Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN KERJA PRAKTEK

TEKNOLOGI DAN IMPLEMENTASI FTTX GPON


PT. TELKOM INDONESIA

Disusun Oleh :
AHMAD NADZARUDIN N H
1110117421416

PROGRAM STUDI
TEKNIK ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI
POLITEKNIK CALTEX RIAU
PEKANBARU
2014
1

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT.TELEKOMUNIKASI INDONESIA, Tbk

Menerangkan Bahwa Mahasiswa Di Bawah Ini :

Ahmad Nadzarudin N H
(1110117421416)
Telah Menyelesaikan Kerja Praktek Di PT.Telekomunikasi Indonesia
Divisi Risti ,Tbk Bandung
Pada Tanggal 03 Maret 2014 28 Maret 2014
Dengan judul laporan

Teknologi dan Implementasi FTTx GPON


PT. Telkom Indonesia

Disetujui Oleh :

Pembimbing Kerja Praktek

Retno Wulansari
NIP. 810097
2

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
karuniaNya penulis dapat menyelesaikan kegiatan Kerja Praktek (KP) serta
menyusun Laporan Kerja Praktek di PT. Telkom Indonesia Divisi Risti, Bandung
dengan baik. Shalawat dan salam bagi Rasulullah SAW yang merupakan sosok
tauladan umat manusia di dunia.
Laporan Kerja Praktek ini disusun berdasarkan pelaksanaan Kerja Praktek
yang penulis lakukan di bagian Fiber Optik PT. Telkom Indonesia Divisi Risti,
Bandung pada tanggal 3 Maret 2014 s.d. 28 Maret 2014. Dalam Kerja Praktek ini
penulis menyusun Laporan dengan judul Teknologi dan Implementasi FTTx
GPON PT. Telkom Indonesia yang dilaksanakan di PT. Telkom Indonesia Divisi
Risti, Bandung. Dengan adanya Kerja Praktek ini, penulis diharapkan dapat
mengaktualisasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan ke dalam dunia
kerja nyata khususnya maupun kehidupan masyarakat pada umumnya.
Laporan Kerja Praktek ini merupakan sebuah laporan penelitian mengenai
pengimplementasian teknologi FTTx GPON yang digunakan oleh PT. Telkom
Indonesia. Laporan ini disusun berdasarkan analisis penulis yang dibandingkan
dengan data dan rujukan yang ada.
PT. Telkom Indonesia sebagai perusahaan swasta yang menyelenggarakan
jasa-jasa Pos dan Telekomunikasi terbaik di Indonesia menjadi pilihan penulis
untuk melaksanakan Kerja Praktek. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima
kasih kepada PT. Telkom Indonesia yang telah bersedia menerima dan memberi
fasilitas kepada penulis untuk menambah pengalaman, pengetahuan, wawasan dan
pelajaran yang berharga.
Dalam pengerjaan kerja praktek ini, penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Baik dari segi
materil, tenaga, pikiran, maupun motivasi. Sehingga dengan bantuan tersebut
dapat mempermudah penulis dalam penyelesaian Kerja Praktek ini. Maka dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1.

Allah SWT

2.

Nabi Muhammad SAW

3.

Kedua orang tua penulis yang selalu memberikan dukungan berupa


materiil maupun non materiil selama penulis melaksanakan Kerja Praktek.

4.

Dosen Politeknik Caltex Riau dan Ibu Siska Novita Posma selaku
Koordinator Kerja Praktek Prodi Teknik Elektronika Telekomunikasi
Politeknik Caltex Riau.

5.

Bapak Dadang Syarif SS., S.Si., M.Sc selaku Direktur Politeknik Caltex

6.

Riau.
Ibu Yohanna Dewi Lulu, MT selaku Asisten Direktur I Bidang Akademik

7.

dan Kemahasiswaan Politeknik Caltex Riau


Ibu Siska Novita Posma, S.T., M.T. selaku Kepala Program Studi Teknik

8.

Elektronika Telekomunikasi.
Ibu Wahyuni Khabzli S.S.T selaku Pembimbing Kerja Praktek penulis.

9.

Ibu Retno Wulansari selaku pembimbing Kerja Praktek yang membimbing


dan mengajarkan penulis tentang segala sesuatunya yang terkait dengan
materi yang dibutuhkan selama kelangsungan Kerja Praktek.

10.

Teman-teman yang berada di Bandung yaitu Rizki Andriana, Kukuh


Setiawan, Imam Al Mahdi, Firi Hamdani, Fikri Abror, dan Mudzakir salam
yang selalu mensupport penulis.

11.

Keluarga penulis yang berada di Bandung yang senantiasa memberi


dukungan moral, motivasi, dan doanya kepada penulis.

12.

Teristimewa kepada teman seperjuangan yang sama-sama melakukan


Kerja Praktek dengan penulis yaitu Gemilang Putra Pratama yang samasama merasakan suka dan duka selama Kerja Praktek.

13.

Buat semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima
kasih banyak atas bantuannya.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Laporan Kerja Praktek ini


masih banyak terdapat kesalahan-kesalahan yang disebabkan keterbatasan

kemampuan penulis terhadap materi yang dibahas dan dianalisa. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi perbaikan
laporan penulis di masa akan datang. Semoga laporan Kerja Praktek ini
bermanfaat bagi semua pihak. Amin.
Bandung, 28 Maret 2014
Penulis

Ahmad Nadzarudin N H

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................
i
DAFTAR ISI ............................................................................................................
iv
DAFTAR GAMBAR................................................................................................
vi
DAFTAR TABEL.....................................................................................................
vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................
1
1.2 Tujuan Kerja Praktek.....................................................................................................
2
1.3 Batasan Masalah............................................................................................................
3
1.4 Manfaat Kerja Praktek...................................................................................................
3
1.5 Metodelogi Kerja Praktek
3
1.6 Tempat dan Pelaksanaan Kerja Praktek.........................................................................
4
1.7 Sistematika Penulisan....................................................................................................
4

BAB II PROFIL PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA


2.1

Profil PT.Telekomunikasi Indonesia


6

2.2

Visi ,Misi, dan Budaya Korporasi Telkom..............................................................


10

2.3

Struktur Organisasi Perusahaan...............................................................................


11

2.4

Produk dan Layanan................................................................................................


13

BAB III FIBER OPTIK DAN GPON


3.1

Fiber Optik14
3.1.1

Pengertian Fiber Optik...............................................................................


14

3.1.2

Struktur Fiber Optik...................................................................................


15

3.2

GPON (Gigabit Passive Optical Network) ................................................


16

3.3

Fiber To The X (FTTX)...........................................................................................


17
3.3.1

Arsitektur jaringan serat Optik...................................................................


17

3.3.2

Access Network.........................................................................................
19

3.3.3

FTTX Services...................................................................................
20

3.3.4

Gangguan Pada FTTx........................................................................


21

3.3.5

Penyebaran FTTH di Indonesia.........................................................


22

BAB IV FTTX GPON


4.1

Perangkat Aktif (GPON OLT) Type B+.........................................................


23

4.2

Segmen FTTH/B.....................................................................................................
24
4.2.1

Segmen A...................................................................................................
24
5

4.2.2

Segmen B...................................................................................................
31

4.2.3

Segmen C...................................................................................................
34

4.2.4

Segmen D...................................................................................................
35

4.3

CPE Customer.........................................................................................................
38
4.3.1

ONU & ONT..............................................................................................


38

BAB V PENUTUP
5.1

Kesimpulan.............................................................................................................
40

5.2

Saran ...................................................................................................................
41

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
42

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
PT Telekomunikasi
Indonesia......6
Gambar 3.1
Serat
Optik.....14
Gambar 3.2
Bagian Fiber Optik..
...15
Gambar 3.3
Struktur jaringan GPON.
...17
Gambar 3.4
Jaringan FTTX....
...18
Gambar 3.5
Active Optical Network dan Passive Optical Network
...19
Gambar 4.1
OLT ...
23
Gambar 4.2
Jaringan FTTH/B
..24
Gambar 4.3
ODF..
.25
Gambar 4.4
Fiber Termination Box
..26
Gambar 4.5
Splitter ......
.................26
Gambar 4.6
Micro Duct
28
Gambar 4.7
ODC......
.30

Gambar 4.8
Ribbon Slotted SSW ..
...32
Gambar 4.9
ODP .
.33
Gambar 4.10
Optical Indoor Outlet ( Roset )
...36

....

