Anda di halaman 1dari 75

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional telah mengamanatkan dilaksanakannya pendidikan kepada seluruh
rakyat Indonesia sejak usia dini, yakni sejak anak dilahirkan. Disebutkan
secara tegas dalam Undang-Undang tersebut bahwa Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak
sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan
jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan
lebih lanjut (pasal 1, butir 14). Pendidikan bagi anak usia dini semakin
popular. Orang tua semakin merasakan pentingnya memberikan pendidikan
kepada anak sejak dini dan berlomba memberikan fasilitas pendidikan terbaik
pada

anak-anaknya.

Perkembangan

tersebut

mendorong

semakin

menggeliatnya pertumbuhan lembaga pendidikan pra sekolah atau yang lebih


dikenal dengan sekolah Taman Kanak-Kanak.
Ditengah beragam alternatif Pendidikan Taman Kanak-Kanak, pada
dasarnya tujuan Pendidikan Taman Kanak-Kanak adalah membantu peserta
didik mengembangkan berbagai kemampuan atau kecerdasan yang dimiliki
oleh setiap anak baik psikis maupun fisik, yang biasa disebut Multiple
Intelegences.
Kecerdasan visual-spasial merupakan salah satu kecerdasan majemuk yang
dikemukakan oleh Gardner. Anak yang memiliki kecerdasan ini memiliki
kemampuan untuk memvisualisasikan berbagai hal dan memiliki kelebihan
dalam hal berpikir melalui gambar Hildayani, (2005:5.16). Anak yang
memiliki kecerdasan visual-spasial dapat dilihat dari kesehariannya misalnya
anak dapat menceritakan gambar dengan jelas, lebih senang membaca peta,
diagram, lebih menyukai gambar daripada teks, menyukai kegiatan seni,

pandai menggambar, yang terkadang mendekati atau persis aslinya, dapat


membangun konstruksi tiga dimensi yang menarik, lebih mudah belajar
dengan gambar daripada teks, dan membuat coretan-coretan yang bermakna
dibuku kerja atau kertas.
Kecerdasan

visual-spasial

dapat

dikembangkan

melalui

kegiatan

membayangkan, menggambar, membuat kerajinan, mengatur, dan merancang,


membentuk dan bermain konstruktif, bermain sandiwara boneka, meniru
gambar objek, bermain dengan lilin mainan, menyusun objek mainan,
bermain peran, membaca buku, dan bermain video game. Kegiatan tersebut
merupakan kegiatan yang melibatkan semua indera anak terlibat dalam
pembelajaran yang diawali dengan menampilkan model dan diakhiri dengan
membuat atau menciptakan sesuatu klinik Pediatri, (2009:2). Hal tersebut
sesuai dengan pernyataan Kostelnik Masitoh, (2005:7.4) bahwa pengalaman
langsung harus mendahului penggambaran atau sesuatu yang lebih abstrak
dan model lebih konkret daripada gambar, dan gambar lebih konkret daripada
kata-kata.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 2 sampai
4 november 2015 menunjukkan bahwa kemampuan visual-spasial anak di TK
Al-Mizan Kecamatan Seteluk KSB tidak begitu tampak. Ketika diberikan
bahan limbah anorganik berupa kulit aqua gelas anak hanya mampu
mengguntingnya yang menghasilkan bentuk tidak beraturan, ketika kegiatan
menggambar orang sebagian besar anak hanya mampu membuat coretan
sederhana berupa garis, lingkaran dan titik, setelah mencuci tangan anak tidak
langsung mengeringkannya padahal sudah disampaikan oleh ibu gurunya, dan
ketika kegiatan menggambar bebas ada anak yang masih bingung gambar apa
yang akan dibuat, sedangkan sekolah sendiri menginginkan anak memiliki
kecerdasan visual-spasial diantaranya anak sudah mengenal spasial dua arah
berpasangan seperti arah depan-belakang, atas-bawah, dan kanan-kiri, anak
mampu menggambar figur orang, anak dapat membedakan beberapa warna
dan anak dapat membuat bentuk dari bahan limbah anorganik yang diberikan
oleh ibu gurunya. Kondisi di lapangan tidak sesuai dengan apa yang menjadi

tujuan sekolah, hal tersebut dipicu oleh penggunaan metode pembelajaran


yang kurang bervariasi. Metode ceramah merupakan metode yang
mendominasi pembelajaran TK, khususnya pembelajaran di TK Al- Mizan
kecamatan Seteluk KSB.Selain itu media yang digunakan juga kebanyakan
berupa lembar kerja dalam bentuk buku yang berupa latihan-latihan yang
lebih menekankan pada kemampuan akademik. Minimnya pembelajaran yang
bisa menggali kecerdasan visual-spasial anak serta kurangnya keterlibatan
anak dalam mengeksplorasi media atau sumber belajar yang bisa mengasah
kecerdasan mereka merupakan faktor utama yang menjadi masalah mengapa
anak memiliki kecerdasan yang minim khususnya kecerdasan visual-spasial.
Meskipun demikian, berdasarkan amatan penulis, potensi kecerdasan visualspasial masih memiliki peluang yang potensial untuk dikembangkan secara
optimal, dengan catatan perlu melakukan tindakan perbaikan pembelajaran
dalam aktivitas belajar sambil bermain anak.
Pemanfaatan bahan limbah anorganik bagi usia TK merupakan kegiatan
bermain dan memiliki unsur pendidikan yang kompleks, disamping harganya
yang murah dan menarik bagi anak, juga bahannya banyak dan mudah
diperoleh disekitar lingkungan anak, maka dipandang perlu untuk melakukan
upaya-upaya perbaikan dalam program pelaksanaan kegiatan pengembangan
potensi anak. Upaya tersebut, dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab
kongkrit dan kewajiban untuk mengoptimalkan perkembangan kecerdasan
visual-spasial yang dimiliki anak, yang mana penulis memandangnya masih
memiliki peluang yang potensial untuk lebih dikembangkan lagi.
Bertolak dari keinginan pada latar belakang diatas, maka penulis tertarik
untuk menerapkan kegiatan memanfaatan bahan limbah anorganik dalam
meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak TK Al-Mizan Kecamatan
Seteluk KSB. Ketertarikan ini, selanjutnya mendorong penulis

dan

berkolaborasi dengan guru TK Al-Mizan Kecamatan Seteluk KSB untuk


melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas

dengan judul Meningkatkan

Kecerdasan Visual-Spasial Anak Dengan Memanfaatkan Bahan Limbah

Anorganik Pada Anak Kelompok B2 di TK Al-Mizan Kecamatan Seteluk


KSB
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas , maka permasalahan yang akan
dijawab dalam penelitian ini adalah Apakah melalui pemanfaatan bahan
limbah anorganik dapat meningkatkan kecerdasan visual spasial pada anak
kelompok B2 di TK Al-Mizan kecamatan Seteluk KSB ?
C. Tujuan Penelitian
Mengacu pada rumusan masalah diatas, maka tujuan yang hendak dicapai
dalam penelitian ini adalah untuk meningkatan kecerdasan visual-spasial pada
anak kelompok B2 di TK Al-Mizann kecamatan Seteluk KSB melalui
pemanfaatan bahan limbah anorganik.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat bermanfaat :
1. Bagi anak didik kelompok B2 TK Al-Mizan kecamatan Seteluk kSB: agar
mereka terstimulasi sehingga memiliki pola pikir, daya nalar dan pola
berimajinasi secara kompleks, motivasi positif, respon, aktif, kreatif dan
meningkatkan interaksi positif antar mereka (anak).
2. Dari segi teoritis/keilmuwan, hasil penelitian ini diharapkan menjadi
kontribusi khasanah ilmiah dalam mengembangkan kecerdasan visualspasial anak TK Al-Mizan melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik
yang banyak terdapat disekitar lingkungan anak sesuai dengan
karakteristik dan kebutuhan anak secara khusus dan memperkaya kajian
ilmu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada umumnya.
3. Bagi guru TK Al-Mizan kecamatan Seteluk KSB

sebagai tambahan

pengetahuan keprofesian yang selalu dituntut untuk melakukan upaya


inovatif sebagai implementasi berbagai teori dan teknik pembelajaran bagi
anak usia dini di TK serta bahan ajaran yang dapat dikembangkan lebih
lanjut dan dipakainya dalam kegiatan belajar sambil bermain bagi anak
didiknya terutama dalam hal meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak
usia dini.

4. Bagi Lembaga TK Al-Mizan kecamatan Seteluk KSB dan bagi pihak-pihak


yang berkompeten dengan masalah perkembangan anak usia dini,
diharapkan hasil penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan
informasi untuk menyusun lankah-langkah yang lebih konkrit dan dalam
penyusunan kebijakan usaha pengembangan dan peningkatan kecerdasan
visual-spasial anak usia dini di TK dan sekolah PAUD lain yang sederajat,
khususnya yang relevan dengan pemanfaatan bahan limbah anorganik
yang ada dilingkungan sekitar sebagai media pembelajaran untuk
meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak.
5. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis serta sebagai bahan
rujukan atau kajian lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya dalam melakukan
penelitian yang lebih luas dan mendalam mengenai peningkatan
kecerdasan visual-spasial anak usia TK, khususnya dengan memanfaatkan
bahan limbah anorganik yang banyak terdapat dilingkungan sekitar.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Defenisi Operasional
Untuk menyamakan persepsi dan menghindari terjadinya kesalahan
penafsiran terhadap aspek-aspek atau variabel-variabel pengamatan dalam
penelitian ini, maka perlu untuk diperjelas terlebih dahulu batasan-batasan
konsepsinya pada bagian defenisi operasional, yakni seperti berikut:
1. Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan untuk membentuk suatu
gambaran tentang tata ruang didalam pikiran. Kecerdasan ini meliputi
kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang dan hubungan antar unsurunsur tersebut. Anak dengan kecerdasan visual-spasial yang tinggi
cenderung berpikir secara visual. Mereka kaya khayalan internal (internal
imagery) sehingga cenderung imajinatif dan kreatif.
2. Pemanfaatan bahan limbah anorganik yang dimaksud adalah suatu
kegiatan pengelolaan sumber pembelajaran berupa penggunaan atau
pemanfaatan bahan limbah anorganik yang terdapat di lingkungan sekitar
anak untuk tujuan peningkatan kecerdasan visual spasial anak dalam
kegiatan belajar sambil bermain di TK Al-Mizan kecamatan Seteluk
KSB. Melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik itu, diharapkan dapat
menjadi bahan pembelajaran yang memfasilitasi capaian perkembangan
kecerdasan visual-spasial anak secara optimal sesuai yang diharapkan.
3. Bahan limbah anorganik yang dimaksud adalah bahan bekas atau bahan
sisa pakai yang terbuat dari bahan plastik dan dianggap tidak memiliki
manfaat seperti: bekas minuman ringan (bekas; aqua gelas, teh gelas,
juice gelas, dan lain sejenisnya), bekas botol minuman plastik, bekas
pembungkus makanan dari plastik, dan lain sebagainya.

B. Konsep Kecerdasan Visual-Spasial Anak


1.

Konsep Kecerdasan
Teori Multiple Intelegence yang dikemukakan oleh Howard Gardner
merupakan

gebrakan

yang

sangat

fundamental

dibidang

ilmu

pengetahuan, yakni: a. Kecerdasan Linguistik/bahasa, berkaitan dengan


kemampuan

membaca,

menulis,

berdiskusi,

berargumentasi

dan

berdebat; b. Kecerdasan Matematis-Logis, berkaitan dengan kemampuan


berhitung, menalar dan berpikir logis, memecahkan masalah; c.
Kecerdasan Visual-Spasial, berkaitan dengan kemampuan menggambar,
memotret, membuat patung, mendesain; d. Kecerdasan Musikal,
berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, mendengar nada dari
sumber bunyi atau alat-alat music; e. Kecerdasan kinestetik/gerak,
berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan; f.
Kecerdasan Interpersonal, berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan
orang lain, memimpin, kepekaan soasial, kerja sama dan empati; g.
Kecerdasan Intrapersonal, berkaitan dengan pemahaman terhadap diri
sendiri, motivasi diri, tujuan hidup dan pengembangan diri; dan h.
Kecerdasan

Naturalis,

berkaitan

dengan

kemampuan

meneliti

perkembangan alam, melakukan identifikasi dan observasi terhadap


lingkungan sekitar.
Teori

tersebut

membuka

mata

dunia

yang

selama

ini

mengidentikkan suatu kecerdasan dengan nilai IQ. Munculnya teori


Multiple Intelegence atau kecerdasan majemuk membuktikan bahwa
tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada hanyalah anak yang
lebih menguasai satu bidang tertentu dan kurang menguasai bidang lain.
Maksud dari pernyataan tersebut adalah kedelapan kecerdasan yang
diungkapkan oleh Gardner bisa saja dimiliki oleh individu, hanya saja
dalam taraf yang berbeda. Selain itu, kecerdasan ini tidak berdiri sendiri
terkadang bercampur dengan kecerdasan lain Agustin, (2006:36).
Misalnya saja bila anak pintar bernyanyi sebagai kecerdasan musikal, ia
juga pada umumnya cerdas dalam gerakan tubuh, ia dapat mengikuti dan

menyesuaikan gerakannya dengan ritme atau alunan musik yang


didengarkannya.
Kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat kebendaan, melainkan
sesuatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsikan perilaku individu yang
berkaitan

dengan

kemampuan

intelektual.

