Anda di halaman 1dari 7

Borang Portofolio

Topik :

Tuberkulosis Paru

Tanggal (kasus) :

23 Maret 2015

Presenter :
dr. Dessy Vinoricka Andriyana
Pembimbing :
dr. Rita
RSUD Kudungga Sangatta, Kutai Timur

Tempat Presentasi :
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Wanita, 29 thn, batuk berdahak lama lebih dari sebulan, sesak nafas, disertai
Deskripsi :
penurunan nafsu makan dan berat badan.
Tujuan :
Mengobati TB Paru, menghindari adanya kemungkinan penularan TB paru.
Bahan
Tinjauan Pustaka Riset
Kasus
Audit
Bahasan :
Cara
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
E-mail
Pos
Membahas :
Data Pasien : Nama : Ny. R, 30 tahun, BB : 42 kg, TB : 152cm
Nama Unit Pelayanan : IGD
Telp : Terdaftar sejak : RSUD Kudungga Sangatta
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis :
TB Paru BTA (-) dengan Efusi Pleura Sinistra.

Keadaan umum sakit sedang, pasien mengeluhkan sesak sejak 4 jam sebelum masuk Rumah
Sakit. Pasien juga mengeluhkan batuk yang dirasa sudah selama + 1 bulan, demam (+)
sumer-sumer, keringat malam tidak ada, penurunan berat badan (+) selama sebulan terakhir,
dari 54 kg menjadi 48 kg, riwayat kontak (-).
2. Riwayat Kesehatan/Penyakit: Pasien belum pernah terkena TB paru
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit : Sebelumnya pasien belum pernah menjalani pengobatan TB.
Hanya obat batuk dan demam saja, namun keluhan yang dirasakan tidak berkurang.
4. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien.
5. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik :
Pasien tinggal di satu rumah dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 9 orang yang
berisi suami, pasien dengan dua orang anak, adik ipar 3 orang, dan mertua. Luas Rumah pasien
sekitar 100m2, dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu dan satu dapur tetapi tidak terdapat
ventilasi dan penerangan yang cukup memadai baik lampu ataupun sinar matahari. Pasien
mengaku ada tetangga yang menderita batuk-batuk seperti pasien dan sedang menjalani
pengobatan selama 6 bulan.
6. Riwayat alergi obat : Tidak ada
7. Riwayat pekerjaan : ibu rumah tangga
1

Daftar Pustaka :
1. De Jong, Wim. 2004. Apendisitis 1. Mansjoer, A. 2000. Kapita selekta kedokteran. Edisi II.
Jakarta : Media Aesculapius FKUI.
2. Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.Jakarta : EGC.
3. The Indonesian Asosiation of Pulmonologist. Hasil Konferensi Kerja VIII, Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia. Jakarta 28-29 November 1998
4. Direktorat Jendral PPM, dan PLP, Departemen Kesehatan; Gerakan Terpadu Nasional
Penanggulangan TB. Jakarta, Mei 1999
5. Brawnwald. HIV : HARRISONS Principle of Internal Medicine. 15 th edition. Volume2.
Page 1852-1913. 2001. USA. The McGraw-Hill Companies
Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis TB paru BTA (+) dengan efusi pleura.
2. Regimen terapi TB
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio
1. Subjektif :
Pasien mengeluhkan sesak sejak 4 jam sebelum masuk Rumah Sakit. Pasien juga
mengeluhkan batuk yang dirasa sudah selama + 1 bulan, demam (+) sumer-sumer,
keringat malam tidak ada, penurunan berat badan (+) selama sebulan terakhir, dari 54
kg menjadi 48 kg, riwayat kontak (-). Sebelumnya pasien belum pernah menjalani
pengobatan TB. Hanya obat batuk dan demam saja, namun keluhan yang dirasakan
tidak berkurang. Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien.

