threat) adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisis SWOT
dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, yaitu:
a. Penentuan faktor internal dan eksternal.
b. Penentuan bobot dan nilai dari faktor internal dan eksternal.
c. Penggunaan analisis SWOT matriks untuk menghasilkan alternatif strategi (S-O, S-T, W-O dan W-T).

Laporan Akhir

IV-4

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

Gambar 4.1. Diagram Pemilihan Alternatif Pengolahan


Laporan Akhir

IV-5

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

Faktor Internal Dan Eksternal


Faktor internal yaitu segala kondisi dan komponen internal pengembangan sanitasi di Kota Banjarbaru yang secara strategis berpengaruh besar
terhadap kemungkinan keberhasilan pengelolaan air limbah, sedangkan faktor eksternal kondisi lingkungan makro yang berpengaruh terhadap
pengembangan sanitasi, meliputi:
a.

Faktor Internal
1.

Kekuatan (strong), adalah semua potensi pengembangan sanitasi yang ada di dalam kota/kabupaten seperti halnya; adanya kebijakan
daerah dalam pengelolaan sanitasi, ketersediaan lembaga yang mengelola sanitasi (operator-regulator), ketersediaan prasarana dan
sarana sanitasi, adanya anggaran dari APBD yang memadai, ketersediaan SDM yang berkualitas, adanya keterlibatan pelaku bisnis dan
sebagainya.

2.

Kelemahan (weakness), adalah semua permasalahan pengembangan sanitasi yang ada di dalam kota/kabupaten, seperti halnya;
belum adanya peraturan daerah yang terkait dengan sanitasi, rendahnya anggaran APBD, rendahnya kualitas SDM, belum adanya
pelibatan swasta dan masyarakat dan sebagainya.

b.

Lingkungan Eksternal:
1.

Peluang (opportunity) ,adalah potensi dari faktor-faktor determinan yang mempengaruhi pengembangan sanitasi di kota/ kabupaten,
seperti adanya program dana hibah sanitasi, adanya peningkatan anggaran sanitasi dalam APBN,

adanya program sanitasi dari

Negara donor (Amerika dan Australia) dan sebagainya.


2.

Ancaman (threat), permasalahan dari faktor-faktor determinan yang mempengaruhi pengembangan sanitasi di kota/ kabupaten,
seperti; kondisi fisik wilayah kabupaten, perkembangan dan kepadatan penduduk dan sebagainya.

Analisis Faktor Internal


Analisis faktor strategi internal merupakan evaluasi lingkungan internal untuk mengetahui berbagai kemungkinan kekuatan dan kelemahan
serta peluang dan ancaman sebelum strategi diterapkan mengingat hal ini dapat mempengaruhi penentuan strategi di masa yang akan datang.
Evaluasi internal dilakukan dengan menggunakan beberapa indikator guna mendapatkan gambaran mengenai kinerja pengelolaan air limbah.
Diharapkan dari hasil evaluasi internal yang diperoleh dapat menghasilkan keluaran berupa langkah-langkah strategis guna menangani
pengelolaan air limbah yang lebih baik.
Dalam tahapan evaluasi ini akan dilakukan pembandingan antara kondisi masing-masing tolok ukur eksisting di lapangan dengan kriteria ideal
masing-masing tolok ukur yang dikumpulkan dari peraturan serta dari berbagai literatur yang ada.
4.3.1.1.

Kekuatan

1. Adanya Lembaga Pengelola Air Limbah


Telah ada lembaga yang mengelola (operator) air limbah, yaitu Kantor Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru pada Seksi Pengendalian Dampak
Lingkungan.
2. Keikutsertaan dalam Program PPSP
Adanya kesungguhan upaya pemerintah Kota Banjarbaru untuk meningkatkan kinerja pengelolaan air limbah secara optimal dengan
mengikuti Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) .
4.3.1.2.

Kelemahan

1. Belum Adanya Pemisahan Fungsi Regulator dan Operator


Pemerintah Kabupaten belum memisahkan fungsi regulator dan operator untuk

pengelolaan air limbah.

2. Kedudukan Lembaga Pengelola Masih Setingkat Seksi


Kelembagaan pengelola air limbah di Kota Banjarbaru (regulator dan operator) masih setingkat seksi (seksi Pengendalian Dampak
Lingkungan) sehingga terbatas SDM, pengawasan, pengembangan program dan anggaran.
3. Belum Adanya Perda Air Limbah
Belum memadainya perangkat Perda yang diperlukan dalam pengelolaan dan belum adanya Perda terkait Restribusi Air Limbah
Permukiman.
4. Pembiayaan Melalui APBD
Walaupun setiap tahun APBD telah mengalolasikan dana untuk pengelolaan air limbah, namun jumlahnya masih tidak mencukupi untuk
membiayai kegiatan pengelolaan air limbah yang dibutuhkan.
5. Ketersediaan Sarana dan Prasarana
Kota Banjarbaru memiliki sarana dan prasarana dasar pengelolaan air limbah seperti IPLT (instalasi pengolah lumpur tinja) dan pengolahan
limbah off site sistem tetapi belum memadai.
6. Pelayanan Air Limbah
Pelayanan pengelolaan air limbah di Kota Banjarbaru masih rendah dengan melihat kenyataan dilapangan meskipun angka pemakaian
septic tank data dari dinkes tinggi. Terlihat dari hasil survey lapangan.