Dalam

mengartikan

kecerdasan ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam,


sebagaimana yang dikemukakan oleh Yusuf (2005:106), diantara
pengertian itu adalah sebagai berikut:
a. Kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri
terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
b. Intelegensi meliputi tiga pengertian, yaitu kemampuan untuk belajar,
keseluruhan pengetahuan untuk diperoleh, dan kemampuan untuk
beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada
umumnya.
c. Kecerdasan

dibagi

dalam dua

kategori,

yaitu:

(1)

Fluid

Inteligence, yaitu tipe kemampuan analisis kognitif yang relatif


tidak dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya; (2)
Crystalized Inteligence , yaitu keterampilan-keterampilan atau
kemampuan nalar (berpikir) yang dipengaruhi oleh pengalaman
belajar sebelumnya.
Menurut Thurstone Syaodih, (2007:93) individu memiliki sejumlah
faktor

kecerdasan

yang

berkelompok

menjadi

tujuh

faktor

kemampuan, yaitu:
1. Verbal Comprehension, kemampuan untuk memahami hal-hal
yang dinyatakan secara verbal atau menggunakan bahasa.
2. Word Fluecy, kelancaran dan kefasihan menyatakan buah
pikirandengan menggunakan kata-kata.
3. Number Ability, kemampuan untuk memahami dan memecahkan
masalh-masalah matematis, yaitu masalah yang menyangkut dan
menggunakan angka-angka atau bilangan-bilangan.
4. Spatial Ability, kemampuan untuk memahami ruang.

5. Memory, kemampuan untuk mengingat.


6. Paceptual Ability, kemampuan untuk mengamati dan memberikan
penafsiran atas hasil pengamatan.
7. Reasoning, kemampuan berpikir logis.
2. Konsep Kecerdasan Visual-Spasial pada Anak
Kecerdasan Visual-Spasial berkaitan dengan kemampuan menangkap
warna, arah, dan ruang secara akurat. Sebagaimana dikemukakan oleh
Armstrong Masfiroh, (2004:67) bahwa anak yang cerdas dalam visualspasial memiliki kepekaan terhadap warna, garis-garis, bentuk-bentuk, dan
bangunan-bangunan. Sedangkan menurut Indra Masfiroh, (2004:67) anak
yang memiliki kemampuan visual-spasial dapat mengenali identitas objek
ketika objek tersebut ada dari sudut pandang yang berbeda, dan mampu
memperkirakan jarak dan kecerdasan darinya dengan sebuah objek.
Kecerdasan Visual-Spasial memiliki manfaat yang luar biasa dalam
kehidupan manusia. Hampir semua pekerjaan yang menghasilkan karya
nyata memerlukan sentuhan kecerdasan ini. Bangunan yang dirancang
arsitektur, desain taman, lukisan, rancangan busana, pahatan, bahkan bendabenda sehari-hari yang dipakai manusia pun adalah hasil buah kecerdasan
visual-spasial yang tinggi mengesankan kreativitas. Kemampuan mencipta
satu bentuk, seperti bentuk pesawat terbang, rumah, mobil, burung,
mengesankan adanya unsur transformasi bentuk yang rumit.
Kecerdasan Visual-Spasial dapat distimulasi melalui berbagai program
seperti melukis, membentuk sesuatu dengan plastisin, mencecap, dan
menyusun potongan gambar. Guru perlu menyediakan berbagai fasilitas
yang memungkinkan anak mengembangkan daya imajinasi mereka, seperti
alat-alat permainan konstruktif (Lego, puzzle, lasie), balok-balok bentuk
geometri berbagai warna dan ukuran, peralatan menggambar, pewarna, alatalat dekoratif (kertas warna-warni, gunting, lem, benang), dan berbagai
buku bergambar. Akan lebih baik, jika menyediakan beberapa miniatur
benda-benda yang disukai anak, seperti mobil-mobilan, pesawat terbang,
rumah-rumahan, hewan dan orang-orangan.

Menurut

Gardner

Musfiroh,

(2004:69)

kecerdasan

visual-spasial

mempunyai lokasi diotak bagian belakang hemisfer kanan. Kecerdasan ini


berkaitan erat dengan kemampuan imajinasi anak. Pola pikir topologis
(bersifat mengurai bagian-bagian dari suatu objek) pada awal masa kanakkanak memungkinkan mereka menguasai kerangka pikir euclidean pada usia
9-10 tahun. Kepekaan artistik pada kecerdasan ini tetap bertahan hingga
seseorang itu berusia tua.
Anak usia 4 tahun, umumnya, sudah mengenal spasial dua arah biner
(berpasangan) seperti arah depan-belakang, atas-bawah, sana-sini, meskipun
adakalanya masih bingung dengan arah kanan dan kiri. Mereka belum dapat
memahami arah mata angin, meskipun diantaranya dapat menyebutkan
nama mata angin.
Menurut Beredekamp dan Copple Musfiroh, (2004:93) anak usia 4
tahun sudah dapat menata balok-balok menjadi bentuk yang tinggi dan agak
kompleks. Mereka yang menunjukkan kemampuan memperkirakan secara
spasial yang masih terbatas, dan cenderung merusak posisi atau benda.
Mereka cenderung mengubah mainan yang memiliki bagian-bagian yang
masih bagus. Menurut Amstrong Musfiroh, (2004:137) untuk mengasah
kecerdasan visual-spasial, anak-anak perlu dibelajarkan melalui gambar,
metafora, visual dan warna. Cara terbaik untuk menstimulasi mereka adalah
film, video, diagram, peta, dan grafik.
Kecerdasan

visual-spasial

adalah

kemampuan

memahami,

memproses, dan berpikir dalam bentuk visual. Anak dengan kecakapan ini
mampu menerjemahkan bentuk gambaran dalam pikirannya ke dalam
bentuk dua atau tiga dimensi.

Adapun ciri-ciri yang tampak pada aktifitas anak adalah sebagai berikut :
a. Memiliki kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang, dan
bangunan.

10

b. Memiliki kemampuan membayangkan sesuatu, melahirkan ide


secara visual

dan spasial.

c. Memiliki kemampuan mengenai identitas objek ketika objek itu


ada pada sudut pandang yang berbeda.
d. Mampu memperkirakan jarak dan keberadaan dirinya dengan
sebuah objek.
e. suka

mencoret-coret,

membentuk

gambar, mewarnai,

dan

menyusun unsur-unsur bangunan.


Secara karier kecerdasan spasial biasanya dimiliki oleh arsitek, insyinyur
mesin, seniman, fotografer, pilot, navigator, pemahat, dan penemu Lwin
Mubiar, (2006:57). Adapun Yusuf dan Nurihsan Agustin, (2006:36)
mengemukakan, kecerdasan spasial sebagai sekumpulan kemampuankemampuan yang berhubungan dengan pemilihan, pemahaman, proyeksi
visual, imajinasi mental pemahaman ruang, manipulasi imajinasi, serta
penggadaan imajinasi nyata maupun imajinasi dalam diri/abstrak.
Dalam kaitannya dengan upaya membantu mengembangkan kecerdasan
spasial anak, Rachmani, Agustin, (2006:36) menjelaskan bahwa stimulasistimulasi berikut dapat digunakan guru untuk membantu mengembangkan
kecerdasan spasial anak : (a) menggambar dan melukis; (b) mencoret-coret;
(c) membuat prakarya; dan (d) melakukan permainan konstruktif.
Kecerdasan ini melibatkan imajinasi aktif yang membuat seseorang
mampu mempersiapkan warna, garis dan luas, serta menetapkan arah dengan
tepat Andi Yudha, (2009:53). Selain itu Andi Yudha mengemukakan
mengenai bagaimana cara mengembangkan kecerdasan visual-spasial anak,
salah satunya adalah dengan belajar bentuk geometri, salah satu caranya yaitu
dengan meminta anak memperhatikan bentuk-bentuk rumah, bola, atau benda
yang ada dalam buku, seperti menyebutkan konsep garis, lurus, zig-zag, bulat,
persegi, atau kerucut.
Menurut Apriany (2007:8) kemampuan visual-spasial sangat dibutuhkan
anak ketika belajar, terutama ketika anak diperkenalkan dengan huruf-huruf,
angka, dan bentuk. Anak yang kurang memiliki kemampuan visual-spasial

11

akan merasa kebingungan saat diperkenalkan dengan huruf sehingga terjadi


penafsiran huruf yang terbalik seperti pada huruf b dan d, anak sering salah
dalam membaca dan menuliskan huruf-huruf tersebut. Untuk itu kecerdasan
visual-spasial sangat berperan penting dalam kegiatan belajar mengajar.
Dengan kemampuan visual-spasial yang dimilikinya, anak dengan mudah
mempelajari materi ajar yang diberikan oleh guru khususnya menulis dan
membaca. Selain itu, kecerdasan visual-spasial juga dibutuhkan anak untuk
dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan manipulasi motorik
halus misalnya menggambar, menyusun mainan bongkar pasang, melukis,
dan lain-lain..
Menurut Abdurrahman Apriani, (2007:57) ada lima jenis kecerdasan visualspasial, yaitu:
1. Hubungan keruangan (Spasial relation)
Menunjukkan persepsi tentang posisi berbagai objek dalam ruang.
Dimensi fungsi visual ini mengimplikasikan prsepsi tentang suatu objek
atau symbol (gambar, huruf, dan angka) dan hubungan ruangan yang
menyatu dengan sekitarnya.
2. Diskriminasi Visual (Visual discrimination)
Menunjukkan pada kemampuan membedakan suatu objek dari objek yang
lain. Dalam tes kesiapan belajar misalnya anak diminta menemukan
gambar kelinci yang bertelinga satu dari sederetan gambar kelinci yang
bertelinga dua. Jika anak diminta untuk membedakan antara huruf m dan
n, anak harus mengetahui jumlah bongkol pada tiap huruf tersebut.
3. Diskriminasi Bentuk dan latar belakang (figure-ground discrimination)
Menunjuk pada kemampuan membedakan suatu objek dari latar belakang
yang mengelilinginya. Anak yang memiliki kekurangan dalam bidang ini
tidak dapat memusatkan perhatian pada suatu objek karena sekeliling
objek tersebut ikut mempengaruhi perhatiannya, akibatnya dari keadaan
semacam itu anak menjadi terkecoh perhatiannya oleh berbagai
rangsangan yang berada disekitar objek yang harus diperhatikan.
4. Visual Clouser

12

Menunjuk pada kemampuan mengingat dan mengidentifikasi suatu objek,


meskipun objek tersebut tidak diperhatikan secara keseluruhan.
5. Mengenal Objek (Object recognition)
Menunjuk pada kemampuan mengenal sifat berbagai objek pada saat
mereka memandang. Pengenalan tersebut mencakup berbagai bentuk
geometri, hewan, huruf, angka, kata, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan visualspasial sangat penting. Dimana kemampuan tersebut dapat membantu anak
dalam proses belajar mengajar serta mengenali lingkungan sekitarnya.
Misalnya kemampuan hubungan keruangan merupakan bagian yang sangat
penting

dalam

belajar

matematika,

demikian

juga

kemampuan

membedakan huruf dan kata secara visual merupakan bagian yang esensial
dalam belajar membaca.
C. Mengembangkan Potensi Kecerdasan Visual-Spasial Anak Usia Taman
Kanak-Kanak
Menurut Hildayani Watiah, (2011:24) anak dengan kecerdasan visualspasial bisa melihat aneka perbedaan warna yang hampir tidak kentara dan
berbagai pola yang tidak biasa serta mampu menerjemahkan desain-desain ini
pada media ekspresi yang dipilih. Anak senang dengan alat seni, termasuk
pensil, krayon, lukisan, kuas-lukis, dan grafik computer, dan akan
menghabiskan waktu senggangnya untuk membuat sketsa, menggambar, dan
mendesain. Sering kali, karya-karya yang sempurna dari anak ini menunjukan
berbagai hubungan visual-spasial seperti pola-pola inovatif dan pengubahan
imajinatif atas berbagai objek sehari-hari. Muslihuddin dan Agustin (2008:80)
mengemukakan guru dapat merangsang kecerdasan spasial dengan melakukan
berbagai program seperti melukis, membentuk sesuatu dengan plastisin,
mengecap dan menyusun potongan gambar.

