Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Negara Indonesia adalah negara demokrasi dimana rakyatnya menganut dan
mengikuti asa tersebut. Ini membuktikan bahwa semua lembaga tertinggi berada di
tangan rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Tidak bisa dipungkiri kalau semua lemaga di
pilih dari rakyat, oleh sebab itu kita sebagai warga negara yang baik seharusnya
mengetahui dan melaksakan demokrasi yang berada di suatu negara seperti di
Indonesia pada hakekatnya adalah demokrasi pancasila. Tetapi, banyak kawula muda
tidak mengetahui itu bahkan banyak yang tidak tahu dasar negara kita. Ini sangat
memperihatinkan karena kita sebagai anak muda adalah penerus bangsa selayaknya
kita mempelajari dan ikut partisipasi dalam demokrasi yang sudah di atur sebagai
kebebasan kita mengutarakan pendapat dan kebebasan kita memilih pemimpin yang
benar.
Dengan terlaksananya demokrasi pancasila bangsa indonesia bisa mengadakan
demokrasi yang Jurdil Luber. Tetapi banyak kita ketahui demokrasi di Indonesia masih
bersifat kekuasaan dan banyak yang tidak mengetahui tata cara berdemokrasi yang
benar. Padahal kita sudah di ajarkan nilai-nilai demokrasi ini sejak pendidikan SD
sampai perguruan tinggi seharusnya kita memahami sedikit banyak dan bisa memberi
peran sertanya untuk bangsa ini.
Kita disini mengkaji judul ini bertujuan untuk menyadarkan kawula muda untuk
kembali ikut berperan serta dalam demokrasi yang ada di Indonesia sehingga tata
negara bisa transparan terhadap rakyat. Tujuan khususnya untuk kita sendiri dan untuk
semua masyarakat Indonesia dapat mengambil hikmah dalam kajian ini sehingga dalam
pelaksanaanya nanti bisa berjalan dengan yang di inginkan serta mengingatkan kembali
untuk tidak meninggalkan budaya negara ini dan lebih menyukai ilmu kwarganegaraan
agar nantinya kita bisa menjadi pemimpin yang berdedikasi untuk rakyat dan bangsa
Indonesia.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah penelitian ini, maka rumusan
masalahnya adalah:
1. Jelaskan pengertian pendidikan demokrasi ?
2. Jelaskan yang dimaksud demokrasi pancasila ?
3. Bagaimana perkembangan demokrasi di Indonesia ?
4. Jelaskan manfaat pindidikan demokrasi bagi kawula muda ?
1

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Dalam penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui pengertian demokrasi
2. Mengetahui pengertian demokrasi pancasila
3. Mengetahui perkembangan demokrasi di Indonesia
4. Mengetahui manfaat pendidikan demokrasi bagi kawula muda.

1.4 MANFAAT PENELITIAN


1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai
demokrasi secara luas maupun demokrasi pancasila yang diterapkan di Indonesia.
Disisi lain juga mengenai pentingnya pendidikan demokratis bagi kawula muda
dimana para kawula muda adalah sebagai aset bagi suatu bangsa.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat membuka pandangan semua orang
akan pentingnya suatu pendidikan demokratis bagi kawula muda sehingga dapat
diterapkan didalam kehdpan nyata. Karena suatu teori yang diberikan terhadap para
kawula muda akan hanya menjadi hal yang percuma jika tidak dibarengi dengan
praktenya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Demokrasi