Laporan Akhir

IV-6

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

7. Kualitas SDM
Masih rendahnya SDM (pengetahuan dan keterampilan) yang dimiliki dalam pengelolaan air limbah.
8. Partisipasi Lembaga Non Pemerintah
Hingga saat ini belum terdapat lembaga non-pemerintah, baik dalam bentuk Pengelola Air Limbah swasta maupun BUMD yang memiliki
kegiatan usaha pengelolaan air limbah domestik.
9. Ketersediaan Produk Perencanaan
Belum ada perencanaan untuk pengelolaan air limbah, seperti masterplan, DED untuk pengembangan on site system komunal (sanimas dll)
dan off site sistem, maupun IPLT yang sesuai standart.
Dalam menentukan bobot setiap variabel digunakan skala 1,2,3, dan 4 dengan keterangan sebagai berikut :
1 = sangat tidak penting
2 = tidak penting
3 = penting
4 = sangat penting
Tabel 4.2. Penilaian Faktor Internal

Skor
Tertimbang
C

Adanya Lembaga Pengelola Air Limbah

16

Keikutsertaan dalam Program PPSP

16

Adanya Pokja Sanitasi

16

Faktor Kunci Internal

Kekuatan

Jumlah
Pemisahan Fungsi Regulator dan
Operator
Kedudukan Lembaga Pengelola Masih
Setingkat Seksi
Perda Air Limbah
Kelemahan

Bobot

Peringkat

48
3

Pembiayaan Melalui APBD

Ketersediaan Sarana dan Prasarana

Pelayanan Air Limbah

Kualitas SDM

Partisipasi Lembaga Non Pemerintah

Ketersediaan Produk Perencanaan

Jumlah

4
42

Analisis Faktor Eksternal


Penilaian kondisi eksternal dimaksudkan untuk mengetahui posisi pengelolaan air limbah dalam lingkungan eksternalnya sehingga akan dapat
diketahui peluang dan ancaman yang dihadapi dan memberikan pilihan strategi umum yang sesuai serta dapat dijadikan dasar untuk memilih
strategi guna mencapi sasaran-sasaran yang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan dan harapan para stakeholder.
Untuk menganalisis faktor-faktor eksternal perlu dikenali kekuatan kunci faktor-faktor ekstenal yang akan mempengaruhi kinerja pengelolaan
air limbah, membuat proyeksi perkembangan faktor-faktor eksternal tersebut, menilai pengaruh kondisi tersebut terhadap upaya pengelolaan
air limbah serta mengidentifikasikan faktor-faktor yang merupakan peluang dan ancaman.
Pengaruh kondisi diluar pengelola tidak selamanya merugikan, tetapi beberapa diantaranya merupakan faktor yang dapat menunjang
operasional. Hal ini tergantung dari ketepatan penganalisaan dalam menilai unsur-unsur eksternal yang mempengaruhi, serta ketepatan dalam
menghadapi kondisi di eksternal tersebut.

4.3.1.3.

Peluang

1. Dukungan Pembiayaan APBN


Pemerintah pusat berencana menganggarkan hingga Rp14 trilun untuk keperluan sanitasi yang terprogram hingga lima tahun ke depan
(2010-2015), naik lima kali daripada sebelumnya. (Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Budi Yuwono)
2. Dukungan Dari Negara Donor
Adanya dana dari negara donor untuk pengembangan sanitasi antara lain : program IUWASH (indonesia urban water, sanitation and
hygiene) dari USAID dan program IndII dari AusAID. Pemerintah Australia melalui AusAID akan memberikan dana hibah total sekitar
AUD 40 juta atau Rp 10 Miliar per kota/kabupaten yang berminat dalam Program Percepatan Hibah Pembangunan Sanitasi tahun 20122014 dalam program Australia Indonesia Infrastructure Grants for Sanitation (AIIGS) (Direktur Bina Program, Antonius Budiono).
3. Pendanaan Melalui CSR

Laporan Akhir

IV-7

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

Peluang program Corporate Social Responsibility (CSR) dari beberapa Perusahaan yang konsen dalam pengelolaan Air Limbah di Kota
Banjarbaru.
4. Dukungan Kebijakan Pemerintah Pusat
Pemerintah Pusat melaksanakan kebijakan Bidang Sanitasi yang terintegrasi antar Departemen khususnya program PPSP.
5. Ketersediaan NSPM
Untuk mendukung kebijakan pengelolaan sanitasi Pemerintah Pusat telah menerbitkan pedoman dan standar yang berkaitan dengan
pengelolaan air yang dapat dijadikan acuan dalam perencanaan dan pengelolaan air limbah.

4.3.1.4.

