Anda di halaman 1dari 5

Soekarno, Pancasila, dan Sejarah Teks

Posted on May 14, 2008 by irenk


Istilah sejarah teks adalah terjemahan bebas oleh penulis untuk konsep hermeneutik
yang lebih dikenal dalam versi bahasa Jerman sebagai Redaktionsgeschichte atau sejarah
redaksi. Konsep ini menegaskan bahwa setiap teks yang diproduksi dalam kebudayaan
selalu mempunyai semacam riwayat hidup berupa sejarah penyusunan, kodifikasi,
perubahan, atau revisi redaksi dan mungkin juga otorisasi teks yang terjadi dari waktu ke
waktu.
Mengetahui sejarah redaksi ini merupakan sebuah prasyarat penting untuk menyimak
makna teks itu dalam hubungan dengan konteks penciptaan atau penyusunannya karena
sering terjadi pergantian atau pertukaran semantik, penambahan anotasi, penyisipan
bagian-bagian baru dalam editing, perbaikan sintaksis atau modulasi stilistik, yang
mengakibatkan pergeseran makna atau perubahan tekanan pada berbagai bagian teks itu.
Sudah jelas Pancasila adalah sebuah teks utama untuk Indonesia. Dalam sejarah
redaksinya, tanggal 1 Juni 1945 menjadi sebuah momen yang amat penting karena pada
hari itu Pancasila dikemukakan kepada suatu publik politik untuk dipertimbangkan,
diuraikan masing-masing silanya secara rinci, dan didemonstrasikan keseluruhannya
sebagai suatu konfigurasi pemikiran yang utuh. Soekarno sebagai penggagas dan juru
bicaranya pada waktu itu dengan tegas memberikan dua kualifikasi utama kepada
Pancasila, yaitu kedudukannya sebagai dasar filsafat negara (philosophische grondslag)
dan fungsinya sebagai suatu pandangan (tentang) dunia (Weltanschauung).
Soekarno dalam pidato yang bersejarah itu menyamakan begitu saja dasar filsafat negara
dan suatu pandangan dunia. Patut dicatat bahwa pandangan dunia, yaitu world view atau
Weltanschauung diperlakukan dalam ilmu-ilmu sosial sebagai pokok kajian dan
penelitian ilmu-ilmu budaya. Clifford Geertz, misalnya, melihat world view sebagai
gagasan orang-orang dalam suatu kelompok budaya tentang dunia yang mereka hadapi
dan hayati, berupa ikhtisar kompleksitas dunia itu dalam beberapa gambaran yang
disederhanakan: apakah dunia itu pada dasarnya baik atau jahat, real atau maya, abadi
atau sementara, merupakan tempat persinggahan sejenak atau tempat orang mengolah
nasib dan membangun masa depannya. Sosiolog Jerman-Inggris, Karl Mannheim,
berbicara tentang Weltanschauung eines Zeitalters atau pandangan dunia dalam suatu
kurun waktu sejarah, jadi mirip dengan suatu semangat zaman atau Zeitgeist. Sementara
itu, filosof Jerman, Karl Jaspers, berpendapat bahwa Weltanschauung tak lain dari suatu
jenis filsafat (karena sifatnya yang menyeluruh dan tidak sektoral), tetapi tidak sekadar
suatu filsafat yang spekulatif, tetapi filsafat yang efektif, suatu wirkende Philosophie,
yang sanggup memberi harapan, kepercayaan, dan membangun komitmen.
Apa pun soalnya, cukup jelas bahwa Soekarno, selama dua dasawarsa (sejak 1926 hingga
1945), berpikir keras tentang apa yang dapat mempersatukan berbagai kelompok suku di
Indonesia menjadi suatu bangsa yang dapat menentukan nasibnya sendiri melalui sebuah

