Anda di halaman 1dari 17

TUGAS

ANALISIS RESIKO INDUSTRI


ANALISIS LOPA SINTESIS ASETON DARI ISOPROPHIL ALKOHOL DENGAN
REAKTOR FIXED BED MULTITUBE

Disusun oleh:
Kelompok 3
Dody Guntama
14/373614/PTK/09968
Cintiya Septa H
14/373616/PTK/09969
Cyrilla Oktaviananda
14/376450/PTK/10153
Cholila Tamzysi
15/389376/PTK/10496
Ira Purnawati
15/389383/PTK/10503
Munira
15/389389/PTK/10509
Zakiah Awalia JS Dahlan
15/389395/PTK/10515

MAGISTER TEKNIK KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

I. Pendahuluan
Aseton, CH3COCH3, merupakan salah satu senyawa alifatik keton yang sangat
penting.

Pada

umumnya

aseton

digunakan

sebagai

solvent

untuk

beberapa

polimer. Penggunaan yang bersifat komersial adalah penggunaan sebagai senyawa


intermediate dalam pembuatan methyl methacrylate, bisphenol A, diaseton alcohol dan
produk-produk lain. Reaktor merupakan salah satu sistem penunjang dari proses pembuatan
aseton. Pada tahap ini reaktor bekerja pada kondisi isothermal non-adiabatis dengan molten
salt bersuhu 550 C sebagai media pemanas reaktor dan ZnO sebagai katalis. Pada Reaktor
(Fixed Bed Multitube Reactor), isopropil alkohol dalam fase gas dialirkan dalam tube-tube
pada reaktor dan berkontak dengan katalis ZnO kemudian terurai menjadi aseton dan H 2.
Hasil keluaran reaktor adalah produk aseton, H2, air dan sisa reaktan isopropil alkohol yang
berfase gas.
II. Uraian Proses
Reaksi dan Kondisi Operasi
Proses pembuatan aseton dengan dehidrogenasi dari Isopropil Alkohol merupakan
reaksi endotermis dengan bantuan katalis ZnO. Persamaan reaksi keseluruhan adalah sebagai
berikut:
CH3CHOHCH3(g) CH3COCH3(g) + H2(g)
H =60 kJ/mol
Proses dehidrogenasi dilangsungkan pada fasa gas dengan tekanan 2 atm dan suhu
350 C. Konversi dari Isopropil Alkohol mencapai 88, 14%. Karena reaksi terjadi pada kondisi
endotermis, maka akan terjadi penurunan suhu. Berdasarkan teori kesetimbangan, pada reaksi
endotermis, penurunan suhu akan menyebabkan penurunan konversi. Oleh karena itu, untuk
mempertahankan konversi, reaktor dijalankan pada kondisi isotermal dengan bantuan
pemanas reaktor berupa molten salt. Pada reaksi ini diperlukan peran katalis, untuk suhu
reaksi 315-482 C digunakan kombinasi katalis Zinc Oxide (ZnO).
Langkah Proses
Langkah pembuatan aseton dengan dehidrogenasi Isopropil Alkohol dapat dibagi
menjadi tiga tahap proses, yaitu:
a. Tahap penyiapan bahan baku
Tahap ini bertujuan untuk menyiapkan isopropil alkohol sebelum direaksikan di
reaktor. Bahan baku yang digunakan adalah isopropil alkohol dengan kemurnian 80%.
Isopropil alkohol dari Isopropyl Alkohol Tank (T-01) pada suhu 30 C dan tekanan 1 atm
dialirkan menuju Isopropyl Alkohol Pump ( P-02) untuk dinaikkan tekanannya menjadi
2,2 atm. Umpan segar yang sudah dinaikkan tekanannya kemudian dimasukkan ke
Vaporizer (HE-01) untuk diuapkan. Pada vaporizer, isopropil alkohol yang diuapkan