Ancaman

Sesuai hasil proyeksi kepadatan penduduk tahun 2034 masing-masing wilayah Kecamatan, maka terdapat beberapa wilayah yang memiliki
kepadatan rata2 577 Jiwa/Ha
Dalam menentukan peringkat setiap variabel digunakan skala 1, 2, 3, dan 4 dengan keterangan sebagai berikut :
1 = sangat lemah
2 = tidak begitu lemah
3 = cukup kuat
4 = sangat kuat
Perangkingan didapatkan dari hasil wawancara atau survey dengan aparat pemerintah, masyarakat, dll.
Tabel 4.3. Penilaian Faktor Eksternal

Skor
Tertimbang
C

Dukungan Pembiayaan APBN

16

Dukungan Dari Negara Donor

16

Pendanaan Melalui CSR

Dukungan Kebijakan Pemerintah Pusat

Ketersediaan NSPM

Faktor Kunci Ekternal

Peluang

Ancaman

Jumlah
Hasil Proyeksi kepadatan penduduk tahun
2034 masing - masing wilayah Kecamatan,
maka terdapat beberapa wilayah yang
memiliki kepadatan 100 jiwa/ha sampai
300 jiwa/ha yang masuk dalam kategori
sistem komunal
Jumlah

Bobot

Peringkat

58

16

16

Posisi Pengelolaan Air Limbah Saat Ini


Setelah dilakukan analisis kondisi internal dan eksternal pengelolaan air limbah yang dilakukan melalui analisis SWOT (Strengths, Weakness,
Opportunities & Threats) selanjutnya posisi pengelolaan air limbah saat ini. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan strategi
pengembangan pengelolaan air limbah dan prioritas program.
Melalui analisis SWOT ini dan posisi pengelolaan air limbah akan dapat menentukan:
a. Posisinya terhadap lingkungannya saat ini dan mengetahui potensi pengembangan Pengelola Air Limbah dimasa yang akan datang.
b. Menentukan prioritas sasaran dan program Pengelola Air Limbah selama kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan.
Dalam menganalisis kondisi ekternal dan internal Pengelola Air Limbah terdapat 4 pilihan strategi posisi, sebagai berikut;
a. Posisi survival/defensif apabila kondisi eksternal tidak menguntungkan dan kelemahan lebih banyak daripada kekuatan.
b. Posisi stabil/rasionalisasi apabila kondisi eksternal cukup mendukung namun kelemahan lebih banyak daripada kekuatan.
c. Posisi pertumbuhan agresif, apabila kondisi eksternal cukup mendukung dan kekuatan lebih banyak dari pada kelemahan.
d. Posisi yang memerlukan diversifikasi oritentasi, apabila kondisi eksternal tidak menguntungkan, tetapi kekuatan lebih banyak daripada
kelemahan.
Menghitung posisi kuadran dengan mengurangkan nilai skor total untuk kekuatan dengan kelemahan (sumbu x), serta mengurangkan nilai skor
total peluang dan ancaman (sumbu y),
sehingga diperoleh kuadran kelembagaan (x,y).
Perhitungan:

Sumbu-X = Selisih Kekuatan dan Kelemahan (Kekuatan Kelemahan)


Sumbu-Y = Selisih Peluang dan Ancaman (Ancaman Peluang)

Laporan Akhir

IV-8

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

2014

10
Kuadran II
WO

SO

Kuadran III

0
-5

-4

-3

-2

-1 -5 0

-10
-15
-20
-25
WT

ST

-30

Posisi (6,-42)

-35
-40
Kuadran IV
-45

Kuadran I

Gambar 4.2. Matriks SWOT Kota Banjarbaru

Berdasarkan penilaian analisis SWOT, posisi pengelolaan air limbah Kota Banjarbaru berada di kuadran IV (ST). Pada kondisi ini aspek ekternal
cukup mendukung namun kekuatan lebih banyak daripada kelemahan. Untuk lebih jelasnya posisi pengelolaan air limbah dapat dilihat pada
gambar berikut:
Pengembangan Strategis
Berdasarkan matriks Analisis SWOT ini dapat menghasilkan 4 (empat) kemungkinan Strategi yang akan dirumuskan dan akan menjadi acuan
pengembangan pengelolaan air limbah.
a. Strategi SO, Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan
peluang sebesar-besarnya.
b. Strategi ST, adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang ada.
c. Strategi WO, Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan.
d. Strategi WT, strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta
menghindari ancaman.

Dan untuk lebih jelasnya dapat digambarkan melalui tabel berikut:


Tabel 4.4. Strategi Pengelola Air Limbah Berdasarkan Analisis SWOT
IFAS

EFAS

OPPORTUNIES (O)

STRENGTHS (S)

WEAKNESSES (W)

Mengemukakan faktor

Mengemukakan faktor

Kekuatan yang dimiliki

Kelemahan yang dimiliki

oleh Pengelola Air

oleh Pengelola Air

Limbah.

Limbah.

Strategi SO

Strategi WO

memanfaatkan

Pemanfaatan

Mengemukakan faktor

seluruh kekuatan

peluang yang ada

peluang yang dihadapi

untuk merebut dan

dengan cara

oleh Pengelola Air

memanfaatkan

meminimalkan

Limbah.

peluang sebesar-

kelemahan.

besarnya.
THREATS (T)

Strategi ST

Strategi WT

Mengemukakan

menggunakan

kegiatan yang

faktor ancaman yang

kekuatan yang

bersifat defensif

dihadapi oleh

dimiliki Pengelola

dan berusaha

Pengelola Air Limbah.

Air Limbah untuk

meminimalkan

mengatasi ancaman

kelemahan yang

yang ada.

ada serta
menghindari
ancaman.

Melalui matriks ini, strategi dalam bentuk detail dapat ditentukan dengan melakukan pilihan yang paling tepat terhadap alternative-alternatif
strategi yang ada.

Laporan Akhir

Pada prinsipnya masing-masing strategi tersebut memiliki karakteristik tersendiri, sehingga dapat digunakan secara

IV-9

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

2014

terpisah, namun juga dapat digunakan secara bersama-sama untuk saling mendukung. Keputusan menggunakan kemungkinan-kemungkinan
alternatif strategi yang dimaksud, disesuaikan dengan posisi dan profil dari daerah yang bersangkutan dan prioritas yang hendak dicapai.