negara merdeka. Apakah mungkin tercapai sebuah dasar tempat semua orang dapat
berdiri bersama secara politik di atas suatu platform nasional?
Sebagai aktivis politik yang berpengalaman, Soekarno memiliki perhatian yang tertuju
pertama-tama pada suatu integrasi politik yang dapat mempertemukan dan
mempersatukan berbagai kelompok politik pada watu itu. Dia tidak banyak berpikir
tentang integrasi sosial atau integrasi budaya, yang kemudian menjadi pokok pemikiran
tokoh-tokoh, seperti Ki Hadjar Dewantara atau Sutan Takdir Alisjahbana.
Apa yang dicari oleh Soekarno adalah suatu tema yang cukup luas, tetapi cukup terpadu,
tempat semua kelompok politik terpenting pada masa itu merasa terwakili asasnya,
identitasnya, dan kepentingannya. Dalam istilah ilmu politik sekarang, Soekarno secara
meyakinkan melakukan suatu agregasi kepentingan politik dan mengartikulasikannya
dengan berhasil.
Jelas sekali Soekarno harus memperhitungkan kelompok-kelompok agama, khususnya
Islam, sebagai kelompok agama terbesar yang terwakili dalam NU dan Masjumi. Tanpa
mencantumkan sila ke-Tuhan-an kelompok-kelompok agama sangat mungkin tidak
tertarik mendukung negara yang akan didirikan. Atas cara yang sama tanpa
mencantumkan sila kebangsaan golongan nasionalis yang mendapat kristalisasi
politiknya dalam PNI barangkali akan tinggal apatis.
Demokrasi dan kedaulatan rakyat jelas akan menarik perhatian kelompok politik yang
menekankan kepentingan rakyat seperti MURBA dan para pejuang demokrasi, seperti
Hatta dan para muridnya dalam PNI Baru. Demikian pula tanpa mengikutsertakan sila
keadilan sosial, partai-partai politik berhaluan kiri tidak akan merasa terpanggil.
Tak perlu diuraikan panjang lebar bahwa penghormatan kepada martabat manusia tidak
bisa diabaikan karena hal tersebut merupakan isu yang dianggap menjadi tanda-kenal
kaum inteligensia baru, khususnya kelompok politik yang mencita-citakan modernisme
sebagaimana dapat diamati dalam subkultur PSI dan Masjumi misalnya.
Jadi, berbeda dari Karl Mannheim, Soekarno tidak berbicara tentang pandangan dunia
dari suatu kurun waktu, tetapi dari suatu tempat tertentu yang bernama Indonesia. Juga,
berbeda dari Karl Jaspers, Soekarno tidak berbicara tentang filsafat tentang dunia
(Weltanschauung), tetapi filsafat tentang kehidupan bersama dalam suatu negara. Dalam
arti itu, Pancasila diusulkan sebagai pandangan hidup (Lebensanschauung) secara politik
Apakah prinsip-prinsip Pancasila dipetik dari nilai-nilai dalam peradaban dunia atau
digali dari kebudayaan-kebudayaan Nusantara adalah isu yang dimainkan dengan piawai
oleh Soekarno sebagai teknik promosi dan persuasi terhadap pendengarnya, melalui
retorika yang amat terpelajar dengan pengucapan yang gilang-gemilang.
Dasar paling bawah (bottom line) pemikiran Soekarno adalah suatu gagasan yang dapat
merepresentasikan identitas dan asas sebanyak mungkin kelompok politik, dan sekaligus
dengan itu mengagregasikan kepentingan politik dalam spektrum seluas mungkin.
Singkat kata, dari segi genealoginya, Pancasila terlahir sebagai suatu historico-political

gentleman agreement, yaitu kesepakatan dari orang-orang dan kelompok-kelompok yang