Istilah demokrasi (democracy) berasal dari penggalan kata bahasa Yunani yakni
demos dan kratos/cratein. Demos berarti rakyat dan cratein berarti pemerintahan. Jadi
demokrasi berarti pemerintahan rakyat. Salah satu pendapat terkenal dikemukakan oleh
Abraham Lincoln di tahun 1863 yang mengatakan demokrasi adalah pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (government of the people, by the people and for the
people). Lalu apa itu demokrasi? Demokrasi sebagai konsep sesungguhnya memiliki
banyak pengertian dari berbagai sudut pandang atau perspektif. Berbagai pendapat para
ahli banyak mengupas perihal demokrasi. Contoh yang dikemukakan oleh Abraham Lincoln
di atas, hanyalah salah satu contoh pengartian demokrasi. Robert Dahl sampai pada
pernyataan bahwa there is no democratic theory, there are only democratic theories.
Bahkan Harold Laski mengutarakan bahwa demokrasi tidak dapat diberi batasan, kerena
rentang sejarahnya yang amat panjang dan telah berevolusi sebagai konsep yang
menentukan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) demokrasi diartikan sebagai
gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta
perlakuan yang sama bagi warga negara. Dalam pendidikan, demokrsi ditunjukkan dengan
pemusatan perhatian serta usaha pada si anak didik dalam keadaan sewajarnya
(intelegensia, kesehatan, keadaan sosial dan sebagainya). Di kalangan taman siswa dianut
sikap tut wuri handayani, suatu sikap demokratis yang mengakui hak si anak untuk
berkembang dengan baik sesuai kodratnya.
Prinsip-prinsip demokrasi telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Jika kita
mengungkap kembali prinsip demokrasi sebagaimana dinyatakan Sukarna (1981),
menunjuk pada prinsip demokrasi 79 sebagai suatu sistem politik. Contoh lain, misalnya
Robert Dahl (Zamroni, 2011:15) yang menyatakan terdapat dua dimensi utama demokrasi,
yakni:
1. Kompetisi yang bebas diantara para kandidat, dan
2. Partisipasi bagi mereka yang telah dewasa memiliki hak politik.
Berkaitan

dengan

dua

prinsip

demokrasi

tersebut,

secara

umum

dapat

dikatakan bahwa demokrasi memiliki dua ciri utama yakni keadilan (equality) dan kebebasan
(freedom).
Franz Magnis Suseno (1997: 58), menyatakan bahwa dari berbagai ciri dan prinsip
demokrasi yang dikemukakan oleh para pakar, ada 5 (lima) ciri atau gugus hakiki negara
demokrasi,

yakni:

negara

hukum,

pemerintah

berada

dibawah

kontrol

nyata

masyarakat, pemilihan umum yang bebas, prinsip mayoritas dan adanya jaminan terhadap
hak-hak demokratis.
Hendra Nurtjahyo (2006: 74-75) merangkum sejumlah prinsip demokrasi yang
dikemukakan para ahli dengan menyatakan adanya nilai-nilai yang substansial dan nilai-nilai
yang bersifat prosedural dari demokrasi. Kedua ketegori nilai tersebut baik subtansial
dan prosedural sama pentingnya dalam demokrasi. Tanpa adanya nilai tersebut, demokrasi
tidak akan eksis, yang selanjutnya dikatakan sebagai prinsip eksistensial dari demokrasi.
Prinsip eksistensial demokrasi tersebut, yakni:
1. kebebasan,
2. kesamaan dan
3. kedaulatan suara mayoritas (rakyat).
Pendapat yang sejenis dikemukakan oleh Maswadi Rauf bahwa demokrasi itu
memiliki dua prinsip utama demokrasi yakni kebebasan/persamaan (freedom/equality) dan
kedaulatan rakyat (peoples sovereignty). Secara umum prinsip-prinsip dari demokrasi
adalah:
1. Negara Berdasarkan Konstitusi
Pengertian negara demokratis adalah negara yang pemerintah dan warganya
menjadikan konstitusi sebagai dasar penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Konstitusi dapat diartikan sebagai undang-undang dasar atau seluruh
peraturan hukum yang berlaku di sebuah negara. Sebagai prinsip demokrasi,
keberadaan konstitusi sangat penting sebab dalam penyelenggaraan kehidupan
bernegara. Konstitusi berfungsi untuk membatasi wewenang penguasa atau pemerintah
serta menjamin hak rakyat. Dengan demikian, penguasa atau pemerintah tidak akan
bertindak sewenang-wenang kepada rakyatnya dan rakyat tidak akan bertindak anarki
dalam menggunakan hak dan pemenuhan kewajibannya.
2. Jaminan Perlindungan Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia (HAM) adalah hak dasar atau hak pokok yang dimiliki manusia
sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi manusia mencakup hak
untuk hidup, kebebasan memeluk agama, kebebasan berserikat, berkumpul, dan
mengeluarkan

pendapat,

serta

hak-hak

lain

sesuai

ketentuan

undang-undang.