Secara diagramatis, keempat pilihan strategi Pengelola Air Limbah tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5. Matriks Strategi Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru
IFAS

KEKUATAN
Adanya Lembaga Pengelola Air
Limbah
Adanya Pemisahan Fungsi
Regulator dan Operator

KELEMAHAN
Kedudukan Lembaga Pengelola
Setingkat Seksi
Ketersediaan Sarana Pengelolaan
Air Limbah

Keikutsertaan dalam Program PPSP

Tingkat Pelayanan

Adanya Pokja Sanitasi

Kualitas SDM
Ketersediaan Produk Perencanaan
Pembiayaan Air Limbah dari APBD
Ketersediaan SOP Pengelolaan Air
Limbah

EFAS
PELUANG
Sosial Ekonomi Masyarakat

Dukungan Pendanaan dari


APBN
Dukungan Pendanaan dari
Lembaga Donor
Dukungan Pendanaan dari
Perusahaan (CSR)
Kebijakan Pemerintah Bidang
Sanitasi
Adanya NSPM Bidang Air
Limbah
ANCAMAN
Kepadatan Penduduk

STRATEGI SO
Memanfaatkan peran pokja untuk
meningkatkan peran serta
masyarakat dalam pengelolaan air
limbah
Memanfaatkan keikutsertaan
Pemda dalam Program PPSP dan
Kesiapan Kelembagaan untuk
meraih dukungan Pendanaan non
ABPD

STRATEGI WO
Peningkatan Kelembagaan
Pengelolaan Air Limbah Sesuai
Perkembangan Pelayanan dan
Standar Yang Ada
Peningkatan Sarana dan Pelayanan
Air Limbah dengan memanfaatkan
sumber pendanaan non APBD

Melaksanakan program pengelolaan


air limbah dengan memanfaatkan
dukungan kebijakan dan Pedoman
NSPM bidang air limbah

Menyiapkan produk perencanaan


dan SOP sesuai kebijakan dan
NSPM yang ada

STRATEGI ST
Melaksanakan program pengelolaan
air limbah sesuai kondisi geografis

STRATEGI WT4
Melaksanakan program pengelolaan
air limbah sesuai kondisi geografis
dan pemilihan teknologi yang tepat
sasaran

4.3.2. Penetapan Arah Pengembangan


Konsep pengembangan sistem pengelolaan airlimbah domestik secara umum dibagi dalam tiga bagian dengan memperhatikan kepadatan
penduduk yaitu sistem sanitasi sewerage, sistim komunal dan sistem individual.

Secara garis besar arahan pembagian sistem berdasarkan kepadatan penduduk adalah sebagai berikut :
a. Kepadatan > 300 Jiwa/Ha, Off Site Sanitation (Sistem Sewerage).
b. Kepadatan 100 300 Jiwa/Ha, On Site Dan Off Site Sanitation (Komunal)
c. Kepadatan < 100 Jiwa/Ha Sistem On Site Sanitation (Individual)
Sistem sewerage yang akan dikembangkan adalah sistem pengelolaan air limbah perkotaan yang dialirkan dari sumber air limbah ke pipa
pembawa (sewerage) untuk selanjutnya diolah pada Instalasi Pengolahan Air Limbah IPAL. Untuk sistem sistem sewerage direncanakan
memiliki jumlah pelanggan (sambungan) minimal 500 unit.

4.3.2.1.

Arahan Sistem Individual

Dalam menentukan kawasan pelayanan dengan sistem individual akan memperhatikan beberapa acuan seperti diupayakan untuk melayani
daerah dengan kepadatan penduduk lebih kecil dari 100 Jiwa/Ha. Sistem ini untuk melayani kawasan diluar daerah pelayanan sistem perpipaan
dan komunal. Pada lokasi sistem individual diharapkan setiap lokasi KK atau unit rumah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah yang dapat
mengolah air kotor dan air dari kamar mandi dengan teknologi pengolahan sesuai standar perencanaan. Untuk lokasi pengolahan disarankan
memiliki jarak minimal 10 m dari sumber air.
Untuk lebih jelasnya arahan lokasi sistem Individual adalah sebagai berikut :
o Kepadatan lebih kecil dari 100 Jiwa/Ha
o Diluar daerah pelayanan sewerage dan komunal
o Jarak dari sumber air minum > 10 m
o Teknologi pengolahan dengan up flow biofilter

Laporan Akhir

IV-10

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

2014

4.3.2.2.