sebanyak 80% dari umpan masuk vaporizer, sehingga hasil keluaran vaporizer berupa
isopropil alkohol campuran cair-gas.
Umpan isopropil alkohol keluar vaporizer kemudian dimasukkan ke Separator Drum
1 (S-01) untuk dipisahkan fase gas dan fase cairnya. Hasil atas S-01 yang berfase gas
kemudian dialirkan ke Funace (FR-01) untuk dinaikkan suhunya menjadi 550 C sesuai
dengan kondisi operasi reaktor. Hasil bawah S-01 dialirkan kembali ke vaporizer dengan
dicampurkan umpan segar isopropil alkohol.
b. Tahap sintesis aseton
Tahap ini terjadi pada Reactor (R-01). Reaktor bekerja pada kondisi isothermal nonadiabatis dengan molten salt bersuhu 550 C sebagai media pemanas reaktor dan ZnO
sebagai katalis. Konversi isopropil alkohol pada reaktor sebesar 88,14%. Reaksi katalitik
berlangsung pada fase gas dengan persamaan (2.1). Pada Reaktor (Fixed Bed Multitube
Reactor), isopropil alkohol dalam fase gas dialirkan dalam tube-tube pada reaktor dan
berkontak dengan katalis ZnO kemudian terurai menjadi aseton dan H 2. Hasil keluaran
reaktor adalah produk aseton, H2, air dan sisa reaktan isopropil alkohol yang berfase gas.
c. Tahap pemurnian produk
1. Pemisahan Aseton
Hasil keluaran Reactor (R-01) diturunkan tekanannya menjadi 1,6 atm dengan
menggunakan Expansion Valve (EV-01). Selanjutnya, gas keluaran reaktor
didinginkan pada Product Gas Cooler (HE-03) menggunakan sistem integrasi dengan
memanfaatkan campuran cairan keluaran Separator Drum 2 (S-02) dan Absober (AB01). Kemudian gas dikondensai pada Condensor (HE-02), hasil keluaran HE-02
adalah campuran aseton, H2, air dan isopropil alkohol berfase cair-gas dengan suhu
35 C. Campuran cair-gas ini dipisahkan kembali menggunakan S-02. Gas H2 dan
sedikit gas isopropil alkohol dan gas aseton keluar menjadi hasil atas S-02,
sedangkan air, aseton dan isopropil alkohol berfase cair keluar sebagai hasli bawah.
Campuran gas hasil atas S-02 dimasukkan ke Absorber (AB-01) untuk diserap sisa
gas isopropil alkohol dan aseton dengan air sebagai solvennya. Hasil atas Absober
adalah gas H2 dengan kemurnian 99,4% volume. Hasil bawah Absorber yang berupa
larutan isopropil alkohol dan larutan aseton dicampur dengan hasil bawah S-02
kemudian dipisahkan pada Distillation Tower 1 (MD-01). Pada MD-01, diinginkan
hasil atas (distilate) berupa aseton yang kemudian diambil menjadi produk dengan
kemurnian 99,86% massa dan disimpan pada Acetone Storage Tank (T-03). Aseton
disimpan dalam bentuk cair pada suhu 30 C dan tekanan 1 atm di dalam T-03.

Sedangkan hasil bawah MD-01 kemudian dipisahkan lagi pada Distillation Tower 2
(MD-02).
2. Recovery Isopropil Alkohol
Hasil bawah MD-01 masih mengandung isopropil alkohol, sehingga bisa di-recovery
dan di-recycle. Campuran ini kemudian dipisahkan kembali pada MD-02. Hasil atas
MD-02 adalah campuran isopropil alkohol dan air dengan sedikit sisa aseton yang
kemudian di-recycle dengan dinaikkan dahulu tekanannya menjadi 2,2 atm dengan
Recycle Pump (P-05), lalu dicampurkan dengan umpan segar isopropil alkohol
sebelum masuk HE-01. Hasil bawah MD-02 berupa campuran air dan isopropil
alkohol kemudian didinginkan dengan Waste Water Cooler (HE-05) hingga suhu 35
C lalu dialirkan ke unit pengolahan limbah.
III.