Gambar 4.11
Pigtail
36
Gambar 4.12
Patch-cord ....................
.37
Gambar 4.13
Konektor UPC/APC
..38
Gambar 4.14
ONU/ONT .........
39
Gambar 4.15
Triple Play Services......
.39

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1

Struktur Organisasi Telkom ......

...............................................................12

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan semakin pesat perkembangan teknologi terutama pada bidang
telekomunikasi, saat ini banyak perusahaan di bidang telekomunikasi yang mulai
menggunakan teknologi serat optik guna memberikan layanan yang terbaik,
mudah dan cepat untuk masyarakat. Dengan teknologi serat optik maka bentuk
layanan kepada masyarakat semakin bervariasi mulai dari komunikasi suara, data,
bahkan sampai konferensi video secara real time tanpa buffer.
Dengan

perkembangan

teknologi

dalam

bidang

telekomunikasi

memungkinkan penyediaan sarana telekomunikasi dalam biaya yang relatif lebih


rendah, mutu pelayanan yang tinggi, cepat, aman, serta ditunjang oleh kapasitas
yang besar dalam pengiriman informasi. Dalam prosedur transmisi sinyal
informasi terdapat dua aspek mendasar yang harus dipenuhi, yaitu ketepatan
waktu penerimaan (time transperacy) dan penerimaan informasi dengan benar
(information transparency), dan dengan menggunakan Sistem Komunikasi Serat
Optik (SKSO) syarat mendasar dari transmisi dapat terpenuhi. Karakteristik dari
media transmisi serat optik tersebut adalah mempunyai lebar bidang frekuensi
(bandwith) yang besar, redaman rendah, ukuran lebih kecil dan lebih ringan, biaya
murah, tahan terhadap noise dan minim terhadap percakapan silang (cross talk).
Dewasa ini, perkembangan suatu jaringan lokal sudah sampai ke terminal
pelanggan dengan media fiber. Sistem transmisi serat optik yang digunakan pada
jaringan lokal tersebut dinamakan Jaringan lokal Akses Fiber (Jarlokaf). Jarlokaf
merupakan sebuah solusi strategis bagi jaringan akses pelanggan. Dan teknologi
FTTx merupakan salah satu contoh instalasi Jarlokaf dengan beberapa keunggulan
diantaranya adalah stabilitas bandwidth untuk menjangkau daerah yang jauh serta
tersedianya bandwith kumulatif sampai dengan 1 Gbps, Kondisi ini menjamin
konvergensi layanan bisa dikirimkan ke pelanggan dengan kualitas yang baik.

Oleh sebab itu, sebagai mahasiswa teknik mempunyai tanggung jawab yang
besar untuk menjadi bagian dalam perkembangan teknologi tersebut dengan
menguasai teori maupun praktek yang sesuai dengan bidang yang kami tekuni.
Sebagai salah satu wujud dan tanggung jawab tersebut, disamping belajar di
bangku perkuliahan penulis juga melaksanakan kerja praktek yang di laksanakan
di PT. TELKOM INDONESIA.
Kerja praktek ini merupakan salah satu syarat yang harus di tempuh sebelum
mengerjakan Tugas Akhir (TA). Tak terkecuali pula di Politeknik Caltex Riau
jurusan Teknik Elektronika Telekomunikasi.

1.2 Tujuan Kerja Praktek


Tujuan kerja praktek yang dilaksanakan di PT Telkom Indonesia adalah
sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku
perkuliahan dengan praktek langsung di lapangan secara nyata.
2. Mahasiswa dapat menyerap setiap ilmu praktis yang belum diterima
selama di bangku perkuliahan.
3. Mahasiswa dapat meningkatkan

kemampuan

dalam

bidang

ketrampilan dan keahlian terutama di bidang telekomunikasi.


4. Agar mahasiswa dapat menyesuaikan (menyiapkan) diri dalam
menghadapi lingkungan kerja setelah mereka menyelesaikan studi.
5. Mahasiswa dapat menggunakan hasil atau data-data kerja praktek
untuk dikembangkan menjadi tugas akhir.
6. Memenuhi agenda wajib Polteknik Caltex Riau bagi mahasiswa
jurusan Elektronika Telekomunikasi.

1.3 Batasan Masalah


Adapun hal yang akan dibahas dalam kerja praktek kali ini adalah tentang
TEKNOLOGI

DAN

IMPLEMENTASI

INDONESIA.

FTTX

GPON

PT

TELKOM

1.4 Manfaat Kerja Praktek


Adapun manfaat yang diperoleh dari kerja praktek ini adalah sebagai
berikut :
1. Membantu kampus Politeknik Caltex Riau dalam memberikan soft skill
(kemampuan dasar berinteraksi dalam dunia kerja) yang baik bagi
mahasiswa
2. Terjalin kerjasama antara Politeknik Caltex Riau dengan instansi tempat
Kerja Praktek yaitu PT Telkom Indonesia
3. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan diluar lingkungan kampus
khususnya tentang telekomunikasi
4. Menambah pengalaman sebelum terjun langsung ke masyarakat ataupun
dunia kerja bagi mahasiswa Kerja Praktek (KP)
5. Membantu mahasiswa dalam menentukan judul Tugas Akhir.
1.5 Metodologi Kerja Praktek
1. Observasi
Metode pengumpulan data dengan mengamati langsung terhadap
kegiatan yang berlangsung pada perusahaan.
2. Interview
Merupakan metode pengumpulan data dengan cara mengadakan
konsultasi kepada pembimbing Kerja Praktek lapangan, dan pihak
pihak yang lebih memahami bidang yang dipelajari.

3. Studi Literatur
Melakukan pencarian informasi melalui buku-buku bacaan, produk
manual dan website lainnya, serta modul yang diberikan oleh
pembimbing lapangan dan staff Telkom Indonesia.
1.6 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek
Kerja Praktek dilaksanakan di PT. Telkom Indonesia gedung OASIS Jl. Geger
Kalong Hilir, Bandung. Terhitung sejak tanggal 3 maret sampai dengan 28
maret 2014.

1.7 Sistematika Penulisan


BAB I

PENDAHULUAN
Menjelaskan mengenai latar belakang, ruang lingkup kajian, tujuan
penulisan, metode pengumpulan data, dan sistematika penulisan
laporan kerja praktek.

BAB II

PROFIL PERUSAHAAN
Berisi tentang profil dan sejarah singkat PT. Telkom Indonesia,visi
dan misi perusahaan serta wilayah dan cakupan bisnis.

BAB III

DASAR TEORI
Berisi informasi dasar mengenai fiber optik, GPON (Gigabit
Passive Optical Network), dan FTTX.

BAB IV

PEMBAHASAN
Membahas tentang implementasi dan teknologi FTTX pada GPON.

BAB V

PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan dan saran bagi PT. Telkom Indonesia
tentang Teknologi dan Implementasi FTTX pada GPON
berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penulis selama dalam
masa kerja praktek di PT. Telkom Indonesia.

BAB II
PROFIL PT.TELEKOMUNIKASI INDONESIA
2.1 Profil PT.Telkom Indonesia
PT. Telekomunikasi Indonesia(TELKOM) merupakan salah satu badan
usaha milik Negara(BUMN) yang sebelumnya bernama Pos Ten Telegraafients.
Sebuah

perusahaan

swasta

yang

menyelenggarakan

jasa-jasa

Pos

dan

Telekomunikasi, didirikan dengan staatsblad No.52/1884.kemudian diambil alih


oleh pemerintah Hindia Belanda dengan staatsblad No.395/1906. Sejak itu

berdirilah Post Telefoondients atau disebut PTT Dinets. Tahun 1927 diterapkan
sebagai perusahaan Negara pemerintah Hindia Belanda.
Jawatan PTT berlangsung sampai dikeluarkannya peraturan pemerintah
pengganti undang-undang (Perpu) No.10/1960 yang menetapkan jawatan PTT
untuk tetap menjadi perusahaan negara.