13

D. Peran Guru dalam Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial


Peran pendidik atau guru bertugas merangsang dan membina kecerdasan
visual-spasial anak. Pentingnya pengembangan visual-spasial pada anak usia
Taman Kanak-Kanak berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik.
Perkembangan mental antara lain: emosi, intelektual, persepsi, sosial, estetik,
dan kreatif. Dalam hal perkembangan fisik motorik halusnya, anak sudah dapat
melakukan aktifitas seperti menggunakan pensil atau krayon, mencoret-coret,
meniru bentuk gambar, untuk mengembangkan imajinasinya sehingga
merangsang aktifitas kreatifnya.
Metode pembelajaran dengan menggunakan permainan adalah cara atau
pendekatan yang dipergunakan dalam menyajikan atau menyampaikan materi
pembelajaran di Taman Kanak-Kanak. Pembelajaran disusun sehingga
menggembirakan dan demokratis agar anak tertarik untuk terlibat dalam setiap
kegiatan pembelajaran. Anak tidak hanya duduk tenang mendengarkan
ceramah guru, tetapi mereka aktif berinteraksi dengan berbagai benda dan
orang dilingkungannya, baik secara fisik maupun mental. Pembelajaran di
Taman Kanak-Kanak harus menerapkan esensi bermain. Esensi bermain
meliputi perasaan menyenangkan, merdeka, bebas memilih, dan merangsang
anak terlibat aktif.
Menurut Purba Watiah, (2011:25) untuk mengembangkan dan menginspirasi
kecerdasan visual-spasial ini di ruang kelas, guru dapat melengkapi ruang kelas
dengan berbagai bahan seni, kamera, peta, program computer atau grafik, dan
model karya seni. Untuk merangsang kecerdasan ini, bebaskan anak untuk
bereksperimen disemua wilayah seni visual secara bebas, juga dalam kaitannya
dengan berbagai tugas dibidang kurikulum yang lain.
E.Ragam Aktifitas Pembelajaran Untuk Mengembangkan Kecerdasan
Visual-Spasial Anak
Ragam aktifitas pembelajaran yang dapat meningkatkan kecerdasan visualspasial salah satunya adalah dengan permainan balok. Menyusun balok, dapat
membantu anak menguasai konsep bidang. Metode pengajaran yang
memasukkan

berpikir

spasial

seperti

14

bentuk-bentuk

balok

yang

menghubungkan konsep spasial dapat membantu terhadap pemecahan masalah


dalam dunia anak-anak, Elliot dalam Sulistyowati, (2010:46).
Bermain merupakan suatu kegiatan yang sangat disenangi anak. Melalui
kegiatan bermain, anak dapat memuaskan keinginannya yang terpendam. Pada
berbagai situasi dan tempat anak selalu menyempatkan untuk menggunakan
tempat serta media sebagai arena bermain dan permainan. Permainan dapat
membantu anak mengerti lebih baik melalui indera penglihatan dan
pendengaran, anak dapat mengerti pelajaran dengan memahami perbedaan
arah, perbedaan warna serta bentuk. Anak-anak usia Taman Kanak-Kanak
dalam berekspresi seni rupa memiliki kekuatan yang menunjukkan
karakteristik dan hal ini penting bagi terwujudnya karya seni.
Menurut Edy Sulistyowati, (2010:46) kecerdasan visual-spasial dapat
dikembangkan dengan pembelajaran seni rupa. Ekspresi seni anak-anak usia
dini pada umumnya menunjukkan keunikan, naf, spontan, ekspresif, jujur, dan
orisinal. Hasil karya seni anak ini termasuk dalam kecerdasan visual-spasial.
Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan menangkap warna, arah, dan
ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk
lain,

seperti

lukisan

atau

menggambar

bebas.

Potensi

ini

ditumbuhkembangkan, sehingga kreatifitas anak dapat tersalurkan dengan baik.


Kegiatan menggambar bebas, permainan warna atau mewarnai gambar
merupakan kegiatan kreatif anak usia dini yang dapat mengenalkan warna pada
anak, melatih motorik halus, serta mampu menceritakan tentang hasil karya
yang dibuat. Anak usia dini rasa keingintahuan serta kemampuan menyimpan
memori diingatannya masih sangat tinggi. Oleh karena itu, pengembangan
kecerdasan visual-spasial hendaknya mendapatkan kesempatan dan pembinaan
secara terarah lebih intensif dan efektif sesuai dengan masa perkembangannya.
Melalui bermain warna atau membuat coretan gambar anak akan berekspresi
dan bereksplorasi, yang berarti akan menumbuhkan kecerdasan visual-spasial
anak.
Banyak Taman Kanak-Kanak dalam menyampaikan pembelajaran kurang
memperhatikan potensi, bakat dan minat yang dimiliki anak. Lembaga ataupun

15

pendidik kurang memahami karakteristik anak, kebebasan yang diinginkan


anak, kebutuhan anak, kurang memberikan kesempatan pada anak dan kurang
memahami pemberian penilaian kepada anak. Metode pembelajaran yang
digunakan kurang menyenangkan, monoton, dan guru menjelaskan materi
pembelajaran di papan tulis. Sehingga kurang mempengaruhi tingkat berpikir,
kecerdasan anak, minat belajar anak, dan kurang dapat mengembangkan
potensi yang dimiliki anak. Pelaksanaan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak
seharusnya guru menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan
rancangan. Metode pembelajaran tersebut antara lain terdiri dari metode
bermain, karyawisata, demonstrasi, proyek, dan bercerita.
F.Peningkatan Kecerdasan Visual-Spasial Anak Melalui Pemanfaatan Bahan
Limbah Anorganik yang Terdapat Di Lingkungan Sekitar Anak
Sehubungan dengan kegiatan belajar sambil bermain anak terhadap sesuatu
yang ada pada alam sekitar mereka, menurut Moeslichatoen, (1995:37), akan
memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami dan memanfaatkan
oleh jajahannya atau sifat petualangannya yang merupakan salah satu ciri sifat
khas pada anak, berupa: (1) wawasan informasi yang lebih luas dan lebih
nyata; (2) menumbuhkan rasa keingintahuan anak tentang sesuatu yang telah
ataupun

baru

diketahuinya;

(3)

dapat

memperjelas

konsep

dan

mengembangkan kemampuan, keterampilan, kecerdasan, serta imajinasi dan


daya kreativitas anak; (4) memperoleh pemahaman penuh tentang kehidupan
manusia, hewan, tanaman, cuaca, dan sebagainya yang terdapat di lingkungan
dengan berbagai situasi dan kondisi yang ada; (5) memperoleh pengetahuan
tentang bagaimana memahami lingkungan yang ada disekitar serta bagaimana
pemanfaatannya.
Berkaitan dengan hal tersebut Rachmawati dan Euis. K., (2005:74), juga
mengemukakan pandangan bahwa dalam proses membelajarkan anak,
hendaknya guru mampu memanfaatkan bahan limbah anorganik/materi yang
terdapat di lingkungan sekitar anak sebagai media pembelajaran dalam suatu
bentuk

kegiatan

pendekatan

seperti,

menuntun

dan

mengajak

anak

mengeksplorasi bahan limbah anorganik/materi tersebut menjadi bentuk

16

mainan yang edukatif baginya. Dalam konsep ini, guru dapat mengamati dan
memilih benda-benda kongkrit apa saja yang terdapat di lingkungan sekitar
anak, untuk selanjutnya benda-benda yang sesungguhnya tersebut di eksplorasi
secara lebih mendalam yang dilakukan anak sambil bermain sehingga
didapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang bermakna bagi anak dalam
mengembangkan kecerdasan visual-spasial dan daya kreatifitasnya.
Lingkungan

kita

memang

kaya

dengan

bahan-bahan

yang

dapat

digunakan/dimanfaatkan guru untuk membuat media bermain atau permainan


bagi anak, baik itu yang masih alami maupun yang sudah terbuang atau
merupakan bahan sisa yang telah dibuang. Hal tersebut dipandang sebagai
pemanfaatan yang menunjuang pendidikan kreativitas anak ke arah yang lebih
baik, seperti pandangan yang dikutip dari http://asepsofyan.multiply.com,
(2009), yang mengemukakan bahwa pendidikan kreatifitas yang baik adalah
mengajak, menuntun dan membantu anak untuk membuat mainan kerajinan
sendiri dari bahan limbah anorganik yang dianggap tak digunakan lagi yang
banyak terdapat di lingkungan sekitar mereka. Mengajak

mereka dengan

perasaan riang dan gembira membuat mainan dari bahan limbah anorganik
aneka minuman kaleng dan gelas, kardus, botol bekas, gabus, dan lain
sebagainya, dengan kegiatan seperti

permainan membuat robot-robot dari

kardus bekas, menghias botol bekas menjadi

binatang, membuat mobil-

mobilan dari bahan kaleng bekas, dan sebagainya. Lebih lanjut dijelaskan
bahwa,

anak

memang

perlu

terus

dilatih

untuk

mampu

bekerja

memgembangkan kecerdasan visual-spasial dan kreatifitasnya dalam durasi


yang relatif lama dan berorientasi hasil, pujilah proses mereka dalam membuat
suatu karya sehingga anak tidak akan stres, anak-anak juga penting untuk terus
dibiasakan membuat aneka mainan sendiri dan berilah terus dia support dalam
kegiatan tersebut. Dukungan, dorongan, dan penghargaan yang tulus atas hasil
kerja anak akan membekas, membuat anak tambah semangat bekerja, dan lebih
kreatif serta termotivasi mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitasnya
untuk selalu ingin membuat hal-hal yang unik, original, baru, dan lebih
menarik lagi.

17

Berkaitan dengan hal pemanfatan media yang mampu mengembangkan


imajinasi dan kecerdasan visual-spasial anak, Yuliani N. Sujiono, dkk,
(2005:8.5) dalam kajiannya mengungkapkan bahwa adanya keluhan dari
berbagai kalangan masyarakat tentang rendahnya kemampuan imajinatif dan
kecerdasan visual-spasial yang dimiliki anak saat ini, disebabkan antara lain
oleh minimnya para guru TK mengunakan atau memanfaatkan media belajar
ketika mereka mengajar, seperti permainan dan mainan dari bahan-bahan
sederhana yang banyak terdapat dilingkungan sekitar anak selanjutnya
dikatakan bahwa media, meskipun itu dibuat dari bahan limbah anorganik
dalam bentuk yang sederhana, namun dapat menjadikan anak mampu lebih
berpikir

kreatif,

mampu

menyelesaikan

permasalahan

dari

tugas

perkembangannya, mampu berpikir logis, mampu menstimulasi anak untuk


melakukan kegiatan belajar yang bermakna, mampu meningkatkan daya
nalarnya dan mampu menemukan satu jawaban yang paling tepat terhadap
masalah yang diberikan berdasarkan informasi yang tersedia. Penerapan media
juga bisa lebih mampu memenuhi kepuasan diri anak dalam belajar sambil
bermain. Misalnya saja, anak yang sedang bermain dengan mengguntinggunting kertas atau bahan limbah dari plastik atau dengan media permainan
konstruktif lainnya, nampak mereka sangat asyik sekali dan bahkan tidak mau
diganggu.Nampaklah

bahwa

media

yang

sederhana

dengan

hanya

memanfaatkan bahan limbah anorganik, seperti yang terbuat dari bahan kertas
dan pelastik yang banyak terdapat dilingkungan sekitar anak, juga dapat
berperan sebagai sumber munculnya inspiratif, imajinatif, dan kreatifitas anak
sehingga dapat meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak.
G. Hipotesis tindakan
Berdasarkan uraian-uraian yang telah dipaparkan pada bagian kajian pustaka
di atas, maka dapat di kemukakan hiptesis tindakan dalam penelitian ini,
yaitu melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik dalam proses kegiatan
belajar sambil bermain, maka dapat meningkatkan kecerdasan visual-spasial
anak kelompok B2 TK Al Mizan kecamatan Seteluk KSB

18

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Subjek Penelitian
1.

Tempat
Penelitian ini bertempat di kelas anak kelompok B2 TK Al-Mizan
kecamatan Seteluk KSB

2.

Waktu
Waktu pelaksanaan, di rencanakan dilaksanakan pada bulan
November sampai Desember 2015

3.

Subjek
Subjek yakni seluruh anak didik yang tergabung dalam kelas
kelompok B2 yang seluruhnya berjumlah 19 anak, terdiri dari 6 anak
laki-laki dan 13 anak perempuan, dengan melibatkan atau berkolaborasi
dengan seorang mitra peneliti yakni guru TK Al-Mizan Kecamatan
seteluk KSB

B. Faktor Yang Diteliti


Adapun faktor-faktor yang ingin diamati peneliti dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1.

Faktor anak TK, mengamati aktifitas anak-anak dalam proses


kegiatan sambil bermain dengan bahan limbah anorganik di dalam

2.

kelas, dalam upaya peningkatan kecerdasan visual-spasial anak.


Faktor guru TK, mengamati dan memperhatikan segala aktifitas
guru TK yang mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan
pembelajaran sambil bermain bagi anak sebagai upaya peningkatan

3.

kecerdasan visual-spasial anak.


Faktor sumber, bahan atau perangkat pembelajaran yang diterapkan
atau dimanfaatkan guru yang dapat mendukung dan melancarkan
pelaksanaan kegiatan belajar sambil bermain bagi anak pada bidang
pengembangan kemampuan dasar kognitif
visual-spasial anak.
19

khusus

kecerdasan

4.

Faktor proses pembelajaran, mengamati dan memperhatikan proses


tindakan-tindakan pembelajaran yang diberikan selama kegiatan
pembelajaran bidang pengembangan kecerdasan visual-spasial
anak berlangsung dengan aktivitas pemanfaatan bahan limbah
anorganik.

C.