saling menghormati, meskipun mereka sadar ada banyak perkara di antara mereka yang
tetap sulit dipertemukan. Kesepakatan itu harus dibuat agar dapat tercipta suatu landasan
bagi konsensus nasional mengenai negara yang akan terbentuk.
Kita bersyukur bahwa RI sudah terbentuk di atas landasan tersebut. Fondasi politik ini
sampai kini masih membuat Indonesia sebuah rumah bagi semua orang yang turut
membangunnya, dan ingin hidup tenteram di dalamnya. Semoga rumah ini tidak berubah
menjadi transit house, sekadar tempat bermalam dan menaruh koper bagi orang-orang
yang hendak bepergian entah ke mana.
Ignas Kleden, Sosiolog, Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi
Sumber: Kompas, 23 Juni 2007
Menurut saya sangat jelas bahwa inspirasi atau ilham yang diperoleh Soekarno dalam
pembangkitan Pancasila didapatkan dari berbagai faktor yang pada saat itu sedang terjadi,
bergejolak, dan dimiliki bangsa Indonesia. Soekarno melihat hal ini dari berbagai segi,
baik itu geografis: Indonesia yang merupakan negara kepulauan, Budaya: dimana
Indonesia memiliki beragam kebudayaan, Ekonomi: yang mana pada saat itu ekonomi
Indonesia sangat terpuruk, Politik: dimana kita sangat membutuhkan kekuatan yang
dapat mempersatukan bangsa Indonesia.
perlu di ketahui bahwa kata pancasila sebenarnya sudah dipakai oleh umat Budha.
Pancasila menurut ajaran Budha adalah 5 kode etik Budhisme, yaitu jangan membunuh,
jangan mencuri, jangan berhubungan seksual, jangan berdusta, dan jangan meracuni
diri
Menurut Sukarno Pancasila adalah faham kebangsaan Indonesia. Pancasila dibutuhkan
sebagai landasan bernegara. Hal ini sesuai dengan pidato Sukarno dihadapan BPUPKI
menjelang kemerdekaan Indonesia. Meskipun Pancasila diklaim berasal dari budaya asli
Indonesia, tetapi Sukarno tidak menampik bahwa konsep Pancasila diilhami dari
beberapa pemikir asing
Inilah pernyataan tentang faham kebangsaan Sukarno
Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S di
Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi
pelajaran kepada saya,-katanya : jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa
kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikitpun. Itu terjadi pada
tahun 17. Tetapi pada tahun 1918, alham-dulillah, ada orang lain yang memperingatkan
saya,- ialah Dr. Sun. Yat Sen ! Di dalam tulisannya San Min Chu I atau The Three
People Principles.
Saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmo-politanisme yang diajarkan A. Baars
itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh The Thrre

People Principles itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa mengharap
Dr Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa bung Karno juga seorang
Indonesia yang dengan perasaan sehormathormatnya merasa berterima kasih kepada Dr
Sun Yat Sen, - sampai masuk lobang kubur.
Analisis masing-masing sila
Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa
Pernyataan ini merupakan rumusan ulang dari Indomnesia Merdeka bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Esensi pernyataan dalam sila pertama asli digali dari budaya
Indonesia. Hal ini karena Indonesia merupakan negara religius multi agama.
Sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Pernyataan ini merupakan rumusan ulang dari Perikemanusiaan atau Internasionalisme.
Pernyataan dalam sila kedua terinspirasi dari humanity Gandhi.
Sila ketiga Persatuan Indonesia
Pernyataan ini merupakan rumusan ulang dari Kebangsaan Indonesia. Esensi
pernyataan dalam sila ketiga merupakan adopsi esensi dari Geopolitik Jerman. Hal ini
jelas diungkapkan Sukarno dalam pidatonya.
Sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin Perwakilan.
Pernyataan ini merupakan rumusan ulang dari permufakatan. Esensi pernyataan sila
keempat merupakan adopsi demokrasi ala Barat. Namun Sukarno melihat bahwa terdapat
keanekaragaman orang Indonesia, sehingga demokrasi untuk Indonesia adalah
permufakatan bukan voting seperti di Barat.
Sila kelima Keadila Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Pernyataan ini merupakan rumusan ulang dari Kesejahteraan sosial. Pernyataan sila
kelima terinspirasi kalimat pemimpin Perancis, Jean Jaures bahwa tiap orang memiliki
hak yang sama.
Pancasila merupakan konsep adaptif filsafat Barat. Hal ini merujuk pidato Sukarno di
BPUPKI dan banyak pendiri bangsa merupakan alumni Universitas di Eropa, di mana
filsafat barat merupakan salah satu materi kuliah mereka. Pancasila terinspirasi konsep
humanisme, rasionalisme, universalisme, sosiodemokrasi, sosialisme Jerman, demokrasi
parlementer, dan nasionalisme.
Filsafat Pancasila versi Soekarno

Filsafat Pancasila kemudian dikembangkan oleh Sukarno sejak 1955 sampai berakhirnya
kekuasaannya (1965). Pada saat itu Sukarno selalu menyatakan bahwa Pancasila
merupakan filsafat asli Indonesia yang diambil dari budaya dan tradisi Indonesia dan
akulturasi budaya India (Hindu-Budha), Barat (Kristen), dan Arab (Islam). Menurut
Sukarno Ketuhanan adalah asli berasal dari Indonesia, Keadilan Soasial terinspirasi
dari konsep Ratu Adil