2. Objektif :
Status Generalis
Keadaan Umum

: sakit sedang

Kesadaran

: Composmentis, E4 V5 M6

Antoprometri

: BB : 42 kg, TB : 155 cm

Tanda-tanda Vital

Tekanan Darah : 130/90 mmHg


Nadi

: 149 x/menit, reguler, equal, isi cukup

Frekuensi Napas : 52 x/menit


Temperatur

: 39,1oC

SpO2

: 92%

Kepala/leher
Umum
Ekspresi

: sakit sedang

Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), Cyanosis (-), Dyspneu (+), Pupil isokor
diameter 3mm/3mm, refleks cahaya (+/+), pernafasan cuping hidung (+).

Thorax

Umum
Inspeksi

: Bentuk dan pergerakan dada simetris


Retraksi otot pernapasan (+)

Pulmo : I = bentuk dada simetris, gerak napas simetris, retraksi ICS (+), P = fremitus
raba Dextra > Sinistra
+ +
+ +
+

P=

A = suara napas vesikuler, rhonki (+/+), wheezing (-/-)

Cor

: I = Ictus cordis tidak terlihat

P = Ictus cordis teraba


P = kanan
Kiri

: ICS III parasternal line dextra


: ICS VI 2 jari lateral midclavicula line S

A = S1 S2 tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen :
I = Flat, sikatriks (-)
P = Soefl, nyeri tekan (+) pada region epigastrium, organomegali (-)
P = Timpani, shifting dullness (-), fluid wafe (-)
A = Bising usus (+) normal
Laboratorium:

Hb

: 10 gr/dl

Leukosit

: 8.200/mm3

Trombosit

: 277.000/mm3

Hematokrit : 37%
LED

: 98 mm/jam

GDS

: 121 mg/dl

OT/PT

: 28/ 14

Sputum BTA S/P/S : +/+/+


3. Assesment (penalaran klinis) :
Manifestasi Klinis
Batuk berdahak berawal dari adanya infeksi kuman tuberculosis paru yang membentuk
tuberkel, pada system imun yang rendah bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan
sehingga tuberkel bertambah banyak. Sehingga tuberkel yang banyak ini berkumpul membentuk
sebuah ruang didalam rongga paru, Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi
sputum (riak/dahak).
Pasien merupakan kalangan ekonomi menengah kebawah, dengan mengandalkan gaji
dari suami yang seorang buruh pabrik menuntut pasien untuk membuka warung di depan
rumahnya. Kegiatan sehari-hari tersebut memungkinkan pasien berinteraksi dengan tetangga
yang terinfeksi oleh TB paru lebih sering yang kemungkinan besar sebagai sumber infeksi
terhadap dirinya.
Kondisi lingkungan rumah pasien sangat efektif untuk perkembangbiakan kuman TB
karena rumah pasien sangat lembab dan tingkat pencahayaannya sangat rendah, ditambah lagi
ventilasi yang buruk/ minimnya sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. Penularan TB paru
terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan dalam udara terbuka. Partikel menetap dalam
udara terbuka 1-2 jam.Tergantung ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban.Dalam
4

suasana yang gelap kuman bertahan berhari-hari dan berbulan bulan. Bila terhisap akan
menempel pada saluran nafas.
Dengan memberikan FDC kepada pasien TB diharapkan pasien akan lebih mudah dalam
minum OAT karena jumlah tabletnya lebih sedikit. Selain itu dapat meminimalkan efek samping
OAT. Hal ini karena formula dosis FDC disesuaikan dengan berat badan pasien dan jumlah
komponen obat yang harus diminum pasien. Dengan adanya FDC, tingkat kepatuhan pasien
dalam minum obat akan lebih tinggi karena pengaruh psikis pasien dari melihat jumlah tablet
yang harus diminum, tidak sebanyak dibandingkan dengan pemberian OAT dalam tablet yang
terpisah.
Mual muntah yang terjadi pada pasien merupakan efek samping yang terjadi akibat
penggunaan obat TB yang diminum pasien selama ini. Efek samping yang muncul kemungkinan
merupakan efek dari INH dan pirazynamid yang dapat menimbulkan gangguan pada GI tract dan
hepar. Tetapi pada pasien ini belum ditemukan adanya tanda-tanda gangguan fungsi hati.
4. Plan :
DIAGNOSIS KERJA
-