Data dan Teknik Pengumpulan Data


Sumber data, jenis data dan teknik dalam pengumpulannya pada penelitian
ini adalah sebagai berikut :
1. Sumber data penelitian diperoleh dari guru dan anak TK. Selain itu,
bersumber dari dokumen-dokumen yang dipandang penting berupa
catatan-catatan khusus tentang program-program kegiatan belajar anak
yang belum terdapat dalam pedoman observasi namun dianggap dapat
mendukung hasil penelitian.
2. Jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif berupa nilai
perolehan yang dinyatakan dengan simbol huruf (BSB = Berkembang
Sangat Baik, BSH = Berkembang Sesuai Harapan, MB = Mulai
Berkembang, dan BB = Belum Berkembang), yang diperoleh dengan
menggunakan pedoman atau lembar checklist penilaian yang berisikan
sejumlah indikator penilaian.
3. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik penilaian
dengan melakukan observasi yaitu cara pengumpulan data dengan
menggunakan pengamatan langsung terhadap suatu objek yang diteliti
dalam satu periode tertentu, dan dengan mengadakan pencatatan secara
sistematis atau pengkodean tentang hal-hal atau aspek-aspek tertentu
yang diamati, lalu mencheklist atau memberi tanda pada lembar
pengamatan penilaian dan atau pada pedoman observasi sesuai hasil yang
tampak di lapangan. Menurut Sujiono, N. Yuliani, (2005:7.14), observasi
merupakan salah satu alat dalam kegiatan evaluasi di lembaga PAUD
yang digunakan dalam mengevaluasi pengembangan berbagai aspek
perkembangan anak. Kegiatan observasi adalah suatu teknik pengamatan
yang

dapat

dilakukan

guru

20

TK

untuk

mengetahui

kemajuan

perkembangan kemampuan, unjuk kerja/kinerja, dan sikap anak, yang


dilakukan dengan mengamati aktivitas dan tingkah laku anak dalam
kegiatan belajar sambil bermain dengan berbagai bentuk permainan
untuk setiap aspek perkembangan anak.
4. Disamping teknik observasi, peneliti juga menggunakan teknik tanya
jawab dengan anak yang bermaksud untuk mengetahui kelancaran anak
dalam memberikan jawaban verbal atas pertanyaan-pertanyaan sederhana
yang berkisar tentang apa yang dibuatnya dengan bahan limbah
anorganik.
Data yang sudah berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini, berikutnya
diolah dan dideskripsikan secara kualitatif dalam bentuk paparan logis
sesuai keadaan apa adanya yang diperoleh dari hasil pengamatan di
dalam kelas, kemudian dilakukan interpretasi sebagai jawaban terhadap
permasalahan yang diajuakan dalam penelitian ini. Selanjutnya, atas
dasar hasil jawaban tersebut dapat ditarik suatu kesimpulannya.
D. Teknik Analisis Data
Sebelum data-data dianalisis (nilai tingkat pencapaian perkembangan
kecerdasan visual-spasial anak didik), peneliti terlebih dahulu melakukan
evaluasi atau penilaian dengan observasi. Selanjutnya melakukan analisis data
setelah semua data yang dibutuhkan telah terkumpul. Untuk keperluan
analisis data-data, peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif-kualitatif
dengan presentatif hasil, yang disesuaikan dengan indikator-indikator atau
ketentuan yang telah ditetapkan. Untuk maksud analisis data berupa nilainilai capaian perkembangan kecerdasan visual-spasial anak, peneliti
menggunakan kriteria tertentu yang disesuaikan dengan bentuk penilaian
yang digunakan guru di TK Al-Mizan Kecamatan Seteluk KSB dalam menilai
capaian perkembangan kemampuan dasar anak didiknya dan memperhatikan
pula pedoman penilaian di TK yang disarankan Depdiknas, Direktorat PAUD,
(2010).
Penilaian terhadap pencapaian perkembangan kecerdasan visual-spasial yang
ditampakkan setiap anak terhadap tagihan indikator penilaian dalam

21

memanfaatkan bahan limbah anorganik untuk menghasilkan sebuah karya


seperti yang telah diperlihatkan guru, dilakukan atau diberi nilai dengan
mengacu pada pedoman pemberian penilaian dalam satuan pendidikan Taman
Kanak-Kanak, yakni dengan diberikan dalam bentuk simbol-simbol dengan
huruf seperti : (****) = Berkembang Sangat Baik (BSB), yakni jika anak
menunjukkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator tanpa
bantuan guru; (***) = Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yakni jika anak
mampu menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator
namun terkadang masih harus diberikan bimbingan dan bantuan guru; (**) =
Mulai Berkembang (MB), yakni jika anak telah mampu menampakkan
kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator namun masih sering
dibimbing dan dibantu langsung oleh guru; (*) = Belum Berkembang (BB),
yakni jika anak belum menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan
indikator pencapaian perkembangan kecerdasan visual-spasial karena dalam
melakukannya harus selalu dibimbing dan dibantu secara langsung dari awal
oleh guru, Direktorat Pembinaan TK dan SD (2010), Usman Uzer dan
Lilisetiawati, (1993:75), yang telah dipersiapkan sebelumnya pada tahap
kegiatan perencanaan (seperti terlampir), untuk sampai pada data perolehan
nilai akhir pengembangan kemampuan masing-masing anak didik (setiap
siklus tindakan), melakukan pengamatan dan penilaian dengan memberi nilai
terhadap aspek pengembangan yang dicapai anak didik berdasarkan indikator
penilaian yang diamati/dinilai disetiap kegiatan evaluasi.
Adapun rumus yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut: melakukan perhitungan berdasarkan jumlah perolehan nilai yang
dicapai masing-masing anak didik sesuai yang ada dalam penilaian setiap
siklus, seperti berikut

(Jmlh BSBx4)+(Jmlh
MBx2)+(Jmlh BB+1)
22

BSHx3)+(Jmlh

Perolehan Nilai akhir anak didik


Anak didik Jmlh seluruh indikator=10
Dengan ketentuan perolehan nilai (secara individu) dengan kriteria hasil hitungan
berdasarkan konversi, anak dikatakan mampu jika minimal 2,50-3,49 atau
minimal BSH (Berkembang Sesuai Harapan) seperti berikut :
Nilai Konversi 3,50-4,00 (BSB = Berkembang Sangat Baik)
Nilai Konversi 2,50-3,49 (BSH = Berkembang Sesuai Harapan)
Nilai Konversi 1,50-2,49 ( MB = Mulai Berkembang)
Nilai Konversi 0,01-1,49 ( BB = Belum Berkembang).
Direktorat Pembinaan TK dan SD, .(2010). Usman Uzer dan Lilis
Setiawati, (1993:75)
Indikator kinerja yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan kinerja secara
klasikal pada setiap siklus tindakan, (dalam penelitian ini menggunakan acuan
patokan 75% secara klasikal) sebagai berikut :
Jumlah anak yang memperoleh nilai bintang (****,***,**, &*)
% P=

X100%
Total banyaknya anak didik dalam kelas (B2)

P = Perolehan nilai klasikal


Jika : Hasil hitungan berada pada persentase 95% - 100%

= BSB

Hasil hitungan berada pada persentase 85% - 94%

= BSH

Hasil hitungan berada pada persentase 75% - 84% = MB


Hasil hitungan berada pada persentase di bawah 75% = BB
Selanjutnya

adalah

tahap

pelaporan

berdasarkan

hasil

pelaksanaan

pembelajaran peningkatan kecerdasan visual-spasial anak dengan pemanfaatan


bahan limbah anorganik selama kegiatan, dan tahap akhir adalah penarikan
kesimpulan dalam bentuk penulisan penelitian.
E.

Indikator Keberhasilan Kinerja

23

Berdasarkan hasil evaluasi/penilaian yang telah disesuaikan tersebut dan


hasil perhitungan dengan formulasi diatas, selanjutnya diberi makna secara
kualitatif berupa nilai kemampuan dasar kecerdasan visual-spasial anak
dalam konveksi, kemudian disesuaikan dengan indikator keberhasilan kinerja
yang digunakan dalam penelitian ini. Adapun persentase indikator kinerja
yang diterapkan dalam penelitian ini adalah dengan menghitung banyaknya
anak didik yang memperoleh nilai konversi 2,50 4,00 atau jumlah anak
didik yang memperoleh nilai akhir kecerdasan visual-spasial dengan nilai
BSB (Berkembang Sangat Baik) dan BSH (Berkembang Sesuai Harapan),
dan secara klasikal 75% sebagai acuan apakah penelitian tindakan ini telah
dapat diselesaikan ataukah masih harus dilanjutkan ke siklus selanjutnya.
Berdasarkan hasil penilaian dari tagihan indikator penilaian berupa item-item
aspek perkembangan kecerdasan spasial anak yang diamati dan diberi nilai
(terdapat pada lembar observasi/assesmen checklist pada halaman lampiran),
maka kegiatan penilitian tindakan ini dihentikan karena dipandang telah
terselesaikan. Berarti, secara individu anak kelompok B2 TK Al-Mizan
Kecamatan seteluk KSB dikatakan berhasil jika telah memperoleh
perkembangan kecerdasan visual spasial dengan nilai BSB Berkembang
Sangat Baik) dan BSH (Berkembang Sesuai Harapan), dan secara klasikal
75% yang diterapkan guru TK Al-Mizan Kecamatan Seteluk KSB
F. Model Rancangan Pendekatan dan Prosedur Penelitian Tindakan
Sesuai dengan maksud dan tujuan yang terkandung dalam pelaksanaan
penelitian ini, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tindakan
atau yang oleh Hopkins (1993) disebut penelitian tindakan (action research)
yang merupakan bagian dari penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang
dilakukan untuk mencari makna yang melatarbelakangi kinerja guru,
sehingga akan diperoleh tingkat pemahaman tentang masalah atau situasi
yang ada dilapangan, khususnya yang menyangkut pelaksanaan pengelolaan
dan proses pembelajaran di kelas.
Proses penelitian tindakan kelas menggunakan proses penelitian observasi
dan wawancara yang bersifat reflektif, partisipatif, dan kolaboratif

24

sebagaimana yang dikemukakan oleh Hopkins (1993:88-89), dengan langkahlangkah sebagai berikut: Pertama, diadakan perencanaan bersama (planning
converence) anatara guru (Guru RA/TK) dengan penelitian. Kedua, observasi
kelas (classroom observation) pada kegiatan ini peneliti mengobservasi guru
(Guru TK) yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran atau mengajar di
kelas dan selanjutnya mengumpulkan data yang objektif tentang aspek-aspek
pengamatan yang telah direncanakan semula. Dan langkah Ketiga, pertemuan
balikan (feedback conference), peneliti dan guru (Guru TK) mengadakan
diskusi untuk saling memberi penilaian (evaluation) atau yang merupakan
refleksi terhadap tampilan pembelajaran. Kemmis dan Mc Taggar, lebih lanjut
mengemukakan bahwa penelitian tindakan dilaksanakan dalam beberapa
siklus tindakan dengan beberapa kali tindakan dalam setiap siklusnya yang
mengacu pada empat langkah utama yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3)
observasi, (4) refleksi. Keemapat langkah tersebut akan dilaksanakan secara
bersiklus dengan jumlah putaran akan ditentukan berdasarkan perkembangan
efektifitas solusi aksi yang ditawarkan kepada subjek (guru dan siswa). Kedua
model tersebut dipadukan dengan formulasi sesuai dengan kebutuhan
penelitian ini yang disesuaikan dengan kondisi lapangan yang tahapannya
dapat digambarkan dalam bentuk siklus seperti pada halaman berikut

Siklus kegiatan PTK


Permasalahanan
aalahan

Perencanaan
Tindakan I

25

Pelaksanaan
Tindakan I

Siklus I

Permasalahan
baru hasil
refleksi

Refleksi

Pengamatan
/pengumpulan
data I

Perencanaan
tindakan II

Pelaksanaan
tindakan II

Refleksi

Pengamatan/
pengumpulan
data II

Siklus II

Apabila
permasalahan
belum
terselesaikan

Dilanjutkan ke
siklus
berikutnya

Bagan :3.1
Proses penelitian Tindakan
Sumber : Penelitian Tindakan kelas (Arikunto 2006:74)
Memperhatikan bagan tahapan atau prosedur penelitian tindakan kelas yang
disajikan pada halaman sebelumnya, terlihat bahwa aktifitas penelitian tindakan
berlangsung dari siklus ke siklus selanjutnya. Begitu pun juga pada penelitian
yang penulis akan lakukan kali ini direnacakan dan diupayakan kegiatan tindakan
yang dilakukan dapat terselesaikan dengan baik dalam dua siklus saja. Oleh sebab
itu, dalam perencanaannya, prosedur kegiatan tindakan yang akan dilakukan
didesain seoptimal mungkin bersama mitra peneliti (Guru) dan pengamatannya
disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ingin dicapai seperti apa yang
telah didesain dalam aspek-aspek yang akan diamati mengenai faktor
perkembangan kreatifitas anak TK Al-Mizan Kecamatan Seteluk KSB
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan ini, langkah-langkah prosedur
kegiatan yang akan dilakukan juga mengikuti tahapan kegiatan sebagaimana
yang nampak terlihat pada gambar skema di halaman sebelumnya. Secara
garis besar menurut gambar tersebut, tahapan atau prosedur kegiatan dalam
penelitian tindakan ini yakni: (1) Perencanaan kegiatan dan tindakan yang