Gambar 2.1 PT Telekomunikasi Indonesia

Kemudiann berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia No.240


tahun 1961, perusahaan jawatan PTT berubah menjadi perusahaan negara(PN)
Pos dan Telekomunikasi. Dalam perkembangan selanjutnya

pemerintah

memandang perlu untuk membagi PN Pos dan Telekomunikasi menjadi 2(dua)


perusahaan negara yang berdiri sendiri-sendiri. Berdasarkan peraturan pemerintah
No.29/1965 dibentuk PN Pos dan Giro dan berdasrkan peraturan pemerintah
No.30/1965didirikan PN Telekomunikasi.
Kemajuan teknologi dan jasa Telekomunikasi mendorong pemerintah
untuk mengubah bentuk perasaan PN telekomunikasi menjadi Perusahaan
Umum(Perum).maka berdasarkan peraturan Pemerintah No.36/1967 resmi berdiri
Perusahaan Umum Telekomunikasi yang populer dengan sebutan PERUMTEL.
Dinyatakan sebagai penyelenggara Telekomunikasi untuk umum, baik
hubungan Telekomunikasi dalam maupn luar negeri. Pada saat itu hubungan
Telekomunikasi luar negeri juga diselenggarakan oleh PT. Indonesia Satelit
Corporation(INDOSAT) yang saat itu berstatus sebagai perusahaan asing bagian
dari America Cabel dan Radio Corporation(sebuah perusahaan di Negara bagian
Delaware/USE).

Memasuki Repelita V pemerintah merasakan perlunya percepatan


pembangunan Telekomunikasi. Untuk itu berdasarkan peraturan Pemerintah
No.25/1991 maka bentuk Perusahaan Umum dialihkan menjadi perusahaan
persero (Persero), sebagaimana dimaksud dengan undang No.9/1969 . Sehingga
secara makro penyelenggaraan jasa Telekomunikasi yang semua di monopoli oleh
pemerintah, secara berangsur-angsur menjadi duopoli TELKOM menjadi sebuah
perusahaan perseroan.
Perusahaan besar-besaran yang terjadi pada tahun 1995 yaitu:
a. Restrukturisasi internal
b. Kerja sama Operasi
c. Internal public offering(IPO)
Restrukturisasi internal dimaksud untuk menjadikan pengolahan perusahaan
menjadi efisien dan efektif, karena terjadi pemisahan antara bidang usaha
utama,bidang usaha terkait dan bidang usaha penunjang.Bidang usaha utama,
TELKOM adalah penyelenggara jasa telepon lokal dan jarak jauh dalam negeri.
Bidang usaha terkait adalah penyelenggaraan jasa yang masih terkait dengan jasa
Telekomunikasi seperti jasa telepon seluler(STBS), sirkit langganan, teleks,
penyewaan transponder satelit, Veri Small Averture terminal(VSAT),internet dan
jasa nilai tambahan lainnya.bidang yang berkait ini ada diselenggarakan dengan
membentuk perusahaan patungan .

Pada era ini dibentuk divisi-divisi:


Adapun ruang lingkup dari masing-masing divisi di TELKOM dapat diuraikan
sebagai berikut :
1. Divisi Regional
Merupakan pengganti struktur Wilayah Usaha Telekomunikasi (WITEL) yang
memiliki daerah teritorial tertentu, namun hanya menyelenggarakan jasa telepon
local dan mendapat bagian dari jasa telepon Sambungan Langsung Jarak Jauh
(SLJJ),

Sambungan

Langsung

Internasional

interkoneksi.

(SLI)

melalui

perhitungan

2. Divisi Long Distance (DLD)


Merupakan divisi yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi jarak jauh
dalam negeri melalui pengoperasian jaringan transmisi jalur utama nasional.
Pelanggan divisi network utamanya adalah untuk kepentingan internal TELKOM,
namun bila memungkinkan dapat melayani eksternal TELKOM.

3. Divisi Multimedia
Merupakan divisi TELKOM yang mengelola jasa Multimedia dan Network
Provider untuk melayani masyarakat, langganan dan internal TELKOM, Internet
Provider, Corporate Customer. Divisi ini bertanggung jawab untuk menyiapkan
bisnis masa depan yang ditandai dengan adanya konvergensi telepon, televisi
kabel (video communication), dan internet (computer communication).

4. Telkom IS Center
Merupakan unit bisnis yang menyediakan system informasi, baik untuk
kepentingan TELKOM maupun pihak lain. Produk-produk layanan yang
dihasilkan : Software, Management Information System, Customer Information
System (SISKA), Billing, Corporate Database, Interkoneksi Billing dan Proses
Telepon Selular.

5. Telkom R & D
Merupakan unit bisnis yang melaksanakan Riset dan Pengembangan
Teknologi Telekomunikasi dan Informasi untuk kepentingan internal TELKOM,
baik riset pengembangan produk baru, standarisasi perangkat, grand scenario
technology, dan uji kaji laboratorium.

6.

Asset Management Unit (AMU)


Merupakan unit bisnis yang mengelola properties (tanah, gedung dan
sarana lain) milik TELKOM yang tidak berkaitan dengan alat produksi.

Pengelolaan properties ini utamanya untuk kepentingan TELKOM, namun


bila memungkinkan dapat melayani pihak lainnya.

7.

Telkom Maintenance Service Center (MSC)


Merupakan unit bisnis yang berfungsi sebagai Repair Centre (Pusat
Perbengkelan) bagi kepentingan TELKOM, meliputi : Pengetesan dan Modul
Repair, menyediakan suku cadang perangkat dan konsultasi teknis.

8.

Telkom Corporate University (CORPU)


Merupakan unit bisnis yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
bagi pegawai TELKOM untuk menunjang terwujudnya Sumber Daya
Manusia yang berkualitas, profesional dan berintegritas.

9.

Divisi Acces (Anak Perusahaan PT.Telkom)


Merupakan unit bisnis yang melaksanakan pembangunan, konstruksi
jaringan, konsultasi pembangunan, desain proyek, dan pengadaan untuk
kepentingan

TELKOM.

Divisi

Pembangunan

ini

tidak

menangani

pembangunan yang menjadi tanggung ke PT.Telkom.[1]

2.2 Visi, Misi, dan Budaya Korporasi Telkom


1. Visi
Menjadi

perusahaan

yang

unggul

dalam

penyelenggaraan

Telecommunication, Information, Media, Edutainment dan Service (TIMES)


di kawasan regional.
2. Misi

Menyediakan layanan TIMES yang berkualitas tinggi dengan harga


yang kompetitif.

Menjadi model pengelolaan korporasi terbaik di Indonesia.

3. Inisiatif Strategi
1. Mengoptimalkan layanan POTS dan memperkuat infrastruktur
broadband.
2. Mengkonsolidasikan dan mengembangkan bisnis sambungan telepon
nirkabel tidak bergerak/Fixed Wireless Access (FWA) serta
mengelola portofolio nirkabel.
3. Mengintegrasikan Solusi Ekosistem Telkom Group.
4. Berinvestasi di layanan Teknologi Informasi (TI).
5. Berinvestasi di bisnis media dan edutainment.
6. Berinvestasi pada peluang bisnis wholesale dan internasional yang
strategis.
7. Berinvestasi pada peluang domestik yang strategis dengan
mengoptimalkan penggunaan aset yang dimiliki.
8. Mengintegrasikan Next Generation Network (NGN) dan
Operational support system, Business support system, Customer
support system and Enterprise relations management (OBCE).
9. Menyelaraskan struktur bisnis dengan pengelolaan portofolio.
10. Melakukan transformasi budaya Perusahaan.
2.3 Struktur Organisasi Perusahaan