Perlindungan terhadap HAM merupakan salah satu prinsip negara demokrasi karena
perlindungan terhadap HAM pada hakikatnya merupakan bagian dari pembangunan
negara yang demokratis.
4

3. Kebebasan Berserikat dan Mengeluarkan Pendapat


Salah satu prinsip demokrasi adalah mengakui dan memberikan kebebasan setiap
orang untuk berserikat atau membentuk organisasi. Setiap orang boleh berkumpul dan
membentuk identitas dengan organisasi yang ia dirikan. Melalui organisasi tersebut
setiap orang dapat memperjuangkan hak sekaligus memenuhi kewajibannya. Sejarah
demokrasi memberikan

kesempatan

kepada

setiap

orang

untuk

berpikir

dan

menggunakan hati nurani serta menyampaikan pendapat dengan cara yang baik. Paham
demokrasi tidak membatasi seseorang untuk berpendapat, tetapi mengatur penyampaian
pendapat dengan cara bijak.
4. Pergantian Kekuasaan Secara Berkala
Gagasan tentang perlunya pembatasan kekuasaan dalam prinsip demokrasi
dicetuskan oleh Lord Acton (seorang ahli sejarah Inggris). Lord Acton menyatakan bahwa
pemerintahan yang diselenggarakan manusia penuh dengan kelemahan. Pendapatnya
yang cukup terkenal adalah "ower tends to corrupt, but absolute power corrupts
absolutely". Manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan
kekuasaan, tetapi manusia yang memiliki kekuasaan tidak terbatas pasti akan
menyalahgunakannya. Pergantian kekuasaan secara berkala bertujuan untuk membatasi
kekuasaan atau kewenangan penguasa. Pergantian kekuasaan secara berkala dapat
meminimalisasi penyelewengan dalam pemerintahan seperti korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Pergantian seorang kepala negara atau kepala daerah dapat dilakukan
dengan mekanisme pemilihan umum yang jujur dan adil.
5. Adanya Peradilan Bebas dan Tidak Memihak
Peradilan bebas adalah peradilan yang berdiri sendiri dan bebas dari campur tangan
pihak lain termasuk tangan penguasa. Pengadilan bebas merupakan prinsip demokrasi
yang mutlak diperlukan agar aturan hukum dapat ditegakkan dengan baik. Para hakim
memiliki kesempatan dan kebebasan untuk menemukan kebenaran dan memberlakukan
hukum tanpa pandang bulu. Apabila peradilan tidak lagi bebas untuk menegakkan hukum
dapat dipastikan hukum tidak akan tegak akibat intervensi atau campur tangan pihak di
luar hukum oleh karena itu, peradilan yang bebas dari campur tangan pihak lain menjadi
salah satu prinsip demokrasi. Peradilan tidak memihak artinya peradilan yang tidak
condong kepada salah satu pihak yang bersengketa di muka persidangan. Posisi netral
sangat dibutuhkan untuk melihat masalah secara jernih dan tepat Kejernihan
pemahaman tersebut akan membantu hakim menemukan kebenaran yang sebenarbenarnya Selanjutnya, hakim dapat mempertimbangkan keadaan yang ada dan
menerapkan hukum dengan adil bagi pihak beperkara.
5

6. Penegakan Hukum dan Persamaan Kedudukan Setiap Warga Negara di Depan Hukum.
Hukum merupakan instrumen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Oleh
karena itu, pelaksanaan kaidah hukum tidak boleh berat sebelah atau pandang bulu.
Setiap perbuatan melawan hukum harus ditindak secara tegas. Persamaan kedudukan
warga negara di depan hukum akan memunculkan wibawa hukum. Saat hukum memiliki
wibawa, hukum tersebut akan ditaati oleh setiap warga negara.
7. Jaminan Kebebasan Pers
Kebebasan pers merupakan salah satu pilar penting dalam prinsip prinsip demokrasi.
Pers yang bebas dapat menjadi media bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasi serta
memberikan kritikan dan masukan kepada pemerintah dalam pembuatan kebijakan
publik. Di sisi lain, pers juga menjadi sarana sosialisasi program-program yang dibuat
pemerintah. Melalui pers diharapkan dapat terjalin komunikasi yang baik antara
pemerintah masyarakat.
2.2 Demokrasi Pancasila
Demokrasi yang dianut di Indonesia berdasarka pancasila, masih dalam taraf
perkembangan dan mengenai sifat-sifat dan ciri-cirinya terdapat bebagai tafsiran serta
pandangan. Tetapi yang tidak dapat disangkal ialah bahwa beberapa nilai pokok dari
demokrasi konstitusionil cukup jelas tersirat di dalam Undang Undang Dasar 1945. Selain
dari itu Undang-Undang Dasar kita menyebut secara eksplisit dua prinsip yang menjiwai
naskah itu dan yang dicantumkan dalam penjelasan mengenai Sistem Pemerintahan
Negara, yaitu:
1. Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum (Rechstaat).
Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechstaat), tidak berdasarkan
kekuasaan belaka (Machstaat).
2. Sistem Konstitusionil
Pemerintahan berdasarkan atas Sistem Konstitusi (Hukum Dasar), tidak bersifat
Absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas).
Berdasarkan dua istilah Rechstaat dan sistem konstitusi, maka jelaslah bahwa
demokrasi yang menjadi dasar dari Undang-Undang Dasar 1945, ialah demokrasi
konstitusionil. Disamping itu corak khas demokrasi Indonesia, yaitu kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dimuat dalam
Pembukaan UUD. Dengan demikian demokrasi Indonesia mengandung arti di samping nilai
umum, dituntut nilai-nilai khusus seperti nilai-nilai yang memberikan pedoman tingkah laku
manusia Indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia,
tanah air dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah dan masyarakat, usaha dan