Arahan Sistem Komunal

Pengolahan air limbah sistem komunal adalah sistem pembuangan limbah domestik yang dilakukan secara bersama. Berdasarkan ada tidaknya
sistem penyaluran dapat dikelompokkan dalam sistem komunal on site sanitation dan sistem komunal perpipaan.
Pengolahan air limbah sistem komunal adalah pengolahan air limbah untuk melayani lebih dari satu unit rumah (melayani 4 10 KK). Pada
dasarnya sistem pengolahan air limbah sama dengan sistem individu, hanya saja sistem terletak di luar rumah yang mendapat limbah dari
masing-masing rumah melalui sistem perpipaan.
Kriteria umum
o

Tiap unit IPAL melayani 4 10 KK

Kepada penduduk antara 100 300 jiwa/Ha

Lokasi perumahan berdekatan (memungkinkan jalur pipa efektif dan efisien)

Tersedia lokasi IPAL

Harga terjangkau

Dapat digunakan

Operasional tidak rumit

Pemeliharaan sederhana

Menggunakan bahan lokal (mudah didapat)

Kriteria teknis
Tangki Septik (Bak Pengendap Lumpur)
Waktu detensi : 2 3 hari

Efisiensi pengolahan 40 -60 %

Volume lumpur 30 lt/or/hr

Waktu pengurasan lumpur 1-2 th

Air yang diolah dari WC


Biofilter

Media = Kerikil, antrasit

Media filter = Kerikil, antrasit diameter 3-6 cm

Waktu kontak filter 6 jam

Hasil efluent dari filter dibuang ke badan air


Kriteria lokasi IPAL dan Perpipaan
o IPAL terletak diluar rumah
o Jalur perpipaan menuju IPAL efektif dan dapat mengalirkan air limbah saat menuju IPAL
Tabel 4.6. Kemiringan pipa persil dan pipa service minimal 2%

Laporan Akhir

No

Jenis Pipa

Diameter

Kemiringan

Persil

4 inc

Minimal 2%

Service

6 inc

Minimal 2%

IV-11

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

Kriteria perencanaan
Dimensi model pengolahan air limbah komunal disesuaikan dengan banyaknya penghuni yang dilayani. Untuk mendapatkan dimensi model
dapat dilakukan dengan pehitungan berikut:
Contoh :
o Jumlah jiwa yang dilayani 24 orang
o Debit air limbah limbah yang dihasilkan = 10 l/orang/hari
o Debit limbah yang diolah = 24 org x 10 lt/org/hr = 240 lt/hr
o Waktu tinggal 2 hari
o Maka kapasitas limbah yang ditampung = 2 hari x 240 liter/hari= 480 liter
o Lumpur yang dihasilkan orang/tahun diasumsikan 30 lt/org/tahun sehingga total produksi lumpur menjadi = 24 orang x 30 lt/org/th
=720 liter.
o Waktu kontak filter direncanakan 6 jam, maka kapasitas air yang masuk adalah 0,12 m3.

4.3.2.3.

Arahan Sistem Sewerage

Kawasan yang diusulkan memiliki sistem pengolahan air limbah dengan sistem perpipaan akan diutamakan pada kawasan dengan kepadatan
penduduk di atas 300 jiwa/Ha. Selain itu untuk akan diupayakan seoptimal mungkin sistem penyaluran air limbah dilakukan secara gravitasi.
Maka dalam penentuan zona pelayanan diupayakan akan memperhatikan kemiringan lahan yaitu memiliki kemiringan lahan minimal 2%.
Namun demikian dalam pembagian sub zona atau zonasi sistem sewerage akan memberhatikan batas daerah tangkapan sungai. Aspek lainnya
yang akan diperhatikan dalam penentuan zona pelayanan adalah tersedianya lahan IPAL sebagai tempat pengolahan akhir dari air limbah
domestik sebelum dibuang ke badan air penerima. Untuk lebih jelasnya arahan pemilihan zona sistem sewerage adalah sebagai berikut:
o Kepadatan > 300 Jiwa/Ha
o Kemiringan Lahan Mencukupi (2%)
o Berada dalam satu daerah tangkapan sungai
o Tersedia Lahan IPAL

4.4.

PEMBAGIAN ZONA PERENCANAAN

Beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan dalam penentuan prioritas adalah kepadatan penduduk, klasifikasi wilayah (perkotaan atau
perdesaan), karakteristik tata guna lahan (Center of Business Development/ komersial atau rumah tangga), serta resiko kesehatan lingkungan.
Analisis yang dilakukan menghasilkan suatu peta yang menggambarkan kebutuhan sistem pengelolaan air limbah yang akan menjadi bahan
untuk perencanaan pengembangan sistem. Peta tersebut membagi daerah kajian ke dalam beberapa zonasi sistem pengelolaan air limbah.
Dengan menggunakan trend pertumbuhan penduduk Kota Banjarbaru

2005 2011 yang menghasilkan rata-rata pertumbuhan 5,27%

pertahun, beberapa wilayah yang saat ini masih termasuk dalam kategori rural area pada 15 tahun ke depan telah berkembang menjadi peri
urban area. Wilayah-wilayah tersebut antara lain Kelurahan Kemuning, Kelurahan Sungai Besar, Loktabat Utara, Komet dan Kelurahan Sungai
Ulin. Sementara Kelurahan Mentaos yang saat ini sudah termasuk dalam kategori peri urban, diestimasi akan berkembang menjadi urban low.
Berdasarkan estimasi tersebut

serta memperhatikan faktor-faktor lain seperti rencana tata guna lahan dan kondisi tanah,

maka sistem

pengelolaan air limbah di Kota Banjarbaru dibagi ke dalam 3 zonasi sistem termasuk dalam

Zona I yaitu area dengan resiko sanitasi relatif tinggi karena penduduknya yang relatif padat dan termasuk dalam kawasan komersil (CBD),
yang harus diatasi dengan sistem terpusat

(off-site)

dalam jangka menengah.

Mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, maka sistem

terpusat yang akan dikembangkan adalah dalam skala kawasan (kluster). . Wilayah-wilayah yang diklasifikasikan dalam area peri-urban kecuali
Kelurahan Sungai Ulin

Zona II, yaitu area yang diperkirakan memiliki resiko sanitasi tinggi dalam jangka panjang karena pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi
yang dicirikan oleh tingginya tingkat pertumbuhan pembangunan perumahan di wilayah tersebut. Sistem sanitasi yang dipilih untuk mengatasi
kondisi ini adalah sistem terpusat dalam jangka panjang. Sementara Kelurahan Sungai Ulin masuk zona kedua.

Zona III meliputi wilayah-wilayah lainnya yang masih termasuk dalam kategori rural area, sistem pengelolaan sanitasi yang dipilih adalah onsite system melalui Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) serta penyediaan MCK++. Prinsip pendekatan STBM adalah non subsidi.
Masyarakat akan di bangkitkan kesadarannya bahwa masalah sanitasi adalah masalah masyarakat sendiri dan bukan masalah pihak lain.
Dengan demikian yang harus memecahkan permasalahan sanitasi adalah masyarakat sendiri. Di harapkan dengan bermula dari STBM,

Laporan Akhir

IV-12

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

kemudian dilanjutkan dengan program kesehatan lainnya seperti program kampanye cuci tangan, dan program kesehatan lainnya, peningkatan
kesehatan masyarakat melalui perilaku hidup bersih dan sehat dapat terwujud

4.4.1. Sistem On-Site


-

Individual
Zona III dilakukan dengan STBM dan MCK plus-plus bagi yang tidak memiliki jamban pribadi. Cakupan layanan exsisting pada dizona ini
70% untuk target jangka pendek diperkirakan 75% jangka menegah, 80% jangka panjang.

Komunal
Zona II dilakukan sistem setempat individual. Cakupan layanan exsisting pada dizona ini belum terdata dengan baik tetapi untuk target
jangka pendek diperkirakan 70%, jangka menegah 80% dan jangka panjang 85%.

4.4.2 Sistem Off-Site


Zona I penanganan limbah domestik dilakukan dengan menggunakan IPAL. Cakupan layanan exsisting pada dizona ini menunggu kesepakatan
bersama didalam ekspose antara, karena banyak data yang harus diklarifikasikan. Karena eksisting sebagai patokan untuk target jangka
pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

4.5.

PENETAPAN ZONA PRIORITAS

Sejalan dengan target dan tujuan dari master plan air limbah, beberapa area sebagai berikut harus menjadi prioritas:
o Area Pusat Pemerintahan dan Area Komersial dengan usaha seperti mall, hotel, restoran, dll, yang mampu memberikan kontribusi
finansial untuk menutupi biaya operasi dan pemeliharaan institusi pengelola air limbah profesional.
o Area dimana masyarakat tinggal di wilayah dengan risiko sanitasi tinggi yang tercermin dalam EHRA. Sektor limbah domestik mempunyai
kontribusi cukup besar sebagai penyebab tingginya tingkat resiko sanitasi di Kota Banjarbaru yang tersebar di semua kluster. Kondisi ini
sesuai dengan fakta dan data yang ada bahwa pengelolaan kedua sektor sanitasi tersebut masih belum memadai;
o Area di mana ada banyak terjadi pembuangan air limbah secara sembarangan, ini adalah secara umum daerah dimana pada saat ini
cakupan fasilitas air limbah relatif rendah.
Area dimana relatif biaya-efektif untuk menerapkan perbaikan air limbah untuk daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan rendahnya
cakupan fasilitas air limbah

4.6.

ARAH PENGEMBANGAN SPAL PADA PEMUKIMAN BARU

Dari Daftar anggota REI ternyata tidak bisa digunakan sebagai patokan perusahaan mana yang sedang mengajukan ijin maupun yang sudah
membangun atau perumahan lama. Karena kepentingan menjadi anggota REI karena terpaksa dilakukan bila akan mengajukan permohonan
perbankan, sehingga harus ada kejelasan dari pihak Asosiasi bahwa untuk pengembang pengembang baru atau pun pengembang lama yang
akan mengajukan ijin pembangunan kawasan perumahan harus mempunyai design ipal kounal bila type rumah yang dibangun kecil dan tidak
ada lahan untuk on-site atau membangun sistem off-site dengan benar sesuai standart yang berlaku.

Dengan tidak adanya data tersebut maka belum bisa ditentukan arahan pengembangan untuk kawasan perumahan. Atau pemukiman baru.

Laporan Akhir

IV-13

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

Sumber: SSK Kota Banjarbaru, 2012

Gambar 4.3 Peta Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik


Laporan Akhir

IV-14

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

Sumber: SSK Kota Banjarbaru, 2012

Gambar 4.4 Peta Area Beresiko Sanitasi


Laporan Akhir

IV-15

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

Sumber: SSK Kota Banjarbaru, 2012

Gambar 4.5 Peta Kepadatan Penduduk dan Kawasan Kumuh


Laporan Akhir

IV-16

2014

4.7.