26

akan dilakukan; (2) Pelaksanaan tindakan (dalam proses belajar-mengajar di


kelas); (3) Pengadaaan observasi/pengamatan dan penilaian (evaluasi); dan
(4) Refleksi.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahapan prosedur tersebut,
secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Kegiatan perencanaan; hal-hal yang dilakukan pada tahapan ini adalah:
a. Membuat skenario kegiatan belajar sambil bermain bagi anak dengan
memanfaatkan bahan limbah anorganik (RKH).
b. Membuat lembar daftar pengamatan atau pedoman observasi untuk
dijadikan acuan pengamatan dalam mengetahui perkembangan daya
kecerdasan visual-spasial anak yang diamati, serta bagaimana situasi
atau keadaan dalam proses kegiatan pembelajaran anak yang bermain
dengan anak yang bermain dengan memanfaatkan media dari bahan
limbah anorganik, baik untuk guru TK (untuk keperluan perbaikan
tindakan pada setiap siklus kegiatan pembelajaran), maupun

untuk

anak TK guna menilai kecerdasan visual-spasialnya dalam kegiatan


belajar sambil bermain membuat pola-pola bahan limbah anorganik dan
membentuknya menjadi objek seperti yang telah diperlihatkan guru.
c. Mempersiapkan berbagai bahan limbah anorganik dan peralatan
permainan serta perlengkapan lainnya yang diperlukan dan yang dapat
membantu guru dalam membimbing

dan membelajarkan anak TK

secara baik.
d. Mendesain alat evaluasi/penilaian yang digunakan untuk melihat dan
mengetahui hasil pelaksanaan tindakan dan perkembangan kecerdasan
visual-spasial anak dalam program kegiatan belajar sambil bermain
membuat pola-pola dari bahan limbah anorganik dan membentuknya
menjadi objek seperti yang akan diperlihatkan atau dicontohkan guru.
e. Mempersiapkan pedoman untuk jurnal refleksi diri.
2. Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini adalah melaksanakan aktivitas
proses belajar sambil bermain bersama anak di dalam kelas dalam rangka

27

mengembangkan kecerdasan visual-spasial anak, yang sesuai dengan


rencana kegiatan pembelajaran yang telah disusun dan direncanakan
sebelum tindakan dilakukan, dan tentunya dengan memilih tema yang sesuai
dengan kurikulum TK dan lingkungan kehidupan sekitar anak.
3. Kegiatan Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah mengadakan observasi atau
pengamatan yang skema dan faktual terhadap pelaksanaan tindakan dalam
proses kegiatan pembelajaran anak TK. Kegiatan ini dilakukan secara
berkolaborasi dengan salah satu guru TK Al-Mizan Kecamatan Seteluk, dan
selanjutnya mencatat semua kejadian-kejadian penting dan perubahanperubahan serta hal-hal lain yang nampak dalam aktivitas mengajar dan
belajar sambil bermain anak, semaua hal ini dalam pengamatan dan
pencatatannya diupayakan evaluasi atau penilaiannya relevan dan sesuai
dengan aspek-aspek pengamatan yang ingin diselidiki pada anak.
4. Refleksi
Hasil-hasil pengamatan dan pencatatan yang diperoleh pada tahap observasi
dan evaluasi dikumpulkan serta dianalisis. Berdasarkan hasil analisis ini,
dapat diketahui kelemahan dan kekurangan yang terjadi dari tindakan yang
dilakukan pada setiap kegiatan pembelajaran dalam satu siklus. Setelah
diketahui hal-hal yang dimaksud, maka diambil suatu keputusan apakah
tindakan tersebut dapat dianggap terselesaikan ataukah dipandang masih
perlu perbaikan-perbaikan sehingga siklus tindakan selanjutnya masih harus
dilakukan lagi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.

Deskripsi Per Siklus


Pembelajaran akan pemanfaatan limbah Anorganik sebelum penelitian
dilakukan

sangat

kurang

diminati

28

anak

didik

sangat

diminati anak didik, selain itu secara umum orang lebih mengutamakan
kecerdasan IQ saja daripada kecerdasan visual-spasial seperti pemanfaatan
limbah Anorganik, padahal hal ini sangat penting dalam pengembangan
kecerdasan visual-spasial , hal ini juga terjadi di kelas dimana kami
mengajar. Dalam pengamatan kami anak didik di TK AL-MIZAN Seteluk
Atas Kec.Seteluk KSB, tahun pelajaran 2015-2016 semester ganjil ini,
pemanfaatan limbah anorganik dalam meningkatkan
spasial anak

masih

mengerjakan

tugas ketrampilan apapun masih

yang hanya

mencontoh

kecerdasan visual-

rendah, hal inidapat terlihat


dan

tidak

menambah bentuk lain dari contoh

ketika

banyak

anak

terlihat

anak

berani/ tidak mau mencoba

yang sudah ada. Selain itu anak didik

banyak yang lihat bosan, ngantuk, kurang tertarik, dan bahkan ada
yang main sendiri saat mengerjakan

ketrampilan

seperti,menggambar,

mewarnai,menjiplak, atau ketrampilan lainnya. Padahal jika anak tidak b


osan

mengerjakan ketrampilan, hasil kegiatan atau prakarya anak dapat

meningkatkan kecerdasan visual spasial anak. Dengan ketrampilan tangan


anak dapat
memanipulasi bahan, kreativitas dan imajinasi anak pun terlatih
karenanya. Selain itu kerajinan tangan dapat membangun kepercayaan dir
i anak.
Berbagai upaya telah dilakukan guru dalam meningkatkan kecerdasan
visual-spasial
liat. Akan

anak
tetapi

didik
belum

seperti bermain
didapat

plastisin

peningkatan

dan

tanah

kecerdasan visual-

spasial pada anak didik secara signifikan. Dari 19 anak didik hanya 5
siswa yang dapat

mengerjakan tugas tanpa bantuan

Guru, sedangkan yang lain masih dibantu Guru, hal ini berarti kecerdasan
visual-spasial siswa masih sangat rendah.
Berdasarkan pengamatan masalah yang ada pada TK kami, langkah
yang akan diambil peneliti agar dapat
sapasial
Peneliti

adalah

dengan

mencoba

meningkatkan kecerdasan visual-

metode pemanfaatan
mencari

29

limbah
jalan

anorganik.
keluar

masalah dengan upaya perbaikan pembelajaramelalui Penelitian Tindakan


Kelas (PTK), karena masalah tersebut dapat menimbulkan masalah baru
dalam Kegiatan Balajar Mengajar (KBM) di TK yang kami kelola.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan di TKALMIZAN
Seteluk

Atas

Kec.Seteluk

KSB dilaksanakan dalam 2 siklus.

Siklus I dan II masing-masing dilaksanakan dalam 2 pertemuan. Siklus I


dilaksanakan pada hari senin sampai dengan Senin, tanggal 23-25
november 2015 Siklus II dilaksanakan pada hari senin sampai dengan rabu,
tanggal 30 november-1 Desember 2015
Hasil belajar anak didik pada kelompok B TK AL_MIZAN Seteluk Atas
Kec.Seteluk

KSB

pada tahun pelajaran 2015-2016

dalam

upaya

meningkatkan kecerdasan visual-sapsial melalui pemanfaatan bahan limbah


anorganik
B.

Pembahasan dari setiap siklus


Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh siswa dalam
Peningkatan

kecerdasan

munculnya permasalahan,
pendahuluan,

visual-sapasial,
sebagaimana

dilakukan serangkain

permasalah tersebut.

telah

diuraikan

tindakan

Tindakan

dari dua siklus, dengan

berbagai

penyebab
pada

untuk

bagian

mengatasi

penelitian ini terdiri

prosedur penelitian meliputi: penyusunan rencan

a
indakan, pelaksanaan, pengamatan atau observasi, dan refleksi. Deskripsi
masing-masing siklus dikemukakan berikut ini:

SIKLUS 1
1.
1)

Perencanaan
Bekerjasama

bersama

observer

pembelajaran dan cakupannya.

30

menetapkan

urutan

materi

2)

Membuat dan melengkapi alat peraga

3)

Menetapkan

bahwa

dalam

kegiatan

pembelajaran

ini

menggunakan media limbah anorganik


4)

Membuat lembar observasi untuk mengamati aktifitas anak didik,


aktifitas guru dan kegiatan pembelajaran

5)
2.
1)

Mendesain alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.


Pelaksanaan Tindakan
Rencana Kegiatan Harian (RKH) pertemuan ke-1 Senin, 23 november
2015
Pendahuluan ( 10 Menit)
1.

Guru membimbing anak untuk berdoa sebelum belajar, bernyanyi


dan

2.

mengucapkan salam.

Guru memberi penjelasan sambil bercerita tentang macam-macam


peralatan dalam rumah, memperlihatkan dan memperagakan serta
memberi contoh-contoh konkrit bagaimana

mengolah bahan

limbah anorganik menjadi suatu hasil karya sesuai indikator yang


dinilai dan menghubungkan materi pembelajaran (tema dan sub
tema) dengan tindakan penelitian.
Kegiatan Inti ( 40 Menit)
1.

Anak mendengarkan penjelasan guru dan perhatian tertuju pada


proses pembelajaran.

2.

Guru menjelaskan jenis dan fungsi alat dan bahan yang akan
digunakan dalam kegiatan menggunting, mebuat pola-pola bentuk
boneka

3.

Guru mengajak, mengarahkan dan memotivasi anak untuk


bermain sambil belajar membuat sesuatu dengan memperlihatkan
atau memperagakan bagaimana mempergunakan alat (gunting) dan

31

bahan-bahan limbah plastik yang telah dipersiapkan dengan hatihati dan benar untuk membuat sesuatu (boneka).
4.

Membelajarkan, memotivasi, dan membimbing/menuntun anak


bagaimana menggunting secara hati-hati dengan menggunkan
gunting agar hasil guntingan juga baik (menggunting lurus,
membelokan guntingan, menggunting dari arah berlawanan,
menggunting dengan irisan kecil-kecil, memegang bahan-bahan
limbah seperti kertas, karton, plastik lalu mengguntingnya, dan
sebagainya).

5.

Guru mengajak dan meminta anak untuk memperhatikan guru


mengerjakan atau membuat bentuk boneka dari bahan limbah
plastik hingga selesai menjadi hasil karya.

6.

Guru mengajak, memotivasi, dan meminta anak untuk


melakukanya sendiri seperti contoh dan cara yang telah
diperlihatkan guru.

7.

Dua orang guru keliling ruangan mengamati dan memperhatikan


aktifitas anak-anak untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan (karena anak memengang gunting dalam bermain
sambil belajar) dan membantu anak yang mengalami kesulitan.

8.

Guru terus berkeliling kelas, menyantuni anak, memberikan


bantuan seperlunya, menanggapi permintaan dan pertanyaanpertanyaan anak, memotivasi dan menstimulasi kecerdasan visualspasial anak dalam memberdayakan alat dan bahan-bahan limbah
anorganik untuk membuat sesuatu, hingga waktu istrahat tiba.

9.

Guru

mengajak,

mengarahkan

dan

meminta,

anak

untuk

membersikan diri, duduk tertib, lalu berdoa, kemudian menikmati


bekalnya.
10. Guru mengajak dan mengarahkan anak untuk istrahat dan bermain
bebas diluar kelas.
Kegiatan Penutup ( 10 Menit)

32

1.

Guru mendiskusikan kegiatan anak yang telah dilaksanakan


seharian.

2.

Guru membimbing anak untuk bernyanyi, berdoa pulang, dan


ucapkan salam.

IV. Kegiatan Evaluasi


Pelaksanaan evaluasi dilakukan dalam proses pembelajaran
2)

Rencana Kegiatan Harian (RKH) pertemuan ke-2 selasa, 24 november


2015
Pendahuluan ( 10 Menit)
1. Guru membimbing anak untuk berdoa sebelum belajar, bernyanyi
dan mengucapkan salam.
2. Guru memberi penjelasan sambil bercerita tentang macam-macam
peralatan dalam rumah, memperlihatkan dan memperagakan serta
memberi contoh-contoh konkrit bagaimana mengolah bahan limbah
anorganik menjadi suatu hasil karya sesuai indikator yang dinilai dan
menghubungkan materi pembelajaran (tema dan sub tema) dengan
tindakan penelitian.
Kegiatan Inti ( 40 Menit)
1. Anak mendengarkan penjelasan guru dan perhatian tertuju pada
proses pembelajaran.
2. Guru menjelaskan jenis dan fungsi alat dan bahan yang akan
digunakan dalam kegiatan menggunting, membuat pola-pola bentuk
boneka
3. Guru mengajak, mengarahkan dan memotivasi anak untuk bermain
sambil belajar membuat sesuatu dengan memperlihatkan atau
memperagakan bagaimana mempergunakan alat (gunting) dan
bahan-bahan limbah plastik yang telah dipersiapkan dengan hati-hati
dan benar untuk membuat sesuatu (boneka).