10

Sebagai bagian dari implementasi transformasi bisnis Perusahaan menjadi


penyelenggara layanan TIME, Telkom telah melakukan penataan organisasi untuk
memastikan sustainable competitive growth.
Pada tahun 2011, Telkom telah melakukan penyesuaian tugas dan fungsi pada
beberapa unit strategis yaitu:
a. Mengubah nama Direktorat IT, Solution & Supply menjadi Direktorat IT,
Solution & Strategic Portfolio menyusul penambahan fungsi Strategic
Investment & Corporate Planning yang merupakan implikasi dari
diintegrasikannya unit Strategic Investment & Corporate Planning ke
dalam direktorat tersebut untuk mengkondisikan penyelarasan proses
corporate planning & strategic investment. Kemudian agar lebih fokus
pada pengelolaan IT, Service serta Strategic Planning & Strategic
Portfolio, terdapat pengalihan beberapa fungsi dari direktorat ini kepada
direktorat lain, yaitu pengalihan fungsi supply management yang terdiri
dari supply planning & control serta supply center kepada Direktorat
Compliance & Risk Management. Pengalihan fungsi ini membantu
Direktorat IT, Solution & Strategic Portfolio untuk fokus pada
pelaksanaan fungsinya.
b. Penambahan fungsi supply management pada Direktorat Compliance &
Risk Management dilakukan dengan tujuan untuk menyelaraskan proses
supply management dengan proses compliance dan perimbangan beban
kerja direktorat.
c. Perubahan struktur organisasi Internal Audit yang diselaraskan dengan
kebutuhan proses audit secara komprehensif (end to end).
d. Penggabungan Departemen Corporate Communication dan Departemen
Corporate Affair untuk memastikan proses kerja yang lebih efektif dan
efisien.
Berikut ini adalah struktur organisasi Telkom yang berlaku selama tahun 2011:
Tabel 2.1 Struktur Organisasi Telkom

11

Fungsi dan Wewenang


Nama Direktorat

Direktorat
Keuangan
Direktorat Human
Capital & General
Affair

Direktorat
Network &
Solution

Direktorat
Konsumer

Direktorat
Enterprise &
Wholesale
Direktorat
Compliance &
Risk Management
Direktorat IT,
Solution &
Strategic Portfolio
(IT, SSP)

Fokus pada pengelolaan keuangan Perusahaan serta


mengendalikan operasi keuangan secara terpusat melalui
unit Finance, Billing & Collection Center.
Fokus pada manajemen SDM Perusahaan serta
penyelenggaraan operasional SDM secara terpusat
melalui unit Human Resources Center, serta
pengendalian operasi unit: Learning Center, HR
Assessment Center, Management Consulting Center dan
Community Development Center.
Fokus pada pengelolaan Infrastructure Planning &
Development, Network Operation Policy, dan
pengendalian operasional infrastruktur melalui Divisi
Infrastruktur Telekomunikasi, Divisi Access, dan
Maintenance Service Center.
Fokus dalam pengelolaan bisnis segmen konsumer serta
pengendalian operasi Divisi Consumer Services Barat
dan Divisi Consumer Services Timur serta Divisi Telkom
Flexi.
Fokus pada pengelolaan bisnis segmen Enterprise &
Wholesale serta pengelolaan Divisi Enterprise Service,
Divisi Business Service dan Divisi Carrier &
Interconnection Service.
Fokus pada pengelolaan fungsi Risk Management, Legal
dan Compliance, Business Effectiveness, Security &
Safety, dan Supply Planning & Control, serta
pengendalian operasi unit Supply Center.
Fokus pada pengelolaan IT Strategy & Policy, Service
Strategy & Tariff, dan pengelolaan fungsi Strategic
Investment & Corporate Planning, serta pengendalian
operasi unit-unit: Divisi Multimedia, Information System
Center serta R&D Center.

2.4 Produk dan Layanan

12

a. Telepon ( Fixed Line )


Merupakan layanan komunikasi jarak jauh antar pelanggan yang masih
dalam satu wilayah negara. Pada umumnya, pelanggan-pelanggan tersebut
berada dalam wilayah kode area yang berbeda.
b. Telepon Flexi HP dan Flexi Rumah ( Fixed Wireless )
1. Flexi Classy
Flexi Classy adalah layanan Flexi dengan sistem pascabayar.
2. Flexi Trendy
Flexi Trendy adalah layanan Flexi dengan sistem prabayar berbasis
kartu/simcard yang dapat diisi ulang.
3. Flexi Home
Flexi Home adalah layanan flexi untuk perumahan atau kantor
dilayani menggunakan terminal fixed berbasis nomor esn, tarif
aktivasi, abonemen dan biaya pemakaian/usage sama dengan tarif
telepon rumah/pstn.Selain untuk berbicara bisa juga digunakan
untuk akses data dan internet (suara & gambar) yang disebut
Telkomsel@flexi, dial #777 dan disambungkan ke computer
ataupun laptop dengan memakai kabel data.
c. Produk TELKOMSEL

Kartu Simpati(Prabayar),No awalan 0812 dan 0813

Kartu As(Prabayar),No awalan 0852, 0853, 0823

Kartu Halo(Pascabayar), No awalan 0811,0812,dan 0813

BAB III

13

FIBER OPTIK DAN GPON


3.1 Fiber Optik
3.1.1

Pengertian Fiber Optik


Serat optik merupakan sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik

yang sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan digunakan untuk
mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Sumber cahaya
yang digunakan biasanya adalah laser atau LED. Kabel ini berdiameter kurang
lebih 120 mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat optik tidak keluar karena
indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser
mempunyai spektrum yang sangat sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat
tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi.
Perkembangan teknologi serat optik saat ini, telah dapat menghasilkan
pelemahan (attenuation) kurang dari 20 decibels (dB)/km. Dengan lebar jalur
(bandwidth) yang besar sehingga kemampuan dalam mentransmisikan data
menjadi lebih banyak dan cepat dibandingan dengan penggunaan kabel
konvensional. Dengan demikian serat optik sangat cocok digunakan terutama
dalam aplikasi sistem telekomunikasi. Pada prinsipnya serat optik memantulkan
dan membiaskan sejumlah cahaya yang merambat didalamnya.

Gambar 3.1 Serat Optik

3.1.2 Struktur Fiber Optik


Pada umumnya terdiri dari 3 bagian yaitu:
14

1. Bagian yang paling utama dinamakan bagian inti (core), dimana gelombang
cahaya yang dikirimkan akan merambat dan mempunyai indeks bias lebih
besar dari lapisan kedua. Terbuat dari kaca (glass) yang berdiameter antara 2
~125 mm, dalam hal ini tergantung dari jenis serat optiknya.
2. Bagian yang kedua dinamakan lapisan selimut (Cladding), bagian ini
mengelilingi bagian inti dan mempunyai indeks bias lebih kecil
dibandingkan dengan bagian inti. Terbuat dari kaca yang berdiameter antara
5 ~ 250 mm, juga tergantung dari jenis serat optiknya.
Walaupun cahaya merambat sepanjang inti serat tanpa lapisan material kulit,
namun kulit memiliki beberapa fungsi :
a.
b.
c.
d.

Mengurangi cahaya yang loss dari inti ke udara sekitar.


Mengurangi loss hamburan pada permukaan inti.
Melindungi serat dari kontaminasi penyerapan permukaan.
Menambah kekuatan mekanis.

3. Bagian yang ketiga dinamakan lapisan jaket (Coating), bagian ini


merupakan pelindung lapisan inti dan selimut yang terbuat dari bahan plastik
yang elastis.ada tiga jenis coating yang digunakan,yaitu:primer,sekunder,dan
pembungkus pelindung.

Gambar 3.2 Bagian Fiber Optik

3.2 GPON (Gigabit Passive Optical Network)


GPON adalah suatu teknologi akses yang dikategorikan sebagai
Broadband Access berbasis kabel serat optik evolusi dari BPON. GPON
15

merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan oleh ITU-T via G.984 dan
hingga kini bersaing dengan GEPON (Gigabit Ethernet PON), yaitu PON versi
IEEE yang berbasiskan teknologi ethernet. GPON mempunyai dominansi market
yang lebih tinggi dan roll out lebih cepat dibanding penetrasi GEPON. Standar
G.984 mendukung bit rate yang lebih tinggi, perbaikan keamanan, dan pilihan
protokol layer 2 (ATM, GEM, atau Ethernet). Baik GPON ataupun GEPON,
menggunakan serat optik sebagai medium transmisi. Satu perangkat akan
diletakkan pada sentral, kemudian akan mendistribusikan traffic Triple Play
(Suara/VoIP, Multi Media/Digital Pay TV dan Data/Internet) hanya melalui media
1 core kabel optik disisi subscriber atau pelanggan. Yang menjadi ciri khas dari
teknologi ini dibanding teknologi optik lainnya semacam SDH adalah teknik
distribusi traffic nya dilakukan secara pasif. Dari sentral hingga ke arah subscriber
akan didistribusikan menggunakan pasif splitter (1:2, 1:4, 1:8, 1:16, 1:32, 1:64).
GPON menggunakan TDMA sebagai teknik multiple access upstream dengan data
rate sebesar 1.2 Gbps dan menggunakan broadcast kearah downstream dengan
data rate sebesar 2.5 Gbps. Model paketisasi data menggunakan GEM (GPON
Encapsulation Methode) atau ATM cell untuk membawa layanan TDM dan packet
based. GPON jadi memiliki efisiensi bandwidth yang lebih baik dari BPON (70
%), yaitu 93 %.
Prinsip kerja dari GPON itu sendiri ketika data atau sinyal dikirimkan dari
OLT, maka ada bagian yang bernama splitter yang berfungsi untuk
memungkinkan fiber optik tunggal dapat mengirim ke berbagai ONU, untuk ONU
sendiri akan memberikan data-data dan sinyal yang diinginkan user. Pada
prinsinya, PON adalah sistem point to multipoint, dari fiber ke arsitektur premise
network dimana unpowered optical splitter (spitter fiber) fiber optik tunggal.
Arsitektur sistem GPON berdasarkan pada TDM (Time Division
Multiplexing) sehingga mendukung layanan T1, E1 dan DS3. Tidak seperti sistem
multiplekser lainnya, GPON mempunyai layer PMD (Physical Media Dependent)
yang dilengkapi dengan FEC (Forward Error Corection). ONU mempunyai
kemapuan untuk mentransmisikan data di 3 mode power. Pada mode 1, ONT akan

16

mentransmisikan pada kisaran daya output yang normal. Pada mode 2 dan 3 ONT
akan mentransmisikan 3-6 dB lebih rendah daripada mode 1 yang mengizinkan
OLT untuk memerintahkan ONT menurunkan daya apabila OLT mendeteksi
sinyal dari ONT terlalu kuat atau sebaliknya, OLT akan member perintah ONT
untuk menaikkan daya jika terdeteksi sinyal dari ONT terlalu rendah.

Gambar 3.3 Struktur Jaringan GPON

3.3 Fiber To The X (FTTX)


3.3.1 Arsitektur Jaringan Serat Optik
Sistem JARLOKAF setidaknya memiliki 2 buah perangkat opto
elektronik, yaitu satu perangkat opto elektronik di sisi sentral dan satu perangkat
opto elektronik di sisi pelanggan. Lokasi perangkat opto elektronik di sisi
pelanggan selanjutnya disebut Titik Konversi Optik (TKO). Secara praktis TKO
berarti batas terakhir kabel optik ke arah pelanggan yang berfungsi sebagai lokasi
konversi sinyal optik ke sinyal elektronik.
Fiber To The Building (FTTB)
TKO terletak di dalam gedung dan biasanya terletak pada ruang telekomunikasi
basement. Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga
indoor.
Fiber To The Zone (FTTZ)

17

TKO terletak di suatu tempat di luar bangunan, baik di dalam kabinet maupun
manhole. Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga
hingga beberapa kilometer.
Fiber To The Curb (FTTC)
TKO terletak di suatu tempat di luar bangunan, baik di dalam kabinet, di atas
tiang maupun manhole. Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui
kabel tembaga hingga beberapa ratus meter.
Fiber To The Home (FTTH)
TKO terletak di rumah pelanggan. Dari gambar dibawah ini keberadaan kabel
tembaga dapat dihilangkan sama sekali, sehingga keterbatasan kemampuan dalam
menyediakan bandwidth yang lebar dan interferensi tidak akan terjadi.

Gambar 3.4 Jaringan FTTX

Koneksi internet yang selalu terhubung Always On dipasangkan dengan


penyebaran aplikasi seperti IPTV, VOIP, dan lain-lain, membawa kepada
peningkatan bandwidth transmisi access network dengan percepatan perpindahan
dari kabel metal yang conventional ke FTTH. Menurut data ITU-T pada juni 2008
terjadi peningkatan jumlah pelanggan FTTH/B di seluruh dunia. Ini menandai
peningkatan kebutuhan broadband access dari tahun ke tahun. Pekerjaannya saat
ini, adalah meningkatkan skala nasional untuk menggunakan serat optik melalui
yang disebut last mile ke pelanggan rumahan.

18

3.3.2 Access Network


Access Network adalah bagian dari suatu jaringan telekomunikasi yang
menghubungkan pelanggan penyedia layanan langsung mereka. Hal ini kontras
dengan jaringan inti, (Misalnya Jaringan Switching Subsystem dalam GSM) yang
menghubungkan penyedia lokal satu sama lain. Jaringan akses dibagi lagi antara
feeder plant atau distribution network dan drop plant atau edge network. Pada
Jaringan optik yang akan dibahas adalah distribution network yang terbagi
menjadi 2, yaitu AON dan PON.

Active Optical Network (AON) system merupakan rangkaian titik ke


banyak titik (Point to Multi Point, P2MP), penggunaan teknologi ini
terbatas karena biayanya sangat tinggi. Peralatan-peralatan aktif yang
digunakan dalam jaringan AON termasuk optical switch, memerlukan

tenaga listrik.
Passive Optical Network (PON) system adalah metode yang paling efisien
untuk menyediakan Broadband transmission melalui akses network.
Dalam metode ini, sebuah Optical Line Terminal (OLT) pada Central
Office (CO) dan sebuah Optical Network Unit (ONU) dalam rumah
pelanggan menyediakan cost effective FTTH dengan membolehkan
penggunaan Optical coupler untuk membagi 1 fiber menjadi N koneksi.

Gambar 3.5 Active Optical Network dan Passive Optical Network

19

Konstruksi trunk cable yaitu koneksi serat dari central office (CO) sampai
ke tiang atau optical splitter, telah mengcover dari jaringan saat ini. Sisanya untuk
menggelar serat optik dari splitter (coupler) terakhir ke pelanggan rumahan ketika
service diminta, membuat koneksi langsung FTTH antara Central Office dan
pelanggan rumahan menggunakan optical fiber. Serat optik digelar dari tiang atau
optical spliter ke pelanggan rumahan disebut drop cable atau drop optical fiber
dan panjangnya dapat mencapai 1.6 km. Di perumahan metropolitan, drop cable
biasanya kurang dari 500 m panjangnya. Instalasi dari drop cable pertama
membutuhkan konfirmasi dari optical level pada pelanggan rumahan diikuti oleh
pengukuran throughput pada ONU.

3.3.3 FTTX Services


FTTx solution membantu operator menyediakan bandwidth yang lebih
lebar dan service yang lebih kepada pelanggan. Tripe play adalah service yang
bisa dilayani yang diintergrasikan dari beberapa jaringan yang berbeda, yang
memungkinkan pelanggan mendapatkan layanan IPTV, akses internet, dan voice
service. Berikut adalah service yang dapat didukung oleh teknologi FTTx :

High speed internet service berdasarkan LAN sampai 100M.


High speed internet service berdasarkan ADSL/VDSL sampai 100M
Voice service berdasarkan PSTN dan softswitch
TDM service
IPTV service
CATV service
Mobile Backhaul service

3.3.4 Gangguan Pada FTTx


Fiber Optic digelar di bawah tanah (under ground) sampai ke tiang
telepon, dipisahkan oleh coupler dan akhirnya diterminasikan pada masingmasing ONU dalam pelanggan rumahan. Secara relative lebih banyak gangguan
(fiber putus dan loss yang besar) terjadi pada bagian antara coupler dan ONU
(drop cable) dari pada trunk fiber. Ada 3 penyebab utama dari gangguan ini
sebagai berikut :
20