krida manusia dalam mengolah lingkungan hidup. Pengertian lain dari demokrasi Indonesia
adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan, yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan
Beradab, Persatuan Indonesia dan bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia (demokrasi pancasila). Pengertian tersebut pada dasarnya merujuk
kepada ucapan Abraham Lincoln, mantan presiden Amerika Serikat yang menyatakan
bahwa demokrasi suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Secara garis besar demokrasi pancasila merupakan demokrasi yang berdasarkan
kekeluargaan dan gotong-royong yang ditujukan kepada kesejahterahan rakyat, yang
mengandung unsur-unsur berkesadaran religius, berdasarkan kebenaran, kecintaan dan
budi pekerti luhur, berkepribadian Indonesia dan berkesinambungan. Dalam demokrasi
pancasila sistem pengorgnisasian negara dilakukan oleh rakyat sendiri atau dengan
persetujuan rakyat. Dari sisi kebebasan individu, didalam demokrasi pancasila tidak bersifat
mutlak tetapi harus diselaraskan dengan tanggung jawab sosial.
Dalam demokrasi pancasila terdapat

ciri-ciri yang dapat dikenali, hal tersebut

adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kedaulatan ada di tangan rakyat


Selalu berdasarkan kekeluargaan dan gotong-royong
Cara pengambilan keputusan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat
Tidak kenal adanya partai pemerintahan dan partai oposisi
Diakui adanya keselarasan antara hak dan kewajiban
Menghargai hak asasi manusia.
Ketidak setujuan terhadap kebijaksanaan pemerintah dinyatakan dan disalurkan
melalui wakil-wakil rakyat. Tidak menghendaki adanya demonstrasi dan pemogokan

karena merugikan semua pihak


8. Tidak menganut sistem monopartai
9. Pemilu dilaksanakan secara luber
10. Mengandung sistem mengambang
11. Tidak kenal adanya diktator mayoritas dan tirani minoritas
12. Mendahulukan kepentingan rakyat atau kepentingan umum.
Dalam pemerintahan demokrasi pancasila terdapat tiga landasan formil Republik
Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, dan Ketetapan-ketetapan MPR. Sedangkan sistem
pemerintahan demokrasi pancasila menurut prinsip-prinsip yang terkandung di dalam
batang tubuh UUD 1945 berdasakan tujuh sendi pokok yaitu sebagai berikut:
1. Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum
Negara Indonesia berdasarkan hukum (Rechsstaat), tidak berdasarkan atas
kekuasaan belaka (Machsstaat). Hal ini mengandung arti bahwa baik pemerintah
maupun lembaga-lembaga negara lainnya dalam melaksanakan tindakan apapun
7