33

4. Membelajarkan, memotivasi, dan membimbing/menuntun anak


bagaimana menggunting secara hati-hati dengan menggunkan
gunting agar hasil guntingan juga baik (menggunting lurus,
membelokan guntingan, menggunting dari arah berlawanan,
menggunting dengan irisan kecil-kecil, memegang bahan-bahan
limbah seperti kertas, karton, plastik lalu mengguntingnya, dan
sebagainya).
5. Guru mengajak dan meminta anak untuk memperhatikan guru
mengerjakan atau membuat bentuk boneka dari bahan limbah plastik
hingga selesai menjadi hasil karya.
6. Guru mengajak, memotivasi, dan meminta anak untuk melakukanya
sendiri seperti contoh dan cara yang telah diperlihatkan guru.
7. Dua orang guru keliling ruangan mengamati dan memperhatikan
aktifitas anak-anak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan
(karena anak memengang gunting dalam bermain sambil belajar) dan
membantu anak yang mengalami kesulitan.
8. Guru terus berkeliling kelas, menyantuni anak, memberikan bantuan
seperlunya, menanggapi permintaan dan pertanyaan-pertanyaan
anak, memotivasi dan menstimulasi kecerdasan visual-spasial anak
dalam memberdayakan alat dan bahan-bahan limbah anorganik
untuk membuat sesuatu, hingga waktu istrahat tiba.
9. Guru

mengajak,

mengarahkan

dan

meminta,

anak

untuk

membersikan diri, duduk tertib, lalu berdoa, kemudian menikmati


bekalnya.
10.Guru mengajak dan mengarahkan anak untuk istrahat dan bermain
bebas diluar kelas.
Kegiatan Penutup ( 10 Menit)
1. Guru mendiskusikan kegiatan anak yang telah dilaksanakan seharian.
2.Guru membimbing anak untuk bernyanyi, berdoa pulang, dan
ucapkan salam.

34

IV. Kegiatan Evaluasi


Pelaksanaan evaluasi dilakukan dalam proses pembelajaran.
3. Tahap Pengamatan / Observasi
Pada tahap ini tim observasi / pengamat melakukan observasi terhadap
pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi kreativitas anak.
Disamping observasi kreativitas anak, peneliti menggunakan observasi
keterlibatan anak yang digunakan kepada anak didik untuk mengetahui hambatan
yang dialami anak didik selama proses pembelajaran berlangsung, dan untuk
mengetahui kemampuan anak dalam membuat berbagai macam bentuk sesuai
dengan keinginan anak.
4. Tahap Refleksi
Setelah dilakukan pengamatan pada siklus I, peneliti mendapatkan hasil
observasi seperti yang tertera pada tabel 4.1 kondisi anak berubah setelah
dilakukan siklus I, peneliti melakukan penelitian selama 2 kali pertemuan pada
siklus I.

Tabel 4.1 Hasil observasi siklus I


No

Nama

Pra siklus

Siklus I

Siswa
1
2
3
4
5
6
7
8

Dinda
Erwin
Fadila
Faisa
Intan
Keyja
Nissa
Khulwa

Pertemuan 1
60%
55%
63%
67%
67%
69%
69%
69%

30%
23%
33%
40%
35%
45%
50%
55%

35

Pertemuan 2
65%
60%
68%
72%
74%
74%
74%
75%

9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Khilwa
Larasati
M.akbar
M.alfarizi
M.pahresa
M.tegar
Nanda
Nayla
Novita
Olivia
Yasir

40%
30%
44%
55%
57%
45%
56%
30%
37%
42%
40%

67%
60%
64%
69%
69%
65%
68%%
60%
63%
65%
66%

73%
65%
69%
74%
75%
70%
73%
65%
68%
70%
71%

Keterangan penilaian:
Jika : Hasil hitungan berada pada persentase 95% - 100%

= BSB

Hasil hitungan berada pada persentase 85% - 94%

= BSH

Hasil hitungan berada pada persentase 75% - 84% = MB


Hasil hitungan berada pada persentase di bawah 75% = BB
Dari table diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan visual-spasial siswa
sudah mulai nampak dan berkembang meskipun hasilnya belum maksimal. Oleh
karena itu masih ada perlu perbaikan pada siklus berikutnya.
SIKLUS II
1. Perencanaan
Diskusi dengan observer tentang permasalahan baru yang timbul pada
siklus I, hasil refleksi pada siklus I dijadikan dasar menyusun rencana
perbaikan pembelajaran di RKH pada siklus II.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
yang telah direncanakan. Guru melaksanakan kegiatan dengan media sam
a dengan siklus I bedanya pada siklus I anak mengerjakan tugas secara individu
pada siklus II anak melakukan kegiatan secara berkelompok Pelaksanaan
tindakan selengkapnya sebagai berikut:

36

1) Rencana Kegiatan Harian (RKH) pertemuan ke-1, Senin 30 november 2015


Pendahuluan ( 10 Menit)
1. Guru membimbing anak untuk berdoa sebelum belajar, bernyanyi dan
mengucapkan salam.
2. Guru memberi penjelasan sambil bercerita tentang macam-macam
peralatan

dalam rumah, memperlihatkan dan

memberi contoh-contoh konkrit bagaimana

memperagakan serta

mengolah bahan limbah

anorganik menjadi suatu hasil karya sesuai indikator yang dinilai dan
menghubungkan materi pembelajaran (tema dan sub tema) dengan
tindakan penelitian.
Kegiatan Inti ( 40 Menit)
1. Anak mendengarkan penjelasan guru dan perhatian tertuju pada proses
pembelajaran.
2. Guru menjelaskan jenis dan fungsi alat dan bahan yang akan digunakan
dalam kegiatan menggunting, mebuat pola-pola bentuk boneka
3. Guru mengajak, mengarahkan dan memotivasi anak untuk bermain
sambil

belajar

membuat

sesuatu

dengan

memperlihatkan

atau

memperagakan bagaimana mempergunakan alat (gunting) dan bahanbahan limbah plastik yang telah dipersiapkan dengan hati-hati dan benar
untuk membuat sesuatu (boneka).
4.Membelajarkan,

memotivasi,

dan

membimbing/menuntun

anak

bagaimana menggunting secara hati-hati dengan menggunkan gunting


agar hasil guntingan juga baik (menggunting lurus, membelokan
guntingan, menggunting dari arah berlawanan, menggunting dengan
irisan kecil-kecil, memegang bahan-bahan limbah seperti kertas, karton,
plastik lalu mengguntingnya, dan sebagainya).
5.Guru mengajak dan meminta anak untuk memperhatikan guru
mengerjakan atau membuat bentuk boneka dari bahan limbah plastik
hingga selesai menjadi hasil karya.

37

6.Guru mengajak, memotivasi, dan meminta anak untuk melakukanya


sendiri seperti contoh dan cara yang telah diperlihatkan guru.
7. Dua orang guru keliling ruangan mengamati dan memperhatikan aktifitas
anak-anak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (karena anak
memengang gunting dalam bermain sambil belajar) dan membantu anak
yang mengalami kesulitan.
8. Guru terus berkeliling kelas, menyantuni anak, memberikan bantuan
seperlunya, menanggapi permintaan dan pertanyaan-pertanyaan anak,
memotivasi dan menstimulasi kecerdasan visual-spasial anak dalam
memberdayakan alat dan bahan-bahan limbah anorganik untuk membuat
sesuatu, hingga waktu istrahat tiba.
9. Guru mengajak, mengarahkan dan meminta, anak untuk membersikan
diri, duduk tertib, lalu berdoa, kemudian menikmati bekalnya.
10. Guru mengajak dan mengarahkan anak untuk istrahat dan bermain bebas
diluar kelas.
Kegiatan Penutup ( 10 Menit)
1. Guru mendiskusikan kegiatan anak yang telah dilaksanakan seharian.
2. Guru membimbing anak untuk bernyanyi, berdoa pulang, dan ucapkan
salam.
IV. Kegiatan Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi dilakukan dalam proses pembelajaran.
2) Rencana Kegiatan Harian (RKH) pertemuan ke-2, Selasa 1 Desember 2015
Pendahuluan ( 10 Menit)
1. Guru membimbing anak untuk berdoa sebelum belajar, bernyanyi dan
mengucapkan salam.
2. Guru memberi penjelasan sambil bercerita tentang macam-macam
peralatan

dalam rumah, memperlihatkan dan

memberi contoh-contoh konkrit bagaimana

memperagakan serta

mengolah bahan limbah

anorganik menjadi suatu hasil karya sesuai indikator yang dinilai dan

38

menghubungkan materi pembelajaran (tema dan sub tema) dengan


tindakan penelitian.
Kegiatan Inti ( 40 Menit)
1. Anak mendengarkan penjelasan guru dan perhatian tertuju pada proses
pembelajaran.
2. Guru menjelaskan jenis dan fungsi alat dan bahan yang akan digunakan
dalam kegiatan menggunting, mebuat pola-pola bentuk boneka
3. Guru mengajak, mengarahkan dan memotivasi anak untuk bermain
sambil

belajar

membuat

sesuatu

dengan

memperlihatkan

atau

memperagakan bagaimana mempergunakan alat (gunting) dan bahanbahan limbah plastik yang telah dipersiapkan dengan hati-hati dan benar
untuk membuat sesuatu (boneka).
4.Membelajarkan,

memotivasi,

dan

membimbing/menuntun

anak

bagaimana menggunting secara hati-hati dengan menggunkan gunting


agar hasil guntingan juga baik (menggunting lurus, membelokan
guntingan, menggunting dari arah berlawanan, menggunting dengan
irisan kecil-kecil, memegang bahan-bahan limbah seperti kertas, karton,
plastik lalu mengguntingnya, dan sebagainya).
5.Guru mengajak dan meminta anak untuk memperhatikan guru
mengerjakan atau membuat bentuk boneka dari bahan limbah plastik
hingga selesai menjadi hasil karya.
6.Guru mengajak, memotivasi, dan meminta anak untuk melakukanya
sendiri seperti contoh dan cara yang telah diperlihatkan guru.
7. Dua orang guru keliling ruangan mengamati dan memperhatikan aktifitas
anak-anak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (karena anak
memengang gunting dalam bermain sambil belajar) dan membantu anak
yang mengalami kesulitan.
8. Guru terus berkeliling kelas, menyantuni anak, memberikan bantuan
seperlunya, menanggapi permintaan dan pertanyaan-pertanyaan anak,
memotivasi dan menstimulasi kecerdasan visual-spasial anak dalam

39

memberdayakan alat dan bahan-bahan limbah anorganik untuk membuat


sesuatu, hingga waktu istrahat tiba.
9. Guru mengajak, mengarahkan dan meminta, anak untuk membersikan
diri, duduk tertib, lalu berdoa, kemudian menikmati bekalnya.
10. Guru mengajak dan mengarahkan anak untuk istrahat dan bermain bebas
diluar kelas.
Kegiatan Penutup ( 10 Menit)
1. Guru mendiskusikan kegiatan anak yang telah dilaksanakan seharian.
2. Guru membimbing anak untuk bernyanyi, berdoa pulang, dan ucapkan
salam.
IV. Kegiatan Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi dilakukan dalam proses pembelajaran.

3.

Tahap Pengamatan / Observasi


Penilaian yang diobservasi adalah tentang kreatifitas anak dan keterlibatan

anak pada saat pembelajaran. Pada penilaian ini dilihat perubahan yang terjadi
pada anak saat siklus I dan pada siklus II. Cara penilaian berdasarkan
kemampuan anak masing-masing pada siklus I dan ke II bukan pada
kemampuan kelompoknya.
4.

Tahap Refleksi
Setelah data observasi dianalisis, guru melakukan refleksi diri terhada

p kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Pada tahap ini, tim observer
dan guru berusaha untuk dapat mengetahui kemampuan anak didik dalam
pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I.Hasil tersebut digunakan
untuk menentukan tindakan pada siklus berikutnya apakah perlu melakukan
siklus III atau cukup berhenti pada siklus II saja.

40

Ternyata setelah dilakukan pembelajaran pada siklus II terjadi


peningkatan jumlah anak yang mampu mencapai indikator-indikator penilaian.
Peningkatan kemampuan pada anak didik ini membuktikan bahwa peneliti
berhasil melakukan penelitian pada anak didik.
Tabel 4.2 Hasil observasi siklus II
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Nama Siswa
Dinda
Erwin
Fadila
Faisa
Intan
Keyja
Nissa
Khulwa
Khilwa
Larasati
M.akbar
M.alfarizi
M.pahresa
M.tegar
Nanda
Nayla
Novita
Olivia
Yasir

Siklus II
Pertemuan 1
75%
74%
76%
77%
79%
79%
79%
80%
78%
74%
73%
79%
81%
78%
79%
76%
76%
76%
79%

Pertemuan 2
95%
94%
97%
98%
92%
95%
94%
97%
94%
97%
95%
96%
99%
97%
96%
95%
97%
96%
94%

Keterangan penilaian:
Jika : Hasil hitungan berada pada persentase 95% - 100%

= BSB

Hasil hitungan berada pada persentase 85% - 94%

= BSH

Hasil hitungan berada pada persentase 75% - 84% = MB


Hasil hitungan berada pada persentase di bawah 75% = BB
Dari table diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan visual-spasial siswa
sudah sudah mengalami peningkatan secara signifigan dibandingkan sebelum

41

pelaksanaan penelitian dan siklus I dan II. Oleh karena itu, menurut penulis
penelitian ini dianggap selesai dan tidak perlu lagi penambahan siklus 3.