1. Natural Disaster
Fiber dibentangkan pada tiang, persoalannya adalah stress yang berulang dari
angin topan, hujan yang deras dan lain-lain, sama seperti perubahan karena umur,
yang menyebabkan rusak dan loss.
2. Animal Damage
Diserang oleh binatang, seperti bajing/tupai, tikus, burung gagak dan lain-lain,
menyebabkan kerusakan dan fiber putus. Di sebelah barat Jepang, telah banyak
laporan kerusakan disebabkan oleh jangkrik bertelur di kabel.
3. Terlalu banyak fiber menekuk/bending di perumahan pelanggan
Terkadang, orang-orang menata ulang furniture mereka dan memindahkan ONU
dapat membekokkan fiber terlalu banyak, menyebabkan patah dan loss yang
tinggi. Yang paling penting dari isu ini seberapa cepat dan efektif service engineer
menangani gangguan drop cable yang disebabkan oleh beberapa type gangguan.
3.3.5 Penyebaran FTTH di Indonesia
Penyebaran teknologi serat optik di Indonesia tergolong lambat
dibandingkan dengan negara-negara lain. Contohnya di Jepang yang sudah
mengaplikasikan FTTH pada jaringan mereka sejak beberapa tahun lalu dan
Malaysia yang sudah mengaplikasikan FTTH pada jaringan mereka.
Hal ini mungkin dikarenakan biaya cukup tinggi yang harus dikeluarkan
untuk mendeploy teknologi serat optik di Indonesia. Terlebih lagi penetrasi mobile
network di Indonesia yang cukup tinggi. Seharusnya menjadi tantangan
pemerintah dan industri telekomunikasi dalam negeri, misalnya dengan cara
menumbuhkan industri dalam negeri untuk penggunaan perangkat dan
infrastuktur lokal. Dengan cara tersebut diharapkan dapat meminimalisir biaya
yang harus dikeluarkan bagi operator untuk mendeploy jaringan serat optik dalam
negeri. Dengan keunggulan-keunggulan yang dimiliki serat optik seharusnya ini
bisa jadi solusi untuk meningkatkan akses broadband di Indonesia, karena
semakin hari permintaan akan koneksi broadband yang murah dan cepat terus
meningkat.

21

BAB IV
FTTX GPON
4.1 Perangkat Aktif (GPON OLT) Type B+
Optical Line Terminal (OLT) adalah perangkat yang berfungsi sebagai titik
akhir penyedia layanan jaringan optik, dan merupakan perangkat aktif ( OptoElektik ) yang berfungsi :
1. Mengubah sinyal Elektrik menjadi Sinyal Optik
2. Sebagai alat multiplex.
OLT biasa ditempatkan pada pusat penyedia layanan provider (CO) untuk
menghantarkan isyarat layanan kepada setiap pengguna dalam jaringan
rangkaian sistem, dan OLT juga merupakan titik aggregasi suara dari PSTN,
data dari penghala dan video melalui berbagai bentuk sebagai medium
penghantaran

22

Gambar 4.1 OLT

Gambar 4.2 Jaringan FTTH/B

Secara umum jaringan FTTH/B dapat dibagi menjadi 4 Segmen catuan


kabel selain perangkap Aktif seperti OLT dan ONU/ONT, yaitu sebagai berikut:
1. Segmen A : Catuan kabel Feeder
2. Segmen B : Catuan kabel Distribusi
3. Segmen C : Catuan kabel Penanggal / Drop

23

4. Segmen D : Catuan kabel Rumah/ Gedung


4.2 SEGMEN FTTH/B
4.2.1 SEGMEN A
1. FTM (ODF + FMS)
FTM (Fiber Termination management) adalah suatu perangkat yang digunakan
untuk terminasi, interkoneksi dan cross connect fisik kabel optik baik dari outside
plant (OSP), maupun dari perangkat aktif, serta merupakan tempat melakukan
fungsi monitoring dan pengukuran serat optik. ( sesuai STEL L- 055-2011 ) versi
1 ODF FMS ( Optical Distribution Frame dan Fiber Management System ) Adalah
bagian daripada FTM, yaitu perangkat yang berupa suatu frame tertutup dengan
struktur mekanik berupa rack atau shelf atau struktur lain yang mempunyai fungsi
utama sebagai tempat pegangan kabel (fiber) dan passive spliter (elemen pasif
lainnya), dilengkapi fiber organizer serta mampu melindungi elemen-elemen di
dalamnya yang digunakan untuk tempat terminasi kabel serat optik yang berasal
dari OSP dan perangkat aktif.

Gambar 4.3 ODF

a. Fiber Termination Box (FTB)

24

1. Desain konstruksi FTB atau dapat juga disebut Panel berbentuk modular
dan atau tersusun dari beberapa sub panel yang berisi susunan konektor
adaptor SC/UPC. Sub panel tersebut harus terpasang secara Swing atau
Slidding pada modul FTB yang di-mounting pada struktur rak 19.
2. FTB/Panel harus dirancang sedemikian rupa sehingga pemasangan,
penggantian dan pemeliharaan fiber dapat dilakukan dengan mudah dan
tidak mengganggu fiber (live fiber) yang lain.
3. Setiap Panel FTB atau Sub- Panel harus dilengkapi dengan pigtail dan
cassette tempat penyimpanan slack pigtail dan protection sleeve.
4. Masing-masing Panel/Sub Panel harus dilengkapi

dengan

kabel/pathcord guide.dengan sempurna.

Gambar 4.4 Fiber Termination Box

b. Splice Room
Splice room harus dilengkapi splice tray yang berfungsi untuk
mengamankan dan melindungi sambungan fiber/protection sleeve. Splice
room dapat ditempatkan di Cassette pada Panel atau sub modul/sub panel
FTB.
c. Splitter
Dalam hal ODF FTM dilengkapi dengan splitter, maka persyaratan splitter
harus sesuai dengan Spesifikasi Telekomunikasi Splitter ( STEL L- 050
-2008 Versi 1); dan splitter harus diterminasi di ruang khusus berupa panel
19 setara dengan FTB/Panel (FTB Splitter). Dalam hal ODF FTM tidak
dilengkapi dengan splitter, maka harus terdapat Splitter room yang setara
dengan FTB/Panel dan di- mounting pada rak 19.

25

Gambar 4.5 Splitter

d. Pentanahan
ODF FTM harus memiliki terminal pentanahan yang berfungsi untuk
terminasi pentanahan. Setiap bagian ODF FTM yang terbuat dari logam
harus diterminasikan secara terintegrasi. Terminasi pentanahan harus
sedemikian rupa sehingga kabel pentanahan dapat terpasang dengan
sempurna.
2. Feeder FO
Feeder FO mempunyai fungsi untuk menyalurkan informasi yang
berupa sinyal optik hasil konversi perangkat opto-elektik ( OLT ), biasanya
menggunakan kabel serat optik Single Mode tipe G652D Loose tube dan
jenis kabel yang digunakan sesuai dengan instalasinya, ditinjau dari jenis
instalasinya maka jenis kabel feeder terdiri dari beberapa macam yaitu :
a.

Kabel serat optik tanam langsung ( jarang diimplementasikan )

b. Kabel serat optik duct, jenis ini ada 2 macam yaitu :

Dengan sistim duct konvensional ( instalasinya dengan cara


penarikan ). dengan pelindung Duct dan pipa HDPE (merefer STEL K015-2008 )

26

Dengan sistem Micro Duct (MD) dimana cara instalasinya dengan


dorongan tekanan udara ( Air Blown System ). Di indonesia belum
digunakan sebagai Feeder FO baru untuk Ring Inner City

c. Kabel serat optik udara ( aerial ), Jenis ini juga ada 2 macam

Dengan sistim konvensional ( instalasinya dengan cara penarikan ).

Dengan penggantung (merefer STEL K-017-2009 Versi : 2.1 )


Dengan sistem Micro duct (MD) dimana cara instalasinya dengan
dorongan tekanan udara ( Air Blown System ). Di indonesia belum
digunakan sebagai Feeder FO

Gambar 4.6 Micro Duct

Untuk penggunaan jangka panjang PT Telkom menggunakan duct


sedangkan serat optik udara biasa digunakan untuk daerah-daerah yang
sulit dijangkau. Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam
instalasi kabel duct :
Peralatan pendukung Micro Duct (MD)
a. Alat sambung MD Digunakan untuk menyambungkan Microduct yang
putus/patah dengan mekanisme tertentu.
b. Konektor Adalah klip di dalam konektor saluran, digunakan untuk
menggabungkan dua microducts.

27

c. End cap Digunakan untuk mengencangkan ujung tube utama untuk


menghindari air dan debu yang masuk ke dalam saluran juga digunakan
dalam kombinasi dengan katup connector akhir selama instalasi microduct
ke saluran kabel yang ada.
d. Round cutter Merupakan pemotong yang tahan lama dengan harga
terjangkau dirancang untuk memotong kawat padat dan kawat yang
beruntai sampai 8 AWG, multi konduktor dan kabel koaksial sebesar
diameter. Dengan fitur melengkung, pemotongan pisau presisi dengan
tanah sehingga tidak akan merusak konduktor atau bahan dielektrik yang
anda potong. Terbuat dari baja dengan karbon tinggi dan tahan panas untuk
jangka waktu yang lama. Berfungsi untuk:

Memotong kawat padat dan kawat yang beruntai sampai 8 AWG.