harus dilandasi oleh hukum dan tindakannya bagi rakyat harus ada landasan
hukumnya. Persamaan kedudukan dalam hukum bagi semua warga negara harus
tercermin di dalamnya.
2. Indonesia menganut sistim konstitusional
Pemerintah berdasarkan sistem konstitusional (hukum dasar) dan tidak bersifat
absolutisme (kekuasaan yang mutlak tidak terbatas). Sistem konstitusional ini lebih
menegaskan bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugasnya dikendalikan atau
dibatasi oleh ketentuan konstitusi, di samping oleh ketentuan-ketentuan hukum
lainnya yang merupakan pokok konstitusional, seperti TAP MPR dan Undangundang.
3. Majelis Permusyawaran Rakyat (MPR)
MPR sebagai pemegang kekuasaan negara yang tertinggi seperti telah
disebutkan dalam pasal 1ayat 2 UUD 1945 pada halaman terdahulu, bahwa
(kekuasaan negara tertinggi) ada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh
MPR. Dengan demikian, MPR adalah lembaga negara tertinggi sebagai penjelmaan
seluruh rakyat Indonesia. Sebagai pemegang kekuasaan negara yang tertinggi, MPR

mempunyai tugas pokok, yaitu:


Menetapkan UUD
Menetapkan GBHN
Memilih dan mengangkat presiden dan wakil presiden
Wewenang MPR, yaitu:

Membuat putusan-putusan yang tidak dapat dibatalkan oleh lembaga negara


lain, seperti penetapan GBHN yang pelaksanaannya ditugaskan kepada

Presiden
Meminta pertanggung jawaban presiden/mandataris mengenai pelaksanaan

GBHN
Melaksanakan pemilihan dan selanjutnya mengangkat Presiden dan Wakil

Presiden
Mencabut mandat dan memberhentikan presiden dalam masa jabatannya
apabila presiden/mandataris sungguh-sungguh melanggar haluan negara dan

UUD 1945
Mengubah undang-undang.
4. Presiden
Presiden adalah penyelenggaraan pemerintah yang tertinggi di bawah Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR). Di bawah MPR, presiden ialah penyelenggara
pemerintah negara tertinggi. Presiden selain diangkat oleh majelis juga harus tunduk
dan bertanggung jawab kepada majelis. Presiden adalah Mandataris MPR yang
wajib menjalankan putusan-putusan MPR.
5. Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR, tetapi DPR mengawasi


pelaksanaan mandat (kekuasaan pemerintah) yang dipegang oleh presiden dan DPR
harus saling bekerja sama dalam pembentukan undang-undang termasuk APBN.
Untuk mengesahkan undang-undang, presiden harus mendapat persetujuan dari
DPR. Hak DPR di bidang legislative ialah hak inisiatif, hak amandemen, dan hak
budget.
Hak DPR di bidang pengawasan meliputi:
Hak tanya/bertanya kepada pemerintah
Hak interpelasi, yaitu meminta penjelasan atau keterangan kepada
pemerintah
Hak Mosi (percaya/tidak percaya) kepada pemerintah
Hak Angket, yaitu hak untuk menyelidiki sesuatu hal
Hak Petisi, yaitu hak mengajukan usul/saran kepada pemerintah.
6. Menteri Negara
Menteri Negara adalah pembantu presiden, Menteri Negara tidak bertanggung
jawab kepada DPR. Presiden memiliki wewenang untuk mengangkat dan
memberhentikan menteri negara. Menteri ini tidak bertanggung jawab kepada DPR,
tetapi kepada presiden. Berdasarkan hal tersebut, berarti sistem kabinet kita adalah
kabinet kepresidenan/presidensil. Kedudukan Menteri Negara bertanggung jawab
kepada presiden, tetapi mereka bukan pegawai tinggi biasa, menteri ini menjalankan
kekuasaan pemerintah dalam prakteknya berada di bawah koordinasi presiden.
7. Kekuasaan Kepala Negara tidak Tak Terbatas
Kepala negara bertanggung jawab kepada DPR, tetapi ia bukan diktator, artinya
keuasaan tidak tak terbatas. Ia harus memperhatikan sungguh-sungguh suara DPR.
Kedudukan DPR kuat karena tidak dapat dibubarkan oleh presiden dan semua
anggota DPR merangkap menjadi anggota MPR. DPR sejajar dengan presiden.
2.3 Perkemangan Demokrasi di Indonesia
Perkembangan demokrasi di Indonesia dapat dilihat dari Pelaksanaan Demokrasi
yang pernah ada di Indonesiai ini. Pelaksanaan demokrasi di indonesia dapat dibagi
menjadi beberapa periodesasi antara lain:
1. Pelaksanaan demokrasi pada masa revolusi ( 1945-1950 ).
Tahun 1945-1950, Indonesia masih berjuang menghadapi Belanda yang ingin
kembali ke Indonesia. Pada saat itu pelaksanaan demokrasi belum berjalan dengan
baik. Hal itu disebabkan oleh masih adanya revolusi fisik. Pada awal kemerdekaan
masih terdapat sentralisasi kekuasaan hal itu terlihat Pasal 4 Aturan Peralihan UUD
1945 yang berbnyi sebelum MPR, DPR dan DPA dibentuk menurut UUD ini segala
kekuasaan dijalankan oleh Presiden denan dibantu oleh KNIP. Untuk menghindari
kesan