TB Paru BTA (+)

Efusi Pleura Sinistra

TERAPI
-

O2 3 lpm nasal canul

IVFD RL/D5 20 tpm

Inj. Ranitidin 2 x 1 gr iv

Inj. Ceftriaxon 2 x 1 gr iv

Combivent 2 x 1 amp

OAT FDC 1 X 3 tab

Pamol 3 x 1 tab prn, Ambroxol 3 x 1 tab, Salbutamol 3 x 2 mg

RENCANA
PENGOBATAN: Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk
mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif ini diberikan secara tepat,
biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar
pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam 2 bulan. Pada tahap lanjutan pasien mendapat
5

jenis obat lebih sedikit namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting
untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan
Jenis-jenis tablet FDC dikelompokkan menjadi 2, yaitu: FDC untuk dewasa dan FDC
untuk anak-anak. Tablet FDC untuk dewasa terdiri tablet 4FDC dan 2FDC. Tablet 4FDC
mengandung 4 macam obat yaitu: 75 mg Isoniasid (INH), 150 mg Rifampisin, 400 mg
Pirazinamid, dan 275 mg Etambutol. Tablet ini digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam
tahap intensif dan untuk sisipan. Tablet 2 FDC mengandung 2 macam obat yaitu: 150 mg
Isoniasid (INH) dan 150 mg Rifampisin. Tablet ini digunakan untuk pengobatan intermiten 3 kali
seminggu dalam tahap lanjutan. Baik tablet 4FDC maupun tablet 2FDC pemberiannya
disesuaikan dengan berat badan pasien. Untuk melengkapi paduan obat kategori II tersedia obat
lain yaitu: tablet etambutol @400 mg dan streptomisin injeksi (vial @750 mg).
Dosis dan aturan pakai FDC disesuaikan dengan berat badan pasien. Untuk pasien TB
dewasa yang masuk dalam kategori I dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Berat Badan

Tahap Intensif tiap hari

Tahap Lanjutan 3 kali

selama 56 hari

seminggu selama 16 minggu

30 37 kg

2 tablet 4FDC

2 tablet 2FDC

38 54 kg

3 tablet 4FDC

3 tablet 2FDC

55 70 kg

4 tablet 4FDC

4 tablet 2FDC

71 kg

5 tablet 4FDC

5 tablet 2FDC

PENDIDIKAN:
Pencegahan terhadap penyakit TB dapat dilakukan dengan hidup sehat dengan makan
makanan bergizi dan teratur, istirahat yang cukup, olah raga teratur, hindari rokok, minuman
beralkohol, obat bius, hindari stress. Kemudian untuk mencegah terjadinya penularan TB, maka
para pasien TB diharapkan menutup mulut saat batuk dan tidak meludah di sembarang tempat.
6

Usaha pencegahan lainnya yaitu dengan melakukan imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin)
yang akan memberikan kekebalan aktif pada penyakit TB. Selain itu menjaga daya tahan tubuh
juga penting dalam mengantisipasi penyakit TB. Dengan daya tahan tubuh yang kuat maka tidak
mudah untuk terserang infeksi oportunistik (TB).
Selain itu pasien TB juga diharuskan memiliki PMO (Pengawas Minum Obat) sehingga
dapat menjamin kepatuhan pasien dalam minum OAT. Pada pasien ini PMOnya adalah mertua
pasien itu sendiri. Setiap pasien TB harus memiliki kartu pengobatan dan kartu identitas pasien.
Kedua kartu tersebut diperoleh saat pasien berobat di unit pelayanan kesehatan. Adapun fungsi
kedua kartu tersebut yaitu sebagai laporan terhadap hasil pengobatan pasien sehingga jalannya
pengobatan dapat terkontrol dengan baik.
KONSULTASI:
Konsultasi pada spesialis penyakit dalam diperlukan jika terdapat efek samping dari pengobatan
TB yang dilakukan dan terjadinya multi resisten terhadap obat.