Anda di halaman 1dari 45

Pengantar

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
PERGURUAN TINGGI
Oleh ;

Mardenis, SH, M. Si
Drs. Suwandel Muchtar, MM
(Alumni LEMHANAS-RI)

Latar Belakang.
Bangsa Indonesia yang mendiami kepulauan nusantara
(terletak antara dua benua besar : Asia dan Australia
serta antara dua lautan : Hindia dan Pasifik), telah
menyadari secara kodrati (alamiah) memiliki sifat
kemajemukan dan kebhinekaan baik suku, budaya, agama
serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia yang


dimulai sejak era sebelumnya dan selama penjajahan,
kemudian dilajutkan dengan era perebutan dan
mempertahankan kemerdekaan sampai era pengisian
kemerdekaan menimbulkan kondisi dan tuntutan yang
berbeda sesuai dengan zamannya. Kondisi dan
tuntutan yang berbeda tersebut ditanggapi oleh
bangsa Indonesia berdasarkan kesamaan nilai-nilai
perjuangan bangsa yang senantiasa tumbuh dan
berkembang. Kesamaan nilai-nilai ini dilandasi oleh
jiwa, tekad dan semangat kebangsaan. Kesemuanya itu
tumbuh menjadi kekuatan yang mampu mendorong
proses terwujudnya negara Kesatuan Republik
Indonesia dalam wadah Nusantara.

Nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut,


mempertahankan dan mengisi kemerdekaan telah
mengalami pasang surut sesuai dengan dinamika kehidupan
masyarakat, berbangsa dan bernegara. Semangat
perjuangan bangsa tersebut saat ini telah mengalami
penurunan pada titik yang kritis dan mengkhawatirkan. Hal
ini disebabkan antara lain oleh pengaruh era globalisasi.Era
globalisasi yang antara lain disebabkan karena pesatnya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya
dalam bidang informasi, komunikasi dan transportasi, telah
membuat dunia jadi semakin transparan seolah dunia telah
menjadi sebuah struktur baru yakni struktur global.

Kondisi ini akan mempengaruhi struktur dalam kehidupan


masyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia
serta akan mempegaruhi pola pikir, sikap dan tindakan
masyarakat Indonesia. Pada akhirnya, kondisi tersebut
akan mempengaruhi kondisi mental spritual bangsa
Indonesia.
Seiring dengan era globalisasi tersebut, dinamika
perjuangan bangsa Indonesia saat ini diharapkan pada
tantangan yang semakin berat dihampir semua aspek
kehidupan. Tantangan dalam bidang politik adalah
bergulirnya era reformasi, yang disatu pihak dapat saja
mengantarkan bangsa dan negara Indonesia menjadi
semakin demokratis, tetapi salah-salah juga dapat
mendorong terjadinya disintegrasi sebagaimana yang
dialami oleh masyarakat di Eropa Timur.

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN PENGEMBANGAN


KEPRIBADIAN

a. Makna

Pendidikan
Pasal 1 ayat 1 undang-undang No. 2/1989 (Undang-undang
tentang Pendidikan Nasional) menegaskan bahwa :
Pendidikan adalah usaha sadar untuk mempersiapkan
peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan
atau latihan bagi pelaksanaan perannya di masa yang akan
datang.

Berdasarkan rumusan mengenai pendidikan di atas,


tergambar
jelas
bahwa
pendidikan
mengandung
kandungan makna yang sangat luas dan dalam. Pendidikan
mencakup tiga proses sekaligus, yakni bimbingan
(transfer nilai), pengajaran (transfer ilmu pengetahuan)
dan latihan (transfer keterampilan). Pengajaran
(mengajar) hanyalah salah satu bahagian dari proses
pendidikan, karena ia hanya menyentuh aspek kognitif
(kemampuan nalar). Begitu juga dengan latihan yang
hanya menyentuh aspek psichomotorik dari peserta
didik, tidak akan dapat berubah sikap prilaku peserta
didik kearah yang lebih baik.