Analisis Bahan Baku dan Produk


Sifat Bahan Baku (Isopropil alkohol)
Isopropil alkohol dengan nama lain isopropanol, 2-propanol, dimetil-karbinol
mempunyai sifat-sifat:
a. Sifat Fisis
- Rumus Molekul
: C3H7OH
- Berat molekul, g/mol
: 60,10
- Tingkatan hazard
:3
- Label
: flammable liquid
- Kenampakan
: cairan tak berwarna
- Titik didih
: 82 oC
- Titik beku
: -89 oC
- Flash point
: 12 oC
- Auto ignation temperature
: 399 oC
- Flammable limits
: LEL : 2.0 ; UEL : 12.7
- Refractive index (20C)
: 1,3772
- Viskositas (20 C),cP
: 2,4
- Densitas (20 C), g/cm3
: 0,7854
- Specific Gravity (20 C)
: 0,7864
- Temperatur kritis (20 C), kPa: 235,2
- Tekanan kritis (20 C), kPa
: 4.764
- Sangat larut dalam air
- Dampak gangguan kesehatan : gangguan pernapasan dan pencernaan, iritasi
kulit,
iritasi mata.
b. Sifat Kimia
- Isopropil Alkohol didehidrogenasi membentuk Aseton dengan katalis bermacam

macam seperti logam, oksida dan campuran logam dengan oksidanya.


Reaksi:
CH3CHOHCH 3 CH3COCH3 + H2
Isopropil Alkohol dapat juga dioksidasi secara parsialmembentuk Aseton dengan
katalis yang sama denganproses dehidrogenasi.

Reaksi:
-

CH3CHOHCH3 + O2 C3H6O + H2O


Dengan asam halogen dihasilkan Isopropil Halida.
Reaksi:
CH3CHOHCH3 + HX CH3CHXCH3 + H2O
Bereaksi dengan logam-logam aktif seperti sodium danpotasium membentuk
Metal Isopropoksida dan hidrogen.
Reaksi:
2CH3CHOHCH3 + 2M 2CH3CHOMCH3 + H2
Alumina Isopropoksida dapat dihasilkan dari refluxIsopropil Alkohol 99%,

aluminium dengan katalis MerkuriOksida.


Dengan Asam Asetat dan katalis Asam Sulfat dapatmembentuk Isopropil Asetat.
Reaksi:
C3H8O+CH3COOH H2O+CH3CHCOOCCH3CHCH3
Dengan Etilen Oksida atau Propilen Oksida dengan katalisbasa seperti NaOH
akan membentuk Eter Alkohol dariIsopropil Alkohol.
Reaksi:
CH 3CHOC 2 H 4 OHCCH 3
C3H80 + CH2=CH2
2isopropoksietanol

Isopropil Alkohol dapat mengalami dehidrasi menghasilkanDiisopropil Eter


ataupun Propilen.
Reaksi:
2CH3CHOHCH3 (CH3)2CHOCH(CH3)2 + H20
2CH3CHOHCH3 CH3CH=CH2 + H20

(Kirk & Othmer, 1983)

Sifat Produk
1. Produk Utama (Acetone)
Aseton dengan nama lain 2-propanon, dimetil keton mempunyai sifat-sifat sebagai
berikut :
a. Sifat Fisis
- Rumus Molekul
- Berat molekul, g/mol
- Tingkatan hazard
- Label
- Kenampakan
- Titik didih
- Titik beku
- Flash point
- Auto ignation temperature
- Flammable limits
- Refractive index (20C)
- Viskositas (20 C),cP
- Specific Gravity (20 C)
- Temperatur kritis, C
- Tekanan kritis (20 C), kPa
- Sangat larut dalam air
b. Sifat Kimia

: C3H6O
: 58,08
:3
: flammable liquid
: cairan tak berwarna
: 56,29oC
: -94,6oC
: Close Cup: -20 oC ; Open Cup: -9 oC
: 399 oC
: Lower: 2.6% ; Upper: 12.8%
: 1,3588
: 0,32
: 0,783
: 235,05
: 4.701

Dengan proses pirolisa akan membentuk Ketena


Reaksi:
CH3COCH3 HCH=C=O=CH4

Aseton dapat dikondensasi dengan asetilen membentuk 2 metil 3 butynediol,


suatu intermediate untuk Isoprene.