bahwa

negara

Indonesia

adalah

negara

yang

absolut

pemerintah

mengeluarkan :

Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, KNIP berubah

menjadi lembaga legislatif.


Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang Pembentukan Partai

Politik.
Maklumat Pemerintah tanggal 14 Nopember 1945 tentang perubahan sistem

pemerintahn presidensil menjadi parlementer


2. Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama
a. Masa Demokrasi Liberal 1950-1959
Masa demokrasi liberal yang parlementer presiden sebagai lambang atau
berkedudukan sebagai Kepala Negara bukan sebagai kepala eksekutif. Masa
demokrasi ini peranan parlemen, akuntabilitas politik sangat tinggi dan
berkembangnya partai-partai politik. Namun demikian praktik demokrasi pada
masa ini dinilai gagal disebabkan :
Dominannya partai politik
Landasan sosial ekonomi yang masih lemah
Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti UUDS 1950
Atas dasar kegagalan itu maka Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli
1959 :
Bubarkan konstituante
Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUD S 1950
Pembentukan MPRS dan DPAS
b. Masa Demokrasi Terpimpin 1959 1966
Pengertian demokrasi terpimpin menurut Tap MPRS No. VII/MPRS/1965
adalah

kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan perwakilan yang berintikan musyawarah untuk mufakat secara


gotong royong diantara semua kekuatan nasional yang progresif revolusioner
dengan berporoskan nasakom dengan ciri:
Dominasi Presiden
Terbatasnya peran partai politik
Berkembangnya pengaruh PKI
Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:

Mengaburnya

dipenjarakan
Peranan Parlemen lembah bahkan akhirnya dibubarkan oleh presiden dan

presiden membentuk DPRGR


Jaminan HAM lemah
Terjadi sentralisasi kekuasaan
Terbatasnya peranan pers
Kebijakan politik luar negeri sudah memihak ke RRC (Blok Timur)

sistem

kepartaian,

pemimpin

partai

banyak

yang

10

Akhirnya terjadi peristiwa pemberontakan G 30 September 1965 oleh PKI


yang menjadi tanda akhir dari pemerintahan Orde Lama.
3. Pelaksanaan demokrasi Orde Baru 1966-1998
Dinamakan juga demokrasi pancasila. Pelaksanaan demokrasi orde baru
ditandai dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966, Orde Baru bertekad akan
melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen. Awal Orde
baru memberi harapan baru pada rakyat pembangunan disegala bidang melalui
Pelita I, II, III, IV, V dan pada masa orde baru berhasil menyelenggarakan Pemilihan
Umum tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Namun demikian perjalanan
demokrasi pada masa orde baru ini dianggap gagal sebab rotasi kekuasaan
eksekutif hampir dikatakan tidak ada, rekrutmen politik yang tertutup, pemilu yang
jauh dari semangat demokratis pengakuan HAM yang terbatas, tumbuhnya KKN
yang merajalela.
Sebab jatuhnya Orde Baru:
Hancurnya ekonomi nasional (krisis ekonomi)
Terjadinya krisis politik
TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba
Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden Soeharto
untuk turun jadi Presiden.
4. Pelaksanaan Demokrasi Reformasi (1998-Sekarang).
Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari
Presiden Soeharto ke Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998. Masa
reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis antara lain:
a. Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok
reformasi
b. Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang
Referandum
c. Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Negara yang bebas
dari KKN
d. Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan Masa Jabatan Presiden
dan Wakil Presiden RI
e. Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III, IV
Pada Masa Reformasi berhasil menyelenggarakan pemiluhan umum sudah dua
kali yaitu tahun 1999 dan tahun 2004.
2.4 Manfaat Pendidikan Demokratis
Pendidikan demokrasi pada hakekatnya membimbing peserta didik agar semakin
dewasa dalam berdemokrasi dengan cara mensosialisasikan nilai-nilai demokratis, agar
perilakunya mencerminkan kehidupan yang demokratis. Dengan demikian, tampaknya
demokrasi pendidikan merupakan pandangan hidup yang mengutarakan persamaan hak