Gambar 4.1
Pemanfaatan limbah anorganik prasiklus

Gambar 4.2
Kemampuan kecerdasan visual-spasial siswa pra siklus

42

Gambar 4.3
Pemanfaatan limbah anorganik siswa siklus I

Gambar 4.4

43

Kegiatan merangsang kecerdasan visual-spasial siswa siklus I

Gambar 4.5
Hasil Pemanfaatan limbah anorganik siswa siklus I

44

Gambar 4.6
Pemanfaatan limbah anorganik siswa siklus II

Gambar 4.7
Kegiatan merangsang kecerdasan visual-spasial siswa siklus I

45

Gambar 4.8
Hasil pemanfaatan limbah anorganik siswa siklus II

Gambar 4.9

46

47

48

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pada tabel hasil penelitian di atas dapat dikatakan bahwa pemanfaatan bahan
limbah anorganik dapat meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak pada
anak kelompok B TK AL-MIZAN Seteluk Atas Kec. Seteluk KSB
Pada semester ganjil tahun pelajaran 2015-2016.
Dengan dibuktikan adanya hasil diskriptif ketuntasan belajar yaitu dari
kondisi awal jumlah anak yang sudah berkembang sesuai harapan dan
anak yang berkembang sangat baik / optimal.Tidak

hanya

itu,

perkembangan kreativitas anak meningkat secara signifigan dibandingkan


sebelum terlaksananya penelitian tindakan kelas ini.
B.

Saran
Dari hasil kesimpulan diatas hasil terhadap tindakan penelitian kelas
tersebut ada beberapa hal yang penting untuk dapat ditindak lanjuti yaitu:
1. Saran untuk guru
a) Penggunaan

media pembelajaran yang

mudah didapat dan guru ikut aktif dapat dijadikan suatu alternatif
untuk meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak.
b) Hasil penelitian ini mampu mendiskripsikan kecerdasan visual-spasial
anak melalui pembelajaran bermain dengan

memanfaatkan limbah

anorganik.
e) Pembelajaran dengan adanya benda konkrit dapat mempermudah anak
didik dalam mengawali imajinasinya membuat bentuk.
f) Ciptakan suasana pembelajaran yang menarik bagi anak dengan
esensi bermain tidak di dalam kelas saja.
49

g) Bimbinglah dengan kasih sayang serta


motivasi dengan sanjungan, hargai

hasil

karya

anak

dengan

hadiah/reward.
2. Saran untuk sekolah
Implementasi media pembelajaran bermain pemanfaatan
anorganik

dengan

limbah

membuat berbagai bentuk dapat

meningkatkan hasil belajar anak dan


juga sebagai modal dasar seni ketrampilan yang akan berguana dikehid
upan
nanti, dan tidak ada salahnya apabila model pembelajaran ini dicoba p
ada aktivitas lain dengan bahan dan dengan metode atau teknik yang lain
pula.
3. Saran untuk orang tua
Agar lebih memperhatikan setiap potensi yang dimiliki anak tidak hanya
potensi akademik semata tetapi juga pada potensi kecerdasan visual-spasial
denganstimulusidiritermasuk diterapkan kegiatan kreativitas di rumah de
ngan suasana yang menyenangkan.

50

Lampiran 1.
Lembar Observasi Guru
Berkaitan dengan Pelaksanaan Pembelajaran Peningkatan Kecerdasan
Visual-Spasial melalui Pemanfaatan Bahan Limbah Anorganik
Hari / Tanggal :Selasa,1 Desember 2015
Tempat

: TK AL-Mizan Kecamatan Seteluk KSB

Responden

: Guru
Hasil

No
.
1.
2.

Aspek Yang Diamati

Pengamatan
Ya
Tidak

Melaksanakan Apersepsi
Menyampaikan materi sesuai dengan

Keterang
an

v
v

tujuan pembelajaran mengenal bilangan


3.

yang akan disampaikan


Melaksanakan prosedur peningkatan

kecerdasan visual-spasial yang akan


4.

dilaksanakan
Menyediakan dan menjelaskan media

yang akan digunakan dalam peningkatan


5.

kecerdasan visual-spasial
Memberikan kesempatan kepada setiap

anak untuk memanfaatkan bahan limbah


6.

anorganik dalam proses pembelajaran


Melakukan evaluasi dengan mereview

materi pembelajaran kecerdasan visualspasial yang telah disampaikan

Seteluk, 1 Desember 2015


Peneliti

51

Mengetahui,

Guru Kelompok B2

Kepala TK AL-Mizan Seteluk

Heni Handayani

Heni Handayani

Lampiran 2.
Pedoman Observasi Anak

52

Berkaitan dengan Aktivitas Anak


Hari / Tanggal : Senin,1 Desember 2015
Tempat

: TK AL-Mizan Seteluk

Responden

: Anak
Hasil

No
.
1.

Aspek Yang Diamati

Pengamatan
Ya
Tidak

Anak mengetahui permasalahan

Keterangan

peningkatan kecerdasan visual-spasial


2.

yang disampaikan
Anak mampu memegang dan

menggunakan peralatan secara baik dan


3.

benar
Anak berinteraksi aktif dalam

4.
5.

pembelajaran
Anak melakukan yang diperintahkan
Anak dapat memegang dan menggunting

v
v

bahan limbah anorganik (Botol air mineral)


hingga terbagi dua mengikuti garis
6.
7.

lengkung
Anak mengemukakan hasil perlakuannya
Anak memberikan tanggapan terhadap

v
v

8.

perlakuan yang telah diselesaikannya


Anak mampu secara kreatif memanfaatkan

bahan limbah anorganik dalam berbagai


bentuk media yang bisa meningkatkan
9.

kecerdasan visual-spasial
Anak mengalami kesulitan dengan

10.

permasalahan yang disajikan


Anak merapikan peralatan yang telah

V
v

digunakan
Seteluk, 1 Desember 2015

53

Peneliti
Mengetahui,

Guru Kelompok B2

Kepala TK AL-Mizan Seteluk

Heni Handayani

Heni Handayani

Lampiran 3.
Lembar Instrumen Penilaian
Instrumen Penilaian Anak
Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak
Melalui Pemanfaatan Bahan Limbah Anorganik

54

Pada Anak Kelompok B2 TK AL-Mizan Seteluk.

Nama Anak Didik : M.Pahresa


Nilai Perolehan
BSB
BSH
MB
No

Indikator

1.

Anak mampu memegang dan

menggunakan peralatan gunting


2.

secara baik dan benar


Anak dapat menggunting botol air

mineral plastik membentuk 6-8


3.

lekukan gerigi
Anak dapat membuat pola gambar

boneka serta mampu menggunting


4.

pola yang telah anak buat sendiri


Anak dapat memegang dan

menggunting bahan limbah anorganik


Botol air mineral) hingga terbagi dua
5.

mengikuti garis vertikal


Anak dapat memegang dan

menggunting bahan limbah anorganik


(Botol air mineral) hingga terbagi dua
6.

mengikuti garis lengkung


Anak dapat memegang dan

menggunting bahan limbah anorganik


(Botol air mineral) menjadi bentuk
7.

gelang-gelang
Anak mampu membuat guntingan
55

BB

mengikuti pola garis lurus tidak


8.

terputus yang dibuat guru


Anak mampu membuat guntingan

mengikuti pola gambar bentuk


segitiga, segi empat, dan kerucut
seperti yang telah dibuat dan
9.

ditunjukkan oleh guru


Dengan kecerdasan visual-spasialnya,

anak mampu membuat guntingan


membentuk 1-2 buah potongan
bentuk boneka mengikuti pola yang
telah dibuat dan ditunjukk an guru
serta mampu menghiasinya dengan
kertas warna atau mewarnainya
dengan cat air yang telah disiapkan
10.

guru
Dengan memanfaatkan bahan limbah

anorganik, anak mampu membuat


guntingan membentuk 1-2 buah
bentuk boneka mampu menghiasinya
atau mewarnainya dengan cat warna

Keterangan:
**** = (BSB) Berkembang Sangat Baik, jika anak mampu
menunjukkan
kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator tanpa
bantuan guru.

56

(BSH) Berkembang Sesuai Harapan, jika anak

menunjukkan
kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator namun
terkadang masih harus diberikan bimbingan dan bantuan guru.
= (MB) Mulai Berkembang, yakni jika anak telah mampu
menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan
indikator namun masih sering dibimbing dan dibantu langsung
oleh guru.
= (BB)

Belum Berkembang, yakni jika anak belum menampakkan


kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator pencapaian
perkembangan kecerdasan visual-spasial karena dalam
melakukannya harus selalu dibimbing dan dibantu secara
langsung dari awal oleh guru.

(Jml nilai BSB x 4) + (Jml nilai BSH x 3) + (Jml nilai MB x 2) +


(Jml nilai BB x 1)
Perolehan Nilai Akhir =
Anak Didik

Jumlah Seluruh Indikator = 10

Sedangkan untuk mengetahui keberhasilan kinerja secara klasikal pada setiap


siklus tindakan menggunakan acuan patokan 75% secara klasikal sebagai berikut :
Jumlah anak yang memperoleh nilai bintang (****, ***,**&*)
% P=

X100%
Total banyaknya anak didik dalam kelas (B2)

P = Perolehan nilai klasikal

57

Jika : Hasil hitungan berada pada persentase 95% - 100%

= BSB

Hasil hitungan berada pada persentase 85% - 94%

= BSH

Hasil hitungan berada pada persentase 75% - 84% = MB


Hasil hitungan berada pada persentase di bawah 75% = BB

58

Lampiran 4.
RENCANA KEGIATAN HARIAN (RKH)
Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak
Melalui Pemanfaatan Bahan Limbah Anorganik
Pada Anak Kelompok B2 TK AL-Mizan
Kecamatan Seteluk KSB
Kelompok

: Kelompok B2

Semester

:I

Tema / Sub Tema

: Lingkungan / Boneka Kesayanganku

Bidang Pengembangan

: Motorik Halus

Tingkat Pencapaian Perkembangan: Melakukan Eksplorasi dengan Berbagai


Media dan Kegiatan
Capaian Perkembangan

: Bereksplorasi dengan Berbagai Media


: Membuat Mainan dengan Teknik ,
Menggunting,Mengecat dan Menempel.

Hari / Tanggal

: Senin,1 Desember 2015

Waktu

: 60 Menit

I.

Tujuan

A.

Tujuan Umum
Anak dengan kecerdasan visual-spasialnya dapat memanfaatkan bahan
limbah anorganik yang terbuat dari plastik yang banyak berserakan di
lingkungan sekitarnya.

B.

Tujuan Khusus
Anak dapat atau mampu mengembangkan kecerdasan visual-spasialnya
untuk membuat bentuk Boneka Mainan dengan memanfaatkan limbah
plastik.

59

II. Materi, Media, Sumber Data, dan Metode


a.

Materi

: Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak

b.

Media

: Bahan Limbah Anorganik(aqua botol, botol teh,botol


fanta,dan lain sebagainya)

c.

Sumber Data

: Kurikulum berdasarkan Permen 58 Tahun 2009 tentang


Standar Pendidikan Anak Usia Dini

d.

Metode

: Penugasan dan Hasil Karya

III. Kegiatan Pembelajaran


Pendahuluan ( 10 Menit)
1.

Guru membimbing anak untuk berdoa sebelum belajar, bernyanyi dan


mengucapkan salam.

2.

Guru memberi penjelasan sambil bercerita tentang macam-macam peralatan


dalam rumah, memperlihatkan dan memperagakan serta memberi contohcontoh konkrit bagaimana mengolah bahan limbah anorganik menjadi suatu
hasil karya sesuai indikator yang dinilai dan menghubungkan materi
pembelajaran (tema dan sub tema) dengan tindakan penelitian.

Kegiatan Inti ( 40 Menit)


1.

Anak mendengarkan penjelasan guru dan perhatian tertuju pada proses


pembelajaran.

2.

Guru menjelaskan jenis dan fungsi alat dan bahan yang akan digunakan
dalam kegiatan menggunting, mebuat pola-pola bentuk boneka

3.

Guru mengajak, mengarahkan dan memotivasi anak untuk bermain sambil


belajar membuat sesuatu dengan memperlihatkan atau memperagakan
bagaimana mempergunakan alat (gunting) dan bahan-bahan limbah plastik
yang telah dipersiapkan dengan hati-hati dan benar untuk membuat sesuatu
(boneka).

4.

Membelajarkan, memotivasi, dan membimbing/menuntun anak bagaimana


menggunting secara hati-hati dengan menggunkan gunting agar hasil
guntingan juga baik (menggunting lurus, membelokan guntingan,

60

menggunting dari arah berlawanan, menggunting dengan irisan kecil-kecil,


memegang bahan-bahan limbah seperti kertas, karton, plastik lalu
mengguntingnya, dan sebagainya).
5.

Guru mengajak dan meminta anak untuk memperhatikan guru mengerjakan


atau membuat bentuk boneka dari bahan limbah plastik hingga selesai
menjadi hasil karya.

6.

Guru mengajak, memotivasi, dan meminta anak untuk melakukanya sendiri


seperti contoh dan cara yang telah diperlihatkan guru.

7.

Dua orang guru keliling ruangan mengamati dan memperhatikan aktifitas


anak-anak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (karena anak
memengang gunting dalam bermain sambil belajar) dan membantu anak
yang mengalami kesulitan.

8.

Guru terus berkeliling kelas, menyantuni anak, memberikan bantuan


seperlunya, menanggapi permintaan dan pertanyaan-pertanyaan anak,
memotivasi dan menstimulasi kecerdasan visual-spasial anak dalam
memberdayakan alat dan bahan-bahan limbah anorganik untuk membuat
sesuatu, hingga waktu istrahat tiba.

9.