Reaksi:
CH3COCH3+ C2H2 CH3C(CH3)2CCH2
-

Dengan Hidrogen Sianida dalam kondisi basa akan menghasilkan Aseton


Sianohidrin.
Reaksi :
CH3COCH3+ HCN CH3CNOH)CH3

IV.

Piping and Instrumentation Diagram pada Proses Unit Reaktor

Gambar 4.1 Diagram Alir Proses

Gambar 4.2Piping and Instrumentation Diagram pada Proses Unit Reaktor

V. BPCS (Basic Process Control System)


BPCS (Basic Process Control System) pada Multitulbular Fixed Bed Reactor ini adalah
sebagai berikut:
1. FlowController(FC)
2. Temperature Controller (TC)
3. Pressure Controller(PC)

VI.
Analisis HAZOP
Proses Unit : Multitulbular Fixed Bed Reactor (R-1)
Tabel 6.1 Analisis HAZOP pada Proses Unit Multitulbular Fixed Bed Reactor (R-1)
Deviasi
Parameter

Guide

Penyebab

Akibat

Konsekuensi

Pencegahan

Word

Less

Kerusakan valve Tidak ada feed yang Tidak ada reaksi


pengontrol
alir,

laju masuk ke reaktor.


aliran

tersumbat.

Valve

More

Kerusakan

Suhu akan menurun


dan kondisi operasi

laju alir.

terjadi,

produksi
terhambat

Melakukan

tidak sesuai dengan

pengecekan pada

yang diinginkan.

valve pengontrol

pada Feed yang berlebih.

valve pengontrol

yang

Suhu dan tekanan


akan

Reaksi

tidak

optimal

laju alir secara


berkala

meningkat

sehingga tidak sesuai


dengan

kondisi

operasi

yang

diinginkan
Less

Temperature

Suhu dan tekanan Reaksi

controller

akan menurun

berjalan

lambat

mengalami

sehingga konversi

gangguan,

yang

kerusakan
Suhu

akan

pada

dihasilkan

tidak tercapai dan

steam

menyebabkan

(temperatur

kerugian

rendah

pada

pada

pabrik

dengan
temperature
indicator

untuk

mengecek kinerja
temperature
controller

steam)
More

Dilengkapi

dan

melakukan

Temperature

Suhu dan tekanan Terjadi kerusakan

controller

akan meningkat dan pada

katalis,

pengecekan pada

mengalami

terjadi overpressure

gangguan,
kerusakan

bahan baku dan temperature


produk

pada

yang

samping controller secara


dihasilkan berkala

steam (temperatur

sehingga

tinggi

komposisi

hasil

reaktor

tidak

pada

steam)

sesuai spesifikasi
yang diinginkan.
Dapat
menyebabkan
ledakan

dan

kebakaran

jika

terdapat ignition
source.
Flow

More

Kerusakan/gangg

Akan

uan

akumulasi cairan di terjadinya

pada

flow

controller

terjadi Dapat

memicu Dilengkapi
dengan

dalam reaktor yang ledakan


akan

menyebabkan reaksi

meningkatnya

terjadi

flow

dan indicator

untuk

tidak mengecek kinerja


secara flow

tekanan pada reaktor. optimal

controllerdan
melakukan
pengecekan pada
flow

controller

secara berkala
Tekanan

More

Kerusakan/gangg

meningkatnya

Potensi terjadinya Dilengkapi

uan pada pressure tekanan pada reaktor. overpressure yang dengan pressure
controller

dapat

indicator

menyebabkan

mengecek kinerja

reaktor pecah.

pressure
controller

untuk

dan

melakukan
pengecekan pada

pressure
controller secara
berkala
VII.

Outcome Interest

Kebocoran/Leaking pada reaktor yang dapat menyebabkan ledakan


VIII. Initiating Event
Korosi pada output valve.
IX.
Enabling Event
Shock loading (thermal

shock

and

pressure

shock) yang terlalu

besarsehingga menyebabkan kegagalan output valve (fully closed) yang berakibat


meningkatkan tekanan reactor secara drastis.
X.