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH

Master Plan Air Limbah Kota Banjarbaru akan memuat beberapa hal yang terkait dengan kebijakan dan strategi (arahan pengembangan
pengelolaan air limbah), layout jaringan dan lokasi IPAL (penanganan air limbah secara off site maupun on site), sebagaimana uraian berikut:
a. Perumusan kebijakan terkait arahan pengembangan pengelolaan air limbah
b. Strategi dan program terkait arahan pengembangan penanganan/ pengelolaan air limbah (pembangunan PS Air Limbah), khususnya
dalam hal :
o Rencana jaringan penyaluran air limbah domestik dengan melihat topografi daerah.
o Rencana pengembangan sarana dan prasarana pengelolaan air limbah.
o Rencana serta arahan kelembagaan untuk pengelolaan air limbah.
o Rencana pola investasi pengelolaan air limbahuntuk 5 tahun pertama, 10 tahun, 15 tahun sampai 20 tahun di sesuaikan dengan
kemapuan daerah dan pembiayaan lain.
o Rencana program dan tahap pembangunan untuk pengolahan air limbah perkawasan/ daerah rencana.
c. Arahan penanganan air limbah untuk kawasan perumahan, permukiman, serta fasilitas dan sarana umum dan sosial di Kota Banjarbaru.
d. Rencana letak dan titik untuk penempatan IPAL secara off site maupun on site (pembagian perkawasan dalam penanganan air limbah
secara off site maupun on site).
e. Usulan prioritas program pengelolaan air limbah

4.7.1. Strategi Pengembangan Prasarana


Menekankan pilihan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi di Kota Banjarbaru. Strategi teknis dapat dirinci sebagai berikut:
a. Meningkatkan akses layanan air limbah komunal bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) perkotaan
b. Membuat Perda yang mengatur bagi dunia usaha dan developer untuk menyediakan sarana pengelolaan limbah ditempat usaha dan
perumahan.
c. Menambah sumber dana untuk sanitasi dengan meningkatkan PAD sanitasi dan mencari sumber pendanaan diluar APBD Kota.
d. Melakukan kerjasama dengan media cetak maupun elektronik dalam hal sosialisasi dan advokasi serta penyampaian isu terkait
pengelolaan air limbah.
e. Melakukan kerjasama dengan BUMN maupun dunia usaha lain dalam rangka peningkatan akses pengelolaan air limbah melalui program
CSR.
f. Membuat kegiatan yang melibatkan langsung peranserta masyarakat.
g. Secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi dengan melibatkan aparat setempat.
h. Melaksanakan Bimtek pengelolaan air limbah permukiman bagi aparat pemerintah dan masyarakat
i. Komponen program untuk strategi teknis terdiri dari:
o Daerah dengan kapadatan tinggi (> 300 jiwa/ ha) dan daerah pengembangan baru harus dilayani dengan sistem terpusat, yang
dibiayai developer dengan pengembalian oleh pengguna.
o Daerah kepadatan sedang (>100 300 jiwa/ ha) harus dilayani dengan interceptor dan fasilitas pengolahan air limbah ukuran kecil
atau komunal.
o Daerah kepadatan rendah ( 50 - 100 jiwa/ ha) dengan lingkungan berkualitas tinggi harus dilayani dengan interceptor berkaitan
dengan program Prokasih (Program Kali Bersih).
o Daerah kepadatan sedang dengan kecepatan perkolasi tinggi (>3 cm / menit) atau muka air tanah tiggi (<1,5 m) harus dilayani
dengan shallow sewer dan tangki septic komunal.
o Daerah kepadatan rendah dengan kecepatan perkolasi rendah rendah (<3 cm /menit) dan muka air tanah rendah (>1,5 m) harus
menggunakan tangki septik dengan desain khusus.
o Seleksi pemilihan metoda pengolahan air limbah dan Lumpur tinja hendaknya dilakukan mulai dari teknologi yang paling sederhana
(operasi dan pemeliharaan), biaya yang rendah (investasi dan operasi), teknologi yang tepat (diterima masyarakat, berguna dan
efektif dalam pengolahannya).

Implementasi pengelolaan air limbah system terpusat di wilayah perkotaan padat penduduk, didasarkan pada pendekatan bertahap (stepwise
approach). Baik melalui sewerage konvensional atau sewerage biaya rendah (small bore sewer atau shallow sewer) yang disesuaikan atau
didesain memenuhi sesuai kondisi wilayah.

Laporan Akhir

IV-17

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

4.7.2. Strategi Pengembangan Kelembagaan


Menekankan pada peningkatan kemampuan institusi yang ada, yang diuraikan dibawah ini:
a. Meningkatkan kemampuan unit pelaksana yang ada dan mengatur kembali unit-unit tersebut untuk melakukan tugas mereka.
b. Untuk mengelola air limbah setempat termasuk pengangkutan dan pengolahan akhir di IPLT dapat diserahan kepada Dinas Pekerjaan
Umum atau Dinas Kebersihan.
c. Tanggung jawab pemerintah pusat yaitu memberi petunjuk, pemantauan dan strategi, pengembangan sumber daya manusia,
peningkatan kemampuan pemerintah daerah dalam persiapan dan pelaksanaan proyek pilot, dan penyediaan investasi awal untuk
pemerintah daerah dalam pembangunan prasarana sanitasi.
d. Program pelatihan bagi staf pemerintah daerah dan penyuluhan sanitasi yang bersifat nasional harus dimulai sebagai bagian dari
strategi.
e. Tanggung jawab pemerintah daerah diantaranya adalah membuat rencana kegiatan (Action Plan) di daerah masing-masing dengan
penekanan pada pelaksanaan sanitasi setempat, membangun fasilitas kakus komunal, melaksanakan proyek sewerage dengan bantuan
dana dari pemerintah pusat jika memungkinkan dan memelihara sistem sewerage dan penyedotan lumpur tinja serta mengawasi dan
mengendalikan bantuan teknik bagi fasilitas sanitasi setempat.
f. Proyek sanitasi setempat yang ada harus diperluas dan dikembangkan menjadi suatu program yang berkesinambungan. Setahap demi
setahap pemerintah daerah mengambil peran yang dibantu oleh konsultan.
g. Pemerintah daerah harus mengkoordinasikan program penanganan air limbah dengan proyek perbaikan kampung (KIP) dan instansi
daerah lainnya yang terkait.