11

dan kewajiban serta perlakuan yang sama didalam berlangsungnya proses pendidikan
antara pendidik dan anak didik, serta juga dengan pengelola pendidikan.
Indonesia memiliki pengalaman yang kaya akan pendidikan demokrasi. Menurut
Udin S. Winataputra, sejak tahun 1945 sampai sekarang instrument perundangan sudah
menempatkan pendidikan demokrasi dan HAM sebagai bagian integral dari pendidikan
nasional. Misalnya, dalam usulan BP KNIP tanggal 29 Desember 1945 dikemukakan bahwa
pendidikan dan pengajaran harus membimbing murid-murid menjadi warga negara yang
mmpunyai rasa tanggung jawab, yang kemudian oleh kementrian PPK dirumuskan dalam
tujuan pendidikan. Untuk mendidik warga negara yang sejati dan bersedia menyumbangkan
tenaga serta pikiran untuk negara dan masyarakat dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Perasaan bakti terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2. Perasaan cinta terhadap negara
3. Perasaan cinta terhadap bangsa dan kebudayaan
4. Perasaan berhak dan wajib ikut memajukan negaranya menurut pembawaan dan
kekuatannya
5. Keyakinan bahwa orang menjadi bagian dari bagian tak terpisahkan dari keluarga
dan masyarakat
6. Keyakinan bahwa orang yang hidup bermasyarakat harus tunduk terhadap tata tertib
7. Keyakinan bahwa pada dasarnya manusia itu sama derajatnya sehingga sesama
anggota masyarakat harus saling menghormati
Dari kutipan diatas dapat dilihat bahwa semua ide yang terkandung dalam butirbutir rumusan tujuan pendidikan nasional sesungguhnya merupakan esensi pendidikan
demokrasi HAM.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan analisis masalah yang telah disebutkan, maka dapat disimpulkan:
1. Demokrasi adalah suatu hal yang penting dan harus ada dalam suatu negara,
karena hal ini adalah suatu bagian yang penting dalam mengatur suatu hak dan
12

kewajiban suatu pemerintahan maupun warga negaranya. Dengan adanya suatu


demokratis dalam negara tersebut maka semua masyarakat yang ada dalam negara
tersebut akan jelas dalam menghadapi kehidupannya.

2. Demokrasi pancasila merupakan satu-satunya yang dianut oleh negara Indonesia.


Pada dasarnya sama dengan demokrasi pada umumnya, amun dalam prinsipnya
demokrasi pancasila telah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang ada di
Indonesia, sehingga dalam pelaksanaannya akan lebih mudah, walaupun ada
beberapa oknum yang masih melawannya.

3. Pada dasarnya demokrasi di Indonesia telah berkembang sejak lama mulai


berdirinya negara Indonesia, hal ini bisa dilihat dari perbedaan-perbedaan yang
timbul dari setiap masa pemerintahan di Indonesia mulai dari orde lama hingga
masa revormasi. Hal ini lah yang bisa kita sebut bahwa sesungguhnya demokrasi di
Indonesia telah dijunjung sejak dulu, walaupun ada di suatu masa demokrasi di
Indinesia sempat dibatasi oleh pemerintah.
4. Pendidikan demokrasi tenti sangat bermanfaat bagi kawula muda, karena semua ini
akan mengajarkan bagaimana pentingnya suatu demokrasi dalam kehidupan nyata,
dan pada akhirnya mereka akan bisa melaksanakan kehidupan berdemokrasi.

3.2 Saran
Kita sebagai kawula muda sudah sepatutnya harus terus mempelajari arti penting dari
suatu demokrasi, karena demokrasi telah mengajarkan berbagai nilai-nilai kehidupan seperti
hak dan kewajiban sebagai warga negara. Tidak hanya dipelajari namun juga diaplikasikan
dalam kehidupan nyata, karena tentu semua ilmu akan menjadi percuma jika hanya
disimpan saja tanpa adanya tindakan yang nyata. Serta kita harus terus sadar bahwa kita
adalah generasi penerus bangsa, sehingga nanti bangsa ini akan ada dalam genggaman
kita.

13

14