Independent Protecting Layers (IPLs)


IPL1

IPL2

IPL3

Consequence occurs

Gambar 10.1Independent Protecting Layers (IPLs) yang terpasang pada unit multitulbular
fixed bed reactor (R-1)
IPL 1

: High pressure alarm dan Relieve Valve

IPL 2

:High high pressure alarm dan Manual Emergency Valve

IPL 3

: Shutdown valve

XI.

Skenario

Gambar 11.1 LOPA Skenario

XII.

Risk Criteria

Safety function

& Relief Valve

High High Pressure Alarm


(HHPA ) &Manual Emergency

0,1

0.001

High Pressure Alarm

identifier
Failure on
demand

(HPA )

0,1

Valve

Shutdown Valve

. ContOperation

0,9

. ContOperation

0,0999
Success

0,1

Shutdown

0,0001

Initiating event
Korosi pada Output Valve
1

0,08991

ContOperation

Failure
0,09

ABD
0,00009

Shutdown

AB
0,1

ABC
0,01 ,

0,00999
ABCD
0,00001

Shutdown

Release

Gambar 12.1 Perhitungan Frequency of consequence (per year) dari kebocoran pada Multitubular Fixed Bed Reactor

Dari Gambar 12.1 dapat diketahui apabila semua IPL gagal melakukan pencegahan
terjadinya konsekuensi maka diperoleh nilai frequency of consequence dengan
mengalikan nilai PFD dari masing-masing IPL yaitu sebesar 1x10-5.
Diketahui :

Kapasitas multitulbular fixed bed reactor (R-1)

: 60 m3

Densitas bahan baku (Isopropil Alkohol)

: 0,7854 g/cm3

Sifat Fisis bahan baku (Isopropil Alkohol) :

- Tingkatan hazard

:3

- Label

: flammable liquid and gas

- Titik didih

: 82 oC

Kapasitas maksimum reaktor :


0,7854g
60 m3 x cm 3
x

1x106cm3
x
1m3

0,00220462lb
1g

= 103890,9129 lb

Dari data kategori bahan diatas dapat disimpulkan bahwa jika reaktor pecah
maka kategori resiko pelepasan termasuk kategori 5.
Tabel 12.2Risk Criteria

Tabel 12.3 Tingkat Toleransi Bahaya

Berdasarkan table 12.3 Tingkat Toleransi Bahaya didapatkan hasil bahwa tingkat
toleransi bahaya yang terjadi tergolong Tolerable if ALARP (as low as reasonably
practicable)- evaluate alternatives, yaitu

tingkat resiko yang dapat ditoleransi

namun tetap harus dievaluasi untuk alternatif lain yang lebih aman. Oleh karena itu
dilakukan penyusunan skenario baru untuk menjamin proses dapat berlangsung
secara aman dan mencegah terjadinya realisasi hazard berupa insiden yang serupa.
Skenario baru yang dapat dilakukan untuk menurunkan tingkat resiko adalah dengan
memperkecil frekuensi terjadinya kejadian (top accident).
XIII. Frequency of Risk
1. Initiating Event: Korosi pada output valve.
Release
f1arelease = f1PC fails x PFDIPL1 x PFDIPL2 x PFDIPL2
f1arelease = (1.10-1/yr) x (10-1 x 10-1 x 10-3) = 1.10-6/yr
Fire
f1arelease = f1PC failsx PFDIPL1 x PFDIPL2 x PFDIPL2 x pignition x pperson present
f1arelease = (1.10-1/yr) x (10-1 x 10-1 x 10-3) x (1) x (0,5)= 5.10-7/yr
Fatality due to fire
f1arelease = f1PC failsx PFDIPL1 x PFDIPL2 x PFDIPL2 x pignition x pperson x pinjury
f1arelease = (1.10-1/yr) x (10-1 x 10-1 x 10-3) x (1) x (0,5) x (0,5) = 2,5.10-7/yr