4.7.3. Strategi Pengembangan Pengaturan


Penerbitan dan pelaksanaan peraturan daerah tentang:
o Izin Mendirikan Bangunan yang mengatur bahwa setiap bangunan harus memiliki tangki septik yang sesuai dan/ atau IPAL yang
memenuhi standar efluen.
o Peraturan bagi pengembang yang akan mengajukan ijin pembangunan kawasan nya untuk membuat sistem off-site maupun on-site
yang sesuai standart pelayanan minimal.

4.7.4.

Strategi Pengembangan Edukasi dan Peran Masyarakat

Mendidik dan menambah kesadaran pemerintah daerah dan masyarakat tentang pentingnya sanitasi yang baik, harus dilaksanakan strategi
pelatihan dan sosialosasi yang baik. Program nya lebih baik dilaksanakan melalui lomba2 kebersihan dan sanitasi ataupun program Kali Bersih
dari WC Helikopter maupun pipa pipa buangan dari masing masing penduduk disekitar bantaran sungai. Program tersebut diharapkan
untuk menunjang keinginan masyarakat untuk menggunakan fasilitas pembungan tinja yang baik dan sehat.

4.7.5.

Strategi Pengembangan Ekonomi dan Pembiayaan

Strategi pengembangan ekonomi dan pembiayaan untuk menunjang investasi dari masyarakat dan sektor swasta, dan untuk mempromosikan
mekanisme pengembalian biaya dan peningkatan pendapatan.
a. Investasi swasta dan masyarakat dalam, pengelolaan air limbah harus ditunjang dan dipromosikan dengan upaya sebagai berikut:
Kegiatan promosi.
Spesifikasi dan peraturan bangunan.
Pedoman teknis untuk konstruksi dan operasi serta pemeliharaan fasilitas sanitasi.
Fasilitas pendanaan (sistem kredit) dan bantuan bagi konstruksi fasilitas pembuangan tinja secara individual atau komunal.

b. Mekanisme pengembalian biaya dan pengumpulan pendapatan perlu dirinci lebih lanjut.
c. Bantuan teknis dan bantuan keuangan bagi fasilitas individual atau komunal dngan sanitasi setempat harus diperpanjang dan dana
dialokasikan untuk sistem kredit berbeda tergantung kondisi setempat.
d. Biaya bersama satu kelompok untuk sistem individual, harus juga diperkenalkan bagi fasilitas komunal yang digunakan oleh sejumlah kecil
rumah tangga.

Dasar-dasar pengembangan kerjasama kemitraan antara Pemerintah dan Swasta didasarkan kepada Keppres 80 / 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah, dan Perpres 67 / 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam
Penyediaan Infrastruktur.

Laporan Akhir

IV-18

2014

Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru

Secara mendasar, model kerjasama bisa dipisahkan berdasarkan sumber dananya, yaitu sumber dana murni pemerintah (APBN atau APBD) dan
sumber dana pihak ketiga (swasta). Berikut adalah indikasi model-model kemiteraan dilihat dari sumber pembiayaannya:
A.

Investasi Pemerintah
Adalah upaya investasi dan pembiyaan pembangunan yang berasal dari anggaran pemerintah pusat melalui APBN dan pemerintah
daerah melalui APBD. Ciri investasi pemerintah adalah;
o

dilakukan terhadap obyek pembangunan infrastruktur yang sulit diidentifikasi dari segi pemulihan biayanya.

biasanya investasi yang bersumber dari pemerintah untuk infrastruktur dasar baik yang bersifat cost-recovery maupun yang bersifat
non-cost recovery, misalnya; air bersih, persampahan, air limbah, jalan penghubung, jalan poros, tenaga dan jaringan listrik,
jaringan telekomnikasi.

jika pembiayaan pembangunan cukup besar dan tidak bisa dicukupi oleh satu periode APBD, maka pemerintah daerah yang
bersangkutan akan merumuskan pola pembiayaan multi-tahun melalui perjanjian induk.

dilakukan pada wilayah yang peran masyarakat/ dunia usahanya yang relatif lemah dan minimal sekali.

merupakan pembiayaan infrastruktur berasal dari APBD terhadap pengelolaan daerah, di mana pembiayaan tersebut nantinya akan
dikonversikan sebagai penyertaan modal (saham).

B.

Investasi Swasta
Adalah upaya investasi dan pembiayaan yang dananya berasal dari sumber masyarakat dan badan usaha swasta (dunia usaha). Ciri-ciri
investasi ini adalah;
o

dilakukan terhadap obyek (proyek) pembangunan infrastruktur yang mudah diidentifikasi dari segi pemulihan biayanya.

dilakukan pada wilayah yang peran pemerintahannya relatif lemah dan minimal sekali.

Laporan Akhir

IV-19

Anda mungkin juga menyukai