Memotong kabel multi- konduktor untuk 1/2 "diameter.
Memotong kabel koaksial tanpa defor masi dielektrik.

e. Tube Cutter Merupakan pemotong serat optik apabila serat optik kotor,
serat tersebut dibersihkan dengan alkohol, kemudian serat di potong
dengan tube cutter lalu serat di masukkan ke alat fusion. Diameter
pemotongan maksimum adalah 12,7 mm.
f. Cutter Ratchet Merupakan pemotong tembaga, kuningan dan alumunium
atau saluran yang berdinding tipis. Pada FO digunakan untuk memotong
kulit pelindung serat optik agar serat tidak mengalami kerusakan.
g. Slitter Alatini mengupas jaket polyethylene bagian luar dan mantel
dalam satu gerakan dapat dilakukan dengan menjempit jaket dan berputar
(dering) untuk stripper akhir. Pisau berputar 90 sehingga mengaktifkan
tuas pisau dan mengupas kulit jaket tanpa merusak bagian dalam, hal ini
memungkinkan persiapan yang mudah, cocok untuk dipakai dilapangan.
3. Sarana Sambung Kabel FO

28

Keperluan kabel untuk diinstalasi dilapangan beraneka ragam,


sedangkan panjang kabel yang ada dalam 1 haspel terbatas berkisar antara
3 Km ( kap 96 core) dan 2 Km ( kap 144 & 264 core ), jika diperlukan
instalasi kabel yang diperlukan lebih dari 3 Km maka diperlukan
perangkat untuk menyambung dan pelindung dari sambungan tersebut, hal
tersebut dimaksudkan untuk menjaga kualitas dari pada kabel, alat
sambung yang digunakan bisanya universal closure spesifikasi merefer
STEL L-037-2001 Ver.2, seperti pada gambar dibawah ini:
Ukuran sarana sambung kabel tipe closure yang ada di pabrikan sbb :
1.Sampai dengan 64 core
2.Sampai dengan 96 core.
3.Sampai dengan 144 core.
4.Sampai dengan 264 core
4. ODC (Optical Distribution Cabinet)
ODC adalah suatu perangkat pasif yang diinstalasi diluar STO bisa di
lapangan ( Outdoor ) dan juga bisa didalam ruangan / di MDF Gedung HRB (
Indoor ), yang mempunyai fungsi sebagai berikut :

Sebagai titik terminasi ujung kabel feeder dan pangkal kabel distribusi
Sebagai titik distribusi kabel dari kapasitas besar ( feeder ) menjadi
beberapa kabel yang kapasitasnya lebih kecil lagi ( distribusi ) untuk

flesibilitas.
Tempat Spliter.
Tempat penyambungan.

29

Gambar 4.7 ODC

5. Splitter
Splitter adalah suatu perangkat pasif yang berfungsi untuk membagi informasi
sinyal optik ( gelombang cahaya ), kapasitas distribusi dari spliter bermacam
macam yaitu 1:2, 1:4, 1:8, 1:16, 1:32, dan 1:64, spesifikasi teknis merefer ( STELL -047- 2008 Ver1). dan ada juga yang inputnya 2 seperti 2:16 dan 2:32
Direkomendasikan digunakan di Telkom sampai 1:32 secara total ( System )
Aplikasinya :
1. 1.One stage 1:32
2. 2.Two Stage 1:2 dan 1:16 atau 1:4 dan 1:8, sehingga yang dipasang di
ODC hanya 1:2 dan 1:4 saja.

4.2.2 SEGMEN B
1. Distribusi FO
Kabel serat optik distribusi ini sama hal seperti kabel serat optik feeder yang
mempunyai fungsi untuk meneruskan informasi yang berupa sinyal optik dari
mulai ODC sampai dengan ODP, tetap menggunakan kabel fiber optic Single
Mode tipe G652D dan jenis instalasinya sama dengan feeder, apakah Tanam
Langsung, Dalam Polongan Duct, HDPE, Micro Duct dan Aerial. Kapasitasnya

30

kabel serat optik untuk distribusi hanya lebih kecil berkisar 6 core sampai 48 core
tergantung jenis kabel yang digunakan seperti :
a) Kabel Duct konvensional dan HDPE mulai dari 12 s/d 24 dengan 6
tube dan 24 s/d 48 dengan 12 tube (merefer STEL K-015-2008 )
b) Kabel dengan Micro duct mulai dari 2 s/d 24 core.
c) Kabel udara mulai dari 12 s/d 24 dengan 6 tube dan 24 s/d 48 dengan
12 tube
d) Kabel Aerial dan Duct dengan per tube 1 core ( 12 core )
e) Dengan menggunakan type kabel yang sudah diimplementasi di
Jepang
o Ribbon Slotted SSW ( utk kap 48 core dan bisa sampai 300
core ) Aerial dan Ribbon Slotted ( utk kap 48 dan bisa sampai
1.000 core ) untuk Duct
o C Slotted SSW untuk Aerial ( Maks 48 ) dan untuk Duct
( Maks 48).
o Single Fiber type SSW ( Self Supporting Window ) kapasitas
sampai dengan 8 core.

Gambar 4.8 Ribbon Slotted SSW

2. ODP ( Optical Distribution Point )


ODP juga merupakan suatu perangkat pasif yang diinstalasi diluar STO bisa
di lapangan ( Outdoor ) dan juga bisa didalam ruangan ( Indoor ) didalam gedung
HRB, yang mempunyai fungsi sebagai berikut :

31

a. Sebagai titik terminasi ujung kabel distribusi dan titik tambat awal
/pangkal kabel drop/ penanggal.
b. Sebagai titik distribusi kabel distribusi menjadi beberapa saluran
penanggal ( kabel drop).
c. Tempat Spliter
d. Tempat penyambungan

Gambar 4.9 ODP

Sehingga ODP ini harus dilengkapi dengan space untuk splicing, space untuk
spliter dan sistem pentanahan. Kapasitas ODP bermacam macam sesuai dengan
kebutuhan, yang ada dipabrikan secara standar yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.

Kapasitas 8 port.
Kapasitas 12 port.
Kapasitas 16 port.
Kapasitas 24 port.
Kapasitas 48 port.

Ditinjau dari lokasi atau tempat pemasangannya ODP dapat di bagi menjadi 3
jenis, yaitu:
1. ODP tipe Wall/ On Pole, ODP jenis ini dipasang di dinding atau juga
bisa dipasang diatas tiang yang tentunya pada instalasi kabel drop atas
tanah ( aerial ).
2. ODP tipe Pedestal, jenis ODP ini diinstalasi diatas permukaan tanah,
dan ODP ini digunakan untuk instalasi kabel drop bawah tanah
dengan pelindung pipa.

32

3. ODP tipe Closure, jenis ODP ini sangat fleksibel bisa dipasang
dibawah tanah, diatas tiang bahkan bisa juga dipasang diantara dua
tiang ( pada kabel distribusi aerial ).