Guru mengajak, mengarahkan dan meminta, anak untuk membersikan diri,


duduk tertib, lalu berdoa, kemudian menikmati bekalnya.

10. Guru mengajak dan mengarahkan anak untuk istrahat dan bermain bebas
diluar kelas.
Kegiatan Penutup ( 10 Menit)
1.

Guru mendiskusikan kegiatan anak yang telah dilaksanakan seharian.

2.

Guru membimbing anak untuk bernyanyi, berdoa pulang, dan ucapkan

salam.
IV. Kegiatan Evaluasi
a.

Pelaksanaan evaluasi dilakukan dalam proses pembelajaran.

b.

Alat Evaluasi :

61

**** = (BSB) Berkembang Sangat Baik, jika anak mampu


menunjukkan
kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator tanpa
bantuan guru.
***=

(BSH)

Berkembang Sesuai Harapan, jika anak

menunjukkan
kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator
namun terkadang masih harus diberikan bimbingan
dan bantuan guru.
** = (MB) Mulai Berkembang, yakni jika anak telah mampu
menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai
tagihan indikator namun masih sering dibimbing dan
dibantu langsung oleh guru.
*= (BB)

Belum Berkembang, yakni jika anak belum

menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai


tagihan indikator pencapaian perkembangan
kecerdasan visual-spasial karena dalam
melakukannya harus selalu dibimbing dan dibantu
Perolehan
nilai akhir

(Jmlh nilai BSB x 4)+(Jmlh BSH x 3)+(Jmlh MB x 2)+


=

(Jmlh BB x 1)

anak didik
Jmlh seluruh indikator = 10
c.

Hasil evaluasi tercantum pada format penilaian.

Seteluk, 1 Desember 2015


Peneliti
Mengetahui,

Guru Kelompok B2

Kepala TK AL-Mizan Seteluk

62

Heni Handayani

Heni Handayani

Lampiran 5
No

Nama

Pra siklus

Siklus I

30%
23%
33%
40%
35%
45%
50%
55%
40%
30%
44%
55%
57%
45%
56%
30%
37%
42%
40%

1
60%
55%
63%
67%
67%
69%
69%
69%
67%
60%
64%
69%
69%
65%
68%
60%
63%
65%
66%

Siklus II

Siswa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Dinda
Erwin
Fadila
Faisa
Intan
Keyja
Nissa
Khulwa
Khilwa
Larasati
M.akbar
M.alfarizi
M.pahresa
M.tegar
Nanda
Nayla
Novita
Olivia
Yasir

63

2
65%
60%
68%
72%
74%
74%
74%
75%
73%
65%
69%
74%
75%
70%
73%
65%
68%
70%
71%

1
75%
74%
76%
77%
79%
79%
79%
80%
78%
74%
73%
79%
81%
78%
79%
76%
76%
76%
79%

2
95%
94%
97%
98%
92%
95%
94%
97%
94%
97%
95%
96%
99%
97%
96%
95%
97%
96%
94%

DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang (UU) No 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional
Hildayani,(2005:5.16)Berpikir melalu Gambar Aksara
Klinik Pediatri(2009:2) Menciptakan Ssuatu
Masitoh Kostelnik(2005:7.4)gambar lebih Kongkrit daripada kata-kata
Gardner Howard Multiple Intelegen
Agustin(2006:36)kecerdasan tidak berdiri sendiri terkadang bercampur dengan
kecerdasan lain
Yusuf(2005:106)Pengertian Kecerdasan
Syaodih Thustrone(2007:3)individu memiliki Sejumlah Faktor kecerdasan
Masfiroh Armstrong(2004:67)Anak Yang Cerdas Dalam Visual-spasial memiliki
Kepekaan
Depdiknas.2004. Pedoman Penilaian

Di Taman Kanak- kanak. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional. Warna,Garis,Bentuk Dan Bangunan


Masfiroh Indra (2004:67) Ciri Anak Yang Memiliki Kecerdasan Visual-Spasial
Musfiroh Gardner(2004:69)kecerdasan Visual-spasial mempunyai Lokasi di Otak
Bagian Belakang Hemisfer Kanan
Beredecamp dan Musfiroh Cupple(2004:93)kemampuan Anak Usia 4 Tahun
Musfiroh Amstrong(2004:137) Untuk Mengasah Kecerdasan Visual-Spasial
Mubiar Lwin(2006:57)Secara Karier Yang Memiliki Kecerdasan Spasial
Yusuf dan Agustin Nurishan(2006:36)Cakupan Kecerdasan Spasial
Rachma ,Agustin(2006:36)Stimulasi Untuk Mengembangkan Kecerdasan Spasial
Yudha Andi(2009:53)Kecerdasan Melibatkan Imajinasi Aktif
Apriany(2007:8)Kemampuan Visual-Spasial Anak Sangat Di butuhkan Anak
ketika Belajar
Apriany Abdurrahman(2007:57) Lima jenis Kemampuan Visual-Spasial
Watiah Hildayani(2011:24) Anak dengan Kecerdasan Visual-Spasial
Muslihuddin Dan Agustin(2008:80) Guru dapat Merangsang Kecerdasan spasial
Purbawatiah(2011:25) Mengembangkan dan Menginspirasi Kecerdasan VisualSpasial

64

Sulistyowati Elliot(2010:46)Kecerdasan Spasial Dapat Membantu Pemecahan


masalah
Sulistyowati Edi(2010:46)Kecerdasan Visual-Spasial Dapat Dikembangkan
Dengan Pendidikan Seni Rupa
Moeslohaton(1995:37)Kegiatan Belajar Sambil Bermain
Rachmawati Dan Euis K(2005:74)Pemanfaatan Bahan Limbah Anorganik
http//assopoefyan.multiply.com(2009)Pendidikan kreativitas

65

LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
MENINGKATKAN KECERDASAN VISUAL-SPASIAL ANAK
MELALUI PEMANFAATAN BAHAN LIMBAH ANORGANIK
PADA ANAK KELOMPOK B2 TK AL MIZAN SETELUK
KECAMATAN SETELUK KSB
TAHUN PEMBELAJARAN 2015/2016

Di Susun Oleh

Nama

: HENI HANDAYANI

NIM

: 825372713

Smester

: II

Kelas

: A

Program Studi

: 121/PG PAUD S1 ( Masukan


Serjana )

UP BJJ-UT

: 78 / Mataram

UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH ( UPBJJ ) UNIVERSITAS


TERBUKA MATARAM
TAHUN 2015

66

KATA PENGANTAR
Puji Syukur yang tak terhingga peneliti panjatkan kehadiran Allah SWT,
Karena dengan rahmat dan hidayah Nya penyusunan proposal penelitian tindakan
Kelas di kelompok B Tk Al. Mizan Seteluk Melalui Penelitian Kelas (PTK) Tahun
2015/2016 dapat di selsaikan dalam waktu yang telah di tentukan
Penulisan proposal ini peneliti menyusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah penelitian tindakan kelas (PTK) Sehubungan dengan adanya masalahmasalah yang timbul pada saat melasanakan kegiatan pembelajaran yang di
laksanakan melalui penelitian tindak kelas (PTK)
Pada saat penyusunan proposal ini peneliti banyak mendapatkan bantuan
dan bimbingan baik lansung maupun tindak lansung dari berbagai pihak maka
dari itu melalui kesempatan ini peneliti banyak mengucapkan terimakasih kepada
1. Suci Kurnia Selaku Pengembang Mata Kuliah dari UPBJJ-UT
MATARAM
2. Kepala TK AL MIZAN Seteluk
3. Rekan-rekan guru TK Al Mizan Seteluk serta semua pihak yang
membantu dan membimbing penulis sihingga selesainya penulisan
proposal ini
Peneliti menyadari sebagai manusia biasa yang tak jauh dari kekeliruan
dan kekurangan, karena itu peneliti mohon saran dan keritik yang membangun
dari berbagai pihak, demi kesempurnaan penyusunan laporan ini.

Peniliti

HALAMAN PENGESAHAN

67

LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROPOSAL


1. Judul
Meningkatkan Kecerdasan visual-spasial anak melalui pemanfaatan bahan
limbah anorganik Siswa Kelompok B2 di TK Al MIZAN Seteluk Kec.
Seteluk KSB Tahun Pebelajaran 2015/2016
2. Peneliti
a. Nama
: HENI HANDAYANI
b. NIM
: 825372713
c. Jenis Kelamin
: Perempuan
d. Kelas
:A
e.Semester
: II
f. Pokjar
: Sumbawa Barat
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah penelitian tindakan kelas IDIK 4008

Mengetahui
Kepala TK Al MIZAN

Seteluk, Desember 2015


Mahasiswa

HENI HANDAYANI
HENI HANDAYANI
NIM. 825 372713
Mengetahui
Pengembang Mata Kuliah

SUCI KURNIA, M.Pd


NIP.
ABSTRACK
Meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak melalui pemanfaatan limbah
anorganik siswa kelompok B2 TK Al-MIZAN Seteluk Kec.Seteluk KSB Tahun
Pelajaran 2015/2016
Kata kunci : kecerdasan visual-spasial,bahan limbah anorganik.

68

Heni Handayani,Nim 825372713, Jurusan Pendidikan Guru Anak Usia Dini


,Universitas Terbuka,KSB 2015 .
Pemanfaatan limbah anorganikl bagi anak usia dini merupakan kegiatan
bermain yang memiliki unsur pendidikan yang kompleks.sehingga menimbulkan
ketertarikan bagi peneliti untuk menerapkan kegiatan pemanfaatan limbah
anorganik dalam meningkatkan kecxerdasan visual-spasial anak .
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kecerdasan visual-spasial
pada anak melalui pemanfaatan limbah anorganik.
Penelitian ini dilaksanakan ,pada anak kelompok B2 TK AL-MIZAN Seteluk
Atas Kec.Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat Tahun Pelajaran 2015-2016.
Sumber data penelitian diperoleh dari guru dan anak TK serta dari dokumendokumen berupa catatan khusus tentang program-program kegiatan belajar
anak.Jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif berupa nilai
perolehan.Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik penilaian
observasi dan tanya jawab.Peneliti menggunakan teknik analisis deskriptifkualitatif dengan persentase hasil yang di sesuaikan dengan indikator indikator
atau ketentuan yang telah di tetapkan.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kecerdasan visualspasial melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik.Hal ini dapat terlihat pada
kemampuan anak yang meliputi empat deskriptor yaitu BSB (Berkembang Sangat
Baik),BSH (Berkembang Sesuai Harapan),MB (Mulai Berkembang), dan BB
(Belum Berkembang).Sebelum adanya tindakan porsentase nilai rata-rata kelas di
bawah 75%,setelah dilakukan tindakan pada siklus I porsentase rata-rata anak di
kelas berada pada 75%-84%,dan diakhir tindakan yaitu pada siklus II persentase
nilai

rata-rata

anak

mencapai

95%-100%.Penelitian

ini

menyimpulkan

pemanfaatan bahan limbah Anorganik dapat meningkatkan kecerdasan visualspasial anak.

69

DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................

Abstrack ...................................................................................................

ii

Lembar Pengesahan ................................................................................

iii

70

Kata Pangantar .......................................................................................

iv

Daftar Isi .................................................................................................

Daftar Bagan ............................................................................................

vi

Daftar Tabel.............................................................................................

vii

Daftar Gambar ......................................................................................... viii


Daftar Lampiran........................................................................................

xi

BAB I PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.

Latar Belakang ......................................................................


Rumusan Masalah.................................................................
Tujuan Penelitian ..................................................................
Manfaat Penelitian ................................................................
Defenisi Operasional ..............................................................

1
3
4
4
5

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Konsep kecerdasan visual spasial anak ..............................
B. Mengembangkan Potensi Kecerdasan Visual-Spasial
Anak Usia Taman Kanak-Kanak...........................................
C. Peran Guru dalam Meningkatkan Kecerdasan
Visual-Spasial........................................................................
D. Ragam Aktifitas Pembelajaran untuk Mengembangkan
Kecerdasan Visual-Spasial Anak...........................................

6
12
14
14

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN


A.
B.
C.
D.
E.
F.

Subjek Penelitian..................................................................
Faktor yang di Teliti..............................................................
Data dan Teknik Pengumpulan Data.....................................
Teknik Analisis Data..............................................................
Indikator Keberhasilan Kinerja.............................................
Model Rencana danProsedur Penelitian Tindakan................

19
19
20
21
24
24

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi per-siklus ...............................................................

29

B. Pembahasan dari setiap siklus ................................................

30

71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ............................................................................

48

B. Saran .......................................................................................

48

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................

63

DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1................................................................................................

72

26

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 ................................................................................................

36

Tabel 4.2 ................................................................................................... 41

73

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1.............................................................................................

43

Gambar 4.2...............................................................................................

43

Gambar 4.3 ............................................................................................

44

Gambar 4.4 ............................................................................................

44

Gambar 4.5.............................................................................................

45

Gambar 4.6 .............................................................................................

45

Gambar 4.7..............................................................................................

46

74

Gambar 4.8..............................................................................................

46

Gambar 4.9..............................................................................................

47

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 .............................................................................................

50

Lampiran 2 ...............................................................................................

52

Lampiran 3 .............................................................................................

55

Lampiran 4..............................................................................................

58

Lampiran 5..............................................................................................

62

75