Karena itu dapat ditegaskan bahwa hanya proses dan


kegiatan pendidikan yang mencakup tiga aspek penting
yang sangat dibutuhkan oleh setiap peserta didik, yakni
bimbingan, pengajaran dan latihanlah hanya dimungkinkan
terjadinya proses pembentukan dan perkembangan
kepribadian (anak) bangsa.
Berdasarkan rumusan mengenai pendidikan di atas,
tergambar jelas bahwa pendidikan mengandung
kandungan makna yang sangat luas dan dalam. Pendidikan
mencakup tiga proses sekaligus, yakni bimbingan
(transfer nilai), pengajaran (transfer ilmu pengetahuan)
dan latihan (transfer keterampilan).

Pengajaran (mengajar) hanyalah salah satu bahagian


dari proses pendidikan, karena ia hanya menyentuh
aspek kognitif (kemampuan nalar). Begitu juga dengan
latihan yang hanya menyentuh aspek psichomotorik
dari peserta didik, tidak akan dapat berubah sikap
prilaku peserta didik kearah yang lebih baik. Karena
itu dapat ditegaskan bahwa hanya proses dan kegiatan
pendidikan yang mencakup tiga aspek penting yang
sangat dibutuhkan oleh setiap peserta didik, yakni
bimbingan, pengajaran dan latihanlah hanya
dimungkinkan terjadinya proses pembentukan dan
perkembangan kepribadian (anak) bangsa.

Kemudian pasal 39 undang-undang No. 2/1989 menegaskan


bahwa : Isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang
pendidikan wajib memuat : (a) Pendidikan Pancasila; (b)
Pendidikan Agama dan (c) Pendidikan Kewarganegaraan. Hal
ini berarti bahwa ketiga mata kuliah tersebut di atas
adalah merupakan mata kuliah wajib nasional yang harus di
berikan di semua fakultas dan akademi di Indonesia,
disamping mata kuliah tersebut bersifat pendidikan dan
tidak hanya sekedar pengajaran (sebagaimana hal nya
dengan mata kuliah Matematika, Statistik dan lain-lain),
maka adalah sangat beralasan jika pihak Dirjen Pendidikan
Tinggi dengan Surat Keputusan No. 265/DIKTI/KEP/2000
tanggal 10 Agustus 2000 menetapkan ketiga mata kuliah
tersebut sebagai bagian dari Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian (MKPK).

Mengenai istilah Pendidikan kewarganegaraan, jelas


mengandung makna yang lebih akademis dan universal
dibandingkan dengan istilah Pendidikan Kewiraan yang
sebelumnya digunakan terhadap mata kuliah
kewarganegaraan (Civic Education), di bawah ini
dikemukakan tiga definisi oleh pakar dalam bidang ini
sebagai berikut :
1). Prof. Dr. Achmad Sanusi, SH, MPA :
Pendidikan Kewarganegaraan, sesuai dengan predikatnya,
bukan atau program studi, melainkan program pendidikan
yang kepentingannya terletak pada sistem nilai-nilai dan
dengan demikian ada cita-cita, emosi, sikap, cara dan
tingkah laku menurut keharusan/kepatuhan sebagaimana
warga negara yang baik (Warkshop Didaktid dan Metodik
Pendidikan Kewarganegaraan Negara di SMP, 170 : 110).

2). Prof. M. Numan Somantri, M. Sc :


Pendidikan Kewarganegaraan adalah program
pendidikan yang berintikan demokrasi politik, yang
diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lain,
positive influence pendidikan sekolah, masyarakat,
orang tua, yang semuanya itu diproses untuk melatih
pelajar-pelajar berfikir kritis, bersikap dan bertindak
demokratis dalam mempersiapkan hidup demokratis
(Numan Somantri,1971: 8).
Berdasarkan dua rumusan di atas, dapatlah ditarik
kesimpulan bahwa :
a. Pendidikan kewarganegaraan merupakan program
pendidikan dan bukan program studi.
b. Pendidikan kewarganegaraan memasukkan positive
influence dari pendidikan sekolah, pendidikan di
rumah, dan pendidikan di masyarakat.

B. ARTI PENTING KEPRIBADIAN

Kepribadian (personality) secara sederhana dapat diartikan


dengan cirri-ciri khas seseorang (suatu bangsa) yang
membedakannya dengan orang (bangsa) lain. Dalam
kaitannya dengan mata kuliah ini, sudah barang tentu bahwa
kepribadian yang ingin dikembangkan melalui pendidikan ini
adalah kepribadian (watak) bangsa (Nation and Character
bulding). Apakah itu kepribadian bangsa Indonesia?
Kepribadian nasional Indonesia secara sederhana adalah
kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila,
yakni : Ber-Ketuhanan (Religius), Ber-Kemanusiaan
(manusiawi). Persatuan (Nasional), Musyawarah dan
Mufakat (Demokratis) serta Ber-Keadilan Sosial.