XIV. Rekomendasi
Pada kasus ini, mekanisme kegagalan yang terjadi adalah mekanisme korosi
yang terjadi pada valve output, dimana korosi yang terjadi adalah korosi eksternal.
Korosi eksternal adalah korosi yang terjadi pada bagian luar pipa karena bereaksi
dengan lingkungan luar. Korosi eksternal ini pasti terjadi dan tidak dapat dihindari, yang
dapat dilakukan adalah memperlambatnya menuju suatu kegagalan. Terjadinya leak
pada valve output ini diakibatkan tekanan reaktor yang meningkat akibatshock loading
yang terlalu besar.
Permasalahan lain penyebab korosi dapat berasal dari lingkungan sekitar atau
kejadian alam. Pada kasus korosi ini yang menjadi akar atau faktor permasalahan yang
tidak dapat dikontrol antara lain kehadiran ion klorin dan elektrolit yang menyebabkan
perbedaan kondosi tanah serta soil stress dan penyerapan air yang menyebabkan
mengelupasnya coating pada valve. Akar-akar permasalahan ini dapat mempercepat
korosi yang menuju pada suatu kejadian kegagalan. Akar penyebab yang dapat dikontrol
tentu harus diambil tindakan koreksinya untuk mencegah kegagalan yang sama dengan
sebab yang sama. Oleh karena itu, ada beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan,
antara lain:
Melakukan recoating pada valve yang telah mengalami kerusakan coating.
Melakukan perawatan dan pengecekan secara berkala.
Meningkatkan kualitas Relief Valve yang digunakan
Rekomendasi-rekomendasi tersebut harus segera dilakukan baik oleh pihak
kontraktor atau maintenance department untuk menghindari kerugian perusahaan yang
lebih besar. Apabila semua rekomendasi tersebut dilakukan dengan baik, maka
diperkirakan valve pada output reaktor akan dapat digunakan sampai jangka waktu 10
tahun ke depan.
Alternatif yang dipilih untuk skenario baru adalah dengan mengganti kualitas
Relieve Valve yang telah digunakan dan terpasang pada High Pressure Alarm (HPA),
dengan meng-upgrade kualitas RV dari SIL 1 menjadi SIL 2 diharapkan mampu
memperkecil nilai frequency of consequence-nya sehingga scenario yang diberikan
torelable, maka dilakukan perhitungan kembali frequency of consequence seperti yang
dilakukan pada Gambar 12.1 untuk RV yang baru.

Safety function

& Relief Valve

High High Pressure Alarm


(HHPA ) &Manual Emergency

0,01

0,1

0.001

High Pressure Alarm

identifier
Failure on
demand

(HPA )

Valve

Shutdown Valve

. ContOperation

0,99

. ContOperation

0,0999
Success

0,1

Shutdown

0,0001

Initiating event
Korosi pada Output Valve
1

0,008991

ContOperation

Failure
0,009

ABD
0,000009

Shutdown

AB
0,01

ABC
0,001 ,

0,000999
ABCD
0,000001

Shutdown

Release

Gambar 12.2 PerhitunganFrequency of consequence (per year) dari kebocoran pada Multitubular Fixed Bed Reactor
untuk RV SIL 2

Berdasarkan Gambar 12.2, maka frekuensi terjadinya kejadian (top accident) adalah sebesar
No

Initiating
Event

Korosi
pada output
valve

Frequency,per Enabling
year
Event

Probabilty

Shock
loading
yang terlalu
besar

FDP of
Protective
IPL
1
High
Pressure
Alarm (102
)

FDP of
Mitigati
IPL
2
High high
Pressure
Alarm (102
)

3
Shutdown
Valve (10-1)

10-6 yang kemudian kembali di plot kedalam Tabel 12.3 sehingga memberikan hasil yang
menunjukkan bahwa tingkat resiko yang terjadi tergolong tolerable sehingga tidak ada
tindakan yang perlu dilakukan.
LOPA REPORT

Evakuas
operator
karyawa
dan
masyara
di sekita
lokasi
pabrik