3. Splitter
Seperti halnya pada segmen feeder diatas, namun pada segmen distribusi
biasanya splitter yang dipasang adalah : 1.Spliter 1:8 2.Spliter 1:16.
4. Micro Duct
Seperti halnya pada segmen feeder diatas, namun pada segmen distribusi
ini besar polongannya lebih kecil lagi dan untuk ukuran 5/3.5 mm sampai 24
Way.
4.2.3 SEGMEN C
Kabel drop berfungsi meneruskan sinyal optic dari ODP ke rumah rumah
pelanggan, tipe kabel drop yang digunakan adalah tipe G 657 hal ini dimaksudkan
untuk menanggulangi lokasi instalasinya yang banyak belokan belokan sehingga
harus menggunakan optik yang bending insensitive, kapasitas kabel ini drop pada
umumnya 1, 2, dan 4 core. Untuk letak lokasi instalasinya kabel drop ada 3
macam yaitu:
1. Kabel drop untuk instalasi dengan pelindung pipa HH/ Pit ( sesuai
STEL K- 034-2010 Versi : 1.0)
2. Kabel Drop ABF ( Air Blown Fiber ) dengan Micro Duct.
3. Kabel drop dengan penggantung ( aerial ) sesuai STEL K-0332009 Versi : 1.0
OTP ( Optical Terminal Premises )

33

OTP juga merupakan perangkat pasif yang dipasang dirumah pelanggan,


yang mempunyai fungsi sebagai berikut :
1.Titik terminasi atau titik tambat akhir dari kabel drop.
2.Tempat sambungan core optik / peralihan dari kabel outdoor dengan
Indoor. Kapasitas OTP biasanya 1, 2 dan 4 port.
4.2.4 SEGMEN D (In Building network dan In Home network)
1). Kabel FO Indoor
Kabel indoor juga mempunyai fungsi sama dengan kabel kabel
serat optik lainnya yang dibahas diatas yaitu meneruskan arus informasi
yang berupa gelombang cahaya, kabel indoor ini juga menggunakan tipe G
657 A/B seperti pada kabel drop dikarenakan banyak sekali melewati
tikungan ataupun lekukan didalam rumah/ gedung, banyaknya core yang
digunakan biasanya 1 atau 2 core saja, instalasi kabel indoor juga
bermacam macam cara seperti :
a. Di klam didinding bagian sudut antara plafond an dinding.
b. Diatas Plafond yang dilindungi dengan pipa PVC ukuran 20
mm.
c. Didalam

pipa

counduit

yang

sudah

disediakan

saat

pembangunan rumah/ gedung.


d. Menggunakan micro duct untuk kabel Air Blown Fiber
( ABF ).
e. Diatas kabel tray yang dilindungi dengan pipa PVC ukuran 20
mm atau dengan micro duct khusus untuk building / HRB.
Untuk poin a dan b biasanya untuk rumah atau gedung yang sudah
jadi, sedangkan yang poin c untuk rumah atau gedung yang masih tahap
pembangunan serta poin d dan e bisa untuk yang sudah jadi maupun yang
masih dalam tahap pembangunan rumah/ gedung.

34

2). Optical Indoor Outlet ( Roset )


Roset merupakan perangkat pasif yang diletakan didalam rumah
pelanggan, yang menjadi titik terminasi akhir dari pada kabel fiber optic,
kapasitas roset biasanya 1 atau 2 port.

Gambar 4.10 Optical Indoor Outlet ( Roset )

Accessories Lainnya
Pigtail : Seutas serat optik yang pendek untuk menghubungkan dua
komponen optis, dilengkapi satu konektor pada salah satu ujungnya

Gambar 4.11 Pigtail

Patch-cord : Utas penyambung; kabel interkoneksi; biasanya dengan


konektor yang sudah terpasang di kedua ujungnya, digunakan untuk
menghubungkan dua perangkat

35

Gambar 4.12 Patch-cord

Konektor : Konektor SC/ UPC atau SC/ APC yang dipasang di ujung dari
core optik, baik pada kabel feeder, distribusi, drop maupun indoor.
Spesifikasi teknis merefer pada STEL L-043-2002 Versi 1. Dalam kategori
ini dikenal ada 4 jenis yaitu PC (Phsical Contact), UPC (Ultra Physical
Contact), APC (Angled Physical Contact). Namun dari jenis PC ini ada
turunannya yaitu SPC (Super Physical Contact) dan secara detail
digambarkan sebagai berikut: Dari ke 4 jenis konektor tersebut dan yang
paling banyak digunakan dalam jaringan FTTH disini adalah Konektor
jenis UPC dan APC, dibawah ini:
o Adaptor

Adaptor adalah tempat untuk koneksi serat optik yang

terpasang pada konektor


o Klam C & S Klam C untuk tambat kabel drop ditiang dan Klam S
untuk tambat di dinding,
o Tiang Besi & Beton
Tiang digunakan untuk menyangga kabel
udara Feeder, Distribusi, Drop serta untuk penempatan ODP, yang
digunakan tiang beton / tiang besi dengan tinggi 7 dan 9 meter

36

Gambar 4.13 Konektor UPC/APC

4.3 CPE Customer


CPE (Costumer Premises Equipment) adalah peralatan telekomunikasi
yang dimilik oleh suatu organisasi dan terletak di tempat tersebut, peralatan yg
termasuk CPE yaitu: PBxs(Private Branch Exchange), telepon, key system,
produk

faksimili,

modem,

voice-processing

equipment,

dan

voice

communication equipment.
Sebelumnya untuk 1996, operator tidak diizinkan untuk terlibat dalam
pembuatan pemasaran dan penjualan alat ini, tetapi untuk meningkatkan
kompetisi, kongres membuka pasar telekomunikasi. Sekarang perusahaan
seperti AT&T dapat memberikan satu sumber solusi untuk jaringan luas
dengan menyediakan peralatan dengan di tempat pelanggan dan layanan jarak
jauh.

4.3.1 ONU & ONT


Optical Network Unit ( ONU ) dan Optical Network Terminal adalah suatu
perangkat aktif ( Opto-Elektik ) yang dipasang disisi pelanggan, dimana
ONU / ONT tersebut mempunyai fungsi sebagai berikut :
1.Mengubah sinyal Optik menjadi Sinyal Elektrik.
2.Sebagai alat demultiplex

Gambar 4.14 ONU/ONT

37

Keluaran dari ONU/ ONT adalah layanan yang disebut Triple Play
Services, yaitu :
1.Telephoni ( Voice )
2.Data dan Internet.
3.CATV/ IPTV

Gambar 4.15 Triple Play Services

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan kerja praktek, maka dapat diambil beberapa kesimpulan
mengenai FTTx sebagai berikut:
1. Optical Line Terminal (OLT) adalah perangkat yang berfungsi sebagai titik
akhir penyedia layanan jaringan optik, dan merupakan perangkat aktif

38

( Opto-Elektik ) yang berfungsi untuk mengubah sinyal elektrik menjadi


sinyal optic dan sebagai alat multiplex.
2. FTM (Fiber Termination management) adalah suatu perangkat yang
digunakan untuk terminasi, interkoneksi dan cross connect fisik kabel
optik baik dari outside plant (OSP).
3. ODP (Optical distribution Point) merupakan suatu perangkat pasif yang
berfungsi sebagai tempat distribusi dan memiliki kapasitas yang berbedabeda sesuai kebutuhan.
4. Micro Duct adalah suatu cara instalasi FO dengan dorongan tekanan udara
( Air Blown System ), yang mana di Indonesia belum digunakan sebagai
Feeder FO
5. ONU/ONT adalah suatu perangkat aktif ( Opto-Elektik ) yang dipasang
disisi pelanggan dan berfungsi sebagai

penyedia layanan Triple Play

Services.
6. FTTx adalah teknologi yang praktis, banyak bandwith yang tersedia
sehingga bisa dengan mudah mengakses berbagai layanan komunikasi.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :
1. Diharapkan perkembangan teknologi FTTx pada GPON sudah bisa
diimplemantasikan ke daerah-daerah selain kota-kota besar supaya
teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia lebih maju.
2. Mahasiswa Kerja Praktek (KP) sebaiknya dilibatkan langsung di lapangan,
seperti konfigurasi ataupun perencanaan FTTx GPON.
3. Pengenalan komponen ataupun alat-alat sebaiknya lebih diperdalam agar
Mahasiswa lebih paham mengenai fungsi dari masing-masing alat tersebut.

39

DAFTAR PUSTAKA
[1]http://id.wikipedia.org/wiki/Telkom_Indonesia
[2]http://www.telkom.co.id/infomedia/tentang-infomedia/sejarah/
[3]http://www.scribd.com/doc/86846048/10/Struktur-Organisasi-PT-TELKOMINDONESIA-Tbk
[4]http//:wikipedia.org/wiki/Fiber_to_the_Home#Pencerai_optik_pasif
[5]http://www.exfiber.com/product/Fiber-Optic-Splicing-Component/OpticalDistribution[6]http://lenteraagung.com/item/sieges-odcoptic-distribution-cabinet.html
[7]http://en.wikipedia.org/wiki/Fiber-optic_communication
[8]http://en.wikipedia.org/wiki/Metro_Ethernet
40

[9] Wildan, Muhammad. J.2008. Teknologi dan Implementasi FTTx.

41