Apabila
kita
menyadari
bahwa
Pendidikan
Kewarganegaran merupakan bagian-bagian dari kelompok
Mata Kuliah Pendidikan (pengembangan) Kepribadian,
maka jelaslah bagi kita bahwa mata kuliah ini memegang
peran yang sangat penting dan strategis dalam upaya
pembentukan watak para anak bangsa di negara ini.
Karena itu, mata kuliah pendidikan kewarganegaraan
dirancang untuk memberikan pengertian dan kefahaman
kepada mahasiswa tentang pengetahuan dan kemampuan
dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara
dengan negara sebagai bekal menjadi warga negara yang
dapat diandalkan oleh bangsa dan negara. Berdasarkan
pemahaman ini, maka dapatlah ditegaskan bahwa pada
dasarnya Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan adalah
bagian dari pendidikan politik bangsa.

Mengenai arti pentingnya kepribadian bangsa ini, saat


ini semakin dirasakan oleh para pemimpin dan kalangan
intelektual baik di tanah air begitu di belahan negara lain.
Jika pada masa lalu, ada semacam keyakinan bahwa faktor
intelegensia (kecerdasan/IQ) merupakan faktor utama
yang menjadikan seseorang sukses dalam karir serta
kehidupannya. Namun saat ini, hal tersebut sudah mulai
ditinggalkan dan diganti dengan teori bahwa faktor
kepribadianlah yang lebih menentukan dibandingkan
dengan faktor kecerdasan.

Daniel Golemen dalam bukunya Emotional


Intelengence (2000), menyatakan bahwa peran IQ
bagi keberhasilan seseorang hanya 20 % saja,
sedangkan 80 % nya adalah EQ (Emotional Quetient).
Intelligence Quetient (IQ) sudah sangat terkenal,
karena bukan merupakan barang baru dalam dunia
pendidikan. Tetapi Emotional Quentient (EQ)
sebelumnya kurang mendapat perhatian hingga tidak
begitu menonjol dalam dunia pendidikan. Padahal
seharusnya factor EQ sangat diperhatikan dalam
proses pendidikan, khususnya dalam mata kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan.

IQ adalah ukuran kemampuan seseorang dalam


berpikir, belajar, memahami, mengingat dan
mempertimbangkan sesuatu. Sedangkan EQ
adalah ukuran kemampuan seseorang dalam
mengkoordinasi pikiran, perasaan dan tindakan
(Daeng Sudirwo, 2001 : 6). Berdasarkan
paparan ini dapat ditegaskan bahwa IQ adalah
ukuran potensial seseorang, sedangkan EQ
merupakan ukuran kemampuan seseorang
untuk menggunakan potensi yang dimilikinya itu
secara tepat dan bijaksana. Karena itu dapat
juga dikatakan bahwa IQ relatif tetap,
sedangkan EQ dapat terus berubah dan
dikembangkan.

IQ dan EQ sama-sama penting, namun EQ


dirasakan lebih penting dalam mencapai
keberhasilan hidup seseorang. Orang yang
memiliki IQ yang tinggi, belum tentu dapat
menggunakan
potensinya
dengan
baik,
keberhasilan justru lebih ditentukan oleh
tingkat EQ yang dimiliki. Hal tersebut
dikarenakan orang yang memiliki EQ yang baik
pasti memiliki kemampuan pengendalian diri
(self control) yang lebih baik. Memiliki self
control yang dapat juga disebut bahwa orang
tersebut memiliki kepribadian yang baik
(kuat), sehingga ia dapat selalu melakukan
segala apa yang terbaik bagi dirinya dan masa
depannya.

Faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi EQ


seseorang?. Daeng Sudirwo (2001 : 6) menyimpulkan ada
lima aspek yang mempengaruhi, yakni lingkungan sosial,
keterampilan yang dimiliki, kecakapan, kreativitas dan
ketangguhan, nilai dan keyakinan serta hasil pekerjaan.
Bagaimana mengembangkan EQ?. Daniel Goleman
menjelaskan ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam
mengembangkan EQ, yaitu :
1. Kenalilah diri anda sendiri supaya dapat memperbaiki,
instropeksi diri anda sendiri, apakah anda termasuk
orang yang emosional atau tidak. Bagaimanakah biasanya
anda melampiaskan emosinya? Bagaimana situasi yang
terjadi akibat emosional anda dan analisa anda bagaimana
reaksinya. Kemudian ketahuilah kekurangan dan
kelebihan anda.

2.
3.
4.

5.

Pengendalian diri, sesudah mengetahui kelemahan


dan kelebihan diri anda, berusahalah mengenali diri
agar prilaku anda lebih baik.
Motivasi diri anda sendiri agar terjadi perubahan
EQ dalam diri anda sendiri.
Pekalah terhadap orang lain, jangan orang lain yang
harus menyesuaikan dengan diri anda, tetapi diri
anda sendiri juga harus menyesuaikan diri dengan
orang lain.
Kembangkanlah terus kemampuan berkomunikasi.
Dengan menguasai keempat aspek di atas, maka
binalah komunikasi sosial yang baik dengan bawahan,
sahabat dan atasan (Golemen, 2000 : 17).

Hak dan Kewajiban Warga Negara


Siapakah Warga Negara ?
Pasal 26 (1) UUD 1945 Menegaskan bahwa Indonesia asli
dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan
undang-undang sebagai warga negara. Berdasarkan bunyi
pasal ini, maka yang menjadi warga negara adalah bangsa
Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain, misalnya
peranakan Belanda, peranakan Tionghoa, peranakan Arab
yang bertempat tinggal di Indonesia, mengaku Indonesia
sebagai tanah airnya, bersikap setia pada Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan disahkah oleh undang-undang
sebagai warga negara. Syarat-syarat menjadi warga negara
ditetapkan oleh undang-undang (pasal 26 ayat 2).

Kewajiban Warga Negara


Mengenai kewajiban warga negara secara umum dapat
ditegaskan yakni mematuhi semua peraturan
perundang-undangan yang berlaku di negara RI.
Berdasarkan pasal 2 TAP MPR No. III/MPR/2000
tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan
Perundang-undangan, disebutkan bahwa tata urutan
perundang-undangan yang berlaku secara hierarkhis di
Indonesia adalah sebagai berikut :
TAP MPR
UU
PERPU
PP
KEPRES
PERDA

Tentunya sebagai warga negara yang baik kewajiban


kita tidak hanya mematuhi semua peraturan
perundang-undngan Formal (tertulis) sebagai mana
dimuat dalam TAP MPR No. III/MPR/2000 di atas
saja, lebih dari itu kita juga wajib mematuhi semua
peraturan tidak tertulis (informal) yang berlaku dalam
masyarakat yang dalam bahasa (teori) hukum lazim
disebut dengan konvensi (The Living Law) seperti
hukum kebiasaan, hukum adat, hukum agama, dan
sebagainya.

HAK-HAK WARGA NEGARA


Hak-hak Warga Negara RI Rumusannya Secara Umum Dapat Kita
Temukan Dalam UUD-1945, Antara Lain Sebagai Berikut :
1.

Hak WN diperlukan sama di depan hukum dan pemerintahan.


Negara Kesatuan Republik Indonesia menganut azas bahwa setiap warga
negara mempunyai kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan.
Hal ini adalah konsekuensi dari prinsip kedaulatan rakyat yang bersifat
kerakyatan. Pasal 27 ayat (1) menyatakan tentang kesamaan kedudukan
warga negara di dalam hukum dan pemerintahan dan kewajiban warga
negara dalam hukum dan pemerintahan tanpa kecuali. Hal ini menunjukkan
adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban dan tidak adanya
diskriminasi diantara warga negara mengenai kedua hal ini. Berdasarkan
ketentuan Pasal 27 (1) ini, maka pemerintah berkewajiban :
a. Menegakkan keadilan dan kepastian hukum bagi semua warga negara.
b.Memberikan kesempatan yang sama bagi semua negara untuk
menduduki jabatan-jabatan pemerintahan dan menjadi pegawai negeri
(PNS).

2. HAK WN ATAS PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK


BAGI KEMANUSIAAN
Pasal 27 ayat (2) UUD-1945 menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara
berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Pasal ini memancarkan azas keadilan sosial dan kerakyatan. Berbagai
peraturan perundang-undangan yang mengatur hal ini antara lain terdapat
dalam Undang-undang Agraria, Perkoperasian, Penanaman Modal,
Sistem Pendidikan Nasional, Tenaga Kerja,Usaha Perasuransian,
Jaminan Sosial, Tenaga Kerja, Perbankan dan sebagainya yang
kesemuanya itu bertujuan menciptakan lapangan kerja agar warga negara
memperoleh penghidupan yang layak.
Berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat (2) di atas, maka berarti pemerintah
RI berkewajiban menyiapkan lapangan kerja seluas-luasnya sehingga
memungkinkan setiap warga negara RI mendapatkan pekerjaan dan
penghidupan layak.

3. HAK/KEMERDEKAAN WNI BERSERIKAT,


BERKUMPUL DAN MENGELUARKAN PIKIRIN
SECARA LISAN / TULISAN.
Pasal 28 UUD 1945 menetapkan hak warga negara dan
penduduk untuk berserikat dan berkumpul, mengeluarkan
pikiran secara lisan maupun tertulis dan sebagainya. Pasal
ini mencerminkan bahwa negara Indonesia bersifat
demokratis. Pelaksanaan pasal 28 ini telah diatur dalam
undang-untang antara lain :

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1985 tentang


Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun
1969 tentang Pemilihan Umum Anggota-anggota Badan
Perwakilan Rakyat sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1975 dan UndangUndang Nomor 3 tahun 1980.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1985 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1969
tentang Susunan dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1975.

Kemerdekaan berserikat (berorganisasi) dan berkumpul


(bermusyawarah/berapat) itu menyangkut sejarah yang
panjang, baik pada zaman penjajahan maupun pada zaman
Indonesia merdeka. Sedangkan hak mengungkapkan pikiran
secara lisan, tertulis, dan sebagainya dalam pasal 28 UUD
1945, terutama untuk media pers, telah diatur dalam
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor11 Tahun 1966 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1967 yang
menentukan bahwa pers Indonesia pada dasarnya adalah
bebas untuk mengeluarkan pikirannya, namun harus
bertanggung jawab. Pers ini lazimnya disebut dengan pers
yang bebas dan bertanggung jawab.

Pasal 28 UUD 1945 memuat frase dan sebagainya.

Hal ini menunjukkan terbukanya kemungkinan bagi


setiap orang untuk mengeluarkan pikiran bukan secara
lisan atau tertulis saja, tetapi juga dengan cara-cara
lain, misalnya melalui kegiatan demonstrasi, dan
sebagainya.
Berdasarkan ketentuan Pasal 28 ayat (1) ini, maka di
negara RI untuk membentuk organisasi (berserikat)
dan bermusyawarah, rapat, seminar dan lain-lain
sejenisnya serta untuk mengeluarkan pikiran secara
lisan (orasi) dan tulisan (menulis buku, artikel, dll)
tidak diperlukan adanya izin dari pemerintah/instasi
terkait. Dengan kata lain bahwa untuk tiga jenis
kegiatan di atas, tidak boleh ada politik perizinan
sebagaiman dipraktekkan selama rezim Orde Baru,
sehingga melakukan diskriminasi politik yang sangat
meyolok saat itu.

4. HAK/KEMERDEKAAN WNI UNTUK MEMELUK AGAMA.

Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa : Negara


berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Selanjutnya
Penjelasan UUD 1945 menyebutkan bahwa ayat ini
menyatakan kepercayaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan
Yang Maha Esa. Ayat (2) menyatakan : Negara menjamin
kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan beribadat menurut agama dan
kepercayaannya itu.
Kebebasan memeluk agama merupakan salah satu yang
paling asasi di antara hak-hak asasi manusia, karena
kebebasan tersebut langsung bersumber pada martabat
manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Hak atas kebebasan beragama bukanlah pemberian negara atau


pemberian golongan. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa adalah berdasarkan keyakinan sehingga tidak
dapat dipaksakan.
Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu
sendiri tidak memaksa setiap manusia untuk memeluk dan
menganutnya.
Berdasarkan ketentuan Pasal 29 ayat (2) ini, maka pemerintah
berkewajiban memberikan kebebasan kepada setiap warga
negara/penduduk untuk memilih agama yang disukainya.
Sedangkan kebebasan beribadah dimaksudkan adalah bebas
beribadah menurut main streim (ajaran Standard/baku) agama
masing-masing.
Konsekuensi kebebasan memilih agama bagi setiap penduduk
adalah setelah mereka menjatuhkan pilihan pada agama tertentu
yang disukainya, maka yang bersangkutan terikat dengan ajaran
agama yang dipilihnya itu. Artinya ketika seseorang memilih Islam
sebagai agama pilihannya misalnya, maka yang bersangkutan harus
(wajib) mengamalkan ajaran agama (syariat) Islam, seperti sholat,
zakat, menutup aurat, dan sebagainya.

5. HAK DAN KEWAJIBAN WN UNTUK BELA NEGARA.


Pasal 30 ayat (1) UUD1945 menyatakan hak dan kewajiban
setiap warga negara untuk ikut serta dalam usaha
pembelaan negara (sekarang : bidang Hankam) dan ayat (2)
nya menyatakan bahwa pengaturannya lebih lanjut
dilakukan dengan undang-undang. Undang-undang yang
dimaksud adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982
tentang Pokok-pokok Pertahanan Keamanan Negara yang
antara lain mengatur mengenai Sistem Pertahanan
Keamanan Rakyat Semesta.
Berdasarkan ketentuan Pasal ini, dapat ditegaskan sebagai
berikut
:
Pemerintah
berkewajiban
memberikan
kesempatan yang sama kepada setiap warga negara untuk
menjadi anggota TNI/POLRI.Pemerintah juga berhak
(dalam kondisi tertentu) untuk mewajibkan warga negara
(dengan kualitifikasi tertentu) untuk mengikuti wajib
militer.

6. HAK WN MENDAPATKAN PENDIDIKAN


DAN PENGAJARAN.
Sesuai dengan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang tercermin dalam alinea keempat Pembukaan UUD
1945, yakni Pemerintah Negara Indonesia berkewajiban
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasal 31 ayat (1) UUD
1945 menegaskan bahwa tiap-tiap warga negara berhak
mendapatkan pengajaran. Untuk itu, UUD 1945 mewajibkan
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu
sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undangundang (Pasal 31ayat (2)).
Sistem Pendidikan Nasional (saat ini) diatur dengan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989. Undang-undang ini
menegaskan
bahwa
penyelenggaraan
pendidikan
dilaksanakan melalui dua jalur, yakni jalur pendidikan
sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah.

Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang


diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar
secara berjenjang dan berkesinambungan.
Sedangkan jalur pendidikan luar sekolah mencakup pendidikan
keluarga. Pelaksanaan undang-undang ini terdapat dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 27, 28, 29 Tahun 1990 dan Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999, masing-masing tentang
Pendidikan Prasekolah, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah dan
Pendidikan Tinggi. Pengaturan tersebut juga menetapkan
pelaksanaan wajib belajar 9 tahun secara bertahap.
Berdasarkan ketentuan Pasal ini, maka pemerintah berkewajiban
menyusun dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan yang
murah dan terjangkau oleh kemampuan (ekonomi) rakyat. Hal ini
juga mengandung arti bahwa tidak boleh ada komersialisasi
pendidikan, karena hal itu akan meyebabkan hanya orang kaya saja
yang dapat menikmati pendidikan dan
pengajaran.

7. HAK FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR


DIPELIHARA NEGARA.
Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak
terlantar dipelihara negara. Pasal ini mengandung pengertian bahwa
pemerintah berkewjiban memberikan santunan kepada kalangan fakir
miskin dan anak terlantar, termasuk anak yatim. Hal ini juga
mengandung pengertian bahwa di negara RI tidak boleh ada yang
namanya GEPENG (gelandangan dan pengemis) serta ANJAL (anak
jalanan).
Siapa yang disebut miskin? Secara umum dapat dijelaskan bahwa ada 3
jenis miskin, yakni : Miskin Relatif, yakni orang yang hanya mampu
memenuhi kebutuhan dasar minimal saja , misalnya orang yang tidak
mampu beli rumah, tapi hanya mampu menyewa rumah sederhana. Miskin
Absolut, yakni orang yang disamping tidak mampu beli rumah, menyewa
rumahpun kesulitan. Miskin Struktural, adalah golongan masyarakat
yang jadi miskin karena korban dari kebijakan pembangunan yang tidak
memihak pada rakyat kecil.
Berdasarkan uraian di atas, maka kelompok miskin yang wajib disantuni
pemerintah terutama adalah miskin absolut dan miskin struktural.

1. DEMOKRASI
Secara etmologi, demokrasi berasal dari kata demos =
rakyat dan kratos = pemerintahan. Karena itu, secara
umum demokrasi sering diartikan dengan suatu sistem
pemerintahan dari oleh dan untuk rakyat. Dari rakyat
dalam Pengertian bahwa pemerintahan demokrasi
membutuhkan legitimasi (dukungan) rakyat. Sedangkan
dari berarti pemerintahan demokrasi memerintah atas
nama (mewakili) rakyat dan untuk rakyat berarti suatu
pemerintahan demokrasi setiap kebijakan yang
diambilnya harus sesuai dengan aspirasi (keinginan)
rakyat.

Sedangkan pengertian demokrasi secara terminologis,


menurut Franz Magnis-Suseno setidaknya ada lima
prinsip negara demokrasi sebagai berikut :1.
Menganut sistem negara hukum, dengan kata lain
negara demokrasi ini tidak mengenal kata-kata
absolut. Tidak satu pihak di dalam pemerintahan yang
mempunyai kekuasan yang mutlak. Kekuasaan di negara
demokrasi berada di tangan rakyat dan diatur oleh
hukum yang berlaku, sehingga hukum sangat berperan
besar dalam penerapan demokrasi. 2. Sosial control,
di dalam negara demokrasi pengawasan dilaksanakan
oleh rakyat, semua kegiatan yang dilaksanakan di
dalam pemerintahan mendapat pengawasan dari
rakyat. Ini berarti adanya transparansi di dalam
negara demokrasi.

3. Adanya pemilu yang bebas, menunjukkan nilainilai pokok yang dijunjung oleh demokrasi, yaitu
kebebasan individu dalam mengekspresikan diri. Tidak
ada pengekangan yang menyebabkan keterbatasan
individu dalam melakukan kegiatan, baik berpolitik, di
dalam hukum, sosial budaya, ataupun dalam bidangbidang kehidupan yang lainnya. 4. Prinsip mayoritas,
demokrasi berarti kekuasaan berada di tangan rakyat.
Dengan kata lain nilai-nilai dasar demokrasi merujuk
kepada kepentingan mayoritas, bukan kepada
kepentingan sedikit orang.

5. Adanya jaminan atas Hak Azasi Manusia,


negara-negara yang menganut prinsip demokrasi akan
selalu menjunjung tinggi HAM, hal ini merupakan
sebuah perwujudan dari nilai-nilai demokrasi yang
lebih merujuk kepada prinsip mayoritas (F Magnis
Suseno, dalam Heri Zulfan dan Dahnil Syah, 2000).

Demokrasi di Indonesia
Sesuai dengan semangat UUD 1945, maka sistem demokrasi yang
dianut Indonesia disebut dengan Demokrasi Pancasila, yakni demokrasi
yang bersumber pada falsafah hidup bangsa Indonesia Pancasila yang
perwujudannya seperti tercantum dalam Pembukaan dan Batang Tubuh
UUD 1945. menurut Prof. Hazairin, Demokrasi Pancasila pada dasarnya
adalah demokrasi sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh semua
pihak bangsa Indonesia sejak dahulu kala dan masih dijumpai sekarang
ini dalam praktek hidup masyarakat hukum adat, seperti nagari di
Minang Kabau, desa di Jawa, marga di suku Batak, dan lain-lain
(Hazairin, dalam Rozikin daman, 1992:127).
Berdasarkan teori Hazairin diatas, digambarkan bahwa demokrasi
Pancasila adalah demokrasi asli bangsa Indonesia, yakni demokrasi
sebagaimana dipraktekkan masyarakat hukum adat Indonesia. Sejalan
dengan ini dan dikaitkan dengan sejarah lahirnya rumusan pancasila
(tanggal 29 dan 31 Mei serta tanggal 1 Juni 1945), maka ada pendapat
yang menyatakan bahwa demokrasi pancasila itu miniaturnya dapat
dilihat pada sistem musyawarah mufakat yang dipraktekan musyawarah
hukum adat Minangkabau.

NEGARA DAN HAK-HAK ASASI MANUSIA

Hak asasi manusia diartikan dengan hak-hak dasar yang


dimiliki setiap manusia dan dibawa sejak lahir serta
merupakan pemberian Tuhan Maha Pencipta. Berdasarkan
rumusan ini, dapat ditegaskan bahwa HAM mengandung
beberapa unsure penting sebagai berikut :
1. Hak dasar (pokok), berarti HAM berkaitan dengan hak
yang pokok dan penting bagi kesempurnaan eksistensi
manusia ciptaan Tuhan,
sebaliknya hak-hak yang tidak
(begitu) penting, tidak
termasuk HAM, mesalnya hak
seseorang merokok, berpakaian ketat, dan sebagainya.

2. Dimiliki setiap manuia. Ini berarti bahwa nilai dasar HAM itu
bersifat universal (berlaku sama dimana saja dan kapan saja).
Kendatipun nilai dasar HAM bersifat universal, tetapi
peladsanaan HAM tidak (selalu) sama disemua negara. Hal ini
terjadi karena perbedaan ideologi diantara berbagai
negara/bangsa. Penerapan HAM yang tidak selalu sama ini
disebut nilai partikulan HAM, misalnya penerapan HAM bidang
agama di Amerika berarti bebas beragama, sedangkan di
Indonesia berarti bebas memilih agama yang ada (diakui) oleh
pemerintah.
3. Dibawa sejak lahir. Hal ini mengadung konsekuensi bahwa
perlindungan HAM merupakan kewajiban setiap pemerintah
yang sedang berkuasa dimana saja.
4. Anugerah Tuhan. Konsekuensinya adalah penggunaan HAM harus
disesuaikan dengan keinginan (aturan) Tuhan/agama. Artinya
ketika seseorang melakukan tindakan yang bertentangan dengan
aturan Tuhan/agama, maka orang tersebut tidak dapat
berlindung dibalik dalil HAM.

SEJARAH PERKEMBANGAN HAM INTENASIONAL


A. Makna Charta (1215) yang antara lain berisi : 1. Raja tidak boleh
memungut pajak tanpa seizing dengan penasehat raja. 2. Orang tidak
boleh ditangkap, disiksa atau dihukum tanpa alasan yang syah. B. Habeas
Corpus Act (1679) berisi antara lain : 1. Jika seseorang ditangkap, maka
hakim harus dapat menunjukan alasan penangkapan secara lengkap. 2
Orang yang ditangkap harus diperiksa selambat-lambatnya dua hari
setelah penangkapan. C. Bill of Rights (1689) isinya antara lain : 1.
Membuat Undang-undang harus persetujuan perlemen. 2. Pemungutan
pajak harus dengan persetujuan perlemen. The D. Declaration of
Indenpendece of Amerika (1776) isinya antara lain :Semua orang
diciptakan sama, dikuruniai Tuhan hak-hak yang tidak dapat dilepaskan
darinya, yakni hak hidup, hak kebebasan dan hak menikmati kebahagiaan.
E. The Univesal Declaration of Human Rights (10 Desember 1948)
Ayat 1 preambulenya menegaskan bahwa sesungguhnya hak-hak kodrati
yang diperoleh setiap manusia adalah berkat anugrah Tuhan sekalian
alam.

Macam-macam HAM
Menurut the international Bill of Human Rights, HAM dapat
dibedakansebagai berikut :
1. Personal Rights (Hak-hak azasi pribadi) yang meliputi
kebebasan pendapat, memeluk agama, bergerak dan lainlain.
2. Property Rights (Hak-hak azasi bidang ekonomi) yang
meliputi hak untuk memiliki sesuatu, membeli,
menjual
dan menikmatinya.
3. Rights of legal equality (hak azasi untuk mendapatkan
perlakuan yang sama dalam hokum dan pemerintahan).

4. Political Rights (hak azasi bidang politik) yang meliputi


hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak plih
(memilih dan dipilih dalam Pemilu) hak mendirikan
partai politik dan lain-lain.
5. Social and Culture Rights (hak azasi bidang social dan
kebudayaan) yang meliputi hak memilih pendidikan,
mengembangkan kebudayaan dan lain-lain.
6. Procedural Rights (hak azasi bidang prosedur
peradilan), yang meliputi hak untuk mendapatkan surat
perintah penangkapan/penggeledahan, hak didampingi
pembela dan